Categories
Opini Polhukam

Mahasiswa Diminta Kedepankan Dialog Tanpa Unjuk Rasa Dalam Menyikapi Penyesuaian Harga BBM Supaya Lebih Elegan

Koran Jurnal, Jakarta – Pakar Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing mengatakan mahasiswa dapat mengedepankan dialog dan adu ide maupun gagasan dalam menyikapi penyesuaian harga BBM yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan Komunikolog UPH Emrus Sihombing di Jakarta.

“Demol-ah dengan dewasa dan dialog, bertukar pikiran dan gagasan. Misal bikin surat permohonan dialog, kirim ke presiden. Buat satu pertemuan dan diliput media. Sehingga masyarakat bisa menilai gagasan mana yang bagus. Jadi, jangan demonstrasi mengganggu orang lain dan bisa saja ada penumpang gelap,” kata Emrus Sihombing, Senin (12/9/2022).

“Sejauh ini demokrasi di Indonesia belum dewasa, lantaran cenderung mengedepankan emosional. Seharusnya, mahasiswa sebagai bagian dari kelompok akademik menyampaikan aspirasi secara lebih elegan,” tambah Emrus.

Jika kebijakan pemerintah terkait penyesuaian harga BBM di respon terus dengan unjuk rasa atau demonstrasi dikhawatirkan dapat disusupi oleh penumpang gelap atau kelompok kepentingan yang memanfaatkan unjuk rasa tersebut, ucap dosen komunikasi UPH.

“Masyarakat terutama mahasiswa diimbau mewaspadai hal tersebut. Oleh sebab itu disarankan mahasiswa dapat mengedepankan dialog dengan adu ide dan gagasan agar sebagai kaum intelektual muda dapat tetap menjunjung tinggi demokrasi dengan tidak merugikan orang lain disekitarnya,” tutup Emrus.(**)

Categories
Ekonomi Opini

Dekan FEB UI: Urgensi BLT Agar Nilai Guna Subsidi Tepat Sasaran

Koran Jurnal, Jakarta – Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, Teguh Dartanto, Ph.D memandang bahwa penyesuaian harga BBM merupakan kebijakan terbaik yang harus diambil. Hal ini dikarenakan, negara memikirkan dampak jangka panjang di tengah kenaikan harga minyak dunia yang sangat melonjak tinggi agar APBN tidak mengalami defisit.

“Banyak orang berpikir bahwa kenaikan BBM hanya terjadi di masa sekarang saja, padahal tidak. Sejak Presiden Soekarno hingga saat ini, data menunjukkan sudah 62 kali penyesuaian harga BBM, Presiden Soekarno 3 Kali, Presiden Jokowi 10 kali, dan yang tidak melakukan adalah Presiden Habibi karena saat itu situasinya berbeda,” ujar Teguh dalam program Speak After Lunch iNews TV (5/9/2022).

Ia juga menilai bahwa posisi Indonesia saat ini yang sebagai net importir BBM, menyebabkan pembelian menggunakan ketentuan harga minyak dunia dan saat akan dijual memakai harga domestik. Sehingga terdapat selisih besar yang ditanggung APBN dan akan berpotensi defisit di tengah kenaikan harga minyak dunia saat ini.

Disisi lain, teguh juga menilai bahwa pemerintah sudah mengantisipasi dampak penyesuaian BBM.

“Ketika Pemerintah sudah menaikkan harga BBM, implikasinya memang cukup banyak di dalam konteks makroekonomi. Tetapi yang pertama adalah fiskal APBN lebih sehat dan yang kedua memang dengan penyesuaian harga ini akan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak dan mengurangi impor BBM, sehingga mampu melonggarkan tekanan kepada nilai tukar,” ujarnya.

Terkait dampak lainnya, ia memandang bahwa dampak dari kenaikan BBM saat ini tidak sebesar dampak Covid-19. Oleh sebab itu, penyaluran BLT yang dilakukan pemerintah adalah langkah yang tepat. Teguh juga meyakini bahwa Kemensos telah menyiapkan data untuk menyalurkan bantuan agar dapat didistribusikan kepada pihak masyarakat yang berhak.

“Pemerintah telah memiliki pengalaman yang cukup panjang terkait Bantuan Sosial dan cukup siap dengan penyesuaian harga BBM. Dan juga patut diingat, saat pandemi Covid-19 kemarin pemerintah telah banyak memberikan bantuan sosial dan merupakan bentuk mitigasi dampak Covid-19,” imbuhnya.

Teguh juga berpendapat bahwa Pemerintah diharapkan mampu mengalihkan sebagian subsidi BBM untuk pengembangan Energi Baru dan Terbarukan, seperti insentif penggunaan solar panel di rumah tangga, untuk mendorong pengembangan indsustri-industri yang ramah lingkungan.

Terkait respons masyarakat, ia menilai bahwa sebagai negara demokrasi, demo merupakan hal yang wajar manun harus menghindari anarkisme.

“Dalam hal ini, yang seharusnya dapat disuarakan adalah bukan terkait penurunan BBM, tetapi memastikan Pemerintah agar bantuan sosial kepada masyarakat bawah itu dilaksanakan dengan baik,” ujar teguh.

Ia mengatakan bahwa Kenaikan harga BBM ini harus dilihat sebagai sebuah kesempatan melakukan reformasi kebijakan energi nasional.

“Ini menjadi kesempatan Pemerintah untuk fokus melakukan transisi energi ke arah yang lebih hijau dan sustainable,” pungkasnya.(rls)

Categories
Opini Transportasi

Pengamat Maritim: Jadikan Pelindo sebagai Integrator Pengelolaan Pelabuhan Tersus dan TUKS di Seluruh Indonesia

Koran Jurnal, Jakarta – Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, peran pelabuhan sangatlah penting untuk menunjang kegiatan ekonomi dan bisnis, karena distribusi barang dari daerah atau kota di satu pulau ke daerah atau kota di pulau lainnya dapat dipastikan akan melalui pelabuhan. Sehingga peran pelabuhan untuk pengembangan wilayah dan pembangunan ekonomi sangatlah besar.

Mengingat peran pelabuhan sangat penting, pemerintah melalui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kepada beberapa media pada 11 Agustus lalu menjanjikan konsesi untuk pihak swasta yang ingin mengelola pelabuhan dalam bentuk Badan Usaha Pelabuhan (BUP).  Konsesi akan diberikan sampai 30 tahun.

Langkah yang akan dilaksanakan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk mendukung peran sektor swasta menanamkan modalnya di bidang kepelabuhan dengan membentuk Badan Usaha Pelabuhan (BUP) mendapat tanggapan dari Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa SSiT., M. Mar, Pengamat Maritim yang juga Pengurus dari Dewan Pimpinan Pusat Ahli Keselamatan dan Keamanan Maritim Indonesia (AKKMI).

“Bahwa Menhub akan memberikan konsesi 30 tahun bagi pihak swasta yang membentuk BUP untuk pengelolaan pelabuhan swasta patut diapresiasi baik. Apalagi di Indonesia ada banyak model pengelolaan pelabuhan, ada pelabuhan umum, terminal khusus (tersus) maupun terminal untuk kepentingan sendiri (TUKS). Izin ini diberikan agar tata kelola pelabuhan di Indonesia menjadi lebih optimal,” kata Capt. Hakeng dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (22/8/2022).

Memang diakui oleh Capt. Hakeng selama ini ada tumpang tindih dalam hal pengelolaan pelabuhan tersus dan TUKS. “Tata kelola pelabuhan di Indonesia perlu ditata ulang, karena seringnya terjadi overlapping,” tegasnya.

Sebenarnya persoalan tata kelola Tersus dan TUKS sudah jelas disebutkan Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Ri No. PM 52 Tahun 2021 Tentang Terminal Khusus dan Terminal untuk Kepentingan sendiri  disebut dalam Pasal 3 ayat 1 bahwa Pengelolaan Terminal Khusus atau Terminal untuk Kepentingan Sendiri dikelola oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, atau badan usaha, imbuh Capt. Hakeng.

“Saya mengusulkan agar pembangunan serta pengelolaan Tersus dan TUKS yang ada di wilayah Negara Indonesia selalu menyertakan ataupun jika bisa berada dibawah kendali Pelindo yang memiliki pengalaman, Sumber Daya Manusia dan peralatan pendukung yang sangat memadai. Apalagi selama ini ada tumpang tindih dalam hal pengelolaan pelabuhan tersus dan TUKS tersebut. Sehingga tata kelola pelabuhan di Indonesia seperti tidak terintegrasi dan terkoordinasi. Sebaiknya, pembangunan Tersus dan TUKS di seluruh Indonesia bisa selalu berkoordinasi serta di bawah kendali Pelindo. Karena Pelindo, satu-satunya BUMN Pelabuhan dan diyakini punya kapasitas kuat dalam hal tersebut,” tegasnya.

Karena itu lanjut Capt.Hakeng perlu kiranya dibuat peraturan presiden untuk menguatkan Pelindo sebagai integrator pengelolaan pelabuhan Tersus dan TUKS di Indonesia. “Bagaimanapun dengan Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan, maka Pelabuhan adalah urat nadinya. Karenanya sepatutnya dikelola secara profesional dan terintegrasi sehingga tidak menciptakan biaya logistik yang tinggi untuk hal-hal yang tidak perlu,” katanya.

“Tersus atau TUKS tidak mengeluarkan biaya uang kewajiban atau konsesi. Mereka hanya membayar PNBP ke pemerintah  yang jumlahnya dibawah konsesi 2,5 persen dari pendapatan bruto. Sehingga ada kesan persaingan yang kurang adil antar BUP,” sambung Capt. Hakeng.

Sebenarnya, secara mendasar TUKS dan Tersus seharusnya sesuai dengan UU No 17 tahun 2008. “Mereka diizinkan mengelola hanya untuk wilayah kepentingan sendiri atau wilayah khusus yang dekat dan di dalam sebuah pelabuhan serta tidak dipakai untuk umum. Namun kenyataannya kegiatan ini malah kemudian bersaing dengan layanan umum eksisting,” ungkapnya.

Apabila Tersus dan TUKS ingin menjadi pelabuhan umum maka harus memenuhi berbagai persyaratan. Bila dibuka untuk umum, tersus dan TUKS harus memenuhi persyaratan sebagai pelabuhan atau terminal umum, kemudian Mereka harus melengkapi terlebih dahulu aset-asetnya dengan persyaratan keselamatan dan keamanan dan juga harus membayar konsesi. Sebab mereka memiliki hak untuk pengelolaan secara umum,” pungkas Capt. Hakeng. (***)

Categories
Opini TNI

KSAD Jenderal Dudung Abdurachman Mengajak Bersama-sama Lestarikan Indonesia yang Bhinneka, Aman, Damai dan Kuat

Koran Jurnal, Jakarta – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman mengajak untuk bersama-sama melestarikan Indonesia yang Bhinneka, aman, damai dan kuat, sekaligus bahu-mambahu dengan masyarakat untuk mendorong lahirnya para Satria yang senantiasa berdiri tegak, gagah perkasa dan berjiwa welas asih di atas Bumi Pertiwi. Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dr. Dudung Abdurachman saat memberikan sambutan pada Acara Giat Satria Indonesia yang digelar di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad) dihadapan 831 peserta terdiri dari artis, perwakilan mahasiswa beserta Dosen dan Rektor dari 77 perwakilan perguruan tinggi di Indonesia, Rabu (17/8/2022).

Giat Satria Indonesia yang diikuti para Rektor, alumni dan mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia, serta publik figure, digagas oleh Kasad dan Bapak Purwa Caraka serta beberapa publik figure tanah air.

Kasad mengatakan, Giat Satria Indonesia ini dilatarbelakangi dari niat tulus para pemuda yang menjadi Satria-satria Indonesia di berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke berniat dan bergiat untuk mempertahankan kebhinekaan, cinta Merah Putih, wawasan kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara.

“Ini membuktikan bahwa semangat kebangsaan dan persatuan yang diwariskan para founding father dan pahlawan terdahulu terus mengalir dalam darah kita dan tidak pernah padam dalam menjaga dan merawat kebhinekaan,” ungkap Jenderal Dudung.

Mengakhiri sambutannya, Kasad berpesan kepada semua komponen bangsa agar senantiasa menjaga dan merawat bersama persatuan dan kesatuan bangsa, serta menjaga keharmonisan dalam kebhinekaan dalam rangka mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.

Dalam sambutan lain, Bapak Purwa Caraka selaku inisiator Giat Satria Indonesia mengatakan, “Bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang murni netral, tidak berafiliasi, non partisan dan tanpa sponsor. Terselenggaranya acara ini semata-mata karena didorong rasa semangat kebersamaan dan rasa cinta kepada bangsa dan negara.”(disp)

Categories
Opini Polhukam

Politik Versi Alkalin, Akal-akalan

Oleh: Dr. Yuyun Pirngadi

Belakangan ini isu seputar Pemilihan Presiden 2024 marak diperbincangkan diberbagai media sosial. Kendati masih tergolong lama, namun kasak kusuk Partai politik, organisasi sosial, bahkan organ relawan tak pernah sepi. Ada saja gerakan yang menyita perhatian publik.

Sebut saja, kelompok relawan Jokowi diam diam lempar bola dengan gagasan ambigu bernuansa aspiratif yakni, Musyawarah Rakyat (Musra). Musra merupakan media untuk mengartikulasikan aspirasi dan menerjemahkan kepentingan politik rakyat. Organ relawan mencoba menjaring dan menyaring pilihan rakyat terhadap kandidat capres/cawapres 2024.

Melalui mekanisme Musra ini diharapkan rakyat dapat informasi tentang kandidat, dan rakyat seolah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan dalam pilihan paslon idolanya. Kendati Mekanisme Musra itu sarat teka-teki, untuk tidak dikatakan kelabu. Sepintas nuansa gagasan itu dapat menyenangkan publik. Betapa tidak, mereka (relawan Jokowi) seolah akomodatif, cerdas, bisa dan biasa membaca denyut jantungnya rakyat. Padahal, organ relawan melakukan proses penjaringan dan menyaringan aspirasi rakyat, sama halnya tindakan “zero sum game”, (cara benar disini, tapi salah disana atau sebaliknya). Mengapa demikian? Persoalannya terletak pada dahaga kuasa. Syahwat kuasa diselipkan dalam agenda Musyawarah rakyat dan diformulasikan dengan sekuen tabel ke rakyat alurnya aspirasi ditandai adanya langkah turba (turun ke bawah) sebagai bentuk menangkap aspirasi bottom-up hingga batas kalender 2024.

Dalam pemahaman publik sekuen tabel yang diwacanakan menarik jika proses penangkapan aspirasi, lalu dibicarakan dalam musyawarah rakyat. Artinya, secara politis faktual proses tersebut memiliki kredibilitas dukungan resmi, dan secara yuridis formal memiliki kekuatan yang dapat dirujuk dalam model demokrasi konstitusional.

Menurut ketua umum Relawan Pondasi Jokowi Satu (Pojok Satu) Dr. Yuyun Pirngadi menilai, mekanisme penjaringan dan penyaringan aspirasi model bottom-up tak semudah apa yang dibayangkan sekelompok relawan Jokowi. Disamping high cost economic, peliknya menangkap benak masyarakat heterogenitas sama halnya orang buta mengidentifikasi hewan. Pegang kuping besar, dikategorikan gajah. Tak cuma itu, tindakan itu merupakan miopik, semut diseberang lautan terlihat, sedangkan gajah didepan mata tak terlihat.

Betapa tidak, heterogenitas di alam demokrasi selalu saja menjadi ikonis, tanpa mau tahu hadirnya demokrasi sebenarnya barang cacat sejak lahir. Ambil saja contoh, ketika ruang publik diisi 10 orang, dengan komposisi 9 orang pecundang, 1 orang bijak, maka mekanisme demokrasi membenarkan pemungutan suara melalui “voting”. Jika 10 : 1 = maka pasti dimenangkan 9 pecundang. Rusaklah aspirasi ditangan pecundang. Substansi voting itu tumbuh dan berkembang di negara-negara Barat. Bagaimana di Indonesia? Negeri nyiur melambai ini, memiliki caranya sendiri yakni, voting tidak diharamkan, tapi mengedepankan azas musyawarah mufakat harus didahulukan. Kendati demikian, sebenarnya musyawarah merupakan voting yg ramah, sehingga terkesan lebih aspiratif dan akomodatif. Ketika aspirasi itu dijalankan oleh pecundang, maka aspirasi itu hanya jadi politik Alkalin alias akal-akalan untuk memenuhi syahwat kuasa.

Musyawarah rakyat hanya kemasan dan sulit direalisasikan oleh organ relawan yang payung hukumnya tak jelas. Apalagi melakukan bargaining position.
Secara struktural, kita pun tak yakin organ organ relawan memiliki infrastruktur ditingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Dari 34 provinsi dan lebih kurang 509 kabupaten/kota.
Belum lagi, proses menjaring aspirasi tak selalu kosong-kosong. Perlu ada tangan-tangan tak tampak bermain. Misalnya, kita mengenal Maradona, bintang lapangan sepak bola asal Argentina, didepan gawang ia pun seolah terlihat menyundul bola ke gawang, tapi cara cepat tangannya menyentuh bola dan bermain sehingga bola pun tembus gawang. Jadilah Argentina juara piala dunia. Tangan tangan ini pun berlaku bagi pecundang yg dahaga kuasa. Aspirasi diolah dan untuk menggoalkan kepentingan para pecundang. mendorong bola aspirasi ke arah gawang, maka goal terjadi dan klaim menelisik untuk mendapatkan kue kemenangan.

Pada relasi musyawarah rakyat (Musra) ada tiga masalah pokok yang harus diketahui. Pertama, apakah setiap organ relawan memiliki struktur organisasi tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Kedua, berapa isi tas yg dimiliki organ relawan dalam menangkap aspirasi rakyat di seantero Indonesia. Ketiga, metodologi apa yg digunakan dalam proses perhitungan suara pada musyawarah rakyat. Apakah menggunakan floating block atau mono block. Bagaimana merepresentasikan block-block itu. Apakah berbanding lurus 100 suara organ relawan, diklaim sama sebagai aspirasi politik setingkat kabupaten/kota.
Padahal, kita tahu di era multi parpol, aspirasi konstituen saja satu parpol warnanya magenta. Ketika tangan-tangan tak tampak bermain, maka baru suara bisa di-stem/disamakan. Tangan-tangan itu tidak kosong-kosong, organ relawan siapkah membawa gizi. Jika tak siap, tangan-tangan itu tak bisa seperti tangannya Maradona.
Membolak-balikkan hati rakyat tak semudah membalikkan telapak tangan.

Kita ambil contoh di Amerika Serikat. Acapkali Pilpres, dua parpol Republik dan Demokrat melakukan Konvensi sebagai mekanisme penjaringan dan penyaringan calon presiden.
Proses rekruiting calon presiden harus melakukan sosialisasi mencari dukungan rakyat di 51 negara bagian di AS. Proses panjang hrs dilalui dengan cost mahal, dan meletihkan. Pada akhirnya kedua parpol tersebut hrs memutuskan kandidatnya masing masing yg akan bertarung dalam pemilihan presiden/wakil presiden. Survei rakyat menunjukkan dukungan dan diputuskan oleh parpol hasilnya. Maka dapatlah kandidat presiden dari proses penjaringan aspirasi rakyat. Mekanisme struktur parpol bekerja melakukan survei dan menghitung secara kuantitatif. Floting block dengan membagi unsur-unsur kekuatan suara, lalu dipresentasikan secara kuantitatif, maka didapat angka yang representatif. Contoh soal, unsur kekuatan organisasi underbow partai mendapat suara 20 (voting block). Struktur negara bagian atau provinsi mendapat suara 30, begitu pula struktur kabupaten/kota 40. Untuk pusat 10. Total 100 suara equivalen 100%. Ketika dilakukan perhitungan di lintas parpol, maka floating block suaranya sangat varian. Bahkan, pilihan ditentukan oleh janji kampanye politiknya yang dilakukan calon ketika berkeliling ke negara bagian.
Pertanyaannya, bagaimana konsep perhitungan penjaringan/penyaringan dalam Musra?

Jika Musra tak memiliki konsepsi jelas, itu tandanya iseng-iseng aja relawan dagang. Cari sensasi dan momentum semata. Jangan pernah mimpi atau menggeneralisasikan perilaku politik masyarkat di Indonesia dan AS berbeda. Pemilih Indonesia, dapat digolongkan menjadi 4 bagian:1). Pemilih tradisional, 2)pemilih massa mengambang, 3). pemilih undecided, 4). pemilih rasional. Jika Relawan jokowi tak memiliki konsep floating block dan monoblock. Mana mungkin mendapat konsep Musra yang mumpuni. Tentunya ada satu kata yakni, jangan pernah akal-akalan. Jika dahaga kuasa, lalu menjual aspirasi rakyat. Ujungnya mengklaim atas nama rakyat, (Musra) untuk meminta kue kekuasaan. Walahualam bisawab.

Penulis: Ketua umum Relawan Jokowi Satu (Pojok Satu)

Categories
Ekonomi Opini

Presiden Jokowi: Terima Kasih Petani dan Pak Menteri, Pertanian Terus Berproduksi

Koran Jurnal, Medan – Presiden Joko Widodo menyampaikan apresiasi kepada para petani Indonesia atas kontribusinya dalam menjaga ketersediaan pangan nasional. Hal itu disampaikan Presiden Ketika menyampaikan arahan pada Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-29 Tahun 2022, di Medan, Kamis (7/7/2022).

Menurut Presiden Jokowi, harga pangan dunia mengalami kenikan 30 sampai 50 persen imbas dari perang Rusia-Ukraina. Tapi menurutnya, Indonesia masih beruntung karena para petani masih berproduksi.

“Kita ini masih untung, Alhamdulillah, rakyat kita utamanya petani masih berproduksi beras dan sampai saat ini harganya belum naik. Semoga saja tidak naik. Karena stoknya selalu ada,” ungkap Presiden.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Negara juga menyampaikan bahwa Indonesia sudah tiga tahun, tidak impor beras.

Diketahui, produksi beras nasional pada tahun 2019 mencapai 31,31 juta ton, meningkat di tahun 2020 menjadi 31,36 juta ton dan di tahun 2021 sebesar 31,33 juta ton.

“Biasanya kita impor 1,5 juta ton, 2 juta ton. Ini sudah tidak impor lagi. Ini Menteri Pertanian hadir di sini. Terima kasih Pak Menteri,” katanya.

Ketersediaan dan harga beras yang relatif stabil tersebut menurut Presiden patut disyukuri. Pasalnya negara-negara di Afrika dan beberapa di Asia mulai menghadapi kekurangan pangan yang akut.

Oleh karena itu, kemandirian pangan menjadi penting sehingga Presiden mengajak kepada seluruh Bupati dan Walikota untuk memanfaatkan lahan-lahan sekecil apapun untuk ditanam, berproduksi kebutuhan pangan sehari-hari

“Jangan sampai ada lahan kosong, manfaatkan untuk asupan gizi anak kita. Karena kita nanam di mana pun itu tumbuh dan bisa kita panen. Itu penting sekali karena anak-anak kita, di hari ini adalah penentu wajah masa depan Indonesia. Kalau anak-anak kita pintar, cerdas, kita bersaing dengan negara lain, itu mudah, tapi kalau anak-anak kita stunting, gizi tidak baik, nutrisi tidak tercukupi, nanti ke depan bersaing dengan negara-negara lain akan kesulitan,” imbuh Presiden.

Mengenai hal tersebut, Menteri Pertanian Syahrul menyampaikan bahwa ketersediaan beras selama tahun 2022 dalam kondisi aman sehingga ke depan Indonesia tidak perlu melakukan impor.

Apa yang dilakukan Mentan SYL Bersama jajarannya itu dinilai oleh Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI), Riyanto, sebagai bukti keberhasilan kerja pemerintah dan Mentan SYL dalam menyelesaikan semua arahan dan perintah dari Presiden Jokowi.

“Biasanya Indonesia mengimpor beras. Tapi saat bersama Mentan SYL, saya lihat beras Indonesia cukup, bahkan cenderung surplus atau jumlahnya berlebih. Semua bisa dikendalikan dalam waktu tiga tahun terakhir ini,” pungkasnya.(hum)

Categories
Opini TNI

Nasehat Ibu Taruna Ny. Vero Yudo Margono: Jadilah Perwira TNI AL Tidak Bergaya Hidup Hedonis

Koran Jurnal, Jakarta – Ibu Taruna Ny. Vero Yudo Margono memberikan pembekalan kepada 107 Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Tingkat IV Angkatan ke-67 bertempat di Gedung Maspardi AAL, Bumimoro Surabaya, Kamis (23/06/2022) Kemarin.

Pembekalan ini merupakan rangkaian kegiatan dari para Taruna AAL yang akan melaksanakan Penutupan Pendidikan dan Wisuda Sarjana serta dalam waktu dekat akan dilantik sebagai Perwira Remaja dengan pangkat Letnan Dua oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta pada 14 Juli 2022 mendatang.

Dalam pembekalannya, Ny. Vero Yudo Margono mengucapkan selamat atas berakhirnya proses belajar dan berlatih di Akademi Angkatan Laut serta mengingatkan agar jangan sekali-kali meninggalkan motto Akademi Angkatan Laut yakni Hree Dharma Santy yang mengandung makna merasa malu berbuat cela serta merupakan salah satu nilai dari Trisila TNI Angkatan Laut yakni nilai yang sangat kuat dalam kepemimpinan matra laut.

“Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya selaku Ibu Taruna AAL dapat bertatap muka dengan anak-anaku generasi penerus di Angkatan Laut. Jaga kekompakan terhadap senior junior dan rekan seangkatan serta jadilah Perwira Muda TNI AL yang mumpuni, paham dan mengerti teknologi serta perkembangan lingkungan pergaulan dengan menjaga etika serta tidak bergaya hidup hedonis,” ujar Ibu Taruna.

Kegiatan yang diikuti oleh 107 orang Taruna AAL Angkatan ke-67 terdiri dari 39 orang Korps Pelaut dan 1 orang menempuh pendidikan National Defence Academy (NDA) di Jepang, 14 orang Korps Tehnik, 14 orang Korps Elektronika, 15 orang Korps Suplai dan 25 orang Korps Marinir diawali dengan yel-yel meriah penuh semangat sebagai ucapan selamat datang kepada Ibu Taruna dilanjutkan dengan penayangan video profil Ibu Taruna kemudian pembekalan dan sesi tanya jawab, serta di akhiri dengan foto bersama.

Seusai memberikan pembekalan Ibu Taruna AAL Ny. Vero Yudo Margono juga berkesempatan memimpin Upacara Parade Surya Senja dalam rangka pengukuhan Tambur Major Genderang Suling Gita Jala Taruna AAL di Ksatrian AAL, Bumimoro, Surabaya. Tradisi penyerahan alat Genderang Suling dan pengukuhan Tambur Major, Ibu Taruna AAL Ny. Vero Yudo Margono melepas pet Sermadatar (E) Benedick Rosel Sitorus dan menggantikannya dengan pet Jambul Tambur Major Genderang Suling Gita Jala Taruna AAL. Kemudian dilanjutkan dengan acara serah terima jabatan Tambur Major lama Sermatutar (S) Rizqi Taufiqurokhman dengan cara melempar stick dari atas bass drum kepada Tambur Major yang baru Sermadatar (E) Benedick Rosel Sitorus.(disp)

Categories
Militer Opini TNI

KSAL Laksamana Yudo Margono: Laut Harus Jadi Pusat Aktifitas Ekonomi Global

Koran Jurnal, Jakarta – Dekade kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki makna bahwa untuk memacu pembangunan ekonomi yang berkelanjutan diperlukan sasaran pembangunan yang solid bagi seluruh masyarakat dunia, laut harus menjadi pusat dari aktifitas ekonomi global. Pada skala regional, kebijakan pemerintah harus di implementasikan melalui manajemen sektor kemaritiman.

Demikian keynote speech yang disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono saat membuka Seminar Internasional dalam rangka Peringatan Hari Hidrografi Dunia Tahun 2022 dengan tema “Hydrography – Contributing to the United Nations Ocean Decade” yang digelar oleh Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) di Hotel Anvaya Beach Resort, Kuta Bali. Kasal menyampaikan Keynote speech secara virtual dari Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (9/6/2022).

Menurut KSAL dekade kelautan telah membuka banyak peluang bagi Indonesia untuk memunculkan integrasi tanpa batas antara berbagai kecanggihan teknologi seperti machine learning, artificial intelegence, internet of things, wahana survei nirawak, pembangunan perkapalan, sistem navigasi, dan kebijakan yang berbasis ilmu pengetahuan.

Pushidrosal berperan sebagai institusi yang bertanggung jawab terhadap tugas negara di bidang hidrografi serta berkontribusi penting melalui peta laut untuk mendukung kebijakan dan pengambilan keputusan yang berbasis sains.

“Oleh karena itu, aktifitas ekonomi kelautan seperti perdagangan, lalu lintas barang dan manusia, rantai pasokan sumber daya alam seperti minyak dan gas, serta komoditas hasil produksi, akan sangat membutuhkan peta laut untuk mendukung keselamatan navigasi,” ujar KSAL.

Selanjutnya Kasal menyampaikan bahwa Pushidrosal telah melaksanakan pemetaan dasar laut di perairan Indonesia untuk menghasilkan data batimetri terbaik dengan akurasi dan cakupan yang memadai, selaras dengan program pemetaan bawah laut dari IHO-GEBCO 2030. “Berbagai langkah tersebut sejalan dengan implementasi hidrografi untuk berkontribusi dalam dekade kelautan perserikatan bangsa-bangsa,” kata KSAL.

Sementara itu Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Nurhidayat menyampaikan bahwa Pushidrosal, tidak hanya berfokus pada penyediaan data hidrospasial dalam rangka menjamin keselamatan pelayaran di seluruh perairan Indonesia di tingkat nasional, tetapi juga memiliki peran dan kontribusi di tingkat regional dan internasional.

“Berawal dari peran Hidrografi untuk keselamatan navigasi, hidrografi berkembang untuk mendukung semua kegiatan yang berhubungan dengan laut, termasuk pembangunan ekonomi, keamanan dan pertahanan, batas laut, penelitian ilmiah, pariwisata, mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan dan pengelolaan wilayah pesisir,” ungkap Danpushidrosal.

Seminar yang dihadiri langsung oleh Direktur IHO, Laksamana Muda Luigi Sinapi ini menampilkan pembicara Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Dan Energi, Kemenko Marves RI, Dirjen Manajemen Zona Maritim KKP RI, Laksamana Madya Dr. Fujita Masayuki (Kepala East Asia Hidrografi Commission), Mr. Evert Flier (Kepala Komisi Pengawas Gebco), Laksamana Muda Rhett Hatcher (United Kingdom National Hydrographer), Commodore Stewart Dunne (Hidrografer Australia), Dr. Thomas Heege (Manajer Direktur Eomap) serta komunitas hidrografi internasional.(disp)

Categories
Opini Polhukam

Ketum Eko Pratama Tegaskan Partai Mahasiswa Indonesia dan BEM Nusantara, Dua Ruang Berbeda

Koran Jurnal, Jakarta – Ketua Umum Partai Mahasiswa Indonesia (PMI) menyampaikan klarifikasinya atas pertanyaan yang beredar tentang terbentuknya Partai Mahasiswa Indonesia (PMI) yang dikaitkan dengan BEM Nusantara.

“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang terjadi, karena Aliansi BEM Nusantara sempat dikait-kaitkan dengan partai yang saya pimpin. Saya tegaskan bahwa Partai Mahasiswa Indonesia bukanlah bagian dari Aliansi BEM Nusantara, begitupun juga sebaliknya. Itu adalah dua ruang yang berbeda,” ungkap Eko Pratama dalam keterangan persnya di Jakarta, Sabtu (28/5/2022).

Eko juga menjelaskan kepada publik bahwa pendirian PMI adalah sikap politik pribadinya. “Pandangan publik mengarah kepada BEM Nusantara, karena pada saat partai itu muncul ke permukaan status saya masih sebagai Koordinator Pusat BEM Nusantara. Akan tetapi perlu saya tegaskan bahwa mendirikan Partai Mahasiswa Indonesia adalah sikap politik pribadi saya, bukan dari Aliansi BEM Nusantara,” tegas Eko.

Terakhir Eko menyampaikan pula permohonan maaf kepada BEM Nusantara, para pengurus dan seluruh BEM yang tergabung dalam Aliansi BEM Nusantara atas apa yang terjadi.

“Sekali lagi saya mohon maaf kepada kawan-kawan BEMNUS, semoga dengan adanya klarifikasi ini, Aliansi BEM Nusantara dapat lepas dari tudingan-tudingan yang mengarah kepada Aliansi BEM Nusantara,” pungkas Eko. (*)

Categories
Opini

Pengamat Maritim Pastikan Pembangunan Maritim Pasca 2024 Tetap Ada

Koran Jurnal, Jakarta – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki potensi untuk menjadi Poros Maritim Dunia. Hal tersebut terungkap dalam sebuah Diskusi Publik yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL Strategic Center) di Jakarta, Rabu (20/4/2022).

Pengamat Maritim yang juga Pendiri Perkumpulan Ahli Keselamatan dan Keamanan Maritim Indonesia (AKKMI) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa saat menjadi pembicara di diskusi publik bertema Pembangunan Maritim Pasca 2024 Tetap Adakah?, mengutarakan apresiasinya terhadap Pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang telah memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan dunia maritim di Indonesia.

“Apresiasi positif patut saya berikan kepada pemerintahan saat ini, karena secara jujur baru kali ini saya merasa muncul perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan dunia maritim di Indonesia. Setelah sekian lama kita tenggelam dalam konsep negara agraris dan rakyat seperti dipaksa untuk memahami bahwa Indonesia adalah negara agraris, akhirnya kita kembali ke ‘haluan’ kita yang sebenarnya yaitu sebagai Bangsa Maritim. Saya melihat baru kali ini ada pemerintahan yang memberikan konsep Poros Maritim Dunia serta Tol Lautnya,” ujar Capt. Hakeng.

Dirinya sebagai Pengamat Maritim juga merasa khawatir jika pada 2024 nanti terjadi pergantian rezim. “Dan terus terang, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi saya sebagai pengamat maritim, ketika tahun 2024 nanti terjadi pergantian rezim, apakah rezim penggantinya masih memiliki visi yang sama perihal Maritim?” sebut Capt. Hakeng begitu biasa disapa.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Negara Indonesia ini terdiri dari lautan, yang ditaburi oleh pulau-pulau, setidaknya itu yang dikatakan Founding Father kita, Ir. Soekarno Presiden Republik Indonesia Pertama dalam berbagai kesempatan berbicara di forum resmi.

“Kita ini bangsa maritim, beliau tidak mengatakan bahwa Indonesia negara kepulauan. Soekarno juga tidak mengatakan Indonesia adalah negara agraris. Tapi secara spesifik beliau mengatakan bahwa Indonesia adalah negara lautan yang ditaburi oleh pulau-pulau, Bangsa Maritim. Sebagai bangsa maritim kita harusnya tidak hanya pandai menyanyikan lagu ‘Nenek Moyangku Seorang Pelaut’. Sebagai bangsa maritim harusnya kita sadar bahwa Indonesia terdiri dari 17.499 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote. Dimana total wilayah Indonesia sekitar 7,81 juta kilometer persegi (km2), Dimana 5.80 juta km2 adalah lautan atau 67 persen wilayah Indonesia adalah lautan,” jelas Capt. Hakeng.

“Dengan kondisi geografis kita yang specific dan given seperti ini dan jika kaitkan dengan tema diskusi kita kali ini ‘Pembangunan Maritim Pasca 2024’ Tetap adakah? maka tentunya jawabannya adalah sudah pasti harus tetap ada. Selama negara kita masih terdiri dari banyak pulau dan belum ada teknologi yang mampu menyatukan pulau-pulau itu menjadi satu benua. Maka selamanya Indonesia merupakan negara maritim dan Indonesia selamanya membutuhkan pembangunan di bidang maritim,” ungkap Capt. Hakeng.

“Bagaimana mungkin distribusi pangan akan bisa merata ke seluruh pelosok negeri tanpa menggunakan kapal-kapal niaga kita? Bagaimana mungkin pemerintah mendistribusikan jutaan ton BBM ke seluruh pelosok negeri, sehingga ada BBM satu harga ini tanpa menggunakan kapal laut?” jelas Capt. Hakeng, SekJend Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Maritim Indonesia (FORKAMI).

Dalam diskusi publik ini Capt. Hakeng menyoroti beberapa isu dan memberikan beberapa masukkan kepada pemerintahan untuk bisa dijadikan perhatian.

Isu pertama yang dibahasnya adalah mengenai Lima Pilar Poros Maritim Dunia. Dimana menurutnya fokus atau pekerjaan rumah besar yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah terkait Pilar Pertama, Ketiga dan Keempat.

Dimana pada pilar yang pertama, pembangunan kembali budaya maritim Indonesia. Ketika dirinya ditanyakan apakah budaya maritim Indonesia ini sudah muncul di masyarakat Indonesia? Capt. Hakeng menyatakan dengan tegas bahwa masyarakat masih belum merasa memiliki budaya maritim yang kuat. Karena ini bisa dilihat dari keseharian masyarakat contohnya dalam gaya bercanda atau anekdot yang keluar di masyarakat seperti kalimat berupa “udah ke laut aja”. Kalimat itu sering muncul sebagai gaya bercandanya dan sepertinya lumrah bagi masyarakat, tapi dalam artinya bagi dirinya sebagai seorang pelaut.

Oleh sebab itu melalui diskusi publik ini, “Saya ingin mengajak seluruh elemen masyarakat agar memaksimalkan budaya maritim. Salah satu alternatif yang saya usulkan adalah dengan memasukan pendidikan maritim ke mata kuliah wajib seperti mata kuliah character building lainnya, Pancasila dan Agama di kampus-kampus Indonesia.”

Pada pilar ketiga yang menurut Capt. Hakeng patut mendapat perhatian adalah komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, dan industri perkapalan, serta pariwisata maritim.

Secara umum sebetulnya sudah bagus, hanya memang masih terdapat aspek yang patut menjadi perhatian. Terutama kelemahan yang dimiliki adalah konsistensi. “Pada periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi penjabaran dan pemberitaan terkait Indonesia sebagai negara maritim luar biasa dahsyatnya. Saya sebagai praktisi maritim saat itu sangat bahagia serta bangga. Tapi saya rasakan diperiode kedua pemerintahan Jokowi terjadi penurunan konsistensi terkait keinginannya membangun indonesia sebagai negara maritim.

Pilar keempat yang jadi fokus pembahasan Capt. Hakeng adalah diplomasi maritim yang mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerja sama pada bidang kelautan.

“Kata diplomasi saya soroti ini sebagai titik yang belum bisa maksimal. Diplomasi hanya untuk area government/pemerintah yang bisa berdiplomasi dengan negara lain. Karena itu saya mendorong agar pilar keempat ini dilebarkan maknanya menjadi Promosi Maritim, sehingga bisa melibatkan seluruh elemen bangsa,” tegasnya.

Hal lain yang dibahas Capt. Hakeng dalam diskusi publik itu adalah soal Teknologi Kapal Laut Tanpa Awak atau MASS (Marine Autonomous Surface Ships) yang menurut dia teknologi MASS ini tujuan akhirnya adalah menghilangkan para pelaut dan digantikan oleh Artificial Intelligence.

Penerapan MASS di negara Indonesia menurut Capt. Hakeng harus dipikirkan secara matang. Apalagi pada 2045 nanti, Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Bonus demografi merupakan suatu keadaan di mana penduduk yang masuk ke dalam usia produktif jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Usia produktif yang dimaksud adalah berkisar antara 15 hingga 64 tahun.

“Dengan bonus demografi yang segera dinikmati Bangsa Indonesia. Maka mengedepankan pengembangan Industri padat karya yang berintegrasi dengan teknologi. Bukan malah mengedepankan pengembangan teknologi yang meminimalisir jumlah pekerja. Jangan sampai bonus demografi malah menjadi bencana demografi bagi Bangsa Indonesia,” katanya.

Ada yang patut dijadikan perhatian ungkap Capt. Hakeng terutama yakni memaksimalkan peran pelaut Indonesia dalam menjaga kedaulatan Indonesia sebagai bangsa Maritim. Indonesia memiliki 111 Pulau Kecil terluar, karena itu negara harus hadir di setiap pulau kecil terluar. Jangan sampai peristiwa hilangnya Pulau Ligitan dan Sipadan ke negara lain menjadi terulang kembali.

Penting pula melibatkan para nelayan atau para Pelaut Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara. Sebagaimana tertera dalam semangat Pasal 30 ayat 2 UUD 1945 hasil amandemen kedua, yaitu sistem Makarrata yang dapat diterapkan pula di dunia Maritim.

Dalam closing statemennya, Capt Hakeng memberikan pernyataan tegas “Harusnya dapat kita sepakati bersama bahwa ada PR besar yang menunggu untuk kita selesaikan. Sangat penting untuk selalu dapat memahami betapa Negara Indonesia adalah Negara yang sedang bercita-cita menjadi Negara Maritim,” katanya.

Dalam beberapa diskusi muncul pertanyaan bagaimana cara paling mudah menghancurkan Indonesia? “Hancurkan saja Maritimnya. Tidak akan ada lagi persatuan di sana, yang tertinggal hanya pulau-pulau tanpa pemersatunya. Patut selalu kita ingat tanpa pelaut dan kapal, Indonesia tidak akan menjadi Negara Maritim. Tanpa Pelaut dan Kapal, maka tidak akan terdapat Kedaulatan energi, ekonomi dan pangan di Indonesia,” pungkasnya.(*)