Categories
Ekonomi

Mentan SYL Dorong Swasta Jadi Inisiator Urban Farming

Koran Jurnal, Bogor – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengunjungi perkebunan hidroponik swasta di Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat. Di sana, Mentan meninjau proses pembibitan hingga pengemasan sayur menuju pasar penjualan di wilayah Jabodetabek.

“Saya kesini mau melihat tanaman sayur dan berbagai inovasi yang sudah menggunakan teknologi buatan anak bangsa. Misalnya disini ada rumah pengering yang tidak pakai listrik dan tidak pakai macam-macam. Semuanya betul-betul green house” ujar Mentan, Minggu (18/10/2020).

Mentan mengatakan, perkebunan milik PT Asabi harus menjadi inisiator utama dalam mewujudkan pertanian kota (Urban Farming). Kata dia, pertanian kota sangat dibutuhkan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

“Saya kira permintaan sayur itu meningkat dua kali lipat. Artinya permintaan ini harus bisa menjadi bagian-bagian yang bisa didorong pada kota-kota besar, yang tidak memiliki lahan besar. Bayangkan saja hanya dengan 500 meter, mereka bisa menghasilkan 40 juta perbulan,” katanya.

Menurut Mentan, keterlibatan swasta dalam mendukung ketahanan pangan nasional harus didorong menjadi lebih besar. Pertanian semacam ini bahkan telah membuktikan bahwa hidroponik bisa dilakukan oleh semua kalangan.

“Memang tidak mungkin semuanya dilakukan oleh pemerintah. Lemampuan pemerintahan sangat terbatas, makanya swasta harus bisa membuka jalan dengan berbagai kreasi untuk menghadapi tantangan,” katanya.

Presiden Asabi Agricon, Harlan Bengardi menyampaikan terimakasih atas perhatian Mentan ke perkebunan hidroponik miliknya. Menurut dia, kunjungan ini bisa membuat perusahan swasta semakin bersemangat dalam mendorong ketahanan pangan nasional.

“Selama setahun ini memang kami melihat masa depan pertanian urban farming memiliki sirklus yang sangat baik. Pertama cuaca yang sudah tidak menentu dan lahan yang semakin sempit. Ke depan, saya kira hal ini akan menjadi suatu pasar yang sangat luar biasa dan memang memakan sayuran itu nanti akan menjadi suatu kebutuhan utama,” katanya.

Harlan berharap, perkebunan Asabi bisa menjadi contoh bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis sayur melalui metode hidroponik. Apalagi, kebutuhan sayur di wilayah Jabodetabek semakin meningkat.

“Konsep urban farming itu memang bukan untuk menyediakan lapangan kerja, melainkan untuk memaksimalkan lahan kecil agar bisa menjadi lahan produktif. Semoga ke depan masyarakat mulai bisa menerapkam urban farming,” tutupnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Produksi Beras 2020 Capai 31,63 Juta Ton, Naik Signifikan Dibanding 2019

Koran Jurnal, Jakarta – Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Menteri Pertanian Syahrul Yasin dalam menyediakan ketersediaan stok pangan utamanya produksi beras menuai hasil yang menggembirakan. Hal ini terungkap dari data penghitungan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa produksi beras tahun 2020 mencapai 31,63 juta ton atau naik signifikan 1,00 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 31,31 juta ton.

BPS merinci bahwa angka produksi tersebut diperoleh dari luas panen padi 2020 mencapai 10,79 juta hektare atau mengalami kenaikan 108,93 ribu hektare atau 1,02 persen dibandingkan luas panen tahun 2019 yang sebesar 10,68 juta hektare.

“Sementata produksi padi pada 2020 diperkirakan sebesar 55,16 juta ton GKG (Gabah Kering Giling,- red), mengalami kenaikan 556,51 ribu ton, naik 1,02 persen dibandingkan produksi 2019 yang sebesar 54,60 juta ton GKG,” demikian dibeberkan Kepala BPS Suhariyanto saat menggelar konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (15/10/2020) kemarin.

Terkait sebaran daerah sentra produksi beras, Suhariyanto menyebutkan masih terpusat di beberapa provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Berdasarkan hasil Survei KSA, terjadi pergeseran puncak panen padi pada 2020 dibandingkan 2019, dimana tahun 2020 terjadi pada April, sementara puncak panen pada 2019 terjadi pada Maret.

Suhariyanto menambahkan potensi panen sepanjang Oktober hingga Desember 2020 diperkirakan sebesar 1,78 juta hektare sehingga total potensi luas panen padi pada 2020 di prediksi mencapai 10,79 juta hektare, atau mengalami kenaikan sekitar 108,93 ribu hektare (1,02 persen) dibandingkan 2019 yang sebesar 10,68 juta hektare.

“Luas panen tertinggi pada 2020 terjadi pada April yaitu sebesar 1,86 juta hektare, sementara luas panen terendah terjadi pada bulan Januari yaitu sebesar 0,32 juta hektare,” ungkapnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan pencapaian peningkatan produksi beras tahun 2020 merupakan hasil yang diperoleh dari strategi dan kebijakan yang dijalankan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam mewujudkan komitmen membangunan ketahanan pangan nasional. Peningkatan produksi pangan strategis salah satunya padi dengan menerapkan konsep pertanian yang maju, mandiri dan modern.

Implementasinya di lapangan, lanjut Suwandi, yakni penggunaan bibit unggul, pupuk berkualitas, mekanisasi pertanian modern yang mempercepat olah tanah, tanam dan panen, bantuan asuransi pertanian dan pendampingan yang masif.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kami terus terjun ke lapangan, tidak hanya sekedar memonitor tapi memastikan langsung dan cepat mengambil langkah nyata jika terdapat lahan yang belum melakukan pengolahan dan penanaman,” bebernya.

“Terobosan lainnya yang punya andil besar juga adalah percepatan olah tanah pada lahan tadah hujan, lahan kering dan sawah di lokasi yang sudah siap airnya didukung modal dari KUR (kredit usaha rakyat, red). Kementan bersama pihak Bank memudahkan petani peroleh modal sehingga usaha pertanian semakin mudah dan mandiri,” sambung Suwandi.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Pacu Kinerja Pertanian Sukabumi, Mentan SYL Perkuat Akselerasi Hulu Hingga Hilir

Koran Jurnal, Sukabumi – Pertanian merupakan salah satu sektor yang berpotensi besar terhadap perekonomian masyarakat Kabupaten Sukabumi. Sebagai salah satu daerah penghasil pangan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, berharap agar akselerasi pertanian di wilayah yang terletak dibagian selatan Jawa Barat ini dapat digarap dari hulu hingga hilir.

“Pertanian terbukti menjadi sektor yang paling mampu bertahan di tegah pandemi covid 19, dan saya harap kinerja ini mampu memperkuat akselerasi pertanian dari hulu hingga hilir, sejauh ini ketahanan pangan di Sukabumi cukup terjamin cukup baik, hanya akselerasinya yang harus kita terus bangun dan jaga,” jelas Syahrul saat meninjau lokasi Peternakan Kambing, Domba dan Sapi di Yayasan Adzkia, Desa Sukaresmi, Cisaat, Sukabumi – Jawa Barat, Senin (12/10/2020).

Syahrul berharap petani Sukabumi dapat mengembangkan usaha taninya secara komprehensif dari budidaya (on farm) hingga pengolahan dan pemasaran (off farm). Hal ini sekaligus sebagai upaya dalam menghasilkan produk yang mempunyai nilai tambah sehingga berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani di wilayah tersebut.

“Saya harus pastikan proses korporasi dari on farm hingga off farm diberbagai wilayah terkoneksi dengan kuat, kita tidak mau petani sudah lelah menanam, kemudian tidak tau siapa yang harus menyerap, siapa yang harus membeli,” terang Syahrul.

Ia mengatakan persoalan pangan adalah persoalan yang perlu dikerjakan secara bersama – sama, “Kita harus sama – sama kerja dilapangan, ada pemda, kelompok tani, kementerian, BUMN dalam hal ini Bulog, semua harus sinergi untuk kesejahteraan petani,” katanya.

Sebagai informasi, Sukabumi tercatat memiliki luas lahan baku sawah 56.782 ha, yang sebagian besar lahannya ditanami komoditas tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai. Dari luas panen padi di Sukabumi yang mencapai 93.378 ha pada tahun 2019, wilayah ini mampu memproduksi padi hingga 468.764 ton GKG atau setara 268.930 ton beras.

Saat ini Kementerian Pertanian tengah mengejar produksi pangan terutama beras lewat 5,8 juta ha lahan yang ditanami pada musim tanam II tahun ini. Syahrul menambahkan, proses produksi yang berjalan ini membutuhkan penyerapan produksi beras secara masif, hal ini penting agar kestabilan harga selama masa panen tetap terjaga dan kesejahteraan petani meningkat.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Ekspor 5 Ton Bahan Baku Obat ke Jerman

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus berkomitmen meningkatkan ekspor dan investasi untuk perkembangan dan penyerapan tenaga kerja. Harapannya ekspor ini akan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan kesejahteraan masyarakat.

Kali ini, PT Nutricell Pasific berhasil mengekspor 5 ton atau senilai Rp917 juta bahan baku obat hewan (ekstrak minyak mete) ke negara Jerman. Ekspor ke negara Eropa ini merupakan yang perdana dilakukan Nutricell, sebelumnya menjangkau pasar Asia Tenggara (Vietnam).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah menyebutkan peningkatan ekspor ini juga merupakan salah satu target dari Kementan. Selain itu, ia mengatakan, Kementan juga terus berupaya meningkatkan ekspor melalui peningkatan di berbagai komoditas pertanian melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (GRATIEKS).

“Program Gratieks harus dimaknai dengan tiga hal, salah satunya sistem budidaya yang dilakukan sudah mampu memenuhi kebutuhan tidak hanya dalam negeri tapi mampu menyuplai kebutuhan dunia,” kata Nasrullah, dalam siaran persnya, Senin (12/10/2020).

Kemudian, lanjut dia, ada pembangunan pertanian yang harus berinovasi dan tidak bergantung lagi pada impor. Lalu, pertanian di Indonesia harus dikerjakan melalui kombinasi dengan sistem teknologi dan informasi.

Dengan Gratieks, kata Nasrullah, diharapkan ekspor juga dapat tumbuh dari bawah, artinya membuka peluang ekspor bagi para peternak Tanah Air. Harapannya, dapat meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

“Karena komoditas peternakan Indonesia telah mampu menmbus pasar internasional seperti daging ayam olahan, sarang burung wallet, pakan ternak dan obat hewan,” ucap Nasrullah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor komoditas peternakan pada tahun 2020 periode Januari – Agustus tercatat mencapai 201.708 ton dengan nilai USD 540.159.614 atau setara Rp 7,83 triliun. Dengan program Gratieks, Kementan menargetkan pertumbuhan volume ekspor peternakan pada tahun 2024 naik 300% menjadi 884.212 ton ke 100 negara tujuan.

Pada hari kamis tanggal 8 Oktober 2020, merupakan hari yang bersejarah bagi PT Nutricell Pacific dan industri obat hewan. Berlokasi di Kawasan Taman Tekno BSD, Nutricell melaksanakan pelepasan Ekspor Produk Bahan Baku Obat Hewan (Ekstract Minyak Mete) ke Jerman. Acara pelepasan di hadiri para undangan diantaranya : Direktur Kesehatan Hewan, drh. Fadjar Sumping, Ph.D dan juga hadir Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, drh. Maidaswar, M.Si serta beberapa undangan dari Asosiasi Obat Hewan dan Dinas Pertanian.

Ekspor bahan baku obat hewan dengan tujuan Pasar Eropa (Jerman) sebanyak 5 Ton dengan nilai 53.000 Euro atau sekitar 917 Juta rupiah ini merupakan yang kedua kali, setelah sebelumnya pada tahun 2019 Nutricell berhasil mengekspor untuk pasar Asia (Vietnam).

CEO Nutricell, Suaedi Sunanto menegaskan, sejak mendapatkan izin produksi pada tahun 2015, Nutricell terus berbenah diri untuk menjadi pemain industri obat hewan yang mampu memberikan kontribusi terhadap tercukupinya kebutuhan protein bagi masyarakat Indonesia.

Ia juga mengatakan, Nutricell terus berkomitmen untuk menghadirkan produk unggul yang aman untuk manusia dan hewan target, menciptakan gugus kendali mutu keamanan pangan dan membangun jaringan laboratorium global bersama mitra.

“Kami ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya atas kerja sama yang dilakukan oleh seluruh mitra kerja terutama dengan Kementan, Direktorat Kesehatan Hewan, Subdit Pengawas Obat Hewan, dan Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan,” paparnya.

Di tengah keterbatasan pada masa pandemi covid-19, Kementan dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) dan beberapa direktorat di bawahnya terus berupaya melayani Nutricell. Baik dalam pelayanan, pendaftaran dan pengawasan obat hewan sehingga Nutricell mampu menghasilkan produk unggul yang memenuhi standar mutu.

Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping, mengatakan peningkatan ekspor ini tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, situasi dan perkembangan industri farmasi obat hewan ini sudah bergerak ke arah produk yang aman, ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ia menambahkan, hal ini juga tidak terlepas dengan tugas dan fungsi Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) sebagai Unit Pelayanan Teknis (UPT) di bawah Kementan yang bertugas untuk menjamin mutu obat hewan yang berkualitas dan aman, untuk terwujudnya masyarakat yang sehat dan sejahtera.

“Semuanya aman dan ramah lingkungan. Ini juga saya katakan tidak terlepas dari peran BBPMSOH. Saya harapkan ini bisa berkelanjutan,” kata Fadjar.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap PT Nutricell bisa terus mengembangkan kuantitas maupun kualitas siap ekspor sehingga produk peternakan Indonesia makin mampu bersaing di pasar internasional. Terlebih, akses pasar ekspor ke internasional sudah terbuka.

“Selain itu, saya juga berharap ekspor ini bisa memotivasi pelaku usaha lain untuk terus meningkatkan produknya dan melalukan percepatan ekspor serta promosi ke negara lain,” tutur Menteri SYL.(hum/red)

Categories
Ekonomi TNI

KSAD Andika: Kami All Out Dukung Pertanian

Koran Jurnal, Jakarta – Ketersediaan bahan pangan pokok adalah salah satu tugas besar negara. Kami (red-TNI) juga merasa menjadi bagian dari tanggung jawab itu. Hal tersebut disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Andika Perkasa saat menyampaikan sambutannya pada pendandatanganan kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan TNI Angkatan Darat (TNI AD) di Kantor Pusat Kementan, Selasa (29/09/2020).

“Dalam hal ini kebetulan Mentan ingin menggandeng, maka kami siap,” kata Jenderal Andika.

Kesiapan itu oleh Jenderal Andika sudah dibuktikan di Kalimantan Tengah. Pengolahan lahan tahap pertama pada program food estate menurutnya bisa dibilang sukses.

“Walaupun di dua kabupaten, yaitu Pulang Pisau dan Kapuas yang dimulai September ini. Target sebenarnya di bulan september hanya 1.921 hektar. Dan kita sampai hari ini sudah mengolah 4.200 hektar,” ungkapnya.

Capaian ini tentu jauh melebihi dari target yang yang sudah ditentukan. Jenderal Andika optimis pada bulan November, pengolahan lahan untuk Pulang Pisu akan terselesaikan yang kemudian akan dilanjutkan mengolah lahan di Kapuas pada bulan Oktober hingga Desember.

Oleh karena itu, Jenderal Andika menyampaikan ketersediaan Alsintan berupa traktor roda empat apung harus segera direalisasikan.

“Ini kan lahannya rawa sehingga jika tidak dimodifikasi dengan ban apung bisa tenggelam. Saat ini, sudah ada 217 traktor roda empat dan 30 sudah dimodifikasi menjadi traktor apung,” katanya.

Menanggapi keseriusan dan semangat Jenderal Andika dan jajarannya, Mentan SYL menyampaikan apresiasi dan kebanggaanya atas integritas dan dedikasi TNI.

“Saya ini anak tentara. Jadi, bisa merasakan juga bagaimana semangat Jenderal Andika dan tentara yang ada di seluruh Indonesia,” ungkap SYL.

Pria yang akrab dipanggil Komandan ini menjelaskan bahwa pertanian pada umumnya didominasi oleh petani kecil, namun kontribusi mereka untuk menyediakan produksi pertanian, khususnya bahan pangan sangat dibutuhkan.

“Saat sektor lain hampir tidak tumbuh, di saat pandemi ini, performa pertanian tumbuh cukup membanggakan. Penyumbang PDB tertinggi pada triwulan II,” katanya.

Mentan SYL mengatakan PDB pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara YoY, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%. Capaian tersebut menurutnya ditopang subsektor tanaman pangan yang tumbuh paling tinggi yakni sebesar 9,23 persen.

“Kita patut bersyukur bahwa pertanian adalah sektor yang mampu menunjukkan kinerjanya di tengah kondisi Pandemi wabah Covid 19. Di saat sektor lainnya terpuruk, justru pertanian yang meningkat tajam,” jelasnya.

Di akhir sambutannya, Jenderal Andika, lulusan Akademi Militer tahun 1987 menyampaikan dukungannya.

“Intinya tidak ada kata lain selain kami akan all out membantu Pak Menteri. Seluruh jajaran TNI AD akan siap membantu,” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi TNI

Kementan-TNI AD Sepakat Perkokoh Kesiapan Penyediaan Pangan

Koran Jurnal, Jakarta – Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian, maka dibutuhkan kekuatan dan kebersamaan dari semua pihak, termasuk TNI.

Terkait hal tersebut, Kementan dibawah pimpinan Mentan Syahrul Yasin Limpo menggandeng TNI AD guna memperkokoh dukungan pendampingan, percepatan tanam dan peningkatan produksi komoditas tanaman pangan melalui program food estate dan pendampingan pengembangan sapi. Program ini untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok utamanya padi, jagung, dan daging sapi dan komoditas pertanian lain seperti sayuran, buah, perkebunan utamanya kelapa, serta ternak itik.

“Secara umum TNI siap mendampingi seluruh akselerasi dari program Kementan baik secara teknis maupun secara fisik. Karena kalau kesiapan pangan dalam negeri kita sudah cukup maka ekspor sangat terbuka lebar,” ujar Syahrul saat menandatangani MoU dengan TNI AD, di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (29/09/2020).

Syahrul juga menyampaikan bahwa kerjasama yang dilakukan tersebut sebagai bentuk pendampingan dalam rangka pelaksanaan program pembangunan pertanian.

“Kerjasama yang dilakukan meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pertanian, pemanfaatan sarana, prasarana, serta pendampingan penerapan inovasi teknologi pertanian, serta bidang kerja sama lain dalam upaya mencapai swasembada pangan,” tandasnya.

“Saya melihat respon dari TNI AD sangat luar biasa, juga angkatan lain dan Polri juga terus mendorong kami di Kementan. Untuk itu saya menyampaikan terima kasih kepada jajaran TNI AD yang terus memberikan pendampingan dan juga didukung oleh para Bupati dan Gubernur di daerah,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menegaskan bahwa pihaknya selalu siap untuk mendukung program ketahan pangan yang dicanangkan oleh Kementan. Menurutnya, TNI AD dan Kementan sudah bekerjasama di banyak kegiatan dan kedepannya akan terus membantu Kementan dalam mempersiapkan pangan.

“Ketersediaan pangan merupakan suatu tugas besar negara. Kami merasa ini bagian dari tanggung jawab dan dalam hal ini kami sekali lagi siap bersama Kementan dalam me jaga ketahanan pangan,” tegasnya.

Sebagai informasi, ada 4 fokus program yang menjadi perhatian Kementan dalam menjaga ketahan pangan. Yaitu meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan. Diversivikasi pangan non beras, perkuatan cadangan pangan daerah, serta modernisasi dan mekanisasi pertanian.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Intensifkan Program Peningkatan Daya Saing Komoditas Hortikultura dari Hulu

Koran Jurnal, Jakarta – Direktorat Perlindungan Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) merencanakan lima program utama pada 2021. Seluruh kegiatan menyasar pada pengamanan produksi untuk peningkatan daya saing baik kuantitas maupun kualitas, melalui pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) sesuai pengelolaan hama terpadu (PHT) dan dampak perubahan iklim (DPI). Dengan demikian produk yang dihasilkan aman konsumsi dan ramah lingkungan.

“Produk yang dihasilkan juga layak ekspor karena memenuhi persyaratan teknis SPS (sanitary and phytosanitary) yang diatur WTO (Organisasi Perdagangan Dunia),” ucap Direktur Perlindungan Ditjen Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, dalam keterangan tertulis, Minggu (27/09/2020).

Kelima program tersebut, yakni memasifkan gerakan pengendalian (gerdal) OPT; penerapan PHT; penanganan DPI; menggencarkan bimbingan teknis (bimtek), pengawasan dan evaluasi (monitoring and evaluation/monev), dan pelaporan regulasi; serta penguatan kelembagaan terkait, seperti seperti BPTPH, POPT, LPHP, Klinik PHT, desa pertanian organik, SIM DPI, SIG OPT, dan BBPOPT Jatisari di Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar).

“Realisasi gerdal melalui sosialisasi pengelolaan OPT sesuai prinsip PHT, baik prefentif maupun kuratif, secara serempak dalam wilayah luas dan secara berkesinambungan, juga penyediaan bahan pengendali ramah lingkungan secara mandiri. Adapun bahan pengendali OPT Ramah Lingkungan seperti likat kuning, feromon seks, perangkap lampu, refugia, agen pengendali hayati, pestisida nabati, PGPR, dan trichokompos (pupuk organik berbahan dasar jamur antagonis Trichoderma sp, red),” tuturnya.

“Dengan begitu, maka produk yang dihasilkan petani-petani kita aman konsumsi, ramah lingkungan, dan sesuai pasar global karena memenuhi prosedur SPS WTO. Dengan demikian, peluang ekspor meningkat dan neraca perdagangan hortikultura tumbuh positif, sehingga kesejahteraan petani meningkat,” imbuhnya.

Penerapan pengelolaan OPT skala luas (area wide management/AWM) diutamakan pada budi daya aneka buah prospektif ekspor seperti Mangga, manggis, pisang, nanas, buah naga, salak dan sebagainya.

Kebijakan tersebut telah dijalankan di beberapa lokasi pada 2019, di antaranya AWM lalat buah pada salak di Banjarnegara dan Magelang, Jawa Tengah (Jateng) dan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY); AWM kutu putih dan semut pada manggis di Tasikmalaya, Jabar dan Tabanan, Bali; serta AWM kutu putih, semut, dan kanker batang pada buah naga di Pesanggaran, Jawa Timur (Jatim).

Sementara itu, program penerapan PHT bertujuan untuk penyebarluasan teknologi, transfer teknologi dan pengetahuan OPT bersifat lokal dan ramah lingkungan melalui edukasi dan pelatihan.

“Luas serangan OPT terhadap luas tanam setiap tahunnya terus menurun. Selalu di bawah batas toleransi, khususnya untuk tanaman cabai, bawang merah, jeruk, dan mangga. Ini akan terus kita pertahankan,” jelas Yanti, sapaannya.

Pada 2021, Ditjen Hortikultura akan mengalokasikan kegiatan penanganan DPI ke daerah yang defisit cabai dan bawang merah; penyangga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek); serta terdampak banjir dan kekeringan. Kegiatan DPI diutamakan di provinsi sentra yang sering mengalami kekeringan, antara lain di Jabar, Jateng, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara itu, Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, menerangkan bahwa program sektor perlindungan turut memegang peran sentral dalam pengembangan pertanian di Tanah Air. Karenanya, seluruh pihak diharapkan ikut mendukung dan menyukseskannya. Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam berbagai kesempatan Bapak Mentan, Syahrul Yasin Limpo mengingatkan bahwa kegiatan perlindungan menjadi salah satu kunci dalam mengawal dan mengamankan produksi pangan terhadap serangan OPT dan penanganan Dampak perubahan iklim. Ini harus berjalan secara sinergis dan terintegrasi dengan pemangku kepentingan lainnya terutama dalam mengamankan produk pangan nasional untuk memenuhi kebutuhan 276 juta penduduk Indonesia.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan pemerintah daerah (pemda), penyuluh, petugas POPT, dan terutama petani. Mari bersama-sama menyukseskan program pemerintah demi kemaslahatan bersama,” tandas Anton, sapaannya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Tinjau Balai Benih Induk Kepri, Mentan Lihat Peluang Kekuatan Ekonomi

Koran Jurnal, Kepri – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, (Mentan SYL) melakukan peninjauan ke Balai Benih Induk (BBI) Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan di Tembeling, Toapaya Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis (24/09/2020) sekaligus melakukan penanaman secara simbolis bibit buah mangga dan panen buah naga.

Balai Benih Induk Pertanian menurut Mentan memiliki peluang yang besar untuk pengembangan produk pertanian khususnya di sektor hortikultura, perkebunan. Ia menambahkan, dari lokasi ini, ke depannya bisa diproyeksikan untuk pengembangan sektor peternakan. Terlebih, posisi Kepri yang begitu dekat dengan negara tetangga merupakan modal kekuatan perekonomian negara.

“Kepulauan Riau adalah bagian kekuatan-kekuatan negeri yang ada. Ini dekat dengan Singapura dan Malaysia. Untuk itu upaya-upaya akselerasi sektor pertanian dari hortikultura, perkebunan juga peternakan yang ada di sini menjadi kekuatan ekonomi,” ungkap Mentan.

Untuk itu Mentan berpesan kepada Kepala BBI dan Kepala BPTP Kepulauan Riau yang hadir untuk memperhatikan pengembangan komoditas yang potensial yang digemari masyarakat dan wisatawan sebagai komoditas dengan daya jual yang tinggi.

“Ini kita punya peluang luar biasa berbeda dari tempat lain. Di depan itu ada Singapura, tempat terbuka untuk kalian. Saya kira di sini juga tiap tahun dikunjungi turis yang banyak untuk itu harus bisa dipersiapkan dan di dorong dari sini,” pungkas Mentan.

Di lokasi BBI ini Mentan berkesempatan secara simbolis menanam bibit mangga varietas Garifta Gading yang memiliki buah dengan tekstur lunak berserat kasar, rasanya manis, aromanya harum kuat, dengan produksi rata-rata capai 64,42 Kg per pohon per-tahunnya.

Tak hanya satu kali secara simbolis Mentan menanam bibit buah mangga, di hari ini Mentan juga berkesempatan menanam bibit Mangga varietas Sala, kemudian melanjutkan pemetikan buah naga di lokasi yang berdekatan dengan lahan tanam mangga.

Sementara itu, Kepala BBI, Nil Erison menyebutkan komoditas tanaman yang ada di lokasi tanggung jawabnya memiliki koleksi tanaman hortikultura dan perkebunan yang diambil dari balai-balai penelitian tanaman hortikultura dan perkebunan Badan Litbang Kementan,

“Luasan kami ada sekitar 50 hektar, yang kami miliki dari produk horti seperti mangga, durian, alpukat, dan perkebunannya kami punya kebun pala, cengkeh, dan lada, ini dari Balitbu dan Balittro,” katanya.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Hari Tani Nasional 2020, Bupati Purwakarta Apresiasi Program Terobosan Kementan

Koran Jurnal, Purwakarta – Peringatan Hari Tani Nasional 2020 menjadi momentum bagi pemerintah baik pusat dan daerah untuk lebih spektakuler meningkatkan kesejahteraan petani sebagai pahlawan pangan dan sekaligus meningkatkan lagi produksi pangan. Bertepatan dengan peringatan yang dilaksanakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika menggelar Peringatan Hari Tani Nasional Tahun 2020 Tingkat Kabupaten yang dikemas melalui Pencanangan Panen Padi Varietas Tarabas di Kampung Tegal Onder, Purwakarta, Kamis (24/09/2020).

Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika mengungkapkan pertanian merupakan andalan pemerintah Kabupaten Purwakarta pada masa pandemi Covid-19 ini. Oleh karena itu, ia memberikan apresiasi kepada para petani dan penyuluh karena dapat menjaga produksi dan produktivitas hasil pertanian dan juga mengapresiasi program terobosan Kementerian Pertanian (Kementan) yang berdampak nyata terhadap peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani itu sendiri di era pandemi covid 19.

“Salah satunya program pengembangan varietas unggul baru padi yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Jadi kami sangat mendukung adanya pengembangan varietas padi varietas tarabas yang merupakan varietas unggul baru yang mempunyai kualitas dan nilai jual tinggi sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani, dan pada RJPMD Kabupaten Purwakarta, pertanian merupakan prioritas utama di tahun 2021,” demikian ujar Anne dalam peringatan Hari Tani Nasional 2020 tersebut.

Hadir Wakil Ketua DPRD Kabupaten Purwakarta, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Sekda Purwakarta, Dandim 0619 Purwakarta, Kapolres Purwakarta, Kepala OPD, BB Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, KTNA Kabupaten Purwakarta, Penyuluh dan Para Petani.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus. R. Suherlan menjelaskan pihaknya berkomitmen terhadap produksi dan produktivitas tanaman pangan dalam upaya pemenuhan kebutuhan beras. Adapun padi Varietas Unggul Baru ini dikembangkan pada lahan sawah milik pemerintah Kabupaten Purwakarta yaitu varietas Tarabas dan Pemelen.

“Selamat Hari Tani Nasional 2020. Ke depan kita terus tingkatkan produksi dan pendapatan petani,” ujar Agus.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat mengungkapkan padi varietas Tarabas ini menjadi substitusi impor beras dari Jawa Barat karena beras ini sangat diminati oleh ekspor khususnya di negara Jepang pada Industri makanan seperti restoran-restoran Jepang.

“Oleh karena itu, pada momentum peringatan Hari Tani Nasional 2020 ini, kami berkomitmen penuh tingkatkan produksi dan kesejahteraan petani sebagai pahlawan pangan. Sejalan dengan program Kementerian Pertanian, kita targetkan untuk bisa ekspor beras varietas baru ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua KTNA Kabupaten Purwakarta, Ujang Alim Aji Saputra menyatakan dalam rangka Hari Tani Nasional Tahun 2020 ini, KTNA Purwakarta mengucapkan selamat dan sukses kepada para petani, sebab walaupun di era pandemi covid-19 ini petani masih bisa bertahan dengan baik dengan memberikan kontribusi PDB sebesar 12,6% secara nasional, sehingga hal ini menandakan petani itu tidak ada masalah dengan covid. Hari Tani merupakan hari kebanggaan bagi petani dimana kita sebagai pejuang pangan masih bisa bertahan usaha memenuhi kebutuhan ketersediaan pangan.

“Pertanian merupakan usaha yang memiliki prospek masa depan lebih bagus terlebih saat ini mulai bermunculan petani-petani milenial yang mempunyai SDM bagus untuk membangun pertanian masa depan,” ujarnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan menindaklanjuti arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, peringantan Hari Tani Nasional 2020 adalah momentum untuk melakukan akselerasi semaksimal mungkin untuk membangun pertanian dan petani itu sendiri yang lebih maju, mandiri dan modern. Adapun program pengembangan varietas unggul baru padi merupakan salah satu terobosan nyata agar stok beras dalam negeri aman walau dihadapkan tantangan apapun termasuk pandemi covid 19.

“Selamat Hari Tani Nasional 2020. Apresiasi dan terima kasih kepada petani, tetap semangat dan semakin jaya. Petani adalah ujung tombak pembangunan pertanian. Petani adalah pahlawan pangan dan pemasik pangan bagi negeri,” tutur Suwandi.

Perlu diketahui, demplot perbenihan Varietas Unggul Baru (VUB) padi khusus (Tarabas, Inpari IR Nutri Zinc, dan Pamelen) yang diadakan Dinas Pertanian Purwakarta merupakan salah satu langkah pengembangan padi mendukung usaha tani jenis padi di era milenial menjawab tantangan pasar. Varietas Tarabas merupakan satu satunya varietas tipe Japonica milik Indonesia yang berhasil dilepas oleh Badan Litbang Kementerian Pertanian. Pengembangan padi Tarabas ini akan sangat menekan laju impor beras khusus tipe japonica yang selama ini terjadi, bahkan berpotensi meningkatkan ekspor beras tipe japonica ke negara yang notabennya mengkonsumsi nasi jenis Sticky Rice. Kemudian Varietas Pamelen merupakan padi merah pulen. Beras Pamelen bertekstur nasi pulen berwarna merah, memiliki pangsa pasar tersendiri dan trend hidup sehat dimasa pandemik covid-19 akan mengarahkan konsumen untuk banyak mengkonsumsi pangan sehat.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Penetapan dan Pelepasan Galur Ternak

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya mendorong proses penetapan dan pelepasan rumpun atau galur ternak. Salah satunya dengan melaksanakan penilaian tahap II di tahun 2020 terhadap proposal ternak yang akan ditetapkan sebagai rumpun atau galur ternak.

Kegiatan penilaian ini dilaksanakan dalam rangka memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap rumpun atau galur ternak untuk menjaga kelestarian dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal PKH, Nasrullah menyampaikan, 6 proposal yang dinilai pada tahap II ini terdiri dari 4 usulan penetapan rumpun ternak dan 2 usulan pelepasan galur ternak. Usulan penetapan rumpun yaitu sapi Krui dari Pesisir Barat provinsi Lampung, sapi PO Merauke dari Merauke provinsi Papua.

“Ada juga domba Doser dari Deli Serdang, Sumatera Utara dan kambing Saanen Baturraden dari BBPTU HPT Baturraden. Sementara, untuk usulan pelepasan galur yaitu ayam Arbor Acres Plus (AA+) dari PT. Expravet Nasuba Medan dan ayam Gaosi-1 Agrinak dari Balitnak Bogor,” ungkap Nasrullah, Kamis (24/09/2020).

Nasrullah menerangkan, dalam proses penilaian, tim penilai memberikan tanggapan yang beragam atas paparan dan proposal ternak yang akan ditetapkan sebagai rumpun atau galur ini. Namun, semua tanggapan tersebut mengarah ke hasil yang positif

“Secara umum tim penilai memberikan apresiasi kepada seluruh pengusul yang memiliki kemauan untuk menjaga kelestarian ternak lokalnya,” imbuh Nasrullah.

Meski hasilnya positif, namun secara umum semua proposal usulan pelepasan galur atau penetapan rumpun ternak ini perlu diperbaiki dan dilengkapi terkait dengan data-data secara kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, perlu penegasan pola pengembangan rumpun atau galur, serta dilakukan uji observasi oleh KP3RGT.

Sebagai informasi, sampai saat ini, rumpun atau galur ternak yang telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian ada sebanyak 83 ternak. Jika tim penilai menerima 6 usulan ini maka nantinya akan ada sebayak 89 ternak yang terdata dan ini akan menjadi pengembangan ternak yang cukup positif.

“Ternak-ternak hasil pelepasan galur atau penetapan rumpun tersebut harapannya akan menambah variasi galur dan rumpun ternak lokal Indonesia serta memberikan pilihan pada pembibit untuk pengembangan lebih lanjut,” jelas Nasrullah.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan kegiatan penilaian ini juga sebagai upaya pemerintah menjaga rumpun atau galur ternak. Ia memastikan hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus berupaya hadir dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya genetik ternak di Indonesia dan memanfaatkanya secara optimal dan masal.

“Kegiatan penilaian penetapan dan pelepasan rumpun atau galur ternak menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memberikan apresiasi kepada para pembibit, pemulia, dan para pengusul sehingga ternak dapat ditetapkan atau dilepaskan serta memberikan perlindungan hukum terhadap rumpun atau galur ternak tersebut,” tutur Mentan SYL.(hum/red)