Categories
TNI Transportasi

Marinir TNI AL Terima Audiensi Direktur Utama PT KCI

Koran Jurnal, Jakarta – Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayor Jenderal TNI (Mar) Widodo Dwi Purwanto, menerima audiensi dari Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Commuter Indonesia (PT. KCI) Roppiq Lutzfi Azhar beserta rombongan di Holding Room Markas Komando Korps Marinir (Mako Kormar), Jl.Prajurit KKO Usman dan Harung, No.40 Kwitang, Jakarta Pusat, Jum’at (15/07/2022).

Kedatangan Dirut PT. KCI yang disambut langsung oleh Dankormar, diawali dengan memperkenalkan Pejabat Utama Mako Kormar oleh Dankormar, dilanjutkan dengan penyampaian dari Dirut PT. KCI, yaitu menyampaikan bahwa tujuan kedatangan rombongan adalah sebagai ajang silaturahmi dan ucapan terimakasih dari PT. KCI kepada Korps Marinir TNI AL yang telah ikut membantu mengamankan dan menertibkan para penumpang kereta api, khususnya pada saat masa pandemi yang ikut membantu menertibkan dalam menjalankan protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 kepada seluruh penumpang kereta api.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada Korps Marinir TNI AL, karena telah ikut membantu menjaga keamanan dan keselamatan penumpang. Kami juga berharap untuk tetap mendapatkan dukungan dari Korps Marinir, dalam membatu menertibkan para penumpang melaksanakan protocol kesehatan, karena di PT. KCI saat ini mempunyai 80 stasiun,” ungkap Dirut PT KCI.

Dalam penyampaiannya Dankormar juga mengucapkan terimakasih atas kepercayaan PT. KCI kepada Korps Marinir.

“Kami juga mengucapakan terimakasih kepada PT KCI atas kepercayaannya kepada Korps Marinir. Kami akan tetap terus mendukung PT. KCI, selama hal tersebut untuk kepentingan masyarakat umum, khususnya untuk kenyamanan para penumpang kereta api,” ungkap Dankormar.

Acara diakhiri dengan saling tukar menukar cinderamata dan dilanjutkan foto bersama di Monumen Korps Marinir. Turut mendampingi pada acara tersebut, Corporate Deluty Director of Security PT KAI Laksda TNI Dwi Sulaksono, Wadan Kormar Brigadir Jenderal TNI (Mar) Endi Supardi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., CHRMP., CRMP, Aspers Dankormar Kolonel Marinir Pangestu, Asops Dankormar Kolonel Marinir Ahmad Fajar, Direktur Operasi dan Pemasaran PT. KCI Bapak Wawan Ariyanto, VP Corporate Secretary Ibu Erni Sylviane Purba, VP Train Operation / PYMT. VP HSE & Security Bapak Rachmat Zaini, Manager Assets and Station Security Bapak Sarman Nadeak dan Manager Train Security Bapak Sukoco.(disp)

Categories
Megapolitan Transportasi

KCI dan Komunitas Dorong Pengguna KRL Berani Lawan Tindakan Pelecehan

Koran Jurnal, Jakarta – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) bersama sejumlah komunitas kembali menggelar kampanye untuk mencegah pelecehan seksual di ruang publik. Kali ini kampanye digelar melibatkan Komunitas perEMPUan dan Komunitas Anker Twitter dalam kegiatan bertajuk “Transportasi Yang Aman Untuk Semua”.

VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk mewujudkan transportasi yang aman dan nyaman termasuk upaya mencegah tindak pelecehan seksual di KRL.

“Baru-baru ini PT KCI telah memasang media sosialisasi pencegahan pelecehan seksual di 80 stasiun KRL. Dengan adanya media sosialisasi tersebut, pengguna jasa KRL bisa mendapatkan edukasi bagaimana mencegah, hingga bagaimana membantu diri sendiri maupun orang lain yang menjadi korban pelecehan,” jelas Anne Purba dalam diskusi yang berlangsung di Stasiun Jakarta Kota, Jum’at (27/12/2019).

Selain itu, secara berkala berbagai edukasi terkait pencegahan pelecehan seksual juga tayang pada media sosial KCI dan televisi di dalam KRL. Dalam dua tahun terakhir PT KCI juga senantiasa menggelar kampanye “Komuter Pintar Peduli Sekitar” dalam menyambut peringatan Hari Perempuan Internasional.

Sementara itu perwakilan dari Komunitas perEMPUan yang juga tergabung dalam Koalisi Ruang Publik AMAN (KRPA) memaparkan data dari hasil survei KRPA yang menemukan sebanyak 46.80% responden surveinya di seluruh Indonesia mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di transportasi umum.

Transportasi umum (15.77%) memang merupakan lokasi kedua tertinggi untuk terjadinya pelecehan, setelah jalanan umum (28.22%). Moda transportasi umum yang dilaporkan terjadi pelecehan antara lain adalah bis (35.80%), angkot (29.49%), KRL (18.14%), ojek online (4.79%), dan ojek konvensional (4.27%).

”Dari data survei KRPA, pelecehan yang sering terjadi di transportasi umum datang dalam bentuk verbal, fisik dan non-fisik, mulai dari pelecehan verbal seperti siulan, suara kecupan, komentar atas tubuh, komentar seksual yang gamblang, komentar seksis, dan komentar rasis. Sementara bentuk fisik adalah main mata, difoto secara diam-diam, diintip, diklakson, gestur vulgar, dipertontonkan masturbasi publik, dihadang, diperlihatkan kelamin, didekati dengan agresif secara terus menerus, diikuti/dikuntit, hingga disentuh, diraba, dan digesek dengan alat kelamin. Penting untuk masyarakat tahu beragam bentuk pelecehan ini, agar dapat dipahami dan mau mengintervensi atau melaporkan saat mengetahuinya,” ungkap founder komunitas perEMPUan Rika Rosvianti.

Rika melanjutkan bahwa kekerasan seksual di tempat dan transportasi umum menghambat terwujudnya kesetaraan gender.

“Jangankan beraktualisasi diri secara maksimal, perempuan dewasa maupun anak perempuan bahkan terancam mengalami kekerasan seksual dalam perjalanannya mengakses hak dasar sebagai warga negara seperti pendidikan, kesehatan dan pekerjaan,” ucap Rika.

Sementara itu komunitas pengguna KRL Anker Twitter mengajak sesama pengguna KRL untuk lebih peduli dengan fenomena.

“Kami mengajak para pengguna untuk meningkatkan perhatian pada lingkungan sekitar, khususnya kepada sesama pengguna KRL. Dengan meningkatkan kepedulian dan kewaspadaan kita dapat membantu pengguna yang mungkin sedang mengalami pelecehan seksual
namun tidak berdaya untuk keluar dari situasi tersebut,” jelas Sufiyandoro dari komunitas Anker Twitter.

“Ke depannya, Anker Twitter ingin menjadi lebih dari sekadar komunitas pengguna kereta. Anker Twitter berharap dapat menjadi “partner” KCI yang tidak hanya memberikan kritik, namun mendukung dan mendorong KCI untuk meningkatkan respon dalam memberantas Tindak Pelecehan Seksual di transportasi publik,” ucap Sufiyandoro.

PT KCI bersama komunitas berharap berbagai upaya kampanye dan kegiatan semacam ini dapat mendorong keberanian dari korban maupun saksi untuk bertindak melawan pelaku dan melaporkannya ke pihak-pihak yang berwenang.

Dari catatan KCI sendiri, keberanian saksi maupun korban untuk melaporkan pelecehan yang dialami mulai terlihat. Pada tahun 2019 ini terdapat 35 kasus yang dilaporkan. Tahun 2018 terdapat 34 kasus, sementara 2017 hanya 18 kasus.(red)