Categories
Ekonomi

Tegakkan Kedaulatan Pangan di Indonesia: WTO Keluar dari Pertanian

Koran Jurnal, Jakarta – Kedaulatan pangan merupakan solusi untuk menjawab persoalan pangan dan pertanian di Indonesia. Hal ini diwujudkan pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan sejumlah peraturan yang bertujuan untuk melindungi petani kecil, seperti: Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani (UU Perlintan), sampai dengan komitmen pemerintah untuk menjalankan kedaulatan pangan, termasuk di dalamnya melaksanakan reforma agraria dengan meredistribusikan 9 juta hektar lahan kepada petani dan 12,7 juta hektar untuk Perhutanan Sosial, yang tercantum di dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019.

Meski demikian, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih menyampaikan, akan tetapi upaya perlindungan petani kecil dan pelaksanaan konsep kedaulatan pangan di Indonesia mendapatkan tantangan dari Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) dan bentuk-bentuk perjanjian perdagangan bebas lainnya.

“WTO dalam hal ini mengintervensi pemerintah Indonesia untuk mengubah peraturan-peraturan di sektor pertanian maupun pangan yang dinilai tidak sesuai dengan rezim perdagangan bebas dan kepentingan negara-negara industri.
Hal ini tampak dari digugatnya pemerintah Indonesia di dalam WTO terkait beberapa kasus, seperti: gugatan Amerika Serikat dan Selandia Baru atas kebijakan pemerintah Indonesia yang berusaha melindungi pangan produk petani dan nelayan kecil,” tutur Henry, di Jakarta, Rabu (11/09/2019).

“Hal ini kemudian berdampak pada dikeluarkannya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 24 Tahun 2018, untuk merevisi Permentan No. 38 Tahun 2017 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Dalam Permentan tersebut pemerintah harus memperlonggar regulasi impor terkait produk-produk pangan, tanaman hortikultura, dan produk hewan,” lanjutnya.

Henry melanjutkan, kasus lainnya yang baru-baru ini terjadi adalah gugatan Brazil terhadap Indonesia di WTO terkait impor daging ayam. Indonesia disebut menyalahi ketentuan WTO terkait perdagangan bebas dengan melarang masuknya ayam dan produk ayam dari Brasil. Konsekuensi dari gugatan tersebut adalah keharusan Indonesia untuk membuka keran impor untuk komoditas ayam dari Brazil.

“Ketentuan WTO tersebut padahal bertentangan dengan Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012, yakni dalam pasal 36 dan pasal 39, serta UU Perlintan, yakni dalam pasal 15 dan pasal 30 ayat (1), yang menyebutkan keharusan pemerintah mengutamakan produksi dalam negeri dalam pemenuhan pangan, oleh karena itu impor komoditas pangan harus menyesuaikan kebutuhan konsumsi dalam negeri,” lanjutnya.

Henry menjelaskan, kuatnya cengkeraman WTO dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan di sektor pertanian tidak hanya merusak kedaulatan petani kecil di Indonesia, tetapi juga petani-petani kecil di belahan dunia lainnya. Sejak didirikan pada tahun 1995, upaya-upaya WTO untuk mendorong deregulasi, ekspansi modal global di sektor pertanian, dan perdagangan bebas merupakan ancaman terhadap upaya penegakan kedaulatan pangan di suatu negara.

Henry mengutarkan, perlawanan terhadap WTO dan perjanjian perdagangan bebas mendapatkan perlawanan dari para petani kecil yang tergabung di dalam La Via Campesina. Sebagai Gerakan Petani Internasional, La Via Campesina, selama lebih dari 20 tahun telah mengorganisir perjuangan untuk melawan WTO dan praktik-praktik liberalisasi pertanian dan perdagangan bebas di dunia. La Via Campesina telah memobilisasi aksi di hampir semua Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO, sejak Seattle (1999), Cancún (2003), Hongkong (2005), sampai ke Bali (2013) dan Nairobi (2015).

“Salah satu momen penting terkait perlawanan petani terhadap WTO adalah aksi bunuh diri seorang petani asal Korea Selatan, Lee Kyung Hae, pada tanggal 10 September 2003. Peristiwa ini terjadi di tengah-tengah berjalannya aksi protes dari para petani menyikapi pertemuan Tingkat Menteri WTO di Cancun, Meksiko. Tindakan Lee Kyung Hae untuk mengakhiri hidupnya, merupakan wujud dari kefrustrasian petani kecil yang menjadi korban dari perdagangan tidak adil yang dijalankan WTO,” sambungnya.

“Kematian Lee Kyung Hae pada tanggal 10 September 2003 kemudian diperingati sebagai ‘Hari Aksi Global Melawan WTO dan FTA’ yang diperingati setiap tahunnya oleh petani La Via Campesina yang terdiri atas 183 organisasi dan tersebar di 81 negara,” ungkapnya.

Henry menambahkan, di tengah semakin kuatnya dominasi WTO di sektor pertanian saat ini, para petani kecil memiliki harapan baru untuk keluar dari situasi ini. Setelah 17 tahun berjuang di berbagai tingkatan, pada tanggal 18 Desember 2018 lalu, lahirlah sebuah Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Petani dan Orang-Orang yang Bekerja di Daerah Pedesaan (UNDROP). Deklarasi ini merupakan sebuah instrumen hukum internasional yang bertujuan untuk melindungi hak-hak petani kecil dan masyarakat pedesaan di seluruh dunia, seperti hak petani atas tanah, air, benih, dan sumber-sumber agraria lainnya. Deklarasi ini dapat menjadi alat perjuangan bagi para petani kecil untuk melawan dominasi WTO saat ini.

“Oleh karena itu, SPI secara khusus meminta kepada pemerintah Indonesia untuk segera mengharmonisasikan isi dari UNDROP, demi memperkuat penegakkan kedaulatan pangan di Indonesia,” tambahnya.

Henry mengakhiri dengan menyampaikan, pada tanggal 10 September 2019 ini SPI sebagai bagian dari La Via Campesina, menyerukan kepada seluruh petani Indonesia dan rakyat Indonesia untuk terus berjuang menegakkan kedaulatan pangan dan mengakhiri rezim perdagangan bebas di bawah WTO maupun perjanjian-perjanjian perdagangan bebas lainnya. Praktik-praktik perdagangan bebas yang menyengsarakan petani kecil sudah selayaknya diakhiri dan diganti dengan sebuah kerjasama perdagangan yang saling menghormati dan saling membantu dalam prinsip solidaritas.

“Kita harus mengakhir persaingan dagang atau yang disebut perang dagang saat ini untuk tercapainya perdamaian dunia sesuai dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia,” tutupnya.(red)

Categories
Ekonomi Nasional

Presiden Jokowi Bakal Tempatkan 1.000 Sarjana Muda Papua di BUMN

Koran Jurnal, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan 61 tokoh Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/09/2019).

Dalam pertemuan tersebut, para tokoh Papua menyampaikan usulan dan aspirasi mereka langsung kepada Presiden.

Kepala Negara yang telah mengunjungi daerah-daerah di Papua sebanyak 12 kali ini, menanggapi beberapa aspirasi yang sebagian besar berfokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM).

“Tadi yang disampaikan oleh Pak Abisai Rollo mengenai pembangunan SDM itu betul. Sangat diperlukan yang namanya pembangunan SDM karena SDM ini menjadi kunci,” ujar Presiden.

Abisai Rollo, seorang tokoh masyarakat Papua yang mewakili para tokoh Papua menyampaikan sejumlah aspirasi, berharap kepada pemerintah untuk mendorong generasi muda Papua agar dapat menempuh pendidikan dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri yang lebih baik sehingga nantinya mampu memberikan bakti lebih bagi pembangunan negara.

“Bapak Jokowi sebagai sobat kami di Papua, kami sangat berharap dengan keserasian investasi di bidang SDM ini maka stigma negatif tidak lagi diletakkan kepada kami. Generasi muda kami memiliki masa depan dan mereka tidak pernah melupakan sejarah bangsa yang besar ini,” ucap Abisai.

Terkait dengan hal tersebut, Presiden Jokowi memberikan respons dan menggunakan kewenangan yang dimilikinya agar tenaga-tenaga muda Papua dapat diserap oleh BUMN-BUMN serta perusahaan lainnya.

“Siang hari ini saya mau buka (lapangan kerja), ini untuk BUMN dan perusahaan swasta besar yang akan saya paksa. Kalau lewat prosedur nanti kelamaan. Jadi kewenangan saya, saya gunakan untuk bisa menerima yang baru lulus mahasiswa dari Tanah Papua,” kata Presiden.

Presiden melanjutkan bahwa dirinya, dalam tahap pertama, akan mengalokasikan kesempatan kerja bagi 1.000 sarjana muda Papua. Menurutnya, dalam sejumlah kunjungan ke luar negeri, Presiden beberapa kali bertemu dengan para mahasiswa asal Papua yang memiliki kualitas kemampuannya tak diragukan.

“Saya bangga, waktu saya ke California di Amerika, saya bertemu mungkin dengan 12 mahasiswa kita yang dari Papua. Bukan pintar-pintar, (tapi) sangat pintar-pintar. Waktu saya ke New Zealand juga ketemu dengan lebih dari 10 mahasiswa dari Tanah Papua. Saya lihat juga pintar-pintar semuanya,” tuturnya.

Selain itu, Kepala Negara juga akan membuka kesempatan yang lebih luas bagi para ASN Papua untuk dapat berkontribusi lebih bagi pembangunan dengan menempatkan putra-putri Papua di tingkatan eselon sejumlah kementerian dan lembaga negara.

“Mengenai masalah PNS tadi supaya juga ada penempatan di provinsi-provinsi yang lain termasuk mulai kita atur di eselon 1, eselon 2, dan eselon 3,” ujarnya.(DBPers/red)

Categories
Ekonomi

PERAGI: Mentan Rubah Wajah Pertanian Indonesia Lebih Modern dan Disegani

Koran Jurnal, Jakarta – Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) mengapresiasi penerapan inovasi teknologi dan mekanisasi pertanian yang gencar dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) selama lima tahun terakhir. Penerapan ini dinilai tepat karena telah merevolusi wajah pertanian Indonesia menjadi lebih modern.

“Kami melihat gerakan revolusi dan inovasi yang dilakukan Kementan dibawah pimpinan Pak Andi Amran Sulaiman sudah membawa perubahan signifikan dan hasil yang dirasakan oleh petani,” ujar Ketua Umum PERAGI, Prof. Moh. Syakir, Sabtu (07/09/2019) di Bogor. Dalam 5 tahun terakhir program Kementan berhasil meningkatkan level atau tingkat mekanisasi pertanian Indonesia sebesar 236%.

Ketua umum PERAGI menilai program-program yang dilakukan Mentan Andi Amran sangat sesuai dengan visi utama oraganisasinya, yaitu menghasilkan sistem pertanian moderen dan efisien dengan berbasiskan penerapan inovasi teknologi di bidang agronomi.

“Penerapan teknologi dan inovasi terbaru di bidang agronomi sangat terlihat dalam kebijakan Mentan saat ini, seperti program optimalisasi pemanfaatan lahan sub optimal, penggunaan bibit unggul, peningkatan produksi dan produktivitas, juga usaha mendorong peningkatan nilai tambah komoditas melalui peningkatan kualitas produk pertanian,” jelasnya.

Usaha mendorong modernisasi pertanian melalui mekanisasi juga dinilai sukses. Berdasarkan data Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BB Mektan), Badan Litbang Pertanian, pada tahun 2018, level mekanisasi pertanian Indonesia meningkat 236% menjadi 1,68 HP (horse power)/hektare (ha), dari sebelumnya tahun 2015 level mekanisasi pertanian Indonesia baru 0,5 HP/ha.

Syakir mengatakan, pertanian Indonesia juga mampu berbicara banyak di forum internasional, serta mendapat pengakuan dari Badan Dunia dan negera-negara sahabat. Bahkan sebelumnya, Bappenas menilai belanja alsintan Kementan merupakan inovasi pendanaan pemerintah karena mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Bappenas mengatakan peningkatan 1 persen belanja Alsintan, maka akan mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah. Ini luar biasa sekali,” ujar Syakir. Selain itu PERAGI menilai pertumbuhan sektor pertanian sebesar 3,7 dan mampu melewati target yang ditetapkan sebesar 3,5 merupakan capaian kinclong Menteri Pertanian saat ini.

Sekedar diketahui, PERAGI adalah organisasi profesi para profesional, pemerhati, dan pecinta ilmu terapan di bidang pertanian. Sedangkan agronomi adalah salah satu cabang utama ilmu pertanian yang dirintis para gurur besar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1977.

“Ilmu ini mencakup tentang perbenihan, pertanaman/budidaya hingga masa panen,” ujarnya.

Untuk terus membumikan itu, kata Syakir, Perhimpunan Agronomi Indonesia dalam waktu dekat akan mengadakan Kongres besar. Rencananya, acara akan dihadiri oleh ratusan delagasi dari 34 provinsi seluruh Indonesia pada 24 September 2019.

“Kami menilai pertanian dalam 5 tahun terakhir sudah sangat berubah dan telah mengubah mindset kita ke memodernisasi industri dan teknologi pertanian. Harapan kami Presiden Jokowi tetap mempertahankan dan melanjutkan program-program seperti ini,” tandasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi Jurnal Foto

KSPI dan Elemen Masyarakat Menolak Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan

Categories
Ekonomi

Bangun Penyangga Pangan, Mentan Amran Optimis Ibu Kota Baru di Kaltim Tanpa Impor

Koran Jurnal, Balikpapan – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman optimis bisa membangun kemandirian pangan untuk Ibu Kota baru negara di Kalimantan Timur (Kaltim) tanpa harus disuplai dari negara lain alias impor. Strateginya yakni pengembangan kawasan komoditas sebagai penyangga pangan melalui sistem klaster budidaya untuk masing-masing 10 kabupaten di Kaltim.

“Kata kuncinya kami membangun Kota baru yang mandiri pangan. Mimpi besar kami adalah menyiapkan pangan untuk penduduk di Ibu Kota baru, kita siapkan lebih awal. Nantinya di tahun 2024, kebutuhan pangan langsung dipenuhi sendiri dari masyarakat Kaltim, karena umur komoditas hortikultura 2 sampai 3 tahun sudah berbuah,” demikian papar Amran saat menjadi pemateri dalam Rapat Koordinasi Nasioanl II Korps Alumni Mahasiawa Islam (KAHMI) dengan tema Mewujudkan Kemandirian Energi dan Pangan Bagi Kesejahteraan Rakyat di Balikapapan, Sabtu (31/08/2019).

Amran optimis ini terwujud karena Kaltim memiliki potensi yang sangat luar biasa, yakni lahan pertanian yang masih original dan luas. Ada 10 kabupaten di Provinsi Kaltim yang dijadikan sebagai kawasan penyangga pangan sehingga ke depan Ibu Kota baru dipastikan mandiri pangan.

Kabupaten Berau dibangun menjadi sentra produksi jagung dan bawang merah, Kabupaten Bulungan dan Nunukan sebagai sentra padi, cabai dan bawang merah dan Malinau sebagai sentra produksi padi dan jagung. Selanjutnya, Kabupaten Tana Bumbu menjadi sentra produksi padi dan cabai, Tanah Laut sebagai sentra padi, jagung, cabai dan bawang merah, Kapuas Hulu sebagai sentra padi, cabai dan bawang merah, Ketapang sebagai sentra cabai, Kutai Barat sentra padi dan jagung dan Kabupaten Paser sentra padi, cabai dan bawang merah.

“Untuk penyediaan daging sapi, ayam, buah-buahan dan komoditas lainnya dibangun klaster. Jadi kabupaten mana yang memproduksi ayam dan seterusnya,” terang Amran.

Amran menambahkan membangun klaster ini sejalan dengan gagasan besar Presiden Jokowi. Masing-masing kabupaten akan dibangun klaster -klaster komoditi pertanian yang dikoperasikan. Kemudian koperasi nantinya dikoorporasikan sehingga klaster tersebut menjadi kuat yang pengelolaannya dengan sistem teknologi yang tinggi, biaya murah, profitable dan pengolahannya tentu dari hulu ke hilir.

“Oleh karena itu, membangun Ibu Kota baru tanpa impor pangan sebab pangan dapat diproduksi masyarakat Kalimantan Timur sendiri,” tegasnya.

Perlu diketahui, melansir data BPS, kinerja pembangunan sektor selama pemerintahan Jokowi-JK menuai hasil membanggakan. Misal, rata-rata kenaikan ekspor pertanian per tahun sebesar 2,4 juta ton dan tercatat sejak pemerintahan Jokowi-JK, ekspor naik 9 juta ton. Tahun 2013, total ekspor hanya 33 juta ton, namun di tahun 2018 mencatat nilai tertinggi yakni 42,5 juta ton.

BPS pun mencatat, terjadi penurunan inflasi bahan makanan yang sangat signifikan dari 10,57 persen tahu 2014 menjadi 1,69 persen pada tahun 2018. Nilai PDB Pertanian pun naik, yakni dari target PDB 3,5 persen, pertanian mampu menembus 3,7 persen. Begitu pun penduduk miskin di pedesaan menurun dari 14,17 % pada tahun 2014 menjadi 13,2 % pada tahun 2018.

BKPM pun mencatat, investasi sektor pertanian meningkat tajam. Tahun 2013 hanya Rp 29,3 triliun, namun di tahun 2018 naik menjadi Rp 61,6 triliun sehingga naik 110%.

Pada Rakor Kahmi ini, Amran menyerahkan bantuan untuk kelompok tani binaan Kahmi berupa traktor roda 4 sebanyak 10 unit, bibit jagung untuk 100 ribu ha dan bibit tanaman dan hortikultura untuk 50 ribu ha.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran: Alsintan Penting untuk Cegah Kebakaran Lahan dan Guna Kesejahteraan Petani

Koran Jurnal, Banyuasin – Menteri Pertanian Amran sulaiman sangat gembira melihat perkembangan program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani atau SERASI di Sumatera Selatan, Rabu (28/08/2019) bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, dan pejabat Kementan lainnya. Amran mengatakan rawa punya potensi yang luar biasa untuk dikembangkan mendukung program swasembada nasional.

Selain itu, Amran menilai penting saat ini bagaimana menekan kebakaran lahan, dengan memberikan petani alat mesin pertanian untuk melakukan olah tanah dan tidak membakar lahan.

“Kita dorong olah tanah dengan alat mesin pertanian, yaitu menggunakan rotavator. Kita gunakan teknologi modern. kita menggunakan eksavator, menggunakan traktor roda 4 dan seterusnya,” tegas Menteri Amran.

Lebih lanjut Mentan mengatakan saat musim kering penting bagi masyarakat untuk menekan kebakaran lahan tidur di area rawa. Kementan mendorong agar lahan tidur tersebut digarap, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Sumatera Selatan.

“Bapak Presiden mendorong agar pencegahan kebakaran lahan rawa dengan modernisasi pertanian kita. Menghentikan kebiasaan mereka membakar lahan sebelum bertani. Alsintan akan sangat membantu bagi mereka,” kata Amran.

Kementan sudah menurunkan 1.700 alat mesin pertanian, eskavator sebanyak 118 unit dan tambahan 10 unit pada hari ini. “itu sudah 120 unit dan nilainya 300-400 miliar. Tidak tanggung-tanggung ini untuk kesejahteraan petani dann sekaligus menekan kebakaran. Alhamdulillah kami dengar langsung dari Pak Gubernur kebakaran hari ini sudah jauh menurun,” ujar Mentan.

Selama ini lahan di Sumatera Selatan rawan kebakaran dan ekspor asap ke negara tetangga sewaktu musim kemarau, namun Mentan optimis apabila ditanami komoditas pertanian memanfaatkan alat modern, produksi akan meningkat.

“Kami target meningkatkan kesejahteraan petani kita yang dulu tanam 1 kali sekarang menjadi tiga kali. kan bisa meningkat pendapatannya dua kali atau tiga kali lipat. kalau ini nanti berhasil target 200 ribu hektar itu meningkatkan pendapatan Sumatera Selatan 14 triliun. Kalau nanti dua kali lipat luas tanam, tahun depan, Tambah meningkat 30 triliun. ini luar biasa mendorong kesejahteraan petani dan menekan kemiskinan, ” kata Amran yang disambut antusias masyarakat Banyuasin.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang, Penuhi Permintaan Bahan Energi Hijau Dunia

Koran Jurnal, Padang –  Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melepas 22,8 ribu ton produk turunan sawit asal Sumatera Barat. Produk turunan sawit  masing-masing minyak sawit berupa  RBD sebanyak 4 ribu ton, CPO sebanyak 7,8 ribu ton dengan tujuan Tiongkok. Juga produk samping atau by product berupa cangkang  sebanyak 11 ribu ton ke Jepang.

“Untuk urusan ekspor, sesuai instruksi Menteri Pertanian harus diberikan ‘karpet merah’. Kami pastikan layanan cepat, tepat dan sesuai persyaratan teknis negara tujuan,” kata Ali Jamil, Kepala Barantan saat meninjau industri cangkang sawit di Padang, Sabtu (25/08/2019).

Jamil menjelaskan selaku fasilitator perdagangan produk pertanian, pihaknya menjadi penjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian yang  dilalulintaskan ke negara mitra dagang.

Perlakuan pemeriksaan karantina dilakukan sesuai dengan standar internasional dan persyaratan tiap negara tujuan.

“Penguatan sistem perkarantinaan tidak hanya untuk menjaga kelestarian SDA hayati, tapi sekaligus juga untuk mendorong kinerja ekspor pertanian,” tambahnya.

Percepatan Layanan dengan Digitalisasi

Penerapan sertifikasi online atau e-Cert telah dilakukan Barantan untuk menjamin keberterimaan produk pertanian di negara tujuan ekspor.

Pertukaran data ini memungkinan pemeriksaan pemenuhan persyaratan teknis dilakukan sebelum produk sampai. Sehingga jika ada ketidak kesesuaian dapat segera diantisipasi perlakuan karantinanya.

Layanan digital yang memberikan solusi berkelanjutan. “Saat ini baru ada 4 negara, Australia, Selandia Baru, Belanda dan Vietnam. Kedepan akan terus kami jajagi kerja sama ini. Pak Mentan menginstruksikan kalau bisa kedepan semua negara,” pungkas Jamil.

Eka Darnida Yanto, Kepala Karantina Pertanian Padang menyebutkan selain produk turunan sawit pada hari yang sama juga diekspor produk pertanian lain asal Sumbar.

Total ekonominya mencapai Rp. 212,8 milyar. Terdiri dari lempeng karet sebanyak 604,8 ton, biji kopi sebanyak 18 ton, kayu manis sebanyak 95 ton dan produk turunan kelapa yang terdiri dari santan 83,8 ton, kelapa parut 25 ton dan air kelapa sebanyak 71,2 ton.

Adapun negara tujuan ekspor antara lain Belanda, Spanyol, Norwegia, Tiongkok, Bangladesh dan Jerman.

Eka menjabarkan eksportasi cangkang sawit dari data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST diwilayah kerjanya tercatat adanya peningkatan sebesar 28%.

Total ekspor di tahun  2018 sebanyak 404,8 ribu ton sementara hingga minggu ke-2 Agustus 2019 ekspor cangkang sawit telah telah mencapai  344,4 ribu ton, jelas Eka.

Secara khusus Gubernur Sumbar yang diwakili oleh  Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumbar, Chandra dalam sambutannya mengapresiasi tumbuhnya industri turunan asal sawit berupa cangkang.

Chandra yang hadir dan turut melepas ekspor ini dalam sambutannya berharap Kementan dapat memberikan tambahan bantuan mulai dari benih unggul, budidaya hingga peningkatan kemampuan SDM disamping penjaminan produk di pasar ekspor.

Dengan keunggulan sebagai biomassa dan harga yang lebih murah dibanding sumber energi asal fosil, Kadistan yakin bahwa cangkang sawit sebagai  energi hijau  bakal menjadi kebutuhan dunia, tutup Chandra.(hum/red)

Categories
Ekonomi Jurnal Foto

INKA dan Perencana Dingin Sdn Bhd Tanda Tangani Perjanjian Lisensi Produk Pendingin Merek ‘DINGIN-INKA AC’

Categories
Ekonomi

Kementan Dorong Kemandirian Pakan Ternak 

Koran Jurnal, Yogyakarta – Untuk mendukung Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) dan Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menugaskan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bersama Badan Litbang Pertanian menginisiasi kegiatan pengembangan pakan dalam rangka mewujudkan kemandirian penyediaan pakan ternak di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Direktur Pakan, Sri Widayati mewakili Dirjen PKH pada acara Rapat Koordinasi Kemandirian Pakan Tahun 2019 di Yogyakarta, 22-23 Agustus 2019.

Sri Widayati menyampaikan bahwa kegiatan kemandirian pakan tahun 2019 merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Pertanian yang disampaikan saat Kunjungan Kerja di Balitnak, Bogor pada tanggal 15 Mei 2019. Menindaklanjuti arahan tersebut, pada tahun 2019 ini Ditjen PKH telah menyusun Pilot project Kemandirian Pakan di 11 Provinsi dan 23 kabupaten/kota serta telah melakukan identifikasi terhadap 13 kelompok pengolah pakan unggas dan 20 kelompok pengolah pakan Ruminansia yang aktif melakukan kegiatan pengolahan dan produksi pakan di daerah percontohan tersebut.

“Kegiatan pilot project Kemandirian Pakan ini dimaksudkan untuk menyediakan pakan berkualitas dengan harga terjangkau, dan berbasis sumber daya lokal di lokasi atau yang berdekatan dengan lokasi Program Bekerja dan UPSUS SIWAB” tambahnya.

Menurutnya Kementan telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 15,65 Milyar yang diperuntukkan bagi pengadaan bahan pakan, alat dan mesin pengolah pakan, perbaikan dan/atau pembangunan gudang produksi, operasional kelompok, serta pembinaan yang didalamnya terdapat bimbingan teknis pengolahan dan produksi serta pengembangan kewirausahaan.

Arnold P. Sinurat, anggota Komisi Ahli Pakan yang bertindak sebagai narasumber pada acara tersebut, menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat masalah utama yang menjadi kendala pengembangan pakan mandiri di Indonesia. Salah satunya terbatasnya informasi hasil akademis bahan baku pakan lokal. Kalaupun ada belum dapat dipastikan kontinuitas pasokannya.

“Selain itu permasalahan mekanisasi dalam pencampuran bahan pakan, sulit diperoleh pakan yang homogen bila pencampuran dilakukan dengan manual itu pasti memerlukan bantuan mesin, supaya dihasilkan campuran yang lebih masif,” tambahnya.

Sementara itu, I Gusti Made Noor Kuswandana, Inspektur IV, Inspektorat Jenderal, Kementerian Pertanian, menekankan perlunya percepatan pelaksanaan kegiatan yang diawali dengan identifikasi titik-titik kritis sebagai acuan dalam pengendalian risiko pada setiap tahapan proses bisnis. Titik kritis tersebut meliputi sosialisasi, verifikasi kelompok, proses pengadaan barang jasa, distribusi dan penyerahan paket bantuan, pengelolaan bantuan, penyerahan hibah, serta keberlanjutan usaha.

Senada dengan pernyataan tersebut, Direktur Pakan menyatakan diperlukannya identifikasi sumber daya produksi (seperti jumlah, penyedia, harga dan kontinuitas ketersediaan bahan pakan), serta rencana produksi dan pemasaran pakan pada rentang waktu bulan Agustus sampai dengan Desember 2019. Sri Widayati juga berpesan agar setiap satker secara aktif membangun jejaring kerja antar stakeholdeuntuk saling menguatkan, seperti sharing informasi ketersediaan dan harga bahan pakan local untuk dimanfaatkan. Hal ini mendesak dilakukan agar pilot project berjalan efektif, efisien, menghasilkan pakan berkualitas berbasis sumber daya lokal dan berkelanjutan dengan harga terjangkau.

“Saya berpesan agar kita bersama-sama dapat mensukseskan kegiatan pilot project ini dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan kegiatan,”ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Ali Agus, Dekan Fakultas Peternakan UGM membagi tips sukses usaha pakan mandiri, dengan memperhatikan 7 aspek penting yaitu bahan baku , formula, quality control, manajemen inventory, cash flow, SDM, serta pasar dan konsumen. Fakultas Peternakan UGM memberi kesempatan dan membuka diri kepada seluruh peserta Rapat Koordinasi dan siapa saja yang berminat, dapat mengunjungi bengkel ternak yaitu suatu aktivitas memperbaiki performans ternak (saat ini sapi dan unggas) melalui perbaikan pemberian nutrisi.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Kementan Kawal Ekspor Sarang Burung Walet Jawa Tengah

Koran Jurnal, Semarang – Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengajak para pelaku usaha sarang burung walet (SBW) di Jawa Tengah untuk meningkatkan kualitas produksinya agar dapat mengambil peluang ekspor komoditas ini yang cukup besar.

“Kita tahu potensi sarang burung walet kita sangat luar biasa. Apalagi negara kita merupakan habitat utama yang paling cocok dengan perkembangbiakan walet. Indonesia adalah pemasok terbesar pasar global, bahkan sampai 78 persen,” ujar Ali Jamil saat melepas ekspor SBW asal Jawa Tengah sebanyak 181 kg tujuan Tiongkok di Kantor Karantina Pertanian Semarang, Rabu (21/08/2019).

Jamil juga menambahkan bahwa ekspor sarang burung walet Indonesia tahun 2018 bisa mencapai Rp 40 triliun. Ini potensi besar dan telah terbukti menghasilkan devisa. Dan tata niaganya akan terus dikawal agar dapat terus bertumbuh dan memenuhi peluang pasar ekspor yang ada.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo yang turut hadir dan melepas ekspor, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Kementan  yang telah memberikan layanan khusus pada komoditas pertanian asal wilayah kerjanya untuk dapat diekspor ke mancanegara.

Ganjar  juga mengapresiasi para eksportir yang sudah melakukan upaya agar komoditas pertanian Jateng bisa tembus pasar Internasional.

Pada saat membuka dialog kepada para eksportir yang hadir khususnya tentang hambatan yang dialami. Joko eksportir walet ke Tiongkok, mengeluhkan tidak adanya penerbangan langsung dari Semarang ke Tiongkok.

Ganjar mengajak Joko dan eksportir walet serta komoditas lainnya tujuan Cina untuk berkoordinasi dan mendata potensi yang ada. Jika cukup banyak, ia akan  melobi pihak maskapai untuk membuka penerbangan langsung dari Semarang ke Tiongkok.

Tidak hanya melepas SBW, Kepala Barantan dan Gubernur Jateng  juga melepas perdana ekspor produk samping tepung gandum berupa biskuit sebanyak 300 ton ke Bangladesh. Negara tujuan ekspor ini mempersyaratkan adanya jaminan kesehatan dan keamanan dari otoritas Karantina pertanian Indonesia.

Sementara, produk pertanian lain yang juga  diekspor pada saat yang sama adalah daun cincau kering (jelly grass) sebanyak 28 ton tujuan Malaysia, gula merah 35 ton tujuan Srilangka, ijuk (brooms grass) sebanyak 18 ton tujuan Tiongkok, margarine sebanyak 23 kg tujuan Banglades.(hum/red)