Categories
Ragam TNI

KSAL Lestarikan Kebudayaan Lokal melalui Pagelaran Seni Budaya

Koran Jurnal, Jakarta – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono sepertinya layak menyandang sebutan salah satu tokoh inspiratif kearifan lokal. Pemimpin tertinggi TNI AL ini terus melestarikan kesenian daerah yang merupakan warisan leluhur.

Pagelaran wayang kulit yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pendidikan TNI AL, Sabtu (28/5/2022) malam menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga budaya lokal bangsa Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai. Berbagai budaya lokal berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.

KSAL Laksamana TNI Yudo Margono mengungkapkan TNI AL berupaya terus turut melestarikan budaya-budaya bangsa dengan melekatkan pada momen-momen bersejarah TNI AL yang tentunya dapat dijadikan tuntunan bagi prajurit dalam berkehidupan sehari-hari maupun di kedinasan.

“TNI AL akan terus melestarikan budaya – budaya Indonesia seperti wayang kulit dengan mengadakan pertunjukan wayang di acara – acara besar TNI AL seperti peringatan HUT satuan jajaran TNI AL,” ujar KSAL pada acara Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka memperingati Hari Pendidikan TNI AL ke-76 didampingi Ketua Umum Jalasenastri Ny. Vero Yudo Margono yang berlangsung di Gedung Serbaguna, Kodiklatal, Surabaya.

KSAL menjelaskan, TNI AL banyak menggunakan nama-nama tokoh wayang untuk Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI AL, contohnya KRI Dewaruci, KRI Bimasuci dan lainnya.

“Tidak itu saja, senjata-senjata di pewayangan pun digunakan Alutsista TNI AL misalnya KRI Alugoro, KRI Cakra dan banyak lagi. Hal ini memang sengaja dilakukan agar generasi muda tidak lupa tradisi wayang sebagai warisan leluhur Bangsa Indonesia,” tambahnya.

Dan tidak hanya wayang kulit, TNI AL juga turut melestarikan semua budaya-budaya setiap daerah di Indonesia.

Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Pendadaran Siswo Sukolimo” oleh Dalang Ki Cahyo Kuntadi, M. Sn., menceritakan tentang kisah para Pandawa dan Kurawa yang mendapat pendidikan tentang ilmu perang dari Guru Durna. Namun Politik Sengkuni mencoba memperalat Kurawa untuk membunuh Pandawa. Dan dengan kemahiran Guru Durna, yang didukung komitmen tinggi dari para Pandawa, akhirnya perguruan Sukolimo menjadi unggul dan tangguh.

Menurut KSAL, cerita ini mengandung makna sangat dalam yang selaras dengan kebijakan pemimpin TNI AL dalam mendukung pendidikan dilingkungan TNI AL untuk mencetak prajurit-prajurit matra laut yang unggul, tangguh dan profesional.

“Para siswa yang dididik di Kodiklatal, AAL maupun pengembangan di Seskoal diharapkan dapat belajar dengan baik untuk meneruskan roda organisasi Angkatan Laut ke depan yang lebih besar menuju TNI AL yang besar, kuat, jaya dilaut. Jalesveva Jayamahe dan ini sesuai dengan cerita lakon wayang malam ini,” imbuh KSAL.

Para undangan yang hadir dalam pagelaran wayang kulit ini menggunakan pakaian khas tradisional jawa Beskap dan blangkon. Dalam kesempatan itu pula, KSAL Laksamana Yudo Margono menyerahkan wayang kulit secara simbolis kepada Dalang Ki Cahyo Kuntadi, M. Sn.,.

Turut hadir dalam acara pagelaran wayang, Wakasal Laksdya TNI Ahmadi Heri Purwono, Panglima Koarmada RI, Komandan Kodiklatal, Pangkotama wilayah Surabaya, pejabat utama Mabesal, dan para Ibu-Ibu Jalasenastri serta para siswa Kodiklatal yang menyaksikan secara virtual dari luar Gedung Serbaguna.(disp)

Categories
Polhukam

Haidar Alwi Ajak Kepala Adat Nusantara Jaga Kebudayaan Bangsa dan Pancasila dari Ancaman Radikalisme

Koran Jurnal, Jakarta – Indonesia yang memiliki beraneka ragam suku, agama, adat dan budaya hampir terdegradasi oleh kebudayaan dari asing. Jika hal tersebut terus dibiarkan, dikhawatirkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia tergerus dan dapat memecah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, berbagai cara dilakukan agar NKRI tetap utuh, salah satunya dengan tetap mencintai kebudayaan kita sendiri.

Haidar Alwi sebagai tokoh penggiat serta penggerak gerakan Anti Intoleransi dan Radikalisme mengajak masyarakat adat se Indonesia berkumpul dalam acara yang bertajuk “Perkuat Kebudayaan Tumpas Radikalisme, Nusantara Bersatu Untuk Pancasila”.

“Dengan kegiatan ini membuktikan bahwa semua kepala adat mendukung pemerintah dengan penuh semangat untuk memberantas radikalisme dan intoleransi dari bumi Indonesia,” kata Haidar dalam acara tersebut, di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (27/07/2019) malam.

Ditempat sama, Haidar juga meminta kebudayaan Indonesia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Jangan sampai budaya Indonesia terpengaruh dengan budaya luar baik itu Arab dan negara lainnya. Jadikanlah kekayaan budaya bangsa menjadi sebuah kekuatan yang tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Untuk itu saya kumpulkan semua kepala adat dari berbagai daerah agar tetap menjaga NKRI. Di sini semua bergandengan tangan untuk membantu Pak Jokowi memberantas radikalisme di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, adapun rencana ke depan berbagai kegiatan yang serupa akan terus digalakkan dan jalan terus untuk tetap mengaktifkan budaya bangsa. Supaya budaya asing yang selama ini telah masuk dan mampu merubah generasi untuk senantiasa tetap mencintai kebudayaan bangsa sendiri.

“Kita harus lebih memiliki rasa ke Indonesia-an, karena hampir 20 tahun ke belakang kita sudah terjajah dengan budaya asing. Intinya kegiatan ini kami berharap agar NKRI benar-benar dijaga, itu semua bisa dilakukan oleh masyarakat adat yang ada,” tukasnya.

Selain itu, lanjut Haidar, kita harus menolak faham-faham khilafah, karena itu tidak sesuai dengan Pancasila sehingga sudah selayaknya diberangus dari bumi Indonesia.

“Pemerintah Jokowi sudah betul membubarkan HTI, tinggal sekarang oknum-oknumnya yang membawa kebudayaan Arab di Indonesia harus kita hilangkan karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD Republik Indonesia,” lugasnya.

Rangkaian karnaval kebudayaan tersebut dimeriahkan dengan berbagai kesenian nusantara seperti Palang Pintu (Betawi), Tari Cakalele (Alor), Reog (Ponorogo), Tarian Kawasaran (Minahasa) dan pembacaan ikrar setia kepada Pancasila.(tpn/red)