Categories
Energi SDA

BPH Migas Kaji Ulang Proyek Pembangunan Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang

Koran Jurnal, Jakarta – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan, mengkaji ulang proyek pembangunan pipa transmisi gas ruas Cirebon-Semarang (Cisem). Hal itu disampaikan Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa setelah pihaknya menerima dan menjawab surat PT Rekayasa Industri (Rekind) tertanggal 2 Oktober 2020.

“Mengacu rapat komite, pada keputusan tersebut, kami sepakat BPH Migas menugaskan direktur gas bumi untuk melaksanakan kajian, dalam waktu maksimal 1 bulan sejak 12 Oktober untuk kajian tersebut dikoordinasikan terutama kepada kementerian ESDM,” ujar Kepala BPH Migas, M. Fanshurullah Asa saat konferensi pers Proyek Pipa Transmisi Ruas Cirebon-Semarang di Kantor BPH Migas, Jakarta, Rabu (14/10/2020).

Selanjutnya dia mengatakan, setelah satu bulan, ada keputusan bersama yang bisa diterima. Yang pasti ada banyak pilihan bagaimana keberlanjutan proyek tersebut.

“Kalau mengacu peraturan BPH Migas, ini mestinya ditawarkan kepada pemenang kedua dan ketiga, pada tahun 2006, kita sudah melihat peluang dengan capex yang sama dan toll fee itu juga impossible,” terangnya.

Pilihan kedua adalah BPH Migas melakukan lelang kembali dengan batasan tertentu, dimana panitia lelang akan melibatkan banyak pihak. Mulai dari tim BPH Migas, Kementerian ESDM, hingga bisa juga melibatkan Kementerian Keuangan.

“Sehingga betul-betul panitia bersama, bukan hanya BPH Migas. Ini bisa membentuk body contest, kepada seluruh badan usaha,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Gas Bumi Sentot Harijady mengatakan akan dilakukan kajian supply and demand, berdasarkan tekno ekonomi. Nantinya kajian akan melibatkan stakeholder terkait kementerian ESDM, Dirjen Migas, Bappenas dan semua yang berkaitan dengan proyek ini.

“Apabila hasil putusan kajian, apakah dilakukan lelang, atau nanti dilakukan dikembalikan kepada pemerintah itu nanti kita lihat hasilnya yang akan datang. Kami mengharapkan bantuan dari stakeholder terkait untuk support apa yang jadi upaya BPH Migas terutama percepatan pembangunan ruas Cirebon-Semarang,” pungkasnya.

Terkait diterimanya surat dari PT Rekayasa industri, BPH Migas menyampaikan, menunjuk surat Rekind (PT Rekayasa Industri) nomor 357/10000-LT/X/2020 tanggal 2 Oktober 2020 perihal penyerahan kembali penetapan PT Rekayasa Industri sebagai pemenang Hak Khusus Ruas Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang dengan mempertimbangkan;

Pertama, “Hasil kajian kelayakan bisnis yeng telah disusun oleh Rekind yang menunjukan bahwa pembangunan pipa gas bumi ruas transmisi Cisem dengan tarif/toll fee sebesar 0,36/MMBTU sesuai dengan dokumen penawaran Rekind tahun 2006 saat ini sudah tidak memenuhi nilai ekonomi; dan,

Kedua adalah, ketentuan di kelompok usaha Rekind terkait investasi yang antara lain menyatakan bahwa baik investasi pengembangan maupun investasi penyertaan haruslah memenuhi analisis bisnis yang memadai (minimal bankable), ketersediaan pasokan gas, pasar, kelayakan teknis, legalitas, komersial dan manajemen resiko serta memenuhi syarat minimum internal rate of return (IRR).(red)

Categories
Energi SDA

Pembangunan Proyek Pipa Transmisi Cirebon-Semarang Upaya Mendukung Program Diversifikasi Energi

Koran Jurnal, Jakarta – Pemerintah melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan melaksanakan peletakan batu pertama (ground breaking) proyek pipa transmisi Cirebon-Semarang. Peletakan batu pertama rencananya akan dilakukan pada Jum’at 7 Februari 2020 mendatang.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa mengatakani, pembangunan proyek pipa transmisi ini visi Presiden Jokowi dalam upaya percepatan pembangunan infrastruktur. Sehingga diharapkan ketersediaan energi dapat dinikmati oleh semua pihak baik masyarakat kecil maupun industri.

Pria yang akrab disapa Ifan ini menjelaskan, pembangunan infrastruktur gas bumi ini dapat memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, dengan memperluas infrastruktur gas dalam negeri, diharapkan dapat menurunkan harga gas bumi.

“Kalau ini terbangun semua pipanya, maka nanti akan ada industri-industri yang menggunakan gas, tidak perlu pakai BBM lagi. Apalagi harga gasnya sudah dipatok Perpres 40 Tahun 2016, mesti lebih murah,” ujar Ifan dalam konferensi pers, di Gedung BPH Migas Jakarta, Rabu (05/02/2020).

Pembangunan proyek pipa transmisi gas, sambung Ifan, juga akan otomatis mendukung program diversifikasi energi dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar bersubsidi dan beralih dari penggunaan Bahan Bakar khususnya HSD dengan memanfaatkan Gas Bumi domestik, termasuk untuk kebutuhan rumah tangga.

“Nanti jaringan gas rumah tangga ini di sepanjang Cirebon-Semarang atau sepanjang pipa ini terbangun nanti, bisa menggunakan, bukan dengan LPG lagi. Karena LPG 3 kg itu, subsidinya bisa sampai Rp 70 triliun per tahun dari APBN, padahal gas kita berlimpah,” katanya.

Ifan juga mengatakan, pembangunan pipa juga untuk mendukung rencana pemerintah yang akan menghentikan pasokan gas ke Singapura pada 2023 mendatang. Rencana penghentian ekspor ini guna memenuhi pasokan dalam negeri.

”Maka pembangunan pipa Cirebon-Semarang ini akan sangat bermanfaat dalam mendukung terintegrasinya pipa gas bumi trans Sumatera dan Jawa. Ke depan BPH Migas akan melaksanakan lelang ruas pipa transmisi seperti Ruas Dumai-KEK Seimangke serta Lelang Wilayah Jaringan Distribusi (WJD), yang telah diusulkan oleh Badan Usaha sejumlah 193 wilayah untuk peningkatan pemanfaatan Gas Bumi di Indonesia,” tandasnya.

Direktur Utama PT Rekayasa Industri, Yanuar Budinorman mengatakan dengan dilaksanakannya groundbreaking, menyiratkan bukti akan besarnya komitmen Rekind untuk merealisasikan proyek integrasi pipa gas trans – Jawa.

“Langkah ini menjadi penting dan strategis bagi Rekind, karena hadirnya ruas pipa transmisi gas ini dinilai mampu menjadi solusi pasokan energi gas yang berkelanjutan guna menyokong daya
saing industri di Pulau Jawa. Apalagi, konsumen industri di Jawa Barat dan Jawa Tengah sangat besar dan berpotensi sekali dalam mengerakkan sektor ekonomi di wilayah tersebut,” kata Yanuar.

Rekind, lanjut dia, juga berkomitmen untuk bisa menyelesaikan pelaksanaan Pembangunan Ruas Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon – Semarang ini sesuai dengan waktu yang disepakati.

“Hadirnya ruas pipa gas Cisem juga merupakan wujud terbangunnya ketahanan energi sebagai penggerak dan bagian integral dari peningkatan pembangunan ekonomi. Untuk itu kami berharap semua pihak yang terlibat dapat lebih kooperatif sehingga proyek dapat diselesaikan sesuai dengan target yang telah ditentukan,” tambah Yanuar Budinorman.(red)