Categories
Ekonomi

Kementan Apresiasi Ekspor Perdana Telur Tetas CJ PIA

Koran Jurnal, Sukabumi – PT CJ PIA untuk pertama kalinya berhasil mengekspor telur tetas (hatching egg) sebanyak 58.000 butir senilai Rp1,88 miliar atau setara USD 130 ribu ke Myanmar. Telur tetas yang diekspor merupakan telur yang dihasilkan dari grand parent stock dengan kualitas unggul strain ross umur 30 minggu untuk ditetaskan menjadi day old chick (DOC) parent stock.

Acara pelepasan ekspor dilakukan di lokasi produksi PT CJ PIA di Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Rabu (28/10/2020). Acara pelepasan dihadiri oleh Direktur PT. CJ PIA (Mr. Park In Suh), Associate Director PT. CJ PIA (Dewa Putu Sumerta), Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak (Sugiono), dan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi (Iwan Karmawan).

Kementerian Pertanian (Kementan) yang diwakili oleh Sugiono selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengapresiasi kegiatan ekspor oleh perusahaan pembibitan ini. Menurutnya ekspor ini sangat positif karena perusahaan bisa menjawab tantangan ekspor dari pemerintah.

“Saya mengapresiasi langkah ekspor yang ditunjukkan perusahaan. Produsen pembibitan Indonesia itu memang sudah seharusnya mampu bersaing di kancah internasional, bukan jago kandang,” kata Sugiono.

Ia memastikan, kualitas dari PT CJ PIA ini tidak diragunakan lagi. Lantaran PT CJ PIA merupakan salah satu produsen bibit ternak di Indonesia yang telah memperoleh sertifikat bibit ternak.

Sugiono menambahkan, bahwa kegiatan ekspor ini juga sejalan dengan program Kementan yaitu Gerakan Tiga Kali Ekspor (GRATIEKS). Menurut dia, hal ini bukti bahwa kebijakan pengendalian supply and demand tidak mengurangi kemampuan ekspor perusahaan.

“Kami sangat bangga meskipun perusahaan terkena kebijakan pengendalian suplai seperti cutting telur tetas dan afkir dini parent stock, namun perusahaan tetap mampu melakukan ekspor,” ucapnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah juga ikut memberikan apresiasi kepada PT CJ PIA atas capaian ekspor ini. Ia mengapresiasi kinerja produksi PT CJ PIA tidak berkurang meski sedang dalam masa pandemi covid-19.

Ia mengatakan ekspor yang dilakukan PT CJ PIA ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan ekspor komoditas pertanian.

“Atas terealisasinya ekspor pada hari ini, berarti semua yang telah diupayakan selama ini oleh pihak perusahaan telah membuahkan hasil yang baik, dan kami mengapresiasi karena telah memproduksi produk yang dapat diterima negara tujuan,” kata Nasrullah.

Ia menjelaskan, salah satu target Kementan saat ini adalah memang peningkatan ekspor berbagai komoditas pertanian. Hal ini dilakukan melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (GRATIEKS), yang mengusung tema ‘maju’, ‘mandiri’ dan ‘modern’.

Harapannya, GRATIEKS ini bisa membuka peluang ekspor lebih besar bagi para pelaku usaha peternakan dan kesehatan hewan. Baik skala besar, menengah bahkan mikro dan para peternak yang siap ekspor untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Program GRATIEKS ini juga ditargetkan bisa meningkatkan pertumbuhan volume ekspor peternakan pada tahun 2024 naik 300% menjadi 884.212 ton ke 100 negara tujuan.

“Untuk itu, mari kita pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para pelaku usaha bersama-sama meningkatkan ekspor, dengan mencari negara tujuan baru, dan mengidentifikasi permintaan produk yang dibutuhkan oleh negara lain,” paparnya.

Ia menambahkan, prinsip yang harus dipenuhi dalam mengisi peluang ekspor adalah kualitas, kuantitas dan keberlanjutan. Perlu adanya jaminan kualitas yang dapat bersaing, kemampuan memenuhi kuantitas yang dibutuhkan negara importir, dan kontinyuitas pasokan.

“Disamping itu, yang tidak kalah penting yaitu efisiensi usaha agar produk kita semakin kompetitif,” imbuh Nasrullah.

Nasrullah berharap, ekspor yang dilakukan oleh PT CJ PIA ini bisa terus meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk siap ekspor, sehingga produk peternakan Indonesia lebih mampu bersaing di perdagangan internasional.

Selain itu, diharapkan hal ini juga dapat memotivasi bagi pelaku usaha lain untuk tetap berupaya melakukan percepatan ekspor komoditas peternakan lainnya dengan meningkatkan kualitas produk dan promosi ke negara lain.

“Sekali lagi Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada PT CJ PIA dan semua pihak terkait atas dukungannya terhadap upaya peningkatan ekspor komoditas peternakan Indonesia,” tutur Menteri SYL.

Sementara itu, Direktur PT. CJ PIA Mr. Park In Suh mengatakan pihaknya bekerja sangat keras agar mampu menjawab tantangan pemerintah yang menginginkan para perusahaan untuk dapat mengekspor produknya ke luar negeri. Terlebih pada masa pandemi covid-19 dan lemahnya daya beli masyarakat.

“Hal ini juga menjadi pembuktian bagi kami yang telah memenuhi tantangan dari pemerintah untuk dapat menggenjot semua perusahaan perunggasan yang ada untuk mengekspor produknya,” tegas Park In Suh.

Associate Director PT. CJ PIA Dewa Putu Sumerta menambahkan PT. CJ PIA berkomitmen untuk tahun depan akan mengekspor telur tetas dengan kuantitas dua kali lipat dan memperluas ke negara Vietnam dan negara-negara lain yang membutuhkan.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas kerja sama yang dilakukan oleh seluruh mitra kerja terutama dengan Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Subdirektorat Unggas dan Aneka Ternak, serta Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi,” tandasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi Kesehatan

Kementan Investigasi Laporan Telur Ayam Mengandung Dioksin

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) langsung melakukan investigasi khusus terkait kemungkinan adanya telur ayam di Jawa Timur yang diduga tercemar residu partikel plastik.

“Kami menerima laporan dari para peneliti jaringan global advokasi kebijakan dan kesehatan lingkungan IPEN, bersama Arnika Association dan LSM Indonesia Nexus3 yang menyebut bahwa 3 telur yang dijadikan sampel tercemar racun dioksin,” ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, Selasa (19/11/2019).

Menurut laporan tersebut, kata Ketut, para peneliti menguji sampel tersebut di Laboratory of the State Veterinary Institute in Prague, Czech Republic. Selanjutnya mereka menyebut bahwa ada kandungan dioksin pada telur ayam di Jawa Timur.

“Kami langsung menurunkan Tim yang terdiri dari petugas Ditjen PKH dan unit pelaksana teknis Balai Pengujian Mutu Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH). Mereka diberi tugas untuk memastikan keamanan pangan produk hewan khususnya telur,” katanya.

Di samping itu, tim penguji juga akan melakukan pendalaman terhadap temuan tersebut dengan mengkaji laporan Limbah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia.

“Redaksional yang disampaikan di berbagai media dengan mengekstrapolasikan temuan dioksin pada telur di desa Tropodo-Sidoarjo seolah-olah berlaku terhadap kondisi umum telur ayam di Jawa Timur, dan itu sangat tidak tepat,” ujarnya.

Untuk itu, Ketut menegaskan bahwa produk telur di berbagai daerah, saat ini dalam kondisi aman dan tidak mengandung partikel berbahaya. Dia berharap, masyarakat tetap mengkonsumsi telur karena kandungan gizi yang besar sangat sangat bagus untuk pertumbuhan.

Apalagi, kata dia, pemeliharaan Ayam petelur ras konsumsi sudah melalui proses yang baik karena diberikan pakan dari bahan pabrikan yang aman. Kondisi ini secara tidak langsung akan menjamin telur ayam Indonesia terhindar dari residu partikel plastik.

“Jadi sekali lagi, kami sampaikan bahwa ada ketidakberimbangan dalam menyampaikan informasi tersebut. Hal ini dapat menjadi kontra-produktif dengan program pemerintah yang kini sedang berupaya mencegah stunting, terlebih upaya meningkatkan konsumsi perkapita protein hewani Nasional,” katanya.

Ketut menambahkan, saat ini pemerintah juga sudah menerbitkan sertifikat NKV bagi farm petelur yang sistem pemeliharaannya sudah memenuhi syarat dan menjamin tidak adanya residu bahan-bahan kimia berbahaya dalam produk telur yang dihasilkan.

Lebih dari itu, Ketut mengapresiasi langkah Pemprov Jawa Timur yang menghimbau warganya tidak mengkonsumsi telur ayam kampung yang berasal dari ternak yang secara alamiah berkeliaran dan mencari pakan di tempat-tempat pembuangan sampah, karena sangat berisiko terhadap paparan polutan yang bisa menjadi ancaman bagi kesehatan konsumen.

“Untuk itu, peran Pemerintah Daerah dalam mengatur pengelolaan ijin usaha pertanian dan peternakan serta pembinaan terhadap masyarakat menjadi sangat krusial, khususnya untuk menjamin produk hewan yang aman dan sehat,” tukasnya.(hum/red)