Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Dorong FAO Aktif Beri Bantuan ke Negara Afrika dan Pasifik

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian RI mendorong organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) di bawah naungan PBB untuk aktif membantu negara mitra di Afrika dan Pasifik yang masih terbelakang dalam ketahanan pangan.

Hal ini disampaikan Mentan Syahrul Yasin Limpo saat bertemu dengan Deputy Director General FAO Laurent Thomas, di kantor pusat FAO, Roma, Italia, Selasa (21/01/2020).

“Indonesia selama ini telah banyak membantu negara-negara mitra di Afrika,” kata Mentan.

Misalnya, kata dia, membangun training center di Gambia dan Tanzania, lalu membuat proyek percontohan pengembangan kacang  kedelai di Madagaskar dan padi di Sudan. Indonesia juga mengirim bantuan traktor tangan untuk beberapa negara pasifik seperti Fiji dan Vanuatu.

“Indonesia memiliki banyak tenaga ahli dalam berbagai bidang yang siap untuk bekerjasama dengan FAO dalam membantu negara-negara mitra di Afrika dan Pasifik,” kata Syahrul.

Dalam pertemuan itu, Mentan bicara delapan poin penting sebagai posisi pertanian Indonesia. Pertama, Indonesia mendorong kerjasama lebih erat dengan FAO sebagai organisasi pangan internasional, sebagai salah satu produsen sumber pangan terbesar di dunia, untuk memenuhi pangan nasional dan dunia.

Mentan juga mengajak FAO dalam mengembangkan Agriculture War Room (AWR) di Indonesia yang berfungsi sebagai pusat kontrol monitoring dan evaluasi mobilisasi sumber daya pertanian. Mentan mengundang seluruh technical team FAO untuk membantu Indonesia.

Dirinya ingin memastikan validitas data yang lebih kuat dan pencapaian produksi yang lebih efektif, efisien, dan berstandar Internasional, yang pada implementasinya dikawal secara intensif melalui Kostratani yang baru saja dibentuk.

FAO diharapkan dapat berperan dalam menyeimbangkan situasi pasar produk pertanian yang cenderung diskriminatif, dan merugikan negara berkembang selaku produsen. Negara-negara importir yang pada umumnya negara maju, menerapkan standar-standar yang seringkali menyulitkan dan menekan daya tawar negara eksportir, dalam hal ini khususnya kelapa sawit bagi indonesia.

Mentan mendukung hand-in-hand initiative yang menjadi program DG FAO yang baru, yang fokus pada program kemitraan antara negara maju dan berkembang untuk dapat maju bersama dalam berbagai aspek rantai nilai usaha pertanian.

Indonesia juga mengajak FAO untuk bersama-sama membantu negara-negara ketiga yang membutuhkan bantuan teknis, khususnya penguatan kapasitas melalui pusat-pusat pelatihan yang telah dibangun Indonesia di beberapa negara Afrika, seperti Tanzania dan Gambia.

Deputy Director General FAO Laurent Thomas, mengatakan FAO sangat terkesan dengan inisiatif Mentan dalam pengembangan AWR. Inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan program FAO.

Tim FAO menyampaikan secara singkat data management system yg ada di FAO seperti AMIS, pemanfaatan GIS, early warning system, dan pemanfaatan teknologi artificial intelligent lainnya. FAO berkomitmen penuh untuk mendukung indonesia dalam pengembangan AWR dan program digitalisasi pertanian modern di indonesia.

Dalam pertemuan itu, Menteri Pertanian juga mendapatkan kesempatan untuk meninjau berbagai fasilitas data management system yang dimiliki oleh FAO.(hum/red)

Categories
Ekonomi Hukum Polhukam

Mentan Syahrul Minta Penegak Hukum Tangkap Pelaku Konversi Lahan Pertanian

*Rilis Kementan, 12 Januari 2020*
Nomor : 19/R-KEMENTAN/01/2020

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui berbagai perangkat kerjanya terus melakukan upaya pencegahan alih fungsi lahan yang kian memprihatinkan. Pencegahan dilakukan terutama untuk mengurangi beban dan masalah baru bagi sektor pertanian ke depan.

“Saya katakan bahwa lahan merupakan faktor produksi pertanian yang utama untuk mewujudkan ketahanan pangan secara nasional,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam keteranganya beberapa waktu lalu.

Secara filosofis, lanjut Syahrul, lahan pertanian memiliki peran dan fungsi sentral bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang bercorak agraris. Lahan pertanian memiliki nilai ekonomis, juga nilai sosial dan religius.

“Untuk itu kita perlu mengekstensifikasi pembukaan lahan baru yang diperuntukan khusus pada tanaman pangan secara permanen. Saya juga minta kepada penegak hukum (Bapak Kapolres) untuk menangkap mereka yang membuatkan lahan pertanian menjadi non pertanian,” katanya di Pangalengan, Jawa Barat, Sabtu (11/01/2020).

Secara hukum, pengalihfungsian lahan pertanian sudah diatur dalam kitab Undang-undang 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Tidak main-main, aturan ini mengancam siapa aja yang secara tidak langsung melakukan alih fungsi lahan.

Asal tau saja, undang-undang ini masuk ranah tindak pidana dengan ancaman kurungan selama lima tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp5 miliar.

Syahrul mengatakan, praktek pengalihfungsian lahan sangat merugikan pemerintah dan petani yang kini tengah memiliki semangat bercocok tanam. Lebih dari itu, perilaku tersebut juga dapat mengakibatkan terjadinya bencana alam.

“Jika ada lahan pertanian yang rusak akibat banjir atau bencana alam lainnya, pemerintah akan memberikan bibit-bibit pertanian untuk dilakukan penanaman kembali. Untuk itu, saya mengingatkan kembali bahwa dalam pengembangan sektor pertanian itu di dalamnya juga ada masyarakat dan pengusaha. Mereka harus saling membantu untuk mewujudkan kesejahteraan petani Indonesia,” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Ragam

Rayakan Natal 2019, Mentan Syahrul Ajak ASN Korpri Menjadi Pelopor Pertanian

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, mengajak ASN Kristiani Korpri Kementan, untuk menjadi Pelopor Energi Pembangunan Pertanian, sebagai tanggung jawab sekaligus Implementasi Ajaran Kasih Yesus. Hal ini disampaikannya dalam sambutan Perayaan Natal Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) lingkup Kementerian Pertanian yang berlangsung sangat meriah dan Khikmat di Auditorium Kanpus Kementan, Jum’at malam (10/01/2020).

“Warga Kristiani yang ada, kalian adalah pelopor-pelopor hadirnya energi pertanian dan menjadi bagian dari kepentingan rakyat,” kata Syahrul dalam sambutannya.

Syahrul menambahkan bahwa perhatian semua pejabat secara khusus adalah mengembangkan aqidah serta istiqomah dalam Islam dan dalam Kristen adalah bagaimana mewujudkan ajaran agama menjadi bagian dari semua aparat yang ada dikementerian ini. Natal juga menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak saja bagi umat kristen yang ada ditempat ini, namun untuk semua umat yang merayakannya.

“Natal ini akan menyegarkan kembali berbagai hal yang berkaitan dengan aturan agama untuk menjadi kekuatan menempuh aktivitas kehidupan serta kerja kerja maksimal dari tugas yang ada,” tambahnya.

Selain itu, Mentan juga mengingatkan ASN Kristiani agar menjadikan natal sebagai bagian dalam melahirkan kemauan untuk kebaikan, memaafkan yang kurang dan berbagi kebaikan pada bangsa ini.

“Kita berbagi kebaikan kepada bangsa ini, kita berbagi kepada rakyat yang memang menunggu tangan kita dan saya terlalu yakin jajaran pertanian yang saya Pimpin saat ini mohon izin adalah orang-orang hebat,” kata Syahrul.

Menurutnya, makna natal memiliki kekhususan didalam menguji, mengevaluasi serta mendalami ajaran Kristus yang menginginkan kita untuk menjadi manusia utuh menjalankan amanah dari ajaran Kristus.

“Maafkan kalau saya tidak salah seperti itu baca Matius 7 ayat 21,” ungkap Syahrul, yang mendapat aplaus dari seluruh hadirin, dalam kesempatan tersebut, Mentan Syahrul mendapatkan cenderamata berupa ulos batak sebagai tanda kasih yang diserahkan oleh Inspektur Jenderal (Irjen) Kementan Justan Riduan Siahaan sebagai ketua Pembina ASN Kristiani Korpri Kementan dan ketua panitia natal Kementan 2019 Duma Harianja.

Mentan Sahrul Yasin Limpo, juga didaulat untuk menyerahkan bantuan “Tali Kasih” yang dikumpulkan ASN Kristiani Korpri Kementan, untuk 3 Panti Asuhan Yatim Piatu, masing-masing 10 Juta Rupiah, didampingi Bungaran Saragih, mantan Mentan 2000-2004, Justan Ridwan dan Duma Harianja, usai pemberian bantuan, mentan juga menyumbangkan lagu Nasional “Indonesia Tanah Air Beta” bersama Pemandu Acara Vanda Gomes Hutagalung, kumandang lagu direspon hadirin dan bernyanyi bersama, tampak keceriaan dan hikmad lagu tersebut memenuhi ruangan auditorium kanpus kementan.

Dikesempatan yang sama Pembina ASN Kristiani Korpri Kementan Justan Ridwan, mengatakan jika tema natal nasional 2019 “Hiduplah sebagai sahabat semua Orang” dimana kita bisa melihat Yesus sendiri yang sudah menunjukkan arti sahabat terbaik kepada umat manusia

“Pendeta tadi mengatakan bahwa mengadulah ke sahabat, mengadulah ke Menteri tuluslah melayani dan saya berbahagia, apa yang dikhotbahkan oleh Pendeta, dapat diapresiasi Pak Menteri dengan utuh walaupun beliau tidak ada tadi,” pungkasnya.

Professor Bungaran Saragih, Mantan Menteri Pertanian Periode 2000 – 2004, tampak terharu serta menyampaikan Apresiasi mendalam dengan kehadiran Mentan Sahrul Yasin Limpo, ini namanya Pemimpin dapat menyatu dan menjadi tauladan bagi jajaran dibawahnya, tegasnya.

Perayaan Natal 2019 ASN Kristiani Korpri Kementan turut dihadiri Pejabat Eselon I dan 600 lebih undangan yang merupakan keluarga besar ASN Kementan.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Awali Tahun 2020, Mentan Mantapkan Kolaborasi dengan Mendag 

Koran Jurnal, Jakarta,- Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengunjungi kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam memantapkan kolaborasi untuk saling bersinergi dalam menentukan kebijakan ketahanan pangan. Pertemuan ini merupakan lanjutan dari kunjungan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada November tahun lalu.

Syahrul mengatakan, pertemuan ini dilakukan dengan pendekatan emosional kepada Mendag dan para jajaran Kemendag untuk menyamakan, menyelaraskan pengambilan kebijakan antar Kementerian dan lembaga.

“Kementerian Pertanian harus satu langkah, satu jalan dan satu bahasa dengan Menteri Perdagangan. Intinya kita mengharapkan support Menteri Perdagangan sepenuhnya,” katanya saat diwawancarai di Kantor Kemendag di Gambir, Rabu (09/01/2020).

Mentan menambahkan jika dukungan dari Mendag untuk melipatgandakan perdagangan di bidang pertanian, khususnya ekspor akan diberikan dalam berupa guides dan supportnya demi menjalankan amanah membangun negara.

“kita punya komitmen, petani Insya Allah berproduksi lebih baik, berkualitas tentu saja kita bicara dengan ekspor dengan dunia tentang komoditas komoditas kita yang banyak,” tambah Syahrul.

Selain itu, Mentan juga menegaskan jika saat ini single data yang diusung Kementan akan menjadi acuan serta pegangan yang digunakan Kemendag atau kelembagaan lainnya dalam membuat kebijakan yang benar.

“Memang betul perbedaan data akan menyesatkan arah kita. data yang amburadul darimana perencanaan tidak bias. Oleh karna itu single data kita perbaiki dan itu menjadi pegangan bersama Menteri Perdagangan,” tuturnya.

Di kesempatan itu, Mendag juga membenarkan bahwa single data digunakan Kemendag untuk menjadi acuan dalam mengambil keputusan perdagangan khususnya sektor strategis seperti pangan.

“Kalo mengenai data kita memang sudah satu pintu lah, jadi tidak ada perbedaan disini lah kita sangat senang bersinergi dengan Kementerian Pertanian,” katanya.

Agus mengungkapkan jika Kemendag memiliki wewenang dalam penentuan kebijakan perdagangan, dimana dukungan dari kementerian lain khususnya Kementan sangat dibutuhkan sehingga tujuan kedua kelembagaan dapat dijalankan bersama-sama.

“Memang dalam menentukan kebijakan ini kita perlu kerjasama terutama yang berkaitan dengan pangan apalagi kita mau tingkatkan pangan untuk mengekspor sehingga kita akan lebih selektif,” sambungnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Dorong Eksportir Pertanian Buka Lapangan Kerja Lebih Luas

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar pertemuan dengan puluhan eksportir di Auditorium Gedung D, Kantor Pusat Kementan, Rabu (08/01/2020). Pertemuan ini digelar untuk memastikan jalannya akselerasi gerakan tiga kali ekspor (Geratieks) khususnya di sektor perkebunan.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang dalam acara tersebut, menegaskan bahwa gerakan ekspor harus dimulai dengan kehadiran eksportir ditengah-tengah rakyat. Lebih dari itu, peranan eksportir harus bisa membuka lapangan pekerjaan secara luas.

“Saya menitipkan pesan kepada eksportir agar kalian membuka lapangan pekerjaan secara luas. Kami butuh tangan eksportir agar rakyat kita banyak yang kerja. Caranya tingkatkan ekspor kalian menjadi tiga kali lipat,” ujar Mentan Syahrul, di Kanpus Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (08/01).

Menurut Syahrul, Gerakan tersebut adalah bagian dari gerakan rakyat untuk menunjukan bahwa Indonesia merupakan negara kuat yang memiliki potensi besar dan derajat tinggi di mata dunia. Gerakan ini harus menjadi titik balik bangkitnya pertanian Indonesia.

“Kalau begitu pertanian di tangan kita tidak boleh mundur. Yang ada adalah maju. Pertanian di tangan kita harus berjalan efektif dan maksimal. Harus berkembang dan lebih baik,” katanya.

Syahrul menambahkan, Indonesia merupakan negara subur yang seluruh kekayaan alamnya selalu dibutuhkan penduduk dunia. Lebih dari itu, sektor pertanian menjadi bagian penting dalam meningkatkan ekonomi bangsa dan menekan angka kemiskinan.

“Coba resapi sedikit. Negara ini butuh kita semua kok. Karena ini menjadi kewajiban kebangsaan kita. Apa gunanya kita menjadi eksekutif tapi sebenernya negara melayang dari tangan kita. Toh saya sangat yakin kita cukup memiliki kemampuan. Hanya membutuhkan sedikit lagi kemauan yang tidak kalah dengan negara lain. Intinya kita tidak boleh berpura-pura dalam mengurus negara ini,” katanya.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyo mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah menyisir dan memperbesar pemanfaatan sejumlah komoditas yang memiliki potensi ekspor cukup besar.

“Kami memang sedang merancang satu program gerakan potensi ekspor. Diantaranya kopi, kakao, jamu mete sampai fanile. Ini sudah punya target. Jadi 5 tahun ke depan pertumbuhannya harus lebih dari 3 kali lipat. Kita akan menaikan produksinya dan memiliki dampak terhadap penyerapan lapangan kerja serta PDB pertanian,” katanya.

Dikatakan Kasdi, Dirjen Perkebunan juga sudah menetapkan target jangan panjang, yakni peningkatan capaian hingga 1000 triliun ekspor di tahun 2024. Target ini meliputi angka produksi yang ditargetkan naik sebesar 7 persen serta PDB sebesar 25 persen.

“Kita juga akan membangun milenial menjadi enterpreneurship dan mengenal pertanian secara dalam. Kemudian sektor perkebunan diharapkan menekan losis. Untuk itu, kami mohon eksportir dan pengusaha juga turun sampai level kecamatan,” tukasnya.(hum/red)

Categories
Daerah Ragam

Mentan SYL Serukan Persaudaraan Saat Serahkan Bantuan Kemanusiaan Korban Banjir Lebak Banten

Koran Jurnal, Lebak – Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Kampung Nunggul, Desa Sukasari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (07/01/2020). Bantuan ini diberikan, terutama kepada masyarakat yang bermukim di 3 desa terparah yakni Sajira, Sukasari dan Lebakgedong.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menjelaskan bahwa bantuan ini merupakan upaya negara dalam mengajak semua pihak agar merasa empati terhadap kepentingan bangsa dan negara. Musibah dan bencana, kata Syahrul, harus menjadi introspeksi dalam memperbaiki diri.

“Bencana adalah peringatan dari Tuhan agar kita terus memperbaiki diri. Tentu setiap saat ada hal hal yang harus kita tingkatkan, minimal menghadirkan rasa persaudaraan dan persatuan,” ujar Syahrul yang didampingi Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya saat meninjau lokasi terdampak banjir di Desa Sukasari, Selasa sore.

Syahrul berharap, masyarakat Lebak kembali pulih dan memulai aktivitas dengan penuh semangat. Ke depan, dia berjanji akan membantu merevitalisasi lahan pertanian yang ada dengan mengirim bantuan bibit dan benih.

“Tentu saja revitalisasi adalah bagian dari proses yang akan kita lakukan ke depan. Tapi yang terpenting saat ini adalah memulihkan semangat warga Lebak, terutama para petani agar memulai bercocok tanam. Yang pasti, lahan pertanian harus dipulihkan,” katanya.

Syahrul menambahkan, sektor pertanian harus menjadi konsep pendidikan dan edukasi yang baik untuk menghidupkan perekonomian masyarakat luas. Pertanian, lanjut Syahrul, harus menjadi pilihan pasti dalam mendorong hadirnya kesejahteraan.

“Saya katakan bahwa pertanian itu punya backup yang cukup untuk kehidupan masyarakat. Tentu kita berharap pertanian di Kabupaten Lebak lebih kuat dan lebih baik. Yang paling penting pertanian harus mengenergi masyarakat sebagai suatu konsep dalam menghadirkan kesejahteraan,” katanya.

Bupati Lebak menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan pemberian bantuan jajaran Kementerian Pertanian kepada warga terdampak banjir dan longsor di Kabupaten Lebak. Bantuan ini, kata Iti akan disalurkan secara bertahap melalui gotong royong warga sekitar.

“Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah kita dikunjungi bapak Menteri. Hari ini kita merasa bahagia karena mendapat bantuan. Kita harus bangkit dan kembali bertani untuk mendukung program pemerintah pusat dalam mencapai swasembada,” katanya.

Ke depan, tambah Iti, pihaknya akan mendorong petani di Kabupaten Lebak untuk menggunakan layanan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disiapkan Kementerian Pertanian dalam mendorong kemajuan usahatani dan kesejahteraan petani.

“Kredit Usaha Rakyat yang disampaikan pak Menteri akan kita dorong agar petani Lebak memiliki kemampuan menghitung pasar dan melihat potensi pasar, terutama kemajuan petani dan usahatani,” tukasnya.

Masih dari Kabupaten Lebak, sebelumnya Kementan juga melakukan nota kesepahaman MoU peningkatan produksi dan akselerasi ekspor komoditas perkebunan di Kantor Bupati Lebak. MoU ini diharapkan dapat menekan angka rentan rawa pangan. Adapun penandatangan ini dilakukan oleh jajaran Dirjen Kementan dan Kepala Dinas Pertanian setempat.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Menteri Pertanian Dukung Program Satu Juta Ternak Sapi Bali

*Rilis Kementan, 5 Januari 2020*
Koran Jurnal, Denpasar –  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendukung sepenuhnya program Provinsi Bali mencapai Satu Juta Ternak Sapi Bali. Hal tersebut disampaikannya saat menyaksikan penandatangan tiga nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian dengan Gubernur Bali di Denpasar, 4 Januari 2020. Salah satu nota kesepahaman tersebut adalah terkait Populasi Sejuta Sapi Bali Mendukung Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan).

Menurut Mentan SYL, Bali merupakan provinsi yang memiliki potensi pertanian dan peternakan yang sangat besar. Dengan adanya nota kesepahaman ini, maka Kementan akan mendukung sepenuhnya program-program pertanian dan peternakan di Bali.

“Pada hari ini telah ditandatangani tiga buah nota kesepahaman antara Kementan dan Pemda Bali. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan pertanian menuju pertanian yang maju, mandiri, dan modern” ungkap Mentan SYL.

Lebih lanjut Mentan juga menyampaikan harapannya bahwa dengan meningkatnya produksi dan produktivitas maka ke depan produksi pertanian tersebut bisa diekspor. Langkah ini lanjutnya sejalan dengan gerakan tiga kali ekspor atau Gratieks.

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan bahwa Provinsi Bali merupakan provinsi yang berbasis pertanian, dan penyediaan pangan merupakan salah satu program utama saat ini. Dukungan Kementan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian di Bali dipandangnya sangat penting dalam membantu program Pemda dan masyarakat Bali.

“Bali kaya akan komoditas pertanian lokal seperti jeruk, salak, kopi, sapi, kambing dan lain-lain. Namun komoditas-komoditas ini belum diberdayakan secara optimal. Ke depan, diharapkan bantuan Kementan untuk mengoptimalkan potensi ini,” jelasnya.

Khusus terkait Program satu juta ternak Sapi Bali pada tahun 2025, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan bahwa target tersebut dapat dicapai apabila ada peningkatan jumlah induk sapi sebesar 30%-45 % dari populasi saat ini, dan didukung oleh peningkatan kelahiran pedet sebesar 80%-85% dari Indukan jumlah sapi. Sementara itu angka pemotongan sapi betina produktif di Bali harus bisa diturunkan hingga 5%-10% dari pemotongan tercatat saat ini, dan angka kematian pedet harus diturunkan ke angka di bawah 5% dari sapi yang lahir.

“Apabila parameter-parameter tersebut tercapai, maka program sejuta ternak Sapi Bali akan kita capai. Ditjen PKH selalu siap mendukung program ini, karena hal ini sejalan dengan Sikomandan, salah satu program penting dari bapak Mentan SYL,” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Lepas Ekspor Edamame Jember Senilai 2,6 Miliar Tujuan Jepang

Koran Jurnal, Jember – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor edamame hasil produksi PT Mitra Tani 27 Jember senilai $ 185.200 dollar atau sekitar 2,6 miliar. Ekspor ini merupakan ekspor lanjutan dengan negara tujuan Jepang dan 12 Negara-negara lain di Asia.

“Saya kira apa yang dilakukan hari ini menunjukan bahwa Indonesia adalah negara hebat dan luar biasa. Hari ini kita membuktikan bahwa edamame menjadi satu contoh kekuatan bangsa ini, dimana Kabupaten Jember sebagai penghasil produk pertanian yang bisa mengantarkan kesejahteraan,” ujar Syahrul, Kamis (26/12/2019).

Menurut Syahrul, akselerasi ini harus menjadi pemicu bagi perusahaan lain di seluruh daerah untuk meningkatkan ekspor hingga tiga kali lipat. Kata dia, sektor pertanian harus menjadi pilihan tepat bagi kekuatan ekonomi bangsa dan negara.

“Karena itu ayo kita dorong kegitan ekspor ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Kan membuat pertanian menjadi hebat itu adalah tempat kita membuka ruang bagi rakyat, dan tempat usaha bagi ekonomi yang sangat terbuka. Pertanian itu adalah sarana bagi orang orang untuk berbuat ibadah,” katanya.

Syahrul mengatakan, pertanian itu harus bisa menurunkan angka kemiskinan melalui pembukaan lapangan pekerjaan. Kegiatan ekspor harus membuka ruang kerja bagi rakyat yang masih berada di lingkaran pengangguran.

“Pekerjaan kita adalah membuat orang miskin makin sedikit dan membuka lapangan pekerjaan lebih banyak. Kalau begitu jawabnya ada pada sektor pertanian. Makanya pertanian itu bicara negara dan bicara lapangan kerja,” katanya.

Direktur PT Mitra Tani 27, Dwi Anurogo menyampaikan terimakasih atas dorongan Menteri Pertanian dalam membangun kegiatan akselerasi ekspor edamame melalui program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Geratieks).

“Terimakasih kepada bapak Menteri atas kunjungannya ke perusahaan kami, dimana PT Mitra Tani 27 saat ini telah mengembangkan berbagai produk ekspor pertanian,” katanya.

Dwi menjelaskan, saat ini perusahaanya memiliki 2500 karyawan dengan mitra tani sekitar 4000 petani. Ke depan, kata dia, Mitra Tani akan mengembangkan produk strategis lainya seperti tembakau dan gula yang menjadi produk utama mitra tani.

“Ekspor ini merupakan kebanggan bagi PT Mitra Tani 27 yang bergerak di bidang gula dan tembakau. Ke depan kami akan terus mengembangkan produk kami sesuai arahan Bapak Menteri terkait gerakan tiga kali lipat ekspor,” tukasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul: Tiga Program Strategis Kementan Harus Saling Terkait demi Terwujudnya Kesejahteraan Petani

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan peningkatan kesejahteraan petani melalui tiga program strategis. Ketiga program ini adalah penyediaan layanan Kredit Usaha Rakyat (KUR), program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) dan pembentukan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostra Tani).

“Ketiganya harus saling terkait demi terwujudnya kesejahteraan petani,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Syahrul menjelaskan, program KUR adalah program strategis yang diperuntukan untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian dari hulu ke hilir melalui akses yang lebih mudah. Program ini diharapkan mampu menopang dan memperkuat potensi pertanian di daerah-daerah.

“Kami memiliki anggaran Rp50 triliun dari total plafon anggaran sebesar Rp190 triliun. Kredit ini juga memiliki bunga murah, yakni hanya 6 persen,” katanya.

Selain itu, Syahrul menerangkan bahwa Kementerian Pertanian juga memiliki program penguat melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Geratieks). Gerakan ini dibuat sebagai ajakan pemerintah kepada seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian agar bekerja dengan cara yang tidak biasa.

“Tentu kita bisa bekerja dengan memanfaatkan teknologi, inovasi, jejaring dan kerjasama yang kuat. Dengan begitu, akses informasi terkait potensi komoditas ekspor di masing-masing daerah terbuka lebar dan memiliki tujuan ekspor yang bisa diakses melalui aplikasi peta potensi ekspor dan IMACE (Indonesia Maps of Agriculture Commodities Export,” katanya.

Berikutnya, kata Syahrul, Kementan sudah membentuk kelembagaan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostra Tani). Komando ini nantinya akan memperkuat fungsi penyuluh sebagai ujung tombak pemantauan kondisi lapangan di tiap kecamatan.

“Semua kita kendalikan dengan artificial intelligence seperti pengendali AWR (Agricultural War Room). Kendali ini kami persiapkan juga untuk pengatur lalu lintas data pertanian yang bisa berubah-ubah setiap hati,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memberi catatan khusus pada sektor pertanian. Dia meminta agar Kementan fokus terhadap upaya peningkatan pertanian on farm dan off farm, terutama pascaproduksi.

Pertanian on farm merupakan proses yang berhubungan langsung dengan budidaya pertanian, seperti menyemai bibit, mengawinkan hewan ternak, memupuk, memberi pakan ternak, mengendalikan hama dan penyakit, panen dan lainnya. Sementara, off farm yaitu proses komersialisasi hasil-hasil budidaya pertanian, seperti pedagang, pengepul dan lain-lain.

“Petani dan nelayan perlu keluar dari aktivitas on farm menuju ke off farm dengan memberikan nilai tambah aktivitas usaha tani dan perikanannya melalui pengolahan produk pertanian dan perikanan, maupun pengembangan usaha berbasis pertanian dan perikanan,” tukasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Lepas Ekspor Ayam Olahan dan Pakan Ternak Senilai 506 Miliar ke Republik Demokratik Timor Leste

Koran Jurnal, Surabaya – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus melipatgandakan ekspor produk pertanian termasuk peternakan hingga meningkat tiga kali lipat. Langkah nyata yang ditempuh yakni dengan menggenjot kegiatan ekspor produk peternakan berupa daging ayam olahan dan pakan ternak dengan tujuan ke Negara Republik Demokratik Timor Leste senilai Rp 506,2 miliar di Unit PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Sidoarjo, Minggu (08/12/2019).

Pelepasan ekspor ini langsung dilakukan Mentan SYL bersama Komisaris Utama PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Ito Sumardi dan Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah. Hadir Hadir Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Singgih Januratmok dan jajaran Eselon I Kementan.

Menurut SYL bahwa Kementerian Pertanian berupaya optimal untuk meningkatkan ekspor berbagai komoditi pertanian termasuk produk peternakan dalam meningkatkan pendapatandan kesejahterakan peternak. Ekspor juga sekaligus guna meningkatkan perekonomian negara melalui capaian devisa.

“Ekspor hari ini membuktikan bahwa kemampuan perunggasan kita yang dilakukan PT Japfa telah berkontribusi langsung kepada kepentingan nasional dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan daging unggas, telur dan berbagai produk turunannya, baik nugget, bakso, dan lainnya. Kita yakin bahwa kita tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan Nasional, tetapi ke depan kita sudah mampu berkata bahwa kita adalah pesaing dunia,” demikian ujar SYL dalam acara pelepasan tersebut.

SYL menegaskan Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen mendongkrak volume ekspor sebanyak tiga kali lipat dalam 5 tahun kedepan. Untuk itu, ia mendorong perusahaan-perusahaan besar agar tidak hanya berpikir bagaimana mewujudkan ketahanan pangan nasional, tetapi juga menciptakan produk-produk ekspor yang mampu berkompetisi atau bersaing dengan negara-negara lain dalam memperebutkan pasar dunia.

“Hari ini sudah kita buktikan, kurang lebih Rp 500 miliar PT Japfa telah berkontribusi untuk melakukan ekspor. Dan ini tentu saja harus kita dorong bersama Pak Bupati Sidoarjo, pihak lain dan Bupati lainnya agar terus menjaganya,” tegasnya.

“Dan ini kita harus apresiasi daerah-daerah yang terus mau melihat daerahnya, tidak hanya masalah nasional tapi mampu bahkan berprestasi untuk menghadirkan ekonomi dari hasil-hasil ekspor kita,” imbuh SYL.

Lebih lanjut, menteri asal Sulawesi Selatan ini mengaku optimis mewujudkan peningkatan volume ekspor pangan. Pasalnya, Indonesia memiliki berbagai potensi dan komoditi pertanian yang memiliki kemampuan untuk diolah menjadi produk ekspor yang berdaya saing. Karena itu, Kementan di bawah kepemimpinannya mempersiapkan pangan yang tidak hanya menjadi kebutuhan nasional, tapi juga untuk kebutuhan dunia.

“Disaat kondisi ekonomi melemah di dunia pun orang juga butuh makan kan? Perutnya masih harus diisi dengan coklat, dengan daging, dan lainnya. Kalau kita persiapkan ini dengan baik tentu kita berharap kemampuan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional bisa kita lakukan,” bebernya.

“Di bidang peternakan itu kurang lebih ekspor kita sudah berbicara sekitar Rp 9 sampai 10 triliun. Kalau begitu 5 tahun kedepan dia harus tiga kali lipat dari apa yang ada sekarang. Dan ini harus dicapai lebih cepat lebih bagus,” sambungnya.

Dorong Pelaku Usaha Percepat Ekspor

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita menyebutkan volume ekspor peternakan pada 2018 sebesar USD 640,17 juta setara Rp. 9,05 trilyun atau meningkat 2,42% dibanding tahun 2017 yang sebesar USD 625,14 juta setara Rp. 8,83 trilyun. Melansir data Statistik Peternakan tahun 2018, populasi ayam ras pedaging (broiler) mencapai 3,14 milyar ekor, ayam ras petelur (layer) mencapai 261,93 juta ekor dan ayam bukan ras (buras) mencapai 300,98 juta ekor.

“Karena itu, kegiatan ekspor seperti ini harus terus didorong sehingga lonjakan ekspor harus tiga kali lipat dari kondisi ekspor saat ini,” ujar Ketut.

Ketut menuturkan Kementan terus mendorong pelaku usaha perunggasan untuk melakukan industrialisasi perunggasan nasional. Tujuannya adalah agar mampu melakukan ekspor dan bersaing di perdagangan global.

“Momen pelepasan ekspor komoditas peternakan ini dapat memotivasi pelaku usaha lain dalam berupaya melakukan percepatan ekspor komoditas peternakan lainnya melalui peningkatan kualitas produksi dan promosi ke negara lain,” tuturnya.

Sementara itu, Komisaris Utama PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Ito Sumardi menjelaskan nilai nominal ekspor hari ini adalah merupakan bagian dari ekspor selama tahun 2019 sebesar Rp 506,200 miliar. PT. Japfa senantiasa berkomitmen mendukung upaya pemerintah memenuhi kebutuhan protein hewani di dalam negeri maupun meningkatkan ekspor sesuai dengan harapan Presiden Jokowi. Selain itu, juga memberdayakan peran serta masyarakat baik dalam bentuk kemitraan maupun bekerja sama dalam bentuk usaha mandiri.

“Kegiatan ekspor hari ini merupakan wujud komitmen untuk meningkatkan ekspor. Meskipun dihadapkan berbagai kendalai teknis, kamis selalu konsisten mematuhi segala ketentuan dan kebijakan pemerintah di bidang pertanian maupun perdagangan,” katanya.

Terkait kebijakan pemerintah saat ini, Ito menegaskan pihaknya siap berkontribusi secara optimal di dalam pelaksanaanya guna meningkatkan ekspor pangan Indonesia yang mampu berdaya saing dengan negara-negara lain. Namun demikian unsur utama dalam keberhasilan ekspor yakni harga yang kompetitif, kebutuhan lasar luar negeri yang memadai, kualitas dan ketersediaan produk, tentu sangat tergantung dari ketersediaan bahan baku utama dan kebijakan pemerintah.

“Kondisi memburuknya harga ayam hidup antara lain disebabkan oleh over supply akan dapat dikonversikan sebagai produk ekspor dengan difasilitasi oleh kementerian terkait,” sebutnya.

“Kami yakin dan percaya, melalui Kabinet Indonesia Maju saat ini akan memperhatikan faktor-faktor yang menjadi kendala kurang optimalnya ekspor pangan saat ini dan memberikan solusi yang komprehensif sehingga harapan Bapak Presiden Jokowi untuk meningkatkan ekspor secara signifikan terwujud,” tambah Ito.(hum/amp)