Categories
Ekonomi

Pemerintah Jamin Stok Daging Jabodetabek Aman Jelang Lebaran

Koran Jurnal, Jakarta – Pemerintah menjamin pasokan dan ketersediaan bahan pangan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026 dalam kondisi aman dan terkendali, baik secara nasional maupun di tingkat daerah.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan berdasarkan data Neraca Pangan dan proyeksi produksi hingga April 2026, mayoritas komoditas strategis berada dalam posisi surplus.

“InsyaAllah, jelang Lebaran 2026 kebutuhan pokok aman. Data neraca pangan menunjukkan kita dalam posisi surplus  untuk komoditas utama,” ujarnya, di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Pengusaha Daging Skala UKM dan Rumah Tangga (Aspedata Indonesia), Diana Dewi, memastikan stok daging di wilayah Jabodetabek menjelang Lebaran berada dalam kondisi aman.

Ia mengatakan, para pelaku usaha siap memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai dengan harapan pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian.

“Kami sudah berkomunikasi dengan para pengusaha agar stok daging memiliki kecukupan bagi masyarakat jelang Lebaran mendatang,” kata Diana.

Diana yang juga menjabat sebagai Ketua Kadin DKI Jakarta menyebutkan, saat ini stok daging yang tersimpan di gudang miliknya mencapai sekitar 50.000 ton yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena masih terdapat gudang pengusaha lain di berbagai wilayah.

“InsyaAllah para pengusaha siap membantu pemerintah dalam menyiapkan kebutuhan daging bagi masyarakat,” katanya.(hum)

Categories
Ekonomi

Kementan Pastikan Stok Pangan Hewani Aman Jelang Lebaran 1442 H

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan stok produk pangan asal hewan utamanya daging sapi, daging ayam, dan telur ayam ras dalam kondisi aman selama bulan Ramadan dan jelang persiapan hari raya Idul Fitri 1442.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Syamsul Maarif langsung melakukan kegiatan pengawasan terpadu yang telah dilakukan sejak tanggal 19 April 2021. Kali ini Syamsul mengunjungi pasar tradisional dan ritel di Kota Bogor.

“Kementan akan lakukan pengawasan terpadu lintas sektor khususnya di wilayah Jabodetabek sebagai upaya penjaminan keamanan dan ketersediaan pangan segar asal hewan,” ujar Direktur Kesmavet, Syamsul Maarif, Jum’at (30/04/2021).

Ia menambahkan, selain menjamin ketersediaan pangan, Kementan juga fokus melakukan upaya penjaminan keamanan, kesehatan, keutuhan dan kehalalan produk hewan. Di antaranya melalui kegiatan pengawasan terpadu yang dilaksanakan bersama kementerian dan lembaga terkait.

Contohnya, meliputi Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian, Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah di wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) yang dilaksanakan pada saat bulan Ramadan hingga menjelang hari raya Idul Fitri 1442 H.

Selain pengawasan terpadu di tingkat pusat, pengawasan terpadu juga telah dilaksanakan pemerintah daerah dalam hal ini dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan provinsi/kabupaten/kota di seluruh wilayah Indonesia.

“Kegiatan ini umumnya telah rutin dilaksanakan setiap tahun di daerah,” imbuh Syamsul.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bogor, Anas Rasmana menyampaikan, pihaknya juga telah melakukan pengawasan dan pengecekan berkali-kali terhadap produk hewan yang beredar di Kota Bogor. Hasilnya bisa dikatakan aman dan layak konsumsi.

Ia menyebut, stok yang tersedia saat ini, jumlahnya melebihi kebutuhan masyarakat kota Bogor. Namun, Anas mengingatkan kepada para produsen, pembudidaya dan distributor untuk tidak mengurangi jumlahnya dan selalu memperhatikan aspek kesehatan produk hewannya.

“Karena protein hewani ini penting dalam mendukung pembentukan imunitas dalam kondisi pandemi covid-19 pada saat ini,” ungkapnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah, mengatakan bahwa pangan segar asal hewan sebagai sumber protein hewani sangat penting bagi tubuh. Namun produk pangan asal hewan merupakan produk yang mudah rusak (perishable food).

Maka dari itu, produk pangan asal hewan seperti daging, susu dan telur harus ditangani dengan baik dan benar, baik sejak diproduksi, diedarkan sampai dengan akan diolah untuk dikonsumsi masyarakat.

“Ditjen PKH secara rutin melakukan pemantauan terhadap distribusi/peredaran produk tersebut untuk memastikan pangan yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) sehingga tercipta keamanan dan ketentraman batin masyarakat. Pastikan memperoleh produk hewan yang telah disertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), karena telah dijamin oleh pemerintah,” papar Nasrullah.

Dirjen PKH juga telah menerbitkan Surat Edaran (SE) No. 4586/SE/PK.350/04/2021 tanggal 6 april 2021 kepada seluruh Pemerintah Daerah dalam hal ini dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan provinsi/kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“SE ini Sebagai upaya penjaminan Penjaminan Penyediaan Produk Hewan Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) menjelang dan/atau pada Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1422 H/Tahun 2021,” imbuh Nasrullah.

Dalam Surat Edaran Dirjen PKH diharapkan pemerintah daerah dapat memastikan seluruh produk hewan yang beredar telah diproses, didistribusikan dan dipasarkan di fasilitasasi oleh unit usaha yang terdaftar dan diakui otoritas berwenang setempat.

Hal ini untuk mengantisipasi setiap kemungkinan potensi praktik penyimpangan dan pemalsuan produk hewan di sepanjang rantai produksi produk hewan di wilayahnya. Selain itu, untuk meningkatkan upaya pencegahan risiko kontaminasi covid-19 pada pangan asal hewan dan penularan pada personil di unit usaha produk hewan (produksi dan distribusi).

“Melalui penguatan higiene dan sanitasi, penggunaan alat pelindung diri dan penerapan protokol kesehatan pada pelaksanaan kegiatan produksi dan distribusi produk hewan,” jelas Nasrullah.

Dinas pemerintah daerah juga diharapkan melakukan pengawasan berkala terhadap unit usaha dan produk hewan yang beredar di wilayah sesuai dengan kewenangan dan aturan perundang-undangan yang berlaku. Serta mengantisipasi segala potensi yang memungkinkan terjadinya instabilitas suplai dan harga produk hewan.

Serta memonitor distribusi lalu-lintas pemasukan dan pengeluaran produk hewan di wilayah, agar dapat terjaminnya kebutuhan suplai sesuai dengan kebutuhan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan jelang Idul Fitri. Diharapkan juga bisa mendorong upaya edukasi masyarakat untuk peningkatan konsumsi protein hewani, dan memastikan kecukupan serta stabilitas pasokan kebutuhan pangan asal hewan di daerahnya.

“Serta merespon dan menindaklanjuti setiap laporan masyarakat terhadap indikasi kejadian penyimpangan produk hewan,” tutur Nasrullah.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Pemerintah Jamin Stok Pangan Aman Selama Ramadhan di Tengah Pandemi Covid-19

Koran Jurnal, Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian menjamin stok pangan selama Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 aman dengan cadangan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.

Dalam telekonferensi bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan neraca kebutuhan pangan cukup bagus dan terkendali dengan baik.

“Dari neraca pangan nasional kita, sebenarnya kita punya neraca cukup bagus terkendali baik, cukup tersedia,” kata Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam telekonferensi yang dipantau melalui Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Minggu (26/04/2020).

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menjamin solusi pangan rakyat agar stok pangan tersedia bagi 267 juta penduduk Indonesia.

Saat ini, dari neraca pangan nasional memiliki surplus cadangan kurang lebih 3,5 juta ton. Sementara pada kurun Februari hingga Mei lahan persawahan mampu memproduksi 12,4 juta ton beras.

Jika ditambah stok di Badan Urusan Logistik (Bulog) dan di penggilingan maka terdapat total stok sebanyak 15 juta ton beras.

Dalam hal ini, Kementerian Pertanian memiliki tiga pilihan pendekatan dalam skema pangan nasional yaitu optimistis, moderat dan pesimistis menilik keadaan lahan yang dapat menghasilkan beras dan aspek distribusi hingga sampai ke masyarakat.

Dari sisi optimistis, kata dia, terdapat stok 15 juta ton beras nasional dan kebutuhan beras nasional 7,6 juta ton lebih kurun Februari-Mei. Jika begitu akan ada sisa stok 7 juta ton lebih.

Sementara dengan pendekatan moderat, lanjut dia, dari 3,5 juta ton stok yang ada dan skema kemampuan produksi beras turun 4 persen dari stok 12,4 juta ton maka tinggal 11 juta ton lebih. Sedangkan kebutuhan beras naik menjadi 7,6 juta-7,9 juta ton maka akan tetap tersisa stok dalam kisaran 7 juta ton beras.

Kemudian melalui pendekatan pesimistis, kata Mentan Syahrul, dengan stok 3,5 juta ton, produksi 11,2 juta ton sementara kebutuhan beras nasional 8,3 juta maka akan tersedia sisa stok 6 juta ton hingga akhir Mei 2020.

“Kalau begitu bulan puasa dan Idul Fitri dalam kendali aman. Data sudah kami validasi sampai ke daerah. Semoga Allah memberi, ada inayah sehingga data ini menjadi data obyektif normatif,” pungkas Syahrul Yasin Limpo.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Kadis Pertanian Sergai: Masa Pandemi Covid-19, Persedian Pangan Masih Aman

Koran Jurnal, Jakarta – Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) berdasarkan Surat Gubernur Sumatera Utara No. 520/2699/2020 tanggal 19 Maret 2020 tentang Penyampaian Luas Baku Lahan Sawah Tahun 2019 bahwa luas sawah Kabupaten Serdang Bedagai 28.016,95 ha. Lahan pertanian ini berada di 17 Kecamatan dan 243 Desa/Kelurahan dengan jumlah penduduk mencapai 610.900 jiwa.

“Potensi pertanian cukup luas dan saat ini masih panen, persediaan pangan di Kabupaten Sergai dalam menghadapi wabah covid 19, masih aman bahkan surplus,” demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Sergai, Radianto, Rabu (08/04/2020).

Ia menambahkan sentra tanaman padi antara lain berada di Kecamatan Pegajahan, Perbaungan, Pantai Cermin, Teluk Mengkudu, Sei Rampah, Sei Bamban, Tebing Tinggi, Tanjung Beringin, Bandar Khalipah, Tebing Syahbandar, Serbajadi, Silinda, Dolok Masihul dan Sipispis.

Pada tahun 2019 Kabupaten Sergai dengan luas panen 69.018 ha menghasilkan beras 250.198 ton dengan kebutuhan 77.169 ton sehingga surplus 173.029 ton. Sedangkan luas panen dari bulan Januari hingga April 2020 seluas 25.266 ha menghasilkan beras 91.592 ton.

“Kebutuhan beras di Kabupaten Serdang Bedagai selama periode Januari sampai April ini adalah 25.731 ton, sehingga masih surplus 65.861 ton. Dengan kebutuhan beras rata-rata per bulan sebesar 6.433 ton, maka sampai periode panen Agustus-September ketersediaan pangan di Kabupaten Serdang Bedagai masih aman,” bebernya.

Lanjut Radianto, Kabupaten Sergai dengan pola tanam yang dimulai di bulan April sampai September 2020 dengan estimasi tanam seluas 28.016,95 ha, maka akan didapatkan luas panen untuk periode September-Desember seluas 26.988 ha dengan estimasi provitas 5,8 ton/ha, maka didapatkan produksi 156.530 ton. Dengan demikian akan didapatkan beras 98.206,92 ton.

“Maka Estimasi kebutuhan beras di Kabupaten Serdang Bedagai untuk periode Mei s/d Desember adalah 51.462 ton, maka berdasarkan estimasi tersebut masih akan ada surplus beras 46.744,92 ton,” terangnya.

Di tempat terpisah, Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan Kementerian Pertanian(Kementan) bersama pemerintah derah (Pemda) dan pelaku usaha bekerjasama dalam penanggulangan penyebaran wabah covid 19 dengan menyediakan pangan selama pandemik berlangsung. Sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, hasil panen petani harus menguntung dan distribusi pangan pun dipastikan lancar.

“Masyarakat tidak perlu panik terkait ketersediaan pangan, Kementan dan pemda menjamin dan akan terus bekerjasama memenuhi ketersediaan tersebut,” katanya.

Secara nasional, Kementan memperkirakan panen raya akan berlangsung April dengan luas panen sekitar 1,73 juta ha dengan produksi 5,27 juta ton beras. Kemudian, panen padi akan berlanjut pada Mei dengan luas panen sekitar 1,38 juta ha dengan produksi 3,81 juta ton beras.

“Karena itu sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pangan harus aman dan harga stabil. Kami mengantisipasi jangan sampai harga gabah di tingkat petani jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP, red),” tegasnya.

“Pemerintah dalam hal ini Kementan melakukan intervensi dan upaya untuk stabilisasi harga saat panen padi ini. Kami punya program Kostraling (Komando Startegi Penggilingan Padi, red) melalui pendekatakan KUR (Kredit Usaha Rakyat, red),” tutupanya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Bersama Mitra, Mentan Syahrul Jamin Pasokan Bahan Pangan Aman Sampai Lebaran 2020

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian kembali melakukan operasi pasar dengan melepas mobil operasional bahan pangan yang akan dikirim ke 10 pasar di DKI Jakarta dari Toko Tani Indonesia Center (TTIC), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (19/03/2020).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa operasi ini merupakan langkah stabilisasi harga ditengah fenomena panic buying yang mulai merebak di tengah masyarakat.

“Ini perintah Bapak Presiden untuk kita semua. Kita harus bahu membahu, Kementan bersama mitra kerja menghadapi Covid-19 dari berbagai hal kemungkinan yang berdampak dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Mentan Syahrul, hari ini, pasar akan dipenetrasi oleh Kementan bersama beberapa mitra untuk menggambarkan pada masyarakat bahwa Pemerintah menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga lebih murah.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi melaporkan bahwa operasi pasar yang dilakukan bekerja sama dengan PD Pasar Jaya.

“Operasi pasar akan dilaksanakan di 10 pasar yang ada di Jakarta, yaitu, Pasar Glodok, Pluit, Johar Baru, Gondangdia, Metro Atom, Kalibaru, Tebet Barat, Jembatan Merah, Rawa Badak dan Kalideres. Untuk pasokan bahan pangan, gula pasir, telur dan beras. Kementan bekerja sama dengan pelaku usaha, Asosiasi dan Gapoktan binaan.

Salah satu asosiasi yang terlibat adalah Aslupama (Asosiasi Lembaga Usaha Pangan Masyarakat) Jawa Barat yang memasok 15 ton beras segar yang di jual seharga 8.500 / kg.

“Aslupama Jabar siap berpartisipasi, menjaga pasokan bahan pangan seperti beras, bawang, dan cabe ke Jakarta untuk kestabilan harga dan pasokan” kata Agus, ketua Aslupama Jabar.

Salah satu pengunjung TTIC, Zuhri, warga Kebagusan (54 tahun) merasakan kebermanfaatan operasi pasar dan TTIC, menurutnya, harga bahan pangan TTIC stabil, lebih murah dan berkualitas.

“Biasanya yang belanja istri. Tapi sekarang giliran saya. Belanja di TTI ada jaminan harga, jadi kita bawa uang dari rumah sudah ada gambaran berapa dan apa saja belanjaan yang bisa dibeli,” kata Zuhri.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Pastikan Ketersediaan Komoditas Jelang Puasa dan Lebaran Aman

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memerintahkan jajaran Kementerian Pertanian segera menentukan subyek persoalan pangan yang harus ditangani secara cepat. Langkah ini perlu dilakukan mengingat satu bulan ke depan masyarakat Indonesia akan menghadapi bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 2020.

“Saya minta kita kalian tentukan objek masalah di suatu daerah agar bisa memberi kontribusi lebih terhadap pangan rakyat. Karena itu, kita perlu menentukan metodelogi yang benar agar pasar berjalan dengan baik,” ujar Mentan saat menghadiri rapat Koordinasi Ketersediaan Komoditas Hortikultura Strategis 2020 di Ditjen Horti, Pasar Minggu, Jum’at (13/03/2020).

Menurut Mentan, metodelogi dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan pangan pada bulan puasa dan lebaran mendatang terus tersedia secara baik, dengan harga yang terkendali. Hal ini bisa dilakukan melalui pemetaan jumlah kebutuhan dan stok pangan yang ada.

“Untuk itu, kepada champion cabai, champion pedagang bawang merah dan pelaku pembangunan pertanian saya berharap selama dua bulan ke depan kita korbankan kepentingan kita untuk rakyat Indonesia. Kita harus penuhi dulu kebutuhan perut rakyat,” katanya.

Mentan mengatakan urusan pangan tidak hanya menjadi urusan pemerintah, namun pengusaha juga harus berperan,”Ayo kita berkorbanlah buat bangsa. Kita bersama dan jaga tidak terjadi lonjakan harga. Data kami stok masih cukup bahkan hingga Agustus,” tegas Mentan.

Mentan memaparkan data stok pangan yang dimiliki Kementan hingga Agustus 2020, dan langkah antisipasi telah dipersiapkan untuk menjaga stok.

“Jadi tidak perlu ragu berlebih dalam menghadapi hari raya. Bawang merah saya jamin, cabai saya jamin dan bawang putih insya Allah tidak bersoal. Hari ini saya mau melihat bahwa Indonesia tidak goyang dengan krisis apapun. Intinya bulan ramadhan ini, selain kita beramal, kita harus menjamin ketersediaan rakyat aman,” katanya.

Di tempat yang sama, Dirjen Hortikukultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto memastikan akan melaksanakan arahan Mentan dalam memonitoring semua kebutuhan rakyat menjelang dan sesudah hari raya besar Idul Fitri 2020 mendatang.

“Secara keseluruhan kebutuhan jelang bulan puasa dan hari raya besar lainya aman dan terkendali. Walau begitu, kami akan terus memonitoring dan mengimplementasikan arahan pak Menteri untuk menjamin kebutuhan masyarakat,” tutupnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul: Kebutuhan Pangan 2020 Aman dan Terkendali

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan kebutuhan pangan tahun 2020 aman dan terkendali. Hal ini disampaikan Syahrul saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (17/02/2020).

“Dua bulan ke depan kita akan menghadapi bulan puasa dan idul Fitri. Dalam hal ini kami telah melakukan beberapa hal. Termasuk menjaga kebutuhan pangan 2020. Insyaallah kebutuhan pangan aman,” ujar Mentan.

Menurutnya, Kementan juga telah melakukan antisipasi untuk beberapa harga komoditas yang rentan fluktuasi, seperti bawang putih, bawang merah dan cabai. “Misalnya kami menggelar pasar murah dan melaksanakan produksi dalam negeri,” katanya.

Sekedar diketahui, Kementerian Pertanian telah menargetkan produksi komoditas pangan strategis untuk kebutuhan tahun 2020.

Dalam target ini, produksi padi menepati urutan pertama dengan angka 59,15 juta ton. Disusul produksi jagung sebesar 24,17 juta ton, kedelai 0,42 juta ton, bawang merah, 1,66 juta ton, cabai besar 1,35 juta ton dan cabai rawit sebanyak 1,47 juta ton.

Di samping itu, Kementan juga menargetkan produksi kopi sebanyak 769, 72 ribu ton, kakao 771, 89 ribu ton dan karet 3,674,05 ribu ton.

“Kemudian kami menargetkan populasi sapi sebanyak 18,78 juta ekor yang menghasilkan daging sekitar 4,81 juta ton, serta produksi daging sapi kerbau sebanyak 432, 91 ribu ton,” katanya.

Dengan angka produksi ini, pemerintah memastikan tidak akan melakukan impor beras karena ketersediaan periode Januari-Maret berkecukupan. Terlebih, stok beras di akhir bulan Desember mencapai 4.514.280. Dari angka tersebut, perkiraan produksi mencapai 14,211,295 dengan perkiraan kebutuhan 12,601,151.

“Kami juga melakukan sinergitas dengan penggilingan dan Bulog untuk penyerapan paska panen. Jadi mengurus pertanian itu tidak mudah, pak. Kami harus berhadapan dengan cuaca, iklim yang berubah, hama dan orang orang yang mau mengambil kepentingan. Karena itu, di tangan kita harus bisa memenuhi isi perut 267 juta jiwa,” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Jamin Ketersediaan Stok Pangan Asal Hewan Jelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan stok pangan asal hewan yakni daging, telur ayam ras dan daging sapi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yakni Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 dalam kondisi aman. Dengan demikian, kebutuhan pangan hewani tersebut tercukupi sehingga tidak terjadi gejolak harga harga (stabil).

Demikian disampaikan Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH, Syamsul Ma’arif yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita pada acara Konferensi Pers terkait Ketersediaan Pasokan dan Harga Pangan Asal Hewan Menjelang Hari Raya Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, di Kantor Pusat Kementan, Senin, (23/12/2019).

Berdasarkan data Ditjen PKH sesuai laporan realisasi produksi secara online dari para pelaku usaha perunggasan, potensi produksi tahun 2019, serta data konsumsi daging ayam ras sesuai hasil Kajian Konsumsi Bahan Pokok (Bapok) BPS 2017 sebesar 12,13 kg/kapita/tahun, diperkirakan kebutuhan daging ayam tahun 2019 adalah sebesar 3.251.745 ton. Sedangkan ketersediaan daging ayam adalah 3.488.709 ton.

“Dalam tahun 2019 ini terdapat surplus produksi daging ayam sebesar 236.964 ton, atau rata-rata surplus sebesar 19.747 ton per bulan,” sebut Syamsul.

Menurutnya, surplus ini selain sebagai buffer stock juga berpotensi menjadi sumber devisa melalui ekspor atau pun diolah menjadi produk olahan untuk menambah nilai jualnya. Karena itu, Syamsul menekankan pentingnya peningkatan mutu dan keamanan produk pangan dan non pangan asal hewan dalam rangka pemenuhan persyaratan negara tujuan ekspor.

“Ekspor diharapkan dilakukan oleh semua stakeholder perunggasan mulai dari para pelaku usaha besar, para integrator ayam ras, juga pelaku usaha kecil dan menengah (UKM, red) untuk perluasan pasar serta peningkatan nilai tambah dan daya saing,” bebernya.

Terkait kondisi stok telur ayam ras, Syamsul menyebutkan berdasarkan hasil kajian Tim Analisa dan Asistensi Supply-Demand Ditjen PKH tahun 2019 serta data konsumsi telur sesuai dengan hasil Kajian Konsumsi Bapok BPS 2017 sebesar 17,69 kg/kapita/tahun, diperkirakan ketersediaan telur ayam ras di Indonesia sebesar 4.753.382 ton, dan angka kebutuhan sebessar 4.742.240 ton. Hal ini berarti masih ada neraca surplus sebesar 11.143 ton atau 929 ton per bulan.

“Surplus telur ini dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri olahan telur dalam negeri, juga dapat kita jadikan komoditas untuk ekspor,” tegasnya.

“Perintisan pabrik olahan telur ini diharapkan dilakukan oleh para pelaku usaha perunggasan yang besar dan perusahaan integrator sebagai kontribusi nyata dalam mendukung upaya peningkatan ekspor,” sambungnya.

Lanjut Syamsul menuturkan berdasarkan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan untuk daging sapi, pada tahun 2019 ini kebutuhan nasional untuk daging sapi diperkirakan sekitar 686.271 ton dengan asumsi konsumsi sebesar 2,56 kg/kapita/tahun. Adapun ketersediaan daging sapi berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 404.590 ton yang dihasilkan dari 2.02 juta ekor sapi yang dipotong.

Berdasarkan data tersebut, sambung Syamsul, masih diperlukan tambahan sebanyak 281.681 ton yang dipenuhi melalui impor, yakni impor sapi bakalan setara 99.980 ton, impor daging sapi 92.000 ton, dan daging kerbau 100.000 ton. Dari impor tersebut ada buffer stock sebanyak 10.299 Ton.

“Adapun khusus untuk Desember 2019 ini, kita masih ada stok 75.735,76 ton yang terdiri dari stok daging sapi lokal, stok sapi bakalan di feedlotter, stok daging dan jeroan di gudang importir, stok daging kerbau di Bulog, dan stok daging sapi tambahan di Berdikari. Dengan kebutuhan daging sebesar 56.538 Ton, maka pada Desember 2019 ini masih ada surplus sebesar 19.197,76 ton,” sebutnya.

Dengan data-data tersebut, Syamsul menegaskan pihaknya meyakini bahwa sampai akhir tahun 2019 dan memasuki tahun 2020, stok pangan asal hewan dalam kondisi yang mencukupi dan harga dapat dijaga stabil. Sebab Indonesia sudah mandiri dalam penyediaan protein hewani dalam negeri.

“Contohnya kebutuhan daging ayam dan telur ayam ras sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri, bahkan masih ada surplus. Namun memang untuk daging sapi ketersediaannya masih memerlukan dukungan dari luar,” tegasnya.

Namun demikian, terkait daging, Syamsul meyakini bahwa dengan program pengembangan sapi yang dilaksanakan pemerintah saat ini, swasembada daging sapi dapat tercapai pada tahun 2026. Untuk pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional, pemerintah berkomitmen untuk terus mengakselerasi peningkatan populasi dan produktivitas sapi dengan Program Sikomandan (Sapi-Kerbau Komoditas Andalan Negeri) yang akan segera diluncurkan.

“Pemerintah juga terus melakukan pembenahan tata niaga ternak dan daging sapi melalui penguatan kelembagaan peternak sapi lokal dalam pemasaran melalui koperasi peternak, pemanfaatan kapal ternak, serta pembangunan holding ground untuk kelancaran distribusi sapi dan daging sapi,” jelasnya.

Syamsul menambahkan upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan memperhatikan beberapa aspek penting yakni kecukupan stok, distribusi, dan kenaikan permintaan. Kementan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, untuk melakukan penghitungan supply-demand bahan pangan pokok asal hewan(daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur) secara periodik melalui Rapat Koordinasi Teknis yang dikoordinir Kemenko Perekonomian bersama Kemendag, Kemenperin, dan BPS.

“Kami berharap ketersediaan stok pangan asal hewan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) yang cukup dan harga stabil, maka masyarakat dapat merayakan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 dengan sukacita,” pungkas Syamsul.(hum/red)