Categories
Ekonomi TNI

Panen Raya Padi Program Ketahanan Pangan Pushidrosal Tahun 2021 di Desa Pasir Angin Cileungsi

Koran Jurnal, Jakarta – Sebagai salah satu upaya mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional, Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) melaksanakan Panen Raya Padi di lahan TNI AL, Pasir Angin Bogor, Jum’at (15/10/2021).

Panen raya ini dilakukan Komandan Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Danpushidrosal) Laksamana Madya TNI Dr. Agung Prasetiawan, M.A.P didampingi Ketua Gabungan Jalasenastri Pushidrosal Ny. Ita Agung Prasetiawan, Wadanpushidrosal Laksamana Muda TNI Budi Purwanto, S.T., M.M., Kapoksahli Danpushidrosal Laksamana Pertama TNI Indarto Budiarto, S.E., M.Han., Wakil Ketua Gabungan Jalasenastri Pushidrosal Ny. Diyah Budi Purwanto, Aspotmar Danpushidrosal Kolonel Laut (P) Soenardi selaku Pembina Program, serta pejabat utama Pushidrosal.

Dalam sambutannya Komandan Pushidrosal menyampaikan bahwa perkembangan situasi Nasional terkait wabah virus Corona (Covid-19) sampai dengan hari ini masih belum berakhir. Pembinaan Potensi Maritim (Binpotmar) diprioritaskan untuk mendukung penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi Nasional, mulai dari kegiatan Program Ketahanan Pangan Tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota hingga Desa/Kelurahan.

“Pimpinan TNI AL telah memerintahkan jajarannya melalui Surat Telegram nomor 018/SPOT/0420 tentang Pelaksanaan Program Ketahanan Pangan melalui pemanfaatan lahan yang ada sebagai langkah antisipasi bila terjadi kelangkaan pangan yang menjadi kebutuhan dasar,” tutur Danpushidrosal.

Sebagai wujud pelaksanaan perintah pimpinan, Pushidrosal melalui Staf Potensi Maritim (Spotmar) telah melaksanakan pembinaan potensi maritim dalam bidang ketahanan pangan berupa padi yang merupakan hasil kerjasama antara Pushidrosal dengan Dinas terkait dan petani setempat

“Saya mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah membantu terselenggaranya panen raya ini, semoga kerjasama yang telah terjalin selama ini dapat terus kita pertahankan dan tingkatkan,” tutup Danpushidrosal.

Program Ketahanan pangan Pushidrosal berupa padi ditanam di lahan seluas dua hektar di kawasan desa Pasir Angin, Kecamatan Cileungsi Kabupaten Bogor. Dari hasil panen ini terkumpul padi sebanyak delapan ton.(disp/red)

Categories
Ekonomi

Bupati Pendeglang: Panen Raya Padi, Stok Beras Cukup Hingga Oktober 2020

Koran Jurnal, Pandeglang – Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten terkenal dengan sektor pertaniannya yang begitu maju. Tak ayal, daerah ini menjadi penyuplai bahan pangan pokok di antaranya beras dan jagung untuk memenuhi kebutuhan Ibukota dan industri pangan dan pakan setiap tahunnya.

Bupati Pandeglang, Irna Narulita menyatakan mengawali tahun 2020 ini, sektor pertanian Pandeglang berhasil memasuki masa panen raya untuk padi dan jagung yang dipastikan hasilnya surplus sehingga terus menjadi daerah penyangga pangan Ibukota. Panen raya padi dan jagung berlangsung dari Maret hingga Mei 2020, sehingga di tengah pandemi covid-19 tak menghalangi petani beraktivitas panen.

“Untuk beras aman, Insha Allah hasilnya bagus, stok malah surplus sampai dengan bulan Oktober 94.735 ton. Bahkan kota Tangerang minta distribusi dari Pandeglang untuk bulan Mei 2020 sejumlah 342 ton,” kata Irna di Kantornya, Kamis (09/04/2020).

Irna menjabarkan panen padi pada bulan Maret-Mei 2020 diperkirakan seluas 48.934 hektar dengan produksi sebanyak 157.405 ton gabah kering panen. Panen ini merupakan hasil dari musim tanam Oktober-Maret 2019-2020 seluas 68.104 hektar, terdiri padi sawah seluas 57.762 hektar dan padi gogo seluas 10.342 hektar.

“Adapun panen bulan Maret seluas 20.895 hektar dengan produksi 117.212 ton gabah kering panen atau setara 63.387 ton beras, panen padi bulan April seluas 14.573 hektar dengan produksi 84.639 ton setara 45.397 ton beras. Serta panen padi bulan Mei seluas 13.466 hektar dengan produksi 77.177 ton atau setara 48.621 ton beras,” bebernya.

“Hasil panen raya ini dengan provitasnya cukup tinggi 5,9 ton perhektar untuk padi sawah dan 3,69 ton untuk padi gogo serta harga gabah kering panen di petani saat ini mencapai Rp 4.200 perkilogram,” pintanya.

Selain panen padi, Irna pun menyebutkan Kabupaten Pandeglang juga sedang melakukan panen raya jagung. Luas panen jagung pada bulan Maret seluas 5.183 hektar dengan jumlah produksi sebanyak 28.276 ton kering pipil. Perkiraan panen April seluas 2.015 hektar dengan produksi 12.285 ton kering pipil.

“Harga di tingkat petani juga lumayan berkisar Rp 3.000 hingga Rp.3.500 per kg, untuk jagung pipilan kering dengan kadar air 16-19 persen” terangnya.

Melihat kinerja panen raya ini, pemerintah Kabupaten Pandeglang mengapresiasi semangat para petani sebab dilakukan di tengah wabah Covid-19. Kemudian, Irna menuturkan pihaknya selalu mengingatkan agar para petani selalu menerapkan social distancing dan social physical.

“Yakni mengurangi banyak kerumunan massa dan mengatur jarak antar petani minimal 1 sampai 2 meter, serta imbauan untuk selalu memakai masker dan cuci tangan,” ujarnya.

“Namun perlu dicatat, persoalannya disaat musim panen raya di Kabupaten Pandeglang, perlu peran Bulog untuk penyerapan gabah. Dengan begitu hasil panen tidak dijual ke pihak luar seperti para tengkulak,” tambah Irna.

Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) menerapkan protokol kesehatan penanganan virus Covid-19 saat musim panen raya, seperti yang dilakukan para petani di berbagai wilayah. Selain itu, juga diupayakan prasarana dan sarana pasca panen guna membantu petani dan menyelamatkan hasil panen.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kita dan para petani dalam beraktivitas harus tetap tetap menjaga jarak fisik, mencuci tangan dengan sabun dan mengikuti anjuran pemerintah,” ujarnya

Guna merespon situasi saat musim panen, Suwandi menuturkan guna menjaga harga di kala puncak raya, sesuai arahan Mentan SYL solusinya adalah dengan menggerakan Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling). Program ini menggandeng penggilingan padi kecil untuk serap gabah petani.

“Tugas kita menjaga kontinuitas produksi beras di penggilingan padi dan kelancaran distribusi antar wilayah. Penggilingan menyerap gabah langsung di petani dan modal bisa diperoleh dari KUR dan sumber lainnya. Kemudian beras dari penggilingan bisa dijual langsung maupun online kerjasama dengan start-up,” pungkasnya.

Secara nasional, Kementan memperkirakan panen raya akan berlangsung April dengan luas panen sekitar 1,73 juta ha dengan produksi 5,27 juta ton beras. Kemudian, panen padi akan berlanjut pada Mei dengan luas panen sekitar 1,38 juta ha dengan produksi 3,81 juta ton beras.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan: Maret Puncak Panen Padi di Kabupaten Sragen 21.260 Ha

Koran Jurnal, Sragen – Puncak panen padi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah terjadi pada bulan Maret 2020 ini seluas 21.260 hektar (ha). Alhasil, selain dapat memenuhi kebutuhan beras untuk seluruh masyarakatnya, Sragen juga mampu menyuplai beras untuk daerah lain.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sagen, Eka Rini L guna menegaskan bawah di tengah wabah virus Corona yang melanda dunia di antaranya Indonesia tidak mempengaruhi stok pangan khusus beras, Senin (30/03/2020).

Eka menyatakan keberhasilan pertanian Kabupaten Sragen sehingga melakukan pesta panen padi tersebut tak lepas dari kontribusi Kementerian Pertanian (Kementan) yang memberikan dukungan atau bantuan sarana produksi dan pendampingan. Program Kementan mendorong Kabupaten Sragen harus senantiasa mewujudkan swasembada beras yang berkelanjutan.

“Memang tidak dapat dipungkiri wilayah ini walaupun musim keringpun dapat melakukan budidaya padi dengan menggunakan fasilitas sumur dan pompa air yang telah mencapai hampir 30.000 titik,” jelasnya.

Menurut Eka, bantuan ini sangat membantu petani guna mengamankan dan meningkatkan hasil budaya padi petani. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini dengan luas baku sawahnya sebesar 39.827 ha dengan tanam serempak sebagai ciri khas pola tanamnya petani maka pada bulan Januari dan Februari kemarin luas panen padi masing-masing mencapai 873 ha dan 14.371 ha.

“Selanjutnya puncak panen padi terjadi bulan Maret 2020 dengan luasan 21.260 hektar dengan produktivitas 6,26 per ton. Daerah yang paling luas panennya adalah di Kecamatan Masaran disusul Sumber Lawang dan Tanon,” bebernya.

Terkait harga gabah, Eka menuturkan harga gabah kering panen (GKP) saat ini diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yaitu sebesar Rp 4.200 per kilogram harga. Panen juga berlangsung di bulan April 2020 dengan luas panen mencapai 18.333 ha.

“Dengan demikian kabupaten sragen dengan sebutan sukowati tetap menjadi tumpuan penyediaan beras di Indonesia baik saat ini maupun yang akan datang,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan pihaknya selalu sigap memperhatikan ketersediaan pangan yang ada di semua daerah khususnya Kabupaten Sragen. Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pihak Kementan dengan cepat memberikan bantuan agar kegiatan budidaya komoditas pertanian terutama padi berhasil dipanen dengan produktivitas tinggi dan jaminan harga yang menguntungkan petani.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kita meminta para petani dan semua pihak agar selalu menjaga kesehatan, cuci tangan dengan sabun, melakukan social distancing dan ikuti anjuran pemerintah. Semuanya harus tetap semangat meningkatkan produksi guna memasok pangan secara cukup bagi penduduk,” ujarnya.

Guna menjamin ketersediaan beras selama wabah virus Corona, Suwandi menegaskan Kementan mendukung tindakan tegas aparat berwajib untuk memberi efek jera kepada oknum yang sengaja menaikkan harga dan menimbun bahan pangan, salah satunya beras.

“Kalau ada penimbunan, kami bersinergi dengan pihak Kepolisian, kami turun tangan. Jangan biarkan publik panik sehingga terjadi yang namanya panic buying. Kita usahakan mulai dari kebutuhan hingga produksi dalam negeri tetap berjalan,” tandasnya.

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Bersama Pemuka dan Masyarakat Pasuruan Panen dan Tanam Padi

Koran Jurnal, Pasuruan – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama Wakil Komisi IV DPR RI, KH. Hasan Aminuddin dan Bupati Pasuruan M. Irsyad Yusuf melakukan panen dan tanam perdana padi di Desa Nguling, Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (12/01/2020).

“Hari ini adalah bagian dari konsolidasi, tekad dan kemauan kita agar besok kita siap kerja lebih baik dan terarah,” kata Syahrul.

Membicarakan pertanian, Menurut Syahrul, adalah berbicara soal lapangan, bagaimana mempersiapkan bibit dan benih yang baik, budidaya yang tepat, manajemen air yang efektif dan efisien, karena dengan itu semua produktivitas akan meningkat.

Bupati Pasuruan, M. Irsyad Yusuf dalam sambutannya menjelaskan bahwa Kabupaten Pasuruan surplus beras sebesar 2,65 persen.

“Pasuruan mempunyai luas lahan sawah seluas 39.804 hektar dengan indeks pertanaman 2,6 dan produksi beras sampai dengan akhir tahun 2018 mencapai 4.403,700 ton, sementara kebutuhan sebesar 4.301,936 ton per tahun,” ungkap Irsyad.

Beberapa upaya yang dilakukan oleh Pemkab Pasuruan dalam meningkatkan produksi menurut Bupati M. Irsyad Yusuf adalah meningkatkan indeks pertanian yang semula 200 menjadi 300 dengan membangun sumur pompa oleh petani secara swadaya sebanyak 1.338 unit dan pencetakan sawah baru kurang lebih seluas 266 hektar. Atas upaya yang telah dilakukan Pemkab Pasuruan tersebut, Mentan Syahrul memberikan apresiasi tinggi dengan secara simbolis menyerahkan bantuan pertanian.

Pada kesempatan itu juga, di hadapan petani yang hadir, Mentan Syahrul meluruskan perihal informasi kelangkaan pupuk subsidi yang dalam beberapa hari terakhir merebak.

“Pupuk baru dibagi kok dibilang langka?, apa betul pupuk tidak ada?. Padahal tahap pertama baru diturunkan. Jangan sampai ada yang mau mendapat jatah lebih atau mengalihkan ke tempat lain. Dan jika itu terjadi, maka akan saya lawan, tentu dengan dukungan Bapak-bapak semua, Pak Bupati dan juga Pak Kiayi Hasan, setuju?,” tegas Syahrul.

Langkah untuk meminimalisir penyimpangan dan penyalahgunaan distribusi pupuk bersubsidi sesungguhnya sudah dilakukan dengan menerapkan metode verifikasi data melalui e-RDKK oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

“Setelah dicek, ternyata alokasi pupuk itu ada. Cuma belum dibagi secara merata karena ada e-RDKK yang belum berjalan dengan baik. Ada kendala teknis, KTP yang tertukar dan lain sebagainya. Selama ada di e-RDKK dan CPCL pasti pupuk itu akan diterima. Jangan, tidak ada di e-RDKK dan CPCL dia minta,” kata Syahrul.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan SYL Bersama Kepala KSP Moeldoko Panen Padi di Karawang 

Koran Jurnal, Karawang – Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama dengan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko lakukan panen raya padi Varitas  super genjah M70D di Karawang, Jawa Barat. Hal ini sebagai upaya bersama sama   mendorong temuan-temuan baru di bidang pertanian, yang bisa menjanjikan produktivitas yang semakin meningkat. Berbeda dengan varietas padi lainnya, varitas ini bisa dipanen pada  70-75 hari setelah tanam (HST).

“Ditingkat nasional dengan Pak Moeldoko hari ini, menjadi bagian mendorong berbagai temuan baru dibidang pertanian,” ucap Syahrul saat di wawancarai seusai lakukan panen raya di Desa Curug Kec.Klari Kab. Karawang , Kamis (07/11/2019).

Syahrul mengungkapkan saat ini hasil pencitraan satelit, daerah Jawa Barat dan daerah jawa lainnya sudah mulai ada hujan, dan panen juga sudah dilakukan. Petani di wilayah ini didorong segera menanam kembali.

“Dan 70 hari kedepan kalau pakai bibit ini kita akan lihat lagi hasil seperti ini. Kita jaga sama-sama stok pangan,” ungkapnya.

Syahrul mengungkapkan dirinya bangga dan bahagia, dalam kunjungan kerja kali ini melihat pertanaman padi varitas M70D yang memiliki produktivitas 8-9 ton per hektar, juga dengan keunggulan waktu tanam yang pendek, panen 70 HST.

“Kita lihat hari ini ada anakan satu rumpun itu bisa sampai 50 saya nggak pernah lihat itu di zaman saya masih di lapangan paling tinggi 29. Ini yang saya hitung langsung tadi. Saya tadinya nggak percaya gitu ternyata setelah dihitung ternyata bukan 48 tapi 52,” tutur Syahrul.

Mentan SYL meminta agar jajarannya fokus membantu wilayah Jawa Barat, khususnya Karawang, dan meminta mampu tertanam 3 kali setahun.

“Setiap daerah, setiap Bupati bersama seluruh Muspida dan yang  lainnya turut menjaga ketahanan pangan daerahnya,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Jend (purn) Moeldoko, mengatakan jika varitas M70D sudah di uji bersama dengan tim peneliti di Jawa Timur  dimana hasilnya terdapat perubahan produksi signigikan dari waktu ke waktu yang tadinya produksi 5,5 ton/ha dapat ditingkatkan sampai diatas 8 ton/ha.

“Saya meminta pada tim riset agar, anakannya harus banyak, kedua malay nya harus banyak, yang ketiga rasanya enak, yang keempat waktunya harus pendek ini bentuk-bentuk insentifikasi yang kita tuju. Dan ini memakan waktu sekitar 4 tahunan,” ucap Moeldoko.

Moeldoko juga mengungkap keunggulan varietas M70D, berorientasi kepada hasil yang lebih banyak dan tahan hama, serta umur tanam yang lebih pendek menjadi panen 75 HST, dibandingkan rata-rata lainnya 110 HST.

“Berarti ada penghematan luar biasa. Sudah hemat, waktunya pendek berikutnya hamanya juga cukup tahan, hasilnya sangat bagus dan rasanya enak semuanya terpenuhi,” tungkasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Petani Sragen Panen Padi 9,4 Ton Per Hektar Meski Kemarau Panjang

Koran Jurnal, Jakarta – Di musim kemarau tahun ini yang bertepatan dengan musim tanam (MT) III, petani Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen justru panen padi dengan produktivitas 9,4 ton/ha. Selain panennya maksimal, harga gabah di tingkat petani pun tinggi Rp 5.200/Kg gabah kering panen (GKP).

Hal ini terungkap dalam kunjungan kerja Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi guna melakukan panen raya padi di desa tersebut, Rabu (11/09/2019).

Suwandi mengatakan padi yang siap panen di Sragen pada September tahun ini mencapai 20 ribu ha. Di Desa Tenggak sendiri yang siap panen seluas 300 ha.

“Di sepanjang pinggir jalan tol Karanganyar-Sragen terpampang hamparan padi menghijau. Setelah memasuki Kabupaten Sragen sudah banyak padi yang menguning atau siap panen. Petani Sragen patut bersyukur masih bisa panen dengan produktivitas tinggi,” ujarnya.

Menurut Suwandi, pada Juli-September bagi sejumlah petani padi merupakan masa kritis karena kemarau panjang. Namun, berkat pembuatan sumur dalam (Sibel), masalah air untuk mengairi sawah di musim kemarau bisa diatasi petani.

Alhasil, sambungnya, walau di musim kemarau, petani Sragen masih bisa tanam padi. Bahkan petani Sragen mampu tanam padi 3 kali setahun.

“Jadi, petani Sragen khususnya di Desa Tenggak sudah mampu melawati masa kritis. Nah, ke depannya tinggal meningkatkan efisiensi usaha taninya supaya bernilai tambah,” tuturnya.

Tak Ada yang Puso

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari menyebutkan padi yang ditanam petani Sragen di musim kemarau hampir 100% tak puso. Bahkan, petani bersama Pengendali Organisme Pertanian Terpadu (POPT), Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Babinsa mampu mengatasi hama padi seperti tikus di musim kemarau.

“Secara swadana ataupun dari bantuan pemerintah, petani di sini sudah memanfaatkan sumur dalam, sehingga sawahnya tak kekurangan air. Petani secara gotong royong juga melakukan gropyokan tikus. Karena itu hampir 100 persen padi yang di tanam tak puso,” katanya.

Eka Rini menyebutkan terdapat ada sekitar 28 ribu titik sumur dangkal dan sumur dalam di Sragen. Jika sebelumnya petani menggunakan BBM/gas untuk menggerakan mesin pompa (sumur dalam), saat ini petani sudah memanfaatkan listrik.

“Jadi di sini listrik sudah masuk sawah. Tercatat 1 bulan ada 100 orang yang mengajukan instalasi listrik ke PLN untuk keperluan sumur dalam,” paparnya.

Adapun total luas lahan pertanian Sragen 94.155 ha. Terdiri dari lahan sawah 40.182 ha atau 42,68 % dan 53.973 ha bukan lahan sawah.

“Lahan sawah, khususnya yang belum ada irigasi teknis atau setengah teknis ini kami optimalkan dengan sumur dalam,” pungkas Eka Rini.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Musim Kemarau Tak Menghalangi Gunung Kidul Panen Padi

Koran Jurnal, Yogyakarta – Musim kemarau panjang tahun 2019 ini ternyata tidak menghalangi petani di seluruh wilayah Indonesia khususnya di Gunung Kidul Provinsi DI Yogyakarta memanen padi. Fakta ini terjadi karena dukungan program budidaya padi yang dilaksanakan Kementerian Pertanian (Kementan) yang tidak hanya berorientasi semata-mata pada peningkatan produksi saja, namun juga meningkatkan kualitas lingkungan.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menyebutkan program tersebut yakni Budidaya Tanaman Sehat (BTS) sebagai langkah nyata dalam mengamankan produksi dari ancaman wereng dan daya dukung lingkungan yang menurun. Di Kabupaten Gunung Kidul, program ini mulai dilaksanakan sejak tahun 2017.

“Program BTS ini awalnya dilaksanakan karena adanya serangan wereng batang coklat dan virus yang ditularkannya di beberapa sentra padi terutama di Pantura,” demikian kata Suwandi dalam kunjungan kerjanya bersama Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X di Desa Ponjol, Gunung Kidul, Kamis (15/08/2019).

Suwandi menjelaskan dengan program BTS, kini Gunung Kidul tetap memanen padi meskipun tengah terjadi musim kemarau. Hingga saat ini, bantuan yang diberikan Kementan melalui program BTS ini berupa dolomit, pupuk organik, agens hayati dan refugia.

“Saya sangat apresiasi kepada petani disini yang masih ada panen meskipun musim kemarau. Bulan Juli-September masih bisa panen berarti ini petani juara semua,” ujarnya.

Karena itu, Suwandi berharap Program BTS di Desa Ponjong ini bisa menjadi pilot project dan direplikasi wilayah lain. Bahkan bisa menjadi setingkat lebih tinggi, yakni beralihlah ke semi organik atau organik agar tanah menjadi subur, lingkungan bagus dan beras yang dikonsumsi sehat dan harga jual juga tinggi.

“Secara ekonomis, usahatani ini cukup menguntungkan. Dengan hasil rata-rata per hektar Rp 40 juta per musim dan biaya jika dihitung sekitar Rp 15 juta per musim, jadi untung Rp 25 juta per musim,” sebutnya.

“Ini sangat menarik. Tapi saya pun mengingatkan agar petani memakai benih unggul bersertifikat agar hasilnya terjamin bagus,” pinta dia.

Perkuat Daya Tawar Petani

Suwandi memberikan lima jurus guna memperkuat daya tawar petani sehingga posisi petani menjadi lebih kuat dan petani tidak lagi mengeluhkan harga naik atau turun karena harga itu akibat, bukan penyebab. Lima jurus itu mampu menjadikan petani mengatasi penyebab harga input saat naik maupun output saat turun.

“Pertama perbaikan sistem produksi melalui efisiensi input seperti pupuk organik, pestisida nabati dan hayati,” bebernya.

Kedua, kata Suwandi, petani harus bisa mendorong meningkatkan kapasitas kelembagaan dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) menjadi lembaga ekonomi seperti koperasi, BUMP, BUMR maupun korporasi agar mempermudah akses input, permodalan dan pasar.

Ketiga, hilirisasi dengan pasca panen, pengolahan dan pengemasan. Keempat memperpendek rantai pasok bermitra dengan industri dan pasar.

“Dan terakhir, kelima, tolong kembangkan pasar lelang dan stratup. Saatnya posisi petani menjadi price maker, bukan price taker,” tandasnya.

Kepala Desa Ponjol, Gunung Kidul, Arif Al Fauzi menyatakan Program BTS yang dimulai tahun 2017 ini telah memberikan nyata, yakni mampu meningkatkan produktivitas padi. Buktinya, di luas hamparan 50 ha, produktivitas bisa meningkat dari sebelumnya 6 hingga 8 ton/ha menjadi 9,2 ton/ha berkat adanya Program BTS.

“Tidak hanya peningkatan panen, tapi juga disini kualitas tanah lebih baik dari PH 3 sampai 4 bisa naik jadi 5,” katanya.

Arif mengakui aplikasi dolomit dan pupuk organik mampu membantu memperbaiki struktur tanah dan tanah akan lebih tahan dari serangan hama. Bahkan adanya refugia di pematang mampu memperbaiki ekosistem sehingga dapat melestarikan musuh alami.

“Begitu pun lahan menjadi lebih baik dan tidak tercemar residu pestisida berlebihan,” akuinya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Gunung Kidul, Drajat mengharapkan pengawalan dan pendampingan yang intensif untuk kegiatan ini. Pasalnya, budidaya padi merupakan program prioritas sektor pertanian Gunung Kidul.

“Kami dari kabupaten Gunungkidul tetap memprioritaskan padi dan dengan cerita dari Pak Kades tadi pastinya memberi semangat petani disini untuk tetap berproduksi,” cetusnya.

Pada kunjungan ini, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menyerahkan bantuan ke beberapa petani. Sultan berpesan pentingnya etos kerja.

“Silahkan Pak Kades di 3 desa ini berkirim surat ke saya apa yang dibutuhkan, dan saya akan memberi kesempatan untuk kita dialog lagi membahas kepentingan desa ini ke depan,” katanya.(hum/red)