Categories
Daerah Ekonomi

Kementan: Jawa Tengah Sentra Produksi Lengkeng

Koran Jurnal, Semarang – Buah Lengkeng salah satu komoditas hortikultura yang populer di masyarakat dan permintaannya semakin meningkat setiap tahunnya. Provinsi Jawa Tengah merupakan sentra lengkeng di pulau Jawa dan Kabupaten Temanggung, Magelang dan Semarang sebagai penghasil terbesarnya.

“Ini salah satu sentranya ada di Jawa Tengah. Hampir semua kabupaten ada lengkeng dan terbesar ada di Temanggung, Magelang dan Semarang,” demikian ujar Dirjen Hortikultura, Suwandi sangat mengunjungi kebun lengkeng di Semarang, Rabu (19/12/2018).

Suwandi menjelaskan Kementerian Pertanian (Kementan) sangat menaruh perhatian pada pengembangan budidaya hingga pemasaran buah lengkeng. Untuk merespon tingginya permintaan, Kementan terus memacu produksi dan kendalikan impor.

“Produksi lengkeng kita bagus dan bisa bersaing. Impor ditekan dan hasilnya ini sesuai data BPS, impor lengkeng pada tahun 2017 sebesar 99 ribu ton, menjadi menurun pada Januari-September 2018, tinggal 39 ribu ton,” jelasnya.

Lebih lanjuut Suwandi mengungkapkan animo masyarakat mengonsumsi lengkeng lokal semakin tinggi sehingga petani bergairah menanam lengkeng. Selain tumbuh subur di dataran tinggi. Kini banyak varietas lengkeng yang dapat dikembangkan di dataran rendah seperti Itoh Super, Diamond River, Pingpong dan Kateki, memiliki rasa manis 15 brix, kulit tipis dan daging buah tebal.

“Kita gencar tanam lengkeng dan sudah mengembangkan 300 hektar dan selanjutnya diperluas lagi 85 hektar pada tahun 2019. Program ini sebagai stimulan untuk menarik investasi dan swadaya masyarakat berkebun lengkeng dalam kawasan berskala ekonomi dan kualitas ekspor,” tuturnya.

Berdasarkan hasil identifikasi, pengembangan lengkeng telah mencapai 1.500 hektar tersebar di pulau Jawa seperti Kabupaten Semarang, Tuban, Blora, Kulonprogo, Jepara, Wonogiri, Karanganyar, Malang bahkan sudah tersebar di beberapa wilayah di Kalimantan Timur seperti di kabupaten Kutai Kertanegara, Riau dan Lampung Selatan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Yuni Astuti mengatakan lengkeng Jawa Tengah memiliki prospek yang bagus, tanaman tersebar hampir seluruh kabupaten. Paling luas ada di Temanggung, Magelang dan Semarang.

“Ini harga bagus bagi petani, berkisar Rp 30-40 ribu perkg dan harga di pasaran mencapai Rp 60 sampai 80 ribu per kg,” katanya.

Kepala Pertanian Kota Semarang, Rusdiana mengatakan Pemerintah Daerah Kota Semarang selain memiliki Wisata Agro Wates dan Agro Cepoko juga memiliki Agro Pelalangan dan Agro Purwosari sebagai wisata petik buah lengkeng, durian dan berbagai jenis buah lainnya.

“Pengunjungnya ramai, anak sekolah maupun berlibur, tiap hari libur semakin ramai pengunjung karena sekaligus sebagai Pasar Tani tempat transaksi produk agro sayuran, buah, olahan dan lainnya,” ucapnya.

Rusdiana menyebutkan dalam usaha pengembangan budidaya lengkeng, Kota Semarang memiliki varietas lengkeng yang memiliki keunggulan. Di antaranya adalah Itoh dan kateki yang memiliki rasa manis mencapai lebih dari 15 Brix, kulit tipis dan daging buahnya tebal

“Silakan berkunjung ke wisata agro kami yang menyajikan berbagai bibit, buah, sayuran, tanaman hias unggul termasuk penganan olahannya,” pungkasnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Featured International

SSI Indonesia: Upaya Kembalikan Kejayan Rempah Nusantara di Pasar Eropa

Koran Jurnal, Amsterdam – Lembaga perdagangan multinegara Uni Eropa, IDH The Sustainable Trade Initiative sepakat untuk segera menyusun kriteria rempah berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan industri pengolahan rempah di Uni Eropa.

IDH The Sustainable Trade Initiative juga akan menyusun kriteria perusahaan mitra di Indonesia yang berpeluang mengekspor produk rempahnya ke Uni Eropa. Panduan tersebut nantinya akan menjadi pedoman yang harus dipenuhi mitra di Tanah Air, untuk menembus pasar Benua Biru.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil dari pertemuan antara Sekjend Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro dan IDH The Sustainable Trade Initiative, di tengah lawatannya menghadiri Sidang Executive Board IFAD yang ke-125 di Roma.

Syukur menyampaikan pihak Kementan telah meminta IDH The Sustainable Trade Initiative untuk memetakan kriteria rempah berkelanjutan sesuai kebutuhan industri pengolahan di Eropa yang mengimpor kebutuhan bahan bakunya, salah satunya dari Indonesia.

“Setelah panduan kriteria tersebut rampung, kami akan melakukan konsolidasi internal dengan para pemimpin di daerah yang merupakan sentra produksi rempah sehingga mereka dapat bermitra dengan pihak pengusaha di Uni Eropa untuk dapat mengekspor produksinya,” ungkap Syukur di Schipol, akhir pekan lalu.

Pertemuan dengan pihak IDH The Sustainable Trade Initiative tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan pembentukan Indonesia Sustainable Spices Initiative (SSI Indonesia) yang diresmikan di Jakarta pada 29 November 2018.

Syukur menyampaikan pemerintah membentuk SSI-Indonesia didasari upaya meningkatkan kualitas rempah nasional sekaligus mendorong kemitraan industri pengolahan rempah di UE dengan petani dan produsen di Tanah Air.

Ide pembentukan inisiatif tersebut juga dilatarbelakangi semakin ketatnya kriteria keamanan pangan yang diberlakukan di UE. Pasalnya, blok 28 negara tersebut kian ketat dalam menentukan kriteria keamanan pangan, guna memastikan produk yang dikonsumsi telah memenuhi kriteria sustainability.

“Alasan awal dari pembentukan SSI adalah juga adalah untuk menjamin adanya kepedulian dari para buyer untuk turut terlibat dalam upaya menghasilkan produk rempah berkualitas tinggi dan berkelanjutan. Kriteria akan menjadi benchmark dalam melakukan pendekatan kepada calon mitra strategis SSI Indonesia,” ungkap Syukur.

Adapun, pada kesempatan tersebut, Sekjend Kementan didampingi Atase Pertanian RI unt Uni Eropa, Dr. Wahida Mahrabi, bertemu dengan pihak IDH yaitu Jan Gilhuis (Senior Program Manager) dan Daan Wensing (Program Director Global Landscapes, Palm Oil and Timber), serta perwakilan dari industri Heykal Balbaid (Unispices Wazaran).

IDH akan sgr menindaklanjutinya dg sgr akan melakukan sejumlah pertemuan bilateral dg para perusahaan mitra di UE, unt mendorong mereka segera melakukan investasi di tingkat petani salah satunya melalui training, post harvest handling, maupun logistik.

Berbeda dengan SSI India yang sangat private-oriented atau SSI Vietnam yang bersifat government-oriented, Syukur menyebut SSI Indonesia diharapkan dapat mengedepankan prinsip public-private partnership dan menggaransi keterlibatan penuh dari para petani yang menjadi mitra utama para pengusaha rempah di Uni Eropa.

SSI Indonesia akan melakukan diskusi intensif untuk menyepakati pola kerjasama yang akan dipilih, diantaranya apakah mengikuti kerjasama yang dilakukan oleh Verstegen dengan petani lada di Bangka, pola kerjasama seperti proyek “PIS AGRO”, atau menyusun bentuk kerjasama yang baru.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Presiden Jokowi: Gunakan Dana Desa dengan Tepat Sasaran dan Sesuai Kebutuhan

Koran Jurnal, Aceh – Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat agar menggunakan dana desa dengan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. Hal tersebut diungkapkan Presiden saat menghadiri acara Sosialisasi Prioritas Penggunaan Anggaran Dana Desa Tahun 2019 di Provinsi Aceh.

“Sampai saat ini sudah Rp187 triliun (dana desa yang dikucurkan). Untuk itu dana desa harus tepat sasaran sesuai kebutuhan di desa dan kampung-kampung,” kata Presiden di Gedung Serbaguna Academic Activity Center (AAC) Prof. Dr. Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Jum’at (14/12/2018).

Kepala Negara yang pada kesempatan ini didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, juga mempersilakan para perangkat desa memanfaatkan dana desa tersebut untuk pembangunan infrastruktur seperti embung, jalan, jembatan, hingga fasilitas sosial seperti posyandu.

“Pastikan bahwa yang kita bangun itu memiliki manfaat besar bagi rakyat kita yang ada di kampung. Jangan sampai bangun sesuatu tapi tak bermanfaat,” tegasnya.

Selain itu, Presiden menjelaskan bahwa tujuan dari program dana desa ini ialah agar perputaran uang berada di desa sehingga perekonomian desa bisa tumbuh dan berkembang. Menurut Presiden, sebelumnya perputaran uang lebih banyak beredar di kota, di mana 60 persennya beredar di Jakarta.

“Dana desa kita berikan agar uang itu mengalir ke desa dan kampung. Oleh sebab itu, kalau bangun irigasi, jalan, yang namanya beli pasir, beli di desa itu. Kalau enggak ada, beli di desa sebelah. Kalau enggak ada, beli di kecamatan. Jangan beri kesempatan uang itu beredar di Jakarta,” tuturnya.

Sejak dana desa digulirkan tahun 2015 hingga bulan Agustus 2018, Presiden menyebutkan beberapa capaian dalam segi infrastruktur, antara lain jalan desa yang dibangun sepanjang 158 ribu kilometer dan jembatan sepanjang 1,02 juta meter. Selain itu telah dibangun juga sebanyak 48.600 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

“Artinya dana desa betul-betul merubah wajah desa jadi lebih baik. Jadi saya berharap agar kerja sama antara pendamping dengan penerima dana desa harus sambung. Jangan sampai ndak sambung. Libatkan masyarakat, bermusyawarah dalam penggunaan dana desa,” ucapnya.

Dalam acara ini, turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Iriana antara lain, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan Pelaksana Tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah.(red/DBPers)

Categories
Ekonomi

Kementan Libatkan Komisi Ahli Susun Kebijakan Pengembangan Pakan

Koran Jurnal, Bogor – Dalam menanggapi dan menyelesaikan isu-isu yang terkait pakan yang sangat dinamis akhir-akhir ini, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian terus melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dan melibatkan Komisi Ahli Pakan dalam penyusunan kebijakan. Hal tersebut disampaikan oleh Sri Widayati Direktur Pakan saat pertemuan Komisi Ahli Pakan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/12/2018) kemarin.

Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan selalu bersinergi dengan para akademisi dan peneliti yang memiliki kepakaran di bidang pakan dalam membahas tantangan dan permasalahan pakan. Ia sampaikan bahwa sinergi antara pemerintah dengan para akademisi dan peneliti bidang pakan tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak bagi kemajuan pengembangan pakan.

Untuk itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian No.308/Kpts/OT.050/ 5/2016 tanggal 11 Mei 2016 telah menetapkan Komisi Pakan yang beranggotakan 7 (tujuh) pakar dari kalangan akademisi dan peneliti untuk memberikan saran, pemikiran, pertimbangan, rekomendasi, dan solusi yang cerdas dan bermanfaat bagi kemajuan pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui kontribusi dan peran nyata bidang pakan.

Selama tahun 2018, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menyelenggarakan pertemuan dengan Komisi Pakan sebanyak 2 (dua) kali untuk membahas berbagai isu aktual yang perlu pemecahan secara komprehensif. Pertemuan pertama telah diselenggarakan pada Maret 2018 dan keduanya pada 12-13 Desember 2018. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Arnold Sinurat, MSc; Prof Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Agr.Sc; Prof. Ir. Yusuf Ahyar Sutaryono, PhD; Prof. Dr. Ir. Nahrowi, MSc; dan Dr. Ir. Osfar Sjofjan, MSc serta para pejabat pengawas mutu pakan.

Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Agr.Sc selaku salah satu anggota Komisi Pakan saat ditemui disela-sela pertemuan kedua Komisi Pakan tersebut menyampaikan, pembentukan Komisi Pakan untuk memberikan saran dan pertimbangan dalam penetapan kebijakan pakan kepada Menteri Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Ilmu dan teknologi pakan harus terus berkembang dalam menjawab tantangan dan permasalahan pakan secara global,” ungkap Luki Abdullah.

Sehingga menurutnya, diperlukan sinergi pemerintah selaku pengambil kebijakan dengan para akademisi dan peneliti yang mengikuti perkembangan ilmu, teknologi, tantangan dan permasalahan pakan secara global dapat menjadi kolaborasi yang baik dalam penyempurnaan penyusunan kebijakan.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Ir. Yusuf Ahyar Sutaryono, PhD selaku Ketua Sidang Komisi Pakan, akademisi dan peneliti yang memiliki kepakaran bidang pakan dapat memberikan kontribusi berupa saran dan pandangan yang didasari keilmuan dan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan yang lebih komprehensif bagi pemerintah dalam penyusunan kebijakan.

Lebih lanjut Ia ungkapkan beberapa hal yang menjadi pembahasan dalam pertemuan ini, diantaranya terkait Regulasi Pemasukan dan Pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan, mutu dan keamanan pakan, batasan penggunaan urea dalam pakan unggas dan babi, dukungan pakan pada Program Selamatkan Lahan Rawa Petani Sejahtera atau disingkat SERASI dan optimalisasi pemanfaatan embung.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan Bahas Kualitas Benih Masa Depan untuk Investasi Pertanian di Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Kebutuhan petani akan benih unggul menjadi peluang bagi industri benih. Benih dengan kualitas baik dan seragam akan menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan menentukan kualitas mutu komoditas pertanian Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian, Hari Priyono pada acara Focus Group Discussion (FGD) “Sosialisasi Pengembangan Investasi Pertanian” di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

FGD ini dilaksanakan untuk membahas regulasi bidang perbenihan serta menjawab tantangan kebijakan sistem perbenihan saat ini dan yang akan datang. Pada kesempatan tersebut Hari juga menyampaikan bahwa banyak hal penting yang menjadi kendala bidang perbenihan diantaranya minat inovasi industri perbenihan rendah karena adanya inkonsistensi aturan; terbatasnya pengetahuan petani dan keraguan akan benih bersertifikat yang tidak sesuai dengan isinya; serta belum dilakukan deregulasi secara signifikan dalam dunia perbenihan.

Pemerintah mempunyai tugas penting yaitu bagaimana melindungi plasma nutfah. “Tidak semua negara memiliki plasma nutfah seperti Indonesia, itu kelebihan kita, kita memiliki daya saing kompetitif,” ujar Hari.

Pemerintah diharapkan mempermudah akses pada plasma nutfah, agar mempunyai daya saing. “Pemerintah diharapkan terbuka pada inovasi teknologi, membangun kemandirian benih yang ramah investasi, serta memberikan perlindungan terhadap investasi perbenihan” ujar Hari.

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian, Erizal Jamal menyampaikan bahwa indikator industri perbenihan dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu: jumlah varietas yang dihasilkan, jumlah produksi benih, serta luas penyebaran varietas.

Terkait jumlah varietas yang dihasilkan, sampai dengan tahun 2017 jumlah varietas yang dilepas sebanyak 1.672 varietas dengan komoditas antara lain padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, sorghum, gandum, dan talas.

Untuk jumlah produksi benih padi bersertifikat, sampai dengan tahun 2017 sebanyak 210.561 ton dengan kebutuhan potensial sebanyak 383.348 ton, ini artinya pemenuhan benih tersebut mencapai 54,93 %.

Untuk penyebaran varietas padi, masih didominasi oleh padi jenis Ciherang yaitu sebesar 5.060.783 Ha atau sebesar 35,35%, padi Mekongga sebesar 10,05%, padi IR 64 sebesar 7,96%, padi Situ Bagendit 4,61%, padi Cigeulis 4,44%, padi varietas lain 26,31%, dan varietas lokal sebesar 11,28%.

Untuk penggunaan benih unggul bersertifikat, sampai dengan saat ini masih dibawah 50%. Meyikapi hal tersebut, pemerintah membuat road map industri perbenihan Indonesia untuk 10 tahun ke depan. Sub Sektor Tanaman Pangan menargetkan benih bersertifikat lebih dari 75% dengan negara acuan China dan India. Sub sektor hortikultura menargetkan impor kurang dari 25% dengan negara acuan Korea dan Thailand. Sub sektor perkebunan atau tanaman buah menargetkan benih bersertifikat lebih dari 75% dengan negara acuan Australia, sub sektor pertanian perkotaan atau hydroponik menargetkan impor kurang dari 50% dengan negara acuan Korea dan Taiwan.

Sementara itu Nana Laksana Ranu selaku Sekjen Asbenindo (Asosiasi Perbenihan Indonesia) menyampaikan bahwa tantangan industri perbenihan saat ini yaitu penyediaan benih tepat varietas, mutu, jumlah, dan waktu.

“Penggunaan benih unggul secara bebas dengan mutu yang baik dapat memotivasi pengguna petani dan memberikan peluang industri benih untuk berinvestasi dalam meningkatkan perannya,” ujar Nana.

Tantangan mendatang, pemerintah diharapkan dapat memberikan alternatif bantuan kepada industri perbenihan. Salah satunya indikator pajak, untuk memacu dan memotivasi industri perbenihan nasional, melalui kompensasi bayar pajak untuk investasi.

Nana berharap, kedepannya perusahaan benih modal dalam negeri mempunyai kemampuan membangun kemandirian benih nasional bahkan untuk ekspor. “Payung regulasi dibutuhkan untuk berkembangnya industri perbenihan. Peraturan perundangan harus berpihak kepada kemajuan industri benih dan petani” pungkas Nana.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan: Malaysia Akui Kemajuan Pembangunan Peternakan Sapi Potong Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Malaysia mengakui kemajuan pembangunan peternakan sapi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Ketua Delegasi Malaysia En Leonard Wilfred Yussin, Timbalan Setiausaha Bahagian Industri Tanaman, Ternakan dan Perikanan dalam kunjungan kerjanya pada 10-12 Desember 2018 ke Indonesia.

Oleh karena itu Malaysia mengirimkan Tim untuk mempelajari tentang strategi pembangunan peternakan ruminansia di Indonesia baik sapi potong maupun sapi perah. Delegasi Malaysia diketuai oleh En Leonard Wilfred Yussin, dengan anggota Yusian B Sanuddin (Ketua Penolong Bahagian Pembangunan Komoditi Ternakan, Jabatan Perkhidmatan) Veteriner dan Norhanita bt Jumali (Ketua Penolong Pasukan Kajian Pasukan Interim Lembaga Ruminan Negara, IITP).

Kunjungan hari pertama (10/12) dilakukan di Kantor Pusat Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Jakarta untuk mengetahui kebijakan Indonesia dalam percepatan peningkatan sapi, terutama melalui Upsus Siwab. En Leonard menyampaikan, kunjungannya bersama Tim sebagai tindak lanjut dari kajian yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia saat ini dalam membentuk Lembaga Ruminan Negara.

Malaysia sangat tertarik dengan kebijakan UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) yang diterapkan oleh Indonesia. Hasil dari kunjungan tersebut akan menjadi bahan masukan bagi Malaysia dalam finalisasi kajian pembentukan Lembaga Ruminan Negara bagi Malaysia. Indonesia merupakan negara pertama yang dikunjungi oleh Tim tersebut, berikutnya menyusul New Zealand, India, Thailand dan Vietnam. Hal tersebut disampaikan Norhanita disela-sela pertemuan di Jakarta tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan menyampaikan, salah satu kegiatan yang dilakukan dalam mendukung UPSUS SIWAB adalah kegiatan Penanggulangan Gangguan Reproduksi untuk meningkatkan jumlah Akseptor Inseminasi Buatan. Strategi lainnya adalah pelarangan pemotongan sapi betina produktif yang telah dipayungi oleh peraturan perundangan di Indonesia. Lebih lanjut Ia jelaskan bahwa dalam pelaksanaan peraturan tersebut, Ditjen PKH bekerjasama dengan pihak Kepolisian dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya sapi betina produktif untuk meningkatkan populasi guna pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia.

Selain itu, Fadjar Sumping juga menambahkan tentang berbagai strategi Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan pakan ternak ruminansia, diantaranya melalui optimalisasi pemanfaatan lahan eks tambang sebagai lokasi produksi hijauan dan penggunaan teknologi pembuatan silase untuk pengawetan pakan.

Menurutnya, dengan adanya kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan yang baik untuk meyakinkan Malaysia bahwa penanganan ternak di Indonesia khususnya ternak ruminansia (sapi, kambing/domba) telah dapat menghasilkan produk yang setara internasional baik dari segi kualitas, keamanan dan kesehatan hewannya. Hal ini untuk mendukung ekspor daging sapi wagyu yang saat ini siap diekspor dari Indonesia ke Malaysia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita ditemui secara terpisah menyampaikan, realibitas dan validitas kinerja Upsus Siwab tidak perlu diragukan lagi, seluruh pelaporan sudah terverifikasi, terlaporkan dan tercatat dalam sistem iSIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Terintegrasi).

Sejak pelaksanaan Upsus Siwab tahun 2017 hingga saat ini (4 Desember 2018) sudah lahir 2.538.766 ekor dari indukan sapi milik peternak di Indonesia.

”Ini sebuah catatan kinerja yang fantastis dan patut kita banggakan dan bukti nyata bahwa lompatan populasi sapi/kerbau sebesar 3,83% pada periode tahun 2015-2018 dibanding 1,03% periode tahun 2012 – 2014 adalah benar adanya (Statistik Ditjen PKH Tahun 2018),” ungkap I Ketut.

Setelah pertemuan di Kanpus Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Delegasi Malaysia tertarik untuk berkunjung ke Balai Embryo Cipelang (BET) Cipelang Bogor yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Koperasi Pengolahan Susu Bandung Utara dan swasta yang bergerak dibidang penggemukan sapi di Lampung yakni PT Great Giant Livestock dan PT Santosa Agrindo di Lampung.(ton/Hum)

Categories
Bisnis Ekonomi

Ditjen PKH Kementan: Ekspor Kambing dan Domba adalah Peluang yang Menjanjikan

Koran Jurnal, Malang – Saat ini kambing dan domba merupakan komoditas ternak yang mempunyai potensi dan peluang ekspor yang sangat menjanjikan. Hal tersebut disampaikan oleh I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan saat menghadiri Silaturahmi Nasional Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (Silatnas HPDKI) ke 6 di Kota Wisata Batu, Malang, Minggu, Jawa Timur (09/12/2018).

Pada kesempatan tersebut I Ketut Diarmita menyampaikan, Ia ingin agar peternak kambing dan domba terus maju dan meningkatkan produksinya, serta dapat merambah ekspor ke mancanegara. I Ketut menyebutkan, pada tahun 2018 Indonesia telah mulai melakukan ekspor ternak domba ekor tipis ke Malaysia, dengan permintaan sebanyak 5.000 ekor per bulan. Selain itu, baru-baru ini juga dilakukan ekspor domba Garut ke Uni Emirat Arab (UEA), dengan permintaan sebanyak 3.600 ekor per tahun.

Menurutnya, selain kedua negara tersebut, wilayah Asia, Afrika, dan Pasifik juga merupakan pasar ekspor yang sangat menjanjikan untuk komoditas ternak domba dan kambing. Dengan mempertimbangkan aspek teknis, pemenuhan lokal dan perkembangan isu perdagangan global, I Ketut Diarmita optimis Indonesia mampu untuk meningkatkan ekspor domba dan kambing dari tahun ke tahun.

Untuk menggenjot ekspor tersebut, maka harus ada jaminan ketersediaan ternak secara kontinyu dan berkelanjutan. Untuk itu, Kementan mendorong dilakukannya kemitraan antara pelaku usaha (eksportir) dengan peternak domba/kambing yang melibatkan lembaga keuangan (perbankan maupun non perbankan) dalam penyediaan permodalan.

“Penyediaan permodalan bagi peternak dapat melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun dengan pemanfaatan Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL),” ungkap I Ketut Diarmita.

Menurutnya, dalam pemanfaatan Program Kemitraan tersebut, Ditjen PKH Kementan telah menawarkan pemanfaatan pinjaman berbunga rendah dari PT. BTN kepada Ketua HPDKI.

I Ketut sebutkan bahwa sampai dengan Oktober tahun 2018, realisasi KUR untuk bidang usaha pembibitan dan budidaya domba dan kambing telah mencapai 387 Milyar rupiah atau mengalami peningkatan sebesar 104,7% dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebesar 189 Milyar rupiah. Begitu pula dengan jumlah debiturnya, pada tahun 2018 sebanyak 23.979 debitur atau meningkat 67,4% dibandingkan tahun 2017 yang hanya 15.515 debitur. Menurutnya, hal ini dapat menunjukkan bahwa peternak kambing domba saat ini sudah berorientasi bisnis dan bankable.

Pada acara puncak Silatnas HPDKI ke 6 ini juga dilakukan kegiatan Kontes Ternak dan Penyerahan Piala Presiden yang diwakili oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan disaksikan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI I Ketut Diarmita, Walikota Batu Dewanti Rumpoko, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Para pengurus HPDKI serta Peternak domba dan kambing se Indonesia.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyampaikan, Presiden Joko Widodo menitipkan salam kepadanya untuk disampaikian ke peternak Kambing dan Domba Indonesia. Pesan Presiden ke peternak agar terus mempertahankan dan memajukan peternakan Kambing dan Domba di Indonesia

“Ini luar biasa, setelah saya melihat ternak-ternak kambing dan domba yang dikonteskan di sini, saya berkeyakinan bahwa kedepan peternakan kambing dan domba akan berkembang lebih pesat,” ucap Moeldoko.

Senada dengan Moeldoko, Bupati Batu Dewanti Rumpoko juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap peternak Indonesia.

“Saya dengar dari Ketua Umum HPDKI Yudi Guntara Noor bahwa pada tahun 2020 rencananya akan diselenggarakan Silatnas International, dan kami siap mendukungnya,” kata Bupati Batu.

Rumpoko mengatakan, dedikasi para pelaku usaha dan asosiasi untuk terus menggaungkan peternakan kambing dan domba di Indonesia perlu diapresiasi. “Kegiatan ini bukan hanya bersilaturahmi, tapi juga untuk bertukar pengalaman, ilmu pengetahuan dan rezeki,” pungkasnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan: Bantuan Alsintan Tingkatkan Produksi dan Sejahterakan Petani

Koran Jurnal, Jakarta – Direkrut Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah menegaskan program mekanisasi pertanian yakni alat mesin pertanian (alsinta) berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani dan tingkat produksi tanaman pangan Indonesia. Alhasil minat generasi muda pun terjun ke sektor pertanian semakin tinggi.

“Bantuan alsintan mampu menekan biaya operasional 35 persen hingga 48 persen dalam produksi petani. Dulu tanpa kemajuan mekanisasi ini, petani bisa membajak sawahnya 1 hektar berhari-hati, tapi ini cukup 2 hingga 3 jam saja,” demikian ditegaskan Andi Nur Alam di Jakarta, Minggu (09/12/2018).

Andi Nur Alam menambahkan dengan penggunaan alsintan modern, penyusutan hasil panen (losses) sebesar 10% pun dapat diselamatkan, meningkatkan nilai tambah dan penanaman padi yang dulunya hanya 1 kali setahun, kini bisa 3 kali karena proses pengolahan dan panen yang cepat.

“Dengan demikian, produksi yang dicapai petani lebih tinggi, pendapatan petani pun ikut naik” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, penggunaan alsintan ini pun mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Sebab, mekanisasi pertanian telah mengubah pandangan masyarakat mengenai bertani.

“Dulu petani miskin, kumuh. Sekarang sejahtera. Lihat saja, dengan alat yang modern, petani bisa olah tanah, tanam, panen sambil telepon dan pakaian yang rapih. Ini mengubah mindset,” lanjut Andi Nur Alam.

Oleh karena itu, Andi Nur Alam menegaskan berkat kontribusi penggunakan alat mesin pertanian yang modern, lima tahun terakhir produksi komoditas tanaman pangan utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai, meningkat signifikan. Setiap tahunnya, rata-rata produksi padi mencapai 4,07 persen, jagung 12,5 persen, dan kedelai 8,79 persen selama lima tahun terakhir.

Terkaiat capain ekspor, Andi Nur Alam membeberkan berdasarkam data BPS, perkembangan ekspor beras khusus dan beras premium melonjak tajam pada periode tahun 2017 dan 2018. Volume ekspor beras kategori ini pada 2017 mencapai 3.433 ton.

“Angka itu meningkat lebih dari 2.540 persen dibandingkan pada 2014 yang hanya sekitar 130 ton,” sebutnya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, hingga September lalu, volume ekspor beras kategori premium dan khusus sudah mencapai 3.069 ton. Begitu pula ekspor dan impor jagung. Indonesia pada tahun 2015 masih mengimpor jagung sebesar 3,5 juta ton tahun 2015 dan tahun 2016 mengimpor 1,3 juta ton.

“Tapi sejak tahun 2016, sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kementan membatasi pemberian rekomendasi impor jagung, dan bahkan pada tahun 2017, sama sekali tidak melakukan impor,” beber Andi Nur Alam.

“Kebijakan ini terbukti mampu menggerakan perekonomian petani. Petani menjadi tertarik menanam jagung karena harga yang bagus. Bahkan tahun 2018 ini telah mampu ekspor jagung sebesar 380.000 ton,” tambahnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data Direktur Alsinta Kemtan Andi Nur Alamsyah, tahun 2018, Kemtan memberi bujet sebesar Rp 2,81 triliun untuk membeli 70.839 unit alsinta yang berfokus pada subsektor padi, jagung dan kedelai. Per November 2018, anggaran dan target sudah terealisasi sebesar 98%. Artinya, sekitar Rp 2,75 triliun dana sudah dirogoh untuk alokasi total 69.196 unit alsinta kepada 69.196 kelompok tani dengan luas lahan sekitar 500 hektare (ha). Tahun lalu, ada sebanyak 84.356 unit alsinta yang dialokasikan. Sisa anggaran untuk pendanan sekitar 1.697 unit yang belum dialokasikan dari target di akhir tahun.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Megapolitan

Pelanggan Setia Honda Bintaro Hadiri ‘Showroom Event’ Akhir Tahun 2018

Koran Jurnal, Bintaro – PT Gading Prima Perkasa atau lebih dikenal dengan Honda Bintaro menggelar program eksklusif Loyalis Honda ‘Showroom Event’, di dealer resminya, Jalan Raya Bintaro Sektor VII Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang, Sabtu (08/12/2018).

Sales Manager Honda Bintaro, M. Burli menuturkan program eksklusif ‘Loyalis Honda’ menjelang akhir tahun 2018 ini merupakan program rutin dari Dealer Pusat Honda yang digelar secara serentak pada Sabtu (08/12) di seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

“Acara ini memang sumbernya dari main dealer (dealer pusat) karena ada program. Selain dari pusat, kami dari Honda Bintaro memang selalu rutin mengadakan tour event, mengundang customer-customer dari kita yang memang bisanya hanya di hari Sabtu. (harapan) Mudah-mudahan ini bisa menambah hubungan kedekatan kita dengan customer, lalu juga membantu customer tentang promo-promo yang terbaik,” ujar Burli kepada rekan media di sela-sela program event tersebut.

Dari pantauan pewarta di lokasi, sekitar ratusan pelanggan setia Honda Bintaro menghadiri undangan event tersebut. Salah satunya tampak hadir seorang aktor senior, Dwi Yan. Selain penggemar mobil merek Honda, ternyata aktor kawakan ini juga sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan setia di Authorized (dealer resmi) Honda Bintaro. Sekadar informasi, Authorized Honda Bintaro berdiri pada 19 Januari 1997.

Dwi Yan mengungkapkan beberapa alasan mengapa ia lebih memilih mobil merek Honda ketimbang lainnya. Pengguna kendaraan roda empat merek Honda sejak tahun 1974 ini menuturkan, mobil Honda adalah kendaraan yang nyaman dan elegan.

“Honda lebih apik, lebih halus dan untuk interiornya lebih elegan,” katanya.

Saat ditanya mengenai penyelenggaraan program event akhir tahun tersebut, Dwi Yan mengutarakan, program ‘Showroom Event’ ini sangat perlu, karena untuk menggairahkan para pelanggan setia dan peminat baru mobil merek Honda.

“Bikin menarik pelanggan mungkin bisa buat undian-undian yang menggairahkan, seperti hadiah tiket paket liburan. Dengan adanya promo-promo menarik, jadi ada timbal baliknya, siapa tau (pelanggan) beruntung diajak ke luar negeri,” imbuhnya.

Berbagai program Authorized Honda Bintaro dalam menjaga hubungan pelanggan setia agar lebih dekat dengan mengedepankan slogan ‘Pelanggan adalah Keluarga’. Pada program event akhir tahun ini pihak Authorized Honda Bintaro menyediakan penawaran khusus berbagai jenis tipe mobil merek Honda, mulai dari potongan harga khusus, bonus hingga pembelian tanpa uang muka. Juga hadiah menarik bagi para pelanggan setia maupun pembeli baru yang telah menandatangani SPK (Surat Pemesanan Kendaraan) merek Honda. Bagi pelanggan tersebut diperkenankan juga mengikuti permainan ‘Spin Win’, dengan hadiah bervariasi mulai hadiah uang tunai hingga voucher paket servis. ‘Spin Win’ merupakan salah satu konsep marketing dan menjadi daya tarik tersendiri yang hanya ada di Authorized Honda Bintaro, tentunya untuk pelanggan setia.(ton)

Categories
Ekonomi

Ditjen Hortikultura Kementan Menggerakkan Sentra Nanas Kediri

Koran Jurnal, Kediri – Komoditas unggulan subsektor hortikultura salah satunya nanas. Komoditas memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga tidak hanya dikonsumsi masyarakat dalam negeri, tetapi juga ekspor baik dalam bentuk segar maupun olahan.

Berangkat dari ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menggerakkan sentra nanas di Kediri, Jawa Timur. Dibalik keindahan wisata Gunung Kelud, Kecamatan Ngancar, Kediri berpotensi sebagai wilayah penghasil buah nanas.

“Lahan 7.650 hektar ditanami nanas jenis Paair Kelud (PK-1), PK Berduri, Madu, Queen, Smooth Qayenne. Nanas jenis KP-1 beratnya 2 hingga 3 kg perbutir,” demikian dikemukakan Dirjen Hortikultura, Suwandi yang saat mengunjugi hamparan nanas di Kediri, Sabtu (08/12/2018).

Suwandi menjelaskan sentra nanas di Indonesia tersebar di berbagai daerah. Yakni Kabupaten Subang, Pemalang, Prabumulih, Kediri, Blitar, Kubu Raya, Mempawah, Muaro Jambi, Kampar, Lampung Tengah dan Karimun.

“Produksi nanas di tahun 2016 sebesar 1,39 juta ton naik 22,3 persen tahun 2017 menjadi 1,79 juta ton. Ini pencapaian yang bagus kerja keras petani, pemerintah dan para pelaku usaha. Semuanya bersinergi dengan baik,” jelasnya.

Sesuai data BPS, Indonesia ekspor nanas segar 2017 sebesar 9.586 ton, naik 17,5 persen dan periode Januari-Oktober 2018 ekspor menjadi 11.247 ton. Negara tujuan ekspor ke Uni Emirat Arab, Jepang, Hongkong, Singapura, Saudi Arabia, Oman, Canada, Kuwait, Korea.

“Sebanyak 95 persen ekspor nanas dalam bentuk olahan dan sisanya dalam bentuk segar. Pangsa ekspor nanas ini 85 persen dari total ekspor buah,” ungkap Suwandi.

Terkait kandungan dan khasiat nanas, Lebih lanjut Suwandi katakan, buah nanas kaya akan vitamin C dan mangan, serta mengandung vitamin A, vitamin B1, vitamin B6, tembaga, serat pangan, folat, dan asam pantotenik. Buah nanas pun mengandung enzim proteolitik bromelain berperan membantu memecah protein, mencegah kanker dan membantu sistem pencernaan.

“Nanas juga mambantu menurunkan berat badan, daya tahan tubuh, meredakan peradangan, sinusitis, memperkuat kinerja mata, dan antioksidan,” terang dia.

Manajer Koperasi Langgeng Mulyo, Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kediri, Endro Pujiastoko mengatakan nanas varietas Madu Kelud dan PK-1 luaa 452 hektar berproduksi 2 ton perhari. Sedangkan jenis queen simplex serta Queen Asam Gulas 7200 hektar, hasil 70 ton per hari.

“Kediri memasok pasar tradisional se jawa Bali dan pasok psar modern jawa bali dengan jatingan koperasi maupun asosiasi,”ujar Endro

“Dulu pernah Kerjasama PT Alamanda Bandung, untuk ekspor namun terhenti. Pernah Kirim Ke pasar Singapura dengan jenis Queen Batu Super, kendala yg muncul nanas tidak bisa tahan lama mudah busuk,” sambungnya.

Hingga saat ini, lanjut Endro, pasar nanas dunia dikuasai Del Monte, Alamanda, Great Giant Pineaple baru mampu memasok memenuhi kebutuhan pasar dunia sekitar 55 persen dari kebutuhan. Karenanya, agar petani nanas kediri bisa mengasilkan nanas berkualitas ekspor, dia mengusulkan agar dibantu alat kultur jaringan bibit.

“Kemudian, perlu juga bantuan formula pupuk khusus nanas dalam bentuk cair pengganti Tetes dan pasca panen berupa cairan zat lilin buah untuk melapisi kulit buah nanas agar tahan lama,” tutur Endro.

Endro mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan riset daun nanas untuk serat nanasnya dengan bakteri pengurai selulosa di laboratorium UNISKA. Satu batang pohon nanas menghasilkan serat kering 150 gram, harga serat pasar amerika 250.000 per kg untuk bahan tenun kain korden dn kain baju.

“Untuk serat dari nanas jenus simplex dn asam gulas kualitas serat setara dengan sutra. Ini menurut uji laboratorium Balitas Malang,” ungkapnya.

“Satu hektar menghasilkan serat 150 gram dikalikan 80.000 populasi pohon nanas hasilnya 12.000 kg dikali Rp 250.000. Hasilnya Rp 3 miliar. Ini potensi emas hijau yang belum tergali yang bisa bikin Indonesia kaya raya petani sejahtera,” imbuh Endro.(ton/Hum)