Categories
TNI

TNI AL Tingkatkan Pemahaman Ideologi Pancasila Untuk Prajurit dan Keluarga

Koran Jurnal, Jakarta – Pentingnya meningkatkan pemahaman tentang ideologi negara serta membentuk mental yang kuat dan komitmen tinggi bagi prajurit dan PNS beserta keluarganya, TNI Angkatan Laut (TNI AL) menyelenggarakan Talkshow Pembinaan Mental Terpadu Tahun 2023 di Mako Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar, Bali, Senin (29/5/2023).

Talk Show dengan tema “Peran Ideologi Pancasila dalam Pembinaan Mental Prajurit/PNS TNI Angkatan Laut dan Keluarga” ini dilaksanakan dengan tujuan utama, untuk meningkatkan pemahaman prajurit TNI AL tentang ideologi negara dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tugas dan tanggung jawab sebagai anggota TNI AL.

“Kegiatan pembinaan mental ideologi juga akan dilaksanakan diskusi, ceramah, dan simulasi situasi yang mendorong prajurit TNI AL untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif,” ungkap Danlanal Denpasar Kolonel Mar I Dewa Nyoman Gede Rake Susilo dalam sambutannya pada acara tersebut.

Lebih lanjut pelaksanaan kegiatan talk show ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan tentang ideologi negara dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang tugas dan tanggung jawab sebagai prajurit/PNS TNI AL dan keluarga besar TNI AL.

Dalam kesempatan ini peserta mendapatkan materi penting tentang Peran Ideologi Pancasila dari Kepala Dinas Pembinaan Mental TNI AL (Kadisbintalal) Brigjen TNI (Mar) Sandy Muchjidin Latief dan Sekretaris Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya yang dimoderatori oleh Ni Putu Dwi Verayanti Utami.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir delegasi Amerika Serikat David Sunghon Yang dan Ron Pettygrew, keduanya merupakan perwakilan Chaplain Officer US Navy yang akan berpartisipasi pada pelaksanaan Asia Pacific Chaplaincy Symposium (APCS) 2023 diselenggarakan oleh TNI AL di Hotel Anvaya Beach Resort, Bali pada Selasa (30/05). Kehadiran Delegasi Amerika Serikat pada acara talk show tersebut selain sebagai kunjungan persahabatan, juga untuk mengetahui bagaimana TNI AL memberikan pemahaman ideologi Pancasila kepada prajurit dan keluarganya.

Selain dilaksanakan secara tatap muka diantaranya oleh Danlanal Denpasar, Palaksa, para perwira Lanal Denpasar, Ketua Cabang 10 Korcab V DJA II, para prajurit dan PNS Lanal Denpasar beserta keluarganya, kegiatan ini juga diikuti oleh perwakilan para prajurit dan PNS TNI AL diseluruh Indonesia melalui jaringan Video Conference (Vicon).

Pelaksanaan talk show Pembinaan Mental Terpadu Tahun 2023 merupakan salah satu implementasi program prioritas Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali yaitu membentuk prajurit Jalasena yang berkualitas, modern, tangguh, dan profesional dan mengabdi tulus ikhlas sebagai jalan menuju kejayaan Angkatan Laut “Jalesveva Jayamahe”.(disp)

Categories
Nasional Polhukam

Kapolri Terpilih, Komjen Listyo Sigit Harus Mampu Menjadi Penjaga Gawang Ideologi Pancasila

Koran Jurnal, Jakarta – Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo hadir sebagai pembicara dalam diskusi Rumah Kebudayaan Nusantara (RKN)

“Kapolri Baru: Peluang dan Tantangan Mewujudkan Transformasi Menuju Polri yang Presisi”, Sabtu (23/01/2021).

Dalam kesempatan ini dirinya menjelaskan harapannya kepada Kapolri Terpilih Listyo Sigit agar memiliki Visi yang visioner. Pendiri Setara Institute ini menjelaskan bahwa Kapolri terpilih ini dapat menjadi penjaga gawang Ideologi Pancasila dan menegakan konstitusi.

“Harus mampu menjadi penjaga gawang Ideologi Pancasila. Menegakan konstutusi kedepannya tantangannya bahaya radikalisme dan kejahatan teknologi yang bahkan menjadi kejahatan internasional,” tegasnya.

Benny Susestyo menuturkan, yang dibutuhkan  Polri saat ini adalah konsolidasi internal dan membangun komunikasi publik.

“Kemampuan membangun tanggungjawab bersama. Butuh luwes dan ketegasan,” jelas Benny.

Lanjut Benny mengatakan, meningkatkan transparansi dan meningkatkan sistem IT sangat dibutuhkan.

“Harus meningkatkan transparasi serta menggunakan dan mengembangkan sistem IT untuk dalam menjalankan sistem sehingga transparansi dalam hal apapun bisa ditingkatkan,” tambahnya.

Praktisi hukum Petrus Selestinus menilai Kapolri terplih, Komjen Listyo Sigit Prabowo menghadapi tantangan berat ke depan. Salah satunya adalah memberantas kelompok radikalisme.

Petrus Selestinus mengatakan, Listyo perlu memperkuat jajaran dibawahnya demi konsistensi memberantas kelompok radikal.

“Karena aparat ini ada yang terpapar. Karena pembersihan di internal Kapolri harus menjadi garda terdepan menertibkan aparat yang terpapar agar kembali ke Pancasila,” kata Petrus.

Listyo, lanjut Petrus, perlu menolak adanya rencana memperkuat Pam Swakarsa. Menurut Petrus, jika organisasi itu dibangkitkan, makan bisa saja menimbulkan trauma masa lalu.

“Mereka bisa lebih merasa besar daripada Polri,” jelas Petrus.(rls/red)

Categories
Polhukam

Menko Mahfud MD Ajak Semua Pihak Konsisten Jaga Pancasila dan NKRI

Koran Jurnal, Jakarta – Menko Polhukam Mahfud MD mengajak semua pihak untuk bersama-sama memikirkan dan berkomitmen menjaga Indonesia dari rongrongan kelompok radikal yang mengganggu keutuhan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Seiring dengan perjalanan bangsa, tentu saja kita semua menghadapi berbagai tantangan dan ancaman terhadap keutuhan NKRI, di antaranya ancaman radikalisme, menguatnya politik identitas, berkembangnya ujaran kebencian dan hoaks, serta ancaman-ancaman lain yang apabila tidak ditangani akan dapat mengancam keutuhan NKRI,” kata Mahfud MD dalam sambutannya pada acara Focus Group Discussion (FGD) tentang Penanganan Ormas Radikal yang diselenggarakan oleh Kedeputian I Bidang Koordinasi Politik dalam Negeri (Poldagri) Kemenko Polhukam di Jakarta, Selasa (29/09/2020).

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut, Direktur Keamanan Negara Baintelkam Polri Umar Effendi, Cendekiawan Muslim dan Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah Prof. Azyumardi Azra, dan Guru Besar UI, Prof Topo Santoso.

Menurut Mahfud, selama ini Pancasila sebagai ideologi dasar bangsa Indonesia telah memberikan bukti konkret betapa Indonesia tetap Bersatu, dengan berbagai dinamika dan perbedaan latar belakang bangsanya.

“Pancasila sebagai Ideologi Negara telah terbukti mampu menjadi kekuatan pemersatu bangsa yang dapat merajut Ke-Bhinneka-an di tengah berbagai tantangan bangsa,” ujarnya.

Oleh karena itu, seluruh stakeholder harus tetap menjaga Pancasila tersebut agar tetap eksis. Apalagi upaya tersebut dikatakan Mahfud tidak mudah, mengingat kompleksitas situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

“Tugas menjaga keutuhan bangsa adalah tugas yang berat seiring dengan makin kompleksnya tantangan yang dihadapi apalagi dihadapkan dengan tidak adanya kepastian tindakan hukum oleh aparat keamanan bagi Individu atau Ormas yang menyebarkan paham-paham Radikalisme,” paparnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu sekali lagi mengajak semua pihak untuk aktif dalam upaya merawat dan menjaga keutuhan Indonesia dengan Pancasila dan NKRI-nya.

“Saya mengajak saudara-saudara yang hadir dalam acara FGD ini untuk lebih aktif dan lebih giat lagi dalam mengabdi bagi tegaknya NKRI dengan mendukung upaya-upaya untuk mewujudkan stabilitas keamanan dan penegakan hukum guna mendukung pembangunan Indonesia yang semakin berkualitas ke depan,” sambungnya.

Mahfud yakin bahwa dengan kerjasama yang baik dan sinergitas yang berkelanjutan dapat menuai hasil yang positif sesuai dengan keinginan bersama, yakni merawat Indonesia tetap eksis.

“Saya yakin melalui semangat kebersamaan, persatuan, dan kesatuan, serta saling bersinergi didukung dengan kerja keras, kita semua akan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong,” pungkasnya. (hum/red)

Categories
Polhukam

Haidar Alwi Ajak Kepala Adat Nusantara Jaga Kebudayaan Bangsa dan Pancasila dari Ancaman Radikalisme

Koran Jurnal, Jakarta – Indonesia yang memiliki beraneka ragam suku, agama, adat dan budaya hampir terdegradasi oleh kebudayaan dari asing. Jika hal tersebut terus dibiarkan, dikhawatirkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia tergerus dan dapat memecah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, berbagai cara dilakukan agar NKRI tetap utuh, salah satunya dengan tetap mencintai kebudayaan kita sendiri.

Haidar Alwi sebagai tokoh penggiat serta penggerak gerakan Anti Intoleransi dan Radikalisme mengajak masyarakat adat se Indonesia berkumpul dalam acara yang bertajuk “Perkuat Kebudayaan Tumpas Radikalisme, Nusantara Bersatu Untuk Pancasila”.

“Dengan kegiatan ini membuktikan bahwa semua kepala adat mendukung pemerintah dengan penuh semangat untuk memberantas radikalisme dan intoleransi dari bumi Indonesia,” kata Haidar dalam acara tersebut, di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (27/07/2019) malam.

Ditempat sama, Haidar juga meminta kebudayaan Indonesia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Jangan sampai budaya Indonesia terpengaruh dengan budaya luar baik itu Arab dan negara lainnya. Jadikanlah kekayaan budaya bangsa menjadi sebuah kekuatan yang tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Untuk itu saya kumpulkan semua kepala adat dari berbagai daerah agar tetap menjaga NKRI. Di sini semua bergandengan tangan untuk membantu Pak Jokowi memberantas radikalisme di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, adapun rencana ke depan berbagai kegiatan yang serupa akan terus digalakkan dan jalan terus untuk tetap mengaktifkan budaya bangsa. Supaya budaya asing yang selama ini telah masuk dan mampu merubah generasi untuk senantiasa tetap mencintai kebudayaan bangsa sendiri.

“Kita harus lebih memiliki rasa ke Indonesia-an, karena hampir 20 tahun ke belakang kita sudah terjajah dengan budaya asing. Intinya kegiatan ini kami berharap agar NKRI benar-benar dijaga, itu semua bisa dilakukan oleh masyarakat adat yang ada,” tukasnya.

Selain itu, lanjut Haidar, kita harus menolak faham-faham khilafah, karena itu tidak sesuai dengan Pancasila sehingga sudah selayaknya diberangus dari bumi Indonesia.

“Pemerintah Jokowi sudah betul membubarkan HTI, tinggal sekarang oknum-oknumnya yang membawa kebudayaan Arab di Indonesia harus kita hilangkan karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD Republik Indonesia,” lugasnya.

Rangkaian karnaval kebudayaan tersebut dimeriahkan dengan berbagai kesenian nusantara seperti Palang Pintu (Betawi), Tari Cakalele (Alor), Reog (Ponorogo), Tarian Kawasaran (Minahasa) dan pembacaan ikrar setia kepada Pancasila.(tpn/red)

Categories
Megapolitan Opini Polhukam

Repdem Tangsel Imbau Kelompok Milineal untuk Terus Bumikan Pancasila

Koran Jurnal, Tangerang – Organisasi sayap PDI Perjuangan, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Tangerang Selatan bikin gebrakan dengan mengadakan kegiatan ‘Ngopi Banteng Repdem’  (Ngobrol Politik Bareng dan Anteng Bersama Relawan Perjuangan Demokrasi) dengan tema “Tantangan Implementasi Pancasila Zaman Now” di Sekber pemenangan Jokowi, Setu Muncul, Tangerang Selatan, Minggu (18/11/2018)

Tujuan kegiatan tersebut dalam rangka untuk memperkuat pemahaman Pancasila sebagai ideologi kebangsaan dengan sasaran kelompok milineal.

“Kegiatan ngopi banteng Repdem ini kami lakukan karena kami gelisah di wilayah Tangsel sendiri banyak kaum milineal tetapi diskusi diskusi kebangsaan seperti ini jarang dilakukan, sebagai organisasi yang berbasis aktivis, kami punya tanggung jawab sejarah membuat kegiatan ideologis seperti ini, “ ujar Kusnadi kepada wartawan di lokasi acara.

Hadir dalam diskusi tersebut beberapa narasumber antara lain, Wanto Sugito (Sekjen DPN Repdem), TB Bayu Murdani (Wakil Ketua DPRD Tangsel), Veri Mukhlis (Pengamat politik UIN Ciputat), M Tohar (Enterpreneur muda) serta Profesor Beny (Senior GMNI). Selain itu beberapa organisasi berbasis kelompok nasionalis juga turut hadir seperti, Posraya, Projo, GMNI dan lainnya.

Di tempat sama, Wanto Sugito mengatakan, diskusi ini penting dilakukan agar penanaman ideologi kebangsaan dengan sasaran kelompok milineal yang kini jumlahnya 34,49 % di Indonesia terus digelorakan dengan membuat Gerakan Cinta Pancasila.

“Mereka bisa memainkan peran Gerakan Cinta Pancasila dalam memainkan dunia sosial media dengan mengisi konten konten yang menumbuhkan rasa cinta dan membangkitkan semangat nasionalisme yang selama ini nampak pudar. Apalagi tantangannya saat ini, ada ancaman kelompok kelompok yang mengatas namakan agama ingin merubah ideologi pancasila. Jelaskan bahwa konsensus berdirinya negara di atas keberagaman ini sudah final dan tidak bisa diubah ubah,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan TB Bayu Murdani, pentingnya kita sebagai kelompok nasionalis, dimanapun dan peran apapun agar sejatinya konsisten membumikan pancasila dalam bentuk praktik berbangsa bernegara.

M Tohar, selaku enterpreneur muda menambahkan, pentingnya kelompok milineal juga membangun basis basis ekonomi yang berkedaulatan dengan cara memulai dari sejak dini belajar memiliki usaha meski dari kecil terlebih dahulu.

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Very Mukhlis mengatakan, sejatinya jika dikaitkan dalam pilpres, maka Jokowi adalah gambaran tepat pemimpin yang telah terbukti bekerja dan mengimplementasikan Pancasila dalam regulasi pemerintahannya selama ini.

“Jokowi sudah teruji dan terbukti. Sehingga kelompok nasionalis khususnya di Banten harus lebih pro aktif membangun gerakan gerakan di masyarakat agar Pancasila terus dibumikan dalam kerja-kerja politik yang kepentingannya kembali kepada rakyat,” tegasnya.(red/yd)