Categories
Ekonomi

Ditjen Tanaman Pangan Kementan: Kinerja Produksi Komoditas Padi, Jagung dan Kedelai Menunjukkan Peningkatan

Koran Jurnal, Jakarta – Kinerja Kementerian Pertanian selama 5 tahun terakhir ini menunjukkan keberhasilan. Terbukti secara makro inflasi bahan makanan umum mengalami penurunan paling signifikan dibandingkan bahan umum lainnya. Tidak hanya dari sisi inflasi, dari sisi petani pun menunjukkan adanya peningkatan nilai tukar petani (NTP) dan NTUP dari tahun 2015-2018.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan  Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, terkait dengan ekspor impor produk tanaman pangan, perkembangan ekspor beras khusus dan beras premium melonjak tajam pada periode tahun 2017 dan 2018.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), BPS mencatat, volume ekspor beras kategori ini pada 2017 mencapai 3.433 ton. Angka itu meningkat lebih dari 2.540 persen dibandingkan pada 2014 yang hanya sekitar 130 ton.

Diperkirakan ekspor beras premium dan khusus akan kembali mengalami peningkatan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, hingga September lalu, volume ekspor beras kategori premium dan khusus sudah mencapai 3.069 ton. Capaian itu membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya terfokus pada peningkatan beras untuk memperkuat cadangan beras pemerintah saja, tetapi juga turut berupaya mengembangkan beras untuk segmen pasar khusus

Begitu pula ekspor dan impor jagung, terlihat bahwa pada tahun 2015-2016 kita masih mengimpor jagung sebesar 3,5 juta ton tahun 2015 dan 1,3 juta ton tahun 2016. Kebijakan pengurangan impor oleh Menteri Pertanian sejak 2016, bahkan zero impor tahun 2017 terbukti mampu menggerakan perekonomian petani. Petani menjadi tertarik menanam jagung karena harga yang bagus. Bahkan tahun 2018 ini telah mampu ekspor jagung sebesar 380.000 ton.

Dari sisi produksi, kinerja produksi komoditas utama tanaman pangan (padi, jagung dan kedelai) menunjukkan peningkatan. Selama lima tahun terakhir, rata-rata perkembangan produksi padi 4,07% per tahun, jagung 12,5% per tahun dan kedelai 8,79% per tahun.

Tahun 2018 ini Ditjen Tanaman Pangan mempunyai beberapa program terobosan untuk mencapai sasaran produksi. Salah satunya adalah pengembangan pola tanam tumpangsari padi, jagung dan kedelai sistem tanam rapat. Pola tumpangsari akan lebih dipacu lagi di tahun mendatang.

Pertimbangan pola tumpangsari ini agar tidak terjadi persaingan penggunaaan lahan antara komoditas padi, jagung dan kedelai. Indonesia masih punya peluang untuk menggenjot produksi dengan pola tersebut sampai 5 tahun ke depan sehingga dapat memitigasi alih fungsi lahan terutama akibat pembangunan infrastruktur penanaman padi gogo juga dioptimalkan.

Tidak hanya di lahan kering, tapi juga memanfaatkan gogo sawah, gogo gunung, gogo rawa, padi rawa dan padi pasang surut.

“Potensi kita masih banyak untuk mengembangkan padi di luar lahan sawah,” ujar Gatot Irianto, dalam konferensi pers Kinerja 5 Tahun Kementan, di Jakarta, Selasa (04/12/2018).

“Tahun 2018 ini kita mengembangan padi gogo seluas 1 juta ha di areal lahan baru. Kita menyadari alih fungsi lahan semakin tinggi, maka dengan perluasan lahan di areal baru sebagai solusi kita untuk tetap mempertahankan produksi padi nasional,” ungkapnya.

Dari sisi sarana produksi, penggunaan benih bermutu dan penyediaan bantuan benih tahun 2018 seluas 6.788.210 ha untuk benih padi inrida, padi hibrida, jagung dan kedelai diharapkan mampu menyediakan benih varietas unggul.

Selain bantuan benih, Ditjen Tanaman telah mampu melampaui target nawacita 1.000 Desa Mandiri Benih (DMB). Sampai dengan tahun ini telah dilaksanakan program DMB di 1.313 unit. Dengan adanya DMB petani dapat diberdayakan untuk mampu memenuhi kebutuhan benihnya sendiri.
Dalam hal pengamanan produksi dikembangkan budidaya tanaman sehat (BTS).

“Upaya ini dilakukan di lahan endemis serangan OPT. Tahun 2017 dilaksanakan di 13.610 ha dan tahun 2018 meningkat menjadi 33.000 Ha. Berdasarkan laporan pengamat OPT di lapangan, produktivitas di lahan BTS meningkat dari semula 6,46 ton/ha menjadi 8,7 ton/ha, serangan OPT juga mengalami penurunan signifikan di tahun 2018 ini sebesar 36,56% dari tahun sebelumnya. Terbukti upaya gerakan pengendalian yang intensif selama ini mampu meminimalisir serangan OPT tahun ini,” jelas Gatot Irianto.

Untuk mengurangi susut hasil panen dan peningkatan nilai tambah, Ditjen Tanaman Pangan telah mengalokasikan bantuan alsintan pascapanen. Selama kurun waktu 2014-2018 telah diberikan bantuan alsintan sebanyak 52.230 Unit.

“Tahun 2018 ini memberikan dryer sebanyak 1.000 unit. Dengan bantuan dryer diharapkan tidak hanya produksi yang terjaga namun mutu panen juga baik. Apabila kualitas terjaga maka harga juga akan bagus,” tukasnya.

Pengawalan/pendampingan juga diperlukan untuk mencapai sasaran produksi tanaman pangan. Pengawalan dilakukan dari aparat pusat, daerah, penyuluh lapangan sampai dengan tingkat kecamatan. Koordinasi terus dilakukan  untuk mengawal pelaksanakan program Ditjen Tanaman Pangan agar selalu on the track.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan Apresiasi Bank Sinarmas yang akan Gulirkan 100 Milyar Rupiah untuk Kredit Usaha Peternakan Sapi

Koran Jurnal, Bogor – Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memberikan apresiasi kepada PT. Bank Sinarmas yang akan menggulirkan kredit senilai Rp.100 Milyar untuk usaha peternakan sapi.

“Saya mengapresiasi kepada PT. Bank Sinarmas yang berkeinginan mendorong dan mengembangkan pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta kemitraan usaha untuk komoditas peternakan terutama untuk ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba,” kata Fini Murfiani Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan saat ditemui di kediamannya di Bogor, Jawa Barat, Minggu (02/12/2018).

“Saya berharap dengan fasilitasi pembiayaan kredit oleh perbankan, maka dapat mendorong peran aktif dan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perbankan, dan Swasta dalam rangka pengembangan investasi usaha peternakan di Indonesia,” ucap Fini Murfiani.

Ia sampaikan bahwa penyaluran dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada periode tahun 2018 untuk sub sektor peternakan sampai dengan 31 Oktober 2018 sangat menggembirakan.

“Dana KUR tahun 2018 sebesar Rp. 4,23 triliun, mengalami peningkatan 2 kali lipat dibandingkan realisasi tahun 2017 yang hanya Rp. 2,02 triliun,” ungkap Fini.

Lebih lanjut Ia tekankan bahwa peningkatan investasi usaha peternakan melalui pembiayaan oleh perbankan diharapkan dapat mengembangkan kemitraan usaha peternakan yang saling menguntungkan.

“Pembiayaan melalui kemitraan ini sebagai bagian dari berbagai upaya untuk mewujudkan swasembada protein hewani, mendukung tercapainya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045,” ujarnya.

Sementara itu, Wahyu Adhi Nugroho selaku Micro Unsecure Loan Departmen Head PT Bank Sinarmas saat acara workshop pembiayaan peternakan ruminansia dengan pola kemitraan di Jakarta (26/11) menyampaikan, pada tahun 2019 PT Bank Sinarmas akan menggelontorkan Rp 100 Milyar dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk peternakan sapi.

Jumlah kredit tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya. “Dana KUR dari PT Sinarmas sebelumnya sebesar Rp. 30 Milyar untuk periode tahun 2016 hingga 2017”, ungkap Wahyu. Lonjakan dana KUR oleh PT Bank Sinarmas tersebut menurutnya, karena pihaknya melihat potensi bisnis peternakan ruminansia (sapi, kambing dan domba) masih sangat besar untuk terus dikembangkan.

Menurutnya, pengembangan usaha ruminansia di dalam negeri masih memiliki peluang besar untuk terus ditingkatkan, yakni melalui penambahan populasi ternak, mengingat Indonesia saat ini masih harus impor untuk pemenuhan kebutuhan daging sapi dan adanya peluang ekspor kambing/domba yang semakin terbuka.

Wahyu menyampaikan, dengan meningkatnya dana KUR yang akan digelontorkan pada tahun 2019 tersebut, pihaknya sama sekali tidak merasa khawatir dengan tersendatnya pengembalian kredit oleh debitur. Hal ini karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, pengembalian dana KUR yang telah digelontorkan oleh PT Bank Sinarmas untuk peternakan sapi tidak mengalami kendala.

Lebih lanjut Ia jelaskan, mekanisme penyaluran dana kredit untuk usaha peternakan sapi, PT Bank Sinarmas melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan Value Chain Company (VCC) atau Offtaker yang memiliki peran diantara sebagai: 1) pemberi referensi peternak ke Bank; 2) penyedia bibit; 3) penyedia pakan; 4) pendampingan ke petani saat pemeliharaan sapi; dan atau 5) pembeli hasil panen. Selanjutnya apabila pemberian kredit telah disetujui, PT Bank Sinarmas akan menyalurkan pembiayaan kredit. Pada saat peternak melakukan penjualan ternak sapi ke VCC/offtaker, maka pembayaran harga jual oleh VCC/offtaker ke peternak melalui PT Bank Sinarmas. Kemudian PT Bank Sinarmas akan membayarkan hasil penjualan ternak sapi kepada peternak setelah dikurangi dengan biaya angsuran kredit yang harus dibayarkan.

Plafond kredit untuk usaha peternakan sapi baik sapi potong maupun sapi perah oleh PT Bank Sinarmas adalah 80% dari Rincian Anggaran Belanja (RAB) yang disetujui, dengan maksimal kredit yang diperoleh sebesar Rp 500 juta/peternak. “Pada periode tahun 2016 hingga 2018, dana kredit yang disalurkan pada kisaran Rp. 75 juta hingga Rp 500 juta per peternak,” terangnya.

Ia sebutkan bahwa Bank Sinarmas telah menyalurkan kredit kepada 200 peternak sapi potong yang tersebar di Kabupaten Wonogiri, Boyolali, Sleman, Cianjur, Garut, Sukabumi dan Bogor. Nilai kredit yang disalurkan sebesar Rp. 6 Miliyar untuk pembelian 580 ekor sapi potong.

Menurut Wahyu, Bank Sinarmas menggandeng PT. Pasir Tengah sebagai mitra yg berperan sebagai off-taker.

“Kemitraan ini saling menguntungkan para pihak, antara lain para peternak mendapatkan kepastian pasar, sementara PT. Pasir Tengah mendapat kepastian pasokan ternak,” ungkap Wahyu.

Ia katakan bahwa kemitraan juga dapat melibatkan pihak terkait lainnya, sebagai contoh, di Kabupaten Wonogiri, PT. Sinar Mas dan PT. Pasir Tengah bekerja sama dengan BUMP PT. Pengayom Tani Sejagad sebagai pendamping pengembangan usaha para peternak.(ton/Hum)

 

Categories
Ekonomi IPTEK

4 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, BPPSDMP Kementan: Peningkatan Sumber Daya Manusia Meningkat Signifikan

Koran Jurnal, Jakarta –  Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Momon Rusmono menekankan Kinerja 4 tahun BPPSDMP Kementan merefleksikan fokus pemerintah Presiden Joko Widodo – JK pada pengembangan Sumber Daya Manusia. Hal ini terlihat dari pilar pendidikan yang berhasil meningkatkan kelulusan petani milenial hingga 107%.

“Peningkatan signifikan ini terlihat dari total 977 lulusan sejak 2011-2014 menjadi 2.026 lulusan yang tercatat dari tahun 2015-2018 di Sekolah tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) yang kini bertransformasi menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (red, Polbangtan),” demikian diungkapkan Momon Rusmono pada konferensi pers yang digelar di Kantor Pusat Kementan, Senin (26/11).

Menurut Momon, minat milenial pun meningkat 12 Kali lipat atau 1.237 % yaitu dari 980 pendaftar di tahun 2013 menjadi 13.111 pendaftar di Polbangtan pada tahun 2018. Hal ini dikarenakan transformasi STPP menjadi Polbangtan yang didesign untuk mencetak milenial tani profesional yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan memiliki sertifikasi internasional untuk dapat bekerja di perusahaan Multinasional.

“Kewirausahaan milenial tani pun meningkat hingga 103% dari 500 kelompok Pengembangan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) di tahun 2016 menjadi 1.013 kelompok PWMP di 2018. Polbangtan berhasil mencetak milyarder-milyarder tani millenial seperti kelompok PWMP Utami Super Broiler dari timur Indonesia yaitu Manokwari Papua yang berhasil mengembangkan usaha mereka hingga mencapai omzet Rp.1,5 Miliar dalam jangka waktu 1 tahun,” terangnya.

Pada pilar pelatihan juga, sambung Momon, terjadi peningkatan signifikan hingga 289% dari 25.108 tenaga pada tahun 2014 menjadi total 97.846 tenaga terlatih pada tahun 2018. Tenaga SDM Pertanian profesional yang tersertifikasi juga meningkat tajam hingga 274% dari total 2.380 pada 2011-2014 menjadi 8.904 pada rentang waktu 2015-2018.

“Perubahan signifikan ini dikarenakan BPPSDMP Kementan meningkatkan sertifikasi kompetensi dari hanya 3 sertifikasi kompentensi menjadi 21 sertifikasi kompetensi di tahun 2015-2018,” tuturnya.

Pada Pilar Penyuluhan dikatakan Momon, terdapat 75,8% kenaikan pada penambahan dan pengembangan kelompok tani hingga berjumlah 586.680 Kelompok Tani pada tahun 2018 dibanding tahun 2014 yang hanya berjumlah 322.390 Kelompok Tani. Pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) juga terjadi peningkatan dari 37.632 Gapoktan di tahun 2014 menjadi 63.435 di tahun 2018 atau terjadi peningkatan hingga 68,6%.

“Manfaat penyuluhan dan pengembangan SDM Pertanian dirasakan langsung oleh masyarakat. Terbukti, penurunan inflasi bahan makanan Indonesia dari 11.35 % di 2013 hingga 1% di 2017 adalah pertama kalinya dalam sejarah Indonesia dan juga di dunia. Keberhasilan ini adalah hasil dari kerja keras ikhlas SDM Pertanian yang Mandiri, Profesional dan Berdaya Saing,” katanya.

Kedepan, Momon menegaskan peningkatan Kinerja BPPSDMP Kementan akan terus mencetak SDM Pertanian yang Mandiri, Profesional dan Berdaya Saing terutama di pengelolaan rawa yang berbasis Korporasi Petani dalam program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI). Program Serasi akan memilih enam provinsi yang memiliki optimalisasi lahan seluas 400.000 hektar.

“Keenam Provinsi ini adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah,” pungkasnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan: Ketersediaan Daging dan Telur Ayam Jelang Natal dan Tahun Baru 2019 Aman

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan daging ayam, sapi dan telur cukup untuk persediaan Hari Raya Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Berdasarkan perhitungan ketersediaan dan kebutuhan daging sapi dan kerbau terdapat surplus sebanyak 11.219 ton.

“Perlu kami sampaikan bahwa produksi sapi lokal sebanyak 35.845 ton, sedangkan kebutuhan daging sapi sebanyak 55.305 ton. Kekurangan disediakan melalui impor sapi dan daging sebanyak 30.679 ton, dengan komponen impor sapi bakalan sebanyak 18.217 ton, setara sapi 91.543 ekor dan komponen impor daging sapi dan kerbau sebanyak 12.462 ton, setara sapi 62.623 ekor,” jelas I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), dalam konferensi pers di Kantor Ditjen PKH Jakarta, Kamis (22/11/2018). Turut hadir mendampingi Dirjen PKH pada konferensi pers, Dirut PT Dharma Jaya, Johan Ramadhon.

Ketut pun menegaskan untuk ketersediaan daging ayam menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru 2019 juga mengalami surplu. Berdasarkan ketersediaan dan kebutuhan daging ayam, dapat disimpulkan terdapat potensi surplus atau kelebihan produksi daging ayam tahun 2018 sebanyak 466.445 ton dengan rataan per bulan sebanyak 38.870 ton.

“Potensi produksi DOC (re.Day Old Chicken/Ayam Umur Sehari) Final Stock Broiler (red.ayam pedaging) sebanyak 3.281.345.300 ekor, dengan rataan perbulan sebanyak 273.445.442 ekor atau 62,9 juta ekor per minggu. Potensi produksi daging berdasarkan produksi DOC tahun 2018 sebanyak 3.517.721 ton, dengan rataan perbulan sebanyak 293.143 ton. Sedangkan proyeksi Kebutuhan daging tahun 2018 sebanyak 3.051.276 ton, dengan rataan perbulan sebanyak 254.273 ton,” sebutnya.

Disamping Perhitungan berdasarkan potensi, lanjut Ketut, juga dilakukan penghitungan berdasarkan laporan realisasi produksi dari masing-masing perusahaan sampai dengan bulan Oktober 2018. Berdasarkan ketersediaan dan kebutuhan terdapat surplus produksi daging sampai dengan November 2018 sebanyak 269.582 ton dengan rataan per bulan sebanyak 22.482 ton.

“Berdasarkan potensi ketersediaan dan proyeksi kebutuhan telur ayam ras, maka terdapat potensi surplus telur sebanyak 795.071 ton pertahun atau 66.256 ton perbulan,” terangnya.

Perlu diketahui, produksi telur ayam tahun 2018 diperoleh dari laporan data realisasi produksi DOC layer tahun 2016, 2017, dan tahun 2018 yakni Januari hingga Mei2018 karena produksi telur diperoleh setelah ayam umur 4,5 bulan. Berdasarkan data realisasi produksi DOC 2016-2018 tersebut diperoleh Populasi ayam layer komersial tahun 2018 per bulan berkisar antara 207.565.729 ekor – 222.560.615 ekor dengan rerata populasi perbulan sebanyak 214.153.020 ekor.

Berdasarkan struktur umur diperoleh populasi layer komersial umur produktif yakni 19 sampai 88 minggu berkisar antara 144.023.895 ekor hingga 155.112.710 ekor dengan rerata populasi sebanyak 149.103.895 ekor.

“Produksi telur tahun 2018 dihitung berdasarkan populasi layer komersial umur produktif, sehingga diperoleh potensi produksi telur tahun 2018 sebanyak 2.561.481 ton, atau dengan rerata per bulanan sebanyak 213.457 ton. Sedangkan proyeksi kebutuhan telur tahun 2018 sebanyak 1.766.410 ton atau dengan rerata bulanan sebanyak 147.201 ton,” beber Ketut.

“Berdasarkan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan daging Sapi/Kerbau, daging ayam dan telur ayam ras pada akhir tahun 2018 atau menjelang natal dan tahun baru 2019 dalam kondisi surplus, sehingga kondisinya sangat aman,” tambahnya.

Untuk menjaga stabilitas harga diharapkan Seluruh Polda sampai Polres akan membentuk tim dan berkoordinasi dengan instansi terkait dengan melakukan pemantauan ketersediaan pasokan dan harga pangan strategis menjelang dan selama HBKN Natal danTahunBaru 2019.

“Kita harapakn dengan pasokan yang cukup, maka masyarakat dapat merayakan hari raya Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 dengan tenang,” tandas Ketut.

Sementara itu, Dirut PT Dharma Jaya, Johan Ramadhon menegaskan kebutuhan daging sapi/kerbau di DKI Jakarta untuk Natal hingga tahun baru 2019 masih dalam kondisi aman. Pasokan daging ayam ke pasar-pasar di DKI Jakarta sebagian besar dipasok dari peternak mandiri dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat dan Lampung.

“Kami sekarang ini menyediakan kebutuhan daging dan ayam untuk program pangan bersubsidi yaitu masyarakat penerima bantuan pangan bersubsidi. Untuk kebutuhan pasar pun kami jamin sesuai dengan kemampuan pasok yang dimiliki,” ujarnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan Punya Terobosan Baru Sejahterakan Petani dengan Program SERASI 

Koran Jurnal, Jakarta – Setelah mendapat banyak apresiasi dari berbagai pihak dalam mengolah rawa menjadi lahan pertanian produktif di Jejangkit, Provinsi Kalimantan Selatan, Kementerian Pertanian (Kementan) kembali memperkenalkan terobosan lainnya.

Ribuan hektar rawa yang tersebar di 6 provinsi akan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian aktif. Hal ini dilakukan untuk mendorong kesejahteraan petani berbasis koperasi yang dikorporasikan melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI).

Sebagai langkah awal, Program Serasi akan memilih 6 provinsi yang memiliki optimalisasi lahan seluas 400.000 hektar. Keenam Provinsi ini adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku optimis program ini akan memberi dampak baik pada semua pihak. Apalagi, pengelolaan program ini dikerjakan oleh orang-orang profesional seperti pensiunan pejabat Kementan maupun purnawirawan dari instansi lain.

“Kalau pensiunan kan sudah pasti mengerti sesuai kompetensi dan pengalaman yang dimiliki. Sebab kita ingin menggerakan pertanian secara moderen sesuai yang diharapkan Bapak Presiden”, kata Amran dalam acara Rapat Konsolidasi Persiapan Implementasi Program SERASI di Auditorium Gedung F Kantor Pusat Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2018).

Amran menjelaskan, pemanfaatan rawa nantinya akan saling terintegrasi antara lahan ternak, perkebunan dan sawah. Menurut dia, program ini merupakan mimpi lama yang baru terealisasi tahun ini.

“Saya yakin jika program ini berjalan dengan baik, maka petani bisa untung 2 kali lipat. Dan itu sudah sesuai dengan mimpi besar kita, yaitu kesejahteraan petani,” katanya.

Kepala Biro Perencanaan Kementan DR. Ir. Kasdi Subagyono mengatakan terobosan ini akan dikerjakan bersama lintas sektoral dan bersinergi dengan pemangku kepentingan seperti kementerian BUMN, Kementerian PUPR dan Lembaga Keuangan.

“Strategi percepatan implementasi ini adalah mencari alternatif lahan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan. Apalagi potensi lahan rawa di Indonesia mencapai 15 juta hektar lebih”, kata Kasdi.

Menurut dia, saat ini pihaknya sedang melakukan penyisiran dan akurasi data terkait potensi baru yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan membangun koperasi petani yang terkorporasi.

“Penyisiran dan akurasi datanya sedang berjalan,” katanya.

Mengatasi Kendala dengan Mekanisasi dan Penggunaan Teknologi Pertanian

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro, mengatakan program ini merupakan arahan Presiden yang sebesar-besarnya dijalankan untuk kepentingan petani.

“Sesuai arahan Pak Mentan dan mengikuti perintah Bapak Presiden, maka kita akan membangun Koperasi Petani yang terkorporasi,” ujarnya.

Menurut dia, tahapan awal misi program ini adalah mengembangkan lahan rawa lebak seluas 200 hektar di bawah kontrol dan tanggungjawab 50 tenaga harian lepas yang melaksanakan fungsi teknis.

“Pengelolaan semuanya dilakukan dengan teknologi yang mutakhir. Jadi kendala pada kondisi tanah seperti masam, PH nya kurang dan lain-lain kini bisa teratasi dan bukan lagi masalah,” katanya.

Sekedar diketahui, optimasi lahan di Jambi mencapai 10.000, hektar, sedangkan di Lampung mencapai 20.000 hektar dan Sulsel, 20.000 hektar. Adapun di wilayah Kalteng mencapai 50.000 hektar dengan potensi keseluruhan berikut Sumsel, 450.000 hektar dan Kalsel. 450.000, hektar. (ton/Hum)

Categories
Ekonomi

FAO Kembali Apresiasi Kementan Atas Penghargaan Ketahanan Pangan

Koran Jurnal, Jakarta – Representatif Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste, Stephen Rudgard, mengapresiasi penghargaan yang diraih Kementerian Pertanian pada ajang Indonesian Awards 2018 sebagai Penjaga Ketahanan Pangan Nasional.

“Saya mengucapkan selamat atas capaian Kementerian Pertanian yang mendapat pengharagaan Indonesian Award 2018 sebagai penjaga ketahanan pangan Nasional, itu adalah pengakuan penting atas capaian anda sebagai Menteri Pertanian,” terang Rudgard dalam surat resminya kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Selasa (20/11/2018).

Rudgard mengakui dan bangga atas berbagai upaya serta keberhasilan yang dicapai Kementerian Pertanian dalam mempromosikan ketahanan pangan nasional, ia juga berkomitmen akan selalu berupaya mendukung tugas dan fungsi Kementerian Pertanian dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.

“Saya pastikan FAO akan selalu membantu tugas Kementerian Pertanian dalam mencapai ketahanan pangan di Indonesia,” terang Rudgard.

FAO merupakan salah satu agen khusus PBB yang berfokus pada isu pangan, agrikultur, perikanan, kehutanan dan peningkatan produksi. FAO sangat fokus terhadap bagaimana upaya eliminasi kelaparan pangan, menekan angka kemiskinan desa, menyediakan system pangan yang efisien dan meningkatkan ketahanan pangan terhadap bencana alam.

Sebelumnya, Rugrads telah menyampaikan apresiasi secara langsung atas kemajuan dan keberhasilan sektor pertanian selama kepemimpinan Menteri Amran, capaian yang sangat signifikan terlihat dari pengentasan kemiskinan di pedesaan. Ia juga menyampaikan kekagumannya atas perkembangan pertanian yang sangat signifikan dalam hal peningkatan produksi.

“Indonesia juga berhasil tingkatkan volume ekspor berbagai komoditas pertanian strategis,” pungkasnya.(ton/Hum)

Categories
Industri

Kementan: Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Pertanian Meningkat

Koran Jurnal, Jakarta – Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Ketut Kariyasa menegaskan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian kurun waktu 2015 hingga 2017 meningkat. Terbukti, data BPS mencatat pada tahun 2017 produktivitas tenaga kerja sektor pertanian mengalami peningkatan sebesar 9,91% terhadap tahun 2015, yaitu dari Rp 21,76 juta per orang meningkat menjadi Rp 23,92 juta per orang.

“Produktivitas tenaga kerja pada sektor pertanian merupakan rasio antara PDB Sektor Pertanian berdasarkan harga konstan dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat pada sektor pertanian. Ini menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan sektor pertanian,” demikian ditegaskan Ketut di Jakarta, Senin (19/11/2018).

Pada tahun 2015 ada sebanyak 36,31 juta orang yang bekerja pada sektor pertanian, sementara pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing 35,37 juta orang dan 35,16 juta orang. Sementara PDB Sektor Pertanian berdasarkan harga konstan pada tahun 2015 sebesar Rp 790,12 Trilun, dan pada tahun 2016 dan 2017 meningkat masing-masing menjadi Rp 813,58 Triliun dan Rp 840,88 Trilun.

“Dengan memanfaatkan kedua jenis data inilah, rasio antara PDB dengan jumlah tenaga kerja menunjukkan selama periode 2015 hingga 2017 produktivitas tenaga kerja sektor pertanian terus meningkat,” jelas Ketut.

Menurut Ketut, membaiknya produktivitas tenaga kerja ini mengindikasikan setiap tenaga kerja yang terlibat pada sektor pertanian mampu menghasilkan output atau nilai tambah yang semakin besar. Ini tentunya tidak terlepas dari upaya yang terus menerus dilakukan Kementan melalui program terobosan yakni Progra Upaya Khusus peningkatan produksi pangan strategis.

“Petani selalu mendorong petani untuk menerapkan inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi, seperti penggunaan benih varietas unggul baru, perbaikan manajemen pemupukan dan pengairan, termasuk juga mendorong penggunaan alat mesin pertanian modern,” ujarnya.

“Selama pemerintahan Jokowi-JK hingga saat ini, bantuan mekanisasi pertanian mencapai 423.197 unit, naik 1.526% dari 2013. Dengan mekanisasi produktivitas tenaga meningkat tajam. Misalnya dulu 1 hektar jika tanam manual butuh waktu 25 hari oleh 1 orang, kini hanya butuh waktu 3 jam saja,” imbuh Ketut.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan Lepas Ekspor 11,380 MT Kelapa Parut Kering asal Sulawesi Utara

Koran Jurnal, Manado – Kementeian Pertanian melepas ekspor Desicated Coconut (Kelapa parut kering).

Produk kelapa yang diekspor antara lain Dessicated coconut (DC), Coconut crude oil (CCO), turunan CCO, kelapa bulat, karbon aktif, dan air kelapa yang diekspor ke beberapa negara tujuan seperti PNG, Filipina, China, USA, Belanda, Vietnam, Singapura, Korsel, Jepang, Jerman, Afrika Selatan, Rusia, Turki, Polandia, Kuwait, Uruguay, Malaysia dan Slovakia.

Pelepasan ekspor produk Desiccated Coconut sebanyak 11,380 MT pada tahun 2018 yang dihasilkan oleh PT. Royal dan PT. Global yang beroperasi di Sulut. Ini merupakan salah satu upaya mendukung pengembangan kelapa secara berkelanjutan.

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dan Badan Litbang Pertanian pada tahun Anggaran 2017 dan 2018 telah mengembangkan benih komoditas perkebunan strategis seperti tebu, kopi, kakao, kelapa, jambu mete, karet, cengkeh, pala, dan kayu manis guna mendorong peningkatan ekspor dari sektor perkebunan.

Di tahun 2017 terdapat peningkatan yang signifikan ekspor kelapa dan produk-produk turunannya, dari US$ 793,3 juta di tahun 2013, menjadi US$ 1,4 milyar (14,1 triliun rupiah) di tahun 2017, atau meningkat sebesar 43%. Nilai ekspor sektor perkebunan sendiri secara umum mencapai Rp. 432,4 triliun atau 96% dari total nilai ekspor pertanian pada tahun 2017.

Kelapa merupakan tanaman perkebunan yang sebagian besar (93%) adalah perkebunan rakyat. Kelapa memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya dan peran strategis dalam peningkatan pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja dan sumber devisa negara.

Semua bagian dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan makanan, pangan fungsional dan papan, serta berbagai keperluan lain sehingga kelapa disebut sebagai pohon kehidupan atau “The Tree of Life”.

Varietas kelapa unggul nasional yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan benih bersertifikat merupakan varietas unggul lokal. Jumlah benih yang telah disalurkan Kementerian Pertanian untuk petani sejak tahun 2017/2018 telah mencapai 1.894.467 batang, dengan potensi kopra lebih dari 3 ton per hektar per tahun atau melebihi produksi kelapa nasional yang hanya 1.1 ton.

Pada moment ini sekaligus juga Balitpalma bersama Pemda telah melepas beberapa Varietas Unggul Baru Kelapa, seperti Kelapa Bido asal Maluku Utara, Kelapa Sri Gemilang asal Riau yang adaptif lahan pasang surut, Kelapa Dalam Kopyor Puan Kalianda asal Lampung, dan Kelapa Babasal asal Sulawesi Tengah. Varietas kelapa unggul tersebut memiliki potensi produksi hingga > 3 ton kopra/ha/tahun.(ton/Hum)

Categories
Daerah IPTEK

Kementan Bertekad Jadikan Pustaka Sebagai Brand Image Kota Bogor

Koran Jurnal, Bogor – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian (Pustaka) yang berada di Kota Bogor membangun Museum Tanah dan Pertanian. Dengan hadirnya museum ini diharapkan menjadi ikon Kota Bogor yang memiliki history bernilai tinggi dan merupakan salah satu gedung heritage di Kota Bogor.

Sekretaris Jenderal Kementan, Syukur Iwantoro mengungkapkan keberadaan Museum Tanah dan Pertanian menjadi sangat penting khususnya untuk mendokumentasikan berbagai jenis tanah dan bebatuan yang ada di Indonesia, serta berbagai inovasi pertanian. Tentunya, mesum ini akan menjadi sarana edukasi, penelitian dan wisata bagi para peneliti, pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum bahwa sarana baru bagi para penggiat media sosial.

“Bogor selain sebagai kota hujan juga di kenal sebagai kota wisata, ikon kota Bogor ini memacu Kementan untuk bertekad menjadikan Pustaka sebagai brand image pariwisata kota Bogor. Karena Museum ini menampilkan sesuatu yang bersejarah dan memiliki nilai edukasi, jadi Pustaka bisa mengundang para blogger dan memperkenalkan fasilitas yang dimiliki pustaka,” demikian diungkapkan Syukur pada acara serah terima jabatan Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, kemarin, Rabu (14/11/2018).

“Dengan demikian diharapkan para bloger akan menuliskannya dalam blog mereka dan keberadaan pustaka akan lebih dikenal di masyarakat,” sambung Syukur.

Terkait dengan kapan diresmikan museum tersebut, Syukur menyebutkan sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Museum Tanah dan Pertanian akan dilaunching pada bulan Maret 2019, sehingga semua konten harus dipersiapkan dengan baik. Karenanya, hasil kunjungan ke Belanda terkait Museum Tanah dan Pertanian agar secepatnya dapat direalisasikan melalui kerjasama dengan Atase Belanda untuk menghadirkan ahli-ahli museum tanah dan museum pertanian dari Belanda sehingga berbagi pengalaman di Museum Tanah dan Pertanian.

“Ini sangat penting karena Museum Tanah dan Pertanian ini hadir tentu menjadi awal kebangkitan pertanian dan menjadi tombak pertanian di mana munculnya teknologi dan inovasi baru untuk pertanian,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini juga Syukur sangat mengapresiasi Pustakawan yang telah menindaklanjuti arahannya terkait pengembangan kompetensi Pustakawan dengan cara mencari beasiswa yang ditawarkan Perpustakaan Nasional atau instansi lainnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan: Pemerintah Timor Leste dan Indonesia Lanjutkan Kerjasama Perdagangan dan Peningkatan Kapasitas SDM

Koran Jurnal, Jakarta – Pemerintah Timor Leste dan Indonesia akan melanjutkan kerjasama perdagangan di sub sektor peternakan. Sebagai tahapan untuk keberlanjutan eksportasi unggas dan produk unggas dari Indonesia ke Timor Leste, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) akan melakukan update terhadap Import Risk Analisis (IRA) Recommendation ke Indonesia.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Indonesia I Ketut Diarmita pada saat Entry Meeting (pertemuan pembuka) dengan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Republik Demokratik Timor-Leste, Domingos Gusmao beserta anggota Delegasi lainnya pada hari Senin (12/11) menyampaikan bahwa untuk menjaga keberlanjutan ekspor antar kedua negara tersebut, maka perlu dilakukan update harmonisasi peraturan dan persyaratan teknis kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner perlu dilakukan antara Otoritas Veteriner Timor Leste dan Otoritas Veteriner Indonesia.

Ekspor Indonesia ke Timor Leste saat ini, diantaranya: DOC (Day Old Chicken) dan produk olahan daging ayam, serta pakan ternak. Pada kesempatan tersebut, Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengatakan bahwa Indonesia berkomitmen untuk membantu pemerintah Timor Leste dalam penyediaan bahan pangan asal ternak yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal.

Ia katakan bahwa ekspor produk daging ayam olahan Indonesia selain ke RDTL, juga telah menembus pasar Papua Nugini dan Jepang, serta Korea Selatan. Negara-negara tersebut telah mengakui Indonesia sebagai negara yang memiliki Kompartemen bebas AI (Avian Influenza) dan menerapkan Pedoman Kompartementalisasi sesuai peraturan OIE (Badan Kesehatan Hewan Dunia.

Lebih lanjut, Ia sebutkan bahwa situasi penyakit HPAI pada unggas Indonesia saat ini sangat terkendali. Kejadian HPAI menurun secara signifikan setiap tahun dan hanya bersifat sporadis di daerah tertentu dan dapat dikendalikan dengan cepat. Pemerintah Indonesia bersama pihak-pihak terkait terus memperbaiki strategi dengan mengendalikan dan memberantas penyakit HPAI melalui zona bebas AI dan kompartemen secara bertahap dan terus menerus. Sejauh ini, kompartemen bebas AI yang telah disertifikasi sebanyak 141 titik dan 25 titik masih dalam proses sertifikasi.

Menurut I Ketut, semua komoditas unggas dan produk unggas yang diekspor yang berasal dari unit usaha bersertifikat Kompartemen Bebas AI dan memiliki Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dari Kementerian Pertanian dijamin kesehatan dan keamanan produknya.

“Saya berharap hasil Import Risk Analisis (IRA) oleh Tim Timor Leste berjalan dengan baik dan memuaskan, sehingga nantinya eksportasi unggas dan produk unggas dari Indonesia ke Timor Leste dapat terus berlanjut”, ungkap I Ketut.

Dalam pelaksanaan Import Risk Analisis (IRA) Recommendation, Tim Auditor dari RDTL dipimpin oleh Domingos Gusmao Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan RDTL dan didampingi oleh Jose Orlando Magno (Direktur Nasional Peternakan), Venacio Oliveira (Direktur Nasional Karantina dan Bio-sekurity), dan Mr. Mario Jose Morais (Kepala Departemen Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ternak). Selanjutnya Tim Audit Timor Leste akan berkunjung ke beberapa unit usaha PT. Charoen Phokpand Indonesia mulai tanggal 13 – 15 November 2018 ke Serang-Banten dan Bali.

Domingos Gusmao mengatakan, kerjasama bidang peternakan dan kesehatan hewan antara Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor Leste, terutama yang terkait dengan perdagangan telah berjalan selama hampir 1 tahun, sehingga perlu dilakukan update terhadap Import Risk Analisis (IRA) Recommendation. Kerjasama ini sebagai tindaklanjut penandatanganan Technical Agreement antara Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kedua Negara pada tanggal 19 April 2018 yang mengacu pada MoU kerjasama yang ditandangani oleh menteri pertanian antar kedua negara.

Domingos Gusmao menjelaskan bahwa tujuan kunjungannya kali ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan IRA yang sampai dengan saat ini membuahkan hasil yang baik. Hasil IRA akan digunakan untuk menyusun perpanjangan rekomendasi impor ke RDTL. Menurutnya, rekomendasi dikeluarkan hanya sampai 1 tahun yaitu Januari -Desember 2018. Rencananya pada bulan Desember, RDTL akan meningkatkan lagi jumlah pemasukan DOC dari Indonesia

Labih lanjut Ia sampaikan bahwa pihak Timor Leste pada beberapa waktu lalu melalui kedutaan dan kementerian luar negerinya mengusulkan adanya kegiatan pelatihan AMR (Antimicrobial Resistance) dan Meat Inspector (Pengawas Daging) untuk stafnya. Selain itu juga diusulkan kerjasama survei perbatasan antara NTT dan RDTL dan peningkatan Laboratorium Kesehatan Hewan RDTL yang saat ini masih dalam kategori tipe B.

Jika disetujui, dalam waktu dekat RDTL akan mengirimkan SDMnya untuk pelatihan di Balai Besar Veteriner Denpasar, serta mengikuti pelatihan di RPH dan kerjasama teknik untuk magang di Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) di Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, I Ketut Diarmita mengatakan komitmennya untuk siap membantu RDTL dalam pengembangan SDM tersebut. Pelatihan akan dilakukan di Balai Besar Veteriner Denpasar sesuai permintaan dari Timor Leste.(ton/Hum)