Categories
Polhukam

Penggiat Anti Radikalisme Ajak Ulama, Guru Ngaji dan Tokoh Masyarakat Bangun Narasi Kerukunan Umat

Koran Jurnal, Jakarta – Tokoh dan juga Penggiat Anti Radikalisme serta Intoleransi Haidar Alwi, meminta seluruh kalangan masyarakat membangun narasi kerukunan untuk mencegah radikalisme, juga tidak menggunakan kalimat yang dapat memicu intoleransi. Hal ini dikatakan Haidar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (17/11/2019).

Ia mengajak seluruh masyarakat dari kalangan manapun dan golongan kepercayaan apapun untuk saling dan bersama sama menangkal serta mencegah sikap intoleran.

“Baik dari kalangan Muslim atau non-Muslim, narasi yang kita bangun itu narasi kerukunan, jangan membuat narasi yang menyinggung satu sama lainnya,” kata Haidar.

Menurut Haidar, untuk mencegah munculnya sikap intoleran dan radikal maka ungkapan-ungkapan positif harus terus dibangun, termasuk di media sosial.

“Untuk menimbulkan nuansa persaudaraan dan tidak memicu konflik di kalangan masyarakat pada umumnya,” ujar Haidar.

Haidar mengungkapan, kebencian yang banyak muncul di media sosial akan menimbulkan konflik di kalangan masyarakat. Sehingga, pola pikir dan kebiasaan masyarakat untuk menciptakan narasi kerukunan harus dibiasakan dan dijadikan budaya persaudaraan.

“Jadi kelompok mana saja, jangan munculkan narasi konflik karena ini juga menimbulkan terjadinya rasa permusuhan. Indonesia ini wilayah damai, wilayah aman, Oleh karena itu jangan membawa narasi konflik ke Indonesia ini,” tukasnya.

Dan, lanjut Haidar, harus di pahami masyarakat indonesia bahwasannya Indonesia adalah negara yang menjadi target bagi kaum radikal dan intoleran untuk dihancurkan.

Dalam kesempatan itu, Haidar Alwi juga mengatakan bahwa sikap radikal dan intoleran bersumber dari pola pikir seseorang yang kemudian direpresentasikan dalam tindakan.

Oleh itu, pada momen Hari Toleransi Sedunia yang diperingati setiap 16 November, Haidar Alwi mengajak kepada para ulama, guru agama atau guru mengaji untuk mengajarkan Islam wasathoniyah (islam kebangsaan) dan tokoh masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa.

“Mari Kita Jaga Indonesia dari Kaum radikalisme dan Intoleransi demi terciptanya kedamaian dibumi Indonesia tercinta,” tandasnya.(red)

Categories
Polhukam

Haidar Alwi Diminta Masuk Kabinet Jokowi-Ma’ruf

Koran Jurnal, Jakarta – Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) menggelar Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas) II, di Hotel Acacia, Salemba, Jakarta Pusat, Minggu (16/10/2019).

Rakornas ARJ dihadiri para ketua organ dan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam acara itu, sekitar 900 organ relawan yang tergabung di ARJ meminta H. R. Haidar Alwi selaku Penanggungjawab Tunggal ARJ untuk masuk menjadi pembantu presiden dalam Kabinet Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Desakkan dan permintaan itu muncul dari kesepakatan bersama 900 organ relawan yang tergabung di ARJ secara aklamasi.

“Apakah kita semua Ketua-Ketua Umum Relawan Jokowi yang hadir disini (red-Rakornas) mendukung Saudara Haidar Alwi sebagai calon Menteri di Kabinet Jokowi-Amin,” tanya Aidil Fitri kepada seluruh peserta Rakornas II ARJ di Hotel Acacia, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (13/10). Seraya para peserta Rakornas ARJ kompak menjawab, “Setuju”.

Menurut Aidil Fitri usulan dan desakan agar mendukung Haidar Alwi sebagai Menteri sudah lama digaungkan. Akan tetapi, sambungnya, baru kali ini keputusan bulat diambil secara sah dan aklamasi mendukung Haidar Alwi sebagai calon Menteri Jokowi-Amin.

“Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) merekomendasikan Penanggung Jawab Tunggal ARJ Bapak H. R. Haidar Alwi untuk menjadi Pembantu Presiden/Menteri di Kabinet Jokowi-Amjn tanpa mengesampingkan hak preogratif Presiden Jokowi-Amin,” kata Aidil Fitri.

Ditanya alasan ARJ kenapa mendukung Haidar Alwi? Ketua Umum Forum Relawan Demokrasi (Foreder) ini menjawab, Haidar Alwi adalah sosok yang peduli pada relawan dan telah berjuang siang malam tanpa henti bersama relawan untuk memenangkan Jokowi-Amin.

“Dia (Haidar Alwi) juga memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni di bidang Sosial ekonomi, bisnis, manajemen dan sosial politik. Sebagai Alumni Elektro Institute Teknologi Bandung (ITB), dirinya memiliki jaringan dan keterampilan dalam manajemen sumber daya manusia, keuangan dan iptek,” jelas Aidil Fitri.

Sementara itu Suhadi, SH Ketua Umum Relawan NINJA menyatakan total mendukung Haidar Alwi sebagai Menteri di Kabinet Jokowi-Amin. Katanya, perjuangan Haidar Alwi dalam memenangkan Jokowi-Amin tak perlu diragukan lagi, terutama juga menjaga Indonesia dari kelompok radikalisme dan intoleran.

“Dukungan ini merupakan inisiatif dari para relawan. Dukungan bulat ini akan kita sampaikan kepada Bapak Jokowi secara langsung,” terang pengacara senior ini.

Senada dengan itu, Bapak Yanes Yosua Frans Ketua Group We Love Jokowi-Amin yang juga Ketua Umum Ormas Nasional Wira Lentera Jiwa (WLJ) mengatakan, atas kesempatan ini Bapak Haidar Alwi diharapkan masuk Kabinet Jokowi-Amin. Supaya relawan tidak merasa sendiri dalam berjuang, sebagaimana Jokowi tidak berjuang sendiri.

“Saya mengusulkan Haidar Alwi layak menjadi Menteri BUMN, karena beliau layak memimpin BUMN kedepan lebih baik,” tegasnya.(red)

Categories
Hukum Polhukam

Relawan Jokowi Telusuri Pendana Aksi Demontrasi Rusuh Mahasiswa dan Pelajar

Koran Jurnal, Jakarta – Penanggung jawab Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) Haidar Alwi mengaku telah membentuk tim investigasi rahasia untuk menyelidiki orang yang mendanai aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar menjelang pelantikan Presiden pada 20 Oktober 2019.

Haidar juga mengaku akan mengerahkan organ-organ relawan di bawah bendera ARJ untuk turun ke jalan pada 20 Oktober mendukung pelantikan Jokowi.

“Kita turun ke jalan tanggal 20 Oktober untuk bela negara. Bukan bela Jokowi. Dan kebetulan pak Jokowi adalah tokoh yang berani dan mampu menyelamatkan Indonesia. Maka kita harus mendukung Pak Jokowi sampai pelantikan dan seterusnya,” ujar Haidar, saat rapat koordinasi ARJ, di Hotel Acacia, Jakarta, Minggu (06/10/2019).

Haidar menegaskan, tim investigasi akan mengusut orang yang gerakan mahasiswa dan pelajar. Sebab sudah jelas, ada gerakan radikalisme dan intoleran yang bermain di belakang aksi tersebut.

Haidar mengatakan, hasil investigasi sementara menunjukkan ada perbedaan yang mencolok antara gerakan 1998 dan 2019.

Aksi reformasi 98, kata Haidar, dimulai dari proses panjang. Ada gerakan 1982, 1983, dan terus ada gerakan-gerakan dan ujungnya reformasi 1998. Kemudian, lanjut Haidar, aksi 98 ada tokoh-tokohnya yang jelas. Ada pak Amien Rais, Megawati, Gus Dur dan lainnya.

“Berbeda dengan aksi 2019. Pertama, aksi ini enggak ada tokohnya yang jelas. Kedua aksinya instan. Tiba-tiba muncul mahasiswa itu. Menurut saya, ini gerakan radikalisme,” ungkap Haidar.

Oleh sebab itu, Haidar menegaskan bahwa aksi ARJ20 Oktober bukan untuk Jokowi, tapi untuk menyelamatkan bangsa Indonesia. Artinya, tegas Haidar, Jokowi sekarang sedang menyelamatkan Indonesia.

“Itu intinya. Kita menyelamatkan Indonesia di bawah panglima perang yang namanya Pak Jokowi. Sebab hanya pak Jokowi yang berani, berani membubarkan HTI,” pungkasnya.

Dalam kesempatan sama, Koordinator ARJ Aidil Fitri menegaskan, seluruh relawan Jokowi yang tergabung ARJ mendukung penuh pencarian dalang dan pendana aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar yang berujung rusuh.

“Itu bagus, harus dicari dalang kerusuhan kemarin itu yang ngomporin adik-adik Mahasiswa dan Pelajar,” lugas Aidil.(red)

Categories
Polhukam

Haidar Alwi Menduga Demonstrasi Anarkis Ditunggangi HTI

Koran Jurnal, Jakarta – Tokoh penggiat anti radikalisme dan rasisme, Haidar Alwi menduga, demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa dan pelajar ditunggangi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Haidar mengatakan, prihatin terhadap  demo yang semula damai, bisa menjadi anarkis dalam sekejap. Menurutnya, hal itu menjadi pertanyaan besar, dan ada benang merahnya.

“Kita tau, demo mahasiswa semula damai, namun tiba-tiba anarkis? Itu perlu dipertanyakan,” ujar Haidar, di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (29/09/2019) malam.

Menurutnya, rentetan demonstrasi tersebut masih dalam satu benang merah. Haidar menilai, seperti ada agenda anarkis untuk menyerang pemerintah.

“Bukannya saya menuduh jika ada yang ‘bermain’. Tapi kok bisa aksi terjadi berdekatan. Saya menduga ini ulah kelompok radikalis,” tutur Haidar.

Berbeda dengan mahasiwa. Haidar menuturkan, tuntutan yang disampaikan oleh para pelajar pada Rabu kemarin (24/9) tidaklah jelas.

“Tuntutan pelajar tidak jelas begitu, bisa dibilang lebih kearah anarkis. Saya menduga, pasti ada yang menunggangi itu,” tuturnya.

Haidar mengimbau kepada para pelajar dan mahasiwa agar tidak terlibat dalam aksi-aksi anarkis seperti saat kemarin. Menurutnya, demonstrasi ditengah dinamika politik saat ini rentan ditunggani oleh oknum radikalis yang ingin menjatuhkan pemerintahan sah.

“Saya menduga, HTI (Hizbut-Tahrir Indonesia) masih sakit hati dengan pak Jokowi karena dibubarkan. Jadi dugaan saya, mereka akan melakukan apa saja untuk upaya balas dendam,” pungkasnya.(red)

Categories
Polhukam

Relawan Jokowi Tegaskan Tidak Tinggal Diam Jika Ada Pihak Gagalkan Agenda Pelantikan 20 Oktober

Koran Jurnal, Jakarta – Organ relawan pendukung Jokowi-KH Maruf Amin dibawah koordinasi Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) melakukan pertemuan siaga untuk menyikapi aksi massa dan dugaan upaya penggagalan agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang sah pada 20 Oktober 2019 mendatang.

Penanggungjawab ARJ Haidar Alwi mengatakan, akhir-akhir ini semakin terlihat adanya upaya sistematis, masif, dan terstruktur untuk mengagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden yang sah pada 20 Oktober 2019.

“Maka itu, ARJ dan semua relawan mengambil peran aktif untuk melindungi pak Jokowi dari serbuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, kaum radikal dan intoleran yang ada di balik aksi itu,” ujar Penanggungjawab ARJ Haidar Alwi saat menghadiri Konsolidasi Relawan Jokowi, di kawasan Kramat Raya-Salemba, Jakarta, Selasa (24/09/2019).

Haidar mengatakan, pihaknya mengumpulkan relawan baik itu yang berada di bawah ARJ maupun yang tidak, untuk bahu-membahu menjaga Jokowi dan menjaga negara dari serbuan orang orang radikal dan intoleran yang tidak ingin melihat negara Indonesia maju dibawah kepemimpinan terbaik Pak Jokowi-KH Ma’ruf Amin.

Ia juga mengatakan, gerakan yang ingin menggagalkan pelantikan Jokowi itu sudah sangat jelas dan sangat masif, bahkan sudah tersiar aksi demo di DPR yang jumlahnya terus bertambah.

“Per hari ini saya dengar berita itu sudah mencapai angka 5.000 dan katanya akan bertambah terus hingga 10.000 pada 20 Oktober,” lanjut Haidar.

Penanggung jawab tunggal ARJ ini pun menegaskan bahwa ARJ dan para relawan Jokowi-KH Ma’ruf Amin masih aktif. Semua relawan pendukung Jokowi masih berkibar untuk melindungi Jokowi sampai dengan dilantik hingga memimpin Indonesia 5 tahun kedepan.

“Relawan masih aktif dan solid, siap menjaga sampai dengan pak Jokowi aktif menjabat menjadi presiden, menjadi pimpinan kita tertinggi selama periode lima tahun kedepan, 2019 sampe tahun 2024,” tegas Haidar.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Dewan Pimpinan Pusat Foreder (Forum Relawan Demokrasi), Aidil Fitri mengimbau, para mahasiswa yang berdemonstrasi jangan sampai ditunggangi kaum radikal.

“Kami himbau adik-adik mahasiswa jangan ditungangi kelompok-kelompok radikal dan yang mau menggagalkan pelantikan 20 Oktober,” jelasnya.

Kalau melakukan gerakan mengagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019 yang sah, jelas Aidil, maka Foreder dan Aliansi Relawan tak akan tinggal diam.

“Kami siap dan sudah konsolidasi, baik konsolidasi ke dalam maupun keluar untuk menjaga suksesnya pelantikan pemerintahan yang sah,” tegas Aidil yang juga selaku Koordinator ARJ.(red)

Categories
Polhukam

Soal Usulan Nama Calon Menteri, Haidar Alwi: Jokowi Tau Persis Siapa dan Apa yang Dibutuhkan

Koran Jurnal, Jakarta – Gabungan lintas organisasi relawan yang berisi para aktifis melakukan diskusi terbuka bertema “Komposisi Kabinet Kerja Ideal Menuju Indonesia Unggul”, di Apollo Cafe Ibis Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (03/08/2019).

Penyelenggaraan diskusi tersebut kolaborasi antara Gerakan Relawan Untuk Demokrasi (Garuda) bersama Forum Relawan Demokrasi (Foreder) dan Aliansi Relawan Jokowi (ARJ).

Hadir sebagai pembicara, tokoh gerakan anti radikalisme dan intoleransi, Haidar Alwi, aktivis Prodem, Bursah Zarnubi, dan praktisi geologi dan tambang, Alimin Ginting, serta Direktur Central Budget Analysis, Ucok Skydafi, dan Yulianto Widirahardjo sebagai moderator.

Dalam kesempatan itu, Haidar Alwi mengatakan, kabinet saat ini adalah kabinet presidensial.

“Presiden berhak penuh memilih pendampingnya (menteri, red) berdasarkan kebutuhan yang diinginkan oleh orang nomor satu itu (presiden),” ujarnya.

Karena, kata Haidar, sebagai Presiden yang telah memimpin dalam periode sebelumnya, dirinya meyakini bahwa Jokowi memahami apa yang dibutuhkan.

“Sudah pernah memerintah 5 tahun, tentunya Pak Jokowi tahu persis siapa yang terbaik dan siapa yang baik, karena Pak Jokowi tidak punya beban,” jelas Haidar.

Sementara itu, aktivis Prodem, Bursah Zarnubi menilai, sebagai Presiden, Jokowi terlalu royal. Sehingga setiap elemen dianjurkan ikut berpartisipasi (usulkan calon menteri), namun tidak boleh memaksakan kehendak.

“Saya pikir memang ini fase setiap kelompok perlu ikut berpartisipasi memberikan masukan,” imbuhnya.

“Kita berharap kabinet jokowi ini kabinet yang responsif,” tambah Haidar.

Bursah mengharapkan, portofolio kabinet Jokowi nanti harus diisi orang yang memiliki komitmen.

“Kita bisa usulkan di kabinet kerja ini menjadi lebih baik karena Pak Jokowi tidak punya beban,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, Jokowi mempersilahkan kepada para pendukungnya untuk menyodorkan nama-nama calon menteri yang sesuai dengan kemampuan.(red)

Categories
Polhukam

Haidar Alwi Ajak Kepala Adat Nusantara Jaga Kebudayaan Bangsa dan Pancasila dari Ancaman Radikalisme

Koran Jurnal, Jakarta – Indonesia yang memiliki beraneka ragam suku, agama, adat dan budaya hampir terdegradasi oleh kebudayaan dari asing. Jika hal tersebut terus dibiarkan, dikhawatirkan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia tergerus dan dapat memecah persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, berbagai cara dilakukan agar NKRI tetap utuh, salah satunya dengan tetap mencintai kebudayaan kita sendiri.

Haidar Alwi sebagai tokoh penggiat serta penggerak gerakan Anti Intoleransi dan Radikalisme mengajak masyarakat adat se Indonesia berkumpul dalam acara yang bertajuk “Perkuat Kebudayaan Tumpas Radikalisme, Nusantara Bersatu Untuk Pancasila”.

“Dengan kegiatan ini membuktikan bahwa semua kepala adat mendukung pemerintah dengan penuh semangat untuk memberantas radikalisme dan intoleransi dari bumi Indonesia,” kata Haidar dalam acara tersebut, di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (27/07/2019) malam.

Ditempat sama, Haidar juga meminta kebudayaan Indonesia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Jangan sampai budaya Indonesia terpengaruh dengan budaya luar baik itu Arab dan negara lainnya. Jadikanlah kekayaan budaya bangsa menjadi sebuah kekuatan yang tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Untuk itu saya kumpulkan semua kepala adat dari berbagai daerah agar tetap menjaga NKRI. Di sini semua bergandengan tangan untuk membantu Pak Jokowi memberantas radikalisme di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, adapun rencana ke depan berbagai kegiatan yang serupa akan terus digalakkan dan jalan terus untuk tetap mengaktifkan budaya bangsa. Supaya budaya asing yang selama ini telah masuk dan mampu merubah generasi untuk senantiasa tetap mencintai kebudayaan bangsa sendiri.

“Kita harus lebih memiliki rasa ke Indonesia-an, karena hampir 20 tahun ke belakang kita sudah terjajah dengan budaya asing. Intinya kegiatan ini kami berharap agar NKRI benar-benar dijaga, itu semua bisa dilakukan oleh masyarakat adat yang ada,” tukasnya.

Selain itu, lanjut Haidar, kita harus menolak faham-faham khilafah, karena itu tidak sesuai dengan Pancasila sehingga sudah selayaknya diberangus dari bumi Indonesia.

“Pemerintah Jokowi sudah betul membubarkan HTI, tinggal sekarang oknum-oknumnya yang membawa kebudayaan Arab di Indonesia harus kita hilangkan karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD Republik Indonesia,” lugasnya.

Rangkaian karnaval kebudayaan tersebut dimeriahkan dengan berbagai kesenian nusantara seperti Palang Pintu (Betawi), Tari Cakalele (Alor), Reog (Ponorogo), Tarian Kawasaran (Minahasa) dan pembacaan ikrar setia kepada Pancasila.(tpn/red)

Categories
Polhukam

Haidar Alwi: Radikalisme Harus Diberangus dari Bumi Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Aktivis dan penggiat anti paham radikalisme Haidar Alwi mengingatkan, aliran intoleransi, radikalisme, hingga terorisme harus diberangus dari bumi Indonesia.

“Kalau kita sayang anak cucu kita, maka kita berangus radikalisme di Indonesia. Jangan sisakan satu pun, sebab paham radikalisme ini seperti virus,” ujar Haidar dalam acara Ngobrol Bareng Haidar di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta, Rabu (27/07/2019).

Acara ngobrol bareng itu menghadirkan pembicara Tedy Wibisana, Ray Rangkuti, dan K Faturahman. Pada awal diskusi, Haidar menjelaskan, melawan radikalisme adalah prinsip dalam berbangsa dan bernegara.

“Bagi saya, lebih baik mati di atas kaki kita sendiri dari pada bertekuk lutut di kaki kaum intoleransi dan kaum radikalisme,” tegasnya.

Kata Haidar, radikalisme tak hanya identik dengan HTI, tapi paham ini ada di mana-mana. Bahkan di BUMN dan ASN banyak yang terjangkit paham berbahaya ini.

“Saya muter sholat Jum’at di BUMN, di sana banyak kaum intoleransi dan radikalisme. Ini bahaya. Kenapa? Karena paham radikalisme ini ada biaya 10 persen dari penghasilan masuk ke kas organisasi mereka,” terangnya.

Haidar pun mengatakan, ekonomi organisasi radikalisme ini besar dan berkembang terus, karena di ASN dan BUMN banyak anggotanya. Padahal sekali terjangkit penyakit radikalisme susah keluar.

“Yang namanya orang radikal, itu susah banget diberantas. Maka gerakan ini harus kontinue. Kalau tidak maka Indonesia akan lewat. Kita harus minta pemerintah tegas. Sebab radikal naik pakngkat jadi teroris,” imbuhnya.

Bagi Haidar, para anggota kaum radikalisme ini, baik HTI dan lainnya, mereka tidak mendalami ajaran Rasulallah Muhammad SAW. Ajaran yang benar adalah Islam sebagai rahmatan lil Alamin.

“Inti dari Islam dan agama adalah kasih dan sayang. Itulah esensi diciptakannya manusia di dunia. Kita diciptakan untuk saling berkasih dan bersayang sebagai esensi ilahiyah. Jadi jelas, intoleransi, radikalisme, kemudian terorisme itu ajaran sesat yang bergentangan dengan agama,” tandasnya.(tan/red)

Categories
Polhukam

TKN Jokowi-KH Ma’ruf Amin Intruksikan Relawan Untuk Kampanye Langsung “Dari Rumah Ke Rumah”

Koran Jurnal, Jakarta – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma’ruf Amin Hasto Kristiyanto menginstruksikan para relawan pendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 01 untuk kampanye langsung dari rumah ke rumah.

Hal itu disampaikan Hasto saat memberikan sambutan dan semangat bagi para relawan pendukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin pada acara Silaturahmi dan Rakornas Aliansi Relawan Jokowi (ARJ) dengan tema ‘Membangun Sinergi Menuju Kemenangan”, bertempat di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (09/12/2018).

Ia berharap ARJ dapat melipatgandakan kekuatan Jokowi-KH Ma’ruf Amin untuk turun ke bawah dan kampanye dari rumah ke rumah untuk mendekati masyarakat di seluruh Indonesia.

“Ini konsolidasi terakhir. Kalau ada yang menyerang, mengerdilkan kita jangan takut. Kita bersatu padu menghadapi politik hitam itu,” lugas Hasto.

“Kita punya kekuatan moral dalam wujud Jokowi-Kiai Ma’ruf yang menyatu dengan rakyat. Karenanya, mulai besok, relawan mulai turun bersama-sama di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten dengan semangat tak kenal kata menyerah,” ungkapnya.

“Kita maju dengan semangat yang membara. Semangat menyala-nyala dipadukan dengan seluruh parpol pendukung Jokowi-Amin serta para tokoh,” beber Hasto.

Menurut Hasto yang juga sebagai Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-Perjuangan) bahwa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 tidak sekadar memenangkan pasangan nomor urut 01 tetapi persoalan masa depan Indonesia Raya.

Selain itu, Hasto juga berpesan supaya para relawan dalam menyosialisasikan pasangan calon nomor urut 01 selalu mengedepankan sosialisasi tentang program kerja.

“Kita tak ikut yang di sebelah sana. Fitnah tak laku. Tradisi kita berpikir positif dan bukan tradisi menghujat,” jelas Hasto.

Hasto meminta relawan Jokowi-Maruf berjuang dengan penuh kerelawanan dan dedikasi demi kepemimpinan yang merakyat, pasangan keindonesiaan.

“Banyaknya relawan yang mendukung Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf menunjukkan apresiasi kepemimpinan Pak Jokowi yang memberi jawaban dan menyelesaikan persoalan sebelumnya,” tambah Hasto.

Ketua Dewan Pembina ARJ Haidar Alwi dalam sambutannya menjanjikan membangun satu juta posko di seluruh Indonesia. Dia menegaskan posko tidak harus bangun baru tapi bisa juga rumah warga, untuk menunjukkan basis massa paslon capres-cawapres nomor urut 01 dari daerah-daerah.

“ARJ terdiri dari 521 organ relawan untuk bersama memenangkan Jokowi-Maruf. Kita satukan visi masing-masing organ relawan. ARJ tidak sekedar klaim sehingga semua tercatat organ relawan dan janji berapa yang akan disumbangkan suaranya. Kita mau merapikan data dan satukan visi ARJ. Mulai besok kita kerja,” kata Haidar.

Dari pantauan jurnalis di lokasi acara, Silaturahmi ARJ dihadiri sekitar 2.000 peserta. Tampak pula hadir politisi senior Sidarto Danusubroto. Dalam kesempatan itu, Ia memberikan pembekalan kepada para relawan yang hadir.

“Saya bahagia ini kekuatan luar biasa. Sekarang saatnya berjuang door to door meyakinkan masyarakat apa yang sudah dilakukan Pak Jokowi-JK untuk diteruskan. Kalau mau Indonesia maju beri Pak Jokowi-Ma’ruf kesempatan lima tahun ke depan,” tukasnya.(ton)