Categories
Ekonomi

Wabah ASF Tengah Merebak di Asia, Kementan Memperketat Pintu Masuk Barang dan Orang

Koran Jurnal, Jakarta – Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, OIE (Organization Internationale des Epizootics) merilis penyebaran wabah penyakit pada hewan babi atau African Swine Fever (ASF) di Timor Leste pada bulan September 2019. Hal ini menggenapkan kondisi terkini penyebaran wabah ASF di benua Asia. Dimulai pada bulan Agustus 2018 dari Cina, lanjut Mongolia (Januari 2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (Maret 2019), Hongkong (Mei 2019), Korea Utara (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2019) dan menyusul Filipina dan Korea Selatan.

“Peta penyebaran cukup masif dan sudah sangat dekat dengan wilayah kita. Hari ini kita lakukan langkah antisipatif,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), saat memberi arahan pada temu koordinasi pengawasan dan pencegahan penyakit ASF pada hewan babi ke Indonesia di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (30/09/2019).

Menurut Jamil, penyakit yang menyerang babi ini telah mewabah juga dibelahan benua lain, terutama yang memiliki banyak populasi babi. Dimulai dari benua Afrika di tahun 1921 yakni Kenya dan terus mewabah hingga menjadi endemik di sebagian sub-sahara Afrika termasuk pulau Madagaskar dan meluas ke benua Eropa.

Potensi penyebaran ASF ke Indonesia sangat cepat, karena itu kami lakukan antisipatif untuk mewaspadainya, tambahnya.

ASF yang disebabkan oleh virus DNA genus Asfivirus, familia Asfaviridae ini berakibat pada kesakitan atau morbiditas dan kematian atau mortalitas pada ternak babi hingga dapat mencapai tingkat 100%.

Dalam aturan perkarantinaan Indonesia, penyakit hewan eksotik dan termasuk dalam hama penyakit hewan karantina golongan I berdasarkan Kepmentan No. 3238/2009 atau termasuk dalam penyakit hewan eksotik atau penyakit hewan yang belum ada di Indonesia.

Begini Penyebaran ASF

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Barantan, drh Agus Sunanto yang hadir mendampingi Kepala Barantan menjelaskan bahwa penyebaran virus ASF dapat melalui daging dan atau produk daging babi yang diproses dengan pemanasan yang tidak cukup. Juga melalui sisa-sisa katering dan sisa makanan bawaan penumpang dan awak alat angkut transportasi internasional baik moda kapal laut ataupun pesawat udara yang diolah dan dijadikan sebagai campuran pakan bagi (swill feeding).

ASF juga dapat ditularkan melalui manusia, seperti petugas kesehatan hewan dan perlengkapannya seperti sepatu, baju dan lainnya di peternakan babi yang berasal/berkunjung dari negara wabah/tertular yang terkontaminasi. Sisa-sisa katering transportasi internasional (laut dan udara), serta orang yang terkontaminasi virus ASF dan kemudian kontak dengan babi di Indonesia juga harus diwaspadai, tegas Agus.

Ancaman ASF bagi Sosio-Ekonomi Indonesia

Jamil menuturkan, mewabahnya penyakit ASF di dua benua ini dapat berdampak pada aspek sosial dan ekonomi di Indonesia. Kematian akibat ASF akibat virus (virulensi moderate) 30-70% populasi bahkan mencapai 100% pada virus yang virulensinya tinggi. “Apabila 30% saja menyebabkan kematian maka kerugian dapat mencapai Rp. 7,6 T,” kata Jamil.

Jamil menjelaskan untuk memenuhi konsumsi bagi masyarakat khusus, peternakan babi tersebar di beberapa daerah bahkan diantaranya merupakan salah satu pemasok utama bagi pasar Singapura.

Berdasarkan data IQFast tahun 2018, ekspor babi hidup dari Indonesia sebesar 279.278 ekor. Selain babi hidup, Indonesia juga mengekspor daging babi olahan sebanyak 613 kg. Nilai ekonomi ekspornya tercatat hingga Rp. 838 miliar dengan masing-masing babi hidup senilai Rp 837,8 miliar dan daging babi olahan Rp 122,6 juta,

“Status kesehatan hewan dan tumbuhan sangat menentukan untuk persyaratan ekspor komoditas pertanian, Ini akan berdampak hilangnya pasar ekspor dan potensinya,” tegas Jamil.

Data IQFAST 2018 juga mencatat sebanyak 285.315 peternak rakyat untuk hewan babi di Indonesia dapat kehilangan mata pencahariannya jika penyakit ini masuk ke Indonesia. Dengan estimasi keuntungan bersih peternak sebanyak 30% dari berat hidup maka pendapatan peternak sebesar Rp 256 M terancam hilang. Selain itu, produksi daging babi secara nasional pada tahun 2018 yaitu 327.215 ton. 50% produksi dipasarkan didalam negeri dengan nilai mencapai Rp 4,9 T. “Ini mengkhawatirkan, karena akan mengakibatkan hilangnya salah satu sumber protein bagi sebagian masyarakat khusus kita,” kata Kabarantan.

Selain dampak ekonomi, Jamil menambahkan akan berdampak pada biaya program pengendalian penyakit ASF yang sangat mahal. Kontrol lalu lintas, Kontrol vektor, Biosecurity, Monitoring dan Surveilans dan Sosialisasi. Belum lagi terancamnya rusak dan punahnya plasma nutfah asli Indonesia, yaitu babi lokal Indonesia seperti jenis babi Jawa berkutil (Sus verrucosus), babi Kalimantan (Sus barbatus), babi Sulawesi (Sus celebensis) dan Babirusa (Babyroussa babyrusa).

Langkah Antisipasi Cegah Penyebaran ASF di Indonesia

Jamil melanjutkan, pemerintah telah menetapkan kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF sejalan dengan perundang-undangan yang berlaku.

Pihaknya juga telah melakukan pemusnahan terhadap produk babi dan olahannya yang berasal dari negara wabah serta melakukan pengambilan sampel produk babi dan olahannya sebelum dimusnahkan untuk dilakukan uji laboratorium deteksi material genetik ASF dalam rangka kewaspadaan dini dan mitigasi risiko.
Kerjasama dan sosialisasi dengan instansi terkait juga telah dilakukan pengawasan penumpang dan barang bawaannya (Ditjen Bea dan Cukai, AVSEC). Selain itu dilakukan penanganan sampah karantina yaitu sisa katering, sisa makanan penumpang dan awak alat angkut (Otoritas Bandara/Pelabuhan, Angkasa Pura/Pelindo) mengacu pada Pedoman Kabarantan No. 2734 tahun 2018 tentang Pedoman Tindakan Perlakuan dan Pengawasan Pemusnahan Media Pembawa Lain yang diturunkan dari Pesawat udara.

Sementara itu, Barantan juga lakukan pengetatan pengawasan di tempat-tempat pemasukan yang belum ditetapkan bersama Polisi, TNI, dan Ditjen Perhubungan Laut serta peningkatan pengawasan di Pos Lintas Batas bersama BNPP, TNI, dan tim Satgas.

“Penerapan biosekuriti merupakan strategi dalam mencegah penyebaran ASF di peternakan babi di Indonesia. Dan yang paling utama adalah peran serta masyarakat untuk berhati-hati saat melalulintaskan hewan ini, laporkan kepada petugas kami,” pungkas Jamil.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Strategi Jitu Percepatan Tanam Padi dengan Teknologi Semai Kering

*Rilis Kementan, 28 September 2019*
Nomor : 907/R-KEMENTAN/09/2019

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong implementasi strategi jitu guna percepatan tanam padi dengan teknologi kering. Strategi ini penting sebagai solusi di musim kemarau seperti ini untuk menggerakkan sumber daya yang ada agar produksi padi tetap stabil.

Di sisi lain, Pemerintah Daerah Lampung telah menetapkan Program Sekampung Sistem untuk memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanaman padi di wilayah Lampung Tengah, Lampung Timur dan Kota Metro. Lagi-lagi program ini agar di musim kemarau petani tetap menanam padi dan komoditas lainnya.

Namun demikian untuk mendukung kesuksesan program pemerintahan Lampung tersebut, diperlukan teknologi yang tepat guna dan efisien, salah satunya adalah teknologi semai kering.

Penanggung Jawab Program Upaya Khusus (UPSUS) Kabupaten dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sigit Setiawan sangat mendukung kegiatan ini. Semai kering menjadi pilihan utama untuk mempercepat tanam, sehingga sistemnya marathon, antara pengolahan tanah dan semai dilakukan bersamaan ditempat berbeda.

“Waktu semai cukup 10 sampai 14 hari, jauh lebih cepat dibanding semai konvesional yang mencapai umur 20 hari. Apalagi dengan dukungan Rice Transplanter dari Brigade dan petani, proses penanaman bibit padi lebih efisien waktu,” demikian kata Sigit di Jakarta, Minggu (29/9/2019).

Menurut Sigit, dengan mensinergikan program Sekampung Sistem dan Teknologi Semai Kering diharapkan dapat mengaktifkan 25.000 hektar lahan pertanaman padi dan penanamannya bisa dilakukan tepat waktu.

“Bahkan lebih cepat dari jadwal tanam yang biasanya dilakukan pada bulan Oktober – November 2019,” jelasnya.

Perlu diketahui, dalam pelaksanaannya, Tim UPSUS Provinsi Lampung bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung (BPTP) melakukan sosialisasi di beberapa kelompok tani di sekitar wilayah Sekampung Sistem. Kelompok tani melakukan praktek langsung pembuatan semai kering dibawah pengawasan BPTP seperti di Kelompok Tani Rejo 2 Kota Metro. Kelompok tani tersebut sangat antusias mengikuti kegiatan ini dan berharap dapat langsung diterapkan di wilayahnya.

Terpisah, Kiswanto, salah satu Penyuluh Ahli Madya di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kementan di Lampung menjelaskan teknologi semai kering sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat, akan tetapi masih sedikit yang melakukan karena dianggap rumit. Padahal teknologi ini lebih menguntungkan dibandingkan semai konvensional antara lain proses pembuatan dan perawatan mudah.

“Dapat dilakukan di pekarangan, praktis dalam pencabutan bibit, bibit lebih terkontrol dari hama dan penyakit, pertumbuhan lebih cepat dan bibit tidak mudah stress, selain itu biaya kerja juga lebih murah,” jelasnya.

“Teknologi semai kering sangat efektif karena dapat dilakukan bersamaan dengan saat olah tanah di tempat yang berbeda.” tambahnya,” tambah Kiswanto.

Jumali, Ketua Gapoktan Sumber Makmur di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah mengatakan semai seperti ini justru lebih murah biayanya dan bibit tidak mudah stress waktu dipindahkan. Petani belum banyak yang menggunakan teknologi ini karena mereka menganggap sulit seperti tanah harus diayak, menyesuaikan ukuran semai sesuai space alat tanam.

“Padahal kalau sudah biasa ternyata gampang, bahkan kita sudah memulai sejak tahun 2017 dan sampai dengan saat ini tidak ada kesulitan,” katanya.

Ditempat terpisah, Fuad anggota Kelompok Tani Jaya Makmur di Desa Purwodadi Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah mengaku teknologi ini sebagai prospek bisnis karena saat ini banyak petani yang tidak mau repot menyiapkan bibit. Permintaan semai kering selalu meningkat setiap musimnya.

“Musim Tanam II kemarin kami mendapat order 15 hektar, musim ini jauh lebih banyak akan tetapi kami tolak karena waktunya bersamaan,” ungkap Fuad.

Disisi lain Istiqomah yang merupakan istrinya Fuad sangat bersyukur kegiatan ini bisa membuka lapangan kerja bagi tetangga sekitar. “Iya terutama ibu-ibu dengan membuat media semai,” akuinya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

PDB Sektor Peternakan Tahun 2018 Mencapai 231,71 Triliun

Koran Jurnal, Tangerang Selatan – Kinerja peternakan tercatat mengalami peningkatan signifikan selama kurun waktu 2015 sampai dengan semester I 2019. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita menyampaikan bahwa Pada tahun 2018 PDB sub sektor peternakan mencapai 231,71 triliun atau berkontribusi 16,35% kepada total PDB sektor pertanian yang sebesar Rp. 1.417,07 triliun. Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH pada saat pembukaan acara The 4th International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan (18/09/2019).

“Diharapkan industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia akan terus berkembang, sehingga nantinya akan berdampak terhadap peningkatan PDB peternakan pada khususnya dan pertanian pada umumnya” jelas Ketut.

Menurutnya komoditas peternakan merupakan salah satu target pembangunan pertanian dalam mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Bisnis di bidang peternakan dan kesehatan hewan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Oleh karena itu bisnis di bidang peternakan dan kesehatan hewan akan terus berjalan dan berkembang, seiring dengan kebutuhan masyarakat akan pangan terutama protein hewani.

Lebih lanjut Ketut menyampaikan bahwa industri peternakan merupakan industri agribisnis yang mencakup hulu hingga hilir. Industri pendukung on farm peternakan, meliputi berbagai industri yang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena merupakan industri dengan nilai bisnis yang besar mencapai milyaran rupiah. Diantaranya adalah industri obat hewan, vaksin, bahan baku pakan, feed additive, produk olahan pangan, non pangan termasuk by product. Bahkan industri by product peternakan menembus pasar ekspor, seperti tepung bulu ayam untuk keperluan pakan.

“Kementerian Pertanian berkomitmen memfasilitasi ekspor untuk semua komoditi pertanian dan turunannya termasuk peternakan. Nilai ekspor komoditi peternakan selama 4 tahun terakhir ini terus mengalami peningkatan. Nilai ekspor komoditi sub sektor peternakan pada tahun 2015 hingga Juni 2019 mencapat Rp 38,39 triliun” tambahnya.

Nilai ekspor tersebut merupakan bukti, bahwa industri peternakan memiliki potensi untuk terus berkembang. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian, khususnya Ditjen PKH terus mendorong investasi sub sektor peternakan, terutama untuk bidang pembibitan, dan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditi peternakan.

Ketut juga menyampaikan bahwa pada tahun 2018 lalu, nilai investasi PMDN sub sektor peternakan mencapai Rp. 866,46 milyar sedangkan investasi PMA mencapai USD 119,03 juta.

Dukungan Terhadap Penyelenggaraan ILDEX 2019

Kementerian Pertanian mengapresiasi penyelenggaraan The 4th International Livestock, Dairy, Meat Processing and Aquaculture Exposition (ILDEX) Tahun 2019 yang yang diinisiasi oleh Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) ini. ILDEX merupakan salah satu pameran peternakan berskala international di Indonesia. Selain sebagai sarana pameran dan promosi berbagai produk dan kemajuan teknologi di bidang peternakan dan kesehatan hewan, ILDEX juga menjadi ajang bertemunya stakeholder peternakan baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melakukan transaksi bisnis. Oleh karena itu melalui penyelenggaraan ILDEX, diharapkan dapat menjadi stimulasi bagi perkembangan dunia usaha peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi bahwa pada ILDEX tahun 2019 ini selain diikuti oleh exhibitor dari perusahaan dalam dan luar negeri, berbagai asosiasi, juga terdapat paviliun Usaha Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini dapat memberi peluang bagi para pelaku UMKM, untuk memiliki mengembangkan bisnis melalui promosi dan menemukan partner bisnis baru. Disamping itu, adanya paviliun ekspor di ILDEX tahun ini juga saya harap dapat menjadi stimulasi dalam mendorong peningkatan ekspor sub sektor peternakan” ujar Ketut.

Lebih lanjut, Ketut berharap melalui forum dialog dan seminar yang diselenggarakan selama ILDEX 2019 ini dapat berkontribusi pada formulasi kebijakan dan memberikan solusi permasalahan dunia peternakan.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat atas terselenggaranya ILDEX, dan semoga sukses menghasilkan target pengembangan bisnis bagi para exhibitor” tutup Ketut.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Dukung Kementan, Bulog Bangun Gudang Untuk Serap Kedelai Petani

Koran Jurnal, Jakarta – Kepala Divisi Pengadaan Pangan Lain Badan Urusan Logistik (Bulog), Yayat Hidayat Fatahillah mengatakan mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menyerap kedelai petani yang memasuki musim panen dengan membangun gudang khusus kedelai. Dengan demikian, Bulog siap menyerap kedelai petani sehingga harga tidak jatuh atau menguntungkan petani.

“Sebagai langkah memasuki panen kedelai di beberapa wilayah di Indonesia, Bulo siap menyerap kedelai petani, terutama di sekitar daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur,” demikian dikatakan Yayat pada Rakor Percepatan Pelaksanaan Kegiatan Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Tahun 2019 dan Persiapan Tahun 2020 di Bogor, Selasa kemarin (18/9/2019).

Yayat menjelaskan Bulog telah membangun gudang khusus untuk kedelai yang lokasinya ada di Banyumas dan Sidoarjo dengan kapasitas masing-masing 3.500 ton. Gudang tersebut tidak hanya bangunan biasa, namun gudang tersebut sudah dilengkapi dengan Dehumitifier dan Pneumatic Conveyor.

“Jadi alat tersebut gunanya untuk mengatur kelembapan dan untuk mempecepat pembongkaran. Kami manfaatkan teknologi ini agar kedelai yang di gudang tidak cepat rusak,” jelasnya.

Yayat menambahkan rencana selanjutnya Bulog akan membuat gudang kedelai di lokasi sentra lain di daerah Grobogan Jawa Tengah. Pasalnya, Grobogan merupakan sentra kedelai, sehingga akan dibangun gudang.

“Kami akan buat satu lagi di sana (Grobogan, red). Kapasitasnya sama lah seperti yang di Banyumas dan Sidoarjo sekitar 3.500 ton,” ujarnya.

Untuk menunjukkan keseriusan Bulog, Yayat menegaskan Direktur Pengadaan Bulog telah menerbitkan surat tugas ke Kepala Kantor Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk agar segera berpartisipasi dalam penyerapan hasil panen kedelai di tingkat petani. Dengan begitu, Bulog siap membantu petani agar kedelainya bisa terserap.

“Pada dasarnya Bulog akan terus mendukung kegiatan Kementrian Pertanian, karena sudah merupakan kewajiban pemerintah dalam pelayanan publik, dalam hal kedaulatan pangan,” tandasnya.

Di tempat yang sama Direktur Akabi Kementan, Amiruddin Pohan sangat berharap banyak kepada Bulog untuk dapat mewujudkan program tersebut. Sebab, selama ini banyak mendengar keluhan petani kedelai lokal yang kesulitan untuk mencari pasar dengan harga yang layak.

“Jadi dengan adanya peran nyata Bulog ini, saya yakin petani di Jatim dan Jateng kembali bersemangat membudidayakan kedelai lokal,” tegasnya.

Amiruddin menyebutkan adapun luas panen kedelai tahun 2018 sekitar 680 ribu hektar dengan produksi 982 ribu ton. Angka ini naik hampir seratus persen dibandingkan tahun 2017 lalu. Luas panen kedelai 2017 tercatat 356 ribu hektar dengan produksi 538 ribu ton.

“Artinya petani mulai bergairah lagi mengembangkan kedelai. Apalagi target Kementan tahun 2019 menanam di lahan seluas 1 juta hektar. Kami beri bantuan saprodinya, tanamnya bisa di monkultur maupun di tumpangsari dengan padi dan jagung,” bebernya.

Dari sisi harga, ungkap Amiruddin, saat ini rata-rata petani kedelai menjual dengan harga Rp 6.700 per kg. Sementara itu sentra kedelai selama ini ada di Grobogan, Banyuwangi, Indramayu, Bima dan Bone.

“Saya ingin kedelai tidak hanya didominasi di sentra-sentra tersebut, tapi juga merambah perluasan lahan ke wilayah lain di Indonesia,” ucapnya.

“Dengan adanya komitmen Bulog ini mudah-mudahan bisa menjamin pasokan kedelai lokal dan kepastian harga petani kedelai,” tambah Amiruddin.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Ajak Pengusaha Maryland Berinvetasi di Indonesia

Koran Jurnal, Maryland – Disela-sela rangkaian menghadiri NPPE 2019, Staf Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Kementerian Pertanian, Banun Harpini melakukan kunjungan ke World Trade Center (WTC), Amerika, Jum’at (13/09/2019).

“Kami bertemu pejabat Pemerintah Daerah Maryland bidang agribisnis. Pertemuan ini sebagai upaya pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses pasar dan nilai perdagangan kedepan,” ujar Banun.

Banun menjelaskan delegasi RI menawarkan produk Sarang Burung Walet (SBW) yang merupakan produk natural asli Indonesia. Produk ini memiliki potensi ekspor sebesar 1600 ton pada tahun 2028 dengan nilai transaksi USD 1,6 Miliar pertahun.

“Produk kita yang memiliki keunggulan kita dorong masuk pasar AS untuk mensuplai kebutuhan makanan specialty, industri obat dan kosmetika mereka,” katanya.

Ketua Delri ini menyampaikan Indonesia saat ini sedang melakukan berbagai reformasi nasional, terkait dengan perbaikan ekosistem investasi baik PMDN maupun PMA, dengan berbagai kebijakan insentif untuk mendorong FDI.

Indonesia mengundang investor Maryland State untuk melakukan investasi di bidang pengembangan produksi kedele secara modern, pengembangan pembibitan dan kebun buah tropis dengan teknologi budidaya maju, yang di integrasi dengan sistem warehousing dalam rantai dingin produk-produk hortikultura untuk tujuan ekspor. Selain itu, ada industri penggemukan dan prosesing daging serta industri pakan ruminansia dan unggas dengan pemanfaatan limbah sawit dan jagung yang kebutuhannya dari tahun ke tahun terus meningkat.

“Untuk itu kami mengundang partisipasi Investor dari Maryland State. Adanya peluang menopang kebutuhan pangan di Indonesia, termasuk untuk Ibu kota Indonesia yang baru. Karena itu kita minta daftar calon investor potensial dan minat bidang usaha investasinnya dari pihak Maryland Department of Agriculture,” katanya.

Pertemuan delegasi Indonesia di World Trade Center Baltimore ini diterima Mr. Steve Connelly selalu Asistant Secretary Departemen Pertanian Maryland, Bidang Pemasaran Industri Peternakan dan Layanan Konsumen. Kemudian Theresa A.Brophy selaku Direktur Pemasaran Internasional.

Felicia Pullam selaku Manajer Regional Asia Timur, Bidang Investasi Internasional dan Perdagangan, menyarankan perlunya promosi yang lebih intens tentang manfaat SBW, khususnya untuk pasar Maryland State yang warga keturunan China nya cukup besar sebagai pintu masuk pasar SBW ke Amerika Serikat.

“Kerjasama dan investasi kedua negara akan saling menguntungkan, mengingat masing-masing memiliki kelebihan di sektor agribisnis dan teknologi,” kata Banun yang memimpin rombongan delegasi indonesia, dengan didampingi Rachmad Poetranto selaku Agricultural Specialist, Attani KBRI Washington D,C.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Peningkatan Populasi Ternak untuk Wujudkan Swasembada Protein Hewani

Koran Jurnal, Bali – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya untuk mewujudkan swasembada protein hewani khususnya daging sapi. Hal ini merupakan bagian integral pembangunan nasional peternakan yang dalam 5 tahun terakhir ini diarahkan untuk peningkatan produksi daging, untuk mewujudkan swasembada daging sapi tahun 2026. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen PKH, I Ketut Diarmita saat menghadiri Kontes Ternak dan Panen Pedet Tahun 2019 di Denpasar, Jum’at (13/09/2019).

“Dalam mewujudkan swasembada tersebut, Kementan telah melaksanakan program terobosan melalui kegiatan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB), penambahan sapi indukan, pengembangan sapi Belgian Blue dan sapi Wagyu yang didukung dengan upaya peningkatan status kesehatan hewan, penjaminan keamanan pangan asal ternak, skim pembiayaan, investasi dan asuransi ternak,” ungkap Ketut.

Dijelaskan Ketut bahwa upaya Pertama yang dilakukan adalah Upsus Siwab. Program ini sudah memberikan hasil yang menggembirakan dengan capaian yang baik. Secara nasional program Upsus Siwab sejak tahun 2017 hingga 9 September 2019 menunjukkan realisasi yang sangat mengembirakan, yakni (i) Inseminasi Buatan/IB dengan realisasi 10.548.530 ekor akseptor atau 105,49 % dari target 10 juta ekor akseptor; (ii) Kebuntingan sebanyak 5.498.695 ekor atau 76,37% dari target 7,2 juta kebuntingan; dan (iii) Kelahiran sebanyak 4.140.916 ekor atau 71,89% dari target 5.760.000 ekor.

Sedangkan secara khusus, capaian kinerja Upsus Siwab Provinsi Bali dari bulan Januari sampai dengan 05 September 2019 menunjukkan hasil yang cukup baik, dimana realisasi IB sebanyak 50.827 ekor atau 72,61 % dari target 70.000 ekor, kebuntingan 30.970 ekor atau 63,20 % dari target 49.000 ekor dan kelahiran sebanyak 24.554 ekor atau 62,64 % dari target 39.200 ekor.

“Keberhasilan Program Upsus Siwab harus selalu kita sosialisasikan dan kita gaungkan kepada masyarakat luas dalam berbagai bentuk kegiatan, salah satunya melalui kegiatan Panen Pedet dan Kontes Ternak yang saat ini dilaksanakan,” ujar Ketut dihadapan Gubernur Provinsi Bali beserta jajaran, Walikota dan Bupati se-Provinsi Bali beserta jajaran, Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Bali, Kepala Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten se-Provinsi Bali, serta kelompok ternak dan tokoh masyarakat.

Diungkapkan Ketut bahwa Program Upsus Siwab diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya genetika ternak sapi, hal ini terlihat dari kegiatan panen pedet hasil IB yang saat ini dilaksanakan. Selain itu juga kegiatan kontes ternak diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi peternak yang tentunya dapat menambah pendapatan dan kesejahteraan.

Lebih lanjut Ketut menjelaskan bahwa untuk mewujudkan swasembada, Program Kedua adalah penambahan sapi indukan Brahman Cross pada tahun 2015, 2016, dan 2018. Sekitar 8.985 ekor sapi Brahman Cross telah di distribusikan ke 16 Provinsi di seluruh Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur).
Adapun untuk Bali, sejak tahun 2016-2018, fasilitasi bantuan ternak yang telah diberikan adalah sebanyak 719 ekor sapi potong dan 742 ekor kambing. Untuk tahun 2019 telah dialokasikan juga bantuan ternak untuk Provinsi Bali sebanyak 390 ekor sapi potong (150 ekor dari BPTU HPT Sembawa dan 240 ekor dari Dinas Provinsi), kambing perah sebanyak 24 ekor (Dinas Provinsi), dan babi sebanyak 200 ekor (BPTU HPT Denpasar).

Upaya lain yang dilakukan Kementan dalam melakukan percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau yaitu dengan Program Pengendalian Betina Produktif yang bekerjasama dengan Baharkam Polri. Hal ini penting mengingat pemotongan betina produktif tercatat cukup tinggi setiap tahunnya. Sebelum tahun 2017, angka pemotongan betina produktif ada di atas 22 ribu ekor. Dengan program yang dilaksanakan, pada tahun 2018 angka ini dapat ditekan menjadi 12.209 atau menurun 47,10% dibanding tahun 2017. Sementara itu pada tahun 2019 sampai Bulan Agustus tercatat angka pemotongan sapi betina produktif masih cukup rendah diangka 7.268 ekor.

Menurutnya faktor penting lain dalam upaya peningkatan produktivitas ternak dalam rangka swasembada adalah adanya pemenuhan hijauan pakan ternak yang berkualitas. Ketut menuturkan bahwa pada 2019 ini, Kementan berusaha untuk melakukan pemenuhan pakan melalui kegiatan Gerakan Pengembangan dan Pemanfaatan Pakan Berkualitas (Gerbang Patas) seluas 9063 Ha dan pengembangan padang pengembalaan mencapai 8914 Ha.

*Kontribusi untuk Ketahanan Pangan*

Mewakili Gubernur Bali, Kepala Dinas PKH Provinsi Bali, I Wayan Mardiana menyampaikan bahwa kegiatan Kontes Ternak dan Panen Pedet ini berkontribusi dalam mewujudkan kemandirian pangan dengan meningkatkan nilai tambah dan daya saing Untuk kesejahteraan peternak. “Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan para peternak, memberikan edukasi dan informasi tentang pembangunan peternakan di Provinsi Bali untuk kesejahteraan peternak, mendapatkan kesempatan untuk berkomunikasi dan koordinasi antar stakholder terkait peternakan dan kesehatan hewan” ungkap Mardiana.

Melanjutkan penjelasannya, Ketut menyampaikan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari pencapaian kesejahteraan masyarakat, serta pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. “Pertama bahwa pengembangan komoditas peternakan akan menyediakan berbagai alternatif pilihan sumber protein dari mulai produk telur, daging unggas, daging sapi/kerbau/kado dan susu, hampir semua produk tersebut bisa ditemui baik di pelosok dan kota,” kata Ketut.

Selanjutnya, menurut Ketut hal Kedua adalah banyaknya pilihan sumber protein juga akan menyediakan berbagai alternative pilihan tingkatan harga yg bisa dijangkau oleh masyarakat, Ketiga adalah kebutuhan pangan hewani asal ternak akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani sebagai pembentuk generasi muda berkualitas di masa mendatang, dan yang Keempat bahwa kekayaan plasma nuftah ternak/hewan, biomasa pakan, lahan dan air, dapat dipandang sebagai potensi basis yang dapat dikembangkan keunggulan kompetitif sebagai faktor pengerak pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

“Untuk itu, kebijakan pembangunan peternakan dan keswan saat ini dan dimasa mendatang tetap akan diarahkan pada upaya-upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak, baik itu daging, telur dan susu,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketut juga menyampaikan penghargaan kepada jajaran pemerintah Provinsi Bali yang pada hari ini telah mampu menyelenggarakan acara Kontes Ternak dan Panen Pedet Provinsi Bali Tahun 2019. “Saya mengajak seluruh pihak agar momentum acara Gebyar Upsus SIWAB dan Panen Pedet serta Gelar Potensi Peternakan ini dapat dijadikan sebagai upaya terus-menerus dalam memperjuangkan nasib peternak agar berkembang usahanya dan sejahtera” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Petani Sragen Panen Padi 9,4 Ton Per Hektar Meski Kemarau Panjang

Koran Jurnal, Jakarta – Di musim kemarau tahun ini yang bertepatan dengan musim tanam (MT) III, petani Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen justru panen padi dengan produktivitas 9,4 ton/ha. Selain panennya maksimal, harga gabah di tingkat petani pun tinggi Rp 5.200/Kg gabah kering panen (GKP).

Hal ini terungkap dalam kunjungan kerja Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi guna melakukan panen raya padi di desa tersebut, Rabu (11/09/2019).

Suwandi mengatakan padi yang siap panen di Sragen pada September tahun ini mencapai 20 ribu ha. Di Desa Tenggak sendiri yang siap panen seluas 300 ha.

“Di sepanjang pinggir jalan tol Karanganyar-Sragen terpampang hamparan padi menghijau. Setelah memasuki Kabupaten Sragen sudah banyak padi yang menguning atau siap panen. Petani Sragen patut bersyukur masih bisa panen dengan produktivitas tinggi,” ujarnya.

Menurut Suwandi, pada Juli-September bagi sejumlah petani padi merupakan masa kritis karena kemarau panjang. Namun, berkat pembuatan sumur dalam (Sibel), masalah air untuk mengairi sawah di musim kemarau bisa diatasi petani.

Alhasil, sambungnya, walau di musim kemarau, petani Sragen masih bisa tanam padi. Bahkan petani Sragen mampu tanam padi 3 kali setahun.

“Jadi, petani Sragen khususnya di Desa Tenggak sudah mampu melawati masa kritis. Nah, ke depannya tinggal meningkatkan efisiensi usaha taninya supaya bernilai tambah,” tuturnya.

Tak Ada yang Puso

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari menyebutkan padi yang ditanam petani Sragen di musim kemarau hampir 100% tak puso. Bahkan, petani bersama Pengendali Organisme Pertanian Terpadu (POPT), Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Babinsa mampu mengatasi hama padi seperti tikus di musim kemarau.

“Secara swadana ataupun dari bantuan pemerintah, petani di sini sudah memanfaatkan sumur dalam, sehingga sawahnya tak kekurangan air. Petani secara gotong royong juga melakukan gropyokan tikus. Karena itu hampir 100 persen padi yang di tanam tak puso,” katanya.

Eka Rini menyebutkan terdapat ada sekitar 28 ribu titik sumur dangkal dan sumur dalam di Sragen. Jika sebelumnya petani menggunakan BBM/gas untuk menggerakan mesin pompa (sumur dalam), saat ini petani sudah memanfaatkan listrik.

“Jadi di sini listrik sudah masuk sawah. Tercatat 1 bulan ada 100 orang yang mengajukan instalasi listrik ke PLN untuk keperluan sumur dalam,” paparnya.

Adapun total luas lahan pertanian Sragen 94.155 ha. Terdiri dari lahan sawah 40.182 ha atau 42,68 % dan 53.973 ha bukan lahan sawah.

“Lahan sawah, khususnya yang belum ada irigasi teknis atau setengah teknis ini kami optimalkan dengan sumur dalam,” pungkas Eka Rini.(hum/red)

Categories
Ekonomi

PERAGI: Mentan Rubah Wajah Pertanian Indonesia Lebih Modern dan Disegani

Koran Jurnal, Jakarta – Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) mengapresiasi penerapan inovasi teknologi dan mekanisasi pertanian yang gencar dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) selama lima tahun terakhir. Penerapan ini dinilai tepat karena telah merevolusi wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern.

“Kami melihat gerakan revolusi dan inovasi yang dilakukan Kementan dibawah pimpinan Pak Andi Amran Sulaiman sudah membawa perubahan signifikan dan hasil yang dirasakan oleh petani,” ujar Ketua Umum PERAGI, Prof. Moh. Syakir, Sabtu (07/09/2019) di Bogor. Dalam 5 tahun terakhir program Kementan berhasil meningkatkan level atau tingkat mekanisasi pertanian Indonesia sebesar 236%.

Ketua umum PERAGI menilai program-program yang dilakukan Mentan Andi Amran sangat sesuai dengan visi utama oraganisasinya, yaitu menghasilkan sistem pertanian moderen dan efisien dengan berbasiskan penerapan inovasi teknologi di bidang agronomi.

“Penerapan teknologi dan inovasi terbaru di bidang agronomi sangat terlihat dalam kebijakan Mentan saat ini, seperti program optimalisasi pemanfaatan lahan sub optimal, penggunaan bibit unggul, peningkatan produksi dan produktivitas, juga usaha mendorong peningkatan nilai tambah komoditas melalui peningkatan kualitas produk pertanian,” jelasnya.

Usaha mendorong modernisasi pertanian melalui mekanisasi juga dinilai sukses. Berdasarkan data Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan), Badan Litbang Pertanian, pada tahun 2018, level mekanisasi pertanian Indonesia meningkat 236% menjadi 1,68 HP (horse power)/hektare (ha), dari sebelumnya tahun 2015 level mekanisasi pertanian Indonesia baru 0,5 HP/ha.

Syakir mengatakan, pertanian Indonesia juga mampu berbicara banyak di forum internasional, serta mendapat pengakuan dari Badan Dunia dan negera-negara sahabat. Bahkan sebelumnya, Bappenas menilai belanja alsintan Kementan merupakan inovasi pendanaan pemerintah karena mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Bappenas mengatakan peningkatan 1 persen belanja Alsintan, maka akan mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah. Ini luar biasa sekali,” ujar Syakir. Selain itu PERAGI menilai pertumbuhan sektor pertanian sebesar 3,7 dan mampu melewati target yang ditetapkan sebesar 3,5 merupakan capaian kinclong Menteri Pertanian saat ini.

Sekedar diketahui, PERAGI adalah organisasi profesi para profesional, pemerhati, dan pecinta ilmu terapan di bidang pertanian. Sedangkan agronomi adalah salah satu cabang utama ilmu pertanian yang dirintis para gurur besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1977.

“Ilmu ini mencakup tentang perbenihan, pertanaman/budidaya hingga masa panen,” ujarnya.

Untuk terus membumikan itu, kata Syakir, Perhimpunan Agronomi Indonesia dalam waktu dekat akan mengadakan Kongres besar. Rencananya, acara akan dihadiri oleh ratusan delagasi dari 34 provinsi seluruh Indonesia pada 24 September 2019.

“Kami menilai pertanian dalam 5 tahun terakhir sudah sangat berubah dan telah mengubah mindset kita ke memodernisasi industri dan teknologi pertanian. Harapan kami Presiden Jokowi tetap mempertahankan dan melanjutkan program-program seperti ini,” tandasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Bangun Penyangga Pangan, Mentan Amran Optimis Ibu Kota Baru di Kaltim Tanpa Impor

Koran Jurnal, Balikpapan – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman optimis bisa membangun kemandirian pangan untuk Ibu Kota baru negara di Kalimantan Timur (Kaltim) tanpa harus disuplai dari negara lain alias impor. Strateginya yakni pengembangan kawasan komoditas sebagai penyangga pangan melalui sistem klaster budidaya untuk masing-masing 10 kabupaten di Kaltim.

“Kata kuncinya kami membangun Kota baru yang mandiri pangan. Mimpi besar kami adalah menyiapkan pangan untuk penduduk di Ibu Kota baru, kita siapkan lebih awal. Nantinya di tahun 2024, kebutuhan pangan langsung dipenuhi sendiri dari masyarakat Kaltim, karena umur komoditas hortikultura 2 sampai 3 tahun sudah berbuah,” demikian papar Amran saat menjadi pemateri dalam Rapat Koordinasi Nasioanl II Korps Alumni Mahasiawa Islam (KAHMI) dengan tema Mewujudkan Kemandirian Energi dan Pangan Bagi Kesejahteraan Rakyat di Balikapapan, Sabtu (31/08/2019).

Amran optimis ini terwujud karena Kaltim memiliki potensi yang sangat luar biasa, yakni lahan pertanian yang masih original dan luas. Ada 10 kabupaten di Provinsi Kaltim yang dijadikan sebagai kawasan penyangga pangan sehingga ke depan Ibu Kota baru dipastikan mandiri pangan.

Kabupaten Berau dibangun menjadi sentra produksi jagung dan bawang merah, Kabupaten Bulungan dan Nunukan sebagai sentra padi, cabai dan bawang merah dan Malinau sebagai sentra produksi padi dan jagung. Selanjutnya, Kabupaten Tana Bumbu menjadi sentra produksi padi dan cabai, Tanah Laut sebagai sentra padi, jagung, cabai dan bawang merah, Kapuas Hulu sebagai sentra padi, cabai dan bawang merah, Ketapang sebagai sentra cabai, Kutai Barat sentra padi dan jagung dan Kabupaten Paser sentra padi, cabai dan bawang merah.

“Untuk penyediaan daging sapi, ayam, buah-buahan dan komoditas lainnya dibangun klaster. Jadi kabupaten mana yang memproduksi ayam dan seterusnya,” terang Amran.

Amran menambahkan membangun klaster ini sejalan dengan gagasan besar Presiden Jokowi. Masing-masing kabupaten akan dibangun klaster -klaster komoditi pertanian yang dikoperasikan. Kemudian koperasi nantinya dikoorporasikan sehingga klaster tersebut menjadi kuat yang pengelolaannya dengan sistem teknologi yang tinggi, biaya murah, profitable dan pengolahannya tentu dari hulu ke hilir.

“Oleh karena itu, membangun Ibu Kota baru tanpa impor pangan sebab pangan dapat diproduksi masyarakat Kalimantan Timur sendiri,” tegasnya.

Perlu diketahui, melansir data BPS, kinerja pembangunan sektor selama pemerintahan Jokowi-JK menuai hasil membanggakan. Misal, rata-rata kenaikan ekspor pertanian per tahun sebesar 2,4 juta ton dan tercatat sejak pemerintahan Jokowi-JK, ekspor naik 9 juta ton. Tahun 2013, total ekspor hanya 33 juta ton, namun di tahun 2018 mencatat nilai tertinggi yakni 42,5 juta ton.

BPS pun mencatat, terjadi penurunan inflasi bahan makanan yang sangat signifikan dari 10,57 persen tahu 2014 menjadi 1,69 persen pada tahun 2018. Nilai PDB Pertanian pun naik, yakni dari target PDB 3,5 persen, pertanian mampu menembus 3,7 persen. Begitu pun penduduk miskin di pedesaan menurun dari 14,17 % pada tahun 2014 menjadi 13,2 % pada tahun 2018.

BKPM pun mencatat, investasi sektor pertanian meningkat tajam. Tahun 2013 hanya Rp 29,3 triliun, namun di tahun 2018 naik menjadi Rp 61,6 triliun sehingga naik 110%.

Pada Rakor Kahmi ini, Amran menyerahkan bantuan untuk kelompok tani binaan Kahmi berupa traktor roda 4 sebanyak 10 unit, bibit jagung untuk 100 ribu ha dan bibit tanaman dan hortikultura untuk 50 ribu ha.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang, Penuhi Permintaan Bahan Energi Hijau Dunia

Koran Jurnal, Padang –  Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melepas 22,8 ribu ton produk turunan sawit asal Sumatera Barat. Produk turunan sawit  masing-masing minyak sawit berupa  RBD sebanyak 4 ribu ton, CPO sebanyak 7,8 ribu ton dengan tujuan Tiongkok. Juga produk samping atau by product berupa cangkang  sebanyak 11 ribu ton ke Jepang.

“Untuk urusan ekspor, sesuai instruksi Menteri Pertanian harus diberikan ‘karpet merah’. Kami pastikan layanan cepat, tepat dan sesuai persyaratan teknis negara tujuan,” kata Ali Jamil, Kepala Barantan saat meninjau industri cangkang sawit di Padang, Sabtu (25/08/2019).

Jamil menjelaskan selaku fasilitator perdagangan produk pertanian, pihaknya menjadi penjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian yang  dilalulintaskan ke negara mitra dagang.

Perlakuan pemeriksaan karantina dilakukan sesuai dengan standar internasional dan persyaratan tiap negara tujuan.

“Penguatan sistem perkarantinaan tidak hanya untuk menjaga kelestarian SDA hayati, tapi sekaligus juga untuk mendorong kinerja ekspor pertanian,” tambahnya.

Percepatan Layanan dengan Digitalisasi

Penerapan sertifikasi online atau e-Cert telah dilakukan Barantan untuk menjamin keberterimaan produk pertanian di negara tujuan ekspor.

Pertukaran data ini memungkinan pemeriksaan pemenuhan persyaratan teknis dilakukan sebelum produk sampai. Sehingga jika ada ketidak kesesuaian dapat segera diantisipasi perlakuan karantinanya.

Layanan digital yang memberikan solusi berkelanjutan. “Saat ini baru ada 4 negara, Australia, Selandia Baru, Belanda dan Vietnam. Kedepan akan terus kami jajagi kerja sama ini. Pak Mentan menginstruksikan kalau bisa kedepan semua negara,” pungkas Jamil.

Eka Darnida Yanto, Kepala Karantina Pertanian Padang menyebutkan selain produk turunan sawit pada hari yang sama juga diekspor produk pertanian lain asal Sumbar.

Total ekonominya mencapai Rp. 212,8 milyar. Terdiri dari lempeng karet sebanyak 604,8 ton, biji kopi sebanyak 18 ton, kayu manis sebanyak 95 ton dan produk turunan kelapa yang terdiri dari santan 83,8 ton, kelapa parut 25 ton dan air kelapa sebanyak 71,2 ton.

Adapun negara tujuan ekspor antara lain Belanda, Spanyol, Norwegia, Tiongkok, Bangladesh dan Jerman.

Eka menjabarkan eksportasi cangkang sawit dari data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST diwilayah kerjanya tercatat adanya peningkatan sebesar 28%.

Total ekspor di tahun  2018 sebanyak 404,8 ribu ton sementara hingga minggu ke-2 Agustus 2019 ekspor cangkang sawit telah telah mencapai  344,4 ribu ton, jelas Eka.

Secara khusus Gubernur Sumbar yang diwakili oleh  Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumbar, Chandra dalam sambutannya mengapresiasi tumbuhnya industri turunan asal sawit berupa cangkang.

Chandra yang hadir dan turut melepas ekspor ini dalam sambutannya berharap Kementan dapat memberikan tambahan bantuan mulai dari benih unggul, budidaya hingga peningkatan kemampuan SDM disamping penjaminan produk di pasar ekspor.

Dengan keunggulan sebagai biomassa dan harga yang lebih murah dibanding sumber energi asal fosil, Kadistan yakin bahwa cangkang sawit sebagai  energi hijau  bakal menjadi kebutuhan dunia, tutup Chandra.(hum/red)