Categories
Ekonomi Megapolitan

Hanif Dhakiri: Penghargaan IPK Mampu Mendorong Percepatan Pembangunan Ketenagakerjaan di Daerah

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan M.Hanif Dhakiri memberikan penghargaan Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (IPK) kepada beberapa kepala daerah yang sukses dalam meningkatkan pembangunan ketenagakerjaan di wilayahnya.

Penganugerahan IPK tersebut sebagai salah satu bentuk apresiasi pemerintah (pusat) kepada Gubernur/Bupati/Walikota yang memiliki prestasi di bidang ketenagakerjaan.

“Kami ucapkan selamat kepada para gubernur dan wagub yang hadir di sini dan hari ini menunjukkan prestasi luar biasa dengan pembangunan ketenagakerjaan di daerahnya masing-masing. Sekali lagi applause untuk gubernur dan wakil gubernur yang dihadir di sini,” kata Menaker dalam sambutan penyerahan penghargaan IPK di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Menaker Hanif mengingatkan masalah tenaga kerja atau ketenagakerjaan merupakan masalah sangat penting, tidak boleh dianggap isu pinggiran. Tetapi harus menjadi isu sentral atau isu kunci dalam pembangunan ketenagakerjaan. Sebab tolok ukur keberhasilan kepemimpinan kepala daerah bisa dilihat dari keberhasilan pimpinan daerah itu membangun dunia ketenagakerjaan seperti kesempatan kerja dan mengatasi pengangguran di wilayahnya masing-masing.

“Itu indikator paling konkrit yang bisa dipahami masyarakat dan bisa menjadi alat ukur untuk menilai kesuksesan di daerah,” kata Hanif.

Menaker Hanif mengungkapkan hasil IPK Tahun 2019 sebesar 61,06 meningkat 0,25 dibandingkan IPK tahun 2018 sebesar 60,81. Kenaikan tersebut terjadi pada enam indikator utama, yaitu perencanaan tenaga kerja; penduduk dan tenaga kerja; pelatihan dan kompetensi kerja; hubungan industrial; kondisi lingkungan kerja dan jaminan sosial tenaga kerja.

“Peningkatan tersebut menunjukkan kemajuan cukup baik dalam pembangunan ketenagakerjaan di seluruh provinsi. Salah satu hal yang mendorong kenaikan IPK adalah meningkatnya kesadaran Pemda akan pentingnya perencanaan ketenagakerjaan dan pengembangan unit-unit pelatihan kerja berbasis komunitas,” kata Menaker.

Menaker Hanif menambahkan pembangunan ketenagakerjaan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional memiliki empat tujuan utama. Yakni pendayagunaan angkatan kerja, pemerataan kesempatan kerja, perlindungan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.

“Pencapaian keempat tujuan tersebut harus selalu dimonitor dan dievaluasi secara berkesinambungan,” katanya.

Hanif Dhakiri berharap hasil pengukuran IPK ini dapat dijadikan acuan bagi semua pihak dalam mengembangkan ketenagakerjaan dan seluruh unit kerja di Kemenaker menjadikan hasil penilaian IPK sebagai acuan dalam melakukan pembinaan, penyusunan program dan kegiatan ketenagakerjaan di masing-masing daerah.

“Diharapkan juga bahwa kegiatan ini mampu mendorong percepatan pembangunan ketenagakerjaan di daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota,” ujar Menaker.

Atas prestasi kepala daerah tersebut, Hanif memerintahkan jajarannya di masing-masing untuk untuk menunjukkan mekanisme reward dan punishmant-nya dan bukan hanya pemberian penghargaan ini cuma judulnya kertasnya saja.

“Kalau ada penghargaan dan pengakuan atas kinerja Pemda, minimal anggarannya juga ditambah untuk ke daerahnya. Kalau yang tidak berprestasi, apalagi mengalami penurunan, turunkan juga anggarannya. Itu baru fair sehingga ini bisa menjadi insentif,” katanya.

Ditempat sama, Kabarenbang Kemenaker Tri Retno Isnaningsih mengatakan hasil pengukuran diperoleh data Pemprov dengan IPK kategori “Menengah Atas” atau IPK di atas 66,00 bertambah menjadi 7 provinsi, naik 1 provinsi dari tahun 2018. “Sedangkan provinsi berkategori “Rendah” atau IPK di bawah 50,00 berkurang menjadi 1 provinsi, dibandingkan tahun 2018 sebanyak 2 provinsi,” katanya

Berikut 19 kategori penghargaan yang diserahkan Kemenaker kepada 13 pemerintah daerah sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian pembangunan ketenagakerjaan di masing-masing daerah.

– Provinsi dengan Urusan ketenagakerjaan kategori Besar Terbaik Pertama : Jawa Tengah dengan indeks 65,71. Terbaik Kedua, Jatim (64,74); Terbaik Ketiga, Sulsel (64,73).

– Provinsi dengan Urusan Ketenagakerjaan kategori Sedang Terbaik Pertama, DIY (70,79); Terbaik Kedua, DKI Jakarta (68,34); dan Terbaik Ketiga, Kalteng (67,94).

– Provinsi dengan Urusan Ketenagakerjaan kategori Kecil Terbaik Pertama, Kaltara (69,63); Terbaik Kedua, Papua Barat (67,07) dan Terbaik Ketiga Sultra (68,83).

– Provinsi dengan Akselerasi Indeks Terbaik Pemenang, NTB dengan indeks 57,84.

– Provinsi dengan Indikator Utama Perencanaan Ketenagakerjaan Terbaik Pemenang : DI Yogyakarta

– Provinsi dengan Indikator Utama Penduduk dan Tenaga Kerja Terbaik Pemenang : DKI Jakarta

– Provinsi Dengan Indikator Utama Kesempatan Kerja Terbaik Pemenang : DKI Jakarta

– Provinsi dengan Indikator Utama Pelatihan dan Kompetensi Kerja Terbaik Pemenang : DI Yogyakarta

– Provinsi dengan Indikator Utama Produktivitas Tenaga Kerja Terbaik Pemenang : DKI Jakarta

– Provinsi dengan Indikator Utama Hubungan Industrial Terbaik Pemenang : Sumatera Barat

– Provinsi dengan Indikator Utama Kondisi Lingkungan Kerja Terbaik Pemenang : Sulawesi Tenggara

– Provinsi dengan Indikator Utama Pengupahan dan Kesejahteraan Pekerja Terbaik Pemenang : Jawa Barat

– Provinsi dengan Indikator Utama Jaminan Sosial Tenaga Kerja Terbaik Pemenang : DKI Jakarta

Turut hadir dalam acara penyerahan anugerah IPK 2019 diantaranya Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan; Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo; Wagub DIY, KGPAA Paku Alam X; Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno; Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie.(red)

Categories
Ekonomi

Kementan Kawal Optimalisasi Alsintan untuk Tingkatkan Luas Tambah Tanam

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mengawal ketat optimalisasi atau pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan) guna mensukseskan Program Upaya Khusus (Upsus) percepatan swasembada padi, jagung dan kedelai (Pajale), khususnya meningkatkan luas tambah tanam. Pasalnya, sejak Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman kurun waktu 2014-2019, terbanyak menggelontorkan bantuan alsintan sehingga pemanfataanya harus berkelanjuntan.

“Sejak kepemimpinan Mentan Amran Sulaiman 5 tahun yang lalu, pemanfaatan alsintan sudah digalakkan ke seluruh pelosok negeri. Berbagai macam bantuan alsintan telah digelontorkan ke petani. Tidak hanya berhenti pada pemberian bantuan, tentunya perlu dipastikan keberlanjutan pemanfaatannya,” demikian ditegaskan Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto sekaligus Penanggungjawab (PJ) Upsus Jawa Timur pada Rapat Koordinasi (Rakor) beserta seluruh PJ Kabupaten dan jajaran Kodam Militer V Brawijaya di Surabaya, Jum’at kemarin (11/10/2019).

Pria yang akran disapa Prihasto ini menjelaskan untuk memastikan optimalisasi alsintan, Kementan kembali menggalakkan dan memastikan tidak ada Alsintan yang menganggur. Tim Upsus aktif turun ke lapangan sehingga penggunaan alsintan benar mempercepat tanam, meningkatkan luas tambah tanam, meminimalisir losses dan meringankan biaya usaha tani.

“Jadi harus ada pengecekan kembali, jangan ragu untuk memindahkan jika tidak produktif,” jelasnya.

Kepala Bidang Informasi dan Jaringan Laboratorium, Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kementan, Tri Martini sekaligus PJ Upsus dan Optimasi Alsintan Kabupaten Bojonegoro mengatakan optimalisasi alsintan segera ditindaklanjuti untuk menggenjot luas tambah tanam di Bojonegoro. Target LTT bulan Oktober 2019 sebesar 8.867 hektar.

“Kami bersama dinas pertanian, TNI, penyuluh, ketua kelompok tani, pengurus Unit Pengelola Jasa Alsintan akan menyepakati langkah-langkah untuk mencapai target tersebut. Kita kawal pemanfaatan alsintan ini untuk mendukung program Upsus Pajale,” tutur Tri.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Optimalkan Pelayanan Publik Dalam Pelepasan Varietas Tanaman Pakan Ternak

Koran Jurnal, Bogor – Kementerian Pertanian mengoptimalkan pelayanan publik untuk mengakomodasi kebutuhan petani/peternak dalam Permentan No. 38 Tahun 2019 terkait pelepasan varietas tanaman termasuk tanaman pakan ternak. Hal ini sebagai bentuk pengakuan pemerintah terhadap suatu varietas hasil pemuliaan dalam negeri atau introduksi dari luar yang dinyatakan varietas tersebut unggul dapat diedarkan. Saat ini telah ada beberapa jenis tanaman pakan ternak yang siap dilepas dalam waktu dekat oleh UPT/UPTD.

Menurut Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sri Widayati sebagaimana diamanahkan dalam Permentan tersebut, telah diterbitkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4264 Tahun 2019, tentang Pedoman Teknis Pelepasan dan Penarikan Varietas Tanaman pakan ternak sebagai acuan operasional kegiatan bagi pelaku di lapangan.

“Kami berharap akan terjadi peningkatan produksi benih tanaman pakan ternak yang berkualitas dan berkelanjutan untuk mendukung peningkatan budidaya tanaman pakan ternak unggul di masa mendatang,” ujar Widayati saat menjadi Narasumber pada acara Workshop Aplikasi Pelepasan Varietas Tanaman secara online di IPB Convention Hotel Bogor, Kamis (10/10/2019).

Workshop Aplikasi Pelepasan Varietas Tanaman Secara Online diselenggarakan sebagai upaya memberikan pemahaman terkait regulasi dan prosedur penilaian dan pelepasan varietas tanaman kepada pemulia, pelaku usaha, serta stakeholder terkait agar mampu memahami regulasi dan prosedur penilaian dan pelepasan varietas tanaman khususnya tanaman pakan ternak.

Widayati mengapresiasi Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) dalam mengimplementasikan Permentan Nomor 38 Tahun 2019, dengan membangun sistem aplikasi pelepasan varietas tanaman secara online.

Tingkatkan Pelayanan Perlindungan Varietas

Pada kesempatan itu, juga hadir narasumber dari Balai Besar Biogen, Ditjen Perkebunan dan Ditjen Tanaman Pangan, yang diikuti oleh 10 UPT Pusat, 2 UPTD, dan 15 pelaku usaha yang berkecimpung dalam bidang perbenihan tanaman perkebunan, pangan dan pakan ternak.

Kepala PPVTPP, Erizal Jamal menyatakan Permentan Nomor 38 Tahun 2019 selain mengatur ketentuan pelepasan tanaman non Produk Rekayasa Genetika (PRG), sekaligus mengatur ketentuan pelepasan tanaman PRG yang sebelumnya diatur dalam Permentan 61 tahun 2011.

“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan di bidang perlindungan varietas tanaman dan perizinan di sektor pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Riyadi salah satu pelaku usaha pemilik yang bergerak dalam usaha perbenihan tanaman pakan yang beralamat di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang menjadi produsen benih tanaman pakan ternak terbesar di Provinsi Jawa Tengah.

Lahan seluas 6 Ha, perusahaan ini mampu memproduksi 1.500 stek rumput odot dan 200.000 polybag indigofera per tahun yang saat ini menjadi primadona dan pakan lainnya seperti Rumput Raja, Rumput Gajah Taiwan, Rumput BD, Turi, dan Gamal.

Riyadi menyampaikan perusahaan miliknya berperan penting menyukseskan program pemerintah dalam menyediakan benih dalam kegiatan Pengembangan Hijauan Pakan Berkualitas (Gerbang Patas) di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DIY sejak tahun 2016 hingga sekarang.

Lanjut Riyadi menambahkan sebagai produsen benih bina Indigofera, ia optimis ke depannya mampu memperluas pasar ke seluruh Indonesia.

“Kedepannya, Saya bercita-cita ingin memasarkan benih/bibit tanaman pakan yang saya produksi masuk e-katalog, tentunya dengan mematuhi peraturan yang berlaku di bidang perbenihan tanaman pakan.” harapnya.

Riyadi mengatakan dalam menjalankan usahanya ini, dirinya telah membuka peluang kerjasama dengan pemulia/lembaga pemulia/institusi atau pemerintah untuk rencana pelepasan Rumput Odot dan Rumput Gajah Taiwan.

Menanggapi hal tersebut, Widayati menyampaikan bahwa Pemerintah pusat dan daerah perlu mendukung keinginan petani seperti Riyadi untuk menjadi produsen benih tanaman pakan ternak di negeri sendiri.

“Hal ini sejalan dengan amanah Permentan 38 tahun 2019 Pasal 6,” tutup Widayati.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Luncurkan ‘YESS’ Program, Cetak Generasi Muda Berwirausaha Pertanian

Koran Jurnal, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan program pengembangan kewirausahaan dan ketenagakerjaan pemuda di sektor pertanian (Youth Enterpreneurship and Employment Support Services Programme atau yang dikenal YESS Program di Jakarta, Jumat (11/10/2019). Program ini kerja sama antara Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Mentan Amran menegaskan program ini siap dijalankan untuk menjangkau lebih banyak petani muda yang memiliki minat berwirausaha dan ingin terjun kedunia pertanian. Dengan program ini, generasi muda diedukasi baik dari sektor hulu hingga hilir.

“Di sektor hulu, kita menggunakan pertanian modern dan di hilir kita menggunakan teknologi canggih untuk packing dan seterusnya sehingga nilai komoditas pertanian naik 50 persen hingga 100 persen serta dapat menjawab tantangan di era ini,” tegas Amran.

Oleh karena itu, Amran menjelaskan program kewirausahaan bagi petani muda ini sangat penting karena sesuai dengan arahan Presiden Jokowi. Pengembangan kewirausahaan menjadikan petani muda berinovasi untuk mendapatkan added value dari suatu komoditas, yang selama ini tidak dinikmati petani.

“Added valuenya itu ada di processingnya. Jadi di hulu itu biasa keuntungannya tidak terlalu besar atau lebih sedikit. Tetapi di hilir added valuenya itu luar biasa besar sampai 100 persen,” beber Amran.

“Namun bagi para pemuda tani, kemauan, keyakinan harus ada dulu. Jadi kita harus yakin bahwa kita bisa berhasil,” pintanya.

Lebih lanjut Amran membeberkan peran pemerintah guna memfasilitasi para petani muda yakni Kementan menyediakan bibit gratis, bantuan teknologi, alat mesin pertanian dan bantuan yang disertai pendampingan. Petani muda diharapkan dapat meningkatkan produksi, produktivitas dan nilai tambah serta membangun pasar yang menguntungkan petani.

“Sekarang pemuda tani ada 500 ribu sampai dengan sekarang kalau itu bergerak Insya Allah produksi semakin baik,” tandasnya.

Masih di tempat yang sama, Projek Manager YESS Program, Yul Bahar mengatakan program ini dapat menyelesaikan permasalahan yang menyangkut regenerasi petani. Di mana, petani itu hingga saat ini semakin lama semakin berkurang.

“Tapi kalo petani hanya bercocok tanam saja itu tidak akan menarik bagi petani. Oleh karena itu, kita tambahkan kewirausahaan, kita tambahkan sebagai kompetensi mereka,” ujarnya.

Bahar menjelaskan kewirausahaan berarti mereka akan menjadi pelaku usaha nantinya. Dalam program YESS ini , para generasi dan petani muda akan dididik serta dampingi di lapangan atau jika mereka menjadi job seeker, maka akan menjadi pekerja harus kompeten dalam bidangnya.

“Jadi kuat dalam bidangnya dan punya kemampuna bukan hanya di bidang pertanian umum tapi lebih spesifik,” terangnya.

Lebih lanjut Bahar menuturkan program ini akan menjawab kebutuhan dunia kerja saat ini juga. Yakni bagaimana meningkatkan kompetensi para generasi muda sehingga memiliki sertifikasi dan petani muda ahli dalam bidangnya. Contohnya ahli dalam tanaman anggrek atau bidang produksi tanaman hias atau tanaman pangan sehingga begitu dia cari kerja bisa langsung di pakai.

“Hal ini dapat mengubah paradigma jika pertanian itu kegiatan tidak menarik, prospektif dan menguntungkan, dan dapat berdampak pada penurunan angka pengangguran serta terjadinya urbanisasi,” tuturnya.

“Kuncinya ada dua yaitu mengajak mereka menjadi wirausaha atau meningkatkan kompetensi mereka sehingga mereka dapat bersertifikat atau ahli dalam bidangnya,” sambungnya.

Bahar menambahkan ada 4 indikator yang akan dicapai dalam program YESS. Pertama, Rural youth transition to work (peningkatan kapasitas pemuda perdesaan di bidang pertanian). 2. Rural Youth Entrepeneurship (Pengembangan Wirausahawan Muda Perdesaan). 3) Investing to Rural Youth (Fasilitasi akses permodalan).

“Keempat, Enabling Environment fo Rural Youth yakni membangun lingkungan usaha yang kondusif,” tukasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dukung Penggunaan Pestisida Nabati Guna Kendalikan Hama Penggerek Batang Padi

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung penggunaan pestisida nabati (pesnab) untuk mengendalikan hama penggerek batang padi. Hal ini sejalan dengan penggunaan pesnab yang semakin diminati petani sebagai pilihan pertama saat tanaman terkena hama atau penyakit.

“Hal ini tidak terlepas dengan semakin meningkatnya pemahaman terkait keunggulan pertanian ramah lingkungan di masyarakat. Selain karena penggunaannya yang aman bagi lingkungan, pesnab juga tidak menimbulkan resistensi hama di kemudian hari dan produk yang dihasilkan bebas dari residu berbahaya,” ujar Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, Edy Purnawan di Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Karena itu, Edy menyatakan Kementan mengapresiasi penggunaan pesnab di kalangan petani Pati. Kementan sangat mendukung peran aktif petani untuk menggunakan pestisida nabati sebagai salah satu upaya dalam penerapan sistem pertanian organik yang memang sedang digalakkan saat ini.

“Harapannya akan semakin banyak petani yang mengutamakan penggunaan pesnab dibandingkan pestisida sintetis, tidak hanya di lingkup Kabupaten Pati saja melainkan di kabupaten lainnya,” tukas Edy.

Pimpinan Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kabupaten Pati, Ari Marhaeniati menjelaskan Pati menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang giat memperkenalkan pestisida nabati kepada petani. Laboratorium yang dikelolalnya sering mengadakan pelatihan kepada petani terkait pembuatan pesnab sekaligus memberi pemahaman tentang pentingnya pemilihan pestisida nabati dibanding sintetis.

“Kesadaran petani tentang pertanian ramah lingkungan semakin tinggi. Beberapa kelompok tani sering datang ke sini untuk minta pelatihan pembuatan pesnab ataupun bibit agens hayati,” terangnya.

Karena itu, Ari berharap penggunaan pesnab sebaiknya mendapat dukungan, tidak hanya dari pemerintah tapi dari masyarakat luas sebagai konsumen yang mengutamakan pembelian produk pertanian ramah lingkungan. Baru-baru ini juga ada kelompok tani yang mengendalikan hama penggerek batang padi dengan pesnab.

“Pesnabnya mereka buat sendiri, dibantu oleh petugas dari Laboratorium,” ujarnya.

“Pesnab yang dimaksud digunakan oleh poktan Karya Tani di Desa Kadilangu, dan poktan Tani Mulyo I Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati,” tambah dia.

Kadar, salah seorang Petugas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Penyelia Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Kabupaten Pati menuturkan hasil aplikasi pesnab cukup memuaskan dengan kematian hama berselang 3 sampai 4 hari pasca aplikasi pesnab. Pembuatan pesnabnya mudah, yakni daun mimba, kunyit, laos, dan buah maja ditumbuk halus kemudian ditambah samponin dan tembakau lalu direndam selama 7 sampai 10 hari.

“Perbandingan untuk semua bahan 10 sampai 20%, sedangkan airnya 80% untuk 1 drum isi 200 liter,” ujar Kadar yang bertugas menemani petani dalam pembuatan pesnab dan pengaplikasiannya di lahan sawah petani.

Kadar menambahkan bahwa pemilihan pesnab untuk pengendalian hama penyakit harapannya bisa memenuhi tuntutan masyarakat atas produk pertanian yang berkualitas, aman, bersih, dan bebas dari residu pestisida.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Indonesia Pimpin Pertemuan Internasional Pertanian Adaptif Iklim Global

Koran Jurnal, Bali – “Emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global memerlukan tindakan nyata seluruh pihak dalam melaksanakan upaya mereduksi emisi gas rumah kaca, dan pada saat bersamaan mengembangkan inisiatif global guna adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” ujar Fadjry Djufry Kepala Badan Litbang Kementan, saat membuka pertemuan the 9th Global Research Alliance (GRA) Green Gas Houses and Emission Council Meeting pada 6-7 September 2019 di Bali.

Pertemuan yang dihadiri perwakilan 56 negara ini akan dirangkaikan dengan the 5th Global Science Conference on Climate Smart Agriculture yang akan dilaksanakan di Jimbaran, Bali pada 8-11 Oktober 2019. Fadjry mengatakan climate change atau perubahan iklim adalah hal yang nyata dan telah memberikan dampak yang ekstrim di berbagai negara.

Lebih lanjut dikatakan sektor pertanian adalah yang paling rentan menghadapi cuaca yang ekstrim karena perubahan iklim, sementara pertanian harus dapat berproduksi tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Fadjry selaku Ketua GRA yang baru, mengingatkan pentingnya dukungan dan kolaborasi seluruh pihak menghadapi perubahan iklim. “Dunia menunggu implementasi system manajemen berbasis sains untuk pangan dan pertanian yang lebih kuat,” kata Fadjry.

Fadjry mengemukakan visi GRA satu tahun ke depan, GRA menjadi majelis terkemuka di dunia dalam penelitian dan pengembangan teknologi, terkait adaptasi terhadap iklim ekstrem, dan mitigasi gas rumah kaca pertanian.

Sebagai informasi, Global Research Alliance on Agricultural Greenhouse Gases (GRA) sejak 2009 telah mempunyai anggota 56 negara. Aliansi ini membawa negara-negara anggotanya untuk mencari dan mempraktekan cara untuk mengembangkan pertanian guna memperoleh pangan berlimpah tanpa harus meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Kegiatan Aliansi ini melaksanakan empat grup riset, yaitu Paddy Rice, Livestock, Cropland, dan Integrative. Setiap grup riset melaksanakan pertemuan rutin guna mengevaluasi kemajuan kegiatan yang sedang dilaksanakan dan juga membahas isu-isu terkini. Pertemuan tahunan kali ini, Indonesia bertindak sebagai Ketua Konsil, dengan mengambil tema ‘Decision support tools’ yang fokus kepada sains dan training pada GRA’s Research Groups.

Pemerintah Indonesia sendiri menurut Fadjry, melalui Kementerian Pertanian terus mendorong dan mengembangkan sistem pertanian yang ramah iklim dan ramah lingkungan. Pemerintah terus bermitra dengan negara lain dan beberapa lembaga internasional agar sistem pertanian ramah iklim dapat dimodifikasi, diadaptasi dan diterapkan di Indonesia.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Delegasi Bangladesh Belajar Pengelolaan Persusuan dan Pengembangan Sapi di Indonesia

Koran Jurnal, Bandung – Delegasi dari Kementerian Perikanan dan Peternakan Bangladesh selama tiga hari dari tanggal 1 Oktober 2019 mengunjungi beberapa tempat untuk belajar tentang pengelolaan persusuan dan pengembangan sapi di Indonesia. Mereka tertarik dengan teknologi embrio transfer yang ada di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, pengelolaan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) di Lembang, dan melihat produksi susu UHT di PT ISAM (Industri Susu Alam Murni) Bandung. Hal tersebut disampaikan oleh I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, Jum’at (04/10/2019).

“Delegasi Bangladesh ini sangat tertarik dengan pengelolaan sapi perah dan breed sapi yang di kembangkan di Indonesia, mulai dari tingkat peternak, pengolahan, sampai pemasarannya,” jelas Ketut. Menurutnya ketertarikan delegasi Bangladesh pada pengelolaan sapi perah di Indonesia antara lain karena Indonesia dinilai mempunyai sistem yang serupa dengan Bangladesh.

Pada saat kunjungan ke salah satu lokasi, yakni BET Cipelang yang merupakan unit pelaksana teknis milik Kementan, Mohammed Yousuf Habib, salah satu delegasi Bangladesh mengatakan bahwa teknologi embrio transfer yang ada di BET Cipelang dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas sapi perah yang ada di Bangladesh.

Sebelumnya para delegasi dari Bangladesh yang berjumlah 9 orang ini juga mengunjungi KPSBU. Di KPSBU, mereka mempelajari bagaimana produksi susu yang dihasilkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup para peternaknya. Dedi Setiadi, Ketua Pengurus KPSBU mengatakan bahwa koperasi dengan jumlah anggota sebanyak 7.190 orang ini telah mampu memberikan kesejahteraan bagi anggotanya dalam bentuk kredit tanpa bunga, subsidi toko Sembako dan Sarana Produksi Ternak (Sapronak) yang dapat mencapai Rp. 2 milyar/bulan, serta pelayanan kesehatan untuk ternak dan juga untuk peternaknya.

Setelah mengunjungi KPSBU, para delegasi Bangladesh yang berjumlah 9 orang ini melanjutkan kunjungannya ke PT ISAM untuk melihat secara langsung proses produksi susu UHT. Mereka tertarik melihat proses diversifikasi produk susu ini karena mereka ingin mempelajari cara agar produk susu yang dihasilkan dapat mempunyai nilai jual yang lebih tinggi.

Menurut Ketua Delegasi Bangladesh, A.K.M. Munirul Haque, kunjungan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Livestock & Dairy Development Project (LDDP), suatu program peningkatan kapasitas dari pemerintah Bangladesh yang didanai oleh Bank Dunia. Tujuan dari kunjungan delegasi Bangladesh ke Indonesia ini adalah untuk memahami beberapa praktek pengelolaan persusuan, strategi produksi, sampai pada bagaimana peternak mendapat manfaat dari industri persusuan di lndonesia.

Mewakili anggota delegasi, Munirul Haque mengapresiasi kunjungan kerja ini. “Kunjungan ini memberikan sangat banyak pengetahuan baru bagi kami, dan kami akan mencoba mengaplikasikannya di Bangladesh,” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Bisnis Ekonomi Transportasi

Kopban: Pengemudi BeU Jek Online sebagai Wirausaha Bukan Mitra Kerja

Koran Jurnal, Jakarta – Jasa transportasi berbasis online BeU Jek resmi mengaspal di tanah air. Ojek online ini menambah pilihan pengguna bisnis ride hailing jadi salah satu bisnis yang punya potensi cukup besar di Indonesia. Setelah hadirnya Grab dan Gojek, kini hadir aplikasi transportasi online BeU Jek yang berbadan hukum koperasi dibawah naungan Koperasi BeU Abadi Nusantara.

Eka Maulana, Ketua Umum Koperasi BeU Abadi Nusantara (Kopban) menjelaskan, pengguna aplikasi ojek online BeU Jek baik pengemudi dan pelanggan dapat menikmati banyak keuntungan yang diperoleh.

“Keunggulan bagi driver yang kami sebut wirausahawan ini adalah gratis pendaftaran, mendapatkan bonus saldo perdana dalam aplikasi sebesar Rp 50.000,-, jaminan kecelakaan dan kehilangan, menjadi bagian anggota koperasi dan tidak ada batas zona lokasi, berusaha di Beujek bisa menyejahterahkan pengemudinya karena mereka anggota koperasi kita,” jelas Eka Maulana dalam peluncuran BeU Jek, di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (05/10/2019).

Eka menyebut wirausahawan BeU Jek akan menerima bonus yang disebut Bonus Tri BeU Jek, yaitu Bonus harian yang hanya dikenakan bagi hasil 25 hari kalender, 5 dan 6 hari bebas potongan di mana pemotongan secara flat Rp 30.000/hari untuk kota dan provinsi, dan pemotongan flat Rp 15.000,- untuk kota – kabupaten.

“Bonus bulanan berupa gratis oli 1 liter, beras 5 kg, minyak goreng 1 liter dan gula pasir 1 liter,” tambahnya.

Sedangkan bonus tahunan, lanjut Eka,  diadakan pemilihan usahawan terbaik, dan wirausahawan mendapatkan bagi hasil tahunan.

Dia mengatakan, pelayanan BeU Jek online kini sudah beroperasional hampir di semua provinsi di Indonesia.

“Kami berharap pelayanan ini bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” ucap Eka.

Selain itu, sambung Eka, BeU Jek juga memberikan keuntungan bagi pelanggan apabila mendowload aplikasi BeU Jek, akan menerima saldo sebesar Rp 50.000,-, yang dapat dipergunakan untuk membayar berbagai perjalanannya.

Berikut layanan aplikasi BeU Jek terdiri dari BeU Ride, BeU Car, BeU Paket, BeU Foid, BeU Truck, BeU Jago, dan BeU Apotek.

Diketahui aplikasi BeU Jek digagas oleh Eka Maulana bersama dengan 42 rekannya.

Turut hadir dalam acara launching aplikasi BeU Jek, Deputi SDM Kemenkop, perwakilan dari Korlantas Polri, dan sejumlah mitra usaha.

Salah seorang Pengemudi BeU Jek berharap mendapatkan penghasilan lebih dari kegiatan ojek online yang berada dibawah naungan Kopban Beujek ini, dimana setiap bulan dan akhir tahunnya mendapat sisa hasil usaha, karena sebagai salah seorang anggota pemilik koperasi. Berbeda dengan aplikasi ojek lain, yang hanya menjadi mitra kerja.

“BeU Jek sangat berbeda dengan aplikasi lainnya, kita dibawah naungan koperasi bukan perusahaan sehingga driver otomatis menjadi anggota koperasi, dan juga kita mendapat kredit motor tanpa DP,” ucap Andi salah seorang pengemudi BeU Jek kepada wartawan.(red)

Categories
Ekonomi

Wabah ASF Tengah Merebak di Asia, Kementan Memperketat Pintu Masuk Barang dan Orang

Koran Jurnal, Jakarta – Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, OIE (Organization Internationale des Epizootics) merilis penyebaran wabah penyakit pada hewan babi atau African Swine Fever (ASF) di Timor Leste pada bulan September 2019. Hal ini menggenapkan kondisi terkini penyebaran wabah ASF di benua Asia. Dimulai pada bulan Agustus 2018 dari Cina, lanjut Mongolia (Januari 2019), Vietnam (Februari 2019), Kamboja (Maret 2019), Hongkong (Mei 2019), Korea Utara (Mei 2019), Laos (Juni 2019), Myanmar (Agustus 2019) dan menyusul Filipina dan Korea Selatan.

“Peta penyebaran cukup masif dan sudah sangat dekat dengan wilayah kita. Hari ini kita lakukan langkah antisipatif,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), saat memberi arahan pada temu koordinasi pengawasan dan pencegahan penyakit ASF pada hewan babi ke Indonesia di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (30/09/2019).

Menurut Jamil, penyakit yang menyerang babi ini telah mewabah juga dibelahan benua lain, terutama yang memiliki banyak populasi babi. Dimulai dari benua Afrika di tahun 1921 yakni Kenya dan terus mewabah hingga menjadi endemik di sebagian sub-sahara Afrika termasuk pulau Madagaskar dan meluas ke benua Eropa.

Potensi penyebaran ASF ke Indonesia sangat cepat, karena itu kami lakukan antisipatif untuk mewaspadainya, tambahnya.

ASF yang disebabkan oleh virus DNA genus Asfivirus, familia Asfaviridae ini berakibat pada kesakitan atau morbiditas dan kematian atau mortalitas pada ternak babi hingga dapat mencapai tingkat 100%.

Dalam aturan perkarantinaan Indonesia, penyakit hewan eksotik dan termasuk dalam hama penyakit hewan karantina golongan I berdasarkan Kepmentan No. 3238/2009 atau termasuk dalam penyakit hewan eksotik atau penyakit hewan yang belum ada di Indonesia.

Begini Penyebaran ASF

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Barantan, drh Agus Sunanto yang hadir mendampingi Kepala Barantan menjelaskan bahwa penyebaran virus ASF dapat melalui daging dan atau produk daging babi yang diproses dengan pemanasan yang tidak cukup. Juga melalui sisa-sisa katering dan sisa makanan bawaan penumpang dan awak alat angkut transportasi internasional baik moda kapal laut ataupun pesawat udara yang diolah dan dijadikan sebagai campuran pakan bagi (swill feeding).

ASF juga dapat ditularkan melalui manusia, seperti petugas kesehatan hewan dan perlengkapannya seperti sepatu, baju dan lainnya di peternakan babi yang berasal/berkunjung dari negara wabah/tertular yang terkontaminasi. Sisa-sisa katering transportasi internasional (laut dan udara), serta orang yang terkontaminasi virus ASF dan kemudian kontak dengan babi di Indonesia juga harus diwaspadai, tegas Agus.

Ancaman ASF bagi Sosio-Ekonomi Indonesia

Jamil menuturkan, mewabahnya penyakit ASF di dua benua ini dapat berdampak pada aspek sosial dan ekonomi di Indonesia. Kematian akibat ASF akibat virus (virulensi moderate) 30-70% populasi bahkan mencapai 100% pada virus yang virulensinya tinggi. “Apabila 30% saja menyebabkan kematian maka kerugian dapat mencapai Rp. 7,6 T,” kata Jamil.

Jamil menjelaskan untuk memenuhi konsumsi bagi masyarakat khusus, peternakan babi tersebar di beberapa daerah bahkan diantaranya merupakan salah satu pemasok utama bagi pasar Singapura.

Berdasarkan data IQFast tahun 2018, ekspor babi hidup dari Indonesia sebesar 279.278 ekor. Selain babi hidup, Indonesia juga mengekspor daging babi olahan sebanyak 613 kg. Nilai ekonomi ekspornya tercatat hingga Rp. 838 miliar dengan masing-masing babi hidup senilai Rp 837,8 miliar dan daging babi olahan Rp 122,6 juta,

“Status kesehatan hewan dan tumbuhan sangat menentukan untuk persyaratan ekspor komoditas pertanian, Ini akan berdampak hilangnya pasar ekspor dan potensinya,” tegas Jamil.

Data IQFAST 2018 juga mencatat sebanyak 285.315 peternak rakyat untuk hewan babi di Indonesia dapat kehilangan mata pencahariannya jika penyakit ini masuk ke Indonesia. Dengan estimasi keuntungan bersih peternak sebanyak 30% dari berat hidup maka pendapatan peternak sebesar Rp 256 M terancam hilang. Selain itu, produksi daging babi secara nasional pada tahun 2018 yaitu 327.215 ton. 50% produksi dipasarkan didalam negeri dengan nilai mencapai Rp 4,9 T. “Ini mengkhawatirkan, karena akan mengakibatkan hilangnya salah satu sumber protein bagi sebagian masyarakat khusus kita,” kata Kabarantan.

Selain dampak ekonomi, Jamil menambahkan akan berdampak pada biaya program pengendalian penyakit ASF yang sangat mahal. Kontrol lalu lintas, Kontrol vektor, Biosecurity, Monitoring dan Surveilans dan Sosialisasi. Belum lagi terancamnya rusak dan punahnya plasma nutfah asli Indonesia, yaitu babi lokal Indonesia seperti jenis babi Jawa berkutil (Sus verrucosus), babi Kalimantan (Sus barbatus), babi Sulawesi (Sus celebensis) dan Babirusa (Babyroussa babyrusa).

Langkah Antisipasi Cegah Penyebaran ASF di Indonesia

Jamil melanjutkan, pemerintah telah menetapkan kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF sejalan dengan perundang-undangan yang berlaku.

Pihaknya juga telah melakukan pemusnahan terhadap produk babi dan olahannya yang berasal dari negara wabah serta melakukan pengambilan sampel produk babi dan olahannya sebelum dimusnahkan untuk dilakukan uji laboratorium deteksi material genetik ASF dalam rangka kewaspadaan dini dan mitigasi risiko.
Kerjasama dan sosialisasi dengan instansi terkait juga telah dilakukan pengawasan penumpang dan barang bawaannya (Ditjen Bea dan Cukai, AVSEC). Selain itu dilakukan penanganan sampah karantina yaitu sisa katering, sisa makanan penumpang dan awak alat angkut (Otoritas Bandara/Pelabuhan, Angkasa Pura/Pelindo) mengacu pada Pedoman Kabarantan No. 2734 tahun 2018 tentang Pedoman Tindakan Perlakuan dan Pengawasan Pemusnahan Media Pembawa Lain yang diturunkan dari Pesawat udara.

Sementara itu, Barantan juga lakukan pengetatan pengawasan di tempat-tempat pemasukan yang belum ditetapkan bersama Polisi, TNI, dan Ditjen Perhubungan Laut serta peningkatan pengawasan di Pos Lintas Batas bersama BNPP, TNI, dan tim Satgas.

“Penerapan biosekuriti merupakan strategi dalam mencegah penyebaran ASF di peternakan babi di Indonesia. Dan yang paling utama adalah peran serta masyarakat untuk berhati-hati saat melalulintaskan hewan ini, laporkan kepada petugas kami,” pungkas Jamil.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Strategi Jitu Percepatan Tanam Padi dengan Teknologi Semai Kering

*Rilis Kementan, 28 September 2019*
Nomor : 907/R-KEMENTAN/09/2019

Koran Jurnal, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong implementasi strategi jitu guna percepatan tanam padi dengan teknologi kering. Strategi ini penting sebagai solusi di musim kemarau seperti ini untuk menggerakkan sumber daya yang ada agar produksi padi tetap stabil.

Di sisi lain, Pemerintah Daerah Lampung telah menetapkan Program Sekampung Sistem untuk memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanaman padi di wilayah Lampung Tengah, Lampung Timur dan Kota Metro. Lagi-lagi program ini agar di musim kemarau petani tetap menanam padi dan komoditas lainnya.

Namun demikian untuk mendukung kesuksesan program pemerintahan Lampung tersebut, diperlukan teknologi yang tepat guna dan efisien, salah satunya adalah teknologi semai kering.

Penanggung Jawab Program Upaya Khusus (UPSUS) Kabupaten dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Sigit Setiawan sangat mendukung kegiatan ini. Semai kering menjadi pilihan utama untuk mempercepat tanam, sehingga sistemnya marathon, antara pengolahan tanah dan semai dilakukan bersamaan ditempat berbeda.

“Waktu semai cukup 10 sampai 14 hari, jauh lebih cepat dibanding semai konvesional yang mencapai umur 20 hari. Apalagi dengan dukungan Rice Transplanter dari Brigade dan petani, proses penanaman bibit padi lebih efisien waktu,” demikian kata Sigit di Jakarta, Minggu (29/9/2019).

Menurut Sigit, dengan mensinergikan program Sekampung Sistem dan Teknologi Semai Kering diharapkan dapat mengaktifkan 25.000 hektar lahan pertanaman padi dan penanamannya bisa dilakukan tepat waktu.

“Bahkan lebih cepat dari jadwal tanam yang biasanya dilakukan pada bulan Oktober – November 2019,” jelasnya.

Perlu diketahui, dalam pelaksanaannya, Tim UPSUS Provinsi Lampung bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung (BPTP) melakukan sosialisasi di beberapa kelompok tani di sekitar wilayah Sekampung Sistem. Kelompok tani melakukan praktek langsung pembuatan semai kering dibawah pengawasan BPTP seperti di Kelompok Tani Rejo 2 Kota Metro. Kelompok tani tersebut sangat antusias mengikuti kegiatan ini dan berharap dapat langsung diterapkan di wilayahnya.

Terpisah, Kiswanto, salah satu Penyuluh Ahli Madya di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kementan di Lampung menjelaskan teknologi semai kering sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat, akan tetapi masih sedikit yang melakukan karena dianggap rumit. Padahal teknologi ini lebih menguntungkan dibandingkan semai konvensional antara lain proses pembuatan dan perawatan mudah.

“Dapat dilakukan di pekarangan, praktis dalam pencabutan bibit, bibit lebih terkontrol dari hama dan penyakit, pertumbuhan lebih cepat dan bibit tidak mudah stress, selain itu biaya kerja juga lebih murah,” jelasnya.

“Teknologi semai kering sangat efektif karena dapat dilakukan bersamaan dengan saat olah tanah di tempat yang berbeda.” tambahnya,” tambah Kiswanto.

Jumali, Ketua Gapoktan Sumber Makmur di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah mengatakan semai seperti ini justru lebih murah biayanya dan bibit tidak mudah stress waktu dipindahkan. Petani belum banyak yang menggunakan teknologi ini karena mereka menganggap sulit seperti tanah harus diayak, menyesuaikan ukuran semai sesuai space alat tanam.

“Padahal kalau sudah biasa ternyata gampang, bahkan kita sudah memulai sejak tahun 2017 dan sampai dengan saat ini tidak ada kesulitan,” katanya.

Ditempat terpisah, Fuad anggota Kelompok Tani Jaya Makmur di Desa Purwodadi Kecamatan Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah mengaku teknologi ini sebagai prospek bisnis karena saat ini banyak petani yang tidak mau repot menyiapkan bibit. Permintaan semai kering selalu meningkat setiap musimnya.

“Musim Tanam II kemarin kami mendapat order 15 hektar, musim ini jauh lebih banyak akan tetapi kami tolak karena waktunya bersamaan,” ungkap Fuad.

Disisi lain Istiqomah yang merupakan istrinya Fuad sangat bersyukur kegiatan ini bisa membuka lapangan kerja bagi tetangga sekitar. “Iya terutama ibu-ibu dengan membuat media semai,” akuinya.(hum/red)