Categories
Ekonomi

Kementan Optimis Peremajaan 185 Ribu Lahan Sawit Rampung Tahun Ini (2018) 

Koran Jurnal, Jakarta – Peremajaan perkebunan sawit rakyat tengah menjadi perhatian Pemerintah, karena banyak sawit yang usianya lebih dari 28 tahun. Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan tahun 2018 rekomendasi teknis (rekomtek) atas 185 ribu hektar kebun sawit akan terbit.

“Optimistis dapat menerbitkan 185 ribu rekomendasi teknis untuk merealisasikan program peremajaan kebun kelapa sawit, sebab di bulan Oktober saja kita mampu terbitkan rekomtek 42.950 hektar,” ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan, Bambang, Jum’at (09/11/2018) lalu.

Bambang mengungkapkan, sebelumnya minat masyarakat untuk meremajakan kebunnya terhambat. Tersendatnya pembayaran rekomendasi teknis tahun lalu membuat banyak petani rakyat yang ragu. Sehingga Kementerian Koordinator Perekonomian memutuskan agar semua rekomtek mendapatkan pendanaan pada September lalu.

“Sekarang petani sudah yakin dan berlomba, setelah pembayaran rekomendasi teknis pada 2017 sebesar Rp356 miliar dicairkan,” tambahnya.

Bambang juga memastikan target penerbitan rekomtek 185 ribu hektar tahun ini akan mudah tercapai, karena saluran yang sebelumnya mampat (tersumbat) sudah terbuka. Sumbatan yang ia maksud adalah belum adanya titik temu antara Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit BPDP-KS selama ini.

“BPDP-KS ketika itu enggan mencairkan dana karena merasa punya tanggung jawab lebih pada keberhasilan program peremajaan kebun kelapa sawit. Jadi ada penambahan aturan di luar pedoman umum supaya dana yang disalurkan pasti berhasil,” jelas Bambang.

Menurutnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution telah memerintahkan agar BPDP-KS membayarkan secepatnya semua rekomtek. Sementara tanggung jawab fisik ada di Ditjenbun.

Selain keraguan pada pencairan pendanaan, faktor penghambat lainnya adalah petani masih belum tertarik dengan bantuan dana peremajaan sebesar Rp25 juta per ha karena dianggap terlalu kecil untuk menggarap lahan sekaligus memenuhi kebutuhan selama periode tidak berproduksi.

“Mereka masih bersikukuh tetap percaya pada pohon dari benih asalan meski cuma menghasilkan 1-2 TBS. Maka seiring proses replanting kami wajibkan petani untuk juga tanam jagung lewat tumpang sari,” kata Bambang memberi solusi.

Oleh karena itu, kementan memberikan benih jagung gratis untuk lahan replanting. Menurut Bambang, kombinasi antara peremajaan sawit rakyat dengan jagung ini diyakini mampu mendorong optimalisasi lahan pertanian produktif.

“Dengan model tumpang sari petani malah akan punya penghasilan yang tinggi dibanding sawit,” pungkas Bambang yakin. (red/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan: Dunia Internasional Terpukau Pembangunan Pertanian Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Pembangunan Pertanian Indonesia memukau negara-negara anggota Food and Agriculture (FAO), atau Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal ini terungkap dalam Lokakarya Nasional dengan tema “Pilar Utama Peningkata Kesejahteraan Petani : Reformasi Pertanian, Intensifikasi Produksi, dan Peningkatan Akses Pasar”, di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (12/11/2018).

Acara yang diinisiasi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bekerjasama dengan Kementan ini, bertujuan mempromosikan keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia. Representatif FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Stephen Rudgard yang hadir dalam Lokakarya, menyampaikan apresiasinya pada Menteri Pertanian (Mentan) yang sangat fokus mengembangkan pertanian di lahan gambut pasang surut.

Rudgard juga menyampaikan laporan perjalanan perwakilan tetap dari delapan negara anggota FAO, Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) yang telah mengunjungi sejumlah daerah untuk mempelajari sistem pertanian Indonesia.

“Dalam kunjungan lapangan ini mereka menyaksikan langsung bagaimana kerja FAO di lapangan, dan bagaimana kami berusaha bekerja dengan baik dengan penerima manfaat dan partner kami,” kata Rudgard.

Kunjungan berlangsung selama empat hari, yaitu sejak tanggal 31 Oktober 2018 sampai dengan 3 November 2018. Delegasi yang hadir di antaranya berasal dari Aljazair, Australia, Chili, Yordania, Nigeria, Norwegia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Para delegasi berkunjung ke Jawa Tengah untuk menyaksikan demonstrasi padi-ikan (mina-padi) di Kabupaten Sukoharjo, yang merupakan kerjasama FAO dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan pemerintah daerah untuk mengembangkan praktik-praktik mina pada inovatif. Para peserta delegasi mendapat pengalaman melakukan panen beras dan ikan bersama para petani dan Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya.

Setelah Sukoharjo, rombongan delegasi menuju Yogyakarta untuk mempelajari program Kementerian Pertanian yang didukung oleh FAO dan USAID guna mendeteksi dan memberantas wabah penyakit unggas yang juga mengancam populasi manusia.

Delegasi melakukan uji petik pengambilan sampel unggas di Pasar Terban Yogyakarta. Sampel unggas ini selanjutnya dibawa ke Balai Besar Veteriner Wates untuk pemeriksaan virus flu burung (Avian Influenza).

Delegasi berkesempatan untuk meninjau fasilitas laboratorium Bioteknologi dan laboratorium Virologi. Setelah itu, dilakukan presentasi proyek FAO Emerging Pandemic Threats 2 (EPT-2), dan sekilas layanan BB Veteriner Wates. Pada kesempatan tersebut delegasi dari Norwegia, Gunnvor Berge menyampaikan apresiasi atas capaian program _Influenza Virus Monitoring (IVM) online_ atau pemantauan virus AI online, yang berhasil mengurangi kejadian penyebaran virus AI pada unggas di wilayah kerja BB Veteriner Wates yang berdampak pada peningkatan pendapatan petani peternak unggas.

Di hari terakhir kunjungan para delegasi mengunjungi Desa Sibetan, Karangasem, Bali, untuk mempelajari proyek Agroforestri Salak yang diajukan pemerintah sebagai Sistem Warisan Pertanian Penting Dunia (GIAHS).

Situs GIAHS yang diusulkan mencakup lanskap yang kaya akan keanekaragaman hayati penting, yang telah berevolusi dan beradaptasi secara selaras dengan komunitas di lingkungannya. Petani Salak di Sibetan mengelola sistem agroforestri memanfaatkan kearifan lokal dan filosofi yang telah diwariskan selama lebih dari 14 abad dari generasi ke generasi.

Kepala delegasi, Wakil Tetap Nigeria, Dr. Yaya Adisa Olaitan Olaniran di akhir kunjungan menyampaikan kesan-kesannya selama melakukan kunjungan di tanah air.

“Kami meninggalkan Indonesia dengan kenangan yang cukup baik bagaimana kerjasama itu harus dilakukan, dan kami benar-benar menghargai Pemerintah, rakyat dan staf FAO di Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu Menteri Pertanian (Mentan) RI Amran Sulaiman dalam sambutannya di hadapan peserta Lokakarya, memaparkan beberapa capaian pembangunan pertanian dalam 4 tahun terakhir. Di antaranya terkait peningkatan produksi, perbaikan regulasi, stabilitas harga, peningkatan investasi mekanisasi pertanian, serta inovasi pertanian.

Setelah mendapatkan penjelasan serta gambaran delegasi FAO dan Mentan, Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M Fachir berjanji akan membantu mempromosikan sektor pertanian Indonesia ke mancanegara.(ton/Hum)

Categories
Nasional Ragam

Hari Pangan Sedunia 2018, FAO Apresiasi Kementan Jadikan Lahan Rawa Masa Depan Pertanian Indonesia

Koran Jurnal, Barito Kuala – Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 di Kalimantan Selatan dinilai menjadi terobosan baru dalam membangun kantong penyangga pangan nasional dari lahan rawa. Pemanfaatan lahan rawa tentu menjadi solusi guna memastikan ketersediaan pangan dan masa depan pertanian Indonesia.

FAO Representative di Indonesia, Stephen Rudgard mengatakan pencapaian tersebut sejalan dengan tema yang diangkat pada HPS kali ini, “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”. Optimalisasi lahan rawa menjadi upaya yang cukup besar untuk menghadapi tantangan pertambahan jumlah penduduk ditambah dengan meningkatknya urbanisasi dan perubahan permintaan konsumen.

“Kami melihat kepemimpinan pemerintah dalam hal ini, dan kami sangat senang bahwa Kementerian Pertanian mempromosikan penerapan praktik-praktik pertanian yang baik terkait penerapan model FAO untuk intensifikasi produksi pangan yang berkelanjutan, termasuk mengurangi penggunaan pestisida melalui pengendalian hama terpadu,” ujar Stephen pada pembukaan puncak Peringatan HPS di Desa Jejangkit, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis (18/10/2018).

Dia pun menekankan peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan lahan rawa ini sangat penting untuk memberikan makan populasi yang terus berkembang. Namun lebih penting lagi untuk memiliki pendekatan pertanian yang berkelanjutan dalam berbagai intervensi pertanian.

Pada kesempatan ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan rawa menjadi bagian penting masa depan pertanian Indonesia. Saat musim kemarau bulan Juli-September, lahan rawa menjadi penyumbang produksi nasional.

Untuk itu, lahan rawa dimanfaatkan untuk berbagai tanaman pertanian, misalnya padi, jagung, kedelai, hortikultura sayuran, jeruk, peternakan kambing dan itik, bahkan untuk budidaya perikanan seperti ikan mas, nila, lele dan lainnya. Pengelolaanya dengan integrated farming yakni mina-padi, ternak itik, sayuran dan lainnya.

“Hari ini kita buktikan melihat bersama ada terobosan baru untuk pangan Indonesia. Kami bangun di lahan rawa ini ada inovasi baru yang menjadikan rawa sebagai penyangga pangan nasional. Ini pesan terpenting dari pelaksanaan HPS tahun ini,” ujarnya.

Amran menyebutkan potensi lahan rawa di Indonesia sangat luas yakni mencapai 34,1 juta hektare. Lahan rawa ini tersebar di 18 provinsi dan 300 kabupaten. Dari total luas tersebut, potensi untuk pengembangan pertanian seluas 21,82 juta hektare atau 64 persen.

“Apabila digarap 10 juta hektar saja yang tersebar di Sumsel, Kalsel, Jambi dan Kalbar, ditanam minimal dua kali setahun, dengan produktivitas 6 ton per hektar, akan menghasilkan padi 120 juta ton setara 60 juta ton beras. Beras surplus bahkan bisa memasok kebutuhan dunia,” terang Amran.

Karena itu, Amran menjelaskan pemanfaatan lahan rawa harus dengan prinsip sustainable agriculture. Program dirancang skala luas dengan mengkorporasikan koperasi petani, regenerasi petani dengan mewirausahakan 4 juta jiwa.

“Kemudian harus dikerjakan dengan full mekanisasi dan pola mina padi sehingga dapat menghemat Rp 15 juta per hektar, dari biaya cetak sawah Rp 19 juta menjadi Rp 4 juta per hektar. Pemerintah kabupaten mendukung biaya bahan bakar,” jelasnya.

Terbukti, lahan rawa di Kalimantan Selatan ditanam jagung dengan pola zig-zag dan pemupukan menghasilkan 20 ton/hektar, bawang merah 10 ton/hektar dan semangka 7 kg/buah dengan pola tumpangsari pepaya.

“Produktivitas dulu 2 ton per hektare umur 6 bulan, sekarang menjadi 6 ton per hektare. Bahkan bisa ditanam padi 3 kali setahun produktivitas 8,3 ton per hektare, hasilnya 250 juta ton setara Rp 1.134T. Produksi ini mampu memasok pangan dunia,” ungkap Amran.

Pembukaan puncak Peringatan HPS ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo, Gubernur Kalimantan Selatan, Syahbirin Noor, para Bupati, perwakilan FAO, para Pelaku Usaha, Asosiasi, HKTI, KTNA dan pegiat pertanian.(ton)

Categories
Ekonomi TNI

Danlantamal III Menerima Bibit Padi dari Kementerian Pertanian

Koranjurnal.co.id, Bekasi – Komandan  Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) III Jakarta Laksamana Pertama TNI Denih Hendrata, S.E.,M.M, selaku pembina Primkopal Lantamal III Jakarta menerima bibit padi dari Kementerian Pertanian RI, yang bertempat di Desa Sindang Sari Kecamatan Cabang Bungin, Kabupaten Bekasi, Rabu kemarin (10/10/2018).

Penerimaan bibit padi ini diserahkan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Buapti Kabupaten Bekasi yang diwakilkan oleh Bapak Drs. A Karim M.Si. selaku kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi kepada Danlantamal III Jakarta selaku pembina Primer Koperasi Angkatan Laut (Primkopal) Lantamal III, bibit padi ini yang selanjutnya akan di berikan kepada 35 kelompok tani binaan Primkopal Lantamal III yang berada di wilayah bekasi.

Guna lebih mensejahtrakan anggotanya primkopal Lantamal III Jakarta sejak beberapa tahun ini sedang mengembangkan usahanya  dengan mengandeng kelompok petani di daerah Bekasi. Adapun kerja sama yang saling menguntungkan ini antara lain dengan pemenuhan kebutuhan bibit, alat pertanian, pupuk dan obat-obatan serta alat kering padi hingga tempat pengolahan padi menjadi beras.

Dengan adanya kerja sama ini hasil pertanian  langsung dapat dipasarkan sendiri oleh anggota kelompok tani yang ditampung oleh Primkopal. Setelah acara seremonial dilanjutkan dengan peninjauan lahan penanaman benih seluas 100 Ha, loksi vertical dryer (Pengeringan padi) dan lokasi pabrik gabah menjadi beras.

Pabrik sudah memproduksi hasil beras dangan merek Jangkar yang dipasarkan langsung oleh primkopal. Hadir pada acara ini Bupati Kabupaten Bekasi yang diwakili Kepala Dinas Pertanian, Camat Cabangbungin yang diwakilkan Sekcam. Kepala Desa sindang Sari, sedangkan pejabat dari Lantamal III, Aspotmar Danlantamal III, Kadiskes Lantamal III, Kakuwil Lantamal III, Danpom Lantamal III, Kadispaslan Lantamal III, Kadisbek Lantamal III, Kaakun Lantamal III, Keprimkopal Lantamal III.(red/Disp)

Categories
Ekonomi

Kementan Pacu Produksi Kapulaga sebagai Tanaman Obat

Koranjurnal.co.id, Garut – Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki berbagai jenis tanaman yang secara turun temurun digunakan sebagai obat. Salah satu tanaman obat yang banyak ditanam adalah kapulaga (Amomum cardamomum). Kapulaga diketahui mempunyai kandungan zat aktif dan minyak atsiri dan memiliki sifat afrodisiak. Manfaat kapulaga antara lain melancarkan sirkulasi darah, anti oksidan, menurunkan kolesterol, mencegah kanker dan sariawan. Kapulaga juga membantu mengurangi resiko sakit pencernaan,obat impotensi serta antidepresan dan aromaterapi.

Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan pengembangan budidaya kapulaga. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Deni Herdiana mengatakan kondisi agroklimat dan lahan di kabupaten ini berpotensi untuk pengembangan tanaman kapulaga. Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu sentra Kapulaga.

“Kabupaten Garut sangat potensi untuk pengembangan tanaman kapulaga. Agroklimat dan kondisi lahan di kabupaten Garut sangat cocok untuk budidaya kapulaga. Minat petani terus bertambah untuk menanam. Luas tanam kapulaga tahun 2016 hanya 769 hektar, meningkat pada 2017 menjadi 1.295 hektar,” jelas Deni di Garut, Jawa Barat, Kamis (11/10/2018).

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto mengatakan Kementan mendukung penuh pengembangan kapulaga, sehingga tidak hanya memacu produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga ditargetkan agar dapat diekspor. Hal ini penting karena berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan penambahan devisa.

“Produksi kapulaga di dalam negeri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun juga untuk memenuhi permintaan ekspor dari negara-negara Timur Tengah, Mesir dan India,” jelas Prihasto.

Tercatat, produksi kapulaga terus meningkat rata-rata sebesar 15,05%. Di tahun 2012 hingga 2017, produksi Kapulaga berturut-turut naik mulai dari 42.973 ton, 54.171 ton, 72.851 ton, 93.121 ton, 86.144 ton dan 90.787 ton. Dengan volume ekspor di tahun 2012 hingga 2015 sebesar 7.961 ton, 6.697 ton, 7.737 ton dan 6.245 ton.

“Kapulaga termasuk suku jahe-jahean atau zingiberaceae. Tanaman obat ini cukup mudah dalam pemeliharaannya namun tetap membutuhkan budidaya yang baik dan benar supaya dapat memperoleh hasil yang maksimal,” tambahnya.

Uden dan Saroh, sepasang suami istri petani di Desa Mekarsari, sangat bersemangat bertanam kapulaga karena budidayanya tidak sulit dan tidak memerlukan modal besar. Saat ini harga kapulaga kering dihargai lumayan tinggi yaitu Rp 83 ribu/kg. Harga pada umumnya sekitar Rp 40 sampai 60 ribu/kg.

Menurut Saroh, petani di Garut biasa menanam kapulaga di bawah tegakan tanaman tahunan seperti albasia atau pisang. Lahan seluas 200 tumbak atau 3000 m2 dalam sekali panen dapat menghasilkan 50 – 75 kg kapulaga kering dan mampu dipanen tiga kali dalam setahun.

“Di Garut biasa menanam kapulaga dibawah tegakan tanaman tahunan seperti albasia atau pisang. Jika rajin memberi pupuk urea dan ZA serta lahan bersih dari gulma maka tanaman kapulaga akan rajin berbuah. Lahan yang ditanami sekitar 200 tumbak atau 3000 m2 sekali panen dapat menghasilkan 50 sampai 75 kg kapulaga kering. Ini bisa dipanen setahun 3 kali yaitu pada September, Januari dan Mei”, ungkap Saroh.

Sementara itu, Ilan, salah satu pedagang pengempul besar rempah di Garut mengakui senang terhadap perkembangan kapulaga di Kota Garut karena selain cepat, kapulaga sangat menguntungkan dan mudah untuk dijual. Pada musim panen gudangnya dapat menyerap kapulaga sekitar 1 ton/hari.

“Selain ke para pengepul, Kapulaga ini langsung diserap oleh industri jamu dan obat di dalam negeri maupun ekspor ke beberapa negara seperti, Timur Tengah, Mesir dan India,” ungkapnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Lepas Ekspor Tiga Komoditas Hortikultura

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu menekankan perlunya peningkatan ekspor produk pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan raihan devisa negara. Tentunya hal ini tidak sekedar retorika, tetapi benar-benar nyata diwujudkan.

Kali ini, Menteri Pertanian asal Bone tersebut secara simbolis kembali melepas ekspor komoditas hortikultura, yakni mangga ke Singapura dan Malaysia totalnya 100 ton, benih kangkung ke China, Malaysia, dan Vietnam totalnya 800 ton dan bawang merah ke Philipina yang totalnya 800 ton. Pelepasan ekspor dilakukan di Kantor Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Senin (08/10/2018).

Hadir Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Dirjen Hortikultura, Suwandi dan para pelaku usaha.

Amran menuturkan potensi pertanian Indonesia sangat besar untuk menyediakan pangan secara berdaulat yakni tanpa impor, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Di tahun 2017, ekspor pertanian mencapai Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga berdampak pada surplusnya neraca perdagangan pertanian 2017 sebesar Rp 214 triliun.

“Hari ini, kita buktikan lagi ekspor. Ada mangga dan benih sayuran juga bawang merah. Inilah tujuan yang kita bangun, online single submission. Ini perintah Bapak Presiden. Dulunya mengurus izin bisa 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Tapi hari ini bisa 1 jam. Negara kita atau pertumbuhan ekonomi bisa bangkit karena 2 hal, yaitu ekspor dan investasi. Kita ke depan 2 hal ini kita doronh terus,” demikian tutur Amran.

Dari data BPS, nilai ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampai Juli 2018 mencapai Rp 1,22 triliun atau naik sebesar 60,5 persen dibanding periode yang tahun sebelumnya yakni hanya Rp 0,76 triliun. Estimasi ekspor mangga 2018 sebesar 835 ton, naik 6% dari 2017 yang hanya 790 ton. Sementara ekspor bawang merah di tahun 2018, ditargetkan 15.000 ton, yakni naik 128 persen dibandingkan 2017 yang hanya 6.588 ton.

“Ekspor mangga dari Januari sampai Juli 2018 sangat tinggi, nilainya mencapai Rp 1,85 miliar, sementara impornya hanya Rp 70,56 juta. Ini menunjukkan upaya pemerintah mendorong petani dan pelaku usaha membuahkan hasil positif, yakni ekspor terus naik” tutur Amran.

Akan hal ini, Amran optimis ke depan volume ekspor komoditas pertanian terus melonjak. Beberapa komoditas yang sudah tembus pasar ekspor yakni mangga, manggis, salak, nenas, benih, sayuran, bawang merah, tanaman hias, telur, ayam, kambing, jagung. Karena itu, Amran meminta pihaknya untuk menambah kawasan pengembangan pertanian dan pendampingan yang intensif dari aspek hulu sampai hilir, sehingga petani mampu menghasilkan produk pangan berkualitas ekspor.

“Saya minta, agar volume bantuan mangga dan komoditas lainnya ditambah. Negara kita ini subur, masih banyak lahan yang belum dioptimalkan. Saatnya kita bangunkan, jangan biarkan lahan tidur,” ujarnya.

Terkait ekspor benih sayuran, lanjut Amran, ini menunjukkan bahwa industri perbenihan dalam negeri sudah maju dan mampu bersaing dengan produk benih negara lain. Selain kangkung, beberapa benih hortikultura yang telah diekspor yaitu benih pare, cabai, paprika, timun, gambas, melon, waluh, sweet corn, pare welut, semangka, terong, tomat, jagung pulut, kacang panjang, bayam, okra dan buncis.

“Ekspor ini bagian dari rencana ekspor 2018 sebesar 900 ton benih sayuran sehingga naik 50 persen dibandingkan 2017. Ekspor di tahun 2019, ditargetkan naik lebih tinggi lagi,” tegasnya.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengapresiasi dukungan Kementan dalam mendorong ekspor komoditas pangan di Jawa Timur. Apalagi saat ini harga bawang merah sedang turun, Kementan bersama pelaku usaha mampu mengangkat harga sehingga petani tidak rugi.

“Hari ini kita berangkat ekspor benih kangkung 20 ton, tapi setahunnya 800 ton dan mangga yang diekspor ini mangga Arumanis khusus. Kemudian bawang kita juga ekspor. Terima kasih kepada Pak Menteri saat harga anjlok kita ekspor sehingga memberikan harga yang menguntungkan bagi petani. Masih banyak lagi komoditas pertanian yang bisa diekspor,” ujar pria yang akrab disapa Pak De Karwo.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menambahkan Kementan telah menetapkan prognosa produksi sayuran 2018 mencapai 12,9 juta ton atau naik 3,4% dibandingkan 2017, bawang merah 1,5 juta ton atau naik 1,5% dibandingkan 2017 dan produksi mangga 2,27 ton, naik 3,08% dari 2017. Ada pun persyaratan ekspor buah telah memenuhi standar SPS, bebas dari lalat buah, kutu putih, dilakukan registrasi kebun, sertifikasi packing house dan perkarantinaan. Proses produksi baik mangga maupun benih sayuran dikerjakan bermitra dengan petani.

“Kementan akan terus memperluas kawasan pengembangan mangga dan benih sayuran. Bantuan untuk petani akan dikawal hingga hasilnya bisa ekspor. Kemitraan petani dengan pelaku usaha pun menjadi bagian yang dijamin Kementan. Ini penting agar petani benar-benar sejahtera dan nilai ekspor semakin tinggi,” ujarnya.

Salah satu eksportir mangga, Berry Gaswara mengatakan buah mangga yang diekspor rata-rata 5 ton/minggu dari 100 ton per tahun dengan tujuan Malaysia dan Singapura.

“Perusahaan kami baru tahun 2018 ini pertama kali ekspor mangga. Ini berkat dukungan Kementerian Pertanian, sehingga pengurusan ekspor tidak ada hambatan, proses ekspor cepat,” ujarnya.

Eksportir benih sayuran, Yulius Dwi Putra menyebutkan setiap tahun perusahaannya mengekspor benih kangkung varietas KK ASA 04 sebanyak 800 ton per tahun ke China, Vietnam dan Malaysia. Perusahaan bekerja sama dengan petani penangkar benih binaan sejumlah 1.000 petani di wilayah Lamongan, yang masuk ke packing house di Jombang.

“Perusahaan kami mulai melakukan ekspor benih sejak tahun 2015 dan tidak melakukan penjualan secara lokal. Potensi lahan untuk produksi benih 800 sampai 1.000 hektar dengan produksi benih kurang lebih 1.000 ton per tahun. Selain benih kangkung, kami juga mengembangkan produksi benih bayam, okra, mentimun dan cabai,” sebutnya.

Sementara itu, eksportir bawang merah, Herry Phio mengatakan perusahaanya mengekspor 26 ton bawang merah asal varietas Super Philip dari Probolinggo dengan tujuan Philipina. Perusahaannya mulai melakukan ekspor sejak tahun 2016 dengan tujuan Thailand, Singapura, Malaysia, dan Philipina.

“Kontrak ekspor bawang merah sebanyak 6.000 ton per tahun. Selama tahun 2018, perusahaan kami sudah mengekspor 800 ton ke Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Untuk diketahui, disamping menggenjot ekspor hortikultura, juga telah mampu menstabilkan harga cabai dan bawang merah pada Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru selama dua tahun terakhir.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Ragam

Kementan Bersama Praktisi Kesehatan Sosialisasikan Pangan Lokal di Pura Besakih Bali

Koranjurnal.co.id, Bali – Kementerian Pertanian (Kementan) dengan menggandeng praktisi kesehatan semakin gencar mensosialisasikan kecintaan terhadap pangan lokal. Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara menjadi tempat sosialisasi keunggulan pangan lokal terhadap stamina tubuh, Minggu (07/10/2018).

Kegiatan ini dihadiri Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, praktisi kesehatan, dr. Hanson, Jajaran SKPD Kabupaten Karangasem, Dinas Pertanian Provinsi Bali, Asosiasi dan Pengelola Usaha Wisata, Tour Guide, Pelaku Usaha Pangan Lokal, Tokoh Adat dan Petani.

Praktisi kesehatan, dr. Hanson menjelaskan bahwa pangan lokal seperti kopi, kedelai, kentang dan lainnya dapat meningkatkan dan mengembalikan stamina tubuh seperti stamina nenek moyang yang amat hebat dan menampilkan inner beauty.

Sebenarnya makanan dan minuman apa yang baik bagi kita? Tubuh kitalah yang paling tahu. Praktisi kesehatan, dr. Hanson mengungkapkan dalam konteks kesehatan holistik, semua hal baik bagi tubuh adalah semua hal yang bermanfaat membantu tubuh membangkitkan kembali potensi tubuh sesuai fitrah manusia. Jadi bukan hanya untuk sehat, tapi juga untuk meningkatkan potensi dalam bekerja bahkan penampilan.

“Semua hal termasuk makanan, minuman, harus tepat penggunaannya. Makanan dan minuman baik sesungguhnya yang ideal dibutuhkan tubuh saat itu. Bukan hanya kualitas dan jenisnya, tapi juga jumlah (red.kuantitas) harus pas. Harus tepat,” ungkapnya.

Menurutnya, tubuh manusia memiliki kecerdasan alami atau body intelligence untuk tahu apa yang baik bagi tubuh dengan tepat. Body Intelligence dan nutrisi saling berhubungan. Makanan dan minuman yang baik meningkatkan potensi tubuh hingga mampu membangkitkan kembali body intelligence untuk optimalnya potensi tubuh dan otak.

“Saat body intelligence tubuh aktif kembali tubuh jadi punya kemampuan untuk mengembalikan stamina dalam hitungan detik, sehingga hasil yang didapat adalah tidak capai dan itu adalah tanda awal dari pulihnya seluruh potensi sejati diri,” ujar dr. Hanson.

Lebih lanjut dijelaskan, body intelligence yang optimal akan membantu manusia memilih hanya makanan dan minuman yang baik, yang nyaman bagi tubuh. Saat manusia makan atau minum yang tidak baik bagi tubuh, manusia menjadi tidak koheren.

“Dan kalau makan sesuai kebutuhan tubuh yang dapat diketahui melalui body intelligence, tubuh akan koheren,” jelasnya.

Makan dan Minum Sesuai Prinsip Body Intelligence

Prinsipnya makan dan minum bertujuan untuk perkuat organ vital, minimal tidak melemahkan. Pertama, Biogenik, bermanfaat meningkatkan potensi tubuh. Kedua, Biostatik, manfaatnya tidak melemahkan tubuh. Ketiga Biosidik bermanfaat melemahkan, jangan makan atau minum.

“Jadi sebaiknya carilah makanan dan minuman yang biogenik, minimal biostatik. Kalau tubuh sudah kuat, kita bisa lebih bebas memilih makanan karena  organ-organ kita akan cukup kuat menahan dampak makanan minuman yang buruk dan mampu optimal dalam membuang racun,” beber dr. Hanson.

Menurut dr. Hanson, beberapa makanan minuman yang perlu dicoba yakni pangan lokal berupa kopi dan kedelai unggul dan telah diproses khusus yang diperkenalkan Kementan melalui program Viva Republik Indonesia. Ternyata saat dites dengan prinsip body intelligence, bukan hanya mampu menguatkan hasil tes banyak organ utama, bahkan seperti ginseng tua kualitas bagus, ternyata keduanya tidak melemahkan hasil tes organ vital apapun.

“Uji kinesiologi tentang kehebatan pangan lokal ini juga dapat dijadikan salah satu atraksi daya tarik wisatawan asing di wilayah Pura Besakih dan Pura Lempuyang di Karangasem. Para wisatawan dikenalkan dengan mencicipi pangan lokal dan dilatih teknik yang sesuai prinsip Body Intelligence, ternyata saat dites mengalami lonjakan stamina yang signifikan dalam waktu singkat. Mereka langsung mampu naik turun tangga dengan semakin terasa ringan, kaki tidak pegal, ada dorongan dan tidak lelah. Bahkan malam harinya saat tidur pulas dan bangun tidur terasa enteng, enak di badan,” jelasnya.

“Tidak hanya kopi dan kedelai saja, ternyata beragam tanaman pangan, buah, sayur, kentang, cabai, serta hasil perkebunan yang tumbuh di Indonesia memiliki kualitas unik sehingga mampu bersaing dibanding negara lain. Secara tidak langsung, ternyata ada korelasi antara kualitas tanaman dengan budaya masyarakat sekitar,” tambahnya.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengatakan program konsumsi pangan lokal dan cintai produk petani ini dipastikan lebih banyak menjangkau banyak kalangan. Program ini konkrit, bisa langsung ditunjukkan perubahan stamina sebelum dan sesudah mengonsumsi.

“Manfaatnya sangat luas baik pada sisi sistem produksi, intermediat dan sisi konsumsi. Kesadaran hidup sehat meningkat. Melalui turis, nantinya Dunia akan mengetahui keunggulan pangan lokal kita sebagai warisan budaya nenek moyang,” ujarnya

Peserta dari Sub Terminal Agribisnis Desa Besakih, Karangasem, I Gusti Ngurah Alit, mengatakan bertahun-tahun menggeluti pertanian, baru kali ini mengatahui manfaat pangan lokal terhadap stamina tubuh.

“saya baru kali ini tahu dan kagum pada pangan lokal, tadinya tidak percaya, kok bisa ya, aneh ya, tapi setelah dipraktekkan, ini sungguh luar biasa, sungguh hebat, pasti wisatawan sangat tertarik, saya mau minta benihnya dari Kementan,” ucapnya.

Sementara itu I Wayan Supandi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem mengatakan program pangan lokal ini akan ditindaklanjuti melalui dukungan program produksi pangan lokal. Pasalnya, ini merupakan terobosan baru untuk meningkatkan kualitas dan kecintaan masyarakat terhadap pangan lokal.

“Tadi semua peserta penasaran, heboh, kaget, ternyata pangan kita hebat, dipraktekkan berjalan keliling Pura Besakih enteng dan bertenaga. Kami tindaklanjuti karena manfaatnya luar biasa, pangan lokal menjadi diminati, wisatawan akan banyak datang, butuh sehat mencari pangan kita, produk petani menjadi laku, ekonomi lokal tumbuh, ujar Supandi.

Pelatihan yang dilakukan dengan teknik sesuai prinsip Body Intelligence diterapkan terhadap peserta yang hadir di Pura Besakih, Karangasem. Didemokan dr. Hanson, dengan teknik khusus untuk bertanya pada tubuh, tubuh ternyata mampu memilih pangan lokal sebagai makanan yang cocok dan baik melalui respon otot.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan Kerja Sama dengan BI dan Pemprov Kepri untuk Tingkatkan Ekspor dan Tekan Inflasi

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menjalin kerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau dan Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) dalam upaya meningkatkan ekspor, dan pengendalian inflasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan sektor pertanian di wilayah perbatasan Kepulauan Riau.

“Bersama Pemprov Kepri dan Bank Indonesia, Kementan juga akan melakukan verifikasi usaha pertanian yang dapat mendorong peningkatan investasi, ekspor pertanian, dan pengendalian inflasi,” terang Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat penandatanganan nota kesepahaman yang ditandatanganinya bersama Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau Gusti Raizal Eka Putra di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (02/10/2018).

Amran menjelaskan, dalam kerja sama ini Kementan berperan dalam kebijakan pengembangan usaha pertanian, serta melakukan percepatan investasi dan ekspor komoditas pertanian. Selain itu, Kementan menyediakan data dan informasi mengenai produksi dan penawaran dan permintaan komoditas pertanian.

Saat ini, Kementan sedang menggenjot produktivitas sektor pertanian dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan dan menjadi lumbung pangan dunia pada 2045.

“Dalam upaya mencapai misi tersebut, Kementan tentu tidak hanya berfokus pada wilayah-wilayah yang sudah menjadi sentra produksi pertanian, tapi juga mengembangkan wilayah yang belum tergali potensinya. Salah satu wilayah suboptimal yang menjadi fokus Kementan sekarang adalah Provinsi Kepri,” kata Amran.

Potensi pertanian di propinsi ini memang belum tergali secara maksimal. Hal ini tercermin dari kontribusi pertanian terhadap pendapatan daerah yang hanya sebesar 0.012 persen, relatif kecil dibandingkan kontribusi tiga sektor utama, yaitu industri pengolahan, sektor konstruksi, serta sektor pertambangan dan penggalian yang berkontribusi antara 14,3 hingga 39 persen.

Tapi pembangunan pertanian di Kepulauan Riau perlu dikuatkan karena memiliki nilai strategis, yaitu: pertama, agribisnis pertanian memiliki potensi besar meningkatkan penghasilan daerah karena memiliki pangsa pasar yang luas, baik di dalam maupun luar negeri; kedua, kemandirian pangan harus diupayakan di Kepulauan Riau karena masa tertentu terjadi kekurangan pasokan produk pertanian dari luar daerah karena kondisi cuaca yang buruk; serta ketiga, pengembangan komoditas tertentu mampu mendukung pengembangan sektor pariwisata, atau dengan kata lain bisa disebut sebagai pertanian berbasis pariwisata.

“Kepulauan Riau sendiri memiliki kelebihan tersendiri dalam perdagangan internasional karena kawasan Batam, Bintan, dan Karimun masuk ke dalam kawasan free trade zone, yaitu kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas. Kementan membidik Kabupaten Lingga untuk dikembangkan menjadi Kawasan Sentra Produksi Pertanian untuk memasok ke Kepulauan Kepri maupun untuk pasar internasional,” beber Amran.

Semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota Batam, Tanjungpinang, kabupaten lain dan dari pendatang menyebabkan ketergantungan yang tinggi kebutuhan akan tanaman pangan dan hortikultura. Saat ini pasokan pangan dan hortikultura sangat terbatas dan dijual di pasar dengan harga yang tinggi dalam kondisi tertentu. Hal ini terjadi antara lain disebabkan cuaca yang kurang baik, distribusi kurang lancar, maupun gagal panen yang terjadi di Pulau Jawa/Sumatera.

Untuk pasokan kebutuhan internasional, Provinsi Kepri bisa menjadi hub untuk ekspor. Salah satu negara yang berpotensi menjadi pasar produk pertanian Indonesia adalah Singapura yang setiap harinya membutuhkan 2.500 ton komoditas hortikultura. Selama ini, Indonesia hanya bisa memasok 6 persen dari total kebutuhan mereka.

Mencermati potensi pasar dan kebijakan pengembangan hortikultura di Propinsi Kepulauan Riau, peluang yang akan dikembangkan melalui kerja sama ini antara lain budidaya tanaman pangan pokok, membuka lahan pengembangan pertanian hortikultura pada beberapa kawasan unggulan hortikultura, membuka lahan agrobisnis untuk pertanian hortikultura, serta pembangunan industri/pabrik pengolahan produk tanaman hortikultura guna memenuhi permintaan pasar di tingkat domestik, nasional, dan luar negeri.

Kendalikan Inflasi Melalui Peningkatan Produksi Pangan

Selain akselerasi ekspor pertanian, kerja sama antara tiga lembaga ini juga ditujukan untuk pengendalian inflasi. Salah satu ruang lingkup Nota Kesepahaman ini adalah peningkatan kapasitas usaha bidang pertanian, khususnya komoditas penyumbang inflasi, seperti beras, cabai, dan bawang.

Keterlibatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau dalam kerja sama ini diharapkan dapat merumuskan dan menetapkan kebijakan pengembangan usaha berskala mikro, kecil, dan menengah, khususnya untuk mendukung pengendalian inflasi, penggunaan layanan keuangan non tunai, dan akses keuangan di sektor pertanian.

“Bank Indonesia juga akan melakukan kegiatan pengembangan sumber pembiayaan dalam rangka mendorong peningkatan usaha pertanian, serta melakukan edukasi keuangan terhadap pelaku usaha tani dalam rangka meningkatkan akses keuangan,” ungkap Amran.

Saat ini, pengendalian inflasi khususnya untuk sektor pangan cukup baik, terbukti pada bulan September lalu, Indonesia deflasi sebesar 0.18 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Bank Indonesia menyebutkan deflasi bersumber dari koreksi harga beberapa komoditas seperti daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.

“Belakangan ini, harga tiga komoditas ini mengalami penurunan harga karena produksinya yang berlimpah. Untuk itu, Kementan sedang mengupayakan agar daging dan telur ayam ras, serta bawang merah lokal dapat terserap tidak hanya di pasar domestik, tapi juga pasar internasional,” pungkas Amran.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Solok Menjadi Kawasan Bawang Merah Berbasis Korporasi

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) di Bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman berkomitmen penuh dalam menindaklanjuti arahan presiden Jokowi untuk mengkorporasikan petani. Hal ini telah diperkuat dari terbitnya Permentan 18/2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Berbasis Korporasi Petani.

“Karenanya, Kementan menghimbau agar bantuan pemerintah untuk sektor pertanian tidak dibagi sama rata seluruh Indonesia,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi di Jakarta, Minggu (30/09/2018).

Dia menjelaskan lokasi korporasi khususnya bawang merah dan cabai yang didorong dan fokus di Tahun 2019 adalah Solok dan Malang untuk bawang merah, sementara Blitar dan Garut untuk cabai. Ini menunjukan bantuan di sektor pertanian harus fokus lokasi, komoditas dan utuh hulu hilir yang tentunya bisa berdampak pada peningkatan produktivitas.

“Dampak positifnya mampu meningkatkan nilai tambah produk pertanian sehingga kesejahteraan petani semakin membaik,” jelas Suwandi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Chandra mengatakan kawasan aneka bawang di Solok sangat prospektif dikembangkan menjadi kawasan yang berbasis korporasi. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sangat mendukung penuh kawasan pengembangan bawang merah di Solok yang luas panennya mencapai 8.000 ha dan potensi pengembangan bawang putih mencapai 5.000 ha.

“Pendekatan yang kami lakukan saat ini untuk bawang merah adalah memperkuat hilirisasi dengan mendorong industri pengolahan pascapanen seperti industri pasta, minyak bawang merah dan mengawal secara ketat dan konsisten manajemen tanam sehingga stabilisasi pasokan dan harga aman,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Admaizon menambahkan Solok saat ini menjelma menjadi kawasan produksi bawang merah yang terbesar di Sumatera dengan luas panen dalam setahun kurang lebih 7.300 ha. Khusus di Kecamatan Lembah Gumanti saja mencapai 4.600 Ha dan Kecamatan sentra lainnya juga sangat prospektif yaitu Lembang Jaya 860 ha, Danau Kembar 567 ha, Pantai Cermin 479 ha serta melebar ke kecamatan lain dan sekitarnya.

“Pangsa pasar solok meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Riau dan Sumut bahkan bisa menembus Jabodetabek,” ungkapnya.

Adapun varietas bawang merah yang ditanam adalah SS Sakato, Singkil Medan, Gajah, Bima Brebes dan Maja Cipanas. Umumnya varietas ini telah beradaptasi dengan kondisi alam Solok yang beriklim dingin.

“Saat ini kami gencar mendorong perluasan dan ekspansi bawang putih di Lembah Jaya, Danau Kembar, Lembah Gumanti dan Gunung Talang untuk mendukung swasembada bawang putih 2021,” tegas Admaizon.

“Ke depan kami ingin jadikan Solok sebagai lumbung se Sumatera untuk bawang merah dan bawang putih tentunya dengan pendekatan kawasan yang berbasis korporasi,” imbuhnya.

Kasubdit Bawang Merah dan Sayuran Umbi, Kementan, Agung Sunusi mengatakan bahwa Solok prosfektif untuk dikembangkan menjadi kawasan berbasis koperasi dengan rata rata luas panen per bulan mencapai 500 ha. Sehingga, memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat solok untuk peningkatan kesejahteraannya.

“Hal ini terlihat dari mesjid dan rumah masyarakat yang sudah permanen, ini berarti roda perekonomian di solok bergerak maju,” tuturnya pada saat mengunjungi kawasan bawang di Kecamatan Lembang Jaya dan Danau Kembar Solok, kemarin (29/9).

Faizal, petani di Kampung Batu Dalam Kecamatan Danau Kembar menyebutkan luas tanam kelompok tani binaan sekitar 150 ha dengan varietas dominan yang ditanam adalah Sakato, Bima Brebes dan Tut Tuk.

“Alhamdulillah hasilnya bisa kami sekolahkan anak, bahkan kelompok tani binaan rata rata sudah memiliki 2 motor per rumah tangga. Harga bawang merah saat ini Rp. 8.000 per kilogram, kami berharap harga bisa stabil di atas Rp. 10.000,” tuturnya.(ton/Hum)

Categories
Daerah Ekonomi

Mentan Monitor Program ‘Bekerja’ di Garut

Koranjurnal.co.id, Garut – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memonitor Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) yakni program pengentasan kemiskinan berbasis pertanian. Monitoring dilakukan di Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Kamis (27/09/2018).

“Ini adalah program Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kemensos, BUMN, Kemendes, BKKBN. Di Kecamatan Pakenjeng ini termasuk daerah terpencil, perintah Bapak presiden agar membangun negara dari pinggiran agar masyarakat di daerah-daerah pelosok sejahtera,” kata Mentan Amran dalam sambutannya saat memonitor Program ‘Bekerja’. Hadir pada kegiatan, Sekretaris Daerah Garut, Rohayati, Kapolres Garut dan masyarakat petani miskin.

Amran menjelaskan Program ‘Bekerja’  sangat bagus karena dilakukan dengan tahapan yakni jangka pendek sampai jangka panjang dan dikembangkan dengan sistem klaster. Untuk jangka pendek, melalui penanaman tanaman komoditas harian yakni sayur-sayuran. Jangka menengah, dengan pemberian 50 ekor ayam per rumah tangga pra sejahtera. Adapun ayam yang diberikan jenis petelur yang berumur dua bulan.

“Yang dikatakan miskin, pendapatannya kurang dari Rp 1,4 juta per bulan. Tahun ini Kementan sediakan bantuan ayam 6 juta ekor berikut kandang dan pakan serta pendampingan. Tahun depan 2 kali lipat. Bantuan juga berupa tanaman perkebunan, ada kopi dan hortikultura yaitu sayur-sayuran. Jadi bantuan jangka pendek, menengah dan panjang,” jelasnya.

Amran optimis, melalui bantuan pada Program ‘Bekerja’ mampu menyejahterakan masyarakat. Misalnya, budidaya ayam mampu bertelur saat usia enam bulan sebanyak 50 butir per hari dengan masa produktif 3 tahun.

“Kalau 50 telur per hari, pendapatan Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per bulan. Masyarakat pra sejahtera pendapatan Rp1,4 juta. Ditambah Rp2,5 juta, berarti Rp3,5 juta per bulan,” ujarnya.

“Begitu pun dengan kopi. Setelah tiga tahun akan berbuah, bisa memberikan tambahan pendapatan. Artinya masyarakat bisa lepas dari kemiskinan,” pintanya.

Karena itu, Amran menuturkan pengelolaan Program Bekerja dilakukan dengan sistem klaster. Tujuanya agar terbangun industri olahan yang langsung mengolah dan memasarkan produk pangan petani, sehingga tidak lagi sebagai penghasil bahan pangan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk akhir yang memberikan keuntungan yang lebih besar.

“Kita bangun program kemiskinan ini dengan sistem klaster. Bila perlu ada 1 jenis tanaman per klaster, karena kita ingin berskala industri. Kita akan bangun industri, jadi kopi diolah langsung di desa dengan kemasan industri. Manfaatnya tidak hanya menjamin pendapatan petani, tapi juga membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Garut, Rohayati menyampaikan apresiasi kepada Kementan yang telah menyalurkan Program Bekerja. Pasalnya, program ini sesuai dengan kebutuhan daerah untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

“Program bekerja menyasar 14 kecamatan dari 42 total kecamatan di Garut. Pemda garut mengucapkan terima kasih kepada Kementan. di Garut terdapat 11.381 rumah tangga miskin di sektor pertanian. Kami yakin program ini bisa mengentaskan kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.

“Kami minta semua pihak untuk mengawasi Program Bekerja agar tidak disalahgunakan masyarakat. Bantuan ayam dan tanaman lainya agar benar-benar dipelihara sehingga masyarakat mendapatkan pendapatan yang berkelanjutan,” tambahnya.(ton/Hum)