Categories
Ekonomi Nasional

Lantik Pejabat Eselon 1 dan 2, Mentan Ingatkan Jangan Ada Lagi KKN

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengingatkan kepada pejabat  eselon 1 dan 2 yang dilantik mengenai masalah yang krusial yakni KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Apalagi persoalan tersebut sejak awal menjadi arahan dari Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

“Sejak awal pemerintahan, Bapak Presiden mengarahkan ASN wajib bebas dari KKN. Karena itu kami harus memulai hal itu dari Kementerian Pertanian,” kata Amran saat pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin (29/07/2019).

Amran menegaskan, bahwa pihaknya tidak akan bermain-main dan tegas dalam pemberantasan korupsi. Di Kementerian Pertanian setidaknya sekitar 1.500 pegawai yang telah diberikan demosi dan mutasi selama 5 tahun terakhir.

Dalam upaya memberi contoh untuk bersih dari KKN, Amran mengatakan, dirinya menutup perusahaan racun tikus miliknya untuk terhindar dari praktek KKN, setelah mendapatkan amanah menjadi Menteri Pertanian, padahal potensi omset perusahaannya dari kegiatan usaha pertanian di seluruh Indonesia mencapai 250 miliar per tahun. “Itu untuk menghindari conflict of interest,” tegas Amran.

“Kita berusaha mengindari fitnah, berbuat baik saja dicari-cari kesalahannya,” ujarnya.

Contoh lainnya ungkap Amran, dirinya tidak pernah menerima titipan untuk menjadikan seseorang menjadi pejabat di Kementan, bahkan tak segan langsung mencoretnya bila dijumpai menjadi pejabat titipan.

Mentan mengatakan dirinya akan menjaga integritas sebagai pejabat negara, dan meminta seluruh pejabat Kementan agar juga mengikuti jejaknya. Terbukti selama 2 tahun berturut-turut KPK mengakui Kementan mampu menjadi lembaga anti gratifikasi terbaik pada tahun 2017 dan 2018.

“Kami ingin menjadi teladan bagi bawahan. Jadi saat ini kami minta jangan ada lagi titipan. Karena titipan itu bisa menghinakan pada yang menitip dan dititip,” tegasnya.

Amran beralasan, jika ada pejabat titipan, maka loyalitas orang tersebut hanya fokus pada pejabat yang mendapat titipan, sehingga pekerjaan menjadi tidak fokus. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Jokowi untuk membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Amran kembali memberikan contoh, Presiden Joko Widodo sewaktu menjadi Walikota Solo juga mengingatkan kepada anaknya untuk tidak memanfaatkan posisinya sebagai walikota untuk usaha anaknya, dan jangan minta proyek di lingkungan Pemkot Solo. “Ini menjadi teladan kami untuk bersikap yang sama,” ujarnya.

Sebagai catatan, pada hari ini Menteri Pertanian melantik beberapa pejabat eselon 1 dan 2, yaitu:

Pejabat eselon 1 (pejabat Madya)
1.  Dr. Ir. Momon Rusmon, Ms (Sekjen Kementerian Pertanian)
2. Dr. Ir. Prihasto Setyanto, M.Sc. (Dirjen Hortikultura).
3. Dr. Ir. Suwandi (Dirjen Tanaman Pangan)
4. Prof (R), Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr (Kepala BPPSDMP)
5. Dr. Ir. Sumardjo Gatot Irianto (Staf Ahli Menteri bidang Investasi Pertanian)

Pejabat eselon 2 (pejabat Pratama)
1. Ir. Indah Megahwati, MP (Direktur Pembiayaan Pertanian, Ditjen PSP)
2. Dr. Ir. Leli Nuryati M.Sc (Kapus Penyuluhan BPPSDMP)
3. Dr. Ir. Siti Munifah, M.Si (Sekretaris BPPSDMP)
4. Dr. Ir. Retno Sri Hartati M (Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Setjen Kementerian Pertanian).
5. Ardi Praptono, SP. M.Agr (Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan).
6. Dr. drh. Kresno suharto (Kepala BB Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan, Surabaya, Ditjen Perkebunan).
7.  Ir. Sumardi Noor, M.Si (Kepala BB Pelatihan Pertanian, Ketindan, BPPSDMP).(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran: Setelah Tanaman Pangan, Kementan Fokus Benahi Sektor Perkebunan

Koran Jurnal, Palangkaraya – Setelah fokus pada peningkatan produktivitas  tanaman pangan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kini mulai menggenjot sektor perkebunan yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Langkah terobosan bertajuk BUN500 atau distribusi benih unggul perkebunan 500 juta batang 2019-2024 pun telah diluncurkan.

“Setelah berhasil meningkatkan kinerja komoditas pangan: seperti beras yang kini melimpah, juga jagung, telur, dan ayam olahan yang bahkan sudah eskpor, lalu cabai dan bawang merah yang relatif stabil, kini kita fokus ke perkebunan. Sektor ini menyumbang 90 persen ekspor pertanian Indonesia,” papar Amran pasca peluncuran BUN500 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Kamis (18/07/2019) kemarin.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pada 2014-2018, PDB perkebunan mencapai 1.801,4 triliun, sementara nilai ekspor perkebunan mencapai Rp1.874,5 triliun, dan akumulasi tambahan nilai ekspor Rp 333,1 triliun. Sektor ini juga menyerap 23,9 juta orang tenaga kerja, dengan komoditas dengan kontribusi besar antara lain sawit, karet, kakao dan kopi.

Amran mengaku telah merancang program strategis tersebut sejak 3 tahun lalu dengan meyiapkan benih unggul untuk dibagikan gratis kepada masyarakat. Menurutnya, sebagai tanaman jangka panjang penyediaan benih bermutu dan bersertifikat adalah keharusan untuk mendongkrak produksi hingga 3 kali lipat.

Amran mencontohkan komoditas kakao Indonesia saat ini menyumbang pasokan dunia nomer 3 setelah Pantai Gading dan Ghana. Ia menargetkan di 2024, kakao Indonesia menjadi yang pertama di dunia.

Menteri asal Bone ini menolak jika program yang diluncurkannya di Kalteng sebagai pilot project, karena skala yang dijadikan target BUN500 adalah nasional dengan target 100 juta batang benih unggul per tahun.

“Kami minta setiap kabupaten menentukan hanya satu komoditas perkebunan sesuai keunggulan komparatif. Sehingga, bisa mencukupi skala ekonomi untuk kebutuhan industri pengolahannya di kabupaten tersebut,” tegas Amran.

Untuk menjamin keberhasilan program, Amran  akan memprioritaskan keseriusan dan komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan lahan, dan memberdayakan petani. Ia juga memperhitungkan juga efektifitas distribusi dengan mendekatkan kebun pembenihan (nursery) dengan wilayah tanam.

“Kesalahan kita selama ini adalah melakukan distribusi secara benih terpusat sehingga ongkosnya mahal. Sekarang kita bangun nursery di berbagai wilayah agar biaya angkutnya bisa dihemat,” ungkap Amran.

Khusus terkait Kalimantan, Amran optimis program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena lahan yang masih sangat luas, selain juga menjaga lingkungan hidup. “Dengan adanya lahan perkebunan, penghasilan masyarakat bisa ditingkatkan, dan bisa menekan kebakaran lahan karena masyarakat akan lebih perduli dengan kebun yang mereka tanami,” tutup Amran.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kebijakan Dorong Ekspor Mentan Amran Diyakini Memperluas Akses Pemasaran Bagi Petani Hortikultura

Koran Jurnal, Yogyakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai terobosan untuk memacu produksi, mutu hasil panen dan ekspor produk hortikultura terutama di era digital saat ini. Salah satu yang kini gencar dilakukan adalah mengkonsolidasikan kelembagaan usaha petani di kawasan-kawasan produksi hortikultura yang terhubung langsung dengan jejaring ekspedisi kargo, gudang serta sistem pemasaran berbasis daring (online)

Kebijakan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan ekspor dan hilirisasi produk ini, diyakini dapat memacu pertumbuhan produksi, perbaikan mutu hasil panen dan memperluas akses pemasaran bagi para petani hortikultura.

“Untuk meningkatkan skala ekonomi usahatani, kita himpun dan korporasikan kelompok tani kecil-kecil di kawasan hortikultura membentuk badan usaha sejenis koperasi. Dengan begitu bisa diseragamkan dan diatur input produksi, cara berbudidaya hingga pengelolaan pasca panen dan pemasarannya,’’ ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, saat membuka Pertemuan Nasional Perencanaan Hortikultura di Yogyakarta, Rabu (10/07/2019).

Suwandi menjelaskan mengkorporasikan kelompoktani kecil ini pada prinsipnya agar bagaimana biaya produksi petani bisa efisien dengan kualitas dan produktivitas yang optimal sekaligus terhubung dengan sistem logistik dan pemasarannya. Terkait kawasan produksi hortikultura khususnya aneka cabai dan bawang merah akan diprioritaskan untuk pengembangan di luar Pulau Jawa, untuk wilayah Jawa fokus ke hilirisasinya.

“Kami terus mendorong dan menumbuhkan Pasar Lelang di setiap kawasan produksi. Sudah berjalan pasar lelang di 13 kabupaten sentra cabai. Pasar Lelang ini gunanya untuk memotong rantai pasok, menciptakan satu harga di satu kawasan serta petani bisa dapet uang langsung karena sifatnya cash and carry,” jelasnya.

Suwandi menegaskan saat ini untuk komoditas cabai sudah berkembang, dan akan disusul komoditas lain yang rentan fluktuatif harganya seperti bawang merah. Kementan juga gencar menghubungkan para petani hortikultura dengan pelaku usaha untuk pemasaran hasil produksi baik secara langsung maupun lewat daring.

“Kita sudah punya aplikasi pemasaran daring yang mengintegrasikan petani hortikultura by name by address dengan pelaku usaha, eksportir dan 30 puluhan startup produk pertanian. Nama aplikasinya Sartika atau Sistem Informasi Agribisnis Hortikultura,” tegasnya.

“Aplikasi ini sangat memudahkan pelaku usaha mendapatkan informasi ketersediaan produk. Petani juga terbantu memasarkan produksinya,” tambahnya.

Lebih lanjut Suwandi menekankan terhubungnya kawasan produksi hortikultura dengan sistem ekspedisi dan logistik ini diyakini akan memacu pertumbuhan ekspor dan produksi nasional. Hasil pertanian harus didukung dengan fasilitas cargo yang terjangkau harganya supaya lebih kompetitif. Pasar induk atau wholeseller didesain lebih modern, bersih dan ekonomis supaya kualitas produk terjaga, aktivitas transaksi lebih lancar.

“Kita optimalkan pemanfaatan gudang penyimpanan (warehouse, red) berkapasitas besar yang dilengkapi sistem rantai-pendingin seperti yang sudah dibangun di Surabaya, Makasar, Medan dan kota-kota pelabuhan lainnya serta terkoneksi wholeseller yang menyajikan produk Indonesia di Singapura, Malaysia, Hongkong, dan pusat pasar luar negeri lainnya,” terangnya.

“Konektivitas sistem agribisnis dari hulu hingga hilir di dalam kawasan dengan pasar ini menjamin pertanian Indonesia lebih maju dan unggul dalam pentas pertanian dunia, sebagaimana arahan Mentan Andi Amran Sulaiman untuk mendorong ekspor dan mewujudkan Visi Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045,” pinta Suwandi.

Categories
Ekonomi

Mentan Amran: Stok Beras Nasional Aman Hingga Tahun Depan 

Koran Jurnal, Sidoardjo – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau pasokan beras di kompleks pergudangan Bulog, Banjarkemantren, Buduran, Sidoarjo, Kamis (27/06/2019). Saat peninjauan, Mentan Amran menyebut pasokan beras Nasional di Bulog masih cukup besar, bahkan stok beras disini cukup sampai dengan tahun depan.

“Kami berterima kasih untuk petani-petani Indonesia, sekarang gudangnya sudah penuh. Bulog juga terima kasih sudah berkerja keras, menyerap hasil petani. Dan hasilnya ini kita syukuri, ini semua atas arahan Bapak Presiden Jokowi. Kita membangun infrastruktur selama empat tahun hasilnya kita nikmati hari ini,” lugas Mentan Amran.

“Saat ini stok yang ada di gudang Banjar, Surabaya mencapai 630 ribu ton untuk kebutuhan masyarakat Jawa Timur sampai tahun depan. Kami pastikan stok ini lebih dari cukup,” tukasnya.

Menurut Amran, semua beras merupakan jenis lokal, dimana seluruhnya adalah hasil produksi petani lokal. Dia pun memastikan bahwa kualitas yang ada masuk dalam posisi tinggi karena benih yang digunakan adalah benih unggulan.

“Ini beras unggulan hasil produksi petani yang sangat bagus karena benih yang ditanam merupakan benih unggulan,” katanya.

Amran mengatakan, bahwa pembangunan infrastruktur selama empat tahun terakhir untuk pertanian bertujuan meningkatkan indeks pertanaman sehingga petani bisa panen lebih dari satu kali bahkan samai tiga kali panen dalam setahun.

Hanya dengan meningkatkan infrastruktur pertanian, mulai dari perbaikan jaringan irigasi, penyediaan alat mesin pertanian (alsintan), benih unggul dan pupuk ini semua merupakan proses untuk peningkatan produktivitas.

Kepala Perum Bulog Divre Jawa Timur, Muhammad Hasyim memastikan harga beras kedepan tetap dalam kondisi normal, meski beberapa bulan lagi masyarakat Indonesia akan menghadapi hari raya idul adha.

“Saya pikir masyarakat tidak perlu khawatir karena Bulog sudah menyiapakan stok yang banyak. Kedepan harga juga akan stabil karena dibantu dengan operasi pasar,” katanya.

Sekedar diketahui, beras yang dijual di Gudang Banjar Kemantren dibandrol Rp 8.100 perkilogram. Namun, harga tersebut naik menjadi 8.500 jika dijual di pasar kecil dan tradisional. Walau begitu, harga tersebut dalam kondisi normal karena sesuai acuan HET.(hum/red)

Categories
Nasional

Kementan Bertekad Wujudkan Sektor Pertanian Berdaya Saing

Koran Jurnal, Bogor – Kementerian Pertanian (Kementan) bertekad mewujudkan komoditas pertanian yang memiliki daya saing sehingga Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Karena itu, Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrembangtan) Nasional 2019 dihelat di Bogor, Selasa (18/6), mengangkat tema “Mewujudkan Sektor Pertanian yang Berdaya Saing Melalui Peningkatan SDM Pertanian Berkualitas dan Pembangunan Infrastruktur Pertanian”.

Hadir Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, jajaran Eselon I Kementan dan para Kepala Dinas lingkup pertanian provinsi seluruh Indonesia.

Kepala Biro Perencanaa, Sekretariat Jenderal, Kementan, Abdul Basit, selalu Ketua Panitia Musrembangtan Nasional 2019 mengatakan Musrenbangtan ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penyusunan program, kegiatan dan anggaran Kementerian Pertanian Tahun 2020. Tujuannya membahas perencanaan 2020 dengan fokus pada target-target prioritas nasional dan prioritas bidang yang harus dipersiapkan dengan matang.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada bapak-ibu dari kabupaten dan provinsi yang telah memanfaatkan dengan optimal aplikasi online eProposal dalam mengusulkan kegiatan sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan,” ujar Basit.

Mentan Amran mengapresiasi kerja keras seluruh daerah sehingga capaian sektor pertanian selama pemerintahan Jokowi-JK menorehkan banyak prestasi. Di antaranya, pertama, Kementan berhasil mempertahankan predikat WTP atas laporan keuangan yang diberikan BPK selama 3 tahun berturut-turut.

“WTP kita menarik, selama sejarah pertanian, tiga tahun berturut-turut. Itulah adalah rekor keberhasilan di sektor pertanian. Berkat doa dan kerja keras kita semua. Kita tahu dulu penuh sektor pertanian dengan masalah, disclamer dan Wajar Dengan Pengecualian,” paparnya.

Kedua, sambung Amran, sektor pertanian 2014-2018 berdasarkan data BPS meningkat drastis. PDB tersebut tercatat naik Rp 400 triliun sampai Rp 500 triliun. Total akumulasi mencapai Rp 1.370 triliun. Salah satu faktor yang mendongkrak peningkatan PDB pertanian adalah peningkatan ekspor.

“Pada kurun waktu yang sama, peningkatan ekspor diperkirakan mencapai 9 sampai 10 juta ton. Jika pada 2013 ekspor hanya mencapai 33 juta ton, maka pada 2018 ekspor pertanian mencapai 42 juta ton. Ekspor kita meningkat itu atas kerja keras kita semua,” sebutnya.

Ketiga, pertumbuhan ekonomi pertanian baru-baru ini mencapai 3,7%. Angka tersebut melampaui target yang ditetapkan pemerintah 3,5%. Dari sisi inflasi pangan periode 2014-2017, inflasi pangan turun signifikan sebesar 88,1%, dari 10,57% menjadi 1,26%.

“Untuk itu, kami sampaikan agar program yang sudah baik ini dijaga dengan baik, kebijakan yang sudah baik di era pemerintahan Jokowi-JK kita lanjutkan, karena kita melihat kalaupun anggaran turun tetapi produksi ekspor tetap naik dan itu disampaikan oleh Komisi IV DPR RI kemarin,” beber Amran.

Selain itu, Amran pun meminta ada beberapa program strategis Kementan yang harus ditindaklanjuti secara serius. Pasalnya berdampak besar ternyata pertumbuhan ekonomi nasional dan masa depan Indonesia.

“Program peternakan ada pengembangan sapi belgian blue, beratnya 2 ton. Kalau ini dilanjutkan, ini menentukan masa depan. Kita tidak lagi impor sapi, tapi justru ekspor,” katanya.

Di sektor perkebunan, sambung Amran, yakni program pengembangan Biodiesel 100. Program ini dipastikan dapat mempengaruhi dunia karena CPO yang diekspor CPO selama ini ke 143 negara, akan dikelola sendiri untuk menghasilkan bahan bakar.

“Jika ini terwujud, kita bisa menghemat devisa dan yang terpenting adalah kita bisa menghemat energi menjadi ramah lingkungan, tidak berasap,” terangnya.

Program selanjutnya yang perlu dilanjutkan yakni pengembangan lahan rawa melalui Program SERASI (Selamatkan Lahan Rawa Sejahterakan Petani). Optimasi lahan rawa ini bisa memenuhi kebutuhan pangan penduduk Indonesia kurang lebih satu miliar orang.

“Jadi kita siapkan dari sekarang kemudian kebijakan-kebijakan yang tidak produktif. Kebijakan yang tidak bisa mendorong pertumbuhan produksi ini dicabut. Itu sesuai arahan Bapak Presiden agar investasi dan ekspor bisa meningkat. Dua hal ini yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi adalah ekspor dan investasi,” tegasnya.

Perlu diketahui, berdasarkan Surat Bersama Pagu Indikatif 2020, Kementan memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp 20,535 Triliun atau turun 5,37% dibandingkan dengan anggaran tahun 2019 sebesar Rp 21,68 Trilyun.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Siapkan Solusi Permanen Kemitraan Petani Jagung dan Peternak Unggas

Koran Jurnal, Lamongan – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan Pemerintahan Jokowi-JK terus berkomitmen meningkatkan produksi jagung nasional sehingga kebutuhan jagung dalam negeri khususnya untuk peternak unggas mandiri tidak lagi mencukupinya dari impor. Namun demikian, Indonesia justru dapat meningkatkan volume ekspor.

“Solusi permanen bagi kemitraan petani jagung dan peternak unggak merupakan kunci dalam mewujudkan swasembada jagung nasional dan peningkatan volume ekspor tersebut, sekaligus memenuhi kebutuhann pakan ternak,” demikian diungkapkan Mentan Amran saat melakukan panen raya jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Lamongan, Rabu (06/02/2019) kemarin.

Amran membeberkan solusi permanen sangat penting dalam memotong rantai pasok yang selama ini masih panjang sehingga menyebabkan kelangkaan stok dan melonjaknya harga jagung yang tidak wajar. Oleh karena itu, mengatur lokasi antar wilayah produsen jagung dengan peternak menjadi sangat penting, sehingga rantai distribusi jagung menjadi lebih efisien efisien.

“Pada kasus hari ini Kabupaten Lamongan dengan Kabupaten Blitar. Distribusi jagung dari produsen ke konsumen sangat efisien sehingga tidak ada lagi alasan stok jagung untuk pakan petenak unggas mandiri itu langka. Harga jagung di tingkat petani pun tidak jatuh ketika panen,” bebernya.

Solusi kedua, sambung Amran, Kementerian Pertanian (Kementan) akan mendorong Bulog untuk berperan sebagai satu-satunya perantara. Bulog harus segera menyerap jagung dengan harga yang menguntungkan petani dan menjamin stok untuk kebutuhan peternak unggas mandiri.

“Sesuai arahan Presiden Jokowi, harga jagung di tingkat petani tidak boleh di bawah Rp3.150 per kg. Bulog diminta menyerap jagung petani. Artinya, ada kepastian jagung petani diserap dengan harga yang menguntungkan dan hasilnya dikirim langsung ke peternak unggas mandiri dengan harga yang stabil,” ujarnya.

Ketiga, harga jagung harus dibuat berdasarkan kesepakatan antar ketiga pihak yakni petani, Bulog dan peternak unggas mandiri. Stok dan harga jagung tidak lagi dipermainkan tengkulak sehingga karut marut harga jagung tidak lagi terjadi.

“Ini semua untuk rakyat, bukan untuk tengkulak. Kami tidak ingin dipermainkan. Ini solusi konkret dan permanen,” tegas Amran.

Keempat, sebut Amran, untuk mendukung kesepakatan tersebut, Kementan membantu fasilitasi benih, pupuk, dryer (mesin pengering – red) dan corn harvester (mesin panen jagung – red). Kementan telah mengalokasi anggaran yang cukup besar untuk kegiatan dari budidaya hingga pasca panen.

“Ini merupakan solusi permanen dalam rangka mensejahterakan petani jagung dan pemenuhan bahan pakan ternak bagi peternak ayam mandiri. Untuk itu, Model ini akan diduplikasikan ke wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa,” tandas Amran.

Perlu diketahui, pada kunjungan ini, Mentan Amran menyerahkan bantuan sebanyak 20 dryer dengan kapasitas 10 ton per 8 jam. Selain itu, memberikan bantuan 10 unit traktor roda empat dan sebanyak 5 unit corn harvester.(ton/Hum)

Categories
Nasional Opini

Mentan Amran Sulaiman: Penyuluh Adalah Pahlawan Pertanian Indonesia

Koran Jurnal, Bogor – Menteri Pertanian memuji Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan tenaga teknis pertanian sebagai pahlawan pertanian Indonesia. Apresiasi ini disampaikan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dalam “Temu Koordinasi Nasional Penyuluh dan Tenaga Teknis Pertanian Tahun 2018,” di IPB International Convention Centre, Bogor, Jawa Barat (20/12/2018).

“Ini adalah pahlawan-pahlawan pangan yang hadir di tempat ini. Kondisi ketahanan pangan kita berada di tangan para tenaga penyuluh,” ujar Amran di hadapan sedikitnya 1000 penyuluh dan tenaga teknis pertanian yang hadir.

Amran bercerita pengalamannya saat pernah menjadi PPL, berjuang di lapangan bersama petani di bawah terik matahari, diguyur hujan, mengabdi tanpa pamrih.

“Kami tahu perjuangan PPL, kami juga pernah jadi penyuluh. Karena ALLAH tahu pentingnya PPL, maka ditakdirkan menterinya dari penyuluh,” kata Amran.

Amran kemudian berpesan, agar memiliki daya saing dan memberi manfaat lebih luas bagi pembangunan pertanian Indonesia, Penyuluh pertanian harus inovatif.

Ia berbagi pengalaman, bagaimana temuan-temuannya untuk membasmi hama tanaman pertanian telah memberikan banyak manfaat. Bahkan juga membuatnya mendapatkan banyak apresiasi dan pencapaian.

“Kami dulu ciptakan racun tikus namanya Tiran, anda kenal ? Tiran artinya tikus mati diracun Amran. Itu kreasi saya. Jadi PPL harus inovatif. Dulu saya jual nggak laku. Lalu saya berikan gratis juga nggak mau. Begitu sulitnya menyuluh”, cerita Amran.

Amran melanjutkan cerita pengalamannya, membasmi ribuan hama babi yang mengganggu tanaman pertanian warga. Ia memulai dengan melalukan riset makanan yang disenangi babi, untuk kemudian dijadikan umpan.

“Saya kasih telur, ndak suka. Saya kasih tikus, ndak mau. Saya kasih kepiting, nah baru dia suka. Saya kasih dulu 3 kali, berikutnya baru kita bawakan kepiting satu truk yang sudah diracun. Saya kondisikan semua warga agar yang punya anjing pemburu semua diikat”, lanjut Amran.

Hasilnya, 2 ribu lebih ekor babi hama tanaman mati. Karena diumpan bersamaan, maka tidak ada kesempatan hewan babi untuk memberi tahu yang lainnya bahwa mereka sedang diberi umpan racun.

“Dua ribu lebih hama babi mati dengan racun kepiting. Ini membuat saya mendapatkan kenaikan pangkat menabrak ketentuan, 6 kali dalam 4 tahun,” kenangnya.

Memberi semangat pada penyuluh, Amran kembali berseru bahwa pencapaian yang diraihnya juga bisa diraih para penyuluh.

“Karena saya mampu berdiri di sini, dan saya juga dulu PPL, maka kalian juga bisa. Bisa?,” pungkas Amran menyemangati.

Pencapaian Hasil Perjuangan Bersama

Selain menyemangati, Menteri Amran juga memberi penghargaan pada para penyuluh. Atas perjuangan yang dilakukan bersama dengan dukungan penyuluh sebagai garda terdepan, pembangunan sektor pertanian meraih sejumlah prestasi yang membanggakan.

“Perjuangan kalian ada hasilnya. Saat jadi Menteri di tahun 2014, inflasi pangan 10,57 persen. Berkat dukungan kalian semua, tahun ini kita mencapai angka inflasi pangan terbaik 1,26 persen,” jelas Amran.

Ia melanjutkan, dengan jerih payah penyuluh di lapangan, Ekspor pangan Indonesia naik 29,7%. Investasi pertanian naik 110%, dengan total nilai Rp 270,1 Triliun. Begitupula PDB pertanian naik 47,2%, dengan akumulasi kenaikan mencapai Rp 1.375,2 Triliun.

Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) – dua indikator kesejahteraan petani – sepanjang 2014-2018 mengalami kenaikan. NTUP naik 5,39% NTP naik 0,22%.

Temu Penyuluh Sebagai Investasi Sumberdaya Manusia Pertanian

Sesuai tema yang diusungnya, Temu Koordinasi Nasional Penyuluh dan Tenaga Teknis Pertanian 2018, digelar untuk Meningkatkan Kinerja dan Daya Saing Melalui Pembangunan Sumber Daya Manusia Pertanian.

Hal ini sesuai pesan Presiden Joko Widodo, bahwa fokus Pemerintah di tahun 2019 pada investasi sumberdaya manusia. Sebagai tahapan besar selanjutnya, setelah percepatan pembangunan infrastruktur berjalan dan mulai banyak diselesaikan.

Dan Penyuluh Pertanian serta Tenaga Teknis Pertanian, merupakan garda terdepan dalam mengawal kegiatan strategis Kementerian Pertanian (Kementan). Seperti Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai (UPSUS PAJALE), Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB), Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPSIN), Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA), dan Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI).

Untuk mensukseskan kegiatan strategis tersebut dan mensosialisasikan 4 (empat) tahun keberhasilan kinerja pemerintah dan Kementerian Pertanian melalui pembangunan sumber daya manusia, maka diperlukan adanya dukungan kinerja Penyuluh Pertanian dan tenaga teknis pertanian.

Kegiatan ini juga sebagai wujud apresiasi pemerintah kepada para Penyuluh Pertanian dan Tenaga Teknis Pertanian, yang telah diakui tugas dan perannya dalam mendampingi para petani dan kelompok tani di lapangan.

Temu Penyuluh dihadiri sedikitnya 1.000 orang tenaga lapangan, terdiri atas : Perwakilan Penyuluh Pertanian se- Indonesia sebanyak 775 orang; Perwakilan Tenaga Harian Lepas Medik/Paramedik Veteriner sebanyak 68 orang; Perwakilan Tenaga TKP Perkebunan sebanyak 85 orang; dan Perwakilan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman-Pengamat Hama Penyakit sebanyak 72 orang.

Setelah Menteri Pertanian memberikan arahan, para Direktur Jenderal Teknis seperti Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Direktur Jenderal Hortikultura, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Direktur Jenderal Perkebunan menyampaikan capaian kinerja masing-masing sub sektor yang mendukung keberhasilan pembangunan pertanian.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan Punya Terobosan Baru Sejahterakan Petani dengan Program SERASI 

Koran Jurnal, Jakarta – Setelah mendapat banyak apresiasi dari berbagai pihak dalam mengolah rawa menjadi lahan pertanian produktif di Jejangkit, Provinsi Kalimantan Selatan, Kementerian Pertanian (Kementan) kembali memperkenalkan terobosan lainnya.

Ribuan hektar rawa yang tersebar di 6 provinsi akan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian aktif. Hal ini dilakukan untuk mendorong kesejahteraan petani berbasis koperasi yang dikorporasikan melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI).

Sebagai langkah awal, Program Serasi akan memilih 6 provinsi yang memiliki optimalisasi lahan seluas 400.000 hektar. Keenam Provinsi ini adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku optimis program ini akan memberi dampak baik pada semua pihak. Apalagi, pengelolaan program ini dikerjakan oleh orang-orang profesional seperti pensiunan pejabat Kementan maupun purnawirawan dari instansi lain.

“Kalau pensiunan kan sudah pasti mengerti sesuai kompetensi dan pengalaman yang dimiliki. Sebab kita ingin menggerakan pertanian secara moderen sesuai yang diharapkan Bapak Presiden”, kata Amran dalam acara Rapat Konsolidasi Persiapan Implementasi Program SERASI di Auditorium Gedung F Kantor Pusat Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2018).

Amran menjelaskan, pemanfaatan rawa nantinya akan saling terintegrasi antara lahan ternak, perkebunan dan sawah. Menurut dia, program ini merupakan mimpi lama yang baru terealisasi tahun ini.

“Saya yakin jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung 2 kali lipat. Dan itu sudah sesuai dengan mimpi besar kita, yaitu kesejahteraan petani,” katanya.

Kepala Biro Perencanaan Kementan DR. Ir. Kasdi Subagyono mengatakan terobosan ini akan dikerjakan bersama lintas sektoral dan bersinergi dengan pemangku kepentingan seperti kementerian BUMN, Kementerian PUPR dan Lembaga Keuangan.

“Strategi percepatan implementasi ini adalah mencari alternatif lahan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan. Apalagi potensi lahan rawa di Indonesia mencapai 15 juta hektar lebih”, kata Kasdi.

Menurut dia, saat ini pihaknya sedang melakukan penyisiran dan akurasi data terkait potensi baru yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan membangun koperasi petani yang terkorporasi.

“Penyisiran dan akurasi datanya sedang berjalan,” katanya.

Mengatasi Kendala dengan Mekanisasi dan Penggunaan Teknologi Pertanian

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro, mengatakan program ini merupakan arahan Presiden yang sebesar-besarnya dijalankan untuk kepentingan petani.

“Sesuai arahan Pak Mentan dan mengikuti perintah Bapak Presiden, maka kita akan membangun Koperasi Petani yang terkorporasi,” ujarnya.

Menurut dia, tahapan awal misi program ini adalah mengembangkan lahan rawa lebak seluas 200 hektar di bawah kontrol dan tanggungjawab 50 tenaga harian lepas yang melaksanakan fungsi teknis.

“Pengelolaan semuanya dilakukan dengan teknologi yang mutakhir. Jadi kendala pada kondisi tanah seperti masam, PH nya kurang dan lain-lain kini bisa teratasi dan bukan lagi masalah,” katanya.

Sekedar diketahui, optimasi lahan di Jambi mencapai 10.000, hektar, sedangkan di Lampung mencapai 20.000 hektar dan Sulsel, 20.000 hektar. Adapun di wilayah Kalteng mencapai 50.000 hektar dengan potensi keseluruhan berikut Sumsel, 450.000 hektar dan Kalsel. 450.000, hektar. (ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan: Dunia Internasional Terpukau Pembangunan Pertanian Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Pembangunan Pertanian Indonesia memukau negara-negara anggota Food and Agriculture (FAO), atau Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal ini terungkap dalam Lokakarya Nasional dengan tema “Pilar Utama Peningkata Kesejahteraan Petani : Reformasi Pertanian, Intensifikasi Produksi, dan Peningkatan Akses Pasar”, di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (12/11/2018).

Acara yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bekerjasama dengan Kementan ini, bertujuan mempromosikan keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia. Representatif FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Stephen Rudgard yang hadir dalam Lokakarya, menyampaikan apresiasinya pada Menteri Pertanian (Mentan) yang sangat fokus mengembangkan pertanian di lahan gambut pasang surut.

Rudgard juga menyampaikan laporan perjalanan perwakilan tetap dari delapan negara anggota FAO, Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang telah mengunjungi sejumlah daerah untuk mempelajari sistem pertanian Indonesia.

“Dalam kunjungan lapangan ini mereka menyaksikan langsung bagaimana kerja FAO di lapangan, dan bagaimana kami berusaha bekerja dengan baik dengan penerima manfaat dan partner kami,” kata Rudgard.

Kunjungan berlangsung selama empat hari, yaitu sejak tanggal 31 Oktober 2018 sampai dengan 3 November 2018. Delegasi yang hadir di antaranya berasal dari Aljazair, Australia, Chili, Yordania, Nigeria, Norwegia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Para delegasi berkunjung ke Jawa Tengah untuk menyaksikan demonstrasi padi-ikan (mina-padi) di Kabupaten Sukoharjo, yang merupakan kerjasama FAO dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan pemerintah daerah untuk mengembangkan praktik-praktik mina pada inovatif. Para peserta delegasi mendapat pengalaman melakukan panen beras dan ikan bersama para petani dan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya.

Setelah Sukoharjo, rombongan delegasi menuju Yogyakarta untuk mempelajari program Kementerian Pertanian yang didukung oleh FAO dan USAID guna mendeteksi dan memberantas wabah penyakit unggas yang juga mengancam populasi manusia.

Delegasi melakukan uji petik pengambilan sampel unggas di Pasar Terban Yogyakarta. Sampel unggas ini selanjutnya dibawa ke Balai Besar Veteriner Wates untuk pemeriksaan virus flu burung (Avian Influenza).

Delegasi berkesempatan untuk meninjau fasilitas laboratorium Bioteknologi dan laboratorium Virologi. Setelah itu, dilakukan presentasi proyek FAO Emerging Pandemic Threats 2 (EPT-2), dan sekilas layanan BB Veteriner Wates. Pada kesempatan tersebut delegasi dari Norwegia, Gunnvor Berge menyampaikan apresiasi atas capaian program _Influenza Virus Monitoring (IVM) online_ atau pemantauan virus AI online, yang berhasil mengurangi kejadian penyebaran virus AI pada unggas di wilayah kerja BB Veteriner Wates yang berdampak pada peningkatan pendapatan petani peternak unggas.

Di hari terakhir kunjungan para delegasi mengunjungi Desa Sibetan, Karangasem, Bali, untuk mempelajari proyek Agroforestri Salak yang diajukan pemerintah sebagai Sistem Warisan Pertanian Penting Dunia (GIAHS).

Situs GIAHS yang diusulkan mencakup lanskap yang kaya akan keanekaragaman hayati penting, yang telah berevolusi dan beradaptasi secara selaras dengan komunitas di lingkungannya. Petani Salak di Sibetan mengelola sistem agroforestri memanfaatkan kearifan lokal dan filosofi yang telah diwariskan selama lebih dari 14 abad dari generasi ke generasi.

Kepala delegasi, Wakil Tetap Nigeria, Dr. Yaya Adisa Olaitan Olaniran di akhir kunjungan menyampaikan kesan-kesannya selama melakukan kunjungan di tanah air.

“Kami meninggalkan Indonesia dengan kenangan yang cukup baik bagaimana kerjasama itu harus dilakukan, dan kami benar-benar menghargai Pemerintah, rakyat dan staf FAO di Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman dalam sambutannya di hadapan peserta Lokakarya, memaparkan beberapa capaian pembangunan pertanian dalam 4 tahun terakhir. Di antaranya terkait peningkatan produksi, perbaikan regulasi, stabilitas harga, peningkatan investasi mekanisasi pertanian, serta inovasi pertanian.

Setelah mendapatkan penjelasan serta gambaran delegasi FAO dan Mentan, Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M Fachir berjanji akan membantu mempromosikan sektor pertanian Indonesia ke mancanegara.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Buka Pasar Ekspor Manggis ke Taiwan

Koranjurnal.co.id, Taiwan – Target Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan volume ekspor berbagai komoditas pangan guna mengerek pertumbuhan ekonomi nasional dan menguatkan nilai tukar rupiah semakin optimis bisa diwujudkan.

Setelah mengekspor beras khusus, bawang merah, jagung, telur, daging ayam, benih sayuran, tanaman hias, perkebunan dan pangan lainnya. Setelah membuka pasar ekspor manggis ke China, kini giliran membuka pasar manggis ke Taiwan.

Pada kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Taiwan dan bertemu Menteri Pertanian Taiwan, Mr. Tsung-Hsien Lin, Selasa, (9/10/2018), terungkap hasil pertemuan yakni Pemerintah Taiwan berkomitmen mempercepat akses manggis Indonesia ke Taiwan, sehingga disepakati juga langkah-langkah percepatan ekspor.

“Ini langsung ditindaklanjuti, Tim Karantina Indonesia intensif berkomunikasi dengan Tim Karantina Taiwan untuk harmonisasi standar perkarantinaan komoditas manggis di kedua Negara. Konsepnya hampir sama dengan protokol membuka ekspor manggis ke China akhir tahun lalu,” ungkap Amran di Taipe, Sabtu (13/10).

Amran menyebutkan tahapan review dokumen selesai dalam waktu dekat dan dilanjutkan proses on-site audit. Ekspor perdana dilakukan segera setelah seluruh proses perkarantinaan selesai.

“Optimis segera direalisasikan, karena selama ini kita sudah rutin ekspor komoditas ke Taiwan untuk kubis, melon, karet, kopi dan lainnya,” ucap Amran.

Pada kesempatan kunjungan tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun mengungkapkan kemajuan pertanian Indonesia selama empat tahun terakhir dan ekspor pertanian Indonesia 2017 meningkat hingga 24%. Kunjungan ke Taiwan juga membahas komitmen investasi Taiwan mengembangkan industri gula di Indonesia Rp 20 triliun, kerjasama Pengembangan Rain Water Harvesting System, serta program Magang Petani Indonesia di Taiwan.

“Ini merupakan langkah konkret melakukan gerakan masif ekspor dan investasi agar pertumbuhan ekonomi nasional lebih tinggi. Sektor pertanian salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi,” ujar Amran.

Untuk diketahui prediksi ekspor manggis Indonesia 2018 mencapai 60.000 ton atau naik 553 % dari 2017 yang hanya 9.167 ton. Ekspor ini merupakan 38% dari total produksi manggis nasional 2018 sebesar 166.725 ton. Setidaknya terdapat 10 eksportir dari beberapa provinsi siap memasok pasar Asia.

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian 2017 totalnya Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga neraca perdagangan pertanian 2017 surplus Rp 214 triliun. Ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampai Juli 2018 sebesar Rp 1,3 triliun, naik 60,5 persen dari Januari sampai Juli 2017 yang hanya Rp 0,76 triliun.

Pertemuan Mentan Andi Amran Sulaiman, dengan Menteri Pertanian Taiwan, Mr. Tsung-Hsien Lin ini turut hadir Wakil Menteri Pertanian Taiwan beserta sejumlah tenaga ahli bidang pertanian. Sementara itu, Menteri Pertanian RI yang didampingi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, dan Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Tata Hubungan Kerja.(ton/Hum)