Categories
Ekonomi

Mentan Amran Harapkan Program Ditjen PKH Bermanfaat Lebih untuk Masyarakat

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengharapkan Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Amran pada saat memberikan arahan bagi seluruh pejabat struktural Ditjen PKH di Gedung C Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (05/08/2019).

“Saya ingin program Ditjen PKH dan pegawai memberikan nilai tambah untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya,” kata Amran. Ia juga meminta agar seluruh program Ditjen PKH dan juga pegawainya terus semangat untuk melayani masyarakat dengan memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Program Bekerja dan Siwab harus terus dilakukan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Amran.

Kebutuhan masyarakat terhadap pangan asal hewan tidak hanya berasal dari Daging ayam atau sapi namun banyak pilihan seperti telur, kambing, domba, dan produk peternakan lainnya. Amran menyampaikan dalam pemenuhan hak atas pangan bagi masyarakat berkualitas gizi baik dengan cara produksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan sehingga diperlukan tata kelola peternakan yang sinergi mulai dari aspek hulu, off farm, hilir sampai dengan pemanfaatan produk di tingkat masyarakat.

Amran menyampaikan langkah terpenting dari pemerintah saat ini adalah bagaimana membuat daging tersebut mudah terjangkau, diakses oleh masyarakat dan terjangkau harganya.

“Untuk ini sejak tahun 2018 kita melakukan program BEKERJA (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera),” ungkap Amran.

Melaui program ini maka pemerintah mendorong masyarakat miskin untuk melakukan usaha budidaya ayam kampung. Terbukti dari pemberian stimulan 50 ekor bibit ayam kampung untuk rumah tangga miskin maka pendapatan masyarakat meningkat secara signifikan.

Selain pemberian ayam ini dikaitkan dengan program pemgurangan kemiskinan, pemberian ayam kampung ini juga terkait tradisi budidaya ayam bagi penduduk pedesaan. Dengan intervensi semacam ini maka angka kemiskinan akan turun lebih rendah lagi dari angka kemiskinan yang sekarang.

Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memiliki kewajiban dalam penyediaan pangan asal hewan termasuk daging yang memiliki gizi (protein) tinggi dengan harga yang terjangkau, mudah diakses, dan dijamin kemanan, kesehatan, keutuhan, dan kehalalannya (ASUH).

Untuk mewujudkan daging yang berprotein tinggi untuk masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya yaitu: (i) Peningkatan produksi ternak lokal (ii) Pelaksanaan kegiatan BEKERJA; (iii) Pengembangan komoditas ternak: sapi, kerbau, kambing/domba, babi, unggas pada sentra basis melalui pendekatan korporasi; (iv) berbagai gerakan untuk meningkatkan konsumsi protein hewani (gerakan minum susu segar, gerakan makan makan sate kelinci, dan kegiatan lainnya).

Pada kesempatan itu, Amran meminta secara khusus agar Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk memperkuat komitmen 5 tahun kedepan dalam perencanaan Kemandirian Pakan sehingga dapat menyediakan pakan secara mandiri, dalam mendukung program BEKERJA. “Sehingga jangan sampai masyarakat menjadi ketergantungan, untuk itu kita mendorong masyarakat harus bisa produksi pakan sendiri dengan memanfaatkan sumberdaya bahan pakan lokal, mandiri bibit, dan diedukasi serta didampingi hingga hilir untuk pengolahan dan pemasaran sehingga produksinya bisa terjual di pasar-pasar modern dan retail-retail besar,” jelas Amran. S

Selain itu, Amran juga mengingatkan untuk Kegiatan Inseminasi Buatan (IB) sebagai ujung tombak UPSUS SIWAB pada Program Ditjen PKH terus ditingkatkan dalam mendongkrak jumlah populasi sapi di Indonesia.

“Saya minta untuk IB tidak boleh turun selama 5 tahun kedepan” pinta Amran.

Dalam meneguhkan karakter pegawai Kementan, Amran mengarahkan pegawai Ditjen PKH dapat berkerja secara baik yang disinergikan dengan e-kinerja yang telah digunakan oleh seluruh pegawai Kementerian Pertanian.

“Melalui e-kinerja dapat terlihat keterukuran kerja pegawai yang diharapkan berdampak positif dalam membangun kinerja Kementan,” pungkas Amran.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Mentan Monitor Program ‘Bekerja’ di Garut

Koranjurnal.co.id, Garut – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memonitor Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) yakni program pengentasan kemiskinan berbasis pertanian. Monitoring dilakukan di Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Kamis (27/09/2018).

“Ini adalah program Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kemensos, BUMN, Kemendes, BKKBN. Di Kecamatan Pakenjeng ini termasuk daerah terpencil, perintah Bapak presiden agar membangun negara dari pinggiran agar masyarakat di daerah-daerah pelosok sejahtera,” kata Mentan Amran dalam sambutannya saat memonitor Program ‘Bekerja’. Hadir pada kegiatan, Sekretaris Daerah Garut, Rohayati, Kapolres Garut dan masyarakat petani miskin.

Amran menjelaskan Program ‘Bekerja’  sangat bagus karena dilakukan dengan tahapan yakni jangka pendek sampai jangka panjang dan dikembangkan dengan sistem klaster. Untuk jangka pendek, melalui penanaman tanaman komoditas harian yakni sayur-sayuran. Jangka menengah, dengan pemberian 50 ekor ayam per rumah tangga pra sejahtera. Adapun ayam yang diberikan jenis petelur yang berumur dua bulan.

“Yang dikatakan miskin, pendapatannya kurang dari Rp 1,4 juta per bulan. Tahun ini Kementan sediakan bantuan ayam 6 juta ekor berikut kandang dan pakan serta pendampingan. Tahun depan 2 kali lipat. Bantuan juga berupa tanaman perkebunan, ada kopi dan hortikultura yaitu sayur-sayuran. Jadi bantuan jangka pendek, menengah dan panjang,” jelasnya.

Amran optimis, melalui bantuan pada Program ‘Bekerja’ mampu menyejahterakan masyarakat. Misalnya, budidaya ayam mampu bertelur saat usia enam bulan sebanyak 50 butir per hari dengan masa produktif 3 tahun.

“Kalau 50 telur per hari, pendapatan Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan. Masyarakat pra sejahtera pendapatan Rp1,4 juta. Ditambah Rp2,5 juta, berarti Rp3,5 juta per bulan,” ujarnya.

“Begitu pun dengan kopi. Setelah tiga tahun akan berbuah, bisa memberikan tambahan pendapatan. Artinya masyarakat bisa lepas dari kemiskinan,” pintanya.

Karena itu, Amran menuturkan pengelolaan Program Bekerja dilakukan dengan sistem klaster. Tujuanya agar terbangun industri olahan yang langsung mengolah dan memasarkan produk pangan petani, sehingga tidak lagi sebagai penghasil bahan pangan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk akhir yang memberikan keuntungan yang lebih besar.

“Kita bangun program kemiskinan ini dengan sistem klaster. Bila perlu ada 1 jenis tanaman per klaster, karena kita ingin berskala industri. Kita akan bangun industri, jadi kopi diolah langsung di desa dengan kemasan industri. Manfaatnya tidak hanya menjamin pendapatan petani, tapi juga membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Garut, Rohayati menyampaikan apresiasi kepada Kementan yang telah menyalurkan Program Bekerja. Pasalnya, program ini sesuai dengan kebutuhan daerah untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

“Program bekerja menyasar 14 kecamatan dari 42 total kecamatan di Garut. Pemda garut mengucapkan terima kasih kepada Kementan. di Garut terdapat 11.381 rumah tangga miskin di sektor pertanian. Kami yakin program ini bisa mengentaskan kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.

“Kami minta semua pihak untuk mengawasi Program Bekerja agar tidak disalahgunakan masyarakat. Bantuan ayam dan tanaman lainya agar benar-benar dipelihara sehingga masyarakat mendapatkan pendapatan yang berkelanjutan,” tambahnya.(ton/Hum)