Categories
Ekonomi

Kementan Pacu Produksi Kapulaga sebagai Tanaman Obat

Koranjurnal.co.id, Garut – Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki berbagai jenis tanaman yang secara turun temurun digunakan sebagai obat. Salah satu tanaman obat yang banyak ditanam adalah kapulaga (Amomum cardamomum). Kapulaga diketahui mempunyai kandungan zat aktif dan minyak atsiri dan memiliki sifat afrodisiak. Manfaat kapulaga antara lain melancarkan sirkulasi darah, anti oksidan, menurunkan kolesterol, mencegah kanker dan sariawan. Kapulaga juga membantu mengurangi resiko sakit pencernaan,obat impotensi serta antidepresan dan aromaterapi.

Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan pengembangan budidaya kapulaga. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Deni Herdiana mengatakan kondisi agroklimat dan lahan di kabupaten ini berpotensi untuk pengembangan tanaman kapulaga. Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu sentra Kapulaga.

“Kabupaten Garut sangat potensi untuk pengembangan tanaman kapulaga. Agroklimat dan kondisi lahan di kabupaten Garut sangat cocok untuk budidaya kapulaga. Minat petani terus bertambah untuk menanam. Luas tanam kapulaga tahun 2016 hanya 769 hektar, meningkat pada 2017 menjadi 1.295 hektar,” jelas Deni di Garut, Jawa Barat, Kamis (11/10/2018).

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto mengatakan Kementan mendukung penuh pengembangan kapulaga, sehingga tidak hanya memacu produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga ditargetkan agar dapat diekspor. Hal ini penting karena berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan penambahan devisa.

“Produksi kapulaga di dalam negeri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun juga untuk memenuhi permintaan ekspor dari negara-negara Timur Tengah, Mesir dan India,” jelas Prihasto.

Tercatat, produksi kapulaga terus meningkat rata-rata sebesar 15,05%. Di tahun 2012 hingga 2017, produksi Kapulaga berturut-turut naik mulai dari 42.973 ton, 54.171 ton, 72.851 ton, 93.121 ton, 86.144 ton dan 90.787 ton. Dengan volume ekspor di tahun 2012 hingga 2015 sebesar 7.961 ton, 6.697 ton, 7.737 ton dan 6.245 ton.

“Kapulaga termasuk suku jahe-jahean atau zingiberaceae. Tanaman obat ini cukup mudah dalam pemeliharaannya namun tetap membutuhkan budidaya yang baik dan benar supaya dapat memperoleh hasil yang maksimal,” tambahnya.

Uden dan Saroh, sepasang suami istri petani di Desa Mekarsari, sangat bersemangat bertanam kapulaga karena budidayanya tidak sulit dan tidak memerlukan modal besar. Saat ini harga kapulaga kering dihargai lumayan tinggi yaitu Rp 83 ribu/kg. Harga pada umumnya sekitar Rp 40 sampai 60 ribu/kg.

Menurut Saroh, petani di Garut biasa menanam kapulaga di bawah tegakan tanaman tahunan seperti albasia atau pisang. Lahan seluas 200 tumbak atau 3000 m2 dalam sekali panen dapat menghasilkan 50 – 75 kg kapulaga kering dan mampu dipanen tiga kali dalam setahun.

“Di Garut biasa menanam kapulaga dibawah tegakan tanaman tahunan seperti albasia atau pisang. Jika rajin memberi pupuk urea dan ZA serta lahan bersih dari gulma maka tanaman kapulaga akan rajin berbuah. Lahan yang ditanami sekitar 200 tumbak atau 3000 m2 sekali panen dapat menghasilkan 50 sampai 75 kg kapulaga kering. Ini bisa dipanen setahun 3 kali yaitu pada September, Januari dan Mei”, ungkap Saroh.

Sementara itu, Ilan, salah satu pedagang pengempul besar rempah di Garut mengakui senang terhadap perkembangan kapulaga di Kota Garut karena selain cepat, kapulaga sangat menguntungkan dan mudah untuk dijual. Pada musim panen gudangnya dapat menyerap kapulaga sekitar 1 ton/hari.

“Selain ke para pengepul, Kapulaga ini langsung diserap oleh industri jamu dan obat di dalam negeri maupun ekspor ke beberapa negara seperti, Timur Tengah, Mesir dan India,” ungkapnya.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Menteri Airlangga Hartarto Resmikan Pabrik GIS PT ABB Sakti Industri

Koranjurnal.co.id, Tangerang – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meresmikan fasilitas manufaktur baru PT ABB Sakti Industri yang memproduksi gas-insulated switchgear (GIS) bertegangan tinggi di Tangerang, Selasa (09/10/2018).

Dalam sambutannya, Airlangga Hartarto menyampaikan apresiasinya atas berdirinya pabrik tersebut.

“Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada PT ABB Sakti Industri yang telah berperan serta dalam mengembangkan industri peralatan listrik di Indonesia,” ucap Airlangga dalam sambutannya di lokasi peresmian.

Airlangga berharap agar PT ABB Sakti Industri dapat menunjang realisasi program penyediaan listrik nasional sebesar 35.000 watt yang dicanangkan oleh pemerintah.

“Dengan proyeksi ekonomi Indonesia sebesar 5 sampai 5,4 persen per tahun, penambahan kapasitas sebesar 35.000 Megawatt menjadi suatu keharusan,” ujarnya.

Diketahui, PT ABB Sakti Industri telah memelopori teknologi GIS sejak 50 tahun yang lalu dan terus berinovasi dengan menawarkan kualitas penggunaan GIS 72,5 kV hingga 1200 kV.

“Ekspansi terbaru ini menggarisbawahi komitmen berkelanjutan ABB terhadap Indonesia. Fasilitas ini akan mendukung upaya Indonesia untuk memperkuat infrastruktur transmisi listriknya, meningkatkan keandalan jaringan dan membantu memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat,” kata Presiden Divisi Power Grids PT ABB Sakti Industri, Claudio Facchin.

“Langkah ini sejalan dengan pendekatan rekam jejak global dan filosofi kami untuk menempatkan unit produksi dekat dengan pelanggan kami,” pungkasnya.(ton)

Categories
Ekonomi

Presiden Jokowi Resmikan Program Bank Wakaf Mikro

Koranjurnal.co.id, Medan – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Program Bank Wakaf Mikro, di Pondok Pesantren (Ponpes) Mawaridussalam, di Desa Tumpatan Nibung, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Senin (08/10/2018).

Kegiatan tersebut adalah bagian akhir dari kunjungan kerjanya Presiden Jokowi di Provinsi Sumatera Utara yang didampingi Ibu Negara Iriana.

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengatakan saat ini pemerintah sudah mendirikan bank wakaf mikro di 33 pondek pesantren. Setiap bank wakaf mikro, menurut Presiden, diberikan modal kurang lebih Rp8 miliar.

Pendirian bank wakaf mikro ini, menurut Presiden, merupakan respons pemerintah atas keluhan dari masyarakat di desa-desa atau di pondok-pondok pesantren mengenai sulitnya mengakses pelayanan perbankan, karena selain administrasinya rumit juga harus ada jaminan.

Padahal, lanjut Presiden, masyarakat, umat perlu akses ke keuangan untuk modal kerja, untuk modal investasi, dan yang lain-lainnya. Oleh sebab itu, tambah Presiden, pemerintah berinsiatif mendirikan yang namanya bank wakaf mikro.

“Nanti ibu-ibu yang mau pinjam atau yang sudah pinjam, pertama itu Rp3 juta. Nanti kalau sudah mengangsur baik, bisa kembangkan lagi Rp1-3 juta. Kemudian kalau sudah diangsur, bagus, mau nambah Rp10 (juta) silakan, mau nambah Rp15 (juta) silakan, kan enggak ada agunan,” kata Presiden Jokowi.

Ditegaskan Presiden Jokowi, pengembangan ekonomi mikro, pengembangan ekonomi umat, terutama di pondok pesantren dan di lingkungan pondoknya harus berjalan dengan baik. Karena itu, sambung Presiden, pemerintah akan terus mengembangkan bank wakaf mikro.

“Kita harapkan nantinya kalau sudah gede, sudah ratusan atau sudah ribuan, ini akan di-holding-kan menjadi sebuah bank besar,” ucap Presiden Jokowi seraya menambahkan, bahwa saat ini memang baru dalam tahap membangun sebuah pondasi.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, pimpinan dan siswa pondok pesantren, serta warga sekitar.(red/DBPers)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Lepas Ekspor Tiga Komoditas Hortikultura

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu menekankan perlunya peningkatan ekspor produk pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan raihan devisa negara. Tentunya hal ini tidak sekedar retorika, tetapi benar-benar nyata diwujudkan.

Kali ini, Menteri Pertanian asal Bone tersebut secara simbolis kembali melepas ekspor komoditas hortikultura, yakni mangga ke Singapura dan Malaysia totalnya 100 ton, benih kangkung ke China, Malaysia, dan Vietnam totalnya 800 ton dan bawang merah ke Philipina yang totalnya 800 ton. Pelepasan ekspor dilakukan di Kantor Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Senin (08/10/2018).

Hadir Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Dirjen Hortikultura, Suwandi dan para pelaku usaha.

Amran menuturkan potensi pertanian Indonesia sangat besar untuk menyediakan pangan secara berdaulat yakni tanpa impor, bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Di tahun 2017, ekspor pertanian mencapai Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga berdampak pada surplusnya neraca perdagangan pertanian 2017 sebesar Rp 214 triliun.

“Hari ini, kita buktikan lagi ekspor. Ada mangga dan benih sayuran juga bawang merah. Inilah tujuan yang kita bangun, online single submission. Ini perintah Bapak Presiden. Dulunya mengurus izin bisa 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun. Tapi hari ini bisa 1 jam. Negara kita atau pertumbuhan ekonomi bisa bangkit karena 2 hal, yaitu ekspor dan investasi. Kita ke depan 2 hal ini kita doronh terus,” demikian tutur Amran.

Dari data BPS, nilai ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampai Juli 2018 mencapai Rp 1,22 triliun atau naik sebesar 60,5 persen dibanding periode yang tahun sebelumnya yakni hanya Rp 0,76 triliun. Estimasi ekspor mangga 2018 sebesar 835 ton, naik 6% dari 2017 yang hanya 790 ton. Sementara ekspor bawang merah di tahun 2018, ditargetkan 15.000 ton, yakni naik 128 persen dibandingkan 2017 yang hanya 6.588 ton.

“Ekspor mangga dari Januari sampai Juli 2018 sangat tinggi, nilainya mencapai Rp 1,85 miliar, sementara impornya hanya Rp 70,56 juta. Ini menunjukkan upaya pemerintah mendorong petani dan pelaku usaha membuahkan hasil positif, yakni ekspor terus naik” tutur Amran.

Akan hal ini, Amran optimis ke depan volume ekspor komoditas pertanian terus melonjak. Beberapa komoditas yang sudah tembus pasar ekspor yakni mangga, manggis, salak, nenas, benih, sayuran, bawang merah, tanaman hias, telur, ayam, kambing, jagung. Karena itu, Amran meminta pihaknya untuk menambah kawasan pengembangan pertanian dan pendampingan yang intensif dari aspek hulu sampai hilir, sehingga petani mampu menghasilkan produk pangan berkualitas ekspor.

“Saya minta, agar volume bantuan mangga dan komoditas lainnya ditambah. Negara kita ini subur, masih banyak lahan yang belum dioptimalkan. Saatnya kita bangunkan, jangan biarkan lahan tidur,” ujarnya.

Terkait ekspor benih sayuran, lanjut Amran, ini menunjukkan bahwa industri perbenihan dalam negeri sudah maju dan mampu bersaing dengan produk benih negara lain. Selain kangkung, beberapa benih hortikultura yang telah diekspor yaitu benih pare, cabai, paprika, timun, gambas, melon, waluh, sweet corn, pare welut, semangka, terong, tomat, jagung pulut, kacang panjang, bayam, okra dan buncis.

“Ekspor ini bagian dari rencana ekspor 2018 sebesar 900 ton benih sayuran sehingga naik 50 persen dibandingkan 2017. Ekspor di tahun 2019, ditargetkan naik lebih tinggi lagi,” tegasnya.

Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengapresiasi dukungan Kementan dalam mendorong ekspor komoditas pangan di Jawa Timur. Apalagi saat ini harga bawang merah sedang turun, Kementan bersama pelaku usaha mampu mengangkat harga sehingga petani tidak rugi.

“Hari ini kita berangkat ekspor benih kangkung 20 ton, tapi setahunnya 800 ton dan mangga yang diekspor ini mangga Arumanis khusus. Kemudian bawang kita juga ekspor. Terima kasih kepada Pak Menteri saat harga anjlok kita ekspor sehingga memberikan harga yang menguntungkan bagi petani. Masih banyak lagi komoditas pertanian yang bisa diekspor,” ujar pria yang akrab disapa Pak De Karwo.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menambahkan Kementan telah menetapkan prognosa produksi sayuran 2018 mencapai 12,9 juta ton atau naik 3,4% dibandingkan 2017, bawang merah 1,5 juta ton atau naik 1,5% dibandingkan 2017 dan produksi mangga 2,27 ton, naik 3,08% dari 2017. Ada pun persyaratan ekspor buah telah memenuhi standar SPS, bebas dari lalat buah, kutu putih, dilakukan registrasi kebun, sertifikasi packing house dan perkarantinaan. Proses produksi baik mangga maupun benih sayuran dikerjakan bermitra dengan petani.

“Kementan akan terus memperluas kawasan pengembangan mangga dan benih sayuran. Bantuan untuk petani akan dikawal hingga hasilnya bisa ekspor. Kemitraan petani dengan pelaku usaha pun menjadi bagian yang dijamin Kementan. Ini penting agar petani benar-benar sejahtera dan nilai ekspor semakin tinggi,” ujarnya.

Salah satu eksportir mangga, Berry Gaswara mengatakan buah mangga yang diekspor rata-rata 5 ton/minggu dari 100 ton per tahun dengan tujuan Malaysia dan Singapura.

“Perusahaan kami baru tahun 2018 ini pertama kali ekspor mangga. Ini berkat dukungan Kementerian Pertanian, sehingga pengurusan ekspor tidak ada hambatan, proses ekspor cepat,” ujarnya.

Eksportir benih sayuran, Yulius Dwi Putra menyebutkan setiap tahun perusahaannya mengekspor benih kangkung varietas KK ASA 04 sebanyak 800 ton per tahun ke China, Vietnam dan Malaysia. Perusahaan bekerja sama dengan petani penangkar benih binaan sejumlah 1.000 petani di wilayah Lamongan, yang masuk ke packing house di Jombang.

“Perusahaan kami mulai melakukan ekspor benih sejak tahun 2015 dan tidak melakukan penjualan secara lokal. Potensi lahan untuk produksi benih 800 sampai 1.000 hektar dengan produksi benih kurang lebih 1.000 ton per tahun. Selain benih kangkung, kami juga mengembangkan produksi benih bayam, okra, mentimun dan cabai,” sebutnya.

Sementara itu, eksportir bawang merah, Herry Phio mengatakan perusahaanya mengekspor 26 ton bawang merah asal varietas Super Philip dari Probolinggo dengan tujuan Philipina. Perusahaannya mulai melakukan ekspor sejak tahun 2016 dengan tujuan Thailand, Singapura, Malaysia, dan Philipina.

“Kontrak ekspor bawang merah sebanyak 6.000 ton per tahun. Selama tahun 2018, perusahaan kami sudah mengekspor 800 ton ke Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Untuk diketahui, disamping menggenjot ekspor hortikultura, juga telah mampu menstabilkan harga cabai dan bawang merah pada Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Natal dan Tahun Baru selama dua tahun terakhir.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

PDI-Perjuangan Lepas Bantuan Tahap II Korban Gempa dan Tsunami Sulawesi Tengah

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri melepas bantuan tahap kedua PDI Perjuangan untuk korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng), bertempat di kantor DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (08/10/2018).

Megawati menyampaikan bahwa bantuan ini dari teman-teman yang berempati dan bersimpati.

Dari pantauan pewarta di lokasi, bantuan berupa bahan makanan, peralatan medis, pakaian, dan lain-lain, dibawa dengan menggunakan 10 truk dan akan disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) DPP PDI Perjuangan.

Megawati mengucapkan terima kasih kepada relawan yang sudah bekerja tanpa pamrih.

“Sebab kalau bicara kemanusiaan, memang kita itu harus ikhlas,” tutur Megawati.

Sebelum melepas bantuan, Megawati melihat berbagai foto-foto kegiatan yang telah dilakukan oleh tim Baguna di lokasi korban bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelaskan, bantuan dengan volume 60 ton itu akan dibawa ke Sulteng melalui jalur darat dan udara.

Hasto mengungkapkan bahwa bantuan ini merupakan yang kedua. Bantuan pertama dibawa langsung oleh relawan Baguna yang tiba di Palu pada 30 Oktober 2018.

“Sekarang kita melihat penanganan bencana sudah jauh lebih baik. Distribusi bantuan sudah dapat disampaikan dengan jauh lebih baik lagi,” ujar Hasto.

Kepala Baguna PDI-Perjuangan Sadarestuwati mengatakan, kekuatan personil Baguna yang bekerja di Sulteng berjumlah 102 orang, ditambah 7 orang tenaga medis.

Selain melakukan proses evakuasi jenazah korban dengan Basarnas, Baguna juga membuka dapur umum untuk menyediakan makanan untuk pengungsi.

Sebagai informasi, relawan Baguna PDI-Perjuangan sudah berada di Palu sejak tanggal 30 September. Pada saat itu, 102 relawan Baguna diangkut oleh Pesawat Hercules dan langsung bergerak melakukan tanggap darurat hingga evakuasi.

Relawan Baguna hingga saat ini terus bekerja dan melayani korban-korban setiap hari.

“Begitu luar biasanya bencana ini, kami masih membutuhkan personil di sana. Tapi satu yang pasti, Baguna akan selalu, senantiasa menangis dan bisa tertawa bersama rakyat,” kata Sadarestuwati.

Tampak hadir dalam pelepasan bantuan, Ketua DPP Bidang Organisasi Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP Bidang Sosial dan Kebencanaan Ribka Tjiptaning, dan Wasekjen Eriko Sotarduga serta segenap kader PDI Perjuangan.(ton)

Categories
Ekonomi Ragam

Kementan Bersama Praktisi Kesehatan Sosialisasikan Pangan Lokal di Pura Besakih Bali

Koranjurnal.co.id, Bali – Kementerian Pertanian (Kementan) dengan menggandeng praktisi kesehatan semakin gencar mensosialisasikan kecintaan terhadap pangan lokal. Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali yang ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun manca negara menjadi tempat sosialisasi keunggulan pangan lokal terhadap stamina tubuh, Minggu (07/10/2018).

Kegiatan ini dihadiri Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, praktisi kesehatan, dr. Hanson, Jajaran SKPD Kabupaten Karangasem, Dinas Pertanian Provinsi Bali, Asosiasi dan Pengelola Usaha Wisata, Tour Guide, Pelaku Usaha Pangan Lokal, Tokoh Adat dan Petani.

Praktisi kesehatan, dr. Hanson menjelaskan bahwa pangan lokal seperti kopi, kedelai, kentang dan lainnya dapat meningkatkan dan mengembalikan stamina tubuh seperti stamina nenek moyang yang amat hebat dan menampilkan inner beauty.

Sebenarnya makanan dan minuman apa yang baik bagi kita? Tubuh kitalah yang paling tahu. Praktisi kesehatan, dr. Hanson mengungkapkan dalam konteks kesehatan holistik, semua hal baik bagi tubuh adalah semua hal yang bermanfaat membantu tubuh membangkitkan kembali potensi tubuh sesuai fitrah manusia. Jadi bukan hanya untuk sehat, tapi juga untuk meningkatkan potensi dalam bekerja bahkan penampilan.

“Semua hal termasuk makanan, minuman, harus tepat penggunaannya. Makanan dan minuman baik sesungguhnya yang ideal dibutuhkan tubuh saat itu. Bukan hanya kualitas dan jenisnya, tapi juga jumlah (red.kuantitas) harus pas. Harus tepat,” ungkapnya.

Menurutnya, tubuh manusia memiliki kecerdasan alami atau body intelligence untuk tahu apa yang baik bagi tubuh dengan tepat. Body Intelligence dan nutrisi saling berhubungan. Makanan dan minuman yang baik meningkatkan potensi tubuh hingga mampu membangkitkan kembali body intelligence untuk optimalnya potensi tubuh dan otak.

“Saat body intelligence tubuh aktif kembali tubuh jadi punya kemampuan untuk mengembalikan stamina dalam hitungan detik, sehingga hasil yang didapat adalah tidak capai dan itu adalah tanda awal dari pulihnya seluruh potensi sejati diri,” ujar dr. Hanson.

Lebih lanjut dijelaskan, body intelligence yang optimal akan membantu manusia memilih hanya makanan dan minuman yang baik, yang nyaman bagi tubuh. Saat manusia makan atau minum yang tidak baik bagi tubuh, manusia menjadi tidak koheren.

“Dan kalau makan sesuai kebutuhan tubuh yang dapat diketahui melalui body intelligence, tubuh akan koheren,” jelasnya.

Makan dan Minum Sesuai Prinsip Body Intelligence

Prinsipnya makan dan minum bertujuan untuk perkuat organ vital, minimal tidak melemahkan. Pertama, Biogenik, bermanfaat meningkatkan potensi tubuh. Kedua, Biostatik, manfaatnya tidak melemahkan tubuh. Ketiga Biosidik bermanfaat melemahkan, jangan makan atau minum.

“Jadi sebaiknya carilah makanan dan minuman yang biogenik, minimal biostatik. Kalau tubuh sudah kuat, kita bisa lebih bebas memilih makanan karena  organ-organ kita akan cukup kuat menahan dampak makanan minuman yang buruk dan mampu optimal dalam membuang racun,” beber dr. Hanson.

Menurut dr. Hanson, beberapa makanan minuman yang perlu dicoba yakni pangan lokal berupa kopi dan kedelai unggul dan telah diproses khusus yang diperkenalkan Kementan melalui program Viva Republik Indonesia. Ternyata saat dites dengan prinsip body intelligence, bukan hanya mampu menguatkan hasil tes banyak organ utama, bahkan seperti ginseng tua kualitas bagus, ternyata keduanya tidak melemahkan hasil tes organ vital apapun.

“Uji kinesiologi tentang kehebatan pangan lokal ini juga dapat dijadikan salah satu atraksi daya tarik wisatawan asing di wilayah Pura Besakih dan Pura Lempuyang di Karangasem. Para wisatawan dikenalkan dengan mencicipi pangan lokal dan dilatih teknik yang sesuai prinsip Body Intelligence, ternyata saat dites mengalami lonjakan stamina yang signifikan dalam waktu singkat. Mereka langsung mampu naik turun tangga dengan semakin terasa ringan, kaki tidak pegal, ada dorongan dan tidak lelah. Bahkan malam harinya saat tidur pulas dan bangun tidur terasa enteng, enak di badan,” jelasnya.

“Tidak hanya kopi dan kedelai saja, ternyata beragam tanaman pangan, buah, sayur, kentang, cabai, serta hasil perkebunan yang tumbuh di Indonesia memiliki kualitas unik sehingga mampu bersaing dibanding negara lain. Secara tidak langsung, ternyata ada korelasi antara kualitas tanaman dengan budaya masyarakat sekitar,” tambahnya.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengatakan program konsumsi pangan lokal dan cintai produk petani ini dipastikan lebih banyak menjangkau banyak kalangan. Program ini konkrit, bisa langsung ditunjukkan perubahan stamina sebelum dan sesudah mengonsumsi.

“Manfaatnya sangat luas baik pada sisi sistem produksi, intermediat dan sisi konsumsi. Kesadaran hidup sehat meningkat. Melalui turis, nantinya Dunia akan mengetahui keunggulan pangan lokal kita sebagai warisan budaya nenek moyang,” ujarnya

Peserta dari Sub Terminal Agribisnis Desa Besakih, Karangasem, I Gusti Ngurah Alit, mengatakan bertahun-tahun menggeluti pertanian, baru kali ini mengatahui manfaat pangan lokal terhadap stamina tubuh.

“saya baru kali ini tahu dan kagum pada pangan lokal, tadinya tidak percaya, kok bisa ya, aneh ya, tapi setelah dipraktekkan, ini sungguh luar biasa, sungguh hebat, pasti wisatawan sangat tertarik, saya mau minta benihnya dari Kementan,” ucapnya.

Sementara itu I Wayan Supandi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem mengatakan program pangan lokal ini akan ditindaklanjuti melalui dukungan program produksi pangan lokal. Pasalnya, ini merupakan terobosan baru untuk meningkatkan kualitas dan kecintaan masyarakat terhadap pangan lokal.

“Tadi semua peserta penasaran, heboh, kaget, ternyata pangan kita hebat, dipraktekkan berjalan keliling Pura Besakih enteng dan bertenaga. Kami tindaklanjuti karena manfaatnya luar biasa, pangan lokal menjadi diminati, wisatawan akan banyak datang, butuh sehat mencari pangan kita, produk petani menjadi laku, ekonomi lokal tumbuh, ujar Supandi.

Pelatihan yang dilakukan dengan teknik sesuai prinsip Body Intelligence diterapkan terhadap peserta yang hadir di Pura Besakih, Karangasem. Didemokan dr. Hanson, dengan teknik khusus untuk bertanya pada tubuh, tubuh ternyata mampu memilih pangan lokal sebagai makanan yang cocok dan baik melalui respon otot.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

AAJI dan Ditjen Dukcapil Kemendagri RI Jalin Kerja Sama Pemanfaatan NIK

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) serta Perusahaan Anggota AAJI dan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Ditjen Dukcapil Kemendagri RI) menyepakati hubungan kerjasama melalui Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pemanfaatan Nomor Induk Kependudukan (NIK), Data

Kependudukan dan KTP Elektronik, sekaligus sosialisasi terkait pemanfaatan data kependudukan tersebut.

Kerjasama ini diperlukan bagi Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia dan perusahaan-perusahaan asuransi Jiwa anggota AAJI guna proses verifikasi identitas nasabah asuransi dan identitas calon agen/tenaga pemasar perusahaan berlisensi.

Penandatangan PKS dilakukan oleh Ketua Bersama AAJI, para Direksi dari 40 (empat puluh) Perusahaan Asuransi Jiwa dan Ditjen Dukcapil Kemendagri RI, bertempat di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Kamis malam (04/10/2018).

Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan bahwa kerja sama pemanfaatan data kependudukan, NIK dan KTP elektronik dengan AAI dan perusahaan-perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem single identity number, data kependudukan tunggal yang dapat digunakan untuk semua keperluan termasuk dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat atau nasabah dan lebih mengoptimalkan sistem administrasi perusahaan melalui ketersediaan data kependudukan dan pencatatan sipil yang akurat.

Ketua Bersama AAI, Bapak Maryoso dalam sambutannya mengatakan, “Melalui kerjasama ini, AAJI dan perusahaan anggota tentu akan mendapatkan banyak manfaat dan kemudahan, seperti halnya dalam proses verifikasi identitas nasabah, sehingga akan memudahkan dalam hal permintaan/pembukaan produk layanan bagi nasabah baru dan juga akan mempercepat proses layanan keuangan kepada para nasabahnya dalam hal klaim”.

“Dalam proses verifikasi data nasabah, melalui pemanfaatan data kependudukan, NIK dan KTP elektronik, akan menjadi bagian dari pengendalian risiko yang semakin penting, karena identitas nasabah dapat ditelusuri dan diverifikasi. Bagi nasabah sendiri tentunya dapat memberikan perlindungan dan kepastian hukum atas keabsahan dokumen kependudukan dan pencatatan sipil tersebut,” jelas Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI.

Ketua Bersama AAJI Pak Wiroyo Karsono menambahkan, “Kerjasama ini sangat penting untuk meningkatkan dan menciptakan penyelenggaraan usaha industri Asuransi yang sehat dan transparan terutama dalam rangka penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik dan mendukung Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di lingkungan Perusahaan Perasuransian serta meningkatkan kualitas pelayanan konsumen Perusahaan Perasuransian.

Disamping itu, kerjasama inipun sangat diperlukan di era Insurance Technology (Insurtech), dimana perkembangan teknologi telah menggeser industri konvensional menjadi berbasis digital, maka dunia asuransi ke depan cara kerjanya akan berbasiskan big data. Sehingga mobilitas terpantau dan terintegrasi secara cepat dan juga seksama”.

Sementara itu, Direktur Fasilitasi dan Pemanfaatan Data Kependudukan Gunawan menyampaikan bahwa pemanfaatan Data KTP elektronik ini kelak akan bermanfaat bagi pemerintah untuk mendata pertumbuhan penetrasi keuangan khususnya di industri asuransi jiwa.

“Keterkaitan Industri Asuransi Jiwa sebagai Lembaga Keuangan Non Bank dangan regulasi OJK dalam peningkatan masyarakat sadar asuransi dapat kami data pertumbuhannya melalui data Dukcapil ini,” jelas Gunawan.(red/rl)

Categories
Ekonomi

Mentan Amran Lepas Ekspor Manggis ke China

Koranjurnal.co.id, Padang – Target Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan volume ekspor berbagai komoditas pangan guna mengerek pertumbuhan ekonomi nasional dan menguatkan nilai tukar rupiah semakin terbukti. Setelah mengekspor beras khusus, bawang merah, jagung, telur, daging ayam, benih sayuran, tanaman hias, berbagai komoditas perkebunan dan komoditas pangan lainnya, kini giliran manggis dari Ranah Minang diekspor ke China.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman hadir langsung melepas ekspor manggis di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Selasa (02/10/2018). Hadir Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abdi, Anggota DPD RI, Ema Yohana, Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi, Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, dan eksportir manggis.

Amran mengungkapkan prediksi ekspor manggis di tahun 2018 mencapai 60.000 ton atau naik 553 % dari 2017 yang hanya 9.167 ton. Ekspor ini merupakan 38% dari total produksi manggis nasional 2018 sebesar 166.725 ton. Dari Kabupaten Ranah Minang ini, Indonesia mengekspor manggis perdana kontrak dengan China sebanyak 10.000 ton.

“Menariknya, dari 10 eksportir, baru pertama kali ini eksportir dari sumatera Barat, sehingga perlu dicontoh daerah lain. Hari ini kita buktikan, berkat kemajuan teknologi yang kita hasilkan sendiri, kita tingkatkan lagi ekspor. Ekspor komoditas hortikultura ke berbagai negara,” demikian dikatakan Amran.

Menurutnya, potensi pertanian Indonesia sangat besar untuk menyediakan pangan secara berdaulat yakni tanpa impor. Sentra produksi manggis di Indonesia tersebar dari Sumatera sampai Nusa Tenggara Barat. Di tahun 2017, produksi manggis Sumatera Barat mencapai 34.422 ton atau 21% dari produksi nasional 161.751 ton. Sumatera Barat menjadi sentra manggis terbesar nomor 2 setelah Jawa Barat yang produksinya 42.122 ton atau 26% dari produksi nasional.

Adapun produksi manggis se-Sumatera di tahun 2017 mencapai 65.372 ton atau 40% dari produksi nasional. Untuk 2018, prognosa produksi manggis sebesar 166.725 ton, naik 3% dari 2017.

“Karena itu, kami himbau lakukan gerakan masif ekspor dan investasi agar pertumbuhan ekonomi nasional semakin membaik. Sektor pertanian salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi,” ujar Amran.

Berdasarkan data BPS, ekspor pertanian 2017 totalnya Rp 442 triliun, naik 24 persen dibanding 2016, sehingga neraca perdagangan pertanian 2017 surplus Rp 214 triliun. Ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampe Juli 2018 sebesar Rp 1,3 triliun, naik 60,5 persen dari Januari sampai Juli 2017 yang hanya Rp 0,76 triliun.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menambahkan proses ekspor manggis ini tidak instant, sehingga melalui proses mulai dari penyiapan kebunnya, registrasi dan penyiapan packaging house, serta pengurusan perizinan ekspor dan sebagainya. Ekspor manggis ini terwujud karena semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia-China sehingga memberikan dampak positif bagi perdagangan kedua negara. Yakni dibukanya kembali peluang ekspor manggis ke Negeri Panda tersebut setelah empat tahun sejak dikeluarkannya larangan impor komoditas manggis dari Indonesia.

“Dibukanya kembali ekspor manggis ke China ditandai dengan penandatanganan protokol manggis oleh badan karantina kedua negara pada 11 Desember 2017 yang disusul dengan ekspor perdana 1 ton manggis pada Januari 2018,” jelas Suwandi.

Tercatat, berdasarkan data BPS, nilai ekspor manggis ke China pada tahun 2012 mencapai 8.200 ton dengan pangsa pasar 18,84% dan menjadikan China sebagai pasar ekspor manggis terbesar Indonesia.

“Karenanya, untuk meningkatkan investasi dan ekspor, termasuk mendorong ekspor manggis dari Sumbar, Kementan memberi berbagai kemudahan investasi, pembinaan mutu produk petani, membantu proses registasi kebun, standar packaging house, pelayanan perkarantinaan dan lainnya untuk ekspor,” tambah Suwandi.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abid mengapreasisi tekad Kementan melalui Direktorat Hortikultura menjadikan buah manggis sebagai komoditas unggulan tropis. Karenanya, hal ini harus di follow up secara serius oleh pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan ditingkat daerah.

Menurutnya, tekat Kementan tercermin pada telah ditetapkannya road map pengembangan tanaman manggis yang disertai dengan kebijakan dengan menetapkan arah dan pola pengembangan tanaman manggis yang jelas dan didukung pembinaan sumberdaya manusia baik petani sebagai pelaku utama maupun aparat sebagai penunjang.

“Untuk Sumatera Barat telah ditetapkan 8 daerah Kabupaten/Kota sebagai daerah kawasan manggis yang telah diperkuat dari Surat Keputusan Gubernur Nomor 521.305.2013 tanggal 26 Maret 2013 tentang Penetapan Kawasan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura yaitu Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Solok Selatan, Pesisir Selatan, Sijunjung, Padang Pariaman, Agam, dan Kota Padang,” sebut Nasrul.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terus mendorong ekspor komoditas pangan khususnya manggis ke berbagai negara. Untuk suksesnya ekspor buah-buahan, beberapa kegiatan atau perlakuan yang perlu diperhatikan dengan baik, seperti pengeringan, penyortiran dan pengolahan hasil sehingga komoditas yang diekspor tidak rusak mutunya.

“Kebanyakan dari petani kita masih kurang mengetahui pentingnya kegiatan penanganan atau pengelolaan lepas panen sehingga hasil panen yang dapat dianggap baik. Untuk itu perlu peningkatan Sumberdaya Manusia baik petani maupun petugas dalam penanganan dan pengelolaan tanaman agar diperoleh hasil dan produksi yang baik hingga pasca panen,” tutur Nasrul.

Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi mengatakan ekspor manggis ini menunjukkan Kabupaten Lima Puluh Kota turut andil memberikan tambahan devisa. Namun demikian, ekspor manggis pun merupakan bagian dari keberhasilan Kementan yang sangat serius mendorong dan membina petani dan pelaku usaha, sehingga manggis bisa tembus pasar China.

“Saya turut membaca berita keberhasilan Menteri Petanian Andi Amran Sulaiman. Berhasil tingkatkan produksi dan banyak komoditas diekspor. Hari ini terbukti, berhasil mendorong Kabupaten Lima Puluh Kota bisa ekspor manggis,” ucapnya.

“Karena itu, kami minta binaan yang berkelanjutan dari Kementan agar komoditas pertanian, tidak hanya manggis tetapi juga ada kopi agar dapat ekspor,” pinta Irfendi.

Eksportir manggis yang diwakili Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT. Bumi Alam Sumatera, Anggri Purnama Agung, Muhamad Bayu Vesky mengungkapkan Kementan sangat serius mendorong ekspor pangan khusus manggis. Hal ini terbukti dari pembinaan petani hingga pengurusan izin ekspor yang begitu cepat yakni hanya membutuhkan waktu 38 hari dengan 2 kali pengiriman ke China.

“Hebatnya bapak menteri, saya yakin karena Menteri Pertanianya anti korupsi, kami mengurus izin tidak ada biaya satu rupiah pun. Petugas Karantina dan tim Ditjen Hortikultura yang mengawal tidak ada biaya yang kami keluarkan sedikit pun, semuanya gratis,” ungkap Bayu.

“Kami akan beli buah dari petani dengan standar yang tinggi. Kami siap menjadikan kebun manggis terbesar di dunia. Kami yakin kalau produksi manggis Sumatera Barat 38 ribu ton per tahun, separuhnya layak,” imbuhnya.

Perlu diketahui, selain Sumantera Barat, daerah sentra produksi manggis yakni Bali dan Jawa Barat. Kedua daerah telah rutin mengekspor manggis ke China dan berbagai negara.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi Nasional

Kementan Kerja Sama dengan BI dan Pemprov Kepri untuk Tingkatkan Ekspor dan Tekan Inflasi

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menjalin kerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau dan Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) dalam upaya meningkatkan ekspor, dan pengendalian inflasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan sektor pertanian di wilayah perbatasan Kepulauan Riau.

“Bersama Pemprov Kepri dan Bank Indonesia, Kementan juga akan melakukan verifikasi usaha pertanian yang dapat mendorong peningkatan investasi, ekspor pertanian, dan pengendalian inflasi,” terang Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat penandatanganan nota kesepahaman yang ditandatanganinya bersama Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kepulauan Riau Gusti Raizal Eka Putra di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (02/10/2018).

Amran menjelaskan, dalam kerja sama ini Kementan berperan dalam kebijakan pengembangan usaha pertanian, serta melakukan percepatan investasi dan ekspor komoditas pertanian. Selain itu, Kementan menyediakan data dan informasi mengenai produksi dan penawaran dan permintaan komoditas pertanian.

Saat ini, Kementan sedang menggenjot produktivitas sektor pertanian dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan dan menjadi lumbung pangan dunia pada 2045.

“Dalam upaya mencapai misi tersebut, Kementan tentu tidak hanya berfokus pada wilayah-wilayah yang sudah menjadi sentra produksi pertanian, tapi juga mengembangkan wilayah yang belum tergali potensinya. Salah satu wilayah suboptimal yang menjadi fokus Kementan sekarang adalah Provinsi Kepri,” kata Amran.

Potensi pertanian di propinsi ini memang belum tergali secara maksimal. Hal ini tercermin dari kontribusi pertanian terhadap pendapatan daerah yang hanya sebesar 0.012 persen, relatif kecil dibandingkan kontribusi tiga sektor utama, yaitu industri pengolahan, sektor konstruksi, serta sektor pertambangan dan penggalian yang berkontribusi antara 14,3 hingga 39 persen.

Tapi pembangunan pertanian di Kepulauan Riau perlu dikuatkan karena memiliki nilai strategis, yaitu: pertama, agribisnis pertanian memiliki potensi besar meningkatkan penghasilan daerah karena memiliki pangsa pasar yang luas, baik di dalam maupun luar negeri; kedua, kemandirian pangan harus diupayakan di Kepulauan Riau karena masa tertentu terjadi kekurangan pasokan produk pertanian dari luar daerah karena kondisi cuaca yang buruk; serta ketiga, pengembangan komoditas tertentu mampu mendukung pengembangan sektor pariwisata, atau dengan kata lain bisa disebut sebagai pertanian berbasis pariwisata.

“Kepulauan Riau sendiri memiliki kelebihan tersendiri dalam perdagangan internasional karena kawasan Batam, Bintan, dan Karimun masuk ke dalam kawasan free trade zone, yaitu kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas. Kementan membidik Kabupaten Lingga untuk dikembangkan menjadi Kawasan Sentra Produksi Pertanian untuk memasok ke Kepulauan Kepri maupun untuk pasar internasional,” beber Amran.

Semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota Batam, Tanjungpinang, kabupaten lain dan dari pendatang menyebabkan ketergantungan yang tinggi kebutuhan akan tanaman pangan dan hortikultura. Saat ini pasokan pangan dan hortikultura sangat terbatas dan dijual di pasar dengan harga yang tinggi dalam kondisi tertentu. Hal ini terjadi antara lain disebabkan cuaca yang kurang baik, distribusi kurang lancar, maupun gagal panen yang terjadi di Pulau Jawa/Sumatera.

Untuk pasokan kebutuhan internasional, Provinsi Kepri bisa menjadi hub untuk ekspor. Salah satu negara yang berpotensi menjadi pasar produk pertanian Indonesia adalah Singapura yang setiap harinya membutuhkan 2.500 ton komoditas hortikultura. Selama ini, Indonesia hanya bisa memasok 6 persen dari total kebutuhan mereka.

Mencermati potensi pasar dan kebijakan pengembangan hortikultura di Propinsi Kepulauan Riau, peluang yang akan dikembangkan melalui kerja sama ini antara lain budidaya tanaman pangan pokok, membuka lahan pengembangan pertanian hortikultura pada beberapa kawasan unggulan hortikultura, membuka lahan agrobisnis untuk pertanian hortikultura, serta pembangunan industri/pabrik pengolahan produk tanaman hortikultura guna memenuhi permintaan pasar di tingkat domestik, nasional, dan luar negeri.

Kendalikan Inflasi Melalui Peningkatan Produksi Pangan

Selain akselerasi ekspor pertanian, kerja sama antara tiga lembaga ini juga ditujukan untuk pengendalian inflasi. Salah satu ruang lingkup Nota Kesepahaman ini adalah peningkatan kapasitas usaha bidang pertanian, khususnya komoditas penyumbang inflasi, seperti beras, cabai, dan bawang.

Keterlibatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau dalam kerja sama ini diharapkan dapat merumuskan dan menetapkan kebijakan pengembangan usaha berskala mikro, kecil, dan menengah, khususnya untuk mendukung pengendalian inflasi, penggunaan layanan keuangan non tunai, dan akses keuangan di sektor pertanian.

“Bank Indonesia juga akan melakukan kegiatan pengembangan sumber pembiayaan dalam rangka mendorong peningkatan usaha pertanian, serta melakukan edukasi keuangan terhadap pelaku usaha tani dalam rangka meningkatkan akses keuangan,” ungkap Amran.

Saat ini, pengendalian inflasi khususnya untuk sektor pangan cukup baik, terbukti pada bulan September lalu, Indonesia deflasi sebesar 0.18 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Bank Indonesia menyebutkan deflasi bersumber dari koreksi harga beberapa komoditas seperti daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.

“Belakangan ini, harga tiga komoditas ini mengalami penurunan harga karena produksinya yang berlimpah. Untuk itu, Kementan sedang mengupayakan agar daging dan telur ayam ras, serta bawang merah lokal dapat terserap tidak hanya di pasar domestik, tapi juga pasar internasional,” pungkas Amran.(ton/Hum)

Categories
Ekonomi

Kemenristekdikti dan Martha Tilaar Group Jalin Kerja Sama Penelitian Produk Inovatif untuk Pasar Internasional

Koranjurnal.co.id, Jakarta – Sebagai bentuk peningkatan inovasi dalam memaksimalkan hasil penelitian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melakukan kerja sama dengan Martha Tilaar Group untuk melakukan penelitian 12 produk inovatif.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe, usai menghadiri acara penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT. Martina Berto, Tbk dan Clariant di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Pusat Senin (1/10).

“Penelitian ini dilakukan oleh Martha Tilaar bersama dengan beberapa perguruan tinggi. lembaga litbang, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan ini akan kita kembangkan terus,” ucap Jumain.

Penandatangan perjanjian kerja sama tersebut dilakukan oleh Direktur PT. Martina Berto, Tbk, Kunto Widarto dan Head of Business Unit Industrial and Costumer Specialities Clariant Asia Pasifik Francois Bleger, untuk memasarkan 12 produk inovatif dari PT. Martina Berto, Tbk dengan memanfaatkan jaringan internasional Clariant.

Kerja sama ini merupakan upaya untuk mempromosikan ekspor produk-produk domestik dari Indonesia, seperti yang telah digariskan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki kekayaan alam terbesar kedua di dunia setelah Brazil, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Sejalan dengan visi dan misi Martha Tilaar Group untuk memanfaatkan kekayaan alam Indonesia, sehingga dapat menghasilkan produk berkualitas hasil inovasi anak bangsa yang memiliki nilai ekonomi, sejak awal berdiri PT. Martina, Tbk salah satu unit bisnis dari Martha Tilaar Group telah berkomitmen untuk memanfaatkan kekayaan alam asli Indonesia.

Martha Tilaar Innovation Center (MTIC), PT. Martino Berto, Tbk juga bekerja sama dengan Kemenristekdikti, setiap lima tahun sekali yang dimulai sejak 2007 lalu untuk menyelenggarakan RISTEKDIKTI-MTIC Award dalam upaya memotivasi peneliti agar dapat memadukan pengetahuan leluhur, teknologi, sumber daya alam Indonesia, dan consumer insight dalam kegiatan penelitiannya, serta meningkatkan kesadaran konsumen dalam pemanfaatan kekayaan alam Indonesia, khususnya di bidang kesehatan, obat tradisional dan kecantikan.(red/ton)