Categories
Ekonomi Militer TNI

Angkatan Darat Terima Bantuan 48.000 Perlengkapan Kesehatan dari Pertamina Peduli, KSAD: TNI AD Siap Bantu Pertamina

Koran Jurnal, Jakarta – TNI Angkatan Darat menerima bantuan sebanyak 48.000 paket perlengkapan kesehatan dari Pertamina Peduli Penanggulangan Covid-19 yang diberikan secara simbolis oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Ibu Nicke Widyawati didampingi para staf pada kegiatan audiensi dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa di Markas Besar Angkatan Darat Jakarta, Rabu (10/06/2020).

Kasad mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut dan siap mendistribusikan kepada 68 Rumah Sakit TNI AD di seluruh Indonesia. Adapun bantuannya berupa masker kain, sarung tangan karet, multi vitamin dan hand sanitizer termasuk satu set laboratorium tes PCR (Polymerase Chain Reaction) dan satu set Robotic Nurse for Covid-19 Patients untuk Rumah Sakit Darurat wisma atlit.

Dalam audiensi tersebut, Dirut PT Pertamina (Persero) juga menyampaikan bahwa mereka saat ini sedang melanjutkan pembangunan kilang nasional di Balongan, Cilacap, Balikpapan dan Tuban. Proyek yang dikenal dengan mega proyek RDMP (Refinery Development Master Plan) dan GRR (Grass Roof Refinery) ini sedang dipercepat tahapan pembangunannya untuk mengejar ketahanan dan kemandirian energi nasional yang ditandai dengan STOP IMPOR BBM di tahun 2026. Menurut Nicke, Pembangunan kilang minyak ini perlu mendapatkan dukungan semua pihak, termasuk TNI AD agar berjalan lancar, aman dan selesai tepat pada waktunya.

Menanggapi pernyataan Dirut PT Pertamina (Persero) tersebut, Kasad menyampaikan bahwa TNI AD siap membantu semaksimal mungkin sehingga semua proyek investasi PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu obyek vital nasional strategis, dapat berjalan dengan aman dan lancar.

Turut mendampingi KSAD dalam audiensi tersebut, Wakasad Letjen TNI Moch. Fachruddin, S.Sos., Koorsahli Kasad, Asintel, Aspers, Aster, Dandenma Mabesad dan Kadispenad.(disp/red)

Categories
Ekonomi

Kementan: Sinergitas Lintas Sektoral Perkuat Ketersedian Pangan di Era New Normal

Koran Jurnal, Jakarta – Pandemi COVID-19 telah merubah tatanan masyarakat dunia. Guna mencegah penularan wabah virus corona yang meluas, masyarakat diimbau bahkan diwajibkan untuk tinggal di rumah dan perubahan tersebut ternyata berdampak luas di banyak sektor, khususnya pangan sehingga perlu adanya strategi agar penyediaan pangan kokoh.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa pandemi Covid-19 sudah ada bersama dengan kehidupan sehingga masyarakat harus segera beradaptasi dengan segala hal baru. Salah satunya mengenai strategi penyediaan bahan pangan yang harus disinergikan dengan protokol kesehatan saat ini.

“Covid-19 dengan berbagai dampak yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan bahkan telah merubah paradigma. Oleh karna itu, kebijakan- kebijakan baru harus kita tata untuk menjawab tantangan di era new normal,”kata Mentan saat memberikan materi pada acara Webinar “ Strategi Ketahanan Pangan do Era New Normal Pandemi Covid-19” bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin dan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Arif Satria, pada Selasa (09/06/2020) kemarin.

Dalam webinar itu, Mentan memaparkan terkait strategi Kementerian Pertanian (Kementan) menghadapi ketersedian pangan di masa pandemi dan era New Normal hingga agenda dalam jangka panjang yang menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tukar petani. Lebih khusus saat ini, Kementan fokus meningkatkan produktivitas pangan pokok, memperlancar distribusi pangan, mempermudah akses transportasi, menjaga stabilisasi harga, mengembangkan buffer stock dan intervensi pasar melalui operasi pasar.

“Pandemi ini mampu mengganggu produksi pertanian yang juga membatasi pergerakan orang sehingga saat ini ada isolasi mandiri, pembatasan wilayah, distribusi yang bersoal sehingga harus segera kita tangani bersama,” tegasnya.

“Oleh karena itu, untuk menjawab tantangan saat ini, perlu adanya strategi yang saling membangun dari sisi pelaksana, pembiayaan dan pengawasan sehingga kebijakan yang dijalankan lebih efektif dan efesien,” pinta Syahrul.

Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin mendorong Kementerian Pertanian untuk terus melakukan pengembangan program ketahanan pangan di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) ini. Meskipun kondisi saat ini bisa dibilang sulit karena Kementan sendiri mengalami pemotongan anggaran yang cukup besar , namun pengembangan inovasi harus dilakukan dengan mengandalkan efisiensi anggaran yang terbatas.

Menurutnya saat ini, refocusing kegiatan dan Realokasi anggaran menjadi penting dalam rangka menghadapi musim tanam dan antisipasi krisis pangan. Namun anggaran Kementan mengalami efisiensi, sehingga perlu dirumuskan kebijakan yang tepat

“Sebenarnya sangat disayangkan anggaran Kementan di masa pandemi ini mengalami pemotongan karena harusnya anggaran ditambah mengingat sektor pangan ini sangat penting,” kata Sudin.

Sudin mengatakan tantangan yang sedang dihadapi Indonesia adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat guna menjamin ketahanan pangan dan disisi lain juga berperan terhadap pemulihan ekonomi. Menurutnya, dalam situasi ini pertumbuhan ekonomi rendah dan mengalami penurunan maka sektor pertanian harus didorong menjadi penggerak ekonomi nasional. Artinya, pertumbuhan pertanian harus lebih dipacu.

“Pendapatan petani dan masyarakat pedesaan harus ditingkatkan agar daya beli rakyat terjaga,” terangnya.

Selain itu, Sudin menuturkan bahwa peningkatan cadangan pangan nasional untuk antisipasi kelangkaan pangan dan mendukung program bantuan pangan pokok dari pemerintah namun pemerintah juga harus menjamin produksi petani dapat diserap pasar sehingga petani memiliki rasa aman dalam memproduksi pangan.

“Jaminan sarana produksi & pemasaran hasil agar kegiatan usaha tani dan pemasaran berjalan lancar sehingga masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pangan dan petani tidak mengalami kerugian,”tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arief Satria mendukung kebijakan pemerintah yang kini sedang diimplementasikan Kementan dibawah komando Syahrul Yasin Limpo, diantaranya terkait penyediaan pangan melalui terobosan yang cukup beragam seperti pemanfaatan pekarangan, membangun ketahanan pangan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga skala negara.

“Saya mendukung kebijakan mewujudkan kemandirian pangan yang saat ini sedang dilaksanakan melalui gerakan produksi skala rumah tangga, regenerasi petani melalui petani millenial, serta inovasi pertanian 4.0,” katanya.

Lebih lanjut, Arief menjelaskan beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemerintah dalam memberi perlindungan untuk petani yakni kebijakan logistik agromaritim dan rantai pasok pangan dengan melibatkan BUMN pangan, koperasi dan swasta nasional, sistem logistik baru ini perlu inovasi berbasis teknologi 4.0, khususnya block chain.

“Memperluas akses petani, peternak dan nelayan pada jaring pemasaran daring, stimulus ekonomi khusus untuk pertanian dan pedesaan, serta perlu skema perlindungan dan jaring pengaman sosial,” terangnya.

Ia juga menerangkan bahwa dalam 10 tahun kedepan, buruh tani di Indonesia akan sangat berkurang, karna anak-anak petani sudah menjadi kaum intelektual yang pasti sudah tidak mau menjadi butuh tani.

“ Kita perlu mempersiapkan teknologi saat ini sehingga dalam 10 tahun kedepan saat butuh tani sudah berkurang kita bisa tetap produksi pangan,” tutupnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi

Komisi IV DPR RI Dukung Program Mentan SYL Percepatan Tanam Padi

Koran Jurnal, Subang – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi mendukung penuh program yang sedang dijalankan Menteri Pertanian(Mentan) Syahrul Yasin Limpo yakni gerakan percepatan tanam April- September (ASEP) 2020. Program tersebut dinilai dapat menjadi senjata ampuh dalam memerangi dampak pandemi Covid-19.

“Saya sangat mendukung adanya program percepatan tanam ini untuk memerangi dampak dari pandemi Covid-19,” demikian dikatakan Dedi dalam acara Gerakan Percepatan Olah Tanah (GPOT) bersama Menteri Pertanian Syahrul Yasn Limpo, Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum, Bupati Subang, Ruhimat, Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryan, Wakapolda Jawa Barat, Brigjen. Pol. Akhmad Wiyagus, dan Anggota DPD RI, Oni Suwarman di Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi Kabupaten Subang, Sabtu (06/06/2020).

Dedi menegaskan saat ini merupakan waktu paling tepat dalam melakukan percepatan tanam dimana saat ini banyak masyarakat khususnya generasi muda yang biasa kerja di proyek belum bisa kembali bekerja karena belom normal. Dengan demikian, sektor pertanian bisa menjadi satu solusi yang dapat dilakukan dalam menyelamatkan ekonomi masyarakat.

“Saya minta para bupati untuk mengajukan berbagai programnya ke Kementerian Pertanian. Mudah mudahan dengan jeda waktu yang antara 1 sampai 2 bulan seperti saat ini masyarakat desa setelah menanam tetap menghasilkan uang sambil menunggu panen,” tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Mentan Syahrul Yasin Limpo bersama jajaran eselon 1 Kementan menyatakan komitmen untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional khususnya yang ada di Jawa Barat saat ini di dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan ke depan. Sektor pertanian menjadi solusi nyata terhadap dampak yang diakibatkan pandemi covid 19 terutama pada melemahnua ekonomi nasional.

“Dari apa yang kita saksikan hari ini, semangat petani yang terus berkobar itu menjadi tanda bagi saya bahwa sebenarnya kepedulian kita menghadapi Covid dengan daya tahan masyarakat melalui pertanian dan ketahanan pangan adalah sesuatu kekuatan,” kata Syahrul.

Mentan Syahrul mengatakan bahwa Gerakan percepatan tanam padi adalah kelanjutan dari pertanaman musim tanam I atau musim hujan. Dengan sisa hujan pada bulan Mei-Juni maka musim tanam II yang disebut musim tanam gadu harus segera dikejar.

“Karena itu dengan sisa hujan bulan Mei-Juni ini maka seluruh jajaran Kementerian Pertanian bersama seluruh pemerintah daerah harus bisa memanfaatkan sisa hujan sampai bulan Juni-Juli,”sambungnya.

Selain Mentan juga mengatakan target luas tanam 2020 sebeear 11,66 juta ha yang berpotensi menghasilkan 33,6 juta ton beras. Sementara stok beras akhir Juni 2020 diperkirakan masih mencapai 6,84 juta ton.

Terkait hal itu, Syahrul menerangkan bahwa potensi panen padi Mei 2020 mencapai 1,25 juta ha dengan hasil beras sebesar 3,43 juta ton. Sedangkan potensi panen padi Juni 2020 mencapai 0,74 juta ha, yang dapat menghasilkan beras sebesar 1,94 juta ton.

“Musim tanam dua, target kita di atas 5,6 juta hektar dan mudah-mudahan kalau ini bisa menghasilkan maka ketahanan pangan itu bisa kita jamin lebih baik,” tutupnya.

Sementara itu, Bupati Subang, Ruhimat mengapresiasi kepedulian pemerintah pusat melalui Kementan yang begitu fokus meningkatkan produksi pangan di masa pandemi virus corona. Ketersediaan pangan di masa virus corona dan hingga saat ini dalam kondisi aman.

“Karena itu, Kabupaten Subang siap mendukung percepatan tanam padi dan peningkatan produksi pangan lainnya agar dampak yang ditimbulkan pasca pandemi corona tidak menyebabkan kegaduhan ekonomi,” ungkapnya.

“Di Kabupaten Subang banyak lahan tidur, baik itu eks Perhutani maupun PTPN. Ini bisa kita optimalkan untuk menghasilkan pangan demi membantu penguatan pangan nasional,” pinta Ruhimat.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan , Suwandi menambahkan percepatan tanam pada April-September 2020 ini dilaksanakan di 8 wilayah andalan, 9 wilayah utama dan 16 wilayah pengembangan. Kementan memberikan bantuan benih, alat mesin pertanian, asuransi pertanian dan pendampingan agar percepatan tanam sukses dan memberikan hasil yang tinggi.

“Ini saatnya setiap wilayah membuktikan komitmennya. Komitmen untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat, maka dari itu gerakan percepatan tanam menjadi yang utama,” sebut Suwandi.(hum/red)

Categories
Ekonomi

BPS: Ekspor Pertanian Tumbuh 12,66 Persen

Koran Jurnal, Jakarta – Di tengah melemahnya ekonomi nasional akibat wabah pandemi virus corona, ekspor pertanian tetap memperlihatkan kinerja yang baik. Tercatat, ekspor pertanian April 2020 sebesar US$ 0,28 miliar atau tumbuh 12,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 (YoY).

Berdasarkan sektornya, hanya sektor pertanian saja yang mengalami kenaikan ekspor secara Year of Year (YoY).

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam keterangan persnya juga menjelaskan bahwa pada periode Januari-April 2020, ekspor non migas Indonesia didominasi oleh eskpor lemak dan minyak hewan atau nabati sebesar US$6,25 miliar atau 12,24 persen.

“Ini merupakan signal positif dan menjadi angin segar dimana pertanian dan olahannya memperlihatkan pertumbuhan yang positif,” ujar Suhariyanto, di Jakarta, Selasa (02/06/2020).

Suhariyanto mengatakan, sektor pertanian memiliki peran yang cukup besar terhadap kinerja eskpor nasional.

Selain itu, Suhariyanto menyampaikan, upah nominal buruh tani juga mengalami kenaikan. Tercatat secara Month on Month (MoM) upah nominal pada April 2020 naik sebesar 0,12 persen dari bulan sebelumnya 55,254 menjadi 55,318.

“Namun untuk upah rill cenderung stabil dikisaran 52,214 dan tidak terjadi perubahan yang signifikan,” jelasnya.(hum/red)

Categories
Ekonomi International Keuangan

Diaspora Indonesia di Perancis Sambut Positif Pendanaan Pembangunan Melalui Diaspora Bond

Koran Jurnal, Paris – KBRI Paris bekerja sama dengan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan telah menyelenggarakan sosialisasi Diaspora Bond (DB) secara virtual, Kamis (28/05/2020).

Acara yang dibuka oleh Dubes RI untuk Prancis, Arrmanatha Nasir, dan Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko, Luky Alfirman, bertujuan untuk mengenalkan dan memasarkan surat utang negara Diaspora Bond yang rencananya akan diterbitkan pemerintah pada tahun 2020.

Dalam pertemuan, Dubes RI menyampaikan bahwa dampak multidimensional dari pandemi Covid-19 sangat besar terhadap perekonomian global, yang mengancam terjadinya kemunduran dari berbagai capaian pembangunan ekonomi. Berbagai negara, termasuk Indonesia, telah mengeluarkan program stimulus guna mendukung penanganan Covid-19 dan mengurangi dampak negatif terhadap, perekonomian, pembangunan dan masyarakat.

Dubes RI menekankan diaspora Indonesia di Prancis dapat mendukung upaya pemerintah mengatasi dampak Covid-19 dan pembangunan nasional dengan berinvestasi dalam Diaspora Bond untuk membiayai stimulus dan program pembangunan nasional.

“Berinvestasi dalam Diaspora Bond, bukan saja merupakan opsi investasi yang aman dan menguntungkan, namun juga merupakan kontribusi diaspora Indonesia di Prancis dalam membantu pendanaan pembangunan nasional dan penanganan dampak COVID-19 di dalam negeri,” tutur Dubes Arrmanatha.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, menyampaikan bahwa biaya untuk program penanganan dampak COVID-19 tahap pertama mencapai 405 trilyun rupiah. Besarnya kebutuhan biaya penanganan COVID-19 akan memperbesar defisit APBN. Pemenuhan kekurangan anggaran salah satunya akan dicarikan melalui penerbitan obligasi, termasuk Diaspora Bond.

Tujuan penerbitan Diaspora Bond adalah untuk mengatasi cash-mismatch dalam APBN, melalui pengelolaan portfolio utang negara. Ditengah situasi ekonomi yang terus memburuk, yang menyebabkan pendapatan negara dari pajak terus menurun, sedangkan pengeluaran untuk mendukung program penaganan COVID-19 dan pembangunan nasional semakin besar.

Diaspora Indonesia di Prancis memberikan tanggapan yang positif terhadap rencana diterbitkannya Diaspora Bond. Bagi diaspora Indonesia di Prancis, Diaspora Bond dapat menjadi opsi investasi yang menarik. Suku bunga bank di Prancis, seperti beberapa negara maju lainnya sangat rendah. Diaspora Bond memberikan return on investment atau pendapatan investasi yang lebih tinggi dari suku bunga di Prancis. Selain itu, rating surat utang yang diterbitkan Pemerintah Indonesia juga merupakan investment grade.

Diaspora Bond nantinya dapat dibeli oleh diapora WNI dan diaspora Indonesia WNA yang memiliki Identitas Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN). Pemesanan dapat dilakukan secara on-line melalui platform E-SBN dan pembayaran dapat dilakukan melalui bank.

Diaspora bond rencananya memiliki tenor 3 tahun, dengan tingkat bunga secara fixed, tidak bisa dipindahtangankan (non-tradable), dan tanpa early redemption.(KBRI Paris/red)

Categories
Daerah Ekonomi TNI

Dukung Program Ketahanan Pangan, Lanal Nias Budidayakan Singkong dan Ikan Lele

Koran Jurnal, Nias – Dalam rangka mendukung Pemerintah untuk mewujudkan program Ketahanan Pangan dalam situasi Pandemi Covid-19, Pangkalan TNI Angkatan (Lanal) Nias bersama Unsur Forkopimda Kabupaten Nias Selatan mengoptimalkan lahan kosong yang ada di wilayah Kabupaten Nias Selatan dengan penanaman pohon ubi (singkong) dan budidaya ikan lele, Jum’at (29/05/2020).

Komandan Lanal Nias dalam hal ini diwakilkan oleh Pjs. Palaksa Lanal Nias Mayor Laut (T) Rudi Taufik menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk kepedulian Lanal Nias bersama Unsur Forkopimda dalam membantu dan memotivasi masyarakat di wilayah Nias untuk meningkatkan Ketahanan Pangan terlebih saat-saat sulit dengan adanya wabah Covid-19.

“Kesungguhan Lanal Nias dalam mewujudkan Ketahanan Pangan ini terlihat dari penanaman pohon ubi (singkong) dan penebaran bibit ikan lele, diharapkan nantinya hasil dari ketahanan pangan ini dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan pangan di Kabupaten Nias Selatan,” ujarnya.(disp/red)

Categories
Ekonomi

Pemerintah Peduli dan Perhatikan Petani

Koran Jurnal, Jakarta – Pemerintah bersama petani terus berupaya memenuhi kebutuhan pangan bagi 267 Juta penduduk Indonesia di masa pandemi Covid 19. Berbagai insentif digulirkan untuk menjaga petani dari ancaman dan dampak pandemi. 

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas yang digelar melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (28/05/2020), menyatakan pemerintah menyiapkan insentif kepada petani dan nelayan di tengah pandemi dalam rangka menjaga ketersediaan bahan pokok.

“Tujuan utama dari skema program ini adalah untuk meringankan beban biaya konsumsi rumah tangga dari keluarga yang kurang mampu termasuk di dalamnya adalah petani dan nelayan miskin,” kata Presiden. 

Selain dalam bentuk jaring pengaman sosial, Presiden mengatakan pemerintah juga memberikan  stimulus modal kerja dan subsidi bunga kredit.

“Program yang telah diputuskan dan tengah berjalan ini mengalokasikan anggaran sebesar Rp34 triliun untuk membantu para petani dan nelayan lewat kebijakan relaksasi pembayaran angsuran dan pemberian subsidi bunga kredit,” ujar Presiden.

Relaksasi tersebut menurutnya diberikan kepada penerima pembiayaan yang didapat melalui sejumlah program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Membina Keluarga Sejahtera (Mekaar), pembiayaan ultramikro (UMi), pegadaian, hingga pembiayaan dan bantuan permodalan dari beberapa kementerian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan pemberian bantuan kepada petani, sebagai stimulus agar petani miskin bisa bertahan dan tetap semangat.

“Petani itu pejuang terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Karena itu, sesuai arahan Bapak Presiden, keberlanjutan pertanian Indonesia harus kita jaga. Ada kurang lebih 2,76 juta petani yang masuk kategori miskin. Sebagai bagian dari anak bangsa, negara memperhatikan nasib mereka,” kata SYL setelah melakukan panen bawang merah di Desa Risa, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima.

SYL mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan  bagi 2,76 juta petani miskin berupa dana tunai sebesar Rp. 300.000 per orang selama selama 3 bulan untuk pembelian Saprotan (Benih, Pupuk, Pestisida, dll). Selain itu, menurutnya petani miskin juga akan mendapatkan biaya operasional sebesar Rp. 300.000.

Kementan telah melakukan refocusing anggaran untuk penguatan produksi pertanian, baik untuk penyiapan benih/bibit hingga alsintan. Bahkan untuk penguatan permodalan, pemerintah juga menyiapkan  Kredit Usaha Rakyat (KUR), dengan alokasi dana Rp 50 triliun yang dapat dimanfaatkan oleh petani.

“Sampai pertengahan Mei ini, serapan KUR yang sudah disalurkan Kementan mencapai Rp 17 triliun. Ini sangat menggembirakan karena insentif yang kita siapkan direspon positif petani,” pungkasnya.

Mentan Syahrul menambahkan, langkah kebijakan pangan tetap terjaga, adalah percepatan tanam padi Masa tanam (MT) II, perbaikan sistem logistik pangan nasional dengan penyiapan buffer stock, pendirian lumbung pangan di provinsi dan kabupaten/kota, serta Komando Strategis Penggilingan Padi (Kostraling) di seluruh kecamatan. 

“Jadi pemerintah tidak benar diskriminatif  dalam membuat kebijakan buat petani. Secara simultan insentif pemerintah bermuara bagi rakyat, dan petani secara khusus. Kita harus bersama menjaga pangan Indonesia,” tutup Mentan.(hum/red)

Categories
Daerah Ekonomi

Mentan SYL Panen Bawang Merah di Bima, Produksi Melimpah

Koran Jurnal, NTB – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melakukan panen raya bawang merah di Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) guna memastikan produksi atau ketersediaan dalam negeri cukup sehingga kebutuhan dalam negeri bisa dipenuhi sendiri.

“Saya memintan jajaran Kementerian Pertanian untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah guna mewujudkan NTB menjadi penyangga pangan nasional. Oleh karna itu, kinerja pertanian harus dimasifkan sehingga produksi komoditi andalan NTB seperti bawang, jagung dan padi meningkat,” demikian dikatakan Syahrul saat panen bawang merah bersama Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri di areal seluas 45 hektar di Desa Risa, Kecamatan Woha, Kamis (28/05/2020).

Menurut Syahrul, saat ekonomi dunia melambat, sektor pertanian harus dimasifkan karena perut rakyat harus terus dipikirkan. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk menggenjot produksi pangan khusus bawang merah sehingga Kabupaten Bima menjadi penyangga nasional.

“Insya Allah, Bima dan NTB akan menjadi contoh kita, lakukan langkah kita maksimal. Kita harapkan NTB akan menjadi penyangga pangan nasional kita dari seluruh komoditi terutama padi, jagung dan bawang merah,” ujarnya.

Luas tanam bawang merah di Kabupaten Bima mencapai 11 ribu hektar. Di saat pandemi covid 19 ini, Syahrul menyebutkan sektor pertanian salah satunya komoditas bawang merah merupakan sektor yang menjanjikan dari melemahnya perekomian saat ini.

“Saya bersyukur melihat apa yang ada di Bima dan saya kira tugas kita makin banyak dan tugas ini baru kita mulai. Pertanian menjanjikan masyarakatnya tidak miskin jadi salah orang mengatakan kalo ada yang bilang pertanian itu untuk orang kecil,” ucapnya.

Lebih lanjut, Syahrul meminta pemerintah daerah bersama para petani untuk menyusun langkah manajemen yang baik. Pengembangan pertanian NTB harus didukung dengan sistem pengairan yang bagus dan kerjasama dalam membantu petani salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas dari pemerintah berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Bawang sedang naik daun namun harga itu bisa naik turun sehingga kita harus punya manajemen yang bagus. Untuk jagung dryer harus diperkuat sehingga pergudangan akan makin kuat jadi kita harus atur penyimpanan yang bagus. Kalo perlu ambil modal dari KUR untuk setiap kabupaten,” tegasnya.(hum/red)

Categories
Bisnis Kesehatan Megapolitan

Telkom Group Bantu Robot Desinfeksi dan Sterilisasi Ruang Isolasi Pasien Covid-19

Koran Jurnal, Jakarta – Gugus Tugas Nasional atau GTPPC19 mendapatkan bantuan dari Telkom Group robot desinfeksi dan sterilisasi ruang isolasi pasien COVID-19. Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo menerima bantuan tersebut di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Kamis (28/05/2020).

Ketua GTPPC19 Doni Monardo menyampaikan, “Mudah-mudahan inovasi ini tidak hanya berhenti pada Autonomous UVC Mobile Robot, tapi mampu melahirkan lebih banyak inovasi akan banyak yang dibutuhkan masyarakat.

“Inovasi lainnya yang buat oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional di bawah Kementerian Riset dan Teknologi telah meneliti sejumlah vaksin, termasuk juga laboratorium Rapid Test, ventilator dan sejumlah teknologi juga akan dimanfaatkan untuk penanganan Covid,” ujar Doni di KSP, Jakarta, Kamis (28/05/2020).

Doni menambahkan bahwa kreativitas anak bangsa yang sudah memproduksi teknologi komponen lokal lebih dari 70% dan tentunya ini merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Terkait robot ini, Doni berkata, “Penting suatu tim untuk mempersiapkan hal teknis dan melakukan sterilisasi terhadap wilayah yang kemungkinan besar terpapar sehingga teknologi yang dihasilkan juga dapat bisa segera kita manfaatkan di lapangan.”

Doni yang juga Kepala BNPB menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas robot karya anak bangsa yang saat ini dibutuhkan dalam penanganan COVID-19. Bantuan ini akan diprioritaskan untuk wilayah Jawa Timur.

Senada dengan Ketua GTPPC19, Kepala KSP Moeldoko juga menyampaikan terima kasih atas upaya para tim yang telah menciptakan instrumen ini.

“Autonomous UVC Mobile Robot merupakan sebuah inovasi yang perlu kita diapresiasi, atas semangat dan sikap pantang menyerah dari seluruh komponen bangsa,” ujar Moeldoko.

Lebih lanjut, ia berharap instrumen untuk terus dievaluasi sehingga dapat dikembangkan dengan lebih efektif. Robot tersebut sudah diujicobakan di RS Darurat Wisma Atlet di Jakarta, RS Hasan Sadikin dan RS Pindad di Bandung.

“Kita bisa membangun yang lebih besar lagi ke depannya dan mampu membantu tenaga medis kita yang telah berkorban tanpa kenal lelah dalam merawat pasien Covid-19,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Telkom Edi Witjara menyampakan bahwa hari ini menjadi momentum bersama sebagai bagian dari komponen bangsa menghadirkan inovasi yang tentunya tidak mudah terlebih di tengah pandemi Covid-19.

“Kami tidak menyerah. Kami ingin mendukung dengan inovasi yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan Telkom,” katanya.

Ia juga berharap dengan adanya inovasi robot khusus penanganan COVID-19 dapat mewakili beragam inovasi yang ada di Indonesia serta menyemangati anak-anak bangsa untuk tidak menyerah dan terus melakukan inovasi dalam mengatasi pandemi ini.

Ruang penanganan pasien COVID-19 memiliki risiko tinggi bagi para tenaga medis. Risiko itu salah satunya terinfeksi miroorganisme berbahaya, seperti virus. Mengantisipasi terinfeksi di ruang perawatan, disinfeksi dan sterilisasi ruangan isolasi dapat dilakukan dengan aman melalui pengoperasian robot yang mampu diproduksi dalam waktu 2 minggu tersebut.

Robot inovasi dari Telkom University dan LIPI ini mampu untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme, termasuk virus SARS-CoV-2, baik yang menempel pada benda atau peralatan, lantai ataupun udara.

Robot ini dilengkapi peralatan ultraviolet (UV) yang mampu beroperasi selama 5 jam. Ketika organisme biologi terpapar sinar UV dalam kisaran 200 nm dan 300 nm, sinar tersebut akan diserap oleh DNA, RNA dan protein. Penyerapan tersebut akan menyebakan pecahnya dinding sel protein dan tentunya kematian organisme tersebut.

Dari hasil uji lab, UVC yang melekat pada robot ini mampu mengurangi jumlah bakteri di dalam koloni. Waktu uji dilaksanakan selama 10-15 menit.

Dari para peneliti mikroba disampaikan, apabila waktu pancar ditambah hingga 20 menit, jumlah bakteri yang akan mati akan lebih banyak lagi. Semakin lama UVC dipancarkan maka semakin banyak bakteri akan mati. Bakteri memiliki sifat yang sama seperti virus sehingga dapat dikatakan, dapat mewakili virus.(pus/red)

Categories
Ekonomi

Kementan: Brahman Sejahtera, Kisah Sukses Percontohan Korporasi Peternakan

Koran Jurnal, Jakarta – Sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo agar Pemerintah mendorong petani berkelompok dalam mengusahakan budidaya pertaniannya, sehingga diperoleh skala ekonomi yang efisien, dan manajemen usaha yang modern dari budidaya hingga pemasarannya, Kementan telah membentuk korporasi peternakan di beberapa tempat.

“Tujuannya adalah untuk mentransformasi kawasan pertanian termasuk peternakan menjadi lebih berorientasi bisnis,” ungkap Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di Jakarta (26/05/2020).

Menurutnya pengembangan kawasan korporasi merupakan terobosan untuk mentransformasi kawasan pertanian termasuk peternakan menjadi lebih berorientasi bisnis, menjadikan peternak ada dalam wadah korporasi, dan sebagai subjek atau pemilik pada usahanya mulai hulu sampai dengan hilir.

“Sehingga petani peternak dapat meningkat pendapatan dan kesejahteraannya,” tambahnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita menjelaskan bahwa pada tahun 2020, pihaknya mempunyai target pengembangan lima percontohan korporasi petani, salah satunya adalah korporasi peternak sapi potong Brahman Sejahtera di Subang yang berbentuk koperasi.

Ia menyebutkan bahwa korporasi peternak sapi potong Brahman Sejahtera memiliki sistem pengembangan kawasan peternakan terpadu yang mengintegrasikan subsistem hulu, budi daya dan pascapanen (on farm), dengan pengolahan dan pemasaran (off farm), serta subsistem penunjangnya.

Lebih lanjut, Ketut menuturkan bahwa korporasi peternak sapi potong Brahman Sejahtera terbentuk dari tiga sentra peternakan rakyat (SPR) Sapi Potong, yakni SPR Cinagarbogo, SPR Kasaliang dan SPR Sagalapanjang.

Sebagai unit usaha, Koperasi Brahman Sejahtera beroperasi di 66 desa di 16 kecamatan dengan jumlah anggota peternak sebanyak 1.834 orang yang tergabung dalam 117 kelompok.

Usaha Koperasi Brahman Sejahtera

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani menuturkan bahwa Brahman Sejahtera memiliki beberapa unit usaha yang berkembang, yaitu usaha budidaya sapi potong, pengolahan pakan konsentrat sapi potong, pengolahan pupuk organik dan pengembangan hijauan pakan ternak.

Ia menyebutkan bahwa unit usaha budidaya sapi potong terdiri atas pembiakan dan penggemukan dengan jumlah populasi sebanyak 2.705 ekor yakni dari jenis Sapi Peranakan Ongole (PO), Limousin, Simental dan Brahman. Usaha budidaya ini didukung juga unit usaha pengolahan pakan konsentrat dengan kemampuan produksi sebanyak 4 ton/hari.

“Pakan konsentrat ini selain untuk memenuhi kebutuhan anggota, juga untuk peternak mitra di Kabupaten Bandung dan Jabodetabek,” jelasnya.

Sementara itu, unit usaha pengolahan pupuk organik Koperasi Brahman Sejahtera mampu memproduksi pupuk sebanyak 500 kg perhari dengan harga jual Rp 700 per kg. Fini menilai bahwa usaha pupuk organik ini potensial untuk dikembangkan, karena baru 20% limbah hasil usaha sapi potong yang diolah.

“Pupuk organiknya sudah mendapatkan sertifikat organik yang diterbitkan oleh Indonesian Organic Farming Certification (In Office), sehingga banyak yang berminat,” tambah Fini.

Adapun unit usaha hijauan pakan ternaknya memiliki kapasitas produksi 15 Ton per hari. Dalam upaya pengembangan usaha hijauan pakan ini, mereka bekerjasama dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang bergerak di bidang usaha perkebunan tebu, dengan optimalisasi pemanfaatan lahan perkebunan.

Koperasi Brahman Sejahtera juga melakukan pelayanan investasi dan magang serta pelatihan. Beberapa kerjasama yang sudah dilakukan antara lain dengan PT. Dahana, KPP Pratama Subang, PLUT KUKM Subang, PT. BISI, PT CMN, Perkumpulan Minyak Sapi dan Bank Indonesia. Pelayanan investasi antara lain melayani investor perorangan untuk berinvestasi bisnis sapi potong di Koperasi Brahman Sejahtera.

Dalam pengembangannya, Koperasi Brahman Sejahtera juga didampingi oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai PIC core bisnis, yang berperan dalam pembinaan kewirausahaan, penyusunan rencana bisnis, fasilitasi pembiayaan usaha tani, investasi, modal kerja, dan pengembangan pasar, serta melakukan pengawalan yang intensif hingga mandiri dan berkelanjutan.

“Dengan sinergi dan visi yang sama, maka pengembangan korporasi peternakan ini benar-benar akan menjadi langkah strategis peningkatan nilai tambah bagi produk produk dalam negeri kita” pungkasnya.(hum/red)