Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Yasin Limpo Ingin Vaksin Unggas Kita Mendunia

Koran Jurnal, Bogor – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyatakan keinginannya untuk mengembangkan inovasi dan teknologi vaksin unggas yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Saya berharap nantinya kita dapat mengintervensi dunia, tidak hanya memanfaatkan vaksin dari luar, tetapi juga mampu menciptakan vaksin kesehatan hewan sendiri bahkan dapat dimanfaatkan oleh negara lain, untuk meningkatkan kesehatan unggas, sehingga populasi dan produksinya akan lebih baik,“ ujar Syahrul dalam acara Launching Inovasi dan Teknologi Kesehatan Unggas Veteriner, di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balitbang, Kementerian Pertanian, Bogor (05/12/2019).

Mentan Syahrul menyebutkan bahwa program Kementerian Pertanian dalam bidang peternakan salah satunya adalah mengembangkan dan meningkatkan populasi ayam kampung, terutama jenis petelur melalui pemberdayaan masyarakat.

“ Tentunya kita berharap populasi ternak semakin berkembang, namun akselerasi dan perkembangan yang cepat juga rentan terhadap berbagai hama, virus dan penyakit, untuk itu kita harus dapat memgantisipasinya secara tepat,“ ucap Syahrul.

Lebih lanjut Mentan Syahrul menyebutkan bahwa melalui inovasi dan teknologi yang dihasilkan BB Litvet kita dapat mengantisipasi segala masalah dan tantangan terkait kesehatan hewan mengingat ancaman virus global saat ini semakin banyak.

“ Kita perlu melakukan penelitian dan riset yang baik terhadap segala permasalahan kesehatan hewan, para ahli peneliti dan dokter hewan kita cukup hebat dan tidak kalah saing dengan negara lain, “ ujar Syahrul

Dalam peluncuran inovasi teknologi untuk kesehatan unggas, BB Litvet berhasil meluncurkan beberapa vaksin, antara lain: vaksin unggas, yaitu vaksin avian influenza bivalen, vaksin avian influenza kombinasi HPAI dan LPAI, dan vaksin ND GTT 11, serta teknologi diagnosa kit ELISA DIVA yang digunakan untuk membedakan hasil vaksinasi dan infeksi avian influenza.

“ Nantinya vaksin kita juga terbuka untuk para pengusaha dan investor yang ingin berinvestasi, kalau perlu kita akan melakukan diplomasi perdagangan dengan negara lain terhadap vaksin yang kita miliki,“ tegas Syahrul.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan SYL dan Gubernur Jatim Lepas Ekspor 110 Ton Komoditas Pertanian Senilai 2 Miliar

Koran Jurnal, Surabaya – Komitmen Kementerian Pertanian mendorong ekspor tiga kali lipat nampaknya semakin terwujud. Hal tersebut dibuktikan dengan dilepasnya ekspor komoditas pertanian ke tiga negara tujuan antara lain Brazil, Italia, dan Singapura yang langsung dilepas Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Gubernur Jawa Timur, Hj Khofifah Indar Parawansa di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Senin (02/12/2019).

Pelepasan Ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Perak ini sebanyak 110 ton senilai Rp 2 Miliar, terdiri dari pupuk Organik 54 ton senilai Rp 108,6 juta dengan negara tujuan Singapore, Bunga Cengkeh 10 ton senilai Rp. 877,8 juta tujuan Brasil, Biji Kopi Robusta 46 ton senilai Rp 1,02 miliar tujuan Italia.

Mentan SYL mengatakan dengan dilepasnya ratusan ton komoditas pertanian ini membuktikan bahwa ekspor merupakan ruang yang cukup bagus untuk memfasilitasi berbagai komoditas yang ada di Indonesia sehingga bisa dikenal dan dinikmati oleh negara luar. Ekspor ini merupakan gerakan yang sesuai dengan ajakan sekaligus instruksi Presiden Jokowi untuk menggiatkan ekspor dan investasi.

“Hari ini dengan segala kebanggaan saya bersama Gubernur Jawa Timur telah membuktikan ekspor kita memiliki ruang yang cukup bagus untuk menjadi bagian yang mengenergi ekonomi kita dan memfasilitasi berbagai komoditi yang kita miliki,” ujarnya dalam acara pelepasan ekspor tersebut.

Mantan Gubernur Sulsel ini juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama Gubernur Jatim berkomitmen mendorong seluruh eksportir bisa berakselerasi lebih tinggi lagi. Kementan bersama kementerian terkait, pemerintah daerah dan stakeholder lainya membangun Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Grati-Eks) pertanian yang dilakukan secara bertahap, terukur, terencana pada kurun waktu 4 tahun mendatang secara bersama-sama.

“Grati-Eks, merupakan ajakan kepada seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian untuk bekerja dengan cara yang tidak biasa.Bekerja dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, jejaring dan kerjasama yang kuat,” jelasnya.

“Jatim memiliki segalanya. Saya bersama Ibu Gubernur berkomitmen mendorong seluruh eksportir kita bisa akselerasi lebihnya tinggi. Dan hari ini kita buktikan dengan melepas komoditas pertanian dengan nominal Rp800 miliar,” pintanya.

Selain itu, SYL menegaskan dengan dilepasnya ekspor komoditas pertanian ini menjadi salah satu keyakinan bahwa kedepan ekspor bisa ditingkatkan lagi sampai 100 persen. Ini menjadi pemantik agar terus meningkat kualitas komoditas pertanian berkualitas sehingga target tiga kali lipat eksport bisa tercapai.

“Seperti yang selalu diingatkan Bapak Presiden, saat ini kita tengah memasuki era kompetisi antarnegara yang semakin sengit. Kita tidak boleh berhenti berkreasi dan berinovasi. Saya mengajak para pelaku usaha Jawa Timur untuk memberi masukan agar kita mampu menggenjot ekspor, mencapai target kita bersama,” tegasnya.

“Dan saya berharap, kepada seluruh dunia usaha agribisnis dengan potensi dan iklim yang telah terbangun ini dapat terus ditingkatkan. Tiga kali loncatannya dalam 5 tahun kedepan,” sambungnya.

Lebih lanjut SYL mengungkapkan penolakan Notification of Non Compliance (NNC) sangat kecil dari negara tujuan komoditas yang berasal dari pelabuhan di Jawa Timur merupakan sebuah tanda bahwa pemerintah dan seluruh jajaran di Jawa Timur telah berkejar dengan maksimal dan kompak. Artinya, Karantina Pertanian telah bekerja dengan benar dan kompak sehingga melalui pintu Jatim, Pelabuhan Tanjung Perak penolakan dari negara tujuannya sangat kecil ini akan terus ditingkatkan.

“Saya berharap ekspor di Jatim semakin lancar dan tidak terjadi kendala yang membuat urusan ekspor di Jatim terhambat. Tentu sajak harapan kita makin lancar dipelabuhan dan tidak terjadi kendala yang membuat kita ribet urusan dengan ekspor. Dan Jatim menjadi contoh pelabuhan di Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar parawansa mengatakan mobil ekspor yang dimiliki Badan Karantina Pertanian sebagai terobosan akselerasi ekspor akan membantu para produsen sekala menengah bisa terkonsolidasikan. Sebab tak semua terkonfirmasi apa saja persyaratan ekspor.

“Makanya proses literasi dan edukasi yang masif akan membuka harapan seperti pak menteri sampai kan tiga kali lipat ekspor,” ujarnya.

Karenanya, mantan Menteri Sosial ini mendorong agar suasana perekonomian di Jatim bisa tumbuh signifikan. Sebab Jatim dan Jateng merupakan penopang ekonomi cukup tinggi.

“Makanya kita harus menjaga suasana stabilitas ekonomi, keamanan terjaga ,masyarakat produktif dan saya berharap presiden meningkatkan ekspor dan membuka lapangan kerja sebanyak –Bakal,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengatakan kinerja eksportasi produk pertaian yang melalui Balai Besar Karantina Petanian Surabaya, Jawa Timur menunjukan tren yang cukup menggembirakan. Dibandingkan tahun 2018 dan 2019 hingga 2 Desember 2019 adalah masing-masing indikator yakni frekuensi meningkat 8%, volume meningkat dari 18,6 %, dimana di tahun 2018 hanya 16,3 juta ton menjadi 20,1 juta ton di tahun 2019 dan nilai ekonomi meningkat 100% dari Rp 35,3 triliun tahun 2018 menjadi Rp. 70,8 triliun di tahun 2019.

“Dan yang akan terus menjadi fokus kerja kami, selaku otoritas karantina adalah memastikan produk pertanian yang akan diekspor telah terjamin kesehatan dan keamanannya,” bebernya.

Menjalankan peran sebagai alat perdagangan atau economic tools, Ali Jamil menyatakan Badan Karantina Pertanian mengambil langkah dengan layanan yang berorientasi mendorong akselerasi ekspor.

“Selain itu, juga mengemban peran sebagai pelindung sumber daya alam hayati Indonesia dengan melakukan pengawasan lalu lintas hewan, tumbuhan dan produknya diseluruh pintu pemasukan dan pengeluaran NKRI,” pungkasnya.

Dalam pelepasan ekspor ini, Mentan SYL sekaligus menyerakan sertifikat ekspor dan dilakukan juga menandatanganan deklarasi ekspor pertanian Jawa Timur tiga kali lipat.(hum/red)

Categories
Ekonomi Ragam

Kunjungi Balithi Litbang Kementan Saat Libur, Mentan SYL: Tiada Hari Tanpa Kerja Keras

Koran Jurnal, Cianjur – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang akrab disapa SYL menyempatkan diri mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (Litbang Kementan) di Cianjur, Minggu (01/12/2019). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat dari dekat kinerja Balai tersebut yang terhampar pada lahan seluas area 10 hektar yang ditumbuhi tanaman hias.

Dalam kunjunganya selama empat jam, SYL mengatakan pembangunan pertanian menuju era industri diperlukan kerja keras dan fokus terhadap permasalahan yang cukup kompleks. Lebih khusus komoditas tanaman hias diperlulan terobosan baru untuk menjaga kualitas dan daya saing produk di pasar global.

“Saya juga berharap kepada jajaran Kementan agar tiada hari tanpa kerja karena Litbang suatu kebanggan kita yang ditunjang dengan kondisi negara tropis dan bermuara pada sub tropis memudahkan untuk berkreasi dan berkarya lebih baik. Kita harus menjadi Legazi, sesuatu yang bermakna untuk orang banyak,” demikian ditegaskan SYL dihadapan para peneliti dan staf Balithi di Aula Balithi di Cianjur Jawa barat

SYL merasa terkagum dengan kehadiran para senior peneliti para staf yang merasa memiliki tanggung jawab.

“Tanaman Hias sangat berpotensi dikembangkan salah satunya untuk agro wisata saat ini,” ujarnya.

Agro Wisata yang dikunjungingi merupakan area konservasi berbagai jenia tanaman dan sarana edulasi untuk pengembangan tanaman hias. Terdapat rumah kaca hexagonal anggrek dan berbagai tanaman hias lainnya hasil silangan dan tanaman hasil kerjasama dgn jepang.

“Ciptakan hebridasi yang unggul artinya sesuatu yang lebih dari biasa, harus ada terobosan-terobosan yang dihasilkan dari balai penelitian ini,” tandasnya.

Kepala Badan Litbang Kementan, Fadjry Djufry yang hadir mendampingi Mentan SYL menambahkan Balithi pun memiliki lahan 3 ha parsial bangunan menunjang kegiatan 30 para peneliti.

“Peneliti didampingi 27 orang teknisi dan 35 orang tenaga administrasi, serta 14 orang Staf penunjang,” sebutnya.

Kunjungan ini pun, SYL diampingi Sekjen Kementan, Momon Rusmono, Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi, Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagiyono dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PHK), I Ketut Diarmita. Lepas dari Balithi, SYL dan rombongan melakukan kunjungan di Taman Bunga Nusantara, Kecamatan Sukareski Kabupaten Cianjur.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan SYL Lepas Ekspor ‘Pallet’ Senilai 132 Miliar ke Filipina

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor pakan ternak (pallet) berupa produk olahan gandum ke Filipina sebanyak 7.700 ton dengan nilai Rp132 miliar.

“Hari ini kita buktikan Indonesia sebagai negara besar memiliki potensi pangan yang menjanjikan sehingga besok kehidupan kita harus lebih baik dari apa yang dicapai sampai hari ini. Oleh karena itu, Kementan dengan pihak Bogasari memiliki tekad yang sama bisa melakukan sesuatu yang langsung berkontribusi terhadap kesejahteraan rakyat dan kejayaan bangsa ke depan,” kata Mentan Syahrul di lokasi pelepasan ekspor produk pertanian di Dermaga 1 PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Divisi Bogasari, Jakarta Utara, Rabu (27/11/2019).

Mentan Syahrul mengatakan, ekspor yang dilakukan merupakan salah satu bukti bahwa tidak semua gandum itu menjadi sesuatu yang kebutuhannya hanya untuk impor.

“Faktanya, hari ini melakukan ekspor dan ini sudah dibuktikan dengan 50 kapal nilainya Rp 1 triliun lebih dan yang diekspor hari ini merupakan kapal yang ke 50 sebanyak 7.700 ton, nilainya Rp 132 miliar yang diberangkatkan ke Filipina,” ujarnya.

Oleh karena itu, sambung Syahrul, kegiatan ekspor seperti ini harus di-engineering terus sehingga lonjakan ekspor harus tiga kali lipat dari kondisi ekspor saat ini.

“Tentu saja Kementan bersama pelaku usaha terus melakukan upaya-upaya baik diplomasi bisnis dengan pihak luar negeri maupun kesiapan-kesiapan internal,” paparnya.

Lebih lanjut, Mentan Syahrul menuturkan, Kementan bersama seluruh jajaran termasuk pemerintah daerah siap mendukung untuk mengambil bagian. Sebab, ada hal lain bahwa gandum itu tidak hanya dari impor saja dan ternyata dipakai menjadi terigu tapi terigu itu diolah menjadi biskuit dan olahan pangan lainya yang diekspor.

“Seperti itulah cara berpikir kita, kita boleh impor dan impor tidak haram apabila dengan segala daya dan upaya kalau memang tidak ada lagi kemampuan kita dalam negeri. Tetapi impor tidak hanya impor, tapi harus bisa meng-engineering kehidupan agar lebih baik,” tambahnya.

Syahrul menekankan ke depan pihaknya harus menyiapkan kemampuan untuk memproduksi pangan sendiri atau mandiri secara bertahap.

“Dengan demikian, Indonesia semakin memperkuat ekspor sehingga tidak banyak membicarakan impor saja, tetapi justru ekspor,” tukasnya.

Sementara, Direktur Indofood, Fransiscus Welirang, selaku eksportir mengungkapkan, ekspor Wheat Bran Pellet oleh Bogasari ke Filipina sampai November 2019 sudah mencapai 58 ribu ton atau senilai hampir Rp 158 miliar. Belum lagi ekspor ke negara lain seperti Jepang, Vietnam, Korea, Thailand, Cina, Timur Tengah.

“Jadi sampai bulan November 2019, diperkirakan total ekspor produk pakan ternak oleh Bogasari akan mencapai 273 ribu ton atau senilai hampir Rp 726 miliar,” ujar pria yang akrab disapa Franky Welirang.

“Sampai dengan September 2019, nilai ekspor industri terigu nasional dari aneka produk turunan sudah mencapai Rp 9 triliun. Produk yang diekspor antara lain berupa tepung terigu, by product atau dedak gandum, dan aneka produk turunan seperti pasta, mie instan, biscuit, cake, pastry dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Pelepasan ekspor turut dihadiri, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, Anggota DPR RI, dan sejumlah pejabat dari lingkungan Kementerian Pertanian, serta instansi pemerintah terkait.(red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Yasin Limpo Motivasi Mahasiswa Pertanian Unhas Agar Mandiri dan Maju

Koran Jurnal, Ujung Pandang – Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin mengadakan Kuliah Umum yang dibawakan oleh Dr. Syahrul Yasin Limpo, SH., MH. Menteri Pertanian RI yang baru saja dilantik pada bulan Oktober ini hadir di Unhas pada Selasa (26/11). Kuliah Umum dengan tema “Pertanian Harus Maju, Mandiri dan Modern dengan Kebersamaan” dimulai pada pukul 11.00 WITA bertempat di Aula Fakultas Pertanian Unhas.

Menteri Syahrul tidak sendiri hadir dalam kesempatan ini. Beliau juga membawa rombongannya yang terdiri dari para pejabat eselon 1 dan eselon 2 Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Dalam kegiatan ini, hadir Pula Rektor Unhas, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A beserta Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Baharuddin, para Wakil Rektor dan para Dekan lingkup Unhas.

Dekan Fakultas Pertanian dalam sambutannya menyatakan rasa bangga dari Fakultas Pertanian karena mendapat kesempatan dikunjungi oleh Menteri Pertanian RI yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan selama 2 periode (2008-2018).

“Fakultas Pertanian Unhas memiliki kurang lebih 2.300 mahasiswa, ditambah dengan dosen-dosen kami yang sudah mumpuni dalam bidangnya, yang tanggap cepat dan nantinya akan menjadi ujung tombak pembangunan pertanian,” ungkap kata Prof. Baharuddin.

Ungkapan beliau menunjukkan bahwa Fakultas Pertanian Unhas sendiri sudah siap untuk mendukung program-program pembangunan Kementan RI yang sudah dicanangkan.

Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, menyambut Menteri Syahrul beserta rombongannya di Universitas Hasanuddin dengan hangat. Beliau mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Menteri Pertanian RI yang sudah menyempatkan hadir untuk memberikan banyak informasi kepada dosen dan mahasiswa Unhas.

Rektor Dwia berharap bahwa dengan hadirnya Menteri Syahrul di Unhas dapat memberi dorongan kepada para mahasiswa dan sivitas akademika lingkup agrokompleks agar senantiasa antusias dalam memajukan kualitas dan kuantitas pertanian Indonesia.

“Pak Menteri kalau punya tugas untuk kami, silahkan disampaikan, karena kami menyatakan siap dalam mendukung program-program kerja dalam proses pembangunan pertanian Indondesia,” tutur Prof. Dwia dengan antusias. Beliau lalu menutup sambutannya dengan memberikan ucapan selamat bertugas kepada Menteri Syahrul.

Sesaat setelah acara pembukaan berakhir, Mentan Syahrul lalu mulai membawakan kuliah umum. Beliau mengawali kuliahnya dengan memaparkan rencana-rencana strategis dan program kerja jangka pendek dan utama dari Kementerian Pertanian RI, terutama langkah yang dilakukan oleh kementerian untuk mendukung perekonomian nasional dalam konteks global.

“Diplomasi pertanian kalau tidak bagus maka akan merusak jalur distribusinya juga,” jelas beliau.

Dalam materinya, Menteri Syahrul juga memotivasi mahasiswa untuk terjun ke sektor pertanian. Mentan juga mengemukakan tentang pentingnya peningkatan produksi dan pentingnya pengentasan daerah rentan rawan pangan. Dicanangkan dalam waktu 6 tahun daerah rentan rawan pangan yang pada tahun 2018 menyentuh angka 18% akan berusaha diturunkan menjadi 10% pada tahun 2024.

Kuliah umum ini dihadiri oleh lebih dari 200 mahasiswa dan dosen yang berasal dari berbagai fakultas yang ada di Unhas.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Yasin Limpo Lepas Ekspor Produk Peternakan Charoen Pokphand Senilai 2.5 Miliar

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo didampingi Presiden Komisaris PT Charoen Pokphand Indonesia tbk (CPI) T Hadi Gunawan melepas ekspor produk peternakan Charoen Pokphand berupa produk olahan ayam, griller ayam dan pakan ternak ayam dengan tujuan Jepang dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), di Kantor PT Charoen Pokphand Indonesia, Jalan Ancol Barat, Jakarta Utara, Minggu (24/11/2019).

“Sesudah beternak, di ujung sana memang harus ada yang order. Ada yang harus masuk pusat produksi karena di sana ada industri seperti naget. Saya merasa inilah tugas saya yang harus melibatkan semua pihak dalam membangun peternakan Indonesia,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di lokasi pelepasan.

Syahrul mengatakan, pengembangan peternakan harus dikerjakan serius demi memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar dunia. Keseriusan tersebut harus dibangun melalui kerja sama pemerintah dan semua pihak yang terlibat di sektor peternakan.

“Kalau kita tidak serius bagaimana dengan kebutuhan makan 267 juta orang. Bagaimana dengan kehidupan mereka. Kalau kita tidak serius pertumbuhan penduduk yang 3 juta satu tahun itu mampu tidak kita kejar. Inilah yang harus memicu adrenalin kita, memicu pejabat kita untuk bersama-sama membangun pertanian dan peternakan kita,” ujarnya.

Ia menekankan perkembangan peternakan dan pertanian Indonesia tidak boleh kalah dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Sebab hal itu merupakan langkah kemunduran.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri, pemerintah butuh saudara untuk membangun pertanian ini. Masa kita kalah sama Malaysia atau Thailand. Kita harus lebih maju dari mereka,” lugas Mentan Syahrul.

Dalam kesempatan sama, Presiden Komisaris PT CPI, Hadi Gunawan menjelaskan bahwa pelepasan ini melengkapi total ekspor yang dilakukan PT CPI sejak 2017 yang mencapai 200 kontainer.

“Hari ini kita menggenapkan 200 kontainer dari total ekspor kita selama tahun 2017. Sedangkan untuk ekspor 16 kontainer hari ini (November 2019), nilai yang dihasilkan mencapai Rp2.512.565.720,” katanya.

Saat ini, tambah Hadi Gunawan, Indonesia sudah swasembada daging ayam dan dengan dukungan pemerintah yang sangat kuat maka Charoen Pokphand tertantang untuk menembus pasar ekspor.

“Ekspor ini terjadi berkat berbagai upaya yang telah dilakukan CPI dengan peran dan dukungan dari Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan Indonesia,” katanya.

Adapun ekspor kali ini, CPI mengekspor sebanyak 58,7 kilogram (kg) griller senilai Rp 1,06 miliar dan 200 ribu kg pakan dengan nilai Rp 1,2 miliar ke RDTL. Sementara itu, ke Jepang, CPI mengekspor sebanyak 6.000 kg produk olahan ayam senilai Rp 239 juta. Secara total, nilai ekspor ke dua negara tersebut sebanyak Rp 2,5 miliar.(red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Harapkan Perbankan Dukung Sektor Peternakan

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengharapkan kucuran anggaran perbankan berbentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan inseminasi buatan (IB). Kata dia, anggaran tersebut nantinya akan dijadikan target utama dalam memperkuat swasembada daging sapi.

“Saya berharap bisa bicara dengan sektor lain seperti perbankan untuk menggulirkan KUR yang ada. Harapan saya, anggaran itu kita uji coba untuk langsung bersentuhan dengan rakyat, kalau misal sekarang 100 peternak melakulan inseminasi buatan, tahun depan harus jadi 200, saya sudah bicara dengan Danrem, Polres, Bupati, dan anggota DPR untuk Jawa Timur, khususnya Pasuruan menjadi contoh membangun kemampuan daging sapi yang ada di Indonesia,” kata Syahrul, Sabtu (16/11/2019).

Syahrul mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini sudah menetapkan Lolitsapi Pasuruan sebagai percontohan swasembada daging nasional untuk daerah lain.

“Sementara kita bicara Pasuruan dulu, tetapi nantinya untuk daerah lain juga harus mengikuti. Seharusnya semua kabupaten mampu memproduksinya, karena sama-sama memiliki potensi,” katanya.

Syahrul menjelaskan, Lolitsapi Pasuruan berhasil mengembangbiakan 1000 ekor sapi indukan yang terdiri dari 550 sapi peranakan ongole (PO), 250 ekor sapi madura, dan 200 ekor sapi bali. Padahal total sapi indukan awal hanya sekitat 700 ekor sapi.

Menurut Syahrul, keberhasilan ini merupakan hasil program inseminasi buatan (IB) yang diuji coba di Kecamatan Grati. “Prospeknya cukup bagus, makanya ke depan wilayah Pasuruan akan dijadikan percontohan,” tukasnya.

Lolitsapi Pasuruan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Lolitsapi memiliki tugas mengembangkan inovasi produksi bibit unggul sapi potong lokal untuk nasional.

Untuk saat ini, Lolitsapi Pasuruan juga sedang melakukan riset untuk pengembangan sapi belgian blue (BB) dan sapi beranak kembar. Sapi BB dilakukan melalui teknologi transfer embrio (TE) dan inseminasi buatan (IB) dengan induk sapi PO sejak 2018.

Lolitsapi juga berperan dan berkontribusi terhadap Program Upsus Siwab melalui inovasi teknologi kit diagnosis kebuntingan dini dan suplementasi pakan berupa NUT-MB plus. Kit diagnosis kebuntingan dini mudah diaplikasikan di lapangan dan dapat dilakukan sendiri oleh peternak, mampu mendeteksi kebuntingan sapi mulai umur 15 hari dengan akurasi 90 persen.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Yasin Limpo: Lawan Alih Fungsi Lahan Pertanian dengan Insentif

Koran Jurnal, Jakarta – Adanya kecenderungan meluasnya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian saat ini, telah menyebabkan susutnya lahan pertanian secara progresif. Sejatinya pemerintah telah memiliki UU Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Kementerian Pertanian dalam hal ini telah secara aktif melakukan upaya pencegahan alih fungsi lahan secara masif melalui pemberian insentif bagi pemilik lahan, diantaranya dengan memberikan berbagai bantuan saprodi seperti alat mesin pertanian, pupuk, dan benih bersubsidi.

Selain itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat ini tengah mengupayakan pencegahan alih fungsi lahan dengan single data lahan pertanian dalam jangka pendek.

“Data pertanian itu harus satu, sehingga data yang dipegang Presiden, Gubernur, Bupati, Camat sampai kepala desa semuanya sama. Termasuk masalah lahan dan produksi,” ujar Syahrul, Selasa (12/11/2019).

Menurut Syahrul, data yang akurat bisa melahirkan banyak program tepat guna dan tepat sasaran untuk para petani di seluruh Indonesia. Karena itu, dia berharap tak ada lagi kekacauan data lahan baik yang dipegang Kementan, BPS serta Kementerian dan lembaga lain.

“Rujukan kita adalah BPS. Jadi datanya harus satu. Tidak boleh tumpang tindih soal data. Pemerintah juga terus mendorong pemda jangan terlalu mudah memberikan rekomendasi alih fungsi lahan,” ujarnya.

Adapun berdasarkan rillis BPS 2018, melaui data yang diambil citra satelit melalui skema Kerangka Sampel Area (KSA), luas lahan baku sawah di Indonesia mengalami penurunan menjadi 7,1 juta hektare. Padahal luasan sebelumnya mencapai 7,75 juta hektare (BPS, 2013).

“Yang jelas, kita di kementan dalam 100 hari ini ingin memiliki kejelasan lahan yang akan panen di mana saja, seperti apa kemampuan kita. Kita kan harus jamin bisa beri makan 267 juta. Maka itu menjadi langkah besar, tidak boleh melihat itu sebagai masalah kecil,” katanya.

Sebagaimana diketahui, dalam pasal 73 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009, dimana setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pengalihfungsian lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan, maka bisa dikenakan pidana sanksi penjara paling singkat satu tahun dan paling lama lima tahun atau denda paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp 5 miliar.

“Pemerintah daerah saya minta memiliki komitmen yang sama untuk bisa mempertahankan lumbung pangan daerah, dengan memoertahankan lahan pertanian,” jelas SYL.

Namun, konversi ini juga bisa dilakukan selama ada rekomendasi yang dikeluarkan Dinas Pertanian dengan syarat memiliki surat kesiapan menyediakan lahan pengganti terhadap lahan yang dikonversi tersebut.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan SYL Ajak Milenial Terapkan Pola Pangan Sehat

Koran Jurnal, Jakarta – Beberapa dekade terakhir, mayoritas penduduk dunia secara dramatis mengubah pola pangan dan kebiasaan makannya. Di Indonesia, konsumsi makanan dan minuman siap santap meningkat setiap tahun, dan saat ini, menyumbang 28 % dari semua kalori yang di konsumsi oleh penduduk perkotaan.

Melihat permasalahan tersebut, menurut Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, diperlukan pemikiran dan kerja keras semua pihak, termasuk komitmen generasi milenial untuk menghadirkan solusi yang terjangkau dalam menerapkan pola pangan sehat di masyarakat.

“Masalah pangan itu bukan hanya masalah pemerintah, tetapi masalah kita semua. Jadi pada kesempatan ini saya mengajak semua masyarakat terutama para generasi milenial untuk ikut mencari, yuk kita sama-sama cari solusi, untuk Indonesia yang lebih baik” terang Syahrul di sela – sela Tani On Stage sebagai rangkaian acara Healthy Street Food Festival 2019 di Gelora Bung Karno, di Jakarta. (10/11/2019).

Akhir – akhir ini, isu pangan sehat mulai diangkat dan banyak dikampanyekan di Indonesia. Para milenial terutama sudah mulai concern terhadap isu pangan, terutama dalam hal pola makan sehat, dan hal – hal yang terkait dengan food loss dan food waste. Syahrul menambahkan untuk menghadapi masalah kebutuhan pangan di masa depan, ia menyarankan agar masyarakat mengubah perilaku konsumsi menjadi lebih bijak, lebih sehat dan tidak membuang makanan.

“Masyarakat terutama generasi milenial harus betul – betul memahami soal bagaimana proses pangan itu hingga tersaji di meja makan, banyaknya pembuangan makanan disebabkan perilaku masyarakat yang masih kurang bijak dalam hal makanan, Makan bijak itu lebih dari sekedar makan sehat,” ungkap Syahrul.

Melalui kegiatan ini, Syahrul berharap semangat untuk mensukseskan penganekaragaman pangan dan pola makan sehat menjalar ke seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, pembangunan ketahanan pangan yang berlandaskan pola pangan sehat untuk generasi muda yang hebat dapat diwujudkan guna mendukung cita-cita pembangunan nasional.

Dikesempatan yang sama, Perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste, Stephen Rudgard mengatakan dalam mewujudkan pola makan yang sehat dibutuhkan komitmen dan tindakan global yang lebih besar.

“Setiap orang memiliki peran dalam menghapus kelaparan dan kekurangan gizi. Meningkatkan kualitas makanan jalanan adalah elemen utama dari tantangan itu. Pemerintah dan masyakarat Indonesia perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa makanan sehat dan bergizi mudah untuk diakses dengan harga yang terjangkau untuk semua orang,” jelas Rudgard.

Sebagai informasi, kegiatan Healthy Steeet Food Festival, merupakan rangkain acara penutup untuk mengakhiri perayaan Hari Pangan Sedunia 2019 di Indonesia, kegiatan ini melibatkan sejumlah Kementerian dan Lembaga, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Badan POM, dan FAO sebagai organisasi Perserikatan Bangsa – Bangsa yang fokus menangani pangan. Dalam kegiatan tersebut sejumlah Kementerian dan Lembaga mengajak sejumlah musisi, komunitas anak muda serta pedagang kaki lima untuk turut mendeklarasikan komitmen terkait pangan sehat di Indonesia.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan SYL Bersama Kepala KSP Moeldoko Panen Padi di Karawang 

Koran Jurnal, Karawang – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama dengan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko lakukan panen raya padi Varitas  super genjah M70D di Karawang, Jawa Barat. Hal ini sebagai upaya bersama sama   mendorong temuan-temuan baru di bidang pertanian, yang bisa menjanjikan produktivitas yang semakin meningkat. Berbeda dengan varietas padi lainnya, varitas ini bisa dipanen pada  70-75 hari setelah tanam (HST).

“Ditingkat nasional dengan Pak Moeldoko hari ini, menjadi bagian mendorong berbagai temuan baru dibidang pertanian,” ucap Syahrul saat di wawancarai seusai lakukan panen raya di Desa Curug Kec.Klari Kab. Karawang , Kamis (07/11/2019).

Syahrul mengungkapkan saat ini hasil pencitraan satelit, daerah Jawa Barat dan daerah jawa lainnya sudah mulai ada hujan, dan panen juga sudah dilakukan. Petani di wilayah ini didorong segera menanam kembali.

“Dan 70 hari kedepan kalau pakai bibit ini kita akan lihat lagi hasil seperti ini. Kita jaga sama-sama stok pangan,” ungkapnya.

Syahrul mengungkapkan dirinya bangga dan bahagia, dalam kunjungan kerja kali ini melihat pertanaman padi varitas M70D yang memiliki produktivitas 8-9 ton per hektar, juga dengan keunggulan waktu tanam yang pendek, panen 70 HST.

“Kita lihat hari ini ada anakan satu rumpun itu bisa sampai 50 saya nggak pernah lihat itu di zaman saya masih di lapangan paling tinggi 29. Ini yang saya hitung langsung tadi. Saya tadinya nggak percaya gitu ternyata setelah dihitung ternyata bukan 48 tapi 52,” tutur Syahrul.

Mentan SYL meminta agar jajarannya fokus membantu wilayah Jawa Barat, khususnya Karawang, dan meminta mampu tertanam 3 kali setahun.

“Setiap daerah, setiap Bupati bersama seluruh Muspida dan yang  lainnya turut menjaga ketahanan pangan daerahnya,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Jend (purn) Moeldoko, mengatakan jika varitas M70D sudah di uji bersama dengan tim peneliti di Jawa Timur  dimana hasilnya terdapat perubahan produksi signigikan dari waktu ke waktu yang tadinya produksi 5,5 ton/ha dapat ditingkatkan sampai diatas 8 ton/ha.

“Saya meminta pada tim riset agar, anakannya harus banyak, kedua malay nya harus banyak, yang ketiga rasanya enak, yang keempat waktunya harus pendek ini bentuk-bentuk insentifikasi yang kita tuju. Dan ini memakan waktu sekitar 4 tahunan,” ucap Moeldoko.

Moeldoko juga mengungkap keunggulan varietas M70D, berorientasi kepada hasil yang lebih banyak dan tahan hama, serta umur tanam yang lebih pendek menjadi panen 75 HST, dibandingkan rata-rata lainnya 110 HST.

“Berarti ada penghematan luar biasa. Sudah hemat, waktunya pendek berikutnya hamanya juga cukup tahan, hasilnya sangat bagus dan rasanya enak semuanya terpenuhi,” tungkasnya.(hum/red)