Categories
Ekonomi

Kementan Libatkan Komisi Ahli Susun Kebijakan Pengembangan Pakan

Koran Jurnal, Bogor – Dalam menanggapi dan menyelesaikan isu-isu yang terkait pakan yang sangat dinamis akhir-akhir ini, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian terus melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dan melibatkan Komisi Ahli Pakan dalam penyusunan kebijakan. Hal tersebut disampaikan oleh Sri Widayati Direktur Pakan saat pertemuan Komisi Ahli Pakan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/12/2018) kemarin.

Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan selalu bersinergi dengan para akademisi dan peneliti yang memiliki kepakaran di bidang pakan dalam membahas tantangan dan permasalahan pakan. Ia sampaikan bahwa sinergi antara pemerintah dengan para akademisi dan peneliti bidang pakan tersebut, diharapkan dapat memberikan dampak bagi kemajuan pengembangan pakan.

Untuk itu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian No.308/Kpts/OT.050/ 5/2016 tanggal 11 Mei 2016 telah menetapkan Komisi Pakan yang beranggotakan 7 (tujuh) pakar dari kalangan akademisi dan peneliti untuk memberikan saran, pemikiran, pertimbangan, rekomendasi, dan solusi yang cerdas dan bermanfaat bagi kemajuan pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui kontribusi dan peran nyata bidang pakan.

Selama tahun 2018, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menyelenggarakan pertemuan dengan Komisi Pakan sebanyak 2 (dua) kali untuk membahas berbagai isu aktual yang perlu pemecahan secara komprehensif. Pertemuan pertama telah diselenggarakan pada Maret 2018 dan keduanya pada 12-13 Desember 2018. Pertemuan kedua ini dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Arnold Sinurat, MSc; Prof Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Agr.Sc; Prof. Ir. Yusuf Ahyar Sutaryono, PhD; Prof. Dr. Ir. Nahrowi, MSc; dan Dr. Ir. Osfar Sjofjan, MSc serta para pejabat pengawas mutu pakan.

Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Agr.Sc selaku salah satu anggota Komisi Pakan saat ditemui disela-sela pertemuan kedua Komisi Pakan tersebut menyampaikan, pembentukan Komisi Pakan untuk memberikan saran dan pertimbangan dalam penetapan kebijakan pakan kepada Menteri Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Ilmu dan teknologi pakan harus terus berkembang dalam menjawab tantangan dan permasalahan pakan secara global,” ungkap Luki Abdullah.

Sehingga menurutnya, diperlukan sinergi pemerintah selaku pengambil kebijakan dengan para akademisi dan peneliti yang mengikuti perkembangan ilmu, teknologi, tantangan dan permasalahan pakan secara global dapat menjadi kolaborasi yang baik dalam penyempurnaan penyusunan kebijakan.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Ir. Yusuf Ahyar Sutaryono, PhD selaku Ketua Sidang Komisi Pakan, akademisi dan peneliti yang memiliki kepakaran bidang pakan dapat memberikan kontribusi berupa saran dan pandangan yang didasari keilmuan dan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan yang lebih komprehensif bagi pemerintah dalam penyusunan kebijakan.

Lebih lanjut Ia ungkapkan beberapa hal yang menjadi pembahasan dalam pertemuan ini, diantaranya terkait Regulasi Pemasukan dan Pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan, mutu dan keamanan pakan, batasan penggunaan urea dalam pakan unggas dan babi, dukungan pakan pada Program Selamatkan Lahan Rawa Petani Sejahtera atau disingkat SERASI dan optimalisasi pemanfaatan embung.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan Bahas Kualitas Benih Masa Depan untuk Investasi Pertanian di Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Kebutuhan petani akan benih unggul menjadi peluang bagi industri benih. Benih dengan kualitas baik dan seragam akan menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan menentukan kualitas mutu komoditas pertanian Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian, Hari Priyono pada acara Focus Group Discussion (FGD) “Sosialisasi Pengembangan Investasi Pertanian” di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

FGD ini dilaksanakan untuk membahas regulasi bidang perbenihan serta menjawab tantangan kebijakan sistem perbenihan saat ini dan yang akan datang. Pada kesempatan tersebut Hari juga menyampaikan bahwa banyak hal penting yang menjadi kendala bidang perbenihan diantaranya minat inovasi industri perbenihan rendah karena adanya inkonsistensi aturan; terbatasnya pengetahuan petani dan keraguan akan benih bersertifikat yang tidak sesuai dengan isinya; serta belum dilakukan deregulasi secara signifikan dalam dunia perbenihan.

Pemerintah mempunyai tugas penting yaitu bagaimana melindungi plasma nutfah. “Tidak semua negara memiliki plasma nutfah seperti Indonesia, itu kelebihan kita, kita memiliki daya saing kompetitif,” ujar Hari.

Pemerintah diharapkan mempermudah akses pada plasma nutfah, agar mempunyai daya saing. “Pemerintah diharapkan terbuka pada inovasi teknologi, membangun kemandirian benih yang ramah investasi, serta memberikan perlindungan terhadap investasi perbenihan” ujar Hari.

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian, Erizal Jamal menyampaikan bahwa indikator industri perbenihan dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu: jumlah varietas yang dihasilkan, jumlah produksi benih, serta luas penyebaran varietas.

Terkait jumlah varietas yang dihasilkan, sampai dengan tahun 2017 jumlah varietas yang dilepas sebanyak 1.672 varietas dengan komoditas antara lain padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, ubi jalar, sorghum, gandum, dan talas.

Untuk jumlah produksi benih padi bersertifikat, sampai dengan tahun 2017 sebanyak 210.561 ton dengan kebutuhan potensial sebanyak 383.348 ton, ini artinya pemenuhan benih tersebut mencapai 54,93 %.

Untuk penyebaran varietas padi, masih didominasi oleh padi jenis Ciherang yaitu sebesar 5.060.783 Ha atau sebesar 35,35%, padi Mekongga sebesar 10,05%, padi IR 64 sebesar 7,96%, padi Situ Bagendit 4,61%, padi Cigeulis 4,44%, padi varietas lain 26,31%, dan varietas lokal sebesar 11,28%.

Untuk penggunaan benih unggul bersertifikat, sampai dengan saat ini masih dibawah 50%. Meyikapi hal tersebut, pemerintah membuat road map industri perbenihan Indonesia untuk 10 tahun ke depan. Sub Sektor Tanaman Pangan menargetkan benih bersertifikat lebih dari 75% dengan negara acuan China dan India. Sub sektor hortikultura menargetkan impor kurang dari 25% dengan negara acuan Korea dan Thailand. Sub sektor perkebunan atau tanaman buah menargetkan benih bersertifikat lebih dari 75% dengan negara acuan Australia, sub sektor pertanian perkotaan atau hydroponik menargetkan impor kurang dari 50% dengan negara acuan Korea dan Taiwan.

Sementara itu Nana Laksana Ranu selaku Sekjen Asbenindo (Asosiasi Perbenihan Indonesia) menyampaikan bahwa tantangan industri perbenihan saat ini yaitu penyediaan benih tepat varietas, mutu, jumlah, dan waktu.

“Penggunaan benih unggul secara bebas dengan mutu yang baik dapat memotivasi pengguna petani dan memberikan peluang industri benih untuk berinvestasi dalam meningkatkan perannya,” ujar Nana.

Tantangan mendatang, pemerintah diharapkan dapat memberikan alternatif bantuan kepada industri perbenihan. Salah satunya indikator pajak, untuk memacu dan memotivasi industri perbenihan nasional, melalui kompensasi bayar pajak untuk investasi.

Nana berharap, kedepannya perusahaan benih modal dalam negeri mempunyai kemampuan membangun kemandirian benih nasional bahkan untuk ekspor. “Payung regulasi dibutuhkan untuk berkembangnya industri perbenihan. Peraturan perundangan harus berpihak kepada kemajuan industri benih dan petani” pungkas Nana.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan: Malaysia Akui Kemajuan Pembangunan Peternakan Sapi Potong Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Malaysia mengakui kemajuan pembangunan peternakan sapi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Ketua Delegasi Malaysia En Leonard Wilfred Yussin, Timbalan Setiausaha Bahagian Industri Tanaman, Ternakan dan Perikanan dalam kunjungan kerjanya pada 10-12 Desember 2018 ke Indonesia.

Oleh karena itu Malaysia mengirimkan Tim untuk mempelajari tentang strategi pembangunan peternakan ruminansia di Indonesia baik sapi potong maupun sapi perah. Delegasi Malaysia diketuai oleh En Leonard Wilfred Yussin, dengan anggota Yusian B Sanuddin (Ketua Penolong Bahagian Pembangunan Komoditi Ternakan, Jabatan Perkhidmatan) Veteriner dan Norhanita bt Jumali (Ketua Penolong Pasukan Kajian Pasukan Interim Lembaga Ruminan Negara, IITP).

Kunjungan hari pertama (10/12) dilakukan di Kantor Pusat Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Jakarta untuk mengetahui kebijakan Indonesia dalam percepatan peningkatan sapi, terutama melalui Upsus Siwab. En Leonard menyampaikan, kunjungannya bersama Tim sebagai tindak lanjut dari kajian yang dilakukan oleh Kerajaan Malaysia saat ini dalam membentuk Lembaga Ruminan Negara.

Malaysia sangat tertarik dengan kebijakan UPSUS SIWAB (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) yang diterapkan oleh Indonesia. Hasil dari kunjungan tersebut akan menjadi bahan masukan bagi Malaysia dalam finalisasi kajian pembentukan Lembaga Ruminan Negara bagi Malaysia. Indonesia merupakan negara pertama yang dikunjungi oleh Tim tersebut, berikutnya menyusul New Zealand, India, Thailand dan Vietnam. Hal tersebut disampaikan Norhanita disela-sela pertemuan di Jakarta tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan menyampaikan, salah satu kegiatan yang dilakukan dalam mendukung UPSUS SIWAB adalah kegiatan Penanggulangan Gangguan Reproduksi untuk meningkatkan jumlah Akseptor Inseminasi Buatan. Strategi lainnya adalah pelarangan pemotongan sapi betina produktif yang telah dipayungi oleh peraturan perundangan di Indonesia. Lebih lanjut Ia jelaskan bahwa dalam pelaksanaan peraturan tersebut, Ditjen PKH bekerjasama dengan pihak Kepolisian dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya sapi betina produktif untuk meningkatkan populasi guna pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia.

Selain itu, Fadjar Sumping juga menambahkan tentang berbagai strategi Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan pakan ternak ruminansia, diantaranya melalui optimalisasi pemanfaatan lahan eks tambang sebagai lokasi produksi hijauan dan penggunaan teknologi pembuatan silase untuk pengawetan pakan.

Menurutnya, dengan adanya kunjungan tersebut sekaligus menjadi kesempatan yang baik untuk meyakinkan Malaysia bahwa penanganan ternak di Indonesia khususnya ternak ruminansia (sapi, kambing/domba) telah dapat menghasilkan produk yang setara internasional baik dari segi kualitas, keamanan dan kesehatan hewannya. Hal ini untuk mendukung ekspor daging sapi wagyu yang saat ini siap diekspor dari Indonesia ke Malaysia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita ditemui secara terpisah menyampaikan, realibitas dan validitas kinerja Upsus Siwab tidak perlu diragukan lagi, seluruh pelaporan sudah terverifikasi, terlaporkan dan tercatat dalam sistem iSIKHNAS (Sistem Informasi Kesehatan Hewan Terintegrasi).

Sejak pelaksanaan Upsus Siwab tahun 2017 hingga saat ini (4 Desember 2018) sudah lahir 2.538.766 ekor dari indukan sapi milik peternak di Indonesia.

”Ini sebuah catatan kinerja yang fantastis dan patut kita banggakan dan bukti nyata bahwa lompatan populasi sapi/kerbau sebesar 3,83% pada periode tahun 2015-2018 dibanding 1,03% periode tahun 2012 – 2014 adalah benar adanya (Statistik Ditjen PKH Tahun 2018),” ungkap I Ketut.

Setelah pertemuan di Kanpus Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Delegasi Malaysia tertarik untuk berkunjung ke Balai Embryo Cipelang (BET) Cipelang Bogor yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Koperasi Pengolahan Susu Bandung Utara dan swasta yang bergerak dibidang penggemukan sapi di Lampung yakni PT Great Giant Livestock dan PT Santosa Agrindo di Lampung.(ton/Hum)

Categories
IPTEK

Kembangkan Simpul Jaringan dan IG, Kementan Peroleh Penghargaan Bhumandala Ariti

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian RI menerima penghargaan Bhumandala Ariti atas pencapaian dalam mengembangkan Simpul Jaringan dan meningkatkan pemanfaatan lnformasi Geospasial yang inspiratif untuk mendukung pelaksanaan kebijakan satu peta dan pembangunan yang berkelanjutan.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Ketut Kariyasa yang mewakili Menteri Pertanian dalam meneriman penghargaan tersebut mengatakan, penghargaan ini merupakan hasil kerja keras jajaran kementan serta dukungan penuh dari Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

“Kami juga terus meningkatkan pemanfaatan Informasi Geospasial dalam mendukung kebijakan satu peta ke depan,” kata Ketut Kariyasa di Hotel Bidakara Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Sekedar diketahui, Bhumandala adalah penghargaan bergengsi yang memiliki komponen 5 pilar Jaringan Iinformasi Geospasial Nasional (JIGN). 5 pilar itu diantaranya adalah kebijakan, kelembagaan, sumberdaya manusia, standar dan teknologi.

Penghargaan ini dinilai berdasarkan metode monitoring dan evaluasi sesuai amanat Perpres Nomor 9 tahun 2016 tentang Percepatan Kebijakan Satu Peta (PKSP) serta komitmen penyelenggaraan Informasi Geospasial yang mengacu pada satu standar, satu referensi, satu database spasial, dan satu geoportal.

Tahun ini, ajang Bhumandala telah memasuki tahun ketiga sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014 lalu. Setiap tahun, rangkaian acara selalu disinergikan dengan Perpres 27 Tahun 2014 tentang Jaringan Informasi Geospasial Nasional.

“Wujud dari penghargaan ini kami telah pengembangan sistem aplikasi pertanian berbasis lnformasi Geospasial seperti pengembangan Sistem lnformasi Monitoring Pertanaman Padi (SIMOTANDI) dan Pemetaan Lahan Pertanaman Bawang Merah Berbasis Android,” katanya.

Kariyasa mengatakan, baru-baru ini pihaknya juga telah mengembangkan dan melaunching aplikasi Sistem Informasi Peringatan Dini dan Penanganan Dampak Perubahan Iklim Sektor Pertanian (Si PERDITAN).

“Aplikasi ini mampu memberikan data dan informasi real time untuk antisipasi dini mengurangi dampak perubahan iklim pada sektor pertanian serta dirancang untuk pembangunan pertanian sesuai dengan tugas yang diemban oleh Simpul Jaringan Pertanian terkait dengan KSP yaitu tersedianya lnformasi Geospasial atau peta tanah semidetil dan gambut pada skala 50.000,” katanya.

Pada aspek teknologi, simpul Jaringan Pertanian Kementaan saat ini juga sedang memperkuat kapasitas Data Center yang direncanakan sampai pada level Tier 3. Tahap selanjutnya, melakukan pemrogramkan sertifikasi ISO 9001 dan 27001 atau Data Center sebagai bukti bahwa pengelolaan Data Center Kementerian Pertanian telah dilakukan secara profesional.(ton/Hum)

Categories
Bisnis Ekonomi

Ditjen PKH Kementan: Ekspor Kambing dan Domba adalah Peluang yang Menjanjikan

Koran Jurnal, Malang – Saat ini kambing dan domba merupakan komoditas ternak yang mempunyai potensi dan peluang ekspor yang sangat menjanjikan. Hal tersebut disampaikan oleh I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan saat menghadiri Silaturahmi Nasional Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (Silatnas HPDKI) ke 6 di Kota Wisata Batu, Malang, Minggu, Jawa Timur (09/12/2018).

Pada kesempatan tersebut I Ketut Diarmita menyampaikan, Ia ingin agar peternak kambing dan domba terus maju dan meningkatkan produksinya, serta dapat merambah ekspor ke mancanegara. I Ketut menyebutkan, pada tahun 2018 Indonesia telah mulai melakukan ekspor ternak domba ekor tipis ke Malaysia, dengan permintaan sebanyak 5.000 ekor per bulan. Selain itu, baru-baru ini juga dilakukan ekspor domba Garut ke Uni Emirat Arab (UEA), dengan permintaan sebanyak 3.600 ekor per tahun.

Menurutnya, selain kedua negara tersebut, wilayah Asia, Afrika, dan Pasifik juga merupakan pasar ekspor yang sangat menjanjikan untuk komoditas ternak domba dan kambing. Dengan mempertimbangkan aspek teknis, pemenuhan lokal dan perkembangan isu perdagangan global, I Ketut Diarmita optimis Indonesia mampu untuk meningkatkan ekspor domba dan kambing dari tahun ke tahun.

Untuk menggenjot ekspor tersebut, maka harus ada jaminan ketersediaan ternak secara kontinyu dan berkelanjutan. Untuk itu, Kementan mendorong dilakukannya kemitraan antara pelaku usaha (eksportir) dengan peternak domba/kambing yang melibatkan lembaga keuangan (perbankan maupun non perbankan) dalam penyediaan permodalan.

“Penyediaan permodalan bagi peternak dapat melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun dengan pemanfaatan Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL),” ungkap I Ketut Diarmita.

Menurutnya, dalam pemanfaatan Program Kemitraan tersebut, Ditjen PKH Kementan telah menawarkan pemanfaatan pinjaman berbunga rendah dari PT. BTN kepada Ketua HPDKI.

I Ketut sebutkan bahwa sampai dengan Oktober tahun 2018, realisasi KUR untuk bidang usaha pembibitan dan budidaya domba dan kambing telah mencapai 387 Milyar rupiah atau mengalami peningkatan sebesar 104,7% dibandingkan tahun 2017 yang hanya sebesar 189 Milyar rupiah. Begitu pula dengan jumlah debiturnya, pada tahun 2018 sebanyak 23.979 debitur atau meningkat 67,4% dibandingkan tahun 2017 yang hanya 15.515 debitur. Menurutnya, hal ini dapat menunjukkan bahwa peternak kambing domba saat ini sudah berorientasi bisnis dan bankable.

Pada acara puncak Silatnas HPDKI ke 6 ini juga dilakukan kegiatan Kontes Ternak dan Penyerahan Piala Presiden yang diwakili oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dan disaksikan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI I Ketut Diarmita, Walikota Batu Dewanti Rumpoko, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Para pengurus HPDKI serta Peternak domba dan kambing se Indonesia.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyampaikan, Presiden Joko Widodo menitipkan salam kepadanya untuk disampaikian ke peternak Kambing dan Domba Indonesia. Pesan Presiden ke peternak agar terus mempertahankan dan memajukan peternakan Kambing dan Domba di Indonesia

“Ini luar biasa, setelah saya melihat ternak-ternak kambing dan domba yang dikonteskan di sini, saya berkeyakinan bahwa kedepan peternakan kambing dan domba akan berkembang lebih pesat,” ucap Moeldoko.

Senada dengan Moeldoko, Bupati Batu Dewanti Rumpoko juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap peternak Indonesia.

“Saya dengar dari Ketua Umum HPDKI Yudi Guntara Noor bahwa pada tahun 2020 rencananya akan diselenggarakan Silatnas International, dan kami siap mendukungnya,” kata Bupati Batu.

Rumpoko mengatakan, dedikasi para pelaku usaha dan asosiasi untuk terus menggaungkan peternakan kambing dan domba di Indonesia perlu diapresiasi. “Kegiatan ini bukan hanya bersilaturahmi, tapi juga untuk bertukar pengalaman, ilmu pengetahuan dan rezeki,” pungkasnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kementan: Bantuan Alsintan Tingkatkan Produksi dan Sejahterakan Petani

Koran Jurnal, Jakarta – Direkrut Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah menegaskan program mekanisasi pertanian yakni alat mesin pertanian (alsinta) berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani dan tingkat produksi tanaman pangan Indonesia. Alhasil minat generasi muda pun terjun ke sektor pertanian semakin tinggi.

“Bantuan alsintan mampu menekan biaya operasional 35 persen hingga 48 persen dalam produksi petani. Dulu tanpa kemajuan mekanisasi ini, petani bisa membajak sawahnya 1 hektar berhari-hati, tapi ini cukup 2 hingga 3 jam saja,” demikian ditegaskan Andi Nur Alam di Jakarta, Minggu (09/12/2018).

Andi Nur Alam menambahkan dengan penggunaan alsintan modern, penyusutan hasil panen (losses) sebesar 10% pun dapat diselamatkan, meningkatkan nilai tambah dan penanaman padi yang dulunya hanya 1 kali setahun, kini bisa 3 kali karena proses pengolahan dan panen yang cepat.

“Dengan demikian, produksi yang dicapai petani lebih tinggi, pendapatan petani pun ikut naik” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, penggunaan alsintan ini pun mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Sebab, mekanisasi pertanian telah mengubah pandangan masyarakat mengenai bertani.

“Dulu petani miskin, kumuh. Sekarang sejahtera. Lihat saja, dengan alat yang modern, petani bisa olah tanah, tanam, panen sambil telepon dan pakaian yang rapih. Ini mengubah mindset,” lanjut Andi Nur Alam.

Oleh karena itu, Andi Nur Alam menegaskan berkat kontribusi penggunakan alat mesin pertanian yang modern, lima tahun terakhir produksi komoditas tanaman pangan utama, yaitu padi, jagung, dan kedelai, meningkat signifikan. Setiap tahunnya, rata-rata produksi padi mencapai 4,07 persen, jagung 12,5 persen, dan kedelai 8,79 persen selama lima tahun terakhir.

Terkaiat capain ekspor, Andi Nur Alam membeberkan berdasarkam data BPS, perkembangan ekspor beras khusus dan beras premium melonjak tajam pada periode tahun 2017 dan 2018. Volume ekspor beras kategori ini pada 2017 mencapai 3.433 ton.

“Angka itu meningkat lebih dari 2.540 persen dibandingkan pada 2014 yang hanya sekitar 130 ton,” sebutnya.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, hingga September lalu, volume ekspor beras kategori premium dan khusus sudah mencapai 3.069 ton. Begitu pula ekspor dan impor jagung. Indonesia pada tahun 2015 masih mengimpor jagung sebesar 3,5 juta ton tahun 2015 dan tahun 2016 mengimpor 1,3 juta ton.

“Tapi sejak tahun 2016, sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kementan membatasi pemberian rekomendasi impor jagung, dan bahkan pada tahun 2017, sama sekali tidak melakukan impor,” beber Andi Nur Alam.

“Kebijakan ini terbukti mampu menggerakan perekonomian petani. Petani menjadi tertarik menanam jagung karena harga yang bagus. Bahkan tahun 2018 ini telah mampu ekspor jagung sebesar 380.000 ton,” tambahnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data Direktur Alsinta Kemtan Andi Nur Alamsyah, tahun 2018, Kemtan memberi bujet sebesar Rp 2,81 triliun untuk membeli 70.839 unit alsinta yang berfokus pada subsektor padi, jagung dan kedelai. Per November 2018, anggaran dan target sudah terealisasi sebesar 98%. Artinya, sekitar Rp 2,75 triliun dana sudah dirogoh untuk alokasi total 69.196 unit alsinta kepada 69.196 kelompok tani dengan luas lahan sekitar 500 hektare (ha). Tahun lalu, ada sebanyak 84.356 unit alsinta yang dialokasikan. Sisa anggaran untuk pendanan sekitar 1.697 unit yang belum dialokasikan dari target di akhir tahun.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Ditjen Hortikultura Kementan Menggerakkan Sentra Nanas Kediri

Koran Jurnal, Kediri – Komoditas unggulan subsektor hortikultura salah satunya nanas. Komoditas memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga tidak hanya dikonsumsi masyarakat dalam negeri, tetapi juga ekspor baik dalam bentuk segar maupun olahan.

Berangkat dari ini, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura menggerakkan sentra nanas di Kediri, Jawa Timur. Dibalik keindahan wisata Gunung Kelud, Kecamatan Ngancar, Kediri berpotensi sebagai wilayah penghasil buah nanas.

“Lahan 7.650 hektar ditanami nanas jenis Paair Kelud (PK-1), PK Berduri, Madu, Queen, Smooth Qayenne. Nanas jenis KP-1 beratnya 2 hingga 3 kg perbutir,” demikian dikemukakan Dirjen Hortikultura, Suwandi yang saat mengunjugi hamparan nanas di Kediri, Sabtu (08/12/2018).

Suwandi menjelaskan sentra nanas di Indonesia tersebar di berbagai daerah. Yakni Kabupaten Subang, Pemalang, Prabumulih, Kediri, Blitar, Kubu Raya, Mempawah, Muaro Jambi, Kampar, Lampung Tengah dan Karimun.

“Produksi nanas di tahun 2016 sebesar 1,39 juta ton naik 22,3 persen tahun 2017 menjadi 1,79 juta ton. Ini pencapaian yang bagus kerja keras petani, pemerintah dan para pelaku usaha. Semuanya bersinergi dengan baik,” jelasnya.

Sesuai data BPS, Indonesia ekspor nanas segar 2017 sebesar 9.586 ton, naik 17,5 persen dan periode Januari-Oktober 2018 ekspor menjadi 11.247 ton. Negara tujuan ekspor ke Uni Emirat Arab, Jepang, Hongkong, Singapura, Saudi Arabia, Oman, Canada, Kuwait, Korea.

“Sebanyak 95 persen ekspor nanas dalam bentuk olahan dan sisanya dalam bentuk segar. Pangsa ekspor nanas ini 85 persen dari total ekspor buah,” ungkap Suwandi.

Terkait kandungan dan khasiat nanas, Lebih lanjut Suwandi katakan, buah nanas kaya akan vitamin C dan mangan, serta mengandung vitamin A, vitamin B1, vitamin B6, tembaga, serat pangan, folat, dan asam pantotenik. Buah nanas pun mengandung enzim proteolitik bromelain berperan membantu memecah protein, mencegah kanker dan membantu sistem pencernaan.

“Nanas juga mambantu menurunkan berat badan, daya tahan tubuh, meredakan peradangan, sinusitis, memperkuat kinerja mata, dan antioksidan,” terang dia.

Manajer Koperasi Langgeng Mulyo, Desa Ngancar, Kecamatan Ngancar, Kediri, Endro Pujiastoko mengatakan nanas varietas Madu Kelud dan PK-1 luaa 452 hektar berproduksi 2 ton perhari. Sedangkan jenis queen simplex serta Queen Asam Gulas 7200 hektar, hasil 70 ton per hari.

“Kediri memasok pasar tradisional se jawa Bali dan pasok psar modern jawa bali dengan jatingan koperasi maupun asosiasi,”ujar Endro

“Dulu pernah Kerjasama PT Alamanda Bandung, untuk ekspor namun terhenti. Pernah Kirim Ke pasar Singapura dengan jenis Queen Batu Super, kendala yg muncul nanas tidak bisa tahan lama mudah busuk,” sambungnya.

Hingga saat ini, lanjut Endro, pasar nanas dunia dikuasai Del Monte, Alamanda, Great Giant Pineaple baru mampu memasok memenuhi kebutuhan pasar dunia sekitar 55 persen dari kebutuhan. Karenanya, agar petani nanas kediri bisa mengasilkan nanas berkualitas ekspor, dia mengusulkan agar dibantu alat kultur jaringan bibit.

“Kemudian, perlu juga bantuan formula pupuk khusus nanas dalam bentuk cair pengganti Tetes dan pasca panen berupa cairan zat lilin buah untuk melapisi kulit buah nanas agar tahan lama,” tutur Endro.

Endro mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan riset daun nanas untuk serat nanasnya dengan bakteri pengurai selulosa di laboratorium UNISKA. Satu batang pohon nanas menghasilkan serat kering 150 gram, harga serat pasar amerika 250.000 per kg untuk bahan tenun kain korden dn kain baju.

“Untuk serat dari nanas jenus simplex dn asam gulas kualitas serat setara dengan sutra. Ini menurut uji laboratorium Balitas Malang,” ungkapnya.

“Satu hektar menghasilkan serat 150 gram dikalikan 80.000 populasi pohon nanas hasilnya 12.000 kg dikali Rp 250.000. Hasilnya Rp 3 miliar. Ini potensi emas hijau yang belum tergali yang bisa bikin Indonesia kaya raya petani sejahtera,” imbuh Endro.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Ditjen PKH Kementan: Panen Pedet di NTB Bukti Menggeliatnya Sub Sektor Peternakan di NTB Pasca Gempa

Koran Jurnal, Lombok – Nusa Tenggara Barat mulai bangkit kembali untuk memulihkan perekonomiannya setelah pasca bencana gempa bumi beberapa bulan yang lalu, termasuk di sub sektor peternakan.

“Acara panen pedet ini merupakan bukti mulai bergeraknya ekonomi masyarakat di sub sektor peternakan, terlihat peternak bersemangat dalam acara panen pedet setelah beberapa waktu lalu terkena bencana gempa bumi,” kata Sugiono Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Perttanian saat menghadiri Acara Panen Pedet di Banyumulek – Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis (06/12/2018).

Sugiono tidak mengira, jika sapi yang lahir berkat Upsus Siwab di NTB mencapai sebesar 50,381 ekor atau 105,84 % dari target 47.600 ekor.

“Ini capaian luar biasa, dan semangat peternak NTB untuk bangkit kembali dan beternak pasca gempa patut kita apresiasi”, ucap Sugiono dihadapan para peternak, Wakil Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Barat, Bupati Kabupaten Lombok Barat, Para Kepala Dinas kabupaten/kota yang Membidangi Fungsi Peternakan dan Keswan se-Propinsi NTB dan Tokoh Masyarakat.

Berdasarkan data ISIKHNAS, capaian kegiatan Upaya Khusus Sapi Wajib Bunting (Upsus Siwab) Provinsi NTB dari 1 Januari sampai dengan bulan Desember tahun ini telah mencapai pelayanan IB sebesar 114.480 ekor atau 134,68% dari target 85.000 ekor.

“Ini capaian ini luar biasa, mengingat NTB sebagai daerah ekstensif IB dan ini menjadi bukti nyata keberhasilannya dapat kita lihat pada panen pedet hari ini,” kata Sugiono.

“Saya ucapkan terima kasih kerja keras seluruh stakeholder yang telah bekerja keras di lapangan,” tambahnya.

Sugiono menceritakan bahwa Kementan sempat khawatir saat terjadi gempa di NTB, mengingat provinsi ini termasuk salah satu lumbung ternak nasional. Saat terjadi gempa di NTB menurutnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman langsung menginstruksikan ke Dirjen PKH untuk melakukan aksi cepat peduli gempa di NTB.

“Tim kami waktu itu langsung turun ke lapangan secara bergantian untuk membantu penyelamatan ternak dan membantu puluhan Kelompok Tani Ternak (KTT) menangani ternaknya, serta menggalang dana bantuan dari beberapa stakeholder terkait,” ucap Sugiono.

Sugiono menjelaskan, NTB merupakan provinsi yang mempunyai peran strategis dalam pembangunan peternakan. Berdasarkan data BPS Tahun 2017, populasi sapi potong di Propvinsi NTB sebanyak 1.193.249 ekor merupakan 4 provinsi terbesar di Indonesia. Populasi kerbau sebanyak 119.265 ekor (3 propinsi terbesar), kambing sebanyak 678.769 ekor (9 propinsi terbesar), kuda sebanyak 49.559 ekor (2 propinsi terbesar) dan ayam buras sebanyak 8.385.236 ekor (10 propinsi terbesar).

Ia berpendapat, jika sub sektor basis yang mempunyai keunggulan komparatif ini dikembangkan dan dikelola dengan baik, maka akan mampu menjadi pendorong dan menjadi pengerak roda perekonomian di NTB.

“Saya yakin jika semangat beternak ini terus dikembangkan, NTB akan mampu memenuhi kebutuhan pangan asal ternak (gizi) untuk masyarakatnya sendiri dan nantinya dapat berkembang sebagai daerah penyangga kebutuhan pangan asal ternak nasional,” ujar Sugiono.

“Untuk mendukung pembangunan peternakan di provinsi NTB, pada tahun 2018 Kementan telah meluncurkan paket-paket program Pro Peternak, antara lain: UPSUS SIWAB, program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA) dan penambahan indukan impor,” jelasnya.

Untuk mendukung peningkatan populasi sapi di Propinsi NTB, Ditjen PKH Kementan juga akan menambah indukan impor sebanyak 455 ekor.

“Semoga fasilitasi ini mampu menjadi trigger dan penyemangat bagi pemerintah daerah dalam mewujudkan NTB sebagai sentra basis sapi potong di Indonesia,” ucap Sugiono.

Selanjutnya Ia sebutkan bahwa untuk kegiatan #Bekerja di NTB akan difasilitasi paket bantuan ayam sebanyak 658.650 ekor yang distribusikan kepada 13.173 RTM di Kabupaten Lombok Tengah. “Saya berharap, fasilitasi kegiatan ini dapat terus dikembangkan dan dimonitor bersama-sama oleh seluruh pihak terkait, sehingga keberlanjutan kegiatan ini dapat terjamin dan terlaksana dengan baik, untuk mewujudkan peningkatan gizi dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Sugiono berharap acara Panen Pedet Tahun 2018 di Propinsi NTB kali ini memberikan motivasi kepada peternak agar ternaknya terus bertambah, sehingga NTB kedepan bukan lagi bangkit tapi berlari menuju NTB Gemilang.

Sementara Wakil Gubernur Provinsi NTB Hj. Sitti Rohmi Jalilah juga mengucapkan terima kasih kepada Kementan atas dukungan yang diberikan selama ini dalam membangkitkan kembali semangat para peternak NTB untuk terus menambah populasi.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Ekspor Domba Garut Merambah ke Uni Emirat Arab

Koran Jurnal, Jakarta – Ekspor kambing dan domba terus meningkat pada tahun ini, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan daya saing dan mempermudah perizinan ekspor.

I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatakan, capaian ekspor peternakan khususnya ternak kambing/domba sampai dengan bulan September 2018 cukup fantastis. Menurutnya, ekspor domba pada tahun 2017 tercatat hanya 210 ekor, sedangkan pada Tahun 2018 sudah ada 3 (tiga) kali pengiriman ke Malaysia sebanyak 2.921 ekor.

“Ini artinya ekspor domba mengalami peningkatan sangat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Ketut di Jakarta, Rabu (05/12/2018).

Lebih lanjut Ia sebutkan bahwa tahun ini Indonesia juga mulai mengekspor domba Garut ke Negara Persatuan Emirat Arab (Uni Emirat Arab). Berdasarkan sales contract yang telah ditandatangani padaTanggal 26 Oktober 2018 antara PT. Inkopmar Cahaya Buana dengan pihak importir di Negara Persatuan Emirat Arab, Indonesia akan memenuhi permintaan domba garut sebanyak 300 ekor dengan nilai potensi ekspor sekitar 3,04 Milyar Rupiah.

“Kebijakan Pemerintah untuk mewujudkan Indonesia pada Tahun 2045 menjadi Lumbung Pangan di Dunia sedikit demi sedikit telah dapat dibuktikan,” kata I Ketut Diarmita.

“Setelah ekspor komoditas peternakan lainnya seperti obat hewan, ternak babi, susu dan produk susu, daging sapi premium wagyu beef, pakan ternak, telur tetas, DOC daging ayam olahan dan telur asin, kini ekspor domba juga mulai meningkat,” ujarnya.

I Ketut menjelaskan, domba Garut memiliki ciri khas yang sangat spesifik, sebagai salah satu Sumber Daya Genetik (SDG) Hewan, rumpun asli Indonesia, menjadikan komoditas ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh negara lain. Hal ini menurutnya menjadi potensi bangsa yang harus dikembangkan untuk dapat memberikan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan peternak dengan tetap memperhatikan aspek kelestariannya di Indonesia.

Untuk pemanfaatan dan pelestariannya, I Ketut sebutkan bahwa domba Garut yg telah ditetapkan sebagai rumpun ternak asli Indonesia berdasarkan Kepmentan Nomor 2914/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penetapan Rumpun Domba Garut. “Dari aspek status populasi, ekspor domba garut ini telah dinyatakan aman oleh Komisi Ahli Perbibitan, karena telah memenuhi ketentuan sesuai Permentan Nomor 35 Tahun 2006, yang menyebutkan bahwa sebaran asli geografis populasi induk harus lebih dari 10.000 ekor,” ungkap I Ketut Diarmita.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, bahwa populasi domba garut saat ini sebanyak 11.425.574 ekor dengan jumlah domba garut jantan 4.353.279 ekor dan betina 7.072.295 ekor. Menurutnya, jaminan kecukupan jumlah populasi di daerah asal ini merupakan kunci persyaratan komoditas tersebut dapat dilakukan pengeluaran.

“Pengeluaran domba garut ini juga mengacu Permentan Nomor 19 Tahun 2012, tentang persyaratan mutu, benih, bibit ternak dan sumber daya genetik hewan,” ujar I Ketut.

Lebih lanjut Ia tekankan bahwa secara teknis kesehatan hewan, domba Garut yang akan diekspor juga dipastikan telah memenuhi persyaratan kesehatan hewan yang dibuktikan dengan Sertifikat Veteriner. Sertifikat Veteriner adalah sebagai bentuk penjaminan pemerintah terhadap pemenuhan persyaratan kelayakan dasar dalam sistem jaminan kesehatan hewan berdasarkan hasil serangkaian pemeriksaan/pengujian kesehatan hewan sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

Sementara itu, Fini Murfiani Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan menyampaikan, ekspor perdana domba ke negara Persekutuan Emirat Arab ini membuktikan bahwa kita sebagai bangsa yang besar yang memiliki berbagai ke-khas-an ternak mampu mengisi pasar di luar negeri, sehingga diperlukan peran para peternak sebagai produsen dan bila mereka dapat mengoptimalkan usahanya sehingga terbentuk korporasi peternak, tentunya akan lebih mudah membuka peluang pasar global.

“Dengan terbukanya pasar juga akan membuat peternak lebih bersemangat untuk beternak karena ada kepastian pasar, selain itu juga bersemangat untuk dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitas ternak potong siap ekspor dan bersaing dengan negara lain. Kedepan kita dorong agar ekspor kambing dan domba kita dalam bentuk karkas dan bahkan olahan sehingga nilai tambahnya semakin besar,” kata Fini Murfiani.

Fini menegaskan bahwa untuk mendorong ekspor, pihak eksportir didorong untuk terus memperkuat kemitraan dengan peternak, dengan pilihan berbagai pola kemitraan yang cocok untuk kedua belah pihak yg bermitra, sebagai upaya untuk menjaga kontiniutas ketersediaan ternak. Untuk keberlanjutan pasokan ternak dan mengembangkan kemitraan, Ditjen PKH telah memfasilitasi pertemuan antara PT. Inkopmar dengan peternak kambing domba yang dikoordinir oleh Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

“Pada initinya, mereka sepakat melakukan kemitraan yg saling menguntungkan guna menjamin pasokan dan kepastian pemasaran,” kata Fini Murfiani.

Lebih lanjut Ia katakan bahwa Mr. Khalid dari Private Development Pihak Uni Emirat Arab dalam kunjungannya ke Ditjen PKH waktu itu menyampaikan keinginannya untuk mengimpor 300 ekor Domba Garut per tiga bulan sekali dan 1.500 ekor domba Jawa setiap bulan. Selain itu pihak UAE juga berencana melakukan investasi untuk pembiakan dan penggemukan sapi sebanyak 100 ribu ekor.

“Mereka memerlukan lahan sekitar 100 ribu hektar untuk pemeliharaan secara ekstensif, seperti yang telah dilakukan UAE di Malaysia,” ungkap Fini.

Menurutnya, beberapa persyaratan yang diajukan adalah infrastruktur yang mudah terjangkau seperti bandara dan pelabuhan, serta aman dari beberapa potensi bencana seperti pulau Kalimantan.

“Adanya hubungan kerjasama perdagangan dengan Negara Persatuan Emirat Arab ini kita harapkan akan jadi peluang ekspor komoditas ternak lainnya dari Indonesia, selain itu juga ada investasi bidang peternakan di Indonesia dari negara tersebut,” ucap Fini Murfiani.

Ia sebutkan bahwa, saat ini Indonesia juga telah menyediakan berbagai fasilitas bagi investor di bidang peternakan antara lain berupa fasilitas tax allowance, tax holiday, dan kemudahan proses perijinan berusaha.

“Kita berharap kerjasama perdagangan antar kedua negara ini akan semakin meningkat khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan,” pungkasnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Ditjen Hortikultura Kementan: Izin Dipangkas, Ekspor Sayuran Semakin Meningkat

Koran Jurnal, Jakarta – Upaya pemerintahan Presiden Jokowi-JK dalam menggenjot penerimaan devisa negara melalui ekspor komoditas sektor strategis yaitu pangan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Terbukti, menurut data BPS ekspor komoditas sayuran menunjukkan trend peningkatan.

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi mengemukakan kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menyediakan karpet merah pelaku usaha yakni dengan memperlancar ekspor hortikultura. Mulai dari pengawalan dari hulu hingga hilir, registrasi kebun, sertifikasi packaging house hingga pelayanan perkarantinaan.

Bahkan, lanjut Dirjen termuda lingkup Kementan ini, izin ekspor benih hortikultura termasuk tanaman hias dipangkas dari semula 8 hari menjadi 3 jam setelah kelengkapan berkas terpenuhi, berkas sudah clear and clean.

“Kebijakan mempermudah dan mempercepat pengurusan izin ekspor yang di Kementan yang diinisiasi Mentan Amran Sulaiman terbukti mampu menggairahkan ekspor,” ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, di Jakarta, Selasa (04/12/2018).

Menurutnya, subsektor hortikultura menjadi salah satu favorit ekspor. Pasalnya, selain karena pangsa pasar yang luas, produk hortikultura tropis juga semakin diminati pasar dunia.

“Selain buah dan tanaman hias tropis, aneka sayuran asal Indonesia juga semakin banyak diekspor. Contohnya kubis, wortel, bawang merah, selada, kacang panjang, brokolli, asparagus, bayam dan sebagainya”, ujar Suwandi.

Menurut data BPS, periode Januari-September 2018 beberapa komoditas sayuran mengalami peningkatan ekspor dibanding periode yang sama tahun 2017 lalu. Misalnya, ekspor kobis meningkat dari 27.355 ton menjadi 34.039 ton.

“Kobis Indonesia bahkan mampu merambah pasar ekspor Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan hingga Uni Emirat Arab,” ungkpa Suwandi.

Tak hanya itu, sambung dia, kinerja ekspor bawang merah juga mencatatkan prestasi yang membanggakan. Dari semula masih impor 74 ribu ton tahun 2014, bisa turun drastis hingga nol persen di tahun 2016.

“Sejak 2016 hingga saat ini kita sudah tidak lagi impor Bawang Merah segar. Bahkan kita mampu membalikkan keadaan menjadi ekspor. Periode Januari-September 2018 ekspor bawang merah naik 10,2%. Negara tujuan ekspor bawang merah yaitu Thailand, Singapura, Malaysia, Taiwan, Vietnam, Srilanka, Timor Leste dan Uni Emirat Arab”, kata Suwandi.

Suwandi pun menyebutkan wortel asal Brastagi juga mulai banyak mengisi pasar ekspor Singapura dan Malaysia. Naiknya sangat fantastis, mencapai 808% dari semula hanya 1,8 ton menjadi 16,8 ton. Begitu pun ekspor kacang panjang melonjak ekspornya dari hanya 4 ton menjadi 41 ton menjangkau pasar Singapura, Arab Saudi, UEA sampai Belanda.

“Bunga Kol dan Brokoli juga melonjak ekspornya 2.350% mengisi pasar Malaysia, Singapura dan Taiwan. Sampai bayam pun mengalami peningkatan ekspor 477% yang memasok Singapura, Jepang, Malaysia hingga Belanda,” tuturnya.

Selain itu, produksi kentang tahun 2017 mencapai lebih dari 1,16 juta ton. Dari jumlah tersebut Indonesia mampu mengekspor kentang 3.517 ton ke Singapura, Malaysia, Hongkong dan Taiwan.

“Kita sudah swasembada kentang sayur pada 2018 ini. Untuk kentang industri chips akan kita tuntaskan 2020 nanti,” ucap Suwandi dengan sumringah.

“Untuk produk edamame tahun 2018 ditargetkan bisa ekspor hingga 9 ribu ton dari Jember ke Jepang, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, negara-negara Eropa dan Timur Tengah,” pintanya.

Tantangan Ekspor Sayuran

Suwandi menerangkan adapun beberapa tantangan ekspor sayuran Indonesia adalah produksi dan kontuinitas secara berkelanjutan, kualitas produk dan diversifikasi produk yang tidak hanya fokus pada produk segar konsumsi. Namun demikian komoditas sayuran segar juga bisa diolah menjadi produk olahan yang berdaya saing.

“Pangsa pasar ekspor sayuran asal Indonesia terbuka luas di negara-negara seperti Singapura, Jepang, Taiwan, Timur Tengah hingga Eropa,” terangnya.

Dengan menggencarkan dan mempermudah ekspor, tegas Suwandi, dampaknya telah menggeret peningkatan produksi dan kualitas produk dalam negeri. Sentra-sentra sayuran mulai tumbuh dan berbenah. Pun para petani makin bergairah tanam sayuran menggunakan sistem budidaya yang ramah lingkungan sesuai tuntutan pasar ekspor.

“Eksportir bermitra dan bisa melakukan transfer teknologi ke petani agar sesuai permintaan pasar. Pola-pola kemitraan ini yang ke depan akan terus kami dorong tingkatkan,” tegasnya.

“Hal yang menarik adalah kini sudah ditemukan hasil uji lab bahwa pangan lokal seperti kentang, cabai, tomat, kubis, kedelai, kopi dan lainnya, bila dikonsumsi berdampak tubuh menjadi nyaman dan stamina kuat. Ke depan temuan ini dikembangkan dan pasti akan diminati pasar dalam dan luar negeri,” imbuh Suwandi.(ton/Hum)