Categories
Ekonomi

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakati 14 Area Kerjasama Bidang Pertanian 

Koran Jurnal, Abu Dhabi – Dihadapan Presiden Joko Widodo dan Crowne Prince Muhammed Bin Zayed Al Nahyan, telah dilakukan pertukaran dokumen kerja sama antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Pemerintah Indonesia diwakili Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi dan Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA Thani bin Ahmed Al Zeyoudi. Pertukaran dokumen kerjasama ini salah satunya di bidang pertanian.

Kedepan akan dibangun kerjasama kedua negara yang mencakup 14 area kerjasama di bidang pertanian dan diversifikasi pangan, diantaranya proses dan produksi tanaman, peternakan dan pertanian, sanitasi dan phytosanitary, teknologi dan infrastruktur pertanian.

Selain itu juga kerjasama di bidang science dan teknis, keamanan makanan, teknis dan teknologi industri pertanian modern, asuransi pertanian, skema keuangan agrikultur, sistem informasi dan komunikasi pertanian. Peningkatan kemampuan SDM melalui capacity building, fasilitas dagang dan pertanian, dan area terkait lainnya.

Mentan Syahrul Yasin Limpo menilai strategis kerjasama antar negara ini. Secara khusus Mentan meminta semua pihak di Kementan optimalkan kerjasama ini.

Menurutnya, Uni Emirat Arab punya keterbatasan dalam memproduksi pangan, namun teknologi yang dimiliki dapat diadopsi. Teknologi modern pertanian di lahan gurun dengan kering salah satunya.

“Banyak hal yang dapat diperoleh dari kerjasama ini. Dan negara kita pun sangat besar dan punya potensi sumberdaya pertanian. Kita tangkap peluang ini untuk meningkatkan ekspor dan transfer teknologi,” kata SYL, Selasa (14/01/2020).

Dalam kunjungan Presiden Jokowi di PEA ini, turut dilakukan pertukaran dokumen MOU antara Elite Agro LLC, PEA dan Badan Litbang Pertanian Indonesia. Kerjasama bertema “Research and Development Collaboration for Agricultural Crops Commercialization” ini akan dilakukan di Lembang, Jawa Barat. Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry menerima dokumen secara resmi dari CEO Elite Agro Group Abdulmonem Al Marzooqi.

Menurut Fadjry, kerjasama ini untuk memperluas hubungan antar kedua belah pihak, dalam upaya komersialisasi dan transfer pengetahuan serta teknologi di bidang pertanian, khususnya hortikultura.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Orientasi Ekspor Beras, Kementan Bangun Program Komando Strategi Penggilingan Padi

Koran Jurnal, Depok – Pemasaran beras berorientasi ekspor menjadi prioritas program Kementerian Pertanian (Kementan). Tahun 2020 Kementan menargetkan ekspor beras sebanyak 500 ribu ton. Dalam rangka mendukung program tersebut, Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman menginisiasi program Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling) yang melibatkan juga usaha-usaha penggilingan.

Dalam menjalankan perannya, Kementan tidak dapat bekerja sendiri, perlu keterlibatan semua pihak baik Kementerian/Lembaga pemerintah maupun non pemerintah agar dapat bergerak pada aspek hulu hingga hilir termasuk dengan para pengusaha Pengglingan Padi dan Pengusaha Beras yang tentunya dapat berkontribusi positif dalam pembangunan pertanian nasional.

“Modernisasi pertanian dapat terbentuk jika ekosistem pertanianya tersambung dari awal hingga akhir, sehingga apabila pertanian maju maka aspek-aspek lain juga turut maju,“ ujar Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam Pencanangan dan Sosalisasi Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling) Tahun 2020, di Margo Hotel, Depok, Jawa Barat, Senin (13/01/2020).

Untuk itu, melalui Kostraling ini Mentan mengajak para pelaku usaha penggilingan padi agar dapat bekerjasama dengan poktan/Gapoktan khususnya yang pernah menerima alat Rice Milling Unit (RMU)/dryer agar saling bantu guna dapat menjaga kualitas produknya, termasuk dalam hal pemasarannya.

“Saya berharap seluruh pelaku usaha penggilingan padi dapat bergabung dengan Kostraling, saya berikan kesempatan kepada yang memang siap dan punya integritas untuk membantu dan berfungsi menjadi muara akhir dari ekosistem pertanian,“ kata Syahrul.

Salah satu faktor yang berpengaruh dalam pencapaian kualitas beras adalah kadar air, derajat sosoh, kepecahan, rasa dll yang lebih banyak dipengaruhi oleh penanganan Pasca Panen termasuk yang dilakukan dengan alat penggiling atau RMU maupun dengan alat pengering atau Dryer yang biasanya dikelola oleh pengusaha penggilingan yang juga merupakan atau bekerjasama dengan petani/poktan/gapoktan.

“RMU yang baik apabila prosesnya juga baik dan tidak menyisakan broken yang banyak, untuk itu pilihkan saya orang yang mau bertempur dengan saya mulai bulan Maret ini,” terang Syahrul.

Lebih lanjut Syahrul menjelaskan bahwa Konstraling dalam hal ini adalah sebagai penanggung jawab dan penyangga di bidang pangan. Mengingat agenda tahun ini Mentan merencanakan akan mengekspor beras ke berbagai negara.

“ Tujuan dari Kostraling tidak hanya menyediakan stok beras Nasional, tetapi juga yang sudah berorientasi pada ekspor, karena yang meminta beras dari kita juga sudah ada,” jelasnya.

Sementara itu, Syahrul pun menuturkan bahwa bulan Januari mulai memasuki masa panen, sedangkan bulan Februari sudah masuk 30-40 persen dan pada bulan
April diprediksi akan menjadi puncak panen di beberapa daerah.

“ Untuk itu perlu kita rumuskan nantinya siapa yang siap untuk menyerap dan menggiling hasil panen dari petani,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut Syahrul juga mengungkapkan 3 agenda utama yang akan dijalankan Kostraling antara lain, agenda Quick Wins yaitu agenda untuk penyerapan padi dan gabah pada bulan Maret, lalu agenda Mempersiapkan Kostraling lebih kuat dengan kebenaran sistem dan yang terakhir adalah Permanen agenda yaitu mempersiapkan semua wilayah RMU secara jelas.

“ Intinya adalah penggilingan padi dibutuhkan oleh pertanian, karena tanpa penggilingan padi maka padi tidak akan menjadi beras,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menambahkan industri penggilingan harus siap dan sanggup menyerap gabah petani serta memperbanyak lagi gudang-gudang di penggilingan padi.

“Dalam hal ini, Kementan memiliki program Quick wins, dimana penggilingan bermitra dengan petani dan konsumen. Pasokan harus sustain menjadi hal yang paling utama,” jelasnya.

Suwandi menyebutkan ada kerjasama dengan penggilingan padi untuk ekspor beras 300 ribu ton tahun ini. Selanjutnya pihaknya akan menindaklanjuti dengan membangun nota kesepahaman.

“Pangsa ekspor yang yang potensial di Timur Tengah, PNG dan negara lain,” sebutnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Lepas Ekspor Edamame Jember Senilai 2,6 Miliar Tujuan Jepang

Koran Jurnal, Jember – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor edamame hasil produksi PT Mitra Tani 27 Jember senilai $ 185.200 dollar atau sekitar 2,6 miliar. Ekspor ini merupakan ekspor lanjutan dengan negara tujuan Jepang dan 12 Negara-negara lain di Asia.

“Saya kira apa yang dilakukan hari ini menunjukan bahwa Indonesia adalah negara hebat dan luar biasa. Hari ini kita membuktikan bahwa edamame menjadi satu contoh kekuatan bangsa ini, dimana Kabupaten Jember sebagai penghasil produk pertanian yang bisa mengantarkan kesejahteraan,” ujar Syahrul, Kamis (26/12/2019).

Menurut Syahrul, akselerasi ini harus menjadi pemicu bagi perusahaan lain di seluruh daerah untuk meningkatkan ekspor hingga tiga kali lipat. Kata dia, sektor pertanian harus menjadi pilihan tepat bagi kekuatan ekonomi bangsa dan negara.

“Karena itu ayo kita dorong kegitan ekspor ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Kan membuat pertanian menjadi hebat itu adalah tempat kita membuka ruang bagi rakyat, dan tempat usaha bagi ekonomi yang sangat terbuka. Pertanian itu adalah sarana bagi orang orang untuk berbuat ibadah,” katanya.

Syahrul mengatakan, pertanian itu harus bisa menurunkan angka kemiskinan melalui pembukaan lapangan pekerjaan. Kegiatan ekspor harus membuka ruang kerja bagi rakyat yang masih berada di lingkaran pengangguran.

“Pekerjaan kita adalah membuat orang miskin makin sedikit dan membuka lapangan pekerjaan lebih banyak. Kalau begitu jawabnya ada pada sektor pertanian. Makanya pertanian itu bicara negara dan bicara lapangan kerja,” katanya.

Direktur PT Mitra Tani 27, Dwi Anurogo menyampaikan terimakasih atas dorongan Menteri Pertanian dalam membangun kegiatan akselerasi ekspor edamame melalui program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Geratieks).

“Terimakasih kepada bapak Menteri atas kunjungannya ke perusahaan kami, dimana PT Mitra Tani 27 saat ini telah mengembangkan berbagai produk ekspor pertanian,” katanya.

Dwi menjelaskan, saat ini perusahaanya memiliki 2500 karyawan dengan mitra tani sekitar 4000 petani. Ke depan, kata dia, Mitra Tani akan mengembangkan produk strategis lainya seperti tembakau dan gula yang menjadi produk utama mitra tani.

“Ekspor ini merupakan kebanggan bagi PT Mitra Tani 27 yang bergerak di bidang gula dan tembakau. Ke depan kami akan terus mengembangkan produk kami sesuai arahan Bapak Menteri terkait gerakan tiga kali lipat ekspor,” tukasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Komisi IV DPR RI Dukung Kementan Kembangkan Sapi Aceh

Koran Jurnal, Aceh – Anggota Komisi IV DPR RI memberikan perhatian dan dukungan kepada Kementerian Pertanian, khususnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) yakni Balai Pembibitan Ternak Unggul – Hijauan Pakan Ternak (BPTU – HPT) Indrapuri dalam mengembangkan ternak unggul Sapi Aceh dan pengembangan hijauan pakan ternak yang berkualitas. Hal tersebut disampaikan Ketua rombongan Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi yang didampingi oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita saat melakukan serangkaian kunjungan kerja tiga hari yang dimulai pada tanggal 18 Desember 2019, dan salah satunya ke BPTU – HPT Indrapuri di Provinsi Banda Aceh.

“Kami mendukung pengembangan Sapi Aceh untuk terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya, sehingga dapat berkontribusi dalam swasembada protein hewani di Indonesia,” ungkapnya. Dedi juga menyampaikan bahwa Sapi Aceh terkenal karena dagingnya yang lezat, sedangkan sapinya sendiri memiliki penampilan yang manis, dan jantannya mantap.

Kunjungan kerja rombongan anggota Komisi IV DPR ini disambut oleh Kepala BPTU – HPT Indrapuri, Vierman beserta jajaran. Dalam kunjungannya, Dedi Mulyadi berharap BPTU – HPT Indrapuri dapat terus meningkatkan produksi dan populasi ternak unggul, serta peningkatan kualitas pakan. Hal tersebut penting dalam upaya meningkatkan populasi ternak yang berkualitas di Indonesia dan dapat mewujudkan swasembada protein hewani.

“Kunjungan kerja ke Aceh bertujuan untuk melihat langsung, sekaligus memonitor dan mengevaluasi sampai sejauh mana perkembangan sektor peternakan yang dilakukan oleh pemerintah, khususnya terkait dengan program Ditjen PKH, Kementan yang memiliki target meningkatkan populasi ternak sekaligus untuk mewujudkan swasembada protein hewani,” ungkapnya.

Ketua Komisi IV DPR RI beserta rombongan juga menyempatkan diri untuk berkeliling melihat aktivitas pegawai, Sapi Aceh, serta padang rumput yang ada di BPTU – HPT Indrapuri. Rombongan berkesempatan melepas Sapi Aceh yang sudah bersertifikat ke BBIB Singosari dan BIB Lembang untuk dijadikan pemacek dalam mendukung program peternakan.

“Setelah melihat ini semua, kami berikan dukungan, dan kalau bisa balai seperti ini juga dikembangkan ke daerah lain di Indonesia yang mempunyai sentra peternakan” kata Dedi Mulyadi.

Pada kesempatan tersebut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita menjelaskan profil BPTU – HPT Indrapuri yang secara khusus hanya memelihara Sapi Aceh. Tercatat bahwa sampai tanggal 30 November 2019, populasi Sapi Aceh di balai tersebut mencapai 991 ekor yang terdiri dari dewasa jantan sebanyak 203 ekor, dewasa betina sebanyak 476 ekor, muda jantan sebanyak 99  ekor, muda betina sebanyak 88 ekor, anak jantan sebanyak 58 ekor, dan anak betina sebanyak 67 ekor. Adapun angka kebuntingan per November 2019 sebanyak 200 ekor, produksi bibit sebanyak 82 ekor, dan kelahiran ternak sebanyak 121 ekor.

Ketut juga menyampaikan berbagai jenis hijauan pakan ternak yang ada di Indrapuri yakni Rumput Brachiaria Decumbens (BD), Rumput Braehiaria Hummidicsla (BH), Rumput Benggala, Rumput Gajah Odot, Rumput Lampung, Ledisgotora Sp (Tarum), Lantoro Mini dan Indigofera.

Secara khusus, Ketut meminta balai untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan, karena ia masih melihat adanya lahan-lahan yang belum termanfaatkan untuk pengembangan sapi dan hijauan pakan ternak, bahkan masih ada bagian lahan yang belum dipagari sehingga hewan liar atau milik masyarakat dapat masuk ke kawasan.

“Saya juga minta fasilitas balai agar diperbaiki dan dilengkapi. Termasuk penyiapan akses ke sumber air melalui pipanisasi,” pintanya.

Sementara Vierman menyampaikan bahwa BPTU – HPT Indrapuri telah meraih beberapa prestasi antara lain pada tahun 2018 meraih sertifikasi ternak LSPRO sebanyak 40 ekor, yang terdiri dari  32 ekor sapi jantan dan 8 ekor sapi betina. Adapun untuk tahun 2019, balai tersebut meraih sertifikasi ternak LSPRO sebanyak 57 ekor, yaitu terdiri dari jantan 20  ekor dan betina 37 ekor.

Vierman juga menyampaikan terima kasihnya atas kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ini.

“Kami tetap memohon dukungan dari Komisi IV DPR RI dalam membangun peternakan di Aceh,” ucapnya.

Categories
Ekonomi Kesehatan

Ini Kata Pemerintah Soal Penanganan Wabah Demam Babi Afrika di Sumatera Utara  

Koran Jurnal, Jakarta – “Pemerintah menghimbau masyarakat untuk melaporkan bila ada kematian babi atau kesakitan dengan gejala ASF. Jangan menangani dengan membuang ke lingkungan atau sungai,” kata I Ketut Diarmita, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan terkait wabah Demam Babi Afrika di Sumatera Utara.

Kementerian Pertanian secara resmi telah mengumumkan adanya Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, melalui Surat Keputusan yang ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada tanggal 12 Desember 2019.

Pemerintah juga telah melaporkan kejadian Penyakit ASF kepada Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) pada tanggal 17 Desember 2019 melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan selaku otoritas veteriner.

“Penyakit ASF adalah salah satu penyakit hewan yang yang harus di notifikasi (dilaporkan) ke OIE oleh semua negara anggota apabila ada kejadian penyakit tersebut. Hal ini karena ASF merupakan salah satu penyakit hewan yang masuk ke dalam daftar penyakit yang wajib dilaporkan atau notifiable diseases,” ujarnya di Kantor Pusat Kementan, Jakarta.

Ketut menjelaskan bahwa Indonesia sebagai anggota OIE melakukan notifikasi ini setelah mengkonfirmasi keberadaan penyakit ASF di 16 kabupaten/kota di Sumut berdasarkan hasil investigasi Tim Gabungan Ditjen PKH, Balai Veteriner (BVet) Medan dan dinas provinsi/kabupaten/kota terkait, serta terkonfirmasi hasil uji laboratorium.

“Sejak ditemukan adanya indikasi penyakit ASF, pemerintah pusat dan daerah telah melakukan upaya pengendalian. Kita upayakan tidak menyebar lagi sesuai SOP kesiagaan darurat veteriner Indonesia untuk ASF,” tambahnya.

Menurut Ketut, langkah-langkah terpenting dalam penanganan ASF adalah adanya penerapan prinsip-prinsip biosekuriti seperti disposal, penguburan, standstill order, disinfeksi, pengawasan lalulintas ternak babi dan produknya, pelarangan swill feeding, sosialisasi dan pelatihan.

“Untuk semua daerah yang terdampak, Kementan telah memberikan bantuan berupa desinfektan, mesin sprayer, alat pelindung diri dan kantung bangkai. Semua bantuan ini dan pendampingan kepada peternak diberikan melalui posko darurat, disemua tingkatan mulai dari Pusat, provinsi, kab/kota, bahkan tingkat kecamatan,” ungkapnya.

Posko darurat ini telah ditugaskan tenaga medik dan paramedik terlatih. Menurutnya masyarakat dapat langsung melaporkan bila dijumpai babi dengan gejala ASF dan segera ditangani.

Pemerintah menurut Dirjen PKH ini telah menyiapkan anggaran APBN sebesar Rp 5 Milyar, dengan alokasi mendukung kegiatan operasional gabungan penanganan kasus di lapangan.

Perkembangan Kasus ASF di Sumut

Sementara itu, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH pada kesempatan Simulasi Penyakit ASF di Bali, Kamis, 19 Desember 2019, menjelaskan bahwa pada saat ini penyakit ASF masih bisa dibatasi kejadiannya di 16 kabupaten/kota di Sumut. Kabupaten/kota tertular yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Medan.

Ia berharap langkah-langkah penerapan biosekuriti yang dilakukan bersama-sama antara petugas dan masyarakat bisa menekan kemungkinan penyebaran kasus lebih lanjut.

“Penyakit ASF ini penyebabnya adalah virus yang sangat bandel, virus ini tahan lama di lingkungan dan produk babi. Jadi kita harus benar-benar memastikan penerapan biosekuriti yang ketat apabila kita tidak ingin penyakitnya tambah menyebar”, ucapnya.

Namun Fadjar juga menegaskan bahwa penyakit ini bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), jadi produk babi dipastikan tetap aman untuk konsumsi.

Fadjar memaparkan bahwa kejadian penyakit ASF ini telah diprediksi oleh para ahli, termasuk di Indonesia. Sehingga Kementan telah mengambil langkah-langkah antisipasi dengan mengeluarkan beberapa kali surat edaran kepada pemerintah daerah, unit pelaksana teknis Kementan, dan para stakeholder, terkait upaya peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya ASF.

“Sejak kasus ASF pertama di Asia yakni di Tiongkok pada tahun 2018, Ditjen PKH telah mengeluarkan edaran pada bulan Agustus 2018, meminta semua pihak waspada, bersiap, siaga, dan tanggap dalam menghadapi kejadian penyakit ASF”, tambahnya.

Fadjar menjelaskan bahwa Kementan juga telah memperkuat kapasitas unit pelaksana teknis (UPT) balai veteriner di seluruh Indonesia agar mempunyai kemampuan untuk mendeteksi dan menguji penyakit ASF.

Lebih lanjut pemerintah menghimbau agar provinsi lain dengan populasi babi yang tinggi, seperti NTT, Sulut, Kalbar, Sulsel, Bali, Jateng, Sulteng, Kepri, dan Papua agar waspada dan siap siaga terhadap kemungkinan terjadinya penyakit ASF. Hal penting yang perlu dilakukan antara lain sosialiasi kepada peternak dan advokasi kepada pimpinan daerah terkait ancaman ASF.

“Stakeholder terkait telah kita kumpulkan dan kita ajak diskusi terkait ancaman ASF ini dari tahun 2018. Sekarang tinggal bagaimana kita secara bersama-sama mencegah dan menangani penyakit ASF ini dengan serius, untuk menekan ancaman penyebaran penyakit dan meminimalisir kerugian masyarakat,” pungkasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Lampung Timur Siap Jadi Sentra Benih Jagung Hibrida

Koran Jurnal, Lampung Timur – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Kepala Dinas Pertanian TPH Kabupaten Lampung Timur melakukan panen Jagung Hibrida Perbenihan Berbasis Korporasi di Desa Tulung Balak, Batanghari Nuban seluas 60 Ha Varietas Litbang JH 37, Senin (16/12/2019).

Direktur Perbenihan, Ditjen Tanaman Pangan Kementan Takdir Mulyadi menyampaikan harapannya di depan para petani, kalau Kabupaten Lampung Timur akan dikembangkan menjadi sentra perbenihan/lumbung benih jagung hibrida.

“Saya ingin ke depan menjadi Provinsi yang mandiri benih, bisa menyediakan benih jagung hibrida untuk wilayah Lampung, Sumatera dan bahkan berorientasi ekspor dan menghasilkan devisa sesuai dengan arahan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,” demikian kata Takdir dalam acara panen jagung hibrida tersebut.

Takdir menyebutkan tujuan utama program Kementan ini yakni guna menyiapkan ketersediaan benih jagung hibrida nasional yang terus meningkat. Kementan siap membantu dukungan sarana prasarana pendukung korporasi serta pendampingan pembentukan kelembagaan korporasi petani.

“Hal ini akan berlanjut selama 5 tahun. Namun akan dievaluasi dengan target 3 tahun sudah bisa mandiri. Tujuan kebijakan ini meningkatkan nilai tambah petani dan mensejahterakan petani menjadi penangkar yang mandiri yang dikelola dengan kelembagaan koperasi tani,” terangnya.

Perlu diketahui, dukungan ini tidak lepas dari Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) dalam penyediaan benih tetua oleh Balitsereal, dukungan benih, pupuk, pestisida, pompa, alat pasca panen, pendampingan kelembagaan korporasi petani serta dukungan Dinas Provinsi/Kabupaten, Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian TPH Kabupaten Lampung Timur David menyampaikan rasa syukur karena Kabupaten Lampung Timur terpilih sebagai pengembangan perbenihan jagung hibrida berbasis korporasi petani. Hal tersebut menurutnya seiring dengan keinginan Gubernur bahwa Lampung akan dijadikan Sentra/Lumbung Benih.

“Lampung Timur menjadi salah satu penyangga jagung hibrida di Provinsi Lampung dengan potensi luas tanam jagung tahun 2019 mencapai 315 ha dari target 307 hektar dengan panen 623 ribu ton. Alhasil, produksi jagung surplus hingga 65 persen. Capaian tersebut hasil adopsi berbagai kemajuan teknologi pertanian,” sebut David.

Perwakilan Balai Penelitian Sereal Maros, Bahtiar, memberikan ucapan selamat kepada Petani Tulung Balak, Lampung Timur karena terpilih mendapatkan alokasi kegiatan Perbenihan Jagung Hibrida Berbasis Korporasi Petani.

“Harapan kami nantinya petani dapat mengelola bisnisnya secara mandiri, maka petani akan dapat keuntungan sendiri 2 kali lipat dari konsumsi biasa,” ujarnya.

Bahtiar menekankan pengembangan benih di Lampung Timur didukung oleh pendampingan dari lembaga atau Badan Litbang. Benih-benih yang dikembangkan telah memiliki lisensi, unggulan dan keterjaminan mutu produk teknologi secara nasional dan internasional.

“Tentu pengembangan perbenihan ini harus digerakkan oleh semua pihak stake holder,” katanya.

Edi Sudadi, Ketua Kelompoktani Tani Mekar menceritakan rasa syukurnya bahwa di musim kemarau dan dengan segala keterbatasan sarana irigasi (pompa, sumur bor). Namun demikian, petani masih bisa panen benih jagung di saat seperti ini.

“Banyak keuntungan yang didapat petani. Kami jadi bisa buat benih jagung hibrida sendiri, biaya jadi hemat, terus dari tanaman jagung jantan yang dicabut bisa dipakai untuk pakan ternak, dan yang penting kami tidak pusing lagi dengan pemasaran,” katanya.

Edi mengungkapkan hasil panen sudah pasti langsung dibeli mitra tanpa dipipil dan tidak perlu dikeringkan. Dengan demikian, dari segi harga lebih menguntungkan menjual berupa benih, bisa selisih sampai Rp 6 juta/ha dibanding konsumsi.

“Bayangkan, jika bisa ditingkatkan menjadi 5 ton kami bisa meraup keuntungan 10 sampai 12 jutaan,” ujarnya.

“Karena itu, kami sangat optimis kegiatan ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Tidak hanya untuk menopang seluruh Provinsi Lampung, bahkan wilayah Sumatera Bagian Selatan,” pinta Edi.

Kegiatan panen jagung hibrida ini disaksikan langsung perwakilan Kepala Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitser) Maros, perwakilan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dandim 0429/Batanghari Nuban, perwakilan Dinas Pertanian Provinsi Lampung, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung, PBT, petani jagung dan warga sekitar.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Mentan Syahrul Yasin Limpo Ingin Vaksin Unggas Kita Mendunia

Koran Jurnal, Bogor – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyatakan keinginannya untuk mengembangkan inovasi dan teknologi vaksin unggas yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Saya berharap nantinya kita dapat mengintervensi dunia, tidak hanya memanfaatkan vaksin dari luar, tetapi juga mampu menciptakan vaksin kesehatan hewan sendiri bahkan dapat dimanfaatkan oleh negara lain, untuk meningkatkan kesehatan unggas, sehingga populasi dan produksinya akan lebih baik,“ ujar Syahrul dalam acara Launching Inovasi dan Teknologi Kesehatan Unggas Veteriner, di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balitbang, Kementerian Pertanian, Bogor (05/12/2019).

Mentan Syahrul menyebutkan bahwa program Kementerian Pertanian dalam bidang peternakan salah satunya adalah mengembangkan dan meningkatkan populasi ayam kampung, terutama jenis petelur melalui pemberdayaan masyarakat.

“ Tentunya kita berharap populasi ternak semakin berkembang, namun akselerasi dan perkembangan yang cepat juga rentan terhadap berbagai hama, virus dan penyakit, untuk itu kita harus dapat memgantisipasinya secara tepat,“ ucap Syahrul.

Lebih lanjut Mentan Syahrul menyebutkan bahwa melalui inovasi dan teknologi yang dihasilkan BB Litvet kita dapat mengantisipasi segala masalah dan tantangan terkait kesehatan hewan mengingat ancaman virus global saat ini semakin banyak.

“ Kita perlu melakukan penelitian dan riset yang baik terhadap segala permasalahan kesehatan hewan, para ahli peneliti dan dokter hewan kita cukup hebat dan tidak kalah saing dengan negara lain, “ ujar Syahrul

Dalam peluncuran inovasi teknologi untuk kesehatan unggas, BB Litvet berhasil meluncurkan beberapa vaksin, antara lain: vaksin unggas, yaitu vaksin avian influenza bivalen, vaksin avian influenza kombinasi HPAI dan LPAI, dan vaksin ND GTT 11, serta teknologi diagnosa kit ELISA DIVA yang digunakan untuk membedakan hasil vaksinasi dan infeksi avian influenza.

“ Nantinya vaksin kita juga terbuka untuk para pengusaha dan investor yang ingin berinvestasi, kalau perlu kita akan melakukan diplomasi perdagangan dengan negara lain terhadap vaksin yang kita miliki,“ tegas Syahrul.(hum/red)

Categories
Ekonomi Kesehatan

Kementan Latih Petugas Lapang di NTT Guna Mencegah Ancaman ASF dari Timor Leste

Koran Jurnal, Kupang – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya melakukan penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional di Indonesia. Salah satu fokus penguatan saat ini adalah terkait upaya pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit African Swine Fever (ASF) yang merupakan ancaman potensial bagi populasi babi di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini penting karena ASF sudah mewabah di Timor Leste.

Antisipasi terhadap kejadian tersebut, Ditjen PKH melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) kepada 50 orang petugas lapang yang berasal dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan Provinsi NTT dan kabupaten/kota yang ada di Pulau Timor. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 4 Desember 2019 di Hotel On the Rock Kupang.

Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, penyebaran penyakit ASF ini sangat cepat dan telah mendekati perbatasan wilayah Negara Republik Indonesia di NTT, sehingga potensi ancaman masuknya penyakit ini semakin besar. “Kondisi ini memerlukan kewaspadaan dini dan harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis,” ungkap Ketut.

Oleh karenanya, sesuai amanat Undang-Undang No.18 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2014, tindakan teknis yang harus dilakukan adalah deteksi cepat, pelaporan cepat dan pengamanan cepat. “Sangat penting untuk diidentifikasi potensi lokasi timbulnya penyakit dan sebaran populasi babi,” ungkap Ketut.

Untuk berhasilnya deteksi, pelaporan dan penanganan cepat, lanjut Ketut, diperlukan adanya pemahaman peternak terkait gejala klinis penyakit ASF. Setiap ada perubahan pada babi yang dipelihara, seperti penurunan nafsu makan dan peningkatan kasus kematian, peternak diharapkan segera melaporkan kejadiannya kepada petugas lapang dinas. “Pemahaman petugas terkait ASFmenjadi kunci utama penanganan yang cepat dan efektif, sehingga kasus dapat ditangani dan meminimalisir kerugian,” tambahnya.

Ketut juga menjelaskan bahwa ASF ini merupakan penyakit yang belum ditemukan vaksin dan obatnya yang efektif, untuk itu tindakan teknis dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan difokuskan pada surveilans, biosekuriti dan dilanjutkan dengan tindakan depopulasi, disposal dan dekontaminasi.

Melalui bimtek ini, harapnya, menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petugas tentang penyakit ASF, serta memberikan kesempatan petugas untuk dapat melakukan praktek langsung di lapangan. “Kompetensi-kompetensi yang dimiliki petugas tersebut sangat penting untuk mengantisipasi ancaman masuk, terjadinya, dan potensi menyebarnya penyakit,” tutup Ketut.(hum/red)

Categories
Ekonomi Ragam

Kunjungi Balithi Litbang Kementan Saat Libur, Mentan SYL: Tiada Hari Tanpa Kerja Keras

Koran Jurnal, Cianjur – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo yang akrab disapa SYL menyempatkan diri mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian (Litbang Kementan) di Cianjur, Minggu (01/12/2019). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat dari dekat kinerja Balai tersebut yang terhampar pada lahan seluas area 10 hektar yang ditumbuhi tanaman hias.

Dalam kunjunganya selama empat jam, SYL mengatakan pembangunan pertanian menuju era industri diperlukan kerja keras dan fokus terhadap permasalahan yang cukup kompleks. Lebih khusus komoditas tanaman hias diperlulan terobosan baru untuk menjaga kualitas dan daya saing produk di pasar global.

“Saya juga berharap kepada jajaran Kementan agar tiada hari tanpa kerja karena Litbang suatu kebanggan kita yang ditunjang dengan kondisi negara tropis dan bermuara pada sub tropis memudahkan untuk berkreasi dan berkarya lebih baik. Kita harus menjadi Legazi, sesuatu yang bermakna untuk orang banyak,” demikian ditegaskan SYL dihadapan para peneliti dan staf Balithi di Aula Balithi di Cianjur Jawa barat

SYL merasa terkagum dengan kehadiran para senior peneliti para staf yang merasa memiliki tanggung jawab.

“Tanaman Hias sangat berpotensi dikembangkan salah satunya untuk agro wisata saat ini,” ujarnya.

Agro Wisata yang dikunjungingi merupakan area konservasi berbagai jenia tanaman dan sarana edulasi untuk pengembangan tanaman hias. Terdapat rumah kaca hexagonal anggrek dan berbagai tanaman hias lainnya hasil silangan dan tanaman hasil kerjasama dgn jepang.

“Ciptakan hebridasi yang unggul artinya sesuatu yang lebih dari biasa, harus ada terobosan-terobosan yang dihasilkan dari balai penelitian ini,” tandasnya.

Kepala Badan Litbang Kementan, Fadjry Djufry yang hadir mendampingi Mentan SYL menambahkan Balithi pun memiliki lahan 3 ha parsial bangunan menunjang kegiatan 30 para peneliti.

“Peneliti didampingi 27 orang teknisi dan 35 orang tenaga administrasi, serta 14 orang Staf penunjang,” sebutnya.

Kunjungan ini pun, SYL diampingi Sekjen Kementan, Momon Rusmono, Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi, Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagiyono dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PHK), I Ketut Diarmita. Lepas dari Balithi, SYL dan rombongan melakukan kunjungan di Taman Bunga Nusantara, Kecamatan Sukareski Kabupaten Cianjur.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Kementan: Stok Beras Aman Sampai 2020

Koran Jurnal, Jakarta – Kepala Biro Humas Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri menyampaikan bahwa kebutuhan beras nasional saat ini dalam kondisi aman. Menurutnya, musim panen yang bakal berlangsung pada awal tahun ini akan menambah jumlah stok yang ada, sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik.

“Data yang dimiliki Bulog saat ini cadangan beras di gudangnya mencapai 2,3 juta ton. Artinya kebutuhan beras aman. Apalagi awal tahun ini kita akan memasuki panen raya,” ujar Kuntoro, Sabtu (30/11/2019).

Kuntoro menjelaskan, perhitungan rata-rata konsumsi nasional saat ini mencapai 111,58 kilogram per kapita per tahun, dengan angka produksi beras diperkirakan mencapai titik surplus sebanyak 4,64 juta ton pada periode ini.

“Ketersediaan ini didukung dengan produksi di luar Pulau Jawa dan adanya penanaman varietas padi gogo yang diketahui tahan pada musim kering,” katanya.

Walau begitu, Kabiro Humas dan Informasi Publik ini mengakui bahwa musim kering yang berlangsung cukup lama beberapa bulan terakhir telah membuat stok padi di masyarakat berkurang. Namun, hal itu disebut tak memengaruhi daya tahan pangan karena stok beras masih cukup hingga panen 2020 nanti.

“Sekali lagi tidak ada pengaruhnya karena kita akan menghadapi musim panen di awal tahun 2020 mendatang,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang menggunakan kerangka sampel area (KSA) luas panen besar yang ada mencapai 8,99 juta hektare (ha). Angka tersebut meliputi produksi Januari-September yang diperkirakan mencapai 46,9 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 26,91 juta ton beras.

“Untuk konsumsi selama periode ini diperkirakan jumlahnya mencapai  22,28 juta ton,” katanya.

Mengenai hal ini, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi menyatakan akan membuang 20 ribu ton cadangan beras pemerintah yang memiliki nilai Rp160 miliar. Pembuangan dilakukan karena usia penyimpanan beras sudah melebihi 1 tahun.

“Semua stok Bulog yang disimpan lebih dari lima bulan itu dapat dibuang, bisa diolah kembali, diubah menjadi tepung dan yang lain, atau turunan beras atau dihibahkan,” tukasnya.(hum/red)