Categories
Ekonomi

Kementan – Kementerian ATR/BPN Verifikasi Data Luas Baku Sawah

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyambangi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Kedatangan SYL masih bagian dari upayanya merealisasikan program 100 hari kerjanya, yakni menyinergikan data pertanian, terutama luas baku sawah.

“Per 1 Desember kita akan sepakati bersama data akhir yang digunakan. Tidak ada lagi istilah data-data berbeda. Data pertanian hanya ada satu,” ungkap SYL saat jumpa pers seusai melakukan pertemuan tertutup antara jajaran Kementan dan Kementerian ATR/BPN di Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta Selatan, Kamis (31/10/2019).

SYL menegaskan berdasarkan hasil pertemuan tertutup, tim Kementan dan Kementerian ATR/BPN akan bersama-sama melakukan verifikasi terhadap sejumlah wilayah. Tidak hanya dua kementerian ini, verifikasi juga akan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

“Perbedaan terjadi karena kita menggunakan citra satelit sehingga ada bias. Kita sekarang sudah satu data, kita akan menggunakan citra satelit dengan deviasi rendah dengan demikian kesalahannnya bisa kita perhitungkan,” papar SYL.

SYL berjanji akan mengawal secara langsung proses verifikasi. Apalagi hasil akhir data ini akan digunakan dalam perumusan kebijakan pembangunan di sektor pertanian.

“Dampak dari data akhir akan sangat besar, baik terhadap petani maupun masyarakat luas. Jadi kita tidak boleh main-main. Apalagi ini menyangkut kebutuhan pangan 267 juta rakyat Indonesia,” ujar SYL.

Kunjungan SYL tidak hanya akan berhenti di Kementerian ATR/BPN. SYL sudah dijadwalkan akan berkunjung ke sejumlah kementerian/lembaga lainnya, seperti Kementerian Perdagangan serta Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. “Kita harus menyatu, urusan kita sama kok, yaitu negara dan rakyat,” tandas SYL.

Menteri ATR/BPN Sofyan Djalil menyambut hangat kedatangan Menteri Pertanian ke kantornya. Sofyan memastikan tidak akan ada lagi perbedaan data karena semua pihak akan duduk bersama memverifikasi data.

“Ternyata menggunakan data citra satelit itu ada deviasi nya sehingga itu yang akan kita cek ke lapangan bersama-sama. Sekarang hasil ceknya sudah ada, tinggal kita rapatkan untuk kita sepakati,” jelas Sofyan.

Berdasarkan perhitungan tahun 2018, Lahan Baku Sawah Nasional seluas 7.105.145 hektare, berkurang 645.854 hektare dibandingkan Lahan Baku Sawah Tahun 2013 seluas 7.750.999 hektare. Tapi Sofyan memastikan perhitungan tersebut akan berubah.

“Kita sudah punya data, tapi tidak akan merilis sebelum teman-teman memfinalkan hasilnya. Kami memastikan akan penambahan, tapi untuk hasil akhirnya mari kita tunggu keputusan rapat bersama,” tegas Sofyan.

Hingga 31 Oktober 2019, Kementerian ATR/BPN sudah melakukan validasi terhadap 20 provinsi meliputi provinsi di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatera, serta provinsi Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

“Kami memilih 20 provinsi tersebut karena mereka adalah daerah penghasil beras terbesar yang menjadi lumbung pangan nasional. Tiga belas provinsi lainnya akan kami periksa, tapi hasilnya sudah tidak signifikan lagi,” terang Sofyan.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementerian Pertanian Jalin Kerjasama Lintas Sektor Tangani Stunting

Koran Jurnal, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan salah satu program prioritas di periode kedua pemerintahannya adalah pembangunan sumber daya manusia. Komitmen pemerintah untuk mencetak generasi emas yang sehat dan kuat salah satunya adalah dengan upaya menekan angka stunting di Indonesia

Kementerian Pertanian bersama dengan Tujuh Kementerian dan Lembaga lain melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) mendukung program pengentasan daerah rentan rawan pangan yang disaksikan langsung oleh Menteri Pertanian. Penandatanganan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam penurunan prevalensi stunting atau angka kekurangan gizi di Indonesia.

Dalam arahannya, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo, menegaskan kerjasama ini merupakan bagian dari upaya maksimal dari sebuah negara dalam membuktikan kehadirannya ditengah rakyat, mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“Kerjasama ini merupakan keterpanggilan tanggung jawab moralitas kebangsaan, saya berharap hari ini adalah bagian – bagian dari implementasi kita, bahwa negara bangsa tidak salah memilih kita untuk mengurus bangsa dan negara ini,” ungkap Syahrul di Hotel Bidakara, Jakarta (30/10/2019).

Syahrul mengatakan bahwa penyebab kerawanan pangan di Indonesia sangat multifaktor, karena itu penyelesaiannya harus dilakukan secara multisektor, “Indonesia adalah negara besar ke empat dunia, terdiri dari 17 ribu lebih pulau dengan jumlah penduduk mencapai 267 juta jiwa, tidak gampang untuk bisa menjadikan negara ini menjadi sesuatu yang bisa terjaga dengan baik, cara satu-satunya adalah bagaimana kita sama – sama bertanggung jawab terhadap pangan dari 267 juta jiwa rakyat Indonesia,” ungkap Syahrul.

Mentan Syahrul menekankan perlunya dukungan lintas sektor dalam penanganan daerah rentan rawan pangan. Berdasarkan hasil Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA) Tahun 2018, masih terdapat 88 Kabupaten/ kota atau 17,1 % di Indonesia yang masih masuk katergori daerah rentan rawan pangan. Ia mengatakan isu pangan bersifat sangat kompleks dan multidimensi, dengan sinergi lintas sektor dan target waktu yang tepat, permasalahan kerawanan pangan didaerah akan lebih mudah diurai.

“Katakanlah 34 propinsi, 582 kabupaten kota yang rawan berapa, kita sama-sama konsentrasi, apalagi teman-teman dari kabupaten dan propinsi , kita harus bersatu, kita maping data yang benar, kita fokus pada data itu,pada daerah rawan yang kita miliki, kita harus saling melengkapi,saya yakin bisa,” tegas Syahrul.

FSVA merupakan peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis dari hasil analisa data indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan. FSVA disusun menggunakan sembilan indikator yang mewakili tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. FSVA memberikan rekomendasi kepada pembuat keputusan dalam penyusunan kebijakan dan program intervensi baik di tingkat pusat dan daerah dengan melihat indikator utama yang menjadi pemicu terjadinya kerentanan terhadap kerawanan pangan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan situasi ketahanan pangan di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, jika dibandingkan dengan FSVA 2015, terdapat 177 Kabupaten yang mengalami peningkatanan status ketahanan pangan.

“Berdasarkan hasil FSVA 2018, ada 426 kabupaten dan kota atau 82,9 % di Indonesia, yang sudah masuk katergori daerah tahan pangan, jika disbanding 2015, ada peningkatan status ketahanan pangan di 177 kabupaten” terang Agung.

Lebih lanjut Agung menjelaskan, pengentasan rawan pangan juga kemiskinan termasuk stunting harus dikerjakan bersama-sama sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Intervensi program diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang menjadi factor penyebab kerentanan pangan.

“Sinergitas lintas sektor telah dilakukan, dan kita bersama-sama sepakat untuk bekerja bersama. Sebelum penandatanganan ini, proses memperkuat sinergitas telah kita lakukan dalam bentuk FGD mensinergikan program” kata Agung.

Adapun Kementerian dan Lembaga lain yang ikut terlibat dalam penandatanganan Perjanjian Kerja Sama tersebut adalah Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam negeri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Serta Lembaga Ketahanan Nasional.(hum/red)

Categories
Ekonomi Ragam

Mentan Syahrul Yasin Limpo Rangkul para Senior dan Mantan Menteri

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta izin dan dukungan para mantan menteri dan wakil menteri pertanian era sebelumnya untuk memajukan pertanian Indonesia. Mentan ingin agar mereka berbagi ilmu dan pengalaman terkait sektor pertanian selama mereka menjabat.

“Ini bagian dari silaturahmi, saya izin untuk memimpin Kementerian ini. Saya berharap dukungan dan bantuan para orang hebat di bidang pertanian pada masanya. Dan saya berharap kehadiran mereka yang akan terus bersama saya, membantu saya dalam memecahkan banyak masalah pertanian,” ucap Mentan SYL dalam Tatap Muka dan Silaturrahmi dengan para mantan Menteri dan Pejabat Teras Kementerian Pertanian, di Gedung PIA kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (28/10/2019).

Dalam kesempatan ini, Mentan dengan 244 penghargaan ini menegaskan akan belajar dari para senior menteri, bahkan Mentan rela dikoreksi dan diberikan masukan dalam pengelolaan pertanian. Menurutnya, sebuah negara kuat apabila pertaniannya juga kuat, sehingga fungsi Kementerian Pertanian luar biasa dengan kompleksitas dan dinamika yang berkembang sangat cepat.

“Kita tidak bisa lagi menggunakan paradigma lama dan banyak cara-cara baru yang harus kita pelajari dikarenakan kemajuan teknologi sangat cepat, “ tegasnya. Lebih lanjut Mentan SYL mengatakan kompleksitas masalah yang besar membuat sentralisasi strategi tidak harus di Jakarta. Kementerian pertanian tidak bisa bekerja sendiri dan harus bermitra dengan yang lain.

“Kementan membutuhkan kemitraan dan kerjasama bersinergi dengan kementerian lain, dengan para Gubernur, Para bupati bahkan sampai di lapangan harus bermitra dengan para Camat dan para kepala desa maupun Lurah,” ungkap Syahrul.

Karenanya, SYL menegaskan dirinya fokus membangun Sistem Komando Strategis Teknis Pertanian (Kostra Tani) dalam 100 hari pertama, dan dalam level lapangan, pengendalian dan operasionalnya dipusatkan di kecamatan-kecamatan, dengan keterlibatan pihak lainnya seperti TNI-Polri.

Sementara Menteri Pertanian Indonesia periode 1992-1997, Sjarifuddin Baharsjah mengungkapkan jika kemampuan lokal dan kemampuan petani, bersama dengan peneliti tanpa banyak campur tangan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

“Sebaiknya kita mengapresiasi kemampuan petani kita, tidak perlu diributkan dengan peraturan peraturan dan subsidinya tidak efektif,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri Pertanian Periode 2000-2004, Bungaran Saragih mengapresiasi seluruh rangkaian tatap muka dan silaturahmi ini. Kata dia, komunikasi yang dibangun sangat bagus untuk perkembangan dan pembangunan pertanian ke depan.

“Development for agriculture penting. bagaimana mengikutsertakan institusi lain untuk membangun pertanian seperti kementeria PUPR, perindustrian , Kementrian perdagangan dan kementerian lainnya,” katanya.

Suswono, Menteri Pertanian periode 2009-2014, juga mengatakan jika persoalan pertanian bukan hanya tanggung jawab kementrian pertanian tetapi juga menjadi tanggung jawab lintas sektor.

“Saya kira bagus sekali kalo kita mampu berkoordinasi dan mampu mengajak kementerian lain untuk membangun pertanian. Kalo bisa digerakkan dan dioptimalkan maka hasilnya akan sangat baik,” tambahnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan SYL: Komando Strategis Pertanian Segera Diaktifkan

Koran Jurnal, Batangkaluku – Usai acara serah terima jabatan di kantor pusat Kementrian Pertanian pada Jum’at (25/10/2019), Menteri Pertanian (Mentan) kabinet Indonesia Maju, Syahrul Yasin Limpo (SYL) langsung tancap gas dan memberi komando untuk segera mengaktifkan stategis kerja, dengan menghidupkan penyuluh pertanian. Mentan mengaku pada kesempatan sebelumnya, bahwa pembangunan pertanian dengan melibatkan peran penyuluh sampai di tingkat Kecamatan itu penting.

Tanpa menunda untuk kerja, Mentan langsung lakukan kunjungan pertamanya di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Makassar.

“Penyuluh pertanian adalah inti dari agen of change pembangunan pertanian. Karena itu, jadilah penyuluh pertanian yang hebat, disayangi serta ditunggu oleh semua masyarakat pertanian,” ucapnya saat memberikan arahan pada acara kunjungan tersebut.

Mentan mengungkapkan jika penyuluh adalah otaknya masyarakat di bawah. Penyuluh harus mampu mengelola tata kelola pertanian yang ada di masyarakat. Penyuluh juga harus berperan sebagai pasukan ‘kopassus’ pertanian.

“Mengurus pertanian sama artinya mengurus tambang emas 100 karat. Artinya pengelola pertanian orang hebat. semua orang membutuhkan dan ingin pertanian baik,” tegas SYL.

Selanjutnya, SYL menambahkan sebanyak 267 juta penduduk Indonesia tidak boleh terganggu pangannya, dan mewujudkan pangan yang cukup, akan menjadi ladang ibadah buat semua yang telah mengurusnya.

Mentan menekankan bahwa desa akan menjadi baik dan kuat, apabila penyuluh pertanian bisa memanfaatkan dan mengadaptasikan teknologi hasil-hasil penelitian.

“Peran BBPP akan menjadi penting dan strategis untuk menghilirisasikan inovasi teknologi kepada masyarakat bawah. Untuk itu, bangun framework BBPP yang kuat dengan membangun kerjasama dengan Perguruan Tinggi,” tambahnya.

Mentan juga mengatakan jika untuk membangun Behavior leadership, dalam 100 hari ke depan akan ada sistem komando strategis di tingkat kecamatan.

“Tugas sebagai pengendalian dan pelaksana, penyuluhan terpadu, show window inovasi, pemanfaatan citra satelit. Semua kekuatan dan sumberdaya pertanian akan dialokasikn disitu dengan memanfaatkn Artificial Intelegence (AI)” bebernya.

Syahrul juga mengatakan bahwa sebuah negara akan menjadi kuat apabila pertaniannya kuat, karena itu Mentan dan Kementan merupakan wilayah kerja yang strategis dan istimewa.

“Riset di kementan juga akan dihidupkan kembali dengan menempatkan SDM yang memiliki kompetensi yang memadai untuk menghasilkan dan mengembangkan berbagai inovasi teknologi,” tambahnya.(hum/red)

Categories
Ragam

Kementan Tegaskan Sertijab Syahrul Yasin Limpo dan Andi Amran Sudah Sesuai Jadwal

Koran Jurnal, Jakarta – Sehubungan dengan beredarnya informasi yang dirilis oknum forum wartawan pertanian (Forwatan) terkait mundurnya serah terima jabatan Menteri Pertanian akibat ketidakhadiran Amran Sulaiman sebagai Menteri Periode sebelumnya, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menegaskan tidak benar informasi yang beredar.

Informasi yang disampaikan forwatan tidak berdasar informasi yang akurat, dan menimbulkan persepsi miring terkait sertijab Mentan.

“Yang benar adalah sertijab sudah disepakati sejak awal diselenggarakan pada hari Jumat 25 Oktober 2019, dan kehadiran Mentan Syahrul kemarin pada hari pertama pasca pelantikan, ditujukan untuk silaturrahmi bersama keluarga besar Kementan,” tegas Kuntoro, di Jakarta, Kamis (24/10/2019).

Terkait mundurnya waktu sertijab tak lebih karena untuk mempersiapkan lebih baik acaranya, mengingat serah terima ini dilakukan antara dua pejabat negara yang berkontribusi positif bagi rakyat.

“Saya menghimbau wartawan dan masyarakat dapat mengkonfirmasi pada kami apabila terdapat informasi yang kurang jelas, dan tidak membuat opini publik yang berbeda. Pak Syahrul dan Pak Amran mempunyai hubungan yang sangat baik dan harmonis, dan keduanya putra dari Sulawesi Selatan terbaik, dan aset bangsa,” tutup Kuntoro.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Kawal Optimalisasi Alsintan untuk Tingkatkan Luas Tambah Tanam

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mengawal ketat optimalisasi atau pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan) guna mensukseskan Program Upaya Khusus (Upsus) percepatan swasembada padi, jagung dan kedelai (Pajale), khususnya meningkatkan luas tambah tanam. Pasalnya, sejak Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kurun waktu 2014-2019, terbanyak menggelontorkan bantuan alsintan sehingga pemanfataanya harus berkelanjuntan.

“Sejak kepemimpinan Mentan Amran Sulaiman 5 tahun yang lalu, pemanfaatan alsintan sudah digalakkan ke seluruh pelosok negeri. Berbagai macam bantuan alsintan telah digelontorkan ke petani. Tidak hanya berhenti pada pemberian bantuan, tentunya perlu dipastikan keberlanjutan pemanfaatannya,” demikian ditegaskan Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto sekaligus Penanggungjawab (PJ) Upsus Jawa Timur pada Rapat Koordinasi (Rakor) beserta seluruh PJ Kabupaten dan jajaran Kodam Militer V Brawijaya di Surabaya, Jum’at kemarin (11/10/2019).

Pria yang akran disapa Prihasto ini menjelaskan untuk memastikan optimalisasi alsintan, Kementan kembali menggalakkan dan memastikan tidak ada Alsintan yang menganggur. Tim Upsus aktif turun ke lapangan sehingga penggunaan alsintan benar mempercepat tanam, meningkatkan luas tambah tanam, meminimalisir losses dan meringankan biaya usaha tani.

“Jadi harus ada pengecekan kembali, jangan ragu untuk memindahkan jika tidak produktif,” jelasnya.

Kepala Bidang Informasi dan Jaringan Laboratorium, Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kementan, Tri Martini sekaligus PJ Upsus dan Optimasi Alsintan Kabupaten Bojonegoro mengatakan optimalisasi alsintan segera ditindaklanjuti untuk menggenjot luas tambah tanam di Bojonegoro. Target LTT bulan Oktober 2019 sebesar 8.867 hektar.

“Kami bersama dinas pertanian, TNI, penyuluh, ketua kelompok tani, pengurus Unit Pengelola Jasa Alsintan akan menyepakati langkah-langkah untuk mencapai target tersebut. Kita kawal pemanfaatan alsintan ini untuk mendukung program Upsus Pajale,” tutur Tri.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Optimalkan Pelayanan Publik Dalam Pelepasan Varietas Tanaman Pakan Ternak

Koran Jurnal, Bogor – Kementerian Pertanian mengoptimalkan pelayanan publik untuk mengakomodasi kebutuhan petani/peternak dalam Permentan No. 38 Tahun 2019 terkait pelepasan varietas tanaman termasuk tanaman pakan ternak. Hal ini sebagai bentuk pengakuan pemerintah terhadap suatu varietas hasil pemuliaan dalam negeri atau introduksi dari luar yang dinyatakan varietas tersebut unggul dapat diedarkan. Saat ini telah ada beberapa jenis tanaman pakan ternak yang siap dilepas dalam waktu dekat oleh UPT/UPTD.

Menurut Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sri Widayati sebagaimana diamanahkan dalam Permentan tersebut, telah diterbitkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4264 Tahun 2019, tentang Pedoman Teknis Pelepasan dan Penarikan Varietas Tanaman pakan ternak sebagai acuan operasional kegiatan bagi pelaku di lapangan.

“Kami berharap akan terjadi peningkatan produksi benih tanaman pakan ternak yang berkualitas dan berkelanjutan untuk mendukung peningkatan budidaya tanaman pakan ternak unggul di masa mendatang,” ujar Widayati saat menjadi Narasumber pada acara Workshop Aplikasi Pelepasan Varietas Tanaman secara online di IPB Convention Hotel Bogor, Kamis (10/10/2019).

Workshop Aplikasi Pelepasan Varietas Tanaman Secara Online diselenggarakan sebagai upaya memberikan pemahaman terkait regulasi dan prosedur penilaian dan pelepasan varietas tanaman kepada pemulia, pelaku usaha, serta stakeholder terkait agar mampu memahami regulasi dan prosedur penilaian dan pelepasan varietas tanaman khususnya tanaman pakan ternak.

Widayati mengapresiasi Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) dalam mengimplementasikan Permentan Nomor 38 Tahun 2019, dengan membangun sistem aplikasi pelepasan varietas tanaman secara online.

Tingkatkan Pelayanan Perlindungan Varietas

Pada kesempatan itu, juga hadir narasumber dari Balai Besar Biogen, Ditjen Perkebunan dan Ditjen Tanaman Pangan, yang diikuti oleh 10 UPT Pusat, 2 UPTD, dan 15 pelaku usaha yang berkecimpung dalam bidang perbenihan tanaman perkebunan, pangan dan pakan ternak.

Kepala PPVTPP, Erizal Jamal menyatakan Permentan Nomor 38 Tahun 2019 selain mengatur ketentuan pelepasan tanaman non Produk Rekayasa Genetika (PRG), sekaligus mengatur ketentuan pelepasan tanaman PRG yang sebelumnya diatur dalam Permentan 61 tahun 2011.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan di bidang perlindungan varietas tanaman dan perizinan di sektor pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Riyadi salah satu pelaku usaha pemilik yang bergerak dalam usaha perbenihan tanaman pakan yang beralamat di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang menjadi produsen benih tanaman pakan ternak terbesar di Provinsi Jawa Tengah.

Lahan seluas 6 Ha, perusahaan ini mampu memproduksi 1.500 stek rumput odot dan 200.000 polybag indigofera per tahun yang saat ini menjadi primadona dan pakan lainnya seperti Rumput Raja, Rumput Gajah Taiwan, Rumput BD, Turi, dan Gamal.

Riyadi menyampaikan perusahaan miliknya berperan penting menyukseskan program pemerintah dalam menyediakan benih dalam kegiatan Pengembangan Hijauan Pakan Berkualitas (Gerbang Patas) di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DIY sejak tahun 2016 hingga sekarang.

Lanjut Riyadi menambahkan sebagai produsen benih bina Indigofera, ia optimis ke depannya mampu memperluas pasar ke seluruh Indonesia.

“Kedepannya, Saya bercita-cita ingin memasarkan benih/bibit tanaman pakan yang saya produksi masuk e-katalog, tentunya dengan mematuhi peraturan yang berlaku di bidang perbenihan tanaman pakan.” harapnya.

Riyadi mengatakan dalam menjalankan usahanya ini, dirinya telah membuka peluang kerjasama dengan pemulia/lembaga pemulia/institusi atau pemerintah untuk rencana pelepasan Rumput Odot dan Rumput Gajah Taiwan.

Menanggapi hal tersebut, Widayati menyampaikan bahwa Pemerintah pusat dan daerah perlu mendukung keinginan petani seperti Riyadi untuk menjadi produsen benih tanaman pakan ternak di negeri sendiri.

“Hal ini sejalan dengan amanah Permentan 38 tahun 2019 Pasal 6,” tutup Widayati.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Luncurkan ‘YESS’ Program, Cetak Generasi Muda Berwirausaha Pertanian

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan program pengembangan kewirausahaan dan ketenagakerjaan pemuda di sektor pertanian (Youth Enterpreneurship and Employment Support Services Programme atau yang dikenal YESS Program di Jakarta, Jumat (11/10/2019). Program ini kerja sama antara Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Mentan Amran menegaskan program ini siap dijalankan untuk menjangkau lebih banyak petani muda yang memiliki minat berwirausaha dan ingin terjun kedunia pertanian. Dengan program ini, generasi muda diedukasi baik dari sektor hulu hingga hilir.

“Di sektor hulu, kita menggunakan pertanian modern dan di hilir kita menggunakan teknologi canggih untuk packing dan seterusnya sehingga nilai komoditas pertanian naik 50 persen hingga 100 persen serta dapat menjawab tantangan di era ini,” tegas Amran.

Oleh karena itu, Amran menjelaskan program kewirausahaan bagi petani muda ini sangat penting karena sesuai dengan arahan Presiden Jokowi. Pengembangan kewirausahaan menjadikan petani muda berinovasi untuk mendapatkan added value dari suatu komoditas, yang selama ini tidak dinikmati petani.

“Added valuenya itu ada di processingnya. Jadi di hulu itu biasa keuntungannya tidak terlalu besar atau lebih sedikit. Tetapi di hilir added valuenya itu luar biasa besar sampai 100 persen,” beber Amran.

“Namun bagi para pemuda tani, kemauan, keyakinan harus ada dulu. Jadi kita harus yakin bahwa kita bisa berhasil,” pintanya.

Lebih lanjut Amran membeberkan peran pemerintah guna memfasilitasi para petani muda yakni Kementan menyediakan bibit gratis, bantuan teknologi, alat mesin pertanian dan bantuan yang disertai pendampingan. Petani muda diharapkan dapat meningkatkan produksi, produktivitas dan nilai tambah serta membangun pasar yang menguntungkan petani.

“Sekarang pemuda tani ada 500 ribu sampai dengan sekarang kalau itu bergerak Insya Allah produksi semakin baik,” tandasnya.

Masih di tempat yang sama, Projek Manager YESS Program, Yul Bahar mengatakan program ini dapat menyelesaikan permasalahan yang menyangkut regenerasi petani. Di mana, petani itu hingga saat ini semakin lama semakin berkurang.

“Tapi kalo petani hanya bercocok tanam saja itu tidak akan menarik bagi petani. Oleh karena itu, kita tambahkan kewirausahaan, kita tambahkan sebagai kompetensi mereka,” ujarnya.

Bahar menjelaskan kewirausahaan berarti mereka akan menjadi pelaku usaha nantinya. Dalam program YESS ini , para generasi dan petani muda akan dididik serta dampingi di lapangan atau jika mereka menjadi job seeker, maka akan menjadi pekerja harus kompeten dalam bidangnya.

“Jadi kuat dalam bidangnya dan punya kemampuna bukan hanya di bidang pertanian umum tapi lebih spesifik,” terangnya.

Lebih lanjut Bahar menuturkan program ini akan menjawab kebutuhan dunia kerja saat ini juga. Yakni bagaimana meningkatkan kompetensi para generasi muda sehingga memiliki sertifikasi dan petani muda ahli dalam bidangnya. Contohnya ahli dalam tanaman anggrek atau bidang produksi tanaman hias atau tanaman pangan sehingga begitu dia cari kerja bisa langsung di pakai.

“Hal ini dapat mengubah paradigma jika pertanian itu kegiatan tidak menarik, prospektif dan menguntungkan, dan dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran serta terjadinya urbanisasi,” tuturnya.

“Kuncinya ada dua yaitu mengajak mereka menjadi wirausaha atau meningkatkan kompetensi mereka sehingga mereka dapat bersertifikat atau ahli dalam bidangnya,” sambungnya.

Bahar menambahkan ada 4 indikator yang akan dicapai dalam program YESS. Pertama, Rural youth transition to work (peningkatan kapasitas pemuda perdesaan di bidang pertanian). 2. Rural Youth Entrepeneurship (Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan). 3) Investing to Rural Youth (Fasilitasi akses permodalan).

“Keempat, Enabling Environment fo Rural Youth yakni membangun lingkungan usaha yang kondusif,” tukasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dukung Penggunaan Pestisida Nabati Guna Kendalikan Hama Penggerek Batang Padi

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung penggunaan pestisida nabati (pesnab) untuk mengendalikan hama penggerek batang padi. Hal ini sejalan dengan penggunaan pesnab yang semakin diminati petani sebagai pilihan pertama saat tanaman terkena hama atau penyakit.

“Hal ini tidak terlepas dengan semakin meningkatnya pemahaman terkait keunggulan pertanian ramah lingkungan di masyarakat. Selain karena penggunaannya yang aman bagi lingkungan, pesnab juga tidak menimbulkan resistensi hama di kemudian hari dan produk yang dihasilkan bebas dari residu berbahaya,” ujar Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, Edy Purnawan di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Karena itu, Edy menyatakan Kementan mengapresiasi penggunaan pesnab di kalangan petani Pati. Kementan sangat mendukung peran aktif petani untuk menggunakan pestisida nabati sebagai salah satu upaya dalam penerapan sistem pertanian organik yang memang sedang digalakkan saat ini.

“Harapannya akan semakin banyak petani yang mengutamakan penggunaan pesnab dibandingkan pestisida sintetis, tidak hanya di lingkup Kabupaten Pati saja melainkan di kabupaten lainnya,” tukas Edy.

Pimpinan Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kabupaten Pati, Ari Marhaeniati menjelaskan Pati menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang giat memperkenalkan pestisida nabati kepada petani. Laboratorium yang dikelolalnya sering mengadakan pelatihan kepada petani terkait pembuatan pesnab sekaligus memberi pemahaman tentang pentingnya pemilihan pestisida nabati dibanding sintetis.

“Kesadaran petani tentang pertanian ramah lingkungan semakin tinggi. Beberapa kelompok tani sering datang ke sini untuk minta pelatihan pembuatan pesnab ataupun bibit agens hayati,” terangnya.

Karena itu, Ari berharap penggunaan pesnab sebaiknya mendapat dukungan, tidak hanya dari pemerintah tapi dari masyarakat luas sebagai konsumen yang mengutamakan pembelian produk pertanian ramah lingkungan. Baru-baru ini juga ada kelompok tani yang mengendalikan hama penggerek batang padi dengan pesnab.

“Pesnabnya mereka buat sendiri, dibantu oleh petugas dari Laboratorium,” ujarnya.

“Pesnab yang dimaksud digunakan oleh poktan Karya Tani di Desa Kadilangu, dan poktan Tani Mulyo I Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati,” tambah dia.

Kadar, salah seorang Petugas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Penyelia Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kabupaten Pati menuturkan hasil aplikasi pesnab cukup memuaskan dengan kematian hama berselang 3 sampai 4 hari pasca aplikasi pesnab. Pembuatan pesnabnya mudah, yakni daun mimba, kunyit, laos, dan buah maja ditumbuk halus kemudian ditambah samponin dan tembakau lalu direndam selama 7 sampai 10 hari.

“Perbandingan untuk semua bahan 10 sampai 20%, sedangkan airnya 80% untuk 1 drum isi 200 liter,” ujar Kadar yang bertugas menemani petani dalam pembuatan pesnab dan pengaplikasiannya di lahan sawah petani.

Kadar menambahkan bahwa pemilihan pesnab untuk pengendalian hama penyakit harapannya bisa memenuhi tuntutan masyarakat atas produk pertanian yang berkualitas, aman, bersih, dan bebas dari residu pestisida.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Indonesia Pimpin Pertemuan Internasional Pertanian Adaptif Iklim Global

Koran Jurnal, Bali – “Emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global memerlukan tindakan nyata seluruh pihak dalam melaksanakan upaya mereduksi emisi gas rumah kaca, dan pada saat bersamaan mengembangkan inisiatif global guna adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” ujar Fadjry Djufry Kepala Badan Litbang Kementan, saat membuka pertemuan the 9th Global Research Alliance (GRA) Green Gas Houses and Emission Council Meeting pada 6-7 September 2019 di Bali.

Pertemuan yang dihadiri perwakilan 56 negara ini akan dirangkaikan dengan the 5th Global Science Conference on Climate Smart Agriculture yang akan dilaksanakan di Jimbaran, Bali pada 8-11 Oktober 2019. Fadjry mengatakan climate change atau perubahan iklim adalah hal yang nyata dan telah memberikan dampak yang ekstrim di berbagai negara.

Lebih lanjut dikatakan sektor pertanian adalah yang paling rentan menghadapi cuaca yang ekstrim karena perubahan iklim, sementara pertanian harus dapat berproduksi tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Fadjry selaku Ketua GRA yang baru, mengingatkan pentingnya dukungan dan kolaborasi seluruh pihak menghadapi perubahan iklim. “Dunia menunggu implementasi system manajemen berbasis sains untuk pangan dan pertanian yang lebih kuat,” kata Fadjry.

Fadjry mengemukakan visi GRA satu tahun ke depan, GRA menjadi majelis terkemuka di dunia dalam penelitian dan pengembangan teknologi, terkait adaptasi terhadap iklim ekstrem, dan mitigasi gas rumah kaca pertanian.

Sebagai informasi, Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases (GRA) sejak 2009 telah mempunyai anggota 56 negara. Aliansi ini membawa negara-negara anggotanya untuk mencari dan mempraktekan cara untuk mengembangkan pertanian guna memperoleh pangan berlimpah tanpa harus meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Kegiatan Aliansi ini melaksanakan empat grup riset, yaitu Paddy Rice, Livestock, Cropland, dan Integrative. Setiap grup riset melaksanakan pertemuan rutin guna mengevaluasi kemajuan kegiatan yang sedang dilaksanakan dan juga membahas isu-isu terkini. Pertemuan tahunan kali ini, Indonesia bertindak sebagai Ketua Konsil, dengan mengambil tema ‘Decision support tools’ yang fokus kepada sains dan training pada GRA’s Research Groups.

Pemerintah Indonesia sendiri menurut Fadjry, melalui Kementerian Pertanian terus mendorong dan mengembangkan sistem pertanian yang ramah iklim dan ramah lingkungan. Pemerintah terus bermitra dengan negara lain dan beberapa lembaga internasional agar sistem pertanian ramah iklim dapat dimodifikasi, diadaptasi dan diterapkan di Indonesia.(hum/red)