Categories
Ekonomi Nasional

Kementan Punya Terobosan Baru Sejahterakan Petani dengan Program SERASI 

Koran Jurnal, Jakarta – Setelah mendapat banyak apresiasi dari berbagai pihak dalam mengolah rawa menjadi lahan pertanian produktif di Jejangkit, Provinsi Kalimantan Selatan, Kementerian Pertanian (Kementan) kembali memperkenalkan terobosan lainnya.

Ribuan hektar rawa yang tersebar di 6 provinsi akan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian aktif. Hal ini dilakukan untuk mendorong kesejahteraan petani berbasis koperasi yang dikorporasikan melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI).

Sebagai langkah awal, Program Serasi akan memilih 6 provinsi yang memiliki optimalisasi lahan seluas 400.000 hektar. Keenam Provinsi ini adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku optimis program ini akan memberi dampak baik pada semua pihak. Apalagi, pengelolaan program ini dikerjakan oleh orang-orang profesional seperti pensiunan pejabat Kementan maupun purnawirawan dari instansi lain.

“Kalau pensiunan kan sudah pasti mengerti sesuai kompetensi dan pengalaman yang dimiliki. Sebab kita ingin menggerakan pertanian secara moderen sesuai yang diharapkan Bapak Presiden”, kata Amran dalam acara Rapat Konsolidasi Persiapan Implementasi Program SERASI di Auditorium Gedung F Kantor Pusat Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2018).

Amran menjelaskan, pemanfaatan rawa nantinya akan saling terintegrasi antara lahan ternak, perkebunan dan sawah. Menurut dia, program ini merupakan mimpi lama yang baru terealisasi tahun ini.

“Saya yakin jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung 2 kali lipat. Dan itu sudah sesuai dengan mimpi besar kita, yaitu kesejahteraan petani,” katanya.

Kepala Biro Perencanaan Kementan DR. Ir. Kasdi Subagyono mengatakan terobosan ini akan dikerjakan bersama lintas sektoral dan bersinergi dengan pemangku kepentingan seperti kementerian BUMN, Kementerian PUPR dan Lembaga Keuangan.

“Strategi percepatan implementasi ini adalah mencari alternatif lahan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan. Apalagi potensi lahan rawa di Indonesia mencapai 15 juta hektar lebih”, kata Kasdi.

Menurut dia, saat ini pihaknya sedang melakukan penyisiran dan akurasi data terkait potensi baru yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan membangun koperasi petani yang terkorporasi.

“Penyisiran dan akurasi datanya sedang berjalan,” katanya.

Mengatasi Kendala dengan Mekanisasi dan Penggunaan Teknologi Pertanian

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro, mengatakan program ini merupakan arahan Presiden yang sebesar-besarnya dijalankan untuk kepentingan petani.

“Sesuai arahan Pak Mentan dan mengikuti perintah Bapak Presiden, maka kita akan membangun Koperasi Petani yang terkorporasi,” ujarnya.

Menurut dia, tahapan awal misi program ini adalah mengembangkan lahan rawa lebak seluas 200 hektar di bawah kontrol dan tanggungjawab 50 tenaga harian lepas yang melaksanakan fungsi teknis.

“Pengelolaan semuanya dilakukan dengan teknologi yang mutakhir. Jadi kendala pada kondisi tanah seperti masam, PH nya kurang dan lain-lain kini bisa teratasi dan bukan lagi masalah,” katanya.

Sekedar diketahui, optimasi lahan di Jambi mencapai 10.000, hektar, sedangkan di Lampung mencapai 20.000 hektar dan Sulsel, 20.000 hektar. Adapun di wilayah Kalteng mencapai 50.000 hektar dengan potensi keseluruhan berikut Sumsel, 450.000 hektar dan Kalsel. 450.000, hektar. (ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan: Dunia Internasional Terpukau Pembangunan Pertanian Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Pembangunan Pertanian Indonesia memukau negara-negara anggota Food and Agriculture (FAO), atau Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal ini terungkap dalam Lokakarya Nasional dengan tema “Pilar Utama Peningkata Kesejahteraan Petani : Reformasi Pertanian, Intensifikasi Produksi, dan Peningkatan Akses Pasar”, di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (12/11/2018).

Acara yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bekerjasama dengan Kementan ini, bertujuan mempromosikan keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia. Representatif FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Stephen Rudgard yang hadir dalam Lokakarya, menyampaikan apresiasinya pada Menteri Pertanian (Mentan) yang sangat fokus mengembangkan pertanian di lahan gambut pasang surut.

Rudgard juga menyampaikan laporan perjalanan perwakilan tetap dari delapan negara anggota FAO, Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang telah mengunjungi sejumlah daerah untuk mempelajari sistem pertanian Indonesia.

“Dalam kunjungan lapangan ini mereka menyaksikan langsung bagaimana kerja FAO di lapangan, dan bagaimana kami berusaha bekerja dengan baik dengan penerima manfaat dan partner kami,” kata Rudgard.

Kunjungan berlangsung selama empat hari, yaitu sejak tanggal 31 Oktober 2018 sampai dengan 3 November 2018. Delegasi yang hadir di antaranya berasal dari Aljazair, Australia, Chili, Yordania, Nigeria, Norwegia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Para delegasi berkunjung ke Jawa Tengah untuk menyaksikan demonstrasi padi-ikan (mina-padi) di Kabupaten Sukoharjo, yang merupakan kerjasama FAO dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan pemerintah daerah untuk mengembangkan praktik-praktik mina pada inovatif. Para peserta delegasi mendapat pengalaman melakukan panen beras dan ikan bersama para petani dan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya.

Setelah Sukoharjo, rombongan delegasi menuju Yogyakarta untuk mempelajari program Kementerian Pertanian yang didukung oleh FAO dan USAID guna mendeteksi dan memberantas wabah penyakit unggas yang juga mengancam populasi manusia.

Delegasi melakukan uji petik pengambilan sampel unggas di Pasar Terban Yogyakarta. Sampel unggas ini selanjutnya dibawa ke Balai Besar Veteriner Wates untuk pemeriksaan virus flu burung (Avian Influenza).

Delegasi berkesempatan untuk meninjau fasilitas laboratorium Bioteknologi dan laboratorium Virologi. Setelah itu, dilakukan presentasi proyek FAO Emerging Pandemic Threats 2 (EPT-2), dan sekilas layanan BB Veteriner Wates. Pada kesempatan tersebut delegasi dari Norwegia, Gunnvor Berge menyampaikan apresiasi atas capaian program _Influenza Virus Monitoring (IVM) online_ atau pemantauan virus AI online, yang berhasil mengurangi kejadian penyebaran virus AI pada unggas di wilayah kerja BB Veteriner Wates yang berdampak pada peningkatan pendapatan petani peternak unggas.

Di hari terakhir kunjungan para delegasi mengunjungi Desa Sibetan, Karangasem, Bali, untuk mempelajari proyek Agroforestri Salak yang diajukan pemerintah sebagai Sistem Warisan Pertanian Penting Dunia (GIAHS).

Situs GIAHS yang diusulkan mencakup lanskap yang kaya akan keanekaragaman hayati penting, yang telah berevolusi dan beradaptasi secara selaras dengan komunitas di lingkungannya. Petani Salak di Sibetan mengelola sistem agroforestri memanfaatkan kearifan lokal dan filosofi yang telah diwariskan selama lebih dari 14 abad dari generasi ke generasi.

Kepala delegasi, Wakil Tetap Nigeria, Dr. Yaya Adisa Olaitan Olaniran di akhir kunjungan menyampaikan kesan-kesannya selama melakukan kunjungan di tanah air.

“Kami meninggalkan Indonesia dengan kenangan yang cukup baik bagaimana kerjasama itu harus dilakukan, dan kami benar-benar menghargai Pemerintah, rakyat dan staf FAO di Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman dalam sambutannya di hadapan peserta Lokakarya, memaparkan beberapa capaian pembangunan pertanian dalam 4 tahun terakhir. Di antaranya terkait peningkatan produksi, perbaikan regulasi, stabilitas harga, peningkatan investasi mekanisasi pertanian, serta inovasi pertanian.

Setelah mendapatkan penjelasan serta gambaran delegasi FAO dan Mentan, Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M Fachir berjanji akan membantu mempromosikan sektor pertanian Indonesia ke mancanegara.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Buka Pasar Ekspor Manggis ke Taiwan

Koranjurnal.co.id, Taiwan – Target Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan volume ekspor berbagai komoditas pangan guna mengerek pertumbuhan ekonomi nasional dan menguatkan nilai tukar rupiah semakin optimis bisa diwujudkan.

Setelah mengekspor beras khusus, bawang merah, jagung, telur, daging ayam, benih sayuran, tanaman hias, perkebunan dan pangan lainnya. Setelah membuka pasar ekspor manggis ke China, kini giliran membuka pasar manggis ke Taiwan.

Pada kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Taiwan dan bertemu Menteri Pertanian Taiwan, Mr. Tsung-Hsien Lin, Selasa, (9/10/2018), terungkap hasil pertemuan yakni Pemerintah Taiwan berkomitmen mempercepat akses manggis Indonesia ke Taiwan, sehingga disepakati juga langkah-langkah percepatan ekspor.

“Ini langsung ditindaklanjuti, Tim Karantina Indonesia intensif berkomunikasi dengan Tim Karantina Taiwan untuk harmonisasi standar perkarantinaan komoditas manggis di kedua Negara. Konsepnya hampir sama dengan protokol membuka ekspor manggis ke China akhir tahun lalu,” ungkap Amran di Taipe, Sabtu (13/10).

Amran menyebutkan tahapan review dokumen selesai dalam waktu dekat dan dilanjutkan proses on-site audit. Ekspor perdana dilakukan segera setelah seluruh proses perkarantinaan selesai.

“Optimis segera direalisasikan, karena selama ini kita sudah rutin ekspor komoditas ke Taiwan untuk kubis, melon, karet, kopi dan lainnya,” ucap Amran.

Pada kesempatan kunjungan tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun mengungkapkan kemajuan pertanian Indonesia selama empat tahun terakhir dan ekspor pertanian Indonesia 2017 meningkat hingga 24%. Kunjungan ke Taiwan juga membahas komitmen investasi Taiwan mengembangkan industri gula di Indonesia Rp 20 triliun, kerjasama Pengembangan Rain Water Harvesting System, serta program Magang Petani Indonesia di Taiwan.

“Ini merupakan langkah konkret melakukan gerakan masif ekspor dan investasi agar pertumbuhan ekonomi nasional lebih tinggi. Sektor pertanian salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi,” ujar Amran.

Untuk diketahui prediksi ekspor manggis Indonesia 2018 mencapai 60.000 ton atau naik 553 % dari 2017 yang hanya 9.167 ton. Ekspor ini merupakan 38% dari total produksi manggis nasional 2018 sebesar 166.725 ton. Setidaknya terdapat 10 eksportir dari beberapa provinsi siap memasok pasar Asia.

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian 2017 totalnya Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga neraca perdagangan pertanian 2017 surplus Rp 214 triliun. Ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampai Juli 2018 sebesar Rp 1,3 triliun, naik 60,5 persen dari Januari sampai Juli 2017 yang hanya Rp 0,76 triliun.

Pertemuan Mentan Andi Amran Sulaiman, dengan Menteri Pertanian Taiwan, Mr. Tsung-Hsien Lin ini turut hadir Wakil Menteri Pertanian Taiwan beserta sejumlah tenaga ahli bidang pertanian. Sementara itu, Menteri Pertanian RI yang didampingi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, dan Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Tata Hubungan Kerja.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Lepas Ekspor Tiga Komoditas Hortikultura

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu menekankan perlunya peningkatan ekspor produk pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan raihan devisa negara. Tentunya hal ini tidak sekedar retorika, tetapi benar-benar nyata diwujudkan.

Kali ini, Menteri Pertanian asal Bone tersebut secara simbolis kembali melepas ekspor komoditas hortikultura, yakni mangga ke Singapura dan Malaysia totalnya 100 ton, benih kangkung ke China, Malaysia, dan Vietnam totalnya 800 ton dan bawang merah ke Philipina yang totalnya 800 ton. Pelepasan ekspor dilakukan di Kantor Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Senin (08/10/2018).

Hadir Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Dirjen Hortikultura, Suwandi dan para pelaku usaha.

Amran menuturkan potensi pertanian Indonesia sangat besar untuk menyediakan pangan secara berdaulat yakni tanpa impor, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Di tahun 2017, ekspor pertanian mencapai Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga berdampak pada surplusnya neraca perdagangan pertanian 2017 sebesar Rp 214 triliun.

“Hari ini, kita buktikan lagi ekspor. Ada mangga dan benih sayuran juga bawang merah. Inilah tujuan yang kita bangun, online single submission. Ini perintah Bapak Presiden. Dulunya mengurus izin bisa 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Tapi hari ini bisa 1 jam. Negara kita atau pertumbuhan ekonomi bisa bangkit karena 2 hal, yaitu ekspor dan investasi. Kita ke depan 2 hal ini kita doronh terus,” demikian tutur Amran.

Dari data BPS, nilai ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampai Juli 2018 mencapai Rp 1,22 triliun atau naik sebesar 60,5 persen dibanding periode yang tahun sebelumnya yakni hanya Rp 0,76 triliun. Estimasi ekspor mangga 2018 sebesar 835 ton, naik 6% dari 2017 yang hanya 790 ton. Sementara ekspor bawang merah di tahun 2018, ditargetkan 15.000 ton, yakni naik 128 persen dibandingkan 2017 yang hanya 6.588 ton.

“Ekspor mangga dari Januari sampai Juli 2018 sangat tinggi, nilainya mencapai Rp 1,85 miliar, sementara impornya hanya Rp 70,56 juta. Ini menunjukkan upaya pemerintah mendorong petani dan pelaku usaha membuahkan hasil positif, yakni ekspor terus naik” tutur Amran.

Akan hal ini, Amran optimis ke depan volume ekspor komoditas pertanian terus melonjak. Beberapa komoditas yang sudah tembus pasar ekspor yakni mangga, manggis, salak, nenas, benih, sayuran, bawang merah, tanaman hias, telur, ayam, kambing, jagung. Karena itu, Amran meminta pihaknya untuk menambah kawasan pengembangan pertanian dan pendampingan yang intensif dari aspek hulu sampai hilir, sehingga petani mampu menghasilkan produk pangan berkualitas ekspor.

“Saya minta, agar volume bantuan mangga dan komoditas lainnya ditambah. Negara kita ini subur, masih banyak lahan yang belum dioptimalkan. Saatnya kita bangunkan, jangan biarkan lahan tidur,” ujarnya.

Terkait ekspor benih sayuran, lanjut Amran, ini menunjukkan bahwa industri perbenihan dalam negeri sudah maju dan mampu bersaing dengan produk benih negara lain. Selain kangkung, beberapa benih hortikultura yang telah diekspor yaitu benih pare, cabai, paprika, timun, gambas, melon, waluh, sweet corn, pare welut, semangka, terong, tomat, jagung pulut, kacang panjang, bayam, okra dan buncis.

“Ekspor ini bagian dari rencana ekspor 2018 sebesar 900 ton benih sayuran sehingga naik 50 persen dibandingkan 2017. Ekspor di tahun 2019, ditargetkan naik lebih tinggi lagi,” tegasnya.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengapresiasi dukungan Kementan dalam mendorong ekspor komoditas pangan di Jawa Timur. Apalagi saat ini harga bawang merah sedang turun, Kementan bersama pelaku usaha mampu mengangkat harga sehingga petani tidak rugi.

“Hari ini kita berangkat ekspor benih kangkung 20 ton, tapi setahunnya 800 ton dan mangga yang diekspor ini mangga Arumanis khusus. Kemudian bawang kita juga ekspor. Terima kasih kepada Pak Menteri saat harga anjlok kita ekspor sehingga memberikan harga yang menguntungkan bagi petani. Masih banyak lagi komoditas pertanian yang bisa diekspor,” ujar pria yang akrab disapa Pak De Karwo.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menambahkan Kementan telah menetapkan prognosa produksi sayuran 2018 mencapai 12,9 juta ton atau naik 3,4% dibandingkan 2017, bawang merah 1,5 juta ton atau naik 1,5% dibandingkan 2017 dan produksi mangga 2,27 ton, naik 3,08% dari 2017. Ada pun persyaratan ekspor buah telah memenuhi standar SPS, bebas dari lalat buah, kutu putih, dilakukan registrasi kebun, sertifikasi packing house dan perkarantinaan. Proses produksi baik mangga maupun benih sayuran dikerjakan bermitra dengan petani.

“Kementan akan terus memperluas kawasan pengembangan mangga dan benih sayuran. Bantuan untuk petani akan dikawal hingga hasilnya bisa ekspor. Kemitraan petani dengan pelaku usaha pun menjadi bagian yang dijamin Kementan. Ini penting agar petani benar-benar sejahtera dan nilai ekspor semakin tinggi,” ujarnya.

Salah satu eksportir mangga, Berry Gaswara mengatakan buah mangga yang diekspor rata-rata 5 ton/minggu dari 100 ton per tahun dengan tujuan Malaysia dan Singapura.

“Perusahaan kami baru tahun 2018 ini pertama kali ekspor mangga. Ini berkat dukungan Kementerian Pertanian, sehingga pengurusan ekspor tidak ada hambatan, proses ekspor cepat,” ujarnya.

Eksportir benih sayuran, Yulius Dwi Putra menyebutkan setiap tahun perusahaannya mengekspor benih kangkung varietas KK ASA 04 sebanyak 800 ton per tahun ke China, Vietnam dan Malaysia. Perusahaan bekerja sama dengan petani penangkar benih binaan sejumlah 1.000 petani di wilayah Lamongan, yang masuk ke packing house di Jombang.

“Perusahaan kami mulai melakukan ekspor benih sejak tahun 2015 dan tidak melakukan penjualan secara lokal. Potensi lahan untuk produksi benih 800 sampai 1.000 hektar dengan produksi benih kurang lebih 1.000 ton per tahun. Selain benih kangkung, kami juga mengembangkan produksi benih bayam, okra, mentimun dan cabai,” sebutnya.

Sementara itu, eksportir bawang merah, Herry Phio mengatakan perusahaanya mengekspor 26 ton bawang merah asal varietas Super Philip dari Probolinggo dengan tujuan Philipina. Perusahaannya mulai melakukan ekspor sejak tahun 2016 dengan tujuan Thailand, Singapura, Malaysia, dan Philipina.

“Kontrak ekspor bawang merah sebanyak 6.000 ton per tahun. Selama tahun 2018, perusahaan kami sudah mengekspor 800 ton ke Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Untuk diketahui, disamping menggenjot ekspor hortikultura, juga telah mampu menstabilkan harga cabai dan bawang merah pada Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru selama dua tahun terakhir.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Lepas Ekspor Manggis ke China

Koranjurnal.co.id, Padang – Target Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan volume ekspor berbagai komoditas pangan guna mengerek pertumbuhan ekonomi nasional dan menguatkan nilai tukar rupiah semakin terbukti. Setelah mengekspor beras khusus, bawang merah, jagung, telur, daging ayam, benih sayuran, tanaman hias, berbagai komoditas perkebunan dan komoditas pangan lainnya, kini giliran manggis dari Ranah Minang diekspor ke China.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman hadir langsung melepas ekspor manggis di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (02/10/2018). Hadir Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abdi, Anggota DPD RI, Ema Yohana, Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi, Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, dan eksportir manggis.

Amran mengungkapkan prediksi ekspor manggis di tahun 2018 mencapai 60.000 ton atau naik 553 % dari 2017 yang hanya 9.167 ton. Ekspor ini merupakan 38% dari total produksi manggis nasional 2018 sebesar 166.725 ton. Dari Kabupaten Ranah Minang ini, Indonesia mengekspor manggis perdana kontrak dengan China sebanyak 10.000 ton.

“Menariknya, dari 10 eksportir, baru pertama kali ini eksportir dari sumatera Barat, sehingga perlu dicontoh daerah lain. Hari ini kita buktikan, berkat kemajuan teknologi yang kita hasilkan sendiri, kita tingkatkan lagi ekspor. Ekspor komoditas hortikultura ke berbagai negara,” demikian dikatakan Amran.

Menurutnya, potensi pertanian Indonesia sangat besar untuk menyediakan pangan secara berdaulat yakni tanpa impor. Sentra produksi manggis di Indonesia tersebar dari Sumatera sampai Nusa Tenggara Barat. Di tahun 2017, produksi manggis Sumatera Barat mencapai 34.422 ton atau 21% dari produksi nasional 161.751 ton. Sumatera Barat menjadi sentra manggis terbesar nomor 2 setelah Jawa Barat yang produksinya 42.122 ton atau 26% dari produksi nasional.

Adapun produksi manggis se-Sumatera di tahun 2017 mencapai 65.372 ton atau 40% dari produksi nasional. Untuk 2018, prognosa produksi manggis sebesar 166.725 ton, naik 3% dari 2017.

“Karena itu, kami himbau lakukan gerakan masif ekspor dan investasi agar pertumbuhan ekonomi nasional semakin membaik. Sektor pertanian salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi,” ujar Amran.

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian 2017 totalnya Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga neraca perdagangan pertanian 2017 surplus Rp 214 triliun. Ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampe Juli 2018 sebesar Rp 1,3 triliun, naik 60,5 persen dari Januari sampai Juli 2017 yang hanya Rp 0,76 triliun.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menambahkan proses ekspor manggis ini tidak instant, sehingga melalui proses mulai dari penyiapan kebunnya, registrasi dan penyiapan packaging house, serta pengurusan perizinan ekspor dan sebagainya. Ekspor manggis ini terwujud karena semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia-China sehingga memberikan dampak positif bagi perdagangan kedua negara. Yakni dibukanya kembali peluang ekspor manggis ke Negeri Panda tersebut setelah empat tahun sejak dikeluarkannya larangan impor komoditas manggis dari Indonesia.

“Dibukanya kembali ekspor manggis ke China ditandai dengan penandatanganan protokol manggis oleh badan karantina kedua negara pada 11 Desember 2017 yang disusul dengan ekspor perdana 1 ton manggis pada Januari 2018,” jelas Suwandi.

Tercatat, berdasarkan data BPS, nilai ekspor manggis ke China pada tahun 2012 mencapai 8.200 ton dengan pangsa pasar 18,84% dan menjadikan China sebagai pasar ekspor manggis terbesar Indonesia.

“Karenanya, untuk meningkatkan investasi dan ekspor, termasuk mendorong ekspor manggis dari Sumbar, Kementan memberi berbagai kemudahan investasi, pembinaan mutu produk petani, membantu proses registasi kebun, standar packaging house, pelayanan perkarantinaan dan lainnya untuk ekspor,” tambah Suwandi.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abid mengapreasisi tekad Kementan melalui Direktorat Hortikultura menjadikan buah manggis sebagai komoditas unggulan tropis. Karenanya, hal ini harus di follow up secara serius oleh pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan ditingkat daerah.

Menurutnya, tekat Kementan tercermin pada telah ditetapkannya road map pengembangan tanaman manggis yang disertai dengan kebijakan dengan menetapkan arah dan pola pengembangan tanaman manggis yang jelas dan didukung pembinaan sumberdaya manusia baik petani sebagai pelaku utama maupun aparat sebagai penunjang.

“Untuk Sumatera Barat telah ditetapkan 8 daerah Kabupaten/Kota sebagai daerah kawasan manggis yang telah diperkuat dari Surat Keputusan Gubernur Nomor 521.305.2013 tanggal 26 Maret 2013 tentang Penetapan Kawasan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Solok Selatan, Pesisir Selatan, Sijunjung, Padang Pariaman, Agam, dan Kota Padang,” sebut Nasrul.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendorong ekspor komoditas pangan khususnya manggis ke berbagai negara. Untuk suksesnya ekspor buah-buahan, beberapa kegiatan atau perlakuan yang perlu diperhatikan dengan baik, seperti pengeringan, penyortiran dan pengolahan hasil sehingga komoditas yang diekspor tidak rusak mutunya.

“Kebanyakan dari petani kita masih kurang mengetahui pentingnya kegiatan penanganan atau pengelolaan lepas panen sehingga hasil panen yang dapat dianggap baik. Untuk itu perlu peningkatan Sumberdaya Manusia baik petani maupun petugas dalam penanganan dan pengelolaan tanaman agar diperoleh hasil dan produksi yang baik hingga pasca panen,” tutur Nasrul.

Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi mengatakan ekspor manggis ini menunjukkan Kabupaten Lima Puluh Kota turut andil memberikan tambahan devisa. Namun demikian, ekspor manggis pun merupakan bagian dari keberhasilan Kementan yang sangat serius mendorong dan membina petani dan pelaku usaha, sehingga manggis bisa tembus pasar China.

“Saya turut membaca berita keberhasilan Menteri Petanian Andi Amran Sulaiman. Berhasil tingkatkan produksi dan banyak komoditas diekspor. Hari ini terbukti, berhasil mendorong Kabupaten Lima Puluh Kota bisa ekspor manggis,” ucapnya.

“Karena itu, kami minta binaan yang berkelanjutan dari Kementan agar komoditas pertanian, tidak hanya manggis tetapi juga ada kopi agar dapat ekspor,” pinta Irfendi.

Eksportir manggis yang diwakili Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT. Bumi Alam Sumatera, Anggri Purnama Agung, Muhamad Bayu Vesky mengungkapkan Kementan sangat serius mendorong ekspor pangan khusus manggis. Hal ini terbukti dari pembinaan petani hingga pengurusan izin ekspor yang begitu cepat yakni hanya membutuhkan waktu 38 hari dengan 2 kali pengiriman ke China.

“Hebatnya bapak menteri, saya yakin karena Menteri Pertanianya anti korupsi, kami mengurus izin tidak ada biaya satu rupiah pun. Petugas Karantina dan tim Ditjen Hortikultura yang mengawal tidak ada biaya yang kami keluarkan sedikit pun, semuanya gratis,” ungkap Bayu.

“Kami akan beli buah dari petani dengan standar yang tinggi. Kami siap menjadikan kebun manggis terbesar di dunia. Kami yakin kalau produksi manggis Sumatera Barat 38 ribu ton per tahun, separuhnya layak,” imbuhnya.

Perlu diketahui, selain Sumantera Barat, daerah sentra produksi manggis yakni Bali dan Jawa Barat. Kedua daerah telah rutin mengekspor manggis ke China dan berbagai negara.(ton/Hum)

Categories
Daerah Ekonomi

Mentan Monitor Program ‘Bekerja’ di Garut

Koranjurnal.co.id, Garut – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memonitor Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) yakni program pengentasan kemiskinan berbasis pertanian. Monitoring dilakukan di Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Kamis (27/09/2018).

“Ini adalah program Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kemensos, BUMN, Kemendes, BKKBN. Di Kecamatan Pakenjeng ini termasuk daerah terpencil, perintah Bapak presiden agar membangun negara dari pinggiran agar masyarakat di daerah-daerah pelosok sejahtera,” kata Mentan Amran dalam sambutannya saat memonitor Program ‘Bekerja’. Hadir pada kegiatan, Sekretaris Daerah Garut, Rohayati, Kapolres Garut dan masyarakat petani miskin.

Amran menjelaskan Program ‘Bekerja’  sangat bagus karena dilakukan dengan tahapan yakni jangka pendek sampai jangka panjang dan dikembangkan dengan sistem klaster. Untuk jangka pendek, melalui penanaman tanaman komoditas harian yakni sayur-sayuran. Jangka menengah, dengan pemberian 50 ekor ayam per rumah tangga pra sejahtera. Adapun ayam yang diberikan jenis petelur yang berumur dua bulan.

“Yang dikatakan miskin, pendapatannya kurang dari Rp 1,4 juta per bulan. Tahun ini Kementan sediakan bantuan ayam 6 juta ekor berikut kandang dan pakan serta pendampingan. Tahun depan 2 kali lipat. Bantuan juga berupa tanaman perkebunan, ada kopi dan hortikultura yaitu sayur-sayuran. Jadi bantuan jangka pendek, menengah dan panjang,” jelasnya.

Amran optimis, melalui bantuan pada Program ‘Bekerja’ mampu menyejahterakan masyarakat. Misalnya, budidaya ayam mampu bertelur saat usia enam bulan sebanyak 50 butir per hari dengan masa produktif 3 tahun.

“Kalau 50 telur per hari, pendapatan Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan. Masyarakat pra sejahtera pendapatan Rp1,4 juta. Ditambah Rp2,5 juta, berarti Rp3,5 juta per bulan,” ujarnya.

“Begitu pun dengan kopi. Setelah tiga tahun akan berbuah, bisa memberikan tambahan pendapatan. Artinya masyarakat bisa lepas dari kemiskinan,” pintanya.

Karena itu, Amran menuturkan pengelolaan Program Bekerja dilakukan dengan sistem klaster. Tujuanya agar terbangun industri olahan yang langsung mengolah dan memasarkan produk pangan petani, sehingga tidak lagi sebagai penghasil bahan pangan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk akhir yang memberikan keuntungan yang lebih besar.

“Kita bangun program kemiskinan ini dengan sistem klaster. Bila perlu ada 1 jenis tanaman per klaster, karena kita ingin berskala industri. Kita akan bangun industri, jadi kopi diolah langsung di desa dengan kemasan industri. Manfaatnya tidak hanya menjamin pendapatan petani, tapi juga membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Garut, Rohayati menyampaikan apresiasi kepada Kementan yang telah menyalurkan Program Bekerja. Pasalnya, program ini sesuai dengan kebutuhan daerah untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

“Program bekerja menyasar 14 kecamatan dari 42 total kecamatan di Garut. Pemda garut mengucapkan terima kasih kepada Kementan. di Garut terdapat 11.381 rumah tangga miskin di sektor pertanian. Kami yakin program ini bisa mengentaskan kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.

“Kami minta semua pihak untuk mengawasi Program Bekerja agar tidak disalahgunakan masyarakat. Bantuan ayam dan tanaman lainya agar benar-benar dipelihara sehingga masyarakat mendapatkan pendapatan yang berkelanjutan,” tambahnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan Terima Mobil Pengering Jagung Buatan PT CPIN

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Kementerian Pertanian menerima satu unit mobil pengering jagung (mobile corn dryer) dari
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Kendaraan yang dilengkapi dengan mesin pengering jagung tersebut merupakan buatan karya anak bangsa, untuk disumbangkan kepada Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Penyerahan langsung dilakukan oleh Komisaris Utama PT CPIN T. Hadi Gunawan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, bertempat di halaman Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA), Kanpus Kementan, Jakarta Selatan, Jum’at (03/08/2018).

Dalam kesempatan itu, Mentan Andi Amran Sulaiman mengucapkan terima kasih kepada PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk atas mobil pengering jagung tersebut.

“Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh staf dan mitra teman-teman semua saya ucapkan terima kasih,” ucap Mentan.

Mentan menyambut baik mobil pengering jagung hasil karya anak bangsa, yang dapat meningkatkan produktivitas petani.

“Ini adalah terobosan baru lagi. Putra-putri terbaik menemukan alat pengering dryer dan pertama di Indonesia. Ini atas perintah bapak presiden setelah mendengar keluhan di lapangan, bahwa harga terkadang jatuh karena kadar air. Sekarang ini kita bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh petani Indonesia dulunya kita impor 3,6 juta sekarang kita sudah ekspor. Sekarang kita ekspor, kita sudah membalikkan keadaan impor menjadi ekspor,” ujar Mentan.

Komisaris Utama PT CPIN T. Hadi Gunawan mengatakan, penyerahan mobil pengering jagung ini sebagai bentuk nyata dari komitmen Charoen Pokphand untuk mendukung petani jagung di dalam negeri.

Charoen Pokphand Indonesia berharap petani jagung tidak lagi kesusahan dalam upaya mengeringkan jagung setelah panen.

“Dengan mobil ini kita dapat menjemput bola, mendekatkan fasilitas ke sentra produksi jagung terutama yang jauh dari fasilitas. Mempermudah mengurangi biaya produksi, transportasi pasca panen,” jelasnya.

Selain membantu para petani, mobil ini juga diharapkan dapat membantu program Kementan dalam menjaga swasembada jagung di dalam negeri.

“Unit mobil pengering jagung, semoga bermanfaat untuk petani dalam mempertahankan swasembada jagung,” pungkasnya.

Manfaat unit mesin pengering jagung

Mobil Pengering Jagung ini mampu mengeringkan jagung sebanyak 1 ton hanya dalam waktu 1 jam. Keuntungan bagi petani adalah pengeringan jagung dengan menggunakan alat ini dapat dilakukan pada musim penghujan.(red)

Categories
Ekonomi Nasional

Mentan, Andi Amran Sulaiman: Ekspor Pertanian 2017 Naik Hingga 25 Persen, Ini Optimis Kita Membangun Negeri

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Optimis, bukan hanya sebatas kata, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman sudah membuktikan, Optimisme yang dibarengi dengan “Kerja Keras dan Kerja Cerdas”, diatas ke Ikhlasan, pasti membuahkan hasil. Kutipan kata tersebut disampaikan Mentan saat membuka acara “Musrenbangtan” tahun 2018 di Auditorium Kantor Pusat Kementerian Pertanian Ragunan, Jakarta, Senin (21/05/2018).

Musrenbangtan yang diikuti ribuan peserta berasal dari seluruh dinas pertanian tingkat Propinsi, Kabupaten dan Kota, juga turut dihadiri Gubernur Gorontalo, Habibie.

“Kami, diawal tugas, sebagai Menteri, mendapat tanggung jawab, dari bapak Presiden (Joko Widodo), menyelesaikan Rehabilitasi Irigasi seluas 3 Juta Hektar dalam 3 tahun, namun alhamdulillah, dengan kerja keras kita semua, dalam tempo 2 tahun bisa selesai,” ujar Mentan Andi Amran Sulaiman.

Kita bisa melihat, lanjut Mentan, saat ini minat generasi muda di perdesaan mulai meningkat pada sektor pertanian. Teknologi Mekanisasi, membuat gairah tersendiri, jaminan harga produksi petani membuat sektor pertanian saat ini diminati, kenapa tidak!, bisa dibuktikan. Selama ini kita impor bawang merah, sekarang sudah ekspor 20.000 ton. Jagung selama ini kita impor hingga 10 Triliun. Saat ini Pertanian, kita sudah ekspor hingga 300.000 ton, dari 500.000 ton target nasional, sekali lagi harus optimis, barusan saya dapat informasi terbaru, dari Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, yang turut hadir bersama kita di Musrenbang Pertanian 2018, bahwa Volume Ekspor Jagung Gorontalo, sudah mencapai, 107 Ribu ton, melebihi dari target 57.000 ton, makanya kita optimis, tadinya target kita hanya 300.000 ton, namun melihat peningkatan produksi di seluruh sentra jagung, mungkin bisa hingga 1 juta ton,” ujar Mentan.

Selain itu, Mentan juga mengungkapkan bahwa, saat ini terobosan di sektor pertanian, menunjukkan arah ysng positif, bawang putih, impornya mulai turun, kita kembangkan bawang putih, berdasarkan keunggulan komparatif lokasi dan klimatologi di Banyuwangi.

“Contohnya, kita sudah panen bawang putih yang aroma dan rasanya 5 kali lebih baik dari negeri asal bawang putih yang kita kembangkan, bahkan mereka berminat impor dari kita, luar biasa kan, makanya media harus tulis, jangan kalau harga naik beritanya besar dan durasinya berulang-berulang, Banyuwangi 2 tahun lalu, angka kemiskinan mencapai 39 persen, sekarang?  turun hingga 8,6 persen, sektor pertanian mengambil andil yang besar, dari perubahan kondisi itu, bersama sektor lain tentunya. Optimis harus optimis, pemerintahan Jokowi-JK sudah sangat baik,” tandasnya.

Hal lain juga disampaikan Mentan tentang upaya pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat di pedesaan.

“Baru-baru ini, atas perintah bapak Presiden, kita luncurkan Program Bekerja, “Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera” di 1000 Desa,  100 Kabupaten, kita membagikan, Ternak  Ayam Kampung, dengan Kandang dan Pakannya selama 6 bulan hingga bertelur, masyarakat penerima program ini, adalah yang prah sejahtera dengan tingkat pendapatan 1 hingga 1,3  juta/bulannya, dengan program “Bekerja” dalam 6 bulan, bisa meningkatkan pendapatan hingga 2,5 juta/ bulannya, bukan hanya ternak ayam, kita juga bantu ternak kambing, domba dan KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari), untuk kebutuhan dapur masyarakat.

Mentanmenambahkan, bahwa saat ini, Kementerian Pertanian, memasyarakatkan, pembangunan kawasan, dengan model cluster, memanfaatkan pekarangan yang di integrasikan, mulai dari luasan 1000 hektar, bersama cluster yang kita bangun, dalam 1 Kecamatan, atau bisa gabungan 2 dan 3 Kecamatan, dibangun juga Industri Pengolahannya.

“Misalnya Mangga, ketika tanaman mangga ini dibagikan, turut juga industri pengolahanya dibangun, dan ini pasti berhasil dan merubah pola masyarakat, yang tadinya hanya menghasilkan buah, menjadi pengusaha industri, ini dapat diyakini akan tidak ada lagi masyarakat, miskin atau kurang mampu,” pungkas Mentan.(ton/hum)