Categories
Ekonomi

Badan Karantina Pertanian Akhirnya Melepas 1.619 Ton Produk Impor Hortikultura di Tiga Pelabuhan

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) akhirnya melepas 1.619 ton produk impor hortikultura yang berada di tiga pelabuhan, yakni Belawan, Tanjung Perak dan Tanjung Priok.

Sebelumnya, Barantan menahan sejumlah produk impor hortikultura berupa cabe kering, klengkeng, jeruk, anggur, apel yang berasal dari beberapa negara lantaran tidak adanya dokumen Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Diketahui penahanan produk-produk impor hortikultura tersebut dilakukan sejak tanggal 27 Agustus hingga 30 September 2022.

“Seluruh produk hortikultura ini telah melalui serangkaian tindakan karantina, dan dipastikan sehat dan aman. Tertahannya komoditas tersebut akibat tidak adanya dokumen Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH),” kata Kepala Barantan, Bambang, saat jumpa pers di Jakarta, Sabtu (1/10/2022).

Dijelaskan Bambang, RIPH merupakan dokumen yang diterbitkan oleh Dirjen Hortikultura dan digunakan sebagai perizinan impor komoditas hortikultura yang telah berlaku sejak diterbitkannya Permentan No. 39 Tahun 2019 dan tetap berlaku hingga saat ini. Penerbitan Permentan No. 05 Tahun 2022 tentang pengawasan RIPH adalah penugasan kepada Barantan untuk mengawasi seluruh produk impor hortikultura yang wajib RIPH sesuai dengan peraturan sebelumnya.

Menurut Bambang, serangkaian pengujian keamanan pangan yang tepat, yakni telah memiliki Certificate of Analysis (CoA) dari laboratorium yang teregistrasi sesuai Permentan 55 Tahun 2016. Selain itu dipastikan bebas dari hama dan penyakit yang berbahaya atau telah memiliki jaminan kesehatan media pembawa dengan telah adanya phytosanitary certificate (PC) dari negara asal.

“Jadi aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” tambahnya.

Anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Yeka Hendra Fatika mengapresiasi respon cepat Kementan melalui Barantan untuk menindaklanjuti rekomendasi ORI.

“Saat ini kami melihat ada dua Kementerian yang mengatur perizinan importasi hortikultura. Untuk itu saya berjanji akan menindaklanjuti guna mengharmoniskan ketentuan tersebut melalui Kementerian Koordinator Perekonomian,” kata Yeka, di Kantor Barantan Kementerian Pertanian.

Yeka juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengeluarkan beberapa butir rekomendasi yang harus dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait.

“Saya mengapresiasi Barantan atas pelepasan terhadap kontainer yang tertahan saat ini,” tambahnya.

Sementara Niken Ariati, Tim Stranas PK-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebutkan bahwa penahanan kontainer oleh Barantan berakibat kepada buruknya kinerja pelabuhan. Sebelumnya kinerja layanan Barantan dipelabuhan diakui terbaik dalam penilaian Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK). Untuk mencegah hal ini terjadi kembali maka KPK memerintahkan agar pelaksanaan regulasi ini diintegrasikan dalam sistem INSW dan NK.

“Kami telah memberikan waktu dua minggu, dan akan kami evaluasi,” beber Niken.

Categories
Ekonomi

Kementan Gandeng TNI-Polri Perkuat Pengawasan Karantina Pertanian dan Pangan

Koran Jurnal, Lembang — Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya memperkuat sektor pertanian terutama guna menghadapi dampak yang akibatkan sesudah virus corona atau covid 19 terhadap semua sendi kehidupan khususnya perekonomian. Salah satu akselerasinya yakni memperkuat pengawasan keamanan dan mutu pangan melalui Badan Karantina Pertanian dengan menggandeng TNI dan Polri.

“Kami hadir di Jawa Barat hari ini melakukan gerakan pengendalian diseluruh pengendalian airport dan pelabuhan yang ada untuk memastikan bahwa operasi terpadu antara jajaran pemerintahan yg diwakilakn Kepala Badan Karantina Pertanian bersmaa TNI dan Polri melakukan upaya-upaya pengawasan yang ada di seluruh Indonesia. Saya juga menyampaikan penghargaan dan ucapkan terima kasih kepada TNI dan Polri atas sinergi yang telah terjalin kuat,” kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat membuka gelar Pengawasan dan Penindakan Karantina Pertanian di Lembang, Selasa (16/06/2020).

Hadir dalam kegiatan ini Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kami, Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto, Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudy Sufahriadi dan Bupati Bandung Barat, Aa Umbara.

Syahrul mengungkapkan dalam gerakan pengendalian ini pun dilakukan pemusnahan atau penghapusan terhadap temuan-temuan yang berbahaya yakni di 50 lebih pelabuhan. Badan Karantina Pertanian mencatat bahwa sejak Januari hingga Juni 2020 telah melakukan penahanan, penolakan dan pemusnahan komoditas pertanian yang berbahaya dan ilegal asal luar negeri sebanyak 7.056 kali. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan periode sama di tahun 2019 yang hanya 3.841 kali.

“Saya kira ini penting agar betul-betul pintu keluar masuk kita bisa berfungsi lebih maksimal didalam menjaga berbagai komoditas yang masuk maupun keluar. Dengan demikian dalam kondisi aman sesuai norma norma penyelenggaraan komoditas yang ada,” paparnya.

Lebih lanjut Syahrul menegaskan gerakan pengawasan keamanan dan mutu pangan merupakan salah satu akselerasi dalam mempertangguh sektor pertanian guna menjawab pelemahan ekonomi pasca covid 19. Kementan melalui Badan Karantina bertugas mensortir semua lingkup komoditas apa saja yang masuk ke Indonesia dan juga mensortir agar tidak semua komoditas Indonesia yang dikirim keluar untuk diperdagangkan dan layak dikonsumsi.

“Oleh karena itu tugas ini memang kelihatannya sederhana tapi sebenarnya mengandung sebuah inti yang sangat sangat fundamental. Dapat dibayangkan kalau impor sebuah barang bibit yang dikirim masuk ke dalam negeri oleh siapa saja dan mengandung katakanlah mengandung virus yang berbahaya tidak dan saja virus corona, maka ini akan merusak kita semua. Oleh karena itu Karantina pertanian bersama TNI dan Polri kita bisa menjaga keluar masuknya penyakit,” tegasnya.

Syahrul menambahkan untuk menjamin keamanan dan meningkatkan ketahanan pangan, Kementan melalukan karantina pertanian yang baik melalui online sistem. Oleh karena itu sesudah covid 19 atau sesudah perlambatan-perlambatan yang lain diakibatkan covid 19, dipastikan nantinya akselerasi ini akan kembali muncul dengan baik.

“Saya ingin menyanpaikan hari ini bersama Gubernur Jawa Barat berbagai hal akibat dampak Covid 19, khususnya dalam mengakselerasi pertanian untuk menjawab kepentingan masyarakat lebih khususnya Jawa Barat, kita telah sepakat sama-sama mengakselerasinya. Kita sepakat untuk kompak melakukan upaya-upaya agar masyarakt tetap produktif walau hidup dalam kondisi baru atau kondisi normal sesudah covid 19 yang ada,” tuturnya.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memberikan acungan jempol terhadap kinerja sektor pertanian khusus di masa pandemi covid 19. Sebab, hasil penelitian Universitas Pajajaran menyatakan sektor ekonomi yang paling tangguh di seluruh dunia dan juga Indonesia adalah pertanian. Pertanian, peternakan, perikanan pokoknya semua yang terhubungan dengan alam itu ternyata tidak terpengaruh terlalu besar.

“Kemudian dari statistik Jawa Barat pak, orang yang terkena covid rata-rata orang kota, orang makin ke desa ke kabupaten itu covidnya juga makin sedikit. Karena covid ini penyakit kerumunan, makin padat potensi makin besar, makin tidak berkerumun makin sedikit,” ujarnya.

Ridwan mengatakan terobosan yang dijalan Kementan saat ini dan pasca covid 19 adalah sejalan dengan yang dikonsepkan bahkan sudah dijalan pemerintah Provinsi Jawa Barat. Yakni membangun digitalisasi pedesaan dan di sektor pertanian memperkuat teknologi pertanian berbasis teknologi 4.0.

“Nah itulah kenapa kami juga akan berkampanye pak menteri pasca covid para lulusan perguruan tinggi tidak usah ke kota-kota lagi, tinggal aja di desa tapi rejeki kota dan bisnisnya mendunia dan salah satu yang kita siapkan pak menteri adalah digitalisasi pedesaan. Kemudian teknologi pertanian memakai drone dan kami juga punya aplikasi bisa mengetahui antara pasar pertanian dengan tanah koordinat itu bagaimana bisa macing,” ucapnya.

“Selama ini petani hanya pakai feeling pak, yang lakunya kentang, dimana-mana nanam kentang. Padahal kemiringannya tidak cocok dan kualitas tanah tidak cocok. Aplikasi yang sedang kita bangun itu akan menginformasikan pasar dimana, produk pertanian yang lagi naik apa, dihubungkan dengan geografis lahan nanti dimacingkan dengan produk yang pas,” lanjut Ridwan.

Pemetaan Zona Rawan

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil memaparkan inovasi berupa pemetaan zona rawan untuk memperkuat pengawasan dilapangan oleh jajarannya. Ini salah satu upaya upaya untuk memitigasi resiko wilayah-wilayah yang selama ini menjadi entry points dari pangan dan komoditas pertanian ilegal masuk ke wilayah kita.

“Pemasukan pangan atau komoditas illegal atau tidak adanya jaminan pemenuhan aspek kesehatan dan keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Dan ini dapat berdampak negatif dalam upaya Kementerian Pertanian dalam membangun swasembada pangan,” paparnya.

Perlu diketahui, pada kegiatan ini Mentan Syahrul memberikan penghargaan atas dukungan operasional kepada Laksda TNI Didik Setiyono sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut, Mayjen TNI Bakti Agus Fadjari sebagai Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat dan Irjen Pol Drs. Erry Rudolf Nahak sebagai Asisten Kapolri Bidang Operasi.

Mentan Syahrul juga bersama Gubernur Jawa Barat, Pangdam III Siliwangi dan Kapolda Jabar menyaksikan secara daring patroli gabungan Kementan bersama pihak TNI dan POLRI di laut, darat dan penyeberangan serta pemusnahan komoditas pertanian impor ilegal dan berbahaya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Lepas Ekspor Produk Pertanian ke 43 Negara Secara Serentak

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat adanya peningkatan ekspor selama setahun terakhir. Peningkatan ini jumlahnya bahkan cukup signifikan, yakni 7,47 persen. Ini menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia, terutama saat adanya wabah corona.

“Dari tahun 2019 sampai Maret 2020, peningkatan ekspor kita mencapai 7,47 persen. Ini terjadi dari tahun lalu,” ujar Kepala Badan Karantina Kementerian Pertanian, Ali Jamil saat mendampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian di sembilan pintu utama pengiriman secara serentak, Kamis (30/04/2020).

Menurut Ali, peningkatan ekspor ini berasal dari empat subsektor unggulan seperti perkebunan, tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan. Dari keempatnya itu, peningkatan yang terjadi kurang lebih mencapai 12 triliun.

Berdasarkan catatan pertanian, peningkatan komoditas Hortikultura sebesar 30 persen, Perkebunan 26 persen, peternakan 16 persen dan peningkatan tanaman pangan sebesar 14 persen.

Ali mengatakan, peningkatan ini terjadi karena faktor barang yang diekspor tidak lagi dalam berbentuk barang mentah, akan tetapi sudah diolah menjadi makanan bermutu yang digemari masyarakat dunia.

“Artinya adalah, sekarang kita mengirim kelapa tidak hanya serabutnya saja, tetapi sudah diolah terlebih dahulu memjadi produk berkualitas. Untuk itu sekarang kita sedang mengarah ke industri pengolahan,” katanya.

Sekedar diketahui, ekspor di 9 pintu masuk pelepsaan ini dikirim ke 43 negara di Benua Asia dan Eropa. Sedangkan jumlah komoditas produk pertanuan yang dikirim jumlahnya kurang lebih sekitar 166 komoditas.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menambahkan bahwa sektor pertanian adalah solusi yang pasti untuk mencegah krisis darurat corona. Untuk itu, Mentan meminta kepada pelaku usaha pertanian agar tetap berproduksi dan menjalankan kewajibannya, yakni memenuhi pangan dalam negeri.

“Sepanjang Januari hingga Maret 2020 tercatat nilai ekonomi sebesar 100,7 triliun. Maka itu, sektor pertanian adalah solusi pasti, terutama di tengah keadaan seperti sekarang ini,” tutupnya.

Adapun pintu 9 pelepasan ekspor itu diantaranya Lampung, Soekarno Hatta, Semarang, Belawan, Surabaya, Tanjung Priok, Denpasar, Balikpapan dan Makassar. Pelepasan dilakukan secara daring dengan pengiriman sertifikat elektronik dari otoritas Karantina Pertanian Indonesia ke Belanda serta penandatangan kerjasama Barantan dengan Alibaba.com.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Siaga Covid-19, Karantina Pertanian Amankan Produk Pertanian Ilegal

Koran Jurnal, Jakarta – Meski saat ini Indonesia dilanda wabah virus corona (Covid-19), namun Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) terus melalukan peningkatan pengawasan terhadap lalu lintas pertanian dan produk turunannya.

Dari data pengawasan dan penindakan (wasdak) di bidang Kepatuhan Perkarantinaan tercatat selama triwulan I tahun 2020 sebanyak 2.657 kali penindakan penahanan, penolakan hingga pemusnahan. Terjadi peningkatan sebesar 28% dari periode yang sama di tahun 2019, yang hanya berjumlah 1.920 kali.

“Tindakan ini merupakan hasil pengawasan unit pelaksana teknis karantina pertanian diseluruh Indonesia bersama dengan aparat keamanan baik Polri, TNI dan instansi kepabeanan,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian di Jakarta, Minggu (12/04/2020).

Menurutnya, dalam melakukan kewasdakan pihaknya meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait. Ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan situasi serba terbatas ini, jelasnya.

Beragam Modus

Agus Sunanto, plt Kepala Pusaf Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan Barantan pada saat yang sama membeberkan beberapa modus penyelundupan yang berhasil digagalkan pihaknya.

Beragam modus, seperti penahanan 1.000 unggas terdiri dari 509 ayam, 506 burung asal Thailand yang diselundupkan menggunakan kapal KM Brahma. Ditemukan oleh Tim Patroli laut BC Kanwil DJBC Aceh, di perairan Aceh Tamiang (14/3). Kemudian diserahkan untuk di proses lebih lanjut oleh Karantina Pertanian Belawan (16/3).

Ada juga dari Karantina Tanjung Pinang yang mendapati 1 ekor bearded dragon beberapa ekor kura-kura sulcata dan pardalis yang dikemas sebagai makanan ringan dengan rencana tujuan Jakarta (9/4).

Dan yang baru saja terjadi di Surabaya berupa 223 burung endemis asal Sulawesi seperti manyar, reo-reo, perling, nuri kecil dan kolibri dari pelabuhan Makassar. Berhasil digagalkan oleh petugas Karantina Pertanian Surabaya bermodus disembunyikan di kabin truk di KM Daema Rucitra (9/4)

Semua kasus yang dapat membahayakan kelestarian sumber daya alam hayati ini akan diproses sesuai dengan UU 21/2019 tentang KHIT, pasal 35. Selanjutnya apabila terbukti melanggar, sanksi hukuman maksimal 2 tahun penjara dan denda paling banyak Rp. 2 milyar.

“Kami himbau masyarakat, untuk bersama kami turut menjaga. Mustahil kita bisa swasembada pangan bahkan ekspor jika hewan dan tumbuhan kita tidak sehat dan aman,” tukas Jamil.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Jamur Susu Harimau NTT Laris di Pasar Global

Koran Jurnal, Ende – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Karantina Pertanian Ende kembali mengapresiasi pelaku usaha di sub sektor hortikultura berupa jamur susu harimau yang telah berhasil meningkatkan volume ekspornya di pasar ekspor.

Jamur Susu Harimau, dengan nama latin Lignosus rhinocerus ini banyak dibudidayakan petani jamur di kabupaten Flores dan juga di kabupaten Lembata. Biasanya diekspor dalam bentuk kering dan digunakan di negara tujuan ekspor sebagai bahan baku obat herbal dan kosmetik.

“Produk lokal yang sudah memiliki pasar ekspor seperti ini yang harus kita dorong. Kedepan harusnya sudah bisa diekspor dalam bentuk ekstrak, pasta atau bahkan dalam bentuk jadi. Sehingga bisa memberi nilai tambah,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementan di Jakarta, Jum’at (10/04/2020).

Ia menegaskan Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) menaruh perhatian khusus untuk hilirisasi industri produk pertanian. Selain deregulasi aturan untuk mendorong iklim investasj yang dilakukan pemerintah, penyaluran pembiayaan usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga terus digencarkan.

“Saatnya kita melangkah lebih cepat, silahkan manfaatkan fasilitas ini. Harapannya dengan adanya hilirasi produk makin tinggi nilainya dan makin laris di pasar dunia,” tegas Jamil.

Lebih lanjut Jamil menegaskan bahwa guna memastikan potensi lokal dapat terus masuk pasar global, jajaran tetap memberikan layanan publik terbatas.

“Mematuhi protokol keselamatan kerja dan meningkatkan biosekuriti di ruang-ruang pelayanan,” tandasnya.

Tren Meningkat

Kepala Karantina Pertanian Ende, Yulius Umbu Hunggar menjelaskan permohonan sertifikasi karantina untuk ekspor jamur susu harimau di Karantina Pertanian Ende tercatat meningkat. Sebanyak 2,1 ton dengan nilai ekonomis Rp 1,98 miliar tercatat untuk permohonan ekspor di triwulan pertama tahun 2020. Hal ini meningkat sebanyak 12% pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

“Bisa jadi karena permintaan terhadap bahan baku obat herbal meningkat di dunia akibat pandemi Covid-19. Cina paling besar meminta komoditas ekspor ini,” jelasnya.

Yulius juga menjelaskan saat ini ekspor di NTT belum dapat dikirim secara langsung, melainkan melalui Denpasar atau Surabaya. Kendala transportasi menjadi salah satunya dan saat ini pihaknya bersama instansi terkait mendorong dibukanya akses ekspor langsung dari Ende.

“Dukungan pemerintah daerah yang baik, serta kerja sama petani dan juga pelaku usaha yang sinergis akan dapat meningkatkan volume dan pasar ekspor yang terus berkelanjutan. Semoga dalam waktu dekat dapat kita realisasikan bersama ekspor langsung dari Ende,” terangnya.

Perlu diketahui, menurut Vicky Fernando Walelang, petani jamur asal Lembata saat datang mengajukan permohonan periksa karantina bahwa produktivitas jamur ini semakin baik di musim hujan.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan dan RRT Sepakat Perbaharui Protokol Kerjasama terkait Ekspor Komoditas Pertanian

Koran Jurnal, Jakarta – Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melakukan penandatangan perbaharuan protokol kerjasama untuk ekspor berbagai komoditas Pertanian ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT), di Ruang Pola, Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (27/11/2019).

Berdasarkan data pada sistem automasi perkarantinan, IQFAST secara nasional di tahun 2019 tercatat peningkatan tren ekspor berbagai komoditas meningkat seperti Salak sebesar 57,4%. Yakni di tahun 2019 hingga bulan November sebanyak 1.385 ton lebih tinggi dibanding tahun 2018 yang hanya 880 ton.

“Saat ini, Salak menjadi salah satu buah-buahan yang saat ini popular di pasar ekspor, dan Tiongkok merupakan pasar terbesar setelah Kamboja, “kata Kepala Barantan, Ali Jamil saat di temui di sela-sela pertemuan dengan Wakil Menteri General Administration of Customs o the People’s Republic of China (GACC), Zhang Jiwen.

Menurut Jamil, protokol buah salak yang telah ditandatangani pada tahun 2013 dan akan berakhir di tahun 2019, untuk itu penandatangan kerjasama guna menfasilitasi ekspor salak ke Tiongkok menjadi sangat strategis. Tren ekspornya juga meningkat, dari 69,7 ton pada tahun 2018 menjadi 77,6 ton hingga November tahun 2019.

Sama dengan protokol ekspor sebelumnya, salak yang akan diekspor ke pasar Tiongkok harus berasal dari kebun yang sudah teregistrasi dan dikemas pada packing house yang juga teregistrasi. Dengan penandatangan perbaharuan masa protokol ekspor untuk buah salak Indonesia ke Tiongkok maka dipastikan untuk masa 5 tahun kedepan, buah salak yang telah memenuhi persyaratan dapat terus melapak di pasar Tiongkok.

Selain Salak, Protokol Ekspor Buah Lain Juga Dikebut

Selain fasilitasi pasar ekspor salak, kerangka kerjasama Indonesia-Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga membahas fasilitasi ekspor produk pertanian lainnya, yakni buah naga, buah nanas, sarang burung walet (SBW) serta ekspor produk peternakan.

“Ini sesuai dengan arahan Presiden RI melalui Menteri Pertanian. Untuk mengawal ketat akselerasi ekspor, salah satunya perluasan pasar. Kita akan kebut pembahasan harmonisasi aturannya. Insya Allah dapat segera terealisir, Tiongkok adalah salah satu pasar strategis produk pertanian kita,” terang Kepala Barantan.

Masih menurut Jamil, bahwa berdasarkan data dari neraca perdagangan sektor pertanian RI-RRT tahun 2018, secara umum Indonesia berada pada posisi surplus sebesar 1,5 juta US Dollar.

Adapun komoditas dengan jumlah terbesar baik secara tonase maupun nilai ekonomi masing-masing kelapa sawit, karet, kelapa, kakao, kulit dan jangat, manggis, lemak, kacang hijau, pisang dan kopi.
K

Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Barantan AM Adnan yang turut mendampingi pada acara penandatangan kali ini menyampaikan bahwa untuk protokol ekspor buah naga dari Indonesia ke RRT telah ditandatangani pada bulan April 2019 di Beijing, RRT.

Untuk mendorong percepatan realisasi ekspor buah naga, pihak RRT berkomitmen mengirimkan tim ahli GACC untuk melakukan kunjungan audit di kebun packing house buah naga di Banyuwangi pada saat musim panen buah naga di bulan Desember 2019. Hasil dari kunjungan audit ini akan mendukung proses ekspor buah naga ke RRT.

Sementara, untuk akses pasar untuk buah nanas, surat permohonan akses pasar buah nanas dari Indonesia ke RRT telah disampaikan sejak 2016. “Barantan mengharapkan proses analisa resiko penyakit atau Pest Risk Analysis ekspor buah nenas dapat segera diselesaikan sehingga protokol ekspornya dapat segera ditandatangani antar negara,” jelas Adnan.

Untuk akses pasar SBW dan status pendaftaran 15 perusahaan SBW Indonesia yang tertunda selama ini akan ditindaklanjuti oleh pihak GACC.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Wabah ASF Tengah Merebak di Asia, Kementan Memperketat Pintu Masuk Barang dan Orang

Koran Jurnal, Jakarta – Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, OIE (Organization Internationale des Epizootics) merilis penyebaran wabah penyakit pada hewan babi atau African Swine Fever (ASF) di Timor Leste pada bulan September 2019. Hal ini menggenapkan kondisi terkini penyebaran wabah ASF di benua Asia. Dimulai pada bulan Agustus 2018 dari Cina, lanjut Mongolia (Januari 2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (Maret 2019), Hongkong (Mei 2019), Korea Utara (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2019) dan menyusul Filipina dan Korea Selatan.

“Peta penyebaran cukup masif dan sudah sangat dekat dengan wilayah kita. Hari ini kita lakukan langkah antisipatif,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), saat memberi arahan pada temu koordinasi pengawasan dan pencegahan penyakit ASF pada hewan babi ke Indonesia di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (30/09/2019).

Menurut Jamil, penyakit yang menyerang babi ini telah mewabah juga dibelahan benua lain, terutama yang memiliki banyak populasi babi. Dimulai dari benua Afrika di tahun 1921 yakni Kenya dan terus mewabah hingga menjadi endemik di sebagian sub-sahara Afrika termasuk pulau Madagaskar dan meluas ke benua Eropa.

Potensi penyebaran ASF ke Indonesia sangat cepat, karena itu kami lakukan antisipatif untuk mewaspadainya, tambahnya.

ASF yang disebabkan oleh virus DNA genus Asfivirus, familia Asfaviridae ini berakibat pada kesakitan atau morbiditas dan kematian atau mortalitas pada ternak babi hingga dapat mencapai tingkat 100%.

Dalam aturan perkarantinaan Indonesia, penyakit hewan eksotik dan termasuk dalam hama penyakit hewan karantina golongan I berdasarkan Kepmentan No. 3238/2009 atau termasuk dalam penyakit hewan eksotik atau penyakit hewan yang belum ada di Indonesia.

Begini Penyebaran ASF

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Barantan, drh Agus Sunanto yang hadir mendampingi Kepala Barantan menjelaskan bahwa penyebaran virus ASF dapat melalui daging dan atau produk daging babi yang diproses dengan pemanasan yang tidak cukup. Juga melalui sisa-sisa katering dan sisa makanan bawaan penumpang dan awak alat angkut transportasi internasional baik moda kapal laut ataupun pesawat udara yang diolah dan dijadikan sebagai campuran pakan bagi (swill feeding).

ASF juga dapat ditularkan melalui manusia, seperti petugas kesehatan hewan dan perlengkapannya seperti sepatu, baju dan lainnya di peternakan babi yang berasal/berkunjung dari negara wabah/tertular yang terkontaminasi. Sisa-sisa katering transportasi internasional (laut dan udara), serta orang yang terkontaminasi virus ASF dan kemudian kontak dengan babi di Indonesia juga harus diwaspadai, tegas Agus.

Ancaman ASF bagi Sosio-Ekonomi Indonesia

Jamil menuturkan, mewabahnya penyakit ASF di dua benua ini dapat berdampak pada aspek sosial dan ekonomi di Indonesia. Kematian akibat ASF akibat virus (virulensi moderate) 30-70% populasi bahkan mencapai 100% pada virus yang virulensinya tinggi. “Apabila 30% saja menyebabkan kematian maka kerugian dapat mencapai Rp. 7,6 T,” kata Jamil.

Jamil menjelaskan untuk memenuhi konsumsi bagi masyarakat khusus, peternakan babi tersebar di beberapa daerah bahkan diantaranya merupakan salah satu pemasok utama bagi pasar Singapura.

Berdasarkan data IQFast tahun 2018, ekspor babi hidup dari Indonesia sebesar 279.278 ekor. Selain babi hidup, Indonesia juga mengekspor daging babi olahan sebanyak 613 kg. Nilai ekonomi ekspornya tercatat hingga Rp. 838 miliar dengan masing-masing babi hidup senilai Rp 837,8 miliar dan daging babi olahan Rp 122,6 juta,

“Status kesehatan hewan dan tumbuhan sangat menentukan untuk persyaratan ekspor komoditas pertanian, Ini akan berdampak hilangnya pasar ekspor dan potensinya,” tegas Jamil.

Data IQFAST 2018 juga mencatat sebanyak 285.315 peternak rakyat untuk hewan babi di Indonesia dapat kehilangan mata pencahariannya jika penyakit ini masuk ke Indonesia. Dengan estimasi keuntungan bersih peternak sebanyak 30% dari berat hidup maka pendapatan peternak sebesar Rp 256 M terancam hilang. Selain itu, produksi daging babi secara nasional pada tahun 2018 yaitu 327.215 ton. 50% produksi dipasarkan didalam negeri dengan nilai mencapai Rp 4,9 T. “Ini mengkhawatirkan, karena akan mengakibatkan hilangnya salah satu sumber protein bagi sebagian masyarakat khusus kita,” kata Kabarantan.

Selain dampak ekonomi, Jamil menambahkan akan berdampak pada biaya program pengendalian penyakit ASF yang sangat mahal. Kontrol lalu lintas, Kontrol vektor, Biosecurity, Monitoring dan Surveilans dan Sosialisasi. Belum lagi terancamnya rusak dan punahnya plasma nutfah asli Indonesia, yaitu babi lokal Indonesia seperti jenis babi Jawa berkutil (Sus verrucosus), babi Kalimantan (Sus barbatus), babi Sulawesi (Sus celebensis) dan Babirusa (Babyroussa babyrusa).

Langkah Antisipasi Cegah Penyebaran ASF di Indonesia

Jamil melanjutkan, pemerintah telah menetapkan kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF sejalan dengan perundang-undangan yang berlaku.

Pihaknya juga telah melakukan pemusnahan terhadap produk babi dan olahannya yang berasal dari negara wabah serta melakukan pengambilan sampel produk babi dan olahannya sebelum dimusnahkan untuk dilakukan uji laboratorium deteksi material genetik ASF dalam rangka kewaspadaan dini dan mitigasi risiko.
Kerjasama dan sosialisasi dengan instansi terkait juga telah dilakukan pengawasan penumpang dan barang bawaannya (Ditjen Bea dan Cukai, AVSEC). Selain itu dilakukan penanganan sampah karantina yaitu sisa katering, sisa makanan penumpang dan awak alat angkut (Otoritas Bandara/Pelabuhan, Angkasa Pura/Pelindo) mengacu pada Pedoman Kabarantan No. 2734 tahun 2018 tentang Pedoman Tindakan Perlakuan dan Pengawasan Pemusnahan Media Pembawa Lain yang diturunkan dari Pesawat udara.

Sementara itu, Barantan juga lakukan pengetatan pengawasan di tempat-tempat pemasukan yang belum ditetapkan bersama Polisi, TNI, dan Ditjen Perhubungan Laut serta peningkatan pengawasan di Pos Lintas Batas bersama BNPP, TNI, dan tim Satgas.

“Penerapan biosekuriti merupakan strategi dalam mencegah penyebaran ASF di peternakan babi di Indonesia. Dan yang paling utama adalah peran serta masyarakat untuk berhati-hati saat melalulintaskan hewan ini, laporkan kepada petugas kami,” pungkas Jamil.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Kementan Kawal Ekspor Sarang Burung Walet Jawa Tengah

Koran Jurnal, Semarang – Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengajak para pelaku usaha sarang burung walet (SBW) di Jawa Tengah untuk meningkatkan kualitas produksinya agar dapat mengambil peluang ekspor komoditas ini yang cukup besar.

“Kita tahu potensi sarang burung walet kita sangat luar biasa. Apalagi negara kita merupakan habitat utama yang paling cocok dengan perkembangbiakan walet. Indonesia adalah pemasok terbesar pasar global, bahkan sampai 78 persen,” ujar Ali Jamil saat melepas ekspor SBW asal Jawa Tengah sebanyak 181 kg tujuan Tiongkok di Kantor Karantina Pertanian Semarang, Rabu (21/08/2019).

Jamil juga menambahkan bahwa ekspor sarang burung walet Indonesia tahun 2018 bisa mencapai Rp 40 triliun. Ini potensi besar dan telah terbukti menghasilkan devisa. Dan tata niaganya akan terus dikawal agar dapat terus bertumbuh dan memenuhi peluang pasar ekspor yang ada.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang turut hadir dan melepas ekspor, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Kementan  yang telah memberikan layanan khusus pada komoditas pertanian asal wilayah kerjanya untuk dapat diekspor ke mancanegara.

Ganjar  juga mengapresiasi para eksportir yang sudah melakukan upaya agar komoditas pertanian Jateng bisa tembus pasar Internasional.

Pada saat membuka dialog kepada para eksportir yang hadir khususnya tentang hambatan yang dialami. Joko eksportir walet ke Tiongkok, mengeluhkan tidak adanya penerbangan langsung dari Semarang ke Tiongkok.

Ganjar mengajak Joko dan eksportir walet serta komoditas lainnya tujuan Cina untuk berkoordinasi dan mendata potensi yang ada. Jika cukup banyak, ia akan  melobi pihak maskapai untuk membuka penerbangan langsung dari Semarang ke Tiongkok.

Tidak hanya melepas SBW, Kepala Barantan dan Gubernur Jateng  juga melepas perdana ekspor produk samping tepung gandum berupa biskuit sebanyak 300 ton ke Bangladesh. Negara tujuan ekspor ini mempersyaratkan adanya jaminan kesehatan dan keamanan dari otoritas Karantina pertanian Indonesia.

Sementara, produk pertanian lain yang juga  diekspor pada saat yang sama adalah daun cincau kering (jelly grass) sebanyak 28 ton tujuan Malaysia, gula merah 35 ton tujuan Srilangka, ijuk (brooms grass) sebanyak 18 ton tujuan Tiongkok, margarine sebanyak 23 kg tujuan Banglades.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Lepas Ekspor Komoditas Pertanian Senilai Rp 1,1 Triliun

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kembali melepas ekspor produk pertanian sebanyak 10,5 ribu ton yang nilainya mencapai Rp 1,1 triliun langsung di tempat pemeriksaan fisik terpadu CDC Banda, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (06/08/2019). Produk pertanian yang diekspor ini berjumlah 80 jenis komoditas yang dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno Hatta.

Amran menegaskan ekspor tersebut merupakan bentuk nyata revolusi nyata di sektor sehingga hasilnya ekspor naik 100 persen dan investasi naik 110 persen. Dengan demikian, total kenaikan ekspor rata-rata 2,4 juta ton per tahun dan tercatat sejak pemerintahan Jokowi-JK, ekspor naik 9 juta ton. Tahun 2013, total ekspor hanya 33 juta ton, namun di tahun 2018 mencatat nilai tertinggi yakni 42,5 juta ton dan tahun 2019 ditargetkan naik minimal 45 juta ton.

“Atas arahan Bapak Presiden Jokowi, hari ini kita melakukan revolusi mental yang nyata di sektor pertanian. Kita ekspor komoditas pertanian senilai Rp 1,1 triliun, salah satunya kapas ke Argentina. Dua minggu lalu kami berkunjung ke Argentina, diterima langsung oleh Presiden Argentina dan beberapa menteri. Melakukan lobi-lobi khusus, kami mempromosikan komoditas unggulan Indonesia. Hari ini kita ekspor kapas ke argentina. Ini buah dari lobi kita ke argentina,” demikian tegas Amran saat melepas ekspor.

Amran menjelaskan keberhasilan dalam memacu ekspor pertanian, kuncinya adalah dari keberhasilan merubah sistem. Kementan telah menerapkan pengurusan dokumen ekspor melalui Online Single Submission (OSS) dan mengambil langkah cepat untuk mendorong ekspor produk pertanian dengan penggunaan sertifikat elektronik (e-Cert) serta menggunakan peta komoditas ekspor produk pertanian i-MACE (Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export).

“Di mana dulu pengurusan ekspor relatif sulit, tapi sekarang dengan OSS dan i-Mace yang diluncurkan Badan Karantina dapat memetakan potensi daerah yang memiliki komoditas berkualitas ekspor, mendorong generasi muda melakukan ekspor, petugas Karantina terjun langsung ke lapangan guna melakukan pengecekan, tidak ada pungli dan penerapan e-cert. Di era digital 4.0 ini, akselerasi ekspor ini harus kita dorong,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Amran, untuk menjamin keberhasilan akselerasi ekspor, pihaknya telah perintahkan Badan Karantina sebagai pelayan eksportir. Namun demikian, yang terpenting dilakukan yakni membangun sistem dengan memetakan potensi, edukasi, mempermudah eksportirnya dengan tidak ada pungli agar semakin bergairah. Setelah dibangun sistem, yang dilakukan adalah akselerasi atau percepatan ekspor.

“Kami yakin dengan sistem yang kita bangun sekarang, komoditas pertanian Indonesia semakin berkompetisi denga negara-negara lain. Kalau ada yang main di kementerian, aku pecat. Tidak ada kompromi,” ucapnya.

Di tempat yang sama, eksportir Kapas, Kudin Heldinata mengatakan pengurusan dokumen ekspor komoditas pertanian di er pemerintahan Jokowi-JK sangat cepat dan tidak ada biaya-biaya pungli. Alhasil, komoditas yang diekspor cepat sampai ke negara tujuan.

“Ini semua bisa terjadi karena di era pemerintahan Jokowi melakukan perbaikan sistem. Sebelumnya mengurus dokumen ekspor sangat susah dan butuh waktu yg lama,” ujarnya.

Inovasi Layanan untuk Mendorong Ekspor

Kepala Badan Karantina, yang diwakili oleh Sekretaris Badan, Arifin Tasrif menuturkan untuk mendorong ekspor komoditas pertanian, Badan Karantina Pertanian telah melakukan berbagai program dan inovasi di antaranya program Agro Gemilang atau kepanjangan dari Ayo Galakkan Ekspor Komoditas Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa yaitu berupa gerakan bersama untuk mendorong tumbuhnya eksportir baru komoditas pertanian, berupa pelatihan pemenuhan persyaratan SPS negara tujuan ekspor. Selain itu, Barantan juga melakukan terobosan berbagai inovasi seperti peta komoditas pertanian ekspor Indonesia atau iMace untuk pemerintah daerah sebagai upaya pembinaan dan pengembangan berbagai komoditas pertanian diwilayahnya dengan berbasis kawasan.

“Inovasi lain dari Barantan berupa InLine Inspection, yaitu percepatan ekspor melalui pelatihan, pembinaan dan sertifikasi eksportir dalam rangka memenuhi persyaratan karantina negara tujuan. Ada juga inovasi draft phytosanitary, inovasi ini terbukti efektif mengurangi kesalahan dalam pemenuhan sertifikat karantina,” beber Arifin.

Perlu diketahui, komoditas yang dikirim lewat Pelabuhan Tanjung Priok di antaranya berupa bulu bebek sebanyak 52,3 ton senilai Rp. 3,2 miliar tujuan vietnam dan asinan salak 12 ton senilai Rp 240 juta tujuan Malaysia dan gaharu sebanyak 2 ton senilai Rp 97 juta ke Arab Saudi, teh ke USA dan Rusia sebanyak 30,5 ton senilai Rp. 1,8 miliar, kapas ke Argentina 18,8 ton senilai Rp 1,056 miliar, bubuk coklat 10,5 ton senilai Rp 150 juta tujuan Vietnam.

Komoditas yang akan dikirim lewat Bandara Soekarno Hatta diantaranya berupa manggis, mangga, salak (buah) sebanyak 900 kg senilai Rp 75 juta ke UEA, sarang burung walet sebanyak 183 kg senilai Rp. 3,7 milyar dan vaksin 28.930 vial senilai Rp. 542,3 milyar.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Ekspor Komoditas Pertanian dalam Bentuk Olahan

Koranjurnal.co.id, Pontianak – Bertumbuhnya ekspor biji pinang dari Kalimantan Barat (Kalbar) membuat Kementerian Pertanian lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) mendorong agar adanya investasi pengolahan biji pinang baik menjadi produk setengah jadi maupun produk akhir. Hal tersebut karena agar margin keuntungan yang didapatkan lebih tinggi.

“Ekspornya terus meningkat, ada negara tujuan baru, perlu kita apresiasi, tapi ya itu harus diolah supaya optimal,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian saat melepas ekspor 162 ton biji pinang ke Thailand di Pontianak, Kamis (18/07/2019).

Jamil menyebutkan bahwa dari data sistem otomasi Barantan IQFAST, beberapa komoditas di Pontianak juga merambah negara baru. Seperti komoditas aquatic plant dan kelapa parut kering terjadi penambahan negara tujuan seperti ke negara Maldives, Polandia, UK, Singapura dan Brunei.Ia yakin bahwa eksportasi pinang dari Kalbar akan meningkat 200%, pada tahun 2018 yang tercatat eksportasi 3.643,21 ton, sedangkan periode Januari hingga Juni 2019 eksportasi biji pinang dari Pangkalpinang sudah mencapai 3.301,98 ton atau sebesar 90,63% dari target tahun lalu. Pasar biji pinang cukup luas meliputi negara India, Bangladesh, Iran, Afganistan, Tiongkok dan Myanmar. Menurut Jamil, selama ini eksportir di Indonesia mengekspor biji pinang dalam bentuk mentah ke berbagai negara tujuan tersebut. Dinegara tujuan, biji pinang asal Kalbar ada yang dikonsumsi namun juga sebagian besar diolah kembali menjadi produk atau bahan pembuat kosmetika dengan merek luar.

“Kalau kita lihat, ini kita rugi. Kita yang susah susah nanam, mengeringkan dan seterusnya tapi negara lain yang dapat nama, belum perhitungan marginnya. Makanya ayolah, bagaimana ini bisa kita olah dulu baru kita ekspor,” ungkap Jamil.Selain biji pinang, ekspor kelapa dari Kalbar juga masih banyak dalam bentuk kelapa bulat hal itu karena perusahaan pengolahan kelapa kering masih terbatas di Kalbar. Dari informasi yang ada, jumlah perusahaan baru ada dua dan kapasitasnya belum mampu menyerap seluruh kelapa bulat yang dihasilkan oleh petani.Menurut Jamil, Kementan lewat 5 kebijakan strategisnya dalam mendorong ekspor harus didukung bersama. Lima kebijakan tersebut meliputi mendorong pertumbuhan eksportir baru, menambah ragam komoditas ekspor termasuk mengolahnya menjadi barang setengah jadi atau produk akhir, meningkatkan frekuensi pengiriman, menambah negara mitra dagang dan meningkatkan volume ekspor. Secara langsung Barantan mengambil posisi pada penambahan negara tujuan melalui kerja sama perjanjian SPS (sanitary and phytosanitary) dengan negara mitra. Sedangkan program lainnya Barantan mendorong serta memfasilitasi kerja sama baik dengan kementerian atau lembaga lain juga dengan melakukan inovasi pelayana seperti lewat IQFAST (Indonesia Quarantine Full Automation System), iMace (Indonesia Map of Agricultural Commodities Export) dan e-Cert atau electronic certificate. Dan untuk mendorong pertumbuhan eksportir baru, Barantan pendampingan bimbingan teknik pemenuhan persyaratan teknis ekspor dalam program Agro Gemilang, Ayo Galakkan Ekspor produk pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa.Lebin lanjut, Jamil menjelaskan bahwa ekspor via Kalbar khususnya Pontianak pada tahun 2018 volumenya tidak kurang dari 328.124,13 ton. Lima komoditas unggulan ekspor dari Pontianak diantaranya kelapa bulat dan parut tujuan Tiongkok, Mauritius, Argentina, Turki, Afrika Selatan, Jerman, Inggris, Rusia, Yunani dll dengan total ekspor tidak kurang dari 65.006,09 ton. Lada biji tujuan Turki, India, Kanada, Tiongkok, Swis dan Vietnam dengan total ekspor sebanyak 5.358,16 ton. Sementara biji pinang banyak dikirim ke India, Bangladesh, Iran, Afganistan, Tiongkok dan Myanmar dengan volume total ekspor 3.643,21 ton. Untuk karet lempengan tujuan Amerika, India, Turki, Tiongkok, Meksiko, Turki, Vietnam dan Paakistan dengan volume total ekspor 91.832,24 ton. Palm Kernel Expeller juga menjadi komoditas yang lKu dipasaran Vietnam, Thailand dan Hongkong, dengan total ekspor 150.467,99 ton.Kepala Barantan menambahkan bahwa selain lima komoditas unggulan tersebut, pada 2018, Pontianak juga mengekspor beberapa komoditas unik yang bisa menjadi peluang baru pasar ekspor. Diantaranya tanaman aquarium (aquatiq palnt) yang diekspor ke Jepang, Korsel, Singapura, Amerika, Prancis, Inggris, Belanda, Denmark dan negara lainnya dengan total volume ekspor 363.407 batang. Sedangkan mengkudu diekspor ke Korsel dan Taiwan sebanyak 12,3 ton. Selain itu, ada juga ekapor daun kelapa sawit kering dengan negara tujuan Amerika, Hongkong dan Malaysia, yang telah diekspor sebanyak 22,53 ton. Sapu Lidi juga menjadi komoditas ekspor tujuan India, Pakistan dan Malaysia, dengan bolume ekspor 749,19 ton. Nipah juga merupakan komoditas ekspor dengan tujuan India dan Pakistan, dengan total pengiriman sebanyak 225,6 ton. Dan komoditas sarang walet yang pengirimannya baru mencapai 113,65 kg pada 2018.Selain melepas ekspor biji pinang, Kepala Badan Karantina Pertanian juga melepas bernagai komoditas pertanian lainnya seperti karet tujuan Tiongkok dan India sebanyak 665,58 ton, kelapa bulat tujuan Tiongkok sejumlah 1.239,43 ton, 224,45 ton lada biji tujuan Tiongkok serta palm kernel expeller diekspor ke Vietnam, Thailand dan Jepang dengan volume 4.320 ton. Perkiraan total nilai ekspornya adalah Rp. 36,77 Milyar.Jamil juga mendorong agar pemerintah daerah mampu memgoptimalkan program akselerasi ekspor tersebut. Ia menyarankan agar pemerintah daerah bisa menggunakan aplikasi iMace yang sudah diberikan oleh Kementan untuk memetakan dan mengambil kebijakan yang positif terkait pengembangan komoditas ekspor di wilayahnya.

“Investasi ini penting, yuk yang muda-muda kita coba garap bersama, supaya kita bisa mandiri dan petani juga lebih sejahtera,” pungkasnya.(hum/red)